Republik Indonesia Nomor 4355);

dokumen-dokumen yang mirip
GUBERNUR PROVINSI PAPUA

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 58 TAHUN 2014 T E N T A N G

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 19 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA DUMAI

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 54 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 01 TAHUN 2012 TENTANG

WALIKOTA DEPOK PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 38 TAHUN 2013

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG

- 1 - BUPATI PAKPAK BHARAT PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT NOMOR 40 TAHUN 2017 TENTANG

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 028 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2018 TENTANG

BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

GUBERNUR SUMATERA BARAT

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 145 TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI TIMOR TENGAH UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

T BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 80 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 62 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN GUBERNUR BANTEN

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN BEBAN KERJA KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL

WALIKOTA TASIKMALAYA

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI PEGAWAI DAERAH PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA BAB I

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 31 TAHUN 2012 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT

- 1 - PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TENGAH

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 53 TAHUN 2017 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 51 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI SEMARANG PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 87 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2007 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGANGKATAN

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 8 TAHUN 2012 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU

BUPATI BANDUNG BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MOJOKERTO PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR %3 TAHUN 2013 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

WALIKOTA SALATIGA PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENDELEGASIAN SEBAGIAN WEWENANG PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 95 TAHUN 2012

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA

- 1 - GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 025 TAHUN 2014 TENTANG FORMASI JABATAN FUNGSIONAL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

WALIKOTA TEGAL KEPUTUSAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 841 / 175 / 2012 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA TAHUN 2014 NOMOR 9 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 9 TAHUN 2014

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 21 SERI E PERATURAN BUPATI KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 473 TAHUN 2010

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2012 NOMOR 29 SERI E PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 29 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA TEGAL

PROVINSI PAPUA BUPATI JAYAPURA

BUPATI MALINAU PROVINSI KALIMANTAN UTARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

Transkripsi:

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU Menimbang : a. bahwa pemberian kesejahteraan kepada Pegawai Negeri Sipil dan Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau telah diatur dengan beberapa Peraturan dan Keputusan Gubernur; b. bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja Pegawai Negeri Sipil dan Calon Pegawai Negeri Sipil, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat perlu memberikan kesejahteraan yang optimal dan proporsional; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b diatas perlu menetapkan Peraturan Gubernur Riau tentang Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau Tahun Anggaran 2012. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958, tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1646); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1984 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2003, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan. Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5135); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165); 11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21Tahun 2011 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012; 13. Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Riau Tahun 2008 Nomor 4); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR RIAU TENTANG TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU TAHUN ANGGARAN 2012. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Provinsi Riau. 2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah. 3. Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi Riau.

4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Provinsi Riau. 5. Perangkat Daerah adalah Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dinas, Badan, Satuan Polisi Pamong Praja dan Sekretariat Korpri. 6. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Riau. 7. Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disingkat PNS adalah Pegawai Negeri Slpil Daerah dan atau Pegawai Negeri Sipil Pusat dengan status Dipekerjakan/Diperbantukan pada Pemerintah Provinsi Riau untuk menjalankan program dan kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi Pemerintah Provinsi Riau. 8. Calon Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disingkat CPNS adalah Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Pemerintah Provinsi Riau; 9. Eselon adalah Tingkat Jabatan Struktural. 10. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Riau. 11. Nilai Kinerja adalah Tingkat atau nilai tampilan kerja menyeluruh yang dicapai oleh setiap Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 12. Masa kinerja adalah kurun waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai tanggal 26 sampai dengan tanggal 25 bulan berikutnya dari kegiatan yang dinilai untuk diberikan tunjangan kinerja. 13. Hari kinerja adalah kurun dalam satu hari yang berisi jam pelayanan efektif untuk melaksanakan tugas pelayanan publik dan pelayanan aparatur; 14. Pejabat penilai adalah atasan langsung yang menduduki jabatan Esselon III atau Kuasa Pengguna Anggaran atau yang disetarakan, yang memberikan penilaian capaian kerja; 15. Pejabat penanggungjawab adalah kepala satuan pengguna anggaran. BAB II TUJUAN Pasal 2 Tujuan Pemberian Tambahan Penghasilan adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan kinerja Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS); b. Memotivasi Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di lingkungan Pemerintah Daerah. c. Meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS);

BAB III RUANG UNGKUP DAN BESARAN Pasal 3 (1) Tambahan Penghasilan dibayarkan berdasarkan a. Beban Kerja; b. Prestasi Kerja; (2) Tambahan Penghasilan diberikan kepada : a. Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) dan b. Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS);. Pasal 4 (1) Pemberian Tambahan Penghasilan berdasarkan Beban Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) butir a diberikan kepada PNS dan CPNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau yang besarnya sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini. (2) Pemberian Tambahan Penghasilan berdasarkan Prestasi Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) butir b, diberikan kepada PNS yang menduduki Jabatan Struktural yang diangkat untuk stuktural berdasarkan SOT Pemerintah Daerah yang besarnya sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini. Pasal 5 Terhadap Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hanya dapat diberikan Tambahan Penghasilan sebesar 80 % dari besaran tarif dasar menurut golongan. Pasal 6 (1) Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dikenakan hukuman disiplin tidak diberikan Tambahan Penghasilan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Hukuman disiplin tingkat sedang tidak diberikan Tambahan Penghasilan untuk jangka waktu l(satu) bulan; b. Hukuman disiplin tingkat berat berupa penurunan pangkat dan pembebasan dari jabatan tetapi yang bersangkutan masih melaksanakan tugas, tidak diberikan Tambahan Penghasilan untuk jangka waktu 3 (tiga) bulan; (2) Penghentian pemberian Tambahan Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhitung sejak ketetapan hukuman disiplin "diterima yang bersangkutan.

(3) Terhadap PNS yang sedang menjalankan Tugas Belajar yang diberikan beasiswa maka Tambahan Penghasilan tidak diberikan. Pasal 7 Tambahan Penghasilan tidak diberikan kepada : a. PNS yang berstatus Masa Persiapan Pensiun (MPP). b. PNS yang berstatus Penerima Uang Tunggu. c. PNS yang berstatus sebagai pegawai titipan di dalam atau di luar Pemerintah Daerah. d. PNS yang berstatus tersangka dan ditahan oleh pihak yang berwajib. e. PNS yang berstatus terdakwa atau terpidana f. PNS yang mengambil Cut! diluar tanggungan Negara. g. PNS yang mengambil Cuti besar. h. CPNS yang dikenakan hukuman disiplin, BAB IV ALOKASI ANGGARAN DAN PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN Pasal 8 (1) Belanja Tambahan Penghasilan dianggarkan pada APBD Tahun Anggaran 2012. (2) Belanja Tambahan Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD. Pasal 9 (1) Tambahan Penghasilan yang diberikan setiap bulan kepada masing-masing PNS dan CPNS didasarkan pada penilaian dari tingkat kehadiran (2) Kehadiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a. ketepatan waktu tiba di tempat tugas/kantor; b. ketepatan waktu pulang dari tempat tugas/kantor; dan c. keberadaan di tempat tugas/kantor selama jam kerja. BAB V CARA PEMBAYARAN, PENERIMA TAMBAHAN PENGHASILAN Bagian Pertama Pembayaran Tambahan Penghasilan Pasal 10 (1) Tambahan Penghasilan dibayarkan selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya dari masa kinerja dan dikenakan pajak penghasilan pasal 21 dari jumlah yang akan diterima;

(2) Pejabat penanggungjawab mengajukan surat permintaan pembayaran Tambahan Penghasilan melalui bendahara pengeluaran dari masing-masing satuan kerja sesuai dengan prosedur yang berlaku; (3) Pembayaran Tambahan Penghasilan dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) masing-masing; (4) Format penghitungan Tambahan Penghasilan, permintaan Tambahan Penghasilan dan pengenaan PPh pasal 21 sebagaimana tercantum pada lampiran Peraturan ini. (5) Pemotongan. Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Riau yang tidak hadir melaksanakan tugas tanpa alasan yang sah sebesar 5% (lima persen) perhari dari besaran keseluruhan Tambahan Penghasilan yang dibayarkan setiap bulannya. (6) Untuk tertib administrasi pembayaran Tambahan Penghasilan, diharuskan kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Riau mempersiapkan absensi Pegawai Negeri Sipil yang merupakan bukti authentik sebagai dasar pembayaran. (7) Kehadiran Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas juga didasarkan kepada pelaksanaan apel pada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Riau. Bagian kedua Penerima Tambahan Penghasilan Pasal 11 (1) Penerima Tambahan Penghasilan adalah PNS yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan telah memiliki uraian tugas secara tertulis. (2) PNS Pusat yang bekerja di Satuan Kerja Perangkat Daerah dapat diberikan tambahan penghasilan dengan ketentuan: a. Berstatus dipekerjakan atau diperbantukan pada Pemerintah Provinsi Riau berdasarkan Keputusan Gubernur Riau. b. Tidak menerima honorarium atau penggantian Iain yang sejenis dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (3) PNS pindahan dari Provinsi/Kabupaten/Kota Iain dalam tahun berjalan yang tidak menduduki jabatan struktural atau namanya belum termasuk dalam gaji tidak dapat menerima Tambahan Penghasilan (4) PNS Pindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat menerima Tambahan Penghasilan, terhitung setelah 3(tiga) bulan sejak melaksanakan tugas secara nyata berdasarkan surat pernyataan melaksanakan tugas dari Kepala SKPD yang bersangkutan, dan /telah terdapat tambahan anggaran yang tercantum dalam

anggaran pendapatan dan belanja daerah perubahan; (5).PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan ke pemerintah dan pemerintah daerah lain dapat diberikan Tambahan Penghasilan, berdasarkan Keputusan Gubernur Riau. BAB. VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 12 Dengan berlakunya Peraturan ini, honorarium PNS dan Non PNS untuk Panitia Pelaksana Kegiatan pada SKPD di lingkungan Pemerintahan Provinsi Riau ditiadakan kecuali honorarium Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan honorarium Tim yang melibatkan lintas SKPD. Pasal 13 Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal 3 Januari 2012. Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur inf dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Riau, Ditetapkan di Pekanbaru Pada tanggal 26 Agustus 2011 GUBERNUR RIAU ttd Diundangkan di Pekanbaru Pada tanggal SEKRETARIS DAERAH PROVINSI RIAU H.M.RUSLI ZAINAL ttd H. WAN SYAMSIR YUS Pembina Utama Madya NIP. 19530305 197306 1 003 BERITA DAERAH PROVINSI RIAU TAHUN 2011 NOMOR; 38

Lampiran I : Peraturan Gubernur Riau Nomor : 38 TAHUN 2011 Tanggal : 26 Agustus 2011 TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI PNS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU NOMOR PEGAWAI NEGERI SIPIL BESAR TAMBAHAN PENGHASILAN (Rp.) 1 Pangkat/Golongan Ruang Pembina 4.700.000,00 Utama Muda (IV/c) s.d Pembina Utama (IV/e) 2 Pangkat/Golongan Ruang Pembina 4.500.000,00 (IV/a) s.d Pembina Tk.I (IV/b) 3 Pangkat/Golongan Ruang Penata 3.600.000,00 (III/c) s.d Penata Tk.I (Ill/d) 4 Pangkat/Golongan Ruang Penata 3.400.000,00 Muda (Ill/a) s.d Penata Muda (III/b) 5 Pangkat/Golongan Ruang Pengatur 2.500.000,00 Muda (II/a) s.d Pengatur Tk.I (Il/d) 6 Pangkat/Golongan Ruang Juru Muda 2.000.000,00 (I/a) s.djurutk.i(i/d) KETERANGAN GUBERNUR RIAU ttd H.M.RUSLI ZAINAL

Lampiran II : Peraturan Gubernur Riau Nomor : 38 Tahun 2011 Tanggal : 26 Agustus 2011 TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN PRESTASI KERJA BAGI PEJABAT STRUKTURAL NOMOR PEGAWAI NEGERI SIPIL BESAR TAMBAHAN KETERANGAN PENGHASILAN (Rp.) 1 Pejabat Eselon I 6.000.000 2 Pejabat Eselon II/a 3.000.000 3 Pejabat Eselon II/b 2.500.000 4 Pejabat Eselon III 2.000.000 5 Pejabat Eselon IV 1.750.000 GUBERNUR RIAU ttd H.M.RUSLI ZAINAL

CONTOH PERHITUNGAN TAMBAHAN PENGHASILAN UNTUK MASA KINERJA 1 BULAN (JANUARI 2012) NAMA No JABATAN GOLONGAN BOBOT DISIPLIN KOMPONEN DISIPLIN TAMBAHAN PENGURANGAN TARIF PENGHASILAN YANG NILAI DISIPLIN DISIPLIN Diterima 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 Drs. SYAFRIZAL ANI SUMADI RUSLAN IBRAHIM BUDI EMAWATI STAF STAF STAF STAF STAF STAF IV/c IV/b III/c Ill/a Il/d I/d 100% 100% 100% 100% 100% 100% 35% 30% 25% 30% 15% 10% 65% 70% 75% 70% 85% 90% 4.700.000,00 4.500.000,00 3.600.000,00 3.400.000,00 2.500.000,00 2.000.000,00 3.055.000,00 3.150.000,00 2.700.000,00 2.380.000,00 2.125.000,00 1.800.000,00 CATATAN: KOLOM 6 = JUMLAH HARI ALPA X 5% KOLOM 7 = KOLOM 5 - KOLOM 6 KOLOM 8 = TARIF TAMBAHAN PENGAHASILAN KOLOM 9 = KOLOM 7 X KOLOM 8

CONTOH PERMINTAAN PEMBAYARAN TAMBAHAN PENGHASILAN MASA KINERJA BULAN 3ANUARI 2012 No N A M A JABATAN TAMBAHAN PENGHASILAN (Rp.) PPh21 DITERIMA Rp) 1 Drs. SYAFRIZAL STAF 3.055.000,00 5% 152.750,00 2.905.250,00 1. 2 ANI SUMADI STAF 3.150.000,00 5% 157.500,00 2.992.500,00 2. 3 RUSLAN STAF 2.700.000,00 5% 135.000,00 2.565.000,00 3. 4 IBRAHIM STAF 2.380.000,00 5% 119.000,00 2.261.000,00 4. 5 BUDI STAF 2.125.000,00 5% 106.250,00 2.018.750,00 5. 6 EMAWATI STAF 1.800.000,00 5% 90.000,00 1.710.000,00 6. TANDATANGAN PEJABAT PENANGGUNGJAWAB KEPALA DINAS/BADAN/KANTOR PEKANBARU, KABAG TU/SEKRETARIS/KASUBAG. TU Drs. ANDI MAHAPUTRA NIP KUMBARA. SE NIP.