BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi akuntansi biaya dikemukakan oleh Supriyono (2011:12) sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. membantu perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

TIN 4112 AKUNTANSI BIAYA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. UMKM memiliki peran yang cukup penting dalam hal penyedia lapangan. mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TUNJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KERANGKA TEORISTIS PEMIKIRAN. Harga pokok produksi sering juga disebut biaya produksi. Biaya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II KERANGKA TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Menurut pasal 1 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha. Mikro, Kecil dan Menengah bahwa usaha mikro adalah usaha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Keseluruhan biaya yang dikeluarkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI DAN INDUSTRI KECIL MENENGAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Carter dan Usry (2009:58) menjelaskan bahwa biaya produksi

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertiandan Klasifikasi Biaya Produksi

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian Biaya dan Beban Masiyah Kholmi dan Yuningsih biaya (cost)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BIAYA PRODUKSI PADA CV. FILADELFIA PLASINDO SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Charles T. Horngren (2006), akuntansi biaya adalah mengukur,

BAB II BIAYA OVERHEAD PABRIK Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya. Untuk itu suatu perusahaan menyelenggarakan akuntansi, guna memperoleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi Biaya Mulyadi (2009:1) Harrison, Horngren, Thomas, Suwardy

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perhitungan biaya produksi dan mengambil beberapa referensi yang diperoleh dari

Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Metode Full Costing Sebagai Dasar Penentuan Harga Jual Produksi Tahu Pas (Putra H.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. semacam ini sering disebut juga unit based system. Pada sistem ini biaya-biaya yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. selalu mengupayakan agar perusahaan tetap dapat menghasilkan pendapatan yang

BAB II LANDASAN TEORI. mendefinisikan, Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.2 Tujuan Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2007:7) akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok yaitu:

BAB II LANDASAN TEORI. dengan akuntansi secara umum sebagai berikut : organisasi kepada para pengguna yang berkepentingan.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN. Salah satu data penting yang diperlukan oleh perusahaan adalah biaya.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. klasifikasi dari biaya sangat penting. Biaya-biaya yang terjadi di dalam

BAB II LANDASAN TEORI. mengukur pengorbanan ekonomis yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam

METODE DIRECT COSTING SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL PRODUK. Nurul Badriyah,SE,MPd

BAB II LANDASAN TEORI. dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN. Dalam menjalankan fungsinya, manajemen membutuhkan informasi untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Definisi usaha kecil dan menengah menurut Hermawan Kartajaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya. 1. Pengertian Akuntansi Biaya

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

Akuntansi Biaya. Sistem Biaya & Akumulasi Biaya (Cost System & Cost Accumulation) Rista Bintara, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perbandingan Harga Pokok Produksi Full Costing dan Variable Costinguntuk

Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII di Jln. Sindang

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Biaya Pengertian Biaya

SISTEM PERHITUNGAN BIAYA DAN AKUMULASI BIAYA AKUNTANSI BIAYA

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu :

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menerapkan metode Activity Based Costing dalam perhitungan di perusahan. metode yang di teteapkan dalam perusahaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, untuk

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan manufaktur dalam melakukan produksi memerlukan pengorbanan

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biaya 2.1.1 Pengertian Biaya Ada beberapa pengertian biaya yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya: Daljono (2011: 13) mendefinisikan Biaya adalah suatu pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan akan memberikan keuntungan/manfaat pada saat ini atau masa yang akan datang. Horngren, Datar & Foster (2011: 31) yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari mendefinisikan Biaya sebagai sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu biaya biasanya diukur dalam jumlah uang yang harus dibayarkan dalam rangka mendapatkan barang atau jasa. Mulyadi (2009: 8) mendefinisikan Biaya adalah merupakan objek yang dicatat, digolongkan, diringkas dan disajikan oleh akuntansi biaya. Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Prawironegoro & Purwanti (2009: 19) mendefinisikan Biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang 16

17 atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan di masa mendatang. Dari beberapa pengertian biaya tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber daya ekonomi untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat memberikan manfaat bagi perusahaan pada saat ini maupun masa datang. 2.1.2 Klasifikasi Biaya Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 40), klasifikasi biaya sangat penting untuk membuat ikhtisar yang berarti atas dasar biaya. Klasifikasi yang paling umum digunakan, didasarkan pada hubungan antara biaya dengan: (1) produk, (2) volume peroduksi, (3) departemen, (4) periode akuntansi dan (5) suatu keputusan. Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 40, 42-43), dalam lingkungan manufaktur, total biaya operasi terdiri atas dua elemen, yaitu biaya manufaktur dan beban komersial. a. Biaya Manufaktur Biaya manufaktur, juga disebut biaya produksi atau biaya pabrik, biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya, yaitu: 1) Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dimasukkan secara eksplisit dalam perhitungan biaya produk. Contohnya adalah kayu yang digunakan untuk membuat furnitur.

18 2) Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak kepada produk tertentu. 3) Overhead pabrik, juga disebut overhead manufaktur, beban manufaktur atau beban pabrik, terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak ditelusuri secara langsung ke output tertentu. Overhead pabrik biasanya memasukkan semua biaya manufaktur kecuali bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. b. Beban Komersial Beban komersial terdiri atas dua klasifikasi umum, yaitu: 1) Beban pemasaran adalah beban yang dimulai dari titik di mana biaya manufaktur berakhir. Yaitu, ketika proses manufaktur selesai dan produk ada dalam kondisi siap dijual. Beban pemasaran mencakup beban promosi, penjualan dan pengiriman. 2) Beban administratif termasuk beban yang terjadi dalam mengarahkan dan mengendalikan organisasi. Pembagian total biaya operasi dalam lingkungan manufaktur terdapat pada Gambar 2.1 Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat digolongkan menurut fungsinya, yaitu fungsi produksi (biaya manufaktur) dan nonproduksi (beban komersial).

19 Gambar 2.2 Pembagian Total Biaya Operasi dalam Lingkungan Manufaktur Bahan Baku Langsung + Tenaga kerja tidak langsung Overh Bahan baku tidak langsung + Tenaga kerja tidak langsung + Biaya tidak langsung lainnya Termasuk: Termasuk: Termasuk: Perlengkapan pabrik Supervisi Sewa Pelumas Pengawas Asura Inspeksi Pajak Gaji pegawai pabrik Beban Pekerjaan detektif Pemel Pekerjaan eksperimental Listrik Beban pemasaran + Beban administratif Termasuk: Termasuk: Gaji tenaga penjualan Gaji bagian administratif dan kanto Komisi tenaga penjualan Pajak penghasilan pemberi kerja Pajak penghasilan pemberi kerja Sewa Periklanan Beban penyusutan Beban representasi Beban audit Beban perjalanan dinas Beban bagian hukum Sewa Beban piutang tak tertagih Beban penyusutan Alat Tulis dan cetakan Beban pemasaran lain-lain Biaya administrasi lain-lain Sumber: Carter (2009: 41)

20 2.2 Biaya Overhead Pabrik 2.2.1 Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Menurut Mulyadi (2009: 193), biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan tiga cara penggolongan, yaitu: (1) penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya, (2) penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan volume produksi dan (3) penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen. Berikut ini penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya dan perilakunya dalam hubungan dengan proses produksi (Mulyadi, 2009: 194-195): a. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik menurut Sifatnya Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini: 1) Biaya Bahan Penolong Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut. Contohnya adalah bahan perekat, tinta koreksi dan pita mesin ketik yang digunakan dalam perusahaan percetakan. 2) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga

21 perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan aktiva tetap yang digunakan untuk keperluan pabrik. 3) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja tidak langsung terdiri dari upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tidak langsung tersebut. Contoh tenaga kerja tidak langsung adalah karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti karyawan administrasi pabrik. 4) Biaya yang Timbul sebagai Akibat Penilaian terhadap Aktiva Tetap Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya depresiasi mesin, peralatan dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik. 5) Biaya yang Timbul sebagai Akibat Berlalunya Waktu Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya asuransi kecelakaan karyawan.

22 6) Biaya Overhead Pabrik Lain yang Secara Langsung Memerlukan Pengeluaran Uang Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan dan biaya listrik PLN. b. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik menurut Perilakunya dalam Hubungan dengan Perubahan Volume Produksi Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan: 1) Biaya Overhead Pabrik Variabel Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. 2) Biaya Overhead Pabrik Tetap Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu. 3) Biaya Overhead Pabrik Semivariabel Biaya overhead pabrik semivariabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. 2.2.2 Dasar Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Menurut Mulyadi (2009: 199), faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan overhead pabrik adalah: (1) jenis biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi dan (2)

23 sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan eratnya hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai. Menurut Carter yang diterjemahkan oleh Krista (2009: 441-446), ada enam dasar yang dapat digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada produk, yaitu: a. Output Fisik Output fisik atau unit produksi adalah dasar yang paling sederhana untuk membebankan overhead pabrik. Penggunaannya diilustrasikan sebagai berikut: Estimasi overhead pabrik Estimasi unit produksi = Overhead pabrik per unit b. Dasar Biaya Bahan Baku Langsung Tarif yang didasarkan pada biaya bahan baku dapat dihitung dengan cara membagi estimasi total overhead dengan estimasi total biaya bahan baku langsung sebagai berikut: Estimasi overhead pabrik Estimasi biaya bahan baku x 100 Overhead pabrik sebagai persentase dari biaya bahan baku langsung

24 c. Dasar Biaya Tenaga Kerja Langsung Menggunakan dasar biaya tenaga kerja langsung untuk membebankan overhead pabrik ke pesanan atau produk mengharuskan estimasi overhead dibagi dengan estimasi biaya tenaga kerja langsung untuk menghitung suatu persentase: Estimasi overhead pabrik Estimasi biaya tenaga kerja langsung x 100 Overhead pabrik sebagai persentase dari biaya tenaga kerja langsung d. Dasar Jam Tenaga Kerja Langsung Tarif overhead pabrik yang didasarkan pada jam tenaga kerja langsung dihitung sebagai berikut: Estimasi overhead pabrik Estimasi jam tenaga kerja langsung Overhead pabrik per jam tenaga kerja langsung e. Dasar Jam Mesin Tarif overhead pabrik yang didasarkan pada jam mesin dihitung sebagai berikut: Estimasi overhead pabrik Estimasi jam mesin Overhead pabrik per jam mesin

25 f. Dasar Transaksi Pendekatan berdasarkan transaksi terhadap alokasi overhead lebih dikenal sebagai perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing- ABC). ABC mengakui bahwa biaya overhead yang signifikan bisa saja tidak disebabkan oleh volume atau output. Melainkan, di pabrik modern yang menghasilkan lebih dari satu produk, biaya overhead pabrik lebih disebabkan oleh kompleksitas lini produk dan oleh penanganan yang diperlukan oleh item khusus yang bervolume rendah dibandingkan oleh total volume produksi. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria utama dalam pemilihan dasar overhead pabrik adalah kewajaran hubungan antara dasar pembebanan dengan biaya overhead dan akurasi perhitungan biaya. 2.3 Harga Pokok Produksi 2.3.1 Pengertian Harga Pokok Produksi Ada beberapa pengertian harga pokok produksi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya: Daljono (2011: 33) mendefinisikan, Biaya produksi (harga pokok produk) merupakan biaya yang diperlukan untuk memproses produk. Dengan demikian, menentukan berapa harga pokok suatu produk sama halnya dengan menentukan (menghitung) berapa biaya yang telah diserap (dikonsumsi) oleh produk tersebut.

26 Hansen & Mowen (2011: 60) yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary mendefinisikan Harga pokok produksi (cost of goods manufactured) mencerminkan total biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Biaya yang dibebankan pada barang yang diselesaikan adalah biaya manufaktur dari bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead. Horngren, Datar & Foster yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari (2011: 45) mendefinisikan Harga pokok produksi (cost of goods manufactured) adalah biaya barang yang dibeli untuk diproses sampai selesai, baik sebelum maupun selama periode akuntansi berjalan. Dari beberapa pengertian harga pokok produksi tersebut dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk jadi. 2.3.2 Manfaat Harga Pokok Produksi Menurut Daljono (2011: 35), dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga pokok produksi per pesanan bermanfaat bagi manajemen untuk: a. Menentukan Harga Jual yang akan Dibebankan kepada Pesanan Apabila harga pokok tiap jenis produk diketahui, maka kekeliruan dalam penentuan harga jual untuk produk tersebut dapat dihindarkan. b. Mempertimbangkan Penerimaan atau Penolakan Pesanan Apabila ada pelanggan yang ingin memesan produk dengan harga yang ia inginkan, perusahaan dapat segera memutuskan untuk menerima atau

27 menolaknya, karena perusahaan telah mengetahui harga pokok untuk produk sejenis. c. Memantau Realisasi Biaya Produksi Informasi harga pokok memungkinkan manajer untuk memantau biaya produksi untuk setiap jenis produk yang diproduksi. Dengan demikian akan dapat diketahui apakah proses produksi untuk produk tertentu telah dikerjakan secara efisien atau tidak. d. Menghitung Laba atau Rugi Bruto Tiap Pesanan Untuk mengetahui apakah pesanan tertentu mampu menghasilkan laba atau rugi bruto, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi bruto tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya nonproduksi dan menghasilkan laba atau rugi. e. Menentukan Harga Pokok Persediaan Produk Jadi dan Produk dalam Proses yang Disajikan dalam Neraca. Di dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan catatan biaya produksi tiap pesanan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi memiliki manfaat bagi manajemen dalam menyediakan informasi untuk

28 pengambilan keputusan, penentuan profitabilitas dan pembuatan laporan keuangan. 2.3.3 Unsur-Unsur Harga Pokok Produksi Menurut Hansen & Mowen yang diterjemahkan oleh Deny Arnos Kwary (2011: 56-57), dalam perhitungan harga pokok produk, aturan yang berlaku secara eksternal menyatakan biaya dapat diklasifikasikan menurut tujuan khusus atau fungsi yang hendak dicapai. Biaya dikelompokkan dalam dua kategori fungsional utama: produksi dan nonproduksi. Untuk barang berwujud, biaya produksi sering disebut sebagai biaya manufaktur yang diklasifikasikan lebih lanjut sebagai bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead. a. Bahan langsung adalah bahan yang dapat ditelusuri secara langsung pada barang atau jasa yang sedang diproduksi. Sebagai contoh adalah besi pada mobil. b. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara langsung pada barang atau jasa yang sedang diproduksi. Sebagai contoh adalah perawat bedah yang terlibat pada operasi bedah jantung. c. Overhead adalah semua biaya produksi, selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Sebagai contoh adalah penyusutan bangunan dan peralatan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang membentuk harga pokok produk adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead. Ketiga unsur biaya tersebut berkaitan langsung dengan proses pembuatan produk.

29 2.4 Costing System Untuk menghitung biaya atas produk, perusahaan harus menggunakan sistem perhitungan biaya atau costing system yang tepat. Horngren, Datar & Foster yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari (2011) mendefinisikan Sistem kalkulasi biaya (costing system) mencatat biaya sumber daya yang diperoleh seperti bahan, tenaga kerja dan peralatan, serta menelusuri bagaimana sumber daya tersebut digunakan untuk menghasilkan dan menjual produk atau jasa. Kegiatan dalam sistem biaya dimaksudkan untuk menentukan biaya produksi dan harga pokok produk dalam suatu proses produksi. Mursyidi (2010: 25) menjelaskan Kegiatan dalam sistem biaya mencakup: (1) pengumpulan biaya produksi (2) penentuan biaya produksi (3) pelaporan biaya produksi dan (4) analisis biaya produksi. Dalam menghitung biaya atas sebuah obyek biaya, menurut Horngren, Datar & Foster yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari (2011: 31), pada umumnya ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu akumulasi (accumulation) dan pembebanan (assignment). Akumulasi biaya (cost accumulation) adalah kumpulan data biaya yang diorganisir dalam beberapa cara dengan menggunakan sarana berupa sistem akuntansi sedangkan pembebanan biaya (cost assignment) adalah istilah umum yang meliputi (1) menelusuri akumulasi biaya yang mempunyai hubungan langsung dengan objek biaya dan (2) mengalokasikan akumulasi biaya yang mempunyai hubungan tidak langsung dengan objek biaya. Terkait pembebanan biaya ke objek biaya, menurut Prawironegoro & Purwanti (2009: 20), biaya dikategorikan menjadi dua: (1) biaya langsung, yaitu

30 biaya dengan mudah dan akurat dibebankan kepada objek biaya, misalnya biaya bahan baku dan biaya buruh; biaya ini mudah dilacak yang dicerminkan dalam hubungan sebab akibat dan (2) biaya tidak langsung, yaitu biaya yang tidak mudah dan tidak akurat dibebankan kepada objek biaya, misalnya biaya overhead pabrik; biaya ini sulit dilacak. 2.4.1 Actual Costing, Standard Costing dan Normal Costing Menurut Mursyidi (2010: 26), dalam menghitung biaya produksi, pembebanan atas biaya langsung dan alokasi atas biaya tidak langsung kepada cost object dapat menggunakan sistem biaya aktual, standar maupun normal. a. Actual Costing Dalam sistem biaya sesungguhnya (actual costing), biaya dikumpulkan dan diperhitungkan terhadap harga pokok produk berdasarkan biaya yang telah terjadi, atau biaya yang telah dikeluarkan/dimasukkan dalam suatu proses produksi. b. Standard Costing Dalam sistem biaya standar (standard costing), harga pokok produksi serta operasi produksi dihitung berdasarkan biaya yang telah ditentukan di muka (predetermined cost) baik dari segi kualitas maupun nilai uangnya. c. Normal Costing Dalam sistem biaya normal (normal costing), harga pokok produk diperhitungkan dengan biaya sesungguhnya untuk biaya utama (prime cost) dan dengan biaya yang telah ditentukan dimuka untuk biaya overhead pabrik.

31 Perbedaan antara actual costing, normal costing dengan standard costing terdapat pada Tabel 2.1 Tabel 2.1 Perbedaan Actual Costing, Normal Costing dan Standard Costing Jenis Biaya Actual Costing Standard Normal Costing Costing Direct cost: 1. Biaya bahan Aktual Standar Aktual 2. Biaya tenaga nnkerja langsung Aktual Standar Aktual Indirect cost: Biaya overhead Aktual Standar Tarif standar x kapasitas aktual Sumber: Mursyidi (2010: 26) 2.4.2 Job Order Costing dan Process Costing Menurut Mursyidi (2010: 28), dalam suatu proses produksi terdapat elemen biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Biaya-biaya ini perlu dikumpulkan menjadi satu sebagai biaya produksi. Pengumpulan biaya (cost accumulation) produksi tersebut bergantung pada cara perusahaan berproduksi. Namun pada dasarnya, ada dua metode yang paling banyak digunakan dalam cost accumulation, yaitu job order costing dan process costing. a. Job Order Costing Perusahaan yang memproduksi suatu produk berdasarkan pesanan akan melaksanakan kegiatannya setelah pesanan diterima. Perusahaan ini akan mengumpulkan biaya produksinya sesuai dengan pesanan yang diterimanya, dengan kata lain mengumpulkan biaya produksi untuk setiap jenis pesanan. Cara ini disebut dengan pengumpulan biaya produksi berdasarkan pesanan (job order costing).

32 b. Process Costing Tabel 2.2 Perusahaan yang memproduksi produknya berdasarkan produksi massa, melakukan pengolahan produknya secara kontinyu/terus menerus dalam rangka memenuhi permintaan pasar atau persediaan di gudang. Dalam perusahaan ini biaya produksi dikumpulkan secara periodik (harian, mingguan atau bulanan) untuk setiap departemen produksi. Cara seperti ini disebut pengumpulan biaya produksi berdasarkan proses/masa/periodik (process costing). Perbedaan antara job order costing dengan process costing terdapat pada Tabel 2.2 Perbedaan Job Order Costing dan Process Costing Job Order Costing Process Costing 1. Produk sangat bervariasi. 1. Produk bersifat heterogen. 2. Biaya diakumulasi berdasarkan 2. Biaya diakumulasi berdasarkan nnpesanan kerja. nnproses atau departemen. 3. Biaya per unit dihitung melalui 3. Biaya per unit dihitung melalui nnpembagian jumlah biaya pekerjaan nnpembagian biaya proses atau periode nndengan unit yang diproduksi untuk nndengan unit yang diproduksi selama nnpekerjaan tersebut. nnperiode tersebut. Sumber: Hansen & Mowen (2011: 291) 2.4.3 Full Costing dan Variable Costing Menurut Mulyadi (2009: 121-126), perbedaan pokok antara metode full costing dengan variable costing terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap. Adanya perbedaan perlakuan terhadap biaya produksi tetap ini akan mempunyai akibat pada: (1) perhitungan harga pokok produksi dan (2) penyajian laporan rugi laba.

33 a. Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Ditinjau dari Sudut Penentuan Harga Pokok Produk 1) Full costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, kepada produk. Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead sesungguhnya. Oleh karena itu, biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi yang belum laku dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (unsur harga pokok penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjual. 2) Variable Costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produk. Dalam metode variable costing, biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap di dalam metode variable costing tidak melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.

34 Perbedaan antara full costing dengan variable costing ditinjau dari sudut penentuan harga pokok produk terdapat pada Tabel 2.3 Tabel 2.3 Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Ditinjau dari Sudut Penentuan Harga Pokok Produk Full Costing Variable Costing Biaya Bahan Baku Rp. xx Biaya Bahan Baku Rp. xx Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. xx Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. xx Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp. xx Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp. xx Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp. xx Harga Pokok Produk Rp. xx Harga Pokok Produk Rp. xx Sumber: Mulyadi (2009: 122) b. Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Ditinjau dari Sudut Penyajian Laporan Rugi Laba 1) Laporan rugi laba yang disusun dengan metode full costing menitikberatkan pada penyajian unsur-unsur biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi-fungsi pokok yang ada dalam perusahaan manufaktur, yaitu fungsi produksi, pemasaran dan administrasi & umum. 2) Laporan rugi laba yang disusun dengan metode variable costing menitikberatkan pada penyajian biaya sesuai dengan perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan. Dalam laporan rugi laba tersebut, biaya tetap disajikan dalam satu kelompok tersendiri yang harus ditutup dari laba kontribusi yang diperoleh perusahaan, sebelum timbul laba bersih.

35 Perbedaan antara full costing dengan variable costing ditinjau dari sudut penyajian laporan rugi laba terdapat pada Tabel 2.4 Tabel 2.4 Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Ditinjau dari Sudut Penyajian Laporan Rugi Laba Laporan Rugi Laba Full Costing Laporan Rugi Laba Variable Costing Hasil penjualan Rp. xx Hasil Penjualan Rp. xx Harga pokok penjualan (Rp. xx) Dikurangi biaya-biaya variabel: Laba bruto Rp. xx Biaya produksi Rp. xx Biaya administrasi & umum Rp. xx Biaya pemasaran Rp. xx Biaya pemasaran Rp. xx Biaya administrasi & umum Rp. xx (Rp. xx) (Rp. xx) Laba bersih usaha Rp. xx Laba Kontribusi Rp. xx Dikurangi biaya-biaya tetap: Biaya produksi Rp. xx Biaya pemasaran Rp. xx Biaya administrasi & umum Rp. xx (Rp. xx) Sumber: Mulyadi (2009: 125) Laba bersih usaha Rp. xx 2.5 Penerapan Job Order Costing Salah satu sistem kalkulasi biaya yang digunakan untuk membebankan biaya produk atau jasa adalah sistem kalkulasi biaya pekerjaan (job costing system). Menurut Hongren, Datar & Foster yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari (2011: 113-114), pada sistem kalkulasi biaya pekerjaan, objek biaya adalah unit atau multi unit dari produk atau jasa yang khas yang disebut pekerjaan (job). Setiap job menggunakan sumber daya yang berbeda. Produk atau jasa ini biasanya merupakan sebuah unit tunggal. Karena produk dan jasa dihasilkan berbeda, sistem job costing mengakumulasi biaya secara terpisah untuk produk dan jasa.

36 Menurut Horngren, Datar & Foster yang diterjemahkan oleh P.A. Lestari (2011: 115-119), terdapat tujuh langkah untuk membebankan biaya ke sebuah job, baik pada sektor manufaktur, perdagangan atau jasa. a. Mengidentifikasi Pekerjaan yang Dipilih sebagai Objek Biaya Langkah pertama adalah menentukan pekerjaan yang akan dihitung biaya produksinya (cost object). Umumnya, tiap pekerjaan diberi nomor tertentu untuk mempermudah identifikasi. b. Mengidentifikasi Biaya Langsung Job Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi biaya langsung job yang terdiri dari bahan langsung dan upah langsung. 1) Bahan Langsung Bahan langsung dihitung dengan mengalikan kuantitas tiap material yang akan digunakan untuk cost object dengan direct cost rate. Selanjutnya, semua biaya material tersebut dijumlahkan, sehingga diperoleh total biaya bahan langsung. 2) Upah Langsung Upah langsung dihitung dengan mengalikan jam kerja tiap karyawan dalam pengerjaan job yang dijadikan cost object dengan rate upah tiap karyawan tersebut. Selanjutnya, semua perhitungan upah tersebut dijumlahkan, sehingga diperoleh total biaya upah langsung.

37 c. Memilih Dasar Alokasi Biaya yang Digunakan untuk Mengalokasikan Biaya Tidak Langsung ke Job Biaya manufaktur tidak langsung adalah biaya-biaya yang digunakan perusahaan dalam proses produksinya, tetapi tidak dapat dengan mudah ditelusuri kepada tiap job. Oleh karena itu, perusahaan harus mengalokasikannya kepada cost object dengan menggunakan dasar pengalokasian yang tepat, sehingga biaya tersebut dapat dialokasikan secara sistematis kepada cost object. Dasar pengalokasian biaya tidak langsung yang baik, memiliki hubungan sebab akibat yang kuat dengan biaya tidak langsung tersebut. Dasar pengalokasian biaya tidak langsung dapat berupa jam mesin, jam tenaga kerja langsung dan sebagainya. d. Mengidentifikasi Biaya Tidak Langsung yang Terkait dengan Dasar Alokasi Biaya Langkah selanjutnya adalah menentukan biaya tidak langsung yang terkait dengan dasar pengalokasian biaya tidak langsung. Biaya-biaya tidak langsung yang dikelompokkan ke dalam sebuah dasar alokasi biaya tertentu akan membentuk sebuah cost pool. e. Menghitung Tarif per Unit dari Dasar Alokasi Biaya yang Digunakan untuk Mengalokasikan Biaya Tidak Langsung ke Job Untuk cost pool yang telah ditentukan, dihitung tarif per unit dasar alokasi biaya atas biaya tidak langsungnya. Sistem biaya yang digunakan adalah actual costing, maka tarif per unit alokasi biaya tidak langsung tersebut dihitung dengan angka aktual.

38 Tarif overhead Biaya overhead manufaktur aktual manufaktur aktual = Total kuantitas aktual dari dasar alokasi biaya f. Menghitung Biaya Tidak Langsung yang Dialokasikan ke Job Biaya tidak langsung sebuah job diketahui dengan mengalikan tarif overhead manufaktur aktual dengan kuantitas aktual dari dasar pengalokasian biaya yang digunakan oleh job tersebut. Total alokasi Kuantitas aktual dari x Tarif overhead biaya overhead dasar alokasi biaya manufaktur aktual g. Menghitung Biaya Total Job dengan Menambahkan Semua Biaya Langsung dan Tidak Langsung yang Dibebankan ke Job Setelah mengetahui biaya langsung yang digunakan suatu job dan alokasi biaya tidak langsung terhadap job tersebut, maka langkah selanjutnya adalah menjumlahkan seluruh biaya tersebut untuk mengetahui total biaya produksi job. Biaya manufaktur langsung Bahan langsung Tenaga kerja manufaktur langsung Biaya overhead manufaktur Biaya manufaktur total job Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx