BAWAL WIDYA RISET PERIKANAN TANGKAP

dokumen-dokumen yang mirip
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DAN KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN DI TELUK JAKARTA

IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON DI PERAIRAN MUARA BADAK, KALIMANTAN TIMUR

FITOPLANKTON DI PERAIRAN AREAL PERTAMBANGAN NIKEL BULI HALMAHERA TIMUR PHYTOPLANKTON IN NICKEL AREA GULF OF BULI EAST HALMAHERA

Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities.

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT LUNAK UNTUK PERHITUNGAN ANALISA STRUKTUR KOMUNITAS SPESIES PLANKTON. Encik Weliyadi, 2) Dedy Harto

INDEKS BIOLOGI DAN KELIMPAHAN PL ANKTON DI TAMBAK KABUPATEN KEPUL AUAN SEL AYAR PROVINSI SUL AWESI SEL ATAN

232 Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) X (2): ISSN: KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN MAITARA, KOTA TIDORE KEPULAUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas

STUDI KELIMPAHAN DAN SEBARAN PHYTOPLANKTON SECARA HORIZONTAL (KASUS SUNGAI KURI LOMPO KABUPATEN MAROS) Abdul Malik dan Saiful ABSTRAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KEANEKARAGAMAN DAN DOMINANSI PLANKTON DI ESTUARI KUALA RIGAIH KECAMATAN SETIA BAKTI KABUPATEN ACEH JAYA

PENGARUH AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS AIR DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI SUNGAI BELAWAN MEDAN

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN MOROSARI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK

TEKNIK PENGAMBILAN, IDENTIFIKASI, DAN PENGHITUNGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI WADUK IR. H. DJUANDA, JATILUHUR

Konsentrasi Logam Cd dan Pb Di Sungai Plumbon dan Kaitannya dengan Struktur Komunitas Fitoplankton

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN PLANKTON DI PERAIRAN PULAU GUSUNG KEPULAUAN SELAYAR SULAWESI SELATAN SKRIPSI. Oleh: ABDULLAH AFIF

STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN MOROSARI, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK

KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN LAGUNA DESA TOLONGANO KECAMATAN BANAWA SELATAN ABSTRAK

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PESISIR PULAU SIANTAN KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

JENIS DAN KOMPOSISI PL ANKTON PADA BUDIDAYA POLIKULTUR UDANG WINDU, UDANG VANAME, IKAN BANDENG, DAN RUMPUT LAUT DI TAMBAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KOMPOSISI JENIS DAN KELIMPAHAN PL ANKTON DI PERAIRAN PUL AU SEGARA KABUPATEN PANGKEP

II ,53 0, ,53 0, ,02 m/dt ,53 0,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KOMUNITAS FITOPLANKTON DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, JEPARA, JAWA TENGAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PERNYATAAN ORISINILITAS SKRIPSI

KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU JAKARTA. Sri Handayani dan Endang Wahjuningsih * Abstract

KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI SEKITAR MERAK BANTEN DAN PANTAI PENET LAMPUNG

KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI FITOPLANKTON SECARA DIURNAL DI WADUK IR. H. JUANDA, JATILUHUR

BAB III METODE PENELITIAN. Telaga Bromo terletak di perbatasan antara desa Kepek kecamatan

108 ZIRAA AH, Volume 40 Nomor 2, Juni 2015 Halaman ISSN ELEKTRONIK

Struktur Komunitas Fitoplankton Di Ekosistem Padang Lamun Alami dan Buatan Di Perairan Teluk Awur Jepara

KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Struktur Komunitas Fitoplankton di Perairan Pesisir Pulau Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau ABSTRACT

BAB III METODELOGI PENELITIAN

Komposisi dan Sebaran Fitoplankton di Perairan Muara Sungai Way Belau, Bandar Lampung

Ikan mola (Hypophthalmichthys molitrix) sebagai pengendali pertumbuhan plankton yang berlebihan di Waduk Cirata

KOMPOSISI ZOOPLANKTON DI PERAIRAN RAWA BANJIRAN SUNGAI RUNGAN KOTA PALANGKARAYA

STUDI PENYEBARAN MAKROZOOBENTHOS BERDASARKAN KARAKTERISTIK SUBSTRAT DASAR PERAIRAN DI TELUK JAKARTA WAHYUNINGSIH

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

PRODUKTIVITAS PRIMER PERIFITON DI SUNGAI NABORSAHAN SUMATERA UTARA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif.

Struktur Komunitas dan Sebaran Fitoplankton di Perairan Sungsang Sumatera Selatan

Struktur Komunitas Zooplankton Secara Horisontal Di Desa Mangunharjo, Kec. Tugu, Semarang

KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA TAMBAK TIDAK DI DESA MANGUNHARJO, SEMARANG

Gambar 4. Peta Rata-Rata Suhu Setiap Stasiun

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN PULAU BANGKA KABUPATEN MINAHASA UTARA

ABSTRACT THE IMPACT OF AGRICULTURAL ACTIVITIES IN THE VARIOUS LEVELS OF EUTROPHICATION AND DIVERSITY OF PHYTOPLANKTON IN BUYAN LAKE BULELENG BALI

Keterkaitan Antara Kelimpahan Zooplankton dengan Fitoplankton dan Parameter Fisika-Kimia di Perairan Jailolo, Halmahera Barat

Struktur Komunitas Plankton di Perairan Pesisir Bukit Piatu Kijang, Kabupaten Bintan

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH SEBARAN SUHU AIR PENDINGIN PLTU JENEPONTO TERHADAP KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN PUNAGAYA, JENEPONTO-SULSEL

BAB III METODE PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA SUKSESI FITOPLANKTON DENGAN PERUBAHAN RASIO N DAN P DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM PENDAHULUAN

KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG

BAB III METODE PENELITIAN. data sampel yaitu dengan pengamatan atau pengambilan sampel secara langsung,

Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Muara Sungaitohor Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau

Pemodelan Komposisi Fitoplankton Dengan Software Canoco

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Selat Bali

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Penelitian dilakukan di perairan Pulau Penjaliran Timur, Kepulauan

BAB III METODE PENELITIAN

STRUKTUR KOMUNITAS DAN KERAGAMAN PLANKTON ANTARA PERAIRAN LAUT DI SELATAN JAWA TIMUR, BALI DAN LOMBOK

KEANEKARAGAMAN PLANKTON DAN LINGKUNGAN PERAIRAN MANGROVE DI DAERAH MAYANGAN, SUBANG, JAWA BARAT

BAB III BAHAN DAN METODE

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON SERTA KETERKAITANNYA DENGAN KUALITAS PERAIRAN DI LINGKUNGAN TAMBAK UDANG INTENSIF FERIDIAN ELFINURFAJRI SKRIPSI

KELIMPAHAN PLANKTON DI PERAIRAN BANGKA-BELITUNG DAN LAUT CINA SELATAN, SUMATERA, MEI - JUNI 2002

Komunitas Plankton pada saat Pasang dan Surut di Perairan Muara Sungai Demaan Kabupaten Jepara

HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN

KEBERADAAN DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON SEBAGAI SALAH SATU INDIKATOR KESUBURAN LINGKUNGAN PERAIRAN DI WADUK RIAM KANAN.

3. METODE PENELITIAN

Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(3), Mei 2013 ISSN:

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Oseanografi. Suhu perairan selama penelitian di perairan Teluk Banten relatif sama di

I. PENDAHULUAN. Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi

ABSTRAK. Kata kunci: Danau Buyan, Keramba Jaring Apung, Fitoplankton.

Struktur Komunitas Zooplankton pada Malam Hari di Perairan Teluk Riau Kelurahan Senggarang Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KONDISI KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA. Triana Mansye Kubelaborbir 1 dan Joselina Akerina 1

DISTRIBUSI DIATOM PLANKTONIK DI PERAIRAN MUARA SUNGAI MESJID KOTA DUMAI. Oleh: ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan

Struktur Komunitas Fitoplankton sebagai Dasar Pengelolaan Kualitas Perairan Pantai Mangrove di Tapak Tugurejo Semarang

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. MATERI DAN METODE

Struktur Komunitas Plankton Di Perairan Mangrove Kota Rebah Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau

BAB III METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta Lokasi Tambak Cibalong (Sumber : Google Earth)

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN PANTAI PRAWEAN BANDENGAN, JEPARA

BAB 2 BAHAN DAN METODA

Kajian Variabel Kualitas Air Dan Hubungannya Dengan Produktivitas Primer Fitoplankton Di Perairan Waduk Darma Jawa Barat

Keywords: Diversity. Phytoplankton, Kandis River

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

ISSN 1907-8226 BAWAL WIDYA RISET PERIKANAN TANGKAP Volume 5 Nomor 3 Desember 2013 Nomor Akreditasi : 419/AU/P2MI-LIPI/04/2012 (Periode: April 2012-April 2015) BAWAL, Widya Riset Perikanan Tangkap adalah wadah informasi perikanan, baik laut maupun perairan umum. Publikasi ini memuat hasil-hasil penelitian bidang natural history ikan (pemijahan, pertumbuhan, serta kebiasaan makan dan makanan) serta lingkungan sumber daya ikan. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan: APRIL, AGUSTUS, DESEMBER. Ketua Redaksi: Drs. Bambang Sumiono, M.Si (Biologi Perikanan-P4KSI) Anggota: Prof. Dr. Wudianto, M.Si (Teknologi Penangkapan Ikan-P4KSI) Prof. Dr. Ali Suman (Biologi Perikanan-BPPL) Prof. Dr. Ir. Sam Wouthuyzen, M.Sc. (Oseanografi Perikanan-LIPI) Dr. Agus Djoko Utomo, M.Si ( Biologi Perikanan-BRPPU) Ir. Sulastri (Limnologi-LIPI) Mitra Bestari untuk Nomor ini: Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc (Hidro Akustik Perikanan-IPB) Dr. Ir. Zainal Arifin, M.Sc. (Pencemaran Perairan-LIPI) Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal (Ikhtiologi-IPB) Dr. Estu Nugroho (Genetika Populasi Ikan-BPPAT) Lilis Sadiyah, Ph.D. (Permodelan Perikanan-P4KSI) Redaksi Pelaksana: Ralph Thomas Mahulette, S.Pi., M.Si. Kharisma Citra, S.Sn. Desain Grafis: Darwanto, S.Sos. Alamat Redaksi/Penerbit: Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Gedung Balitbang KP II Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur Jakarta Utara 14430 Telp. (021) 6470 0928 Fax. (021) 64700929 Email: drprpt2009@gmail.com BAWAL-WIDYA RISET PERIKANAN TANGKAP diterbitkan oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan - Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan - Kementerian Kelautan dan Perikanan.

KATA PENGANTAR Widya Riset Perikanan Tangkap BAWAL merupakan wadah untuk menyampaikan informasi hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari dalam maupun luar lingkup Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber daya Ikan. Informasi-informasi tersebut sangat berguna bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para pengambil kebijakan sebagai dasar dalam pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya ikan di laut maupun perairan umum daratan. Seiring dengan terbitnya Widya Riset Perikanan Tangkap Bawal Volume 5 Nomor 3 Desember 2013 ini, kami ucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari atas kesediaannya dalam menelaah beberapa naskah. Pada volume ini, Bawal menampilkan tujuh artikel hasil penelitian perikanan di perairan umum daratan dan perairan laut. Tujuh artikel tersebut mengulas tentang, Struktur komunitas plankton dan kondisi lingkungan perairan di Teluk Jakarta, Kebiasaan makan dan luas relung beberapa jenis ikan di Waduk Djuanda, Jawa Barat, Biologi reproduksi ikan golsom (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) di Waduk Cirata, Jawa Barat, Estimasi parameter populasi ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) di perairan Laut Jawa, Parameter populasi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) di perairan Laut Jawa Bagian Timur, Jenis pakan alami larva ikan betok (Anabas testudineus Bloch) di perairan rawa monoton Danau Bangkau, Kalimantan Selatan, Status trofik perairan rawa pening ditinjau dari kandungan unsur hara (No 3 Dan Po 4 ) serta klorofil-a. Semua artikel pada edisi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang perikanan tangkap di Indonesia. Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif para penulis dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam edisi ini. Redaksi i

ISBN 1907-8226 BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Volume 5 Nomor 3 Desember 2013 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... Struktur Komunitas Plankton dan Kondisi Lingkungan Perairan di Teluk Jakarta Oleh: Adriani Sri Nastiti dan Sri Turni Hartati Kebiasaan Makan dan Luas Relung Beberapa Jenis Ikan di Waduk Djuanda, Jawa Barat Oleh: Sri Endah Purnamaningtyas, dan Didik Wahju Hendro Tjahjo Biologi Reproduksi Ikan Golsom (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) di Waduk Cirata, Jawa Barat Oleh: Dimas Angga Hedianto dan Sri Endah Purnamaningtyas Estimasi Parameter Populasi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Perairan Laut Jawa Oleh: Umi Chodrijah, Thomas Hidayat dan Tegoeh Noegroho Parameter Populasi Ikan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus) di Perairan Laut Jawa Bagian Timur Oleh: Wahyuningsih, Prihatiningsih dan Tri Ernawati Jenis Pakan Alami Larva Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) di Perairan Rawa Monoton Danau Bangkau, Kalimantan Selatan Oleh: Rukmini, Marsoedi, Diana Arfiati, dan Athaillah Mursyid... Status Trofik Perairan Rawa Pening ditinjau dari Kandungan Unsur Hara (No 3 Dan Po 4 ) serta Klorofil-a Oleh: Naila Zulfia dan Aisyah i iii 131-150 151-157 159-166 167-174 175-179 181-188 189-199 iii

BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DAN KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN DI TELUK JAKARTA PLANKTON COMMUNITY STRUCTURE AND THEIR ENVIRONMENT AS ONE OF FACTORS TO SUPPORT FISH RESOURCES MANAGEMENT IN JAKARTA BAY ABSTRAK Adriani Sri Nastiti 1 dan Sri Turni Hartati 2 1 Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan 2 Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Teregistrasi I tanggal: 03 Agustus 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 20 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 10 Desember 2013 Email: adrin0506@yahoo.co.id Fitoplankton dan zooplankton merupakan pakan alami bagi biota laut termasuk ikan. Tujuan penelitian adalah mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan zooplankton serta kondisi lingkungan perairan di Teluk Jakarta. Penelitian dilakukan pada bulan April, Juni, Agustus dan Oktober 2009, pengamatan di 5 stasiun TJ1, TJ2, TJ3, TJ4 dan TJ5. Parameter yang di ukur adalah: kelimpahan fitoplankton dan zooplankton, suhu air, kecerahan, oksigen terlarut, ph, salinitas,. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton yang ditemukan 5 kelas meliputi: Cyanophyceae (6 spesies), Chlorophyceae (4 spesies), Bacillariophyceae (37 spesies), Dinophyceae (14 spesies) dan Euglenophyceae (1 species). Zooplankton yang ditemukan 10 kelas meliputi : Crustacea (16 spesies), Holothuroidea (3 spesies), Ciliata (5 spesies), Sagittoidea (2 spesies), Sarcodina (3 spesies), Rotatoria (4 spesies), Echinodermata (1 spesies), Polychaeta (1 spesies), Urochordata (1 spesies) dan Hydrozoa (1 spesies). Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1.587.086-3.799.799 sel/l. Kelimpahan zooplankton berkisar antara 922.010-3.834.261ind/l. Indeks keanekaragaman (=H) fitoplankton berkisar antara 1,74 3,64;indeks dominansi (=D) berkisar antara 0,04-0,40 dan indeks keseragaman (=E) berkisar antara 0,08-0,34. Indeks biologi zooplankton menunjukkan nilai (=H) berkisar antara 0,22-3,70; nilai (=D) berkisar antara 0,18-0,79; dan nilai (=E) berkisar antara 0,01-0,37. Suhu air berkisar antara 29,5-31,6 o C, ph berkisar antara 4,96-7,38 dan salinitas berkisar antara 12,0-31,5 o / oo. Teluk Jakarta diindikasikan mengalami tekanan lingkungan sehingga hanya beberapa spesies plankton mampu beradaptasi, yaitu dari kelas Bacillariophyceae (Chaetoceros sp ) dan Crustaceae (Calanus sp dan Acartia sp). Kata Kunci: Struktur Komunitas, Fitoplankton dan Zooplankton, Lingkungan Perairan, Teluk Jakarta ABSTRACT Phytoplankton and zooplankton is a natural food for other marine life including fish. Growth and development are supported by condition of aquatic environment. The research objective was to determine the community structure of phytoplankton and zooplankton and aquatic environments as a factor in supporting the management of fish resources in the Jakarta Bay. The research was conducted in April, June, August and October 2009 at five stations were : TJ1, TJ2, TJ3, TJ4 and J5. The parameters measured were: phytoplankton and zooplankton abundance, water temperature, brightness, dissolved oxygen, ph and salinity,. The results show that there were 5 classes of phytoplankton found in Jakarta Bay consisting of: Cyanophyceae (6 species), Chlorophyceae (4 species), Bacillariophyceae (37 species), Dinophyceae (14 species)and Euglenophyceae (1 species). Zooplankton were found 10 classes consisting of Crustacea (16 species), Holothuroidea (3 species), Ciliata (5 species), Sagittoidea (2 species), Sarcodina (3 species), Rotatoria (4 species), Echinodermata (1 species), Polychaeta (1 species), Urochordata (1 species) dan Hydrozoa (1 species). Phytoplankton abundance was between 1.922.010-3.834.261 cell/ l. Zooplankton abundance was between 2.764-2.849.066 ind/l. Analysis on biological index of phytoplankton showed that the diversity indeces ranged between 1,74 3,64; dominance indeces (=D) ranged between 0,04-0,40 and similarity indeces (=E) ranged between 0,08-0,34. Biological index of zooplankton showed that the diversity indeces (= H) ranged between 0,22-3,70; dominance indeces (=D) ranged between 0,18-0,79, and similarity indeces (= E) ranged between 0,01-0,37. Water temperature ranged between 29.5-31.6 o C, ph ranged between 4.96-7.38 and salinity ranged between 12.0-31.5 o / oo. Jakarta Bay is experienced environmental pressures so that only several species plankton are capable of adapting, that is from class Bacillariophyceae (Chaetoceros sp.) and class Crustaceae (Calanus sp. and Acartia sp). Keywords : Community structure, Phytoplankton and Zooplankton Abundance,Waters Environment, Jakarta Bay. Korespondensi penulis: Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Jatiluhur Jl. Cilalawi No. 1 Jatiluhur, Purwakarta - Jawa Barat 131

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 PENDAHULUAN Teluk Jakarta merupakan perairan yang subur ditandai dengan melimpahnya fitoplankton. Fitoplankton memiliki ukuran 2-200μm, berfungsi sebagai produsen primer dan dengan bantuan energi matahari melakukan fotosintesis untuk pertumbuhannya (Anonimus. 2008). Fitoplankton dalam rantai makanan merupakan pakan alami bagi zooplankton dan selanjutnya baik fitoplankton maupun zooplankton merupakan pakan alami bagi biota laut termasuk ikan (Ahira, 2011). Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al., 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman & Horne, 1983). Menurut Trommer et al (2013) hasil bioassay limbah rumah tangga yang dilakukan di Teluk Brest, Atlantik Utara diketahui bahwa di ekosistem pesisir, kelimpahan fitoplankton dipengaruhi oleh nutrien yang berasal dari limbah rumah tangga. Zooplankton, bersifat heterotropik yang berarti bahwa tidak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan anorganik. Ukuran yang paling umum adalah berkisar antara 0,2-2 mm. Kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton (Davis, 1955). Di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya The Theory of Differential Growth Rate yang dikemukakan oleh Steeman & Hansen (1959) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu. Selain itu terdapat pula teori yang menerangkan terjadinya hubungan terbalik antara zooplankton dan fitoplankton. Bila populasi zooplankton meningkat maka pemangsaan terhadap fitoplankton akan sedemikian cepatnya sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri dan mengalami pertumbuhan namun jika jumlah zooplankton kelimpahannya menurun dan menjadi sedikit maka hal ini memberi kesempatan kepada fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan konsentrasi yang tinggi (Davis, 1955). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan zooplankton serta kondisi lingkungan perairan di Teluk Jakarta. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Teluk Jakarta terletak pada posisi 06 o 0 35,6" 05 o 56 49"LS sampai 106 o 40 28,5" 106 o 58 58"BT membentang dari Tanjung Karawang sampai Tanjung Pasir dengan panjang pantai ± 89 Km. Beberapa sungai besar dan kecil yang bermuara di Teluk Jakarta, diantaranya yaitu Sungai Cisadane (di bagian barat), Sungai Ciliwung (dibagian Tengah), Sungai Citarum dan Sungai Bekasi (di bagian Timur).Teluk Jakarta merupakan perairan yang subur (Hartati et al., 2006). Penelitian dilaksanakan di Teluk Jakarta yaitu di Tanjung Pasir, Tanjung Rebo, Muara Kamal, Muara Karawang dan Tanjung Karawang (Gambar 1 dan Tabel 1). Penelitian dilakukan pada bulan April, Juni, Agustus dan Oktober 2009. Metode Pengambilan Sampel Sampel air untuk pengukuran parameter fisika dan kimia air serta plankton diambil pada bagian permukaan. Sampel fitoplankton diambil dengan menggunakan botol Nensen kemudian di saring dengan jaring fitoplankton selanjutnya dituangkan ke dalam botol sampel ukuran 50 ml dan ditambah formalin sebanyak 1 tetes (0,05cc) sebagai zat pengawet. Sampel zooplankton diambil pada bagian permukaan perairan menggunakan jaring zooplankton yang ditarik perahu dengan kecepatan 1,5 knot, selanjutnya sampel dituangkan ke dalam botol ukuran 250 ml dan ditambah dengan formalin sebanyak 5 tetes (0,25 cc). Metoda analisis parameter fisika dan kimia air serta plankton secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2. 132

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Teluk Jakarta. Figure 1. Map of research sites in Jakarta Bay. Tabel 1. Posisi geografis lokasi penelitian. Table 1. Geographic position of research sites No/No Lokasi/Location Kode stasiun/code of station Posisi Geografis Geographic Position Lintang Selatan Latitude Bujur Timur Longitude 1 Tanjung Pasir TJ1 06 o 00' 35.6" 106 o 40' 28.5" 2 Tanjung Rebo TJ2 06 o 02' 12.5" 106 o 42' 50.1" 3 Muara Kamal TJ3 06 o 05' 26.3" 106 o 43' 49.6" 4 Muara Karawang TJ4 05 o 57 51.59 107 o 00 14.06 5 Tanjung Karawang TJ5 05 o 56' 49 " 106 o 58 58" Tabel 2. Metode dan alat yang digunakan untuk analisis parameter fisika, kimia air dan plankton. Table 2. Methods and instrument used for analysis of physics, chemic and plankton parameters. No Parameter yang di ukur / Satuan / Metode dan alat yang digunakan/ Methods and parameters measured Unit Instrument 1 Suhu Air o C Insitu, Water Quality Checker 2 ph unit Insitu, ph Solution test 3 Salinitas o / oo Insitu, Refraktometer 4 Fitoplankton Cell/l Insitu, Fitoplanktonet diameter 64 µm Laboratorium, Microscope dan sedgewick rafter. Identifikasi dengan acuan Yamaji (1996), Mizuno (1970) dan Prescott (1951). 5 Zooplankton Ind/l Insitu, Zooplanktonet diameter 200 µm. Laboratorium, Microscope dan sedgewick rafter. Identifikasi dengan pustaka Yamaji (1996). Analisa Data Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton dihitung menggunakan rumus yang disajikan Sachlan (1972), sebagai berikut: A C 1000 F * * * N B D E Keterangan : A : Luas cover glass ; B : Luas lapang pandang yang diteliti; C : Volume sampel yang disaring; D : Volume sampel; E : Volume sampel yang diambil; 133

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 F N : Jumlah individul per liter; : Jumlah organisme yang didapat. Indeks Shannon-Wiener digunakan untuk menghitung indeks keanekaragaman jenis, indeks keseragaman, dan indeks dominansi dihitung menurut Odum (1998) dengan rumus sebagai berikut : Indeks keanekaragaman : Analisis ini digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis biota perairan. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: s H = - (ni/n) ln (ni/n) i=1 Keterangan: H : indeks diversitas Shanon-Wiener ; Pi : ni/n Ni : jumlah individu jenis ke-i; N : jumlah total individu S : jumlah jenis. Kriteria yang digunakan untuk keanekaragaman Shannon-Wiener (Krebs, 1972) yaitu: 1. 0 d H d 2,303 maka persentase keanekaragaman rendah dengan tekanan ekologis tinggi, 2. 2,303 d H d 6,909 maka persentase keanekaragaman sedang dengan tekanan ekologis, 3. H e 6,909 maka persentase keanekaragaman tinggi dengan tekanan ekologis rendah. Indeks keseragaman : E = H /H max Indeks ini menunjukkan pola sebaran biota yaitu merata atau tidak. Jika nilai indeks kemerataan relatif tinggi maka keberadaan setiap jenis biota di perairan dalam kondisi merata. Keterangan : E : Indeks kemerataan; H maks : Ln s (s adalah jumlah genera) H : Indeks keanekaragaman. Nilai indeks berkisar antara 0-1, semakin kecil indeks keseragaman, semakin kecil pula keseragaman populasi, ini menunjukkan penyebaran jumlah individu setiap lokasi tidak sama. Semakin besar nilai keseragaman, menggambarkan jumlah biota pada masing-masing sama atau tidak jauh beda. Nilai indeks keseragaman berkisar antara 0-1. Kriteria nilai indeks keseragaman berdasarkan kriteria Krebs (1972) adalah sebagai berikut: 0 < E < 0,5 : Komunitas tertekan 0,5 < E < 0,75 : Komunitas labil 0,75 < E < 1 : Komunitas stabil Indeks dominansi : s D = [ ni/n ] 2 i=1 Keterangan: D : indeks dominansi Simpson; ni : jumlah individu jenis ke-i; N : jumlah total individu ; S : jumlah genera Indeks dominansi berkisar antara 0-1, Kriteria : D = 0, berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil; D 1, berarti terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya, atau struktur komunitas labil, karena terjadi tekanan ekologis (stress). HASIL DAN BAHASAN Struktur Komunitas Berdasarkan hasil pengamatan fitoplankton maupun zooplankton ditemukan beberapa genus yang termasuk dalam klasifikasi plankton air tawar. Teluk Jakarta merupakan perairan estuari, artinya masih ada pengaruh air tawar yang berasal dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta (Prayitno, 2011). Komposisi Jenis Fitoplankton Fitoplankton yang ditemukan selama penelitian sebanyak 62 spesies yang termasuk dalam 5 Kelas yaitu : Cyanophyceae (6 spesies), Chlorophyceae (4 spesies), Bacillariophyceae (37 spesies), Dinophyceae (14 spesies) dan Euglenophyceae (1 spesies). Bulan Agustus ditemukan jumlah spesies tertinggi (80 spesies) jumlah spesies tertinggi Kelas Bacillariophyceae yaitu sebanyak 37 spesies (Lampiran 1 dan 3). Menurut penelitian Fachrul et al. (2005) bahwa di Teluk Jakarta ditemukan 42 spesies fitoplankton meliputi 5 kelas yaitu :Cyanophyta (4 spesies), Chlorophyta (3 spesies), Diatom (21 spesies), Dinoflagellata (8 spesises) dan Titinidae (16 spesies. Bila dibandingkan antara hasil penelitian saat ini dengan penelitian sebelumnya maka saat ini spesies yang ditemukan lebih banyak yaitu 62 134

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 spesies, namun hanya 4 kelas saja umumnya kelasnya hampir sama. Zooplankton Zooplankton yang ditemukan selama penelitian sebanyak 38 spesies yang termasuk dalam 10 kelas yaitu : Crustaceae (16 spesies), Holothurideae ( 3 spesies), Cilliata (5 spesies), Sagittoidea (2 spesies), Sarcodina (3 species), Rotatoria (4 spesies), Echinodermata (1 spesies), Polychaeta (1 spesies), Urochordata (1 spesies) dan Hydrozoa (1spesies) (Lampiran 2 dan 4). Bulan April ditemukan jumlah spesies tertinggi yaitu sebanyak 37 spesies dan jumlah spesies tertinggi diantara 11 kelas adalah Crustaceae sebanyak 16 spesies. Bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya maka jumlah spesies yang ditemukan saat ini lebih sedikit dengan jumlah kelas yang ditemukan sebanyak 11 kelas. Hasil penelitian Suherman (2005) di Teluk Jakarta didapat 52 spesies Zooplankton yang terbagi dalam 12 Kelas yaitu Crustacea, Cilliata, Mollusca, Urochordata, Polychaeta, Sarcodina, Echinodermata, Hydrozoa, Sagittoidea, Larvae, Actyropyga dan Tentaculata. Kelimpahan Fitoplankton Hasil pengamatan selama penelitian ditemukan kelimpahan fitoplankton secara spasial berkisar antara 1.587.086 3.799.799 sel/l dan secara temporal berkisar antara 922.010-3.834.261 sel/l. Bulan April ditemukan kelimpahan fitoplankton tertinggi yaitu 10.348.525 sel/l di stasiun TJ1(Tanjung Pasir) dan terendah pada bulan Oktober yaitu 508.845 se/l di TJ4 (Muara Karawang) (Tabel 3). Tabel 3. Kelimpahan fitoplankton selama periode penelitian. Table 3. The abundance of phytoplankton during research period. Kelimpahan fitoplankton / Phytoplankton abundance Stasiun penelitian / (Cell/L) Rata-rata/ Total Research station Juni / Agustus / Oktober / Average April June August October TJ1 10.348.525 1.363.765 3.097.663 389.244 15.199.197 3.799.799 TJ2 914.512 656.762 3.817.411 959.659 6.348.344 1.587.086 TJ3 2.411.443 704.884 3.663.129 2.093.419 8.872.875 2.218.219 TJ4 1.162.750 1.180.466 3.949.046 508.845 68.011.068 1.700.277 TJ5 4.334.079 704.175 1.544.233 1.882.518 8.465.005 2.116.251 Total 19.171.308 4.610.052 16.071.482 5.833.685 45.686.527 Rata-rata/Average 3.834.262 922.010 3.214.296 1.166.737 9.137.305 Pada Gambar 2. diketahui bahwa kelimpahan fitoplankton diantara 5 kelas selama penelitian adalah Bacillariophyceae dan kelimpahan fitoplankton tertinggi di TJ1 (Tanjung Pasir). Menurut Sachlan (1972) Bacillariophyceae merupakan kelas dari fitoplankton yang paling melimpah dan banyak ditemukan di perairan Indonesia. Ditemukannya Bacillariophyceae di Teluk Jakarta di setiap stasiun pengamatan dan waktu pengamatan sesuai dengan pendapat Sachlan (1972) sehubungan dengan peran Bacillariophyceae sebagai penentu kesuburan dan indikator pencemaran tidak lepas dari sifatnya yang kosmopolit sehingga dapat hidup dan berkembang biak di berbagai kondisi perairan tercemar. Spesies dari Kelas Bacillariophyceae yang ditemukan melimpah adalah: Chaetoceros sp dan Rhizosolenia sp pada bulan April, Chaetoceros sp dan Coscinodiscus sp pada bulan Juni, Biddulphia sp, Thalassionema sp dan Thalassiosira sp pada bulan Agustus dan Triceratium sp, Pleurosigma sp serta Planktoniela sp pada bulan Oktober. Diantara spesies tersebut Chaetoceros sp pada bulan April mencapai kelimpahan rata-rata tertinggi yaitu 987.969 sel/ l yang terdistribusi di ke lima stasiun (TJ1,T2,TJ3,TJ4 dan TJ5) (Lampiran 1a-d). Hasil tersebut tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Lestari dan Edward (2004) menunjukkan bahwa beberapa jenis dari kelas Bacillariophyceae yang sering ditemukan di Teluk Jakarta adalah: Nitzchia, Chaetoceros dan Thallasisiora yang berpotensi memicu terjadinya pasang merah (red tide) jenis fitoplankton tersebut beracun yang menjadi salah satu penyebab kematian massal ikan di Teluk Jakarta Zooplankton Hasil pengamatan selama penelitian ditemukan kelimpahan zooplankton secara spasial berkisar antara 18.781-1.866.766 ind/l dan secara temporal berkisar antara 2.764-2.849.066 ind/l. Bulan April ditemukan kelimpahan zooplankton tertinggi yaitu 7.461.861 ind/l di TJ4 (Muara Karawang) dan terendah pada bulan Oktober yaitu 349 ind/l di TJ5 (Tanjung Karawang) (Tabel 4). 135

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Gambar 2. Figure 2. Kelimpahan beberapa kelas dari fitoplankton selama penelitian. Abundance of several classes of phytoplankton during research. Tabel 4. Kelimpahan zooplankton selama periode penelitian. Table 4. The abundance of zooplankton during research periods. Stasiun Penelitian/ Research station Kelimpahan Zooplankton/ Zooplankton abundance (sel/l) Total Rata-rata April Juni/June Agustus/August Oktober/October Average TJ1 1.026.026 1.852 3.843 3.215 1.034.936 258.734 TJ2 59.925 3.408 5.242 6.551 75.126 18.781 TJ3 459.847 5.120 3.983 2.690 471.641 117.910 TJ4 7.461.861 2.149 1.816 1.239 7.467.065 1.866.766 TJ5 5.237.672 1.293 766 349 5.240.080 1.310.020 Total 14.245.332 13.822 15.650 14.044 14.288.848 Rata-rata/Average 2.849.066 2.764 3.130 2.809 2.857.770 Pada Gambar 3. Diketahui bahwa kelimpahan zooplankton tertinggi diantara 11 kelas selama penelitian adalah Crustaceae dan tertinggi di stasiun TJ4 (Muara Karawang). Menurut Razouls et al (2005-2011), peran Crustaceae dalam ekosistem pelagis sangat penting dari sudut pandang trofik, sebagai penghubung antara produksi primer dan larva ikan dan juvenile yang mencirikan produksi sekunder laut karena laju pertumbuhan dari Crustaceae relative sangat cepat sehingga kelimpahannya lebih tinggi dibandingkan jenis/ kelompok zooplankton lainnya. Beberapa spesies Crustaceae di Teluk Jakarta selama penelitian ditemukan melimpah di stasiun TJ1, TJ4 dan TJ5 adalah : Acartia sp, Candacia sp dan Squilla sp pada bulan April; Acartia sp, Calanus sp, Oithona sp dan Nauplius sp pada bulan Juni; Acartia sp, Calanus sp, Oithona sp dan Nauplius sp pada bulan Agustus dan pada bulan Oktober Acartia sp Calanus sp dan Nauplius sp. Diantara spesies tersebut Calanus sp pada bulan April kelimpahan rata-rata tertinggi yaitu 2.397 ind/l yang terdistribusi di ke lima stasiun (TJ1,T2,TJ3,TJ4 dan TJ5) (Lampiran 2a-d). Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Suherman (2005) komposisi jenis di perairan ini di dominasi oleh kelas Crustacea dengan persentase tertinggi sebesar 50 %. Gambar 3. Figure 3. Indeks Biologi Fitoplankton Kelimpahan beberapa kelas dari selama periode penelitian. The abundance of several classes from zooplankton during research periods. Hasil analisa indeks keanekaragaman (=H) fitoplankton secara temporal di Teluk Jakarta terendah pada bulan Agustus yaitu 1,74 dan tertinggi pada bulan Oktober yaitu 3,64. Indeks Dominansi (=D) terendah pada bulan Juni yaitu 0,04 dan tertinggi pada bulan Agustus yaitu 0,40. Indeks Keseragaman (=E) terendah pada bulan April yaitu 0,12 dan tertinggi pada bulan Juni yaitu 0,34 (Tabel 5). Pada Tabel 6 secara parsial dapat dilihat nilai indeks biologi 136

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 sebagai berikut : nilai (=H) terendah di TJ2 yaitu 1,74 dan tertinggi di TJ1 yaitu 3,64 ; nilai (=D) terendah di TJ1 yaitu 0,04 dan tertinggi di TJ2 yaitu 0,40 ; nilai (=E) terendah di TJ2 yaitu 0,08 dan tertinggi di TJ5 yaitu 0,34. Berdasarkan Tabel 5 dan 6, nilai (=H) menunjukkan bahwa persentase keanekaragaman fitoplankton di Teluk Jakarta secara temporal dan parsial termasuk dalam kategori rendah sampai sedang karena diduga tekanan lingkungan. Nilai indeks (=D) menunjukkan bahwa secara temporal dan parsial terdapat spesies fitoplankton yang mendominasi yaitu kelas Bacillariophyceae yaitu Chaetoceros sp (Lampiran 1) terhadap spesies lainnya atau struktur komunitas labil, hal ini disebabkan karena tekanan dari lingkungan. Nilai indeks (=E) menunjukkan bahwa fitoplankton secara temporal dan parsial di Teluk Jakarta rendah, hal ini menunjukkan bahwa keseragaman populasi fitoplankton rendah dan penyebaran jumlah individu setiap lokasi tidak sama. Kondisi Teluk Jakarta berdasarkan analisa indeks biologi relatif masih sama bila dibandingkan dengan hasil penelitian tahun 2004 sebagai berikut : indeks (=H) berkisar 0,26 2,20 sehingga dikategorikan berada pada kondisi tercemar sedang sampai rendah. Indeks (=E) cenderung mendekati 0 yang berarti kemerataan fitoplankton rendah. Ini berarti adanya satu jenis fitoplankton mendominasi relatif tinggi, hal ini ditunjukkan indeks dominansi (=D) yang cenderung mendekati 1,0 (Fachrul et al., 2005). Tabel 5. Kisaran nilai indeks biologi dari fitoplankton menurut bulan pengamatan. Table 5. The range value of biological index of phytoplankton by month. Indeks Biologi / Biological Index April Juni / June Agustus / August Oktober / October H 2,62-3,10 2,64-3,19 1,74-3,07 2,85-3,64 D 0,08-0,21 0,04-0,20 0,21-0,40 0,16-0,26 E 0,12-0,15 0,27-0,34 0,08-0,15 0,14-0,20 Tabel 6. Kisaran nilai indeks biologi dari fitoplankton menurut lokasi peneltian. Table 6. The range value of biological index of phytoplankton by location. Indeks Biologi/ Biological Index TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 H 1,98-3,64 1,74-3,06 1,99-3,10 2,64-2,93 2,62-3,19 D 0,04-0,36 0,05-0,40 0,05-0,36 0,10-0,26 0,05-0,24 E 0,09-0,32 0,08-0,31 0,09-0,31 0,12-0,27 0,12-0,34 Keterangan / Remarks : H : indeks keragaman; D : indeks dominansi; E : indeks kesamaan; Zooplankton Hasil analisa indeks keanekaragaman (=H) zooplankton secara temporal di Teluk Jakarta terendah pada bulan April yaitu 0,22 dan tertinggi pada bulan Agustus yaitu 3,70. Indeks dominansi (=D) terendah pada bulan Agustus yaitu 0,18 dan tertinggi pada bulan April yaitu 0,79. Indeks keseragaman (=E) terendah pada bulan April yaitu 0,01 dan tertinggi pada bulan Agustus yaitu 0,37 (Tabel 7). Pada Tabel 7 secara parsial dapat dilihat nilai indeks biologi sebagai berikut: nilai (=H) terendah di TJ3 yaitu 0,36 dan tertinggi di TJ4 yaitu 3,70 ; nilai (=D) terendah di TJ1 dan TJ3 yaitu 0,18 dan tertinggi di TJ2 yaitu 0,79 ; nilai (=E) terendah di TJ5 yaitu 0,01 dan tertinggi di TJ4 yaitu 0,34. Berdasarkan Tabel 7 dan 8, nilai (=H) menunjukkan bahwa persentase keanekaragaman zooplankton di Teluk Jakarta secara temporal dan parsial termasuk dalam kategori rendah sampai sedang karena diduga tekanan lingkungan. Nilai indeks dominan (=D) menunjukkan bahwa secara temporal dan parsial terdapat spesies zooplankton yang mendominasi dari kelas Crustaceae yaitu jenis Calanus sp dan Acartia sp (Lampiran 2) terhadap spesies lainnya, kondisi ini mengindikasikan struktur komunitas labil. Hal ini bisa disebabkan karena tekanan dari lingkungan. Nilai indeks (=E) menunjukkan bahwa zooplankton secara temporal dan parsial di Teluk Jakarta rendah, hal ini menunjukkan bahwa keseragaman populasi zooplankton rendah dan penyebaran jumlah individu setiap lokasi tidak sama. 137

Tabel 7. Kisaran nilai indeks biologi dari zooplankton berdasarkan bulan penelitian. Table 7. The value range of biological index of zooplankton by month. Indeks Biologi / Biological Index A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 April / April Juni / June Agustus / August Oktober / October H 0,22-0,44 1,92-3,34 2,34-3,70 1,58-2,14 D 0,21-0,79 0,22-0,44 0,18-0,39 0,20-0,40 E 0,01-0,03 0,16-0,32 0,19-0,37 0,15-0,21 Tabel 8. Kisaran nilai indeks biologi dari zooplankton menurut lokasi penelitian. Table 8. The value range of biological index of zooplankton by locations Indeks Biologi / Biological Index TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 H 1,86-3,21 0,44-2,34 0,36-2,93 0,36-3,70 1,58-3,56 D 0,18-0,43 0,31-0,79 0,18-0,40 0,19-0,41 0,21-0,45 E 0,02-0,27 0,03-0,19 0,02-0,24 0,02-0,34 0,01-0,37 Bila dibandingkan antara indeks biologi yang didapatkan saat ini dengan penelitian sebelumnya maka hasilnya relatif masih sama. Hasil penelitian Suherman (2005) indeks biologi di Teluk Jakarta sebagai berikut : indeks (=H) rata-rata 1,457 atau berkisar 1,341 1,581, indeks (=E) rata-rata 0,478 atau berkisar 0,438 0,518, sedangkan indeks (=D) berkisar 0,267 0,342. Secara umum bahwa perairan Teluk Jakarta memiliki keanekaragaman zooplankton yang rendah (< 2,30), keseragaman yang terjadi relatif sedang dalam arti bahwa jumlah individu setiap jenis tidak jauh berbeda. Lingkungan Perairan Perairan Teluk Jakarta adalah merupakan perairan yang subur (eutrofik) karena nutrien yang dibawa oleh beberapa sungai yang bermuara di Teluk Jakarta (Gambar 1). Indikator kesuburan atau pencemaran bahan organik (tekanan lingkungan) tersebut ditunjukkan dengan ditemukan beberapa jenis fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae di semua stasiun selama penelitian. Adapun berikut ini disajikan beberapa parameter lingkungan yang telah diukur. Suhu Air Hasil pengukuran suhu air selama penelitian berkisar antara 29.5 31,6 o C (Tabel 9). Menurut Prasstio (2010) suhu optimal untuk pertumbuhan fitoplankton secara umum berkisar antara 20-24 o C. Hampir semua jenis fitoplankton toleran terhadap suhu antara 16-36 o C (Prasstio 2010). Menurut Efendi (1979), kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 20-30 o C. Menurut Prasstio (2010) Suhu di bawah 16 o C dapat menghambat kecepatan pertumbuhan sedangkan suhu lebih 36 o C menyebabkan kematian pada jenis fitoplankton tertentu. Berdasarkan kriteria tersebut maka dapat diketahui suhu air di beberapa stasiun mendukung kehidupan fitoplankton. Nilai ph (derajat keasaman) Hasil pengukuran ph di beberapa stasiun selama penelitian berkisar antara 4,96-7,38 (Tabel 10) dengan ratarata 6,8. Rendahnya nilai ph (asam) pada bulan Agustus di TJ1 (Tanjung Pasir) diduga karena pengaruh beberapa faktor diantaranya pada bulan Agustus umumnya perairan dangkal, Tanjung Pasir adalah merupakan daerah pantai yang padat pemukiman, pantai tersebut merupakan lokasi berlabuhnya perahu nelayan. (Nastiti et al., 2009). Kondisi tersebut merupakan peluang besar bagi limbah (bahan organik) dari pemukiman masuk ke perairan diperparah dengan perairan yang dangkal akan mempermudah bahan organik di dasar perairan teraduk ke daerah permukaan dengan kekeuatan gelombang angin. Dekomposisi bahan organik akan menyebabkan perairan menjadi asam. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa di stasiun TJ1 (Tanjung Pasir) diketahui bahwa kelas Bacillariophyceae mendominasi, selanjutnya dinyatakan bahwa Bacillariophyceae merupakan indikator bahwa perairan subur atau mengalami pencemaran. Menurut Prasstio (2010) kisaran ph yang mendukung pertumbuhan fitoplankton adalah 7,5-8,5. Variasi ph dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain mengubah keseimbangan dari karbon organik mengubah ketersediaan nutrien, dan dapat mempengaruhi fisiologis sel. Kisaran ph air layak untuk pertumbuhan fitoplanton 6,5-8,5 (Boyd, 1990) bahwa kebanyakan perairan alami adalah 5-10 dengan frekwensi 6,5-9,0. Berdasarkan kriteria tersebut maka kondisi ph masih mendukung pertumbuhan plankton di Teluk Jakarta. 138

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Tabel 9. Suhu air ( o C) selama penelitian, tahun 2009. Table 9. Water temperature ( o C) during observation 2009. Bulan / Month TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 April 31,15 29,87 30,3-30,25 Juni 30,58 30,95 31,26 29,87 29,95 Agustus 29,5 30,2 30,9 31,6 29 Oktober 29,5 30,5 31 31 29,5 Tabel 10. ph selama penelitian, tahun 2009. Table 10. ph during observation 2009. Bulan / Month TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 April 7,3 7,13 7,6-6,5 Juni 7,3 7,2 7,16 7,27 7,12 Agustus 4,96 5,45 6,49 6,93 6,85 Oktober 6,96 6,45 5,49 6,93 7,1 Salinitas Hasil pengukuran salinitas pada umumnya di beberapa stasiun selama penelitian berkisar antara 12,0-31,5 o / oo, nilai salinitas yang sangat rendah di Tanjung Karawang pada bulan Juni (Tabel 11). Tanjung Karawang merupakan salah satu stasiun yang merupakan muara sungai Citarum, dengan demikian rendahnya nilai salinitas dipengaruhi oleh air tawar yang berasal dari sungai Citarum yang meluap pada bulan Juni 2009. Menurut Prasstio (2010) hampir semua jenis fitoplankton laut dapat hidup optimal pada salinitas 27-30 o / oo. Menurut Sachlan (1972) bahwa nilai salinitas di atas 20 o / oo memungkinkan fitoplankton dapat bertahan hidup, memperbanyak diri dan dapat aktif melakukan proses fotosintesis. Menurut Siregar (2002), diduga perubahan nilai salinitas akan berakibat terjadinya fluktuasi nilai kelimpahan fitoplankton. Berdasarkan kriteria tersebut maka diketahui bahwa di Teluk Jakarta hanya beberapa jenis plankton dari kelas Bacillariophyceae dan Crustaceae yang toleran terhadap kondisi salinitas yang bervariasi. Tabel 11. Salinitas air ( o / oo ) selama penelitian, tahun 2009. Table 11. Water salinity ( o / oo ) during observation, 2009 Bulan Month TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 April 30 30 28-31,5 Juni 28 28 29 28 12 Agustus 30 30 30 29 30 Oktober 30 30 30 29 30 Keterangan : - : tidak ada data (no data) KESIMPULAN 1. Teluk Jakarta memiliki karakteristik kondisi lingkungan dengan salinitas yang bervariasi (12,0-31,5 o / oo ) dan eutrofik atau perairan mengalami tekanan lingkungan. Indeks biologi plankton menunjukkan bahwa tekanan lingkungan perairan menyebabkan struktur komunitas plankton labil, keanekaragaman plankton rendah, terjadi dominasi dan keseragaman populasi plankton rendah serta penyebaran populasi plankton tidak merata di setiap lokasi. Beberapa spesies yang mampu beradaptasi adalah Chaetoceros sp dari kelas Bacillariophyceae ; Calanus sp dan Acartia sp dari kelas Crustaceae. 2. Ditemukan sebanyak 62 spesies fitoplankton yang terdiri dari kelas Cyanophyceae, Chlorophyceae, Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Euglenophyceae; dan 38 species zooplankton yang 10 kelas yang terdiri dari Crustaceae, Holothurideae, Cilliata, Sagittoidea, Sarcodina, Rotatoria, Echinodermata, Polychaeta, Urochordata dan Hydrozoa. 3. Kelimpahan fitoplankton secara spasial berkisar antara 1.587.086 3.799.799 sel/l dan secara temporal berkisar antara 922.010-3.834.261 sel/l, sedangkan kelimpahan zooplankton secara spasial berkisar antara 18.781-1.866.766 ind/l dan secara temporal berkisar antara 2.764-2.849.066 ind/l. PERSANTUNAN Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang berjudul Kesesuaian Perairan Untuk Upaya Konservasi Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta dengan sumber dana APBN Tahun Anggaran 2009 di Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Pusat Riset Perikanan Tangkap. DAFTAR PUSTAKA Ahira. A. 2011. Komponen Rantai Makanan di Laut. http:/ /www.anneahira.com/rantai makanan-di-laut- 1052.html. Diunduh pada tanggal 4 April 2011. Anonimus. 2008. Nautika Perikanan Laut.http://nplvedca.blogspot.com/2008/03/Fitoplankton.html. Diunduh tanggal 4 April 2011. Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Pond of Aquaculture. Alabama: Agriculture Experiment Station, Auburn University. Technology & Enggineering. 482 p. Davis.C.C. 1955. The Marine and Freshwater Plankton. 2 Newell, G.E & R. CNewell. Michigan States Univ. Press.Chicago xi + 562 hlm. Effendi. M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Cetakan pertama. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 112 Hal. 139

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Fachrul, M.F., H.Haeruman & L.C.Sitepu. 2005. Komunitas FitoplanktonSebagai Bio-Indikator Kualitas Perairan Teluk Jakarta. Proseding Seminar Nasional MIPA.2005. FMIPA-Universitas Indonesia Depok.November 24-26 November 2005: J2B-17-24. Gabriele, T., A. Leynaert., C Klein., A. Naegelen, and B. Beker. 2013. Phytoplankton phosphorus limitation in North Atlantic coastal ecosystem not predicted by nutrient load. J.Plankton Res. 35 (6): 1192-1206 doi: 10.1093/plankt/fbt064. Diunduh pada tanggal 19 Desember 2013. Goldman, C. R & A.J. Horne. 1983. Limnology. Mc Graw- Hill International Book Company, New York. 464 p. Hartati, S. T., Awaludin., Prihatiningsih dan K, Wagiyo. 2006. Identifikasi Kondisi Sumberdaya Lingkungan dan Kesesuaian Lahan Perikanan di Perairan Teluk Jakarta. Laporan Teknis Balai Riset Perikanan Laut. Pusat Riset Perikanan Tangkap. BRKP-DKP. 176 Hal. Krebs, C.J. 1972. Ecology the Experimental Analysis of Distribution and Abundance. New York: Harper and row Publication. 694 pp. Lestari & Edward. 2004. Dampak pencemaran Logam Berat Terhadap Kualitas air Laut dan Sumberdaya Perikanan (Studi Kasus Kematian Massal Ikan di Teluk Jakarta). [Jurnal]. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta. Indonesia. Makara, Sains. Vol.8. No.2. Hal :52-58. Mizuno, M. 1970. Illustration of the Freshwater Plankton of Japan. Hoikusha Publishing Co, Ltd. Osaka, Japan. 142p. Nastiti, A.S., I. N. N. Wiadnyana., Badrudin., B. Sumiono., S.T. Hartati., A. Nurfiarini., A. Suryandari., H. Saepulloh & A. Fitriyanto. 2009. Kesesuaian Perairan Untuk Upaya Konservasi Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta. Laporan Tahunan.Loka Riset Pemacuan Stok Ikan. Pusat Riset Perikanan Tangkap. BRKP-DKP. 113 Hal. Odum, E.P. 1998. Dasar-dasar Ekologi : Terjemahan dari Fundamentals of Ecology. Alih Bahasa Samingan, T. Edisi Ketiga. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta. 697 p. Prayitno, H.B. 2011. Kondisi Trofik Perairan Teluk Jakarta dan Potensi Terjadinya Ledakan Populasi Alga Berbahaya (HABs). Oceanologi dan Limnologi di Indonesia (2011)37(2):247-262. Prasstio,H. 2010. Biologi Laut Plankton dan Fitoplankton http://harryprasstio.blogspot.com/ 2010/10/biologi-laut-plankton-dan-fitoplankton. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2011. Prescott, G.W. 1951. Algae of the western Great Lakes area. Cranbrook Institute of Sciaence, Bulletin No.31. 946 p. Razouls, C., De Bovee, F., Kouwenberg, J. & Desreumaux,N.,2005-2011. Diversity and geographicdistribution of marine planktonic copepod. Available at: http://copepodes.obsbanyuls. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2011. Reynolds, C.S., J.G. Tundisi and K. Hino. 1984. Observation on a Metalimnetic Phytoplankton Population in a Stably Stratified Tropical Lake. Arch. Hydrobyol. Argentina. 97 : 7 17. Sachlan, M. 1972. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p. Siregar, Baris A. S. S. 2002. Studi Kelimpahan, Distribusi, dan Struktur Komunitas Fitoplankton di Perairan Teluk Jakarta. Skripsi. Perpustakaan Insitut Pertanian Bogor. 62 Hal. (tidak dipublikasi). Steeman, N & E. V. Hansen, 1959. Marine photosynthesis. Eisevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, 141 pp. Suherman, 2005. Struktur Komunitas Zooplankton Di Perairan Teluk Jakarta. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. 80 Hal (Tidak di publikasi). Yamaji, I. 1996. Illustration of Marine Plankton of Japan. 3 rd ed. Hoikusha Publishing Co.Ltd. Japan.539 p. 140

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Lampiran 1. Kelimpahan Fitoplankton di Teluk Jakarta Annex 1. Phytoplankton abundance in Jakarta Bay. a. April 2009. No Fitoplankton/ Kelimpahan fitoplankton /phytoplankton abundance Rata-rata/ Phytoplankton (cell/l): Total Average TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 A CYANOPHYCEAE 1 Oscillatoria sp. 94.395 0 229.25 2.697 40.46 366.79 73.358 2 Trichodesmium sp. 525.92 162 0 196.881 687.7 1.410.693 282.139 3 Spirullina sp. 0 0 89.001 0 0 89.001 17.8 4 Lyngbia sp. 0 0 13.485 0 0 13.485 2.697 JUMLAH 620.31 162 331.73 199.578 728.2 1.879.971 375.994 B CHLOROPHYCEAE 5 Staurastum sp. 0 0 0 0 40.46 40.455 8.091 6 Pediastrum sp. 0 0 45.849 0 0 45.849 9.17 7 Scenedesmus sp. 0 0 21.576 0 0 21.576 4.315 8 Spirogyra sp. 0 0 5.394 0 0 5.394 1.079 JUMLAH 0 0 72.819 0 40.46 113.27 22.655 C BACILLARIOPHYCEAE 9 Bacteriastrum sp. 0 0 10.788 0 13.49 24.273 4.855 10 Biddulphia sp. 0 8.091 0 0 0 8.091 1.618 11 Chaetoceros sp. 1.820.475 297 196.88 156.526 1.119.255 3.293.434 658.687 12 Coscinodiscus sp. 135 229.25 62.031 210.366 145.6 647.42 129.483 13 Eucampia sp. 0 0 5.394 0 0 5.394 1.079 14 Gomphonema sp. 13.485 8.091 5.394 0 0 26.97 5.394 15 Hemiaulus sp. 0 13.485 5.394 13.485 0 32.364 6.473 16 Melosira sp. 51.243 54 54 0 0 51.351 10.27 17 Navicula sp. 13.485 35.061 0 0 43.15 91.698 18.34 18 Nitzchia sp. 280.49 324 162 27 113.3 394.27 78.855 19 Pleurosigma sp. 202.28 0 0 0 0 202.28 40.455 20 Rhizosolenia sp. 121.37 121.37 54 48.546 741.7 1.033.005 206.601 21 Stephanopyxis sp. 0 0 0 0 13.49 13.485 2.697 22 Thalassionema sp. 75.516 12.365 337.13 102.486 35.06 562.55 112.511 23 Thalassiosira sp. 2.494.725 94.395 256.22 0 37.76 2.883.094 576.619 24 Thalassiothrix sp. 0 0 0 0 24.27 24.273 4.855 JUMLAH 5.073.192 522.77 879.49 531.436 2.287.056 9.293.949 1.858.790 D DINOPHYCEAE 25 Ceratium sp. 1.712.595 324 337.13 121.365 183.4 2.354.805 470.961 26 Dinophysis sp. 1.011.375 0 129.46 40.455 151 1.332.318 266.464 27 Noctiluca sp. 40.455 13.485 8.091 0 40.46 102.49 20.497 28 Leponcyclis sp. 0 0 0 0 0 0 0 29 Peridinium sp. 714.71 27 54 0 0 714.79 142.957 30 Protoperidinium sp. 121.37 310.16 148.34 216 121.4 701.44 140.287 31 Prorocentrum sp. 43.152 0 0 0 0 43.152 8.63 32 Pyrocystis sp. 391.07 67.425 94.395 64.728 13.49 631.1 126.22 33 Podolampas sp. 0 0 5.394 5.394 0 10.788 2.158 JUMLAH 4.034.713 391.42 722.85 232.158 509.7 5.890.869 1.178.174 E EUGLENOPHYCEAE 31 Euglena sp. 0 0 0 0 59.93 59.925 11.985 JUMLAH 0 0 0 0 59.93 59.925 11.985 TOTAL 620.31 1076.2 2006.9 963.172 1338 173.2 141

b. Juni 2009 A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 No. Fitoplankton/ Kelimpahan fitoplankton /phytoplankton abundance Ratarata/ Phytoplankton (cell/l) : Total TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 Average A CYANOPHYCEAE 1 Oscillatoria sp. 62.279 48.125 58.74 31.847 28.309 229.3 45.86 2 Trichodesmium sp. 125.973 19.816 37.509 0 38.924 222.222 44.444 3 Spirullina sp. 0 0 38.924 0 2.831 41.755 8.351 4 Lyngbia sp. 0 5.662 0 0 0 5.662 1.132 5 Mycrocystis sp. 0 0 0 0 24.77 24.77 4.954 6 Volvox sp. 0 0 0 0 0 0 0 JUMLAH 188.252 73.603 135.173 31.847 94.834 523.709 104.742 B CHLOROPHYCEAE 7 Pediastrum sp. 0 13.447 13.447 0 2.831 29.725 5.945 JUMLAH 0 13.447 13.447 0 2.831 29.725 5.945 C BACILLARIOPHYCEAE 8 Bacteriastrum sp. 5.662 0 0 2.831 7.077 15.57 3.114 9 Biddulphia sp. 0 0 0 5.662 17.693 23.355 4.671 10 Bellerochea sp. 0 0 0 9.2 0 9.2 1.84 11 Chaetoceros sp. 84.218 27.601 44.586 513.8 38.924 709.129 141.826 12 Coscinodiscus sp. 81.387 26.893 41.755 53.079 102.619 305.733 61.147 13 Climacosphenia sp. 16.277 2.123 0 0 0 18.4 3.68 14 Eucampia sp. 0 0 0 9.2 2.123 11.323 2.265 15 Gomphonema sp. 0 2.123 16.277 0 0 18.4 3.68 16 Guinardia sp. 0 0 2.123 2.123 6.369 10.615 2.123 17 Hemiaulus sp. 0 0 0 10.616 10.616 21.232 4.246 18 Melosira sp. 41.755 5.662 0 7.077 0 54.494 10.899 19 Navicula sp. 0 1.415 2.831 0 0 4.246 849 20 Nitzchia sp. 40.34 16.277 0 0 0 56.617 11.323 21 Pleurosigma sp. 55.202 5.662 0 10.616 0 71.48 14.296 22 Rhizosolenia sp. 33.97 37.509 2.123 42.463 21.231 137.296 27.459 23 Rhabdonema sp. 0 0 0 5.662 0 5.662 1.132 24 Stephanopyxis sp. 0 0 0 7.077 7.077 14.154 2.831 25 Sriatella sp. 0 0 0 9.2 0 9.2 1.84 26 Thalassionema sp. 0 7.785 0 21.231 24.77 53.786 10.757 27 Thalassiosira sp. 55.202 37.509 24.062 21.231 14.154 152.158 30.432 28 Thalassiothrix sp. 19.816 20.524 0 38.217 31.847 110.404 22.081 29 Triceratium sp. 0 0 5.662 0 3.539 9.201 1.84 JUMLAH 433.829 191.083 139.419 769.29 288.039 1.821.655 364.331 D DINOPHYCEAE 30 Ceratium sp. 116.773 98.372 97.665 31.847 21.231 365.888 73.178 31 Dinophysis sp. 0 5.662 0 7.077 12.031 24.77 4.954 32 Noctiluca sp. 4.954 0 0 0 7.785 12.739 2.548 33 Peridinium sp. 92.003 0 16.985 24.77 14.154 147.912 29.582 34 Protoperidinium sp. 43.878 72.895 47.417 99.08 84.926 348.196 69.639 35 Pyrocystis sp. 42.463 5.662 27.601 14.154 10.616 100.496 20.099 36 Podolampas sp. 7.077 0 12.031 0 0 19.108 3.822 37 Podocyrtis sp. 63.694 0 0 12.739 7.077 83.51 16.702 JUMLAH 370.842 182.591 201.699 189.67 157.82 1.102.619 220.524 TOTAL 1.363.765 656.762 704.884 1.180.466 704.175 4.610.052 142

c. Agustus 2009 No. A Fitoplankton/ Phtoplankton CYANOPHYCEAE A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Kelimpahan fitoplankton /phytoplankton abundance (cell/l) : Total Rata-rata/ TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 Average 1 Oscillatoria sp. 26.185 37.509 22.647 39.632 0 125.973 25.195 2 Trichodesmium sp. 0 2.123 0 0 0 2.123 425 3 Micromonas sp. 53.786 69.356 22.647 39.632 0 185.421 37.084 JUMLAH 79.971 108.988 45.294 79.264 0 313.517 62.703 B BACILLARIOPHYCEAE 4 Amphipora sp. 0 2.831 3.539 0 0 6.37 1.274 5 Achnantes sp. 0 0 8.493 0 0 8.493 1.699 6 Bacteriastrum sp. 0 3.539 0 0 0 3.539 708 7 Bellerochea sp. 0 0 0 23.355 16.985 40.34 8.068 8 Biddulphia sp. 1.271.054 1.626.327 1.475.584 324.133 242.746 4.939.844 987.969 9 Chaetoceros sp. 6.369 0 7.785 14.862 64.402 93.418 18.684 10 Coscinodiscus sp. 0 7.077 0 0 0 7.077 1.415 11 Coconeis sp. 0 0 2.831 0 0 2.831 566 12 Cerataulina sp. 0 0 1.415 0 0 1.415 283 13 Diatoma sp. 2.123 0 0 3.539 0 5.662 1.132 14 Detonula sp. 0 76.433 12.031 184.006 14.862 287.332 57.466 15 Gomphonema sp. 5.662 0 0 133.758 13.447 152.867 30.573 16 Guinardia sp. 0 4.954 0 0 0 4.954 991 17 Gyrosigma sp. 0 0 4.954 20.524 31.847 57.325 11.465 18 Hemiaulus sp 3.539 0 0 0 0 3.539 708 19 Leptocylindrus sp. 0 5.662 21.231 8.493 17.693 53.079 10.616 20 Melosira sp. 0 0 3.539 21.939 0 25.478 5.096 21 Navicula sp. 9.2 0 6.369 0 11.323 26.892 5.378 22 Nitzchia sp. 5.662 10.616 10.616 16.985 22.647 66.526 13.305 23 Pleurosigma sp. 19.816 43.171 26.893 28.309 27.601 145.79 29.158 24 Rhizosolenia sp. 0 0 2.123 0 0 2.123 425 25 Stephanopyxis sp. 3.539 0 2.123 0 0 5.662 1.132 26 Sriatella sp. 0 2.831 0 0 0 2.831 566 27 Surirella sp. 0 0 0 622.081 12.739 634.82 126.964 28 Thalassionema sp. 12.739 0 0 22.647 26.893 62.279 12.456 29 Thalassiosira sp. 0 0 0 399.151 120.311 519.462 103.892 30 Thalassiothrix sp. 4.246 0 0 4.246 8.492 1.698 31 Triceratium sp. 3.539 0 0 0 0 3.539 708 32 Skeletonema sp. 1.415 0 0 0 0 1.415 283 33 Lauderia sp. 0 3.539 0 0 0 3.539 708 34 Licmophora sp. 0 0 2.831 0 0 2.831 566 35 Hyalodiscus sp. 1.348.903 1.790.517 1.592.357 1.828.025 623.496 7.183.298 1.436.660 JUMLAH 2.697.806 3.577.497 3.184.714 3.656.053 1.246.992 14.363.062 2.872.612 C DINOPHYCEAE 43 Amfnisolenia sp. 47.417 26.893 129.512 21.231 18.401 243.454 48.691 44 Ceratium sp. 0 2.123 0 0 2.831 4.954 991 45 Dinophysis sp. 0 708 0 0 0 708 142 46 Dictyocha sp. 4.954 2.831 0 0 0 7.785 1.557 47 Distephanus sp. 0 2.123 0 0 0 2.123 425 48 Gymnodium sp. 4.246 0 4.246 9.2 13.447 31.139 6.228 49 Noctiluca sp. 7.785 0 39.632 57.325 17.693 122.435 24.487 50 Peridinium sp. 71.479 16.277 32.555 19.108 78.556 217.975 43.595 51 Protoperidinium sp. 0 6.369 0 0 0 6.369 1.274 52 Prorocentrum sp. 14.154 4.246 4.246 0 10.616 33.262 6.652 53 Pyrocystis sp. 6.369 2.123 6.369 0 14.861 2.972 54 Podolampas sp. 3.539 0 0 0 7.077 10.616 2.123 55 Podocyrtis sp. 159.943 67.233 216.561 106.865 148.62 699.222 139.844 JUMLAH 319.886 130.926 433.121 213.729 297.241 1.394.903 278.981 TOTAL 3.097.663 3.817.411 3.663.129 3.949.046 1.544.233 16.071.482 3.214.296 143

d. Oktober 2009 A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 No Fitoplankton/ Phtoplankton Kelimpahan fitoplankton /phytoplankton abundance (sel/l) pada stasiun: Total Ratarata/ TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 Average A CYANOPHYCEAE 1 Oscillatoria sp. 19.816 12.739 28.309 6.369 21.939 89.172 17.834 2 Trichodesmium 19.816 37.509 47.417 6.369 65.817 176.928 35.386 sp. JUMLAH 39.632 50.248 75.726 12.738 87.756 266.1 53.22 B BACILLARIOPHYCEAE 3 Bacteriastrum sp. 0 0 0 0 82.095 82.095 16.419 4 Bacillaria sp. 708 0 0 3.539 0 4.247 849 5 Biddulphia sp. 14.154 0 10.616 0 0 24.77 4.954 6 Chaetoceros sp. 2.123 11.323 29.016 8.493 27.601 78.556 15.711 9 Detonula sp. 14.862 0 22.647 0 24.77 62.279 12.456 10 Eucampia sp. 0 0 7.077 0 0 7.077 1.415 11 Fragillaria sp. 0 0 0 1.415 0 1.415 283 12 Gomphonema sp. 0 0 0 6.369 5.662 12.031 2.406 13 Guinardia sp. 0 0 9.2 0 0 9.2 1.84 14 Gyrosigma sp. 14.154 0 9.2 4.246 14.154 41.754 8.351 15 Hemiaulus sp. 3.539 0 0 0 0 3.539 708 16 Leptocylindrus sp. 0 9.908 72.895 10.616 18.401 111.82 22.364 17 Melosira sp. 708 2.123 10.616 0 0 13.447 2.689 18 Navicula sp. 0 0 7.785 2.831 26.893 37.509 7.502 19 Nitzchia sp. 0 0 0 4.954 9.2 14.154 2.831 20 Planktoniella sp. 27.601 123.85 90.587 2.831 6.369 251.238 50.248 21 Pleurosigma sp. 27.601 16.985 11.323 6.369 93.418 155.696 31.139 22 Rhizosolenia sp. 2.831 0 5.662 0 0 8.493 1.699 23 Stephanopyxis sp. 3.539 16.985 29.724 0 0 50.248 10.05 24 Thalassiosira sp. 4.954 6.369 29.016 6.369 0 46.708 9.342 25 Thalassiothrix sp. 0 0 0 0 10.616 10.616 2.123 26 Triceratium sp. 116.773 187.544 354.57 58.033 319.18 1.036.094 207.219 JUMLAH 233.547 375.087 699.93 116.065 638.36 2.062.986 412.597 C DINOPHYCEAE 27 Ceratium sp. 0 0 0 16.985 21.231 38.216 7.643 28 Dinophysis sp. 0 5.662 0 4.954 6.369 16.985 3.397 29 Noctiluca sp. 5.662 19.816 0 19.108 58.033 102.619 20.524 30 Peridinium sp. 43.878 203.114 605.1 97.665 227.88 1.177.637 235.527 31 Protoperidinium 5.662 31.847 6.369 6.369 29.724 79.971 15.994 33 Podolampas sp. 0 0 0 7.077 7.077 1.415 34 Podocyrtis sp. 60.863 273.885 706.3 227.884 813.16 2.082.094 416.419 JUMLAH 116.065 534.324 1.317.764 380.042 1.156.404 3.504.599 700.92 TOTAL 389.244 959.659 2.093.419 508.845 1.882.518 5.833.685 144

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Lampiran 2. Kelimpahan Zooplankton di Teluk Jakarta. Annex 2. Zooplankton abundance in Jakarta Bay. a. April 2009. No. ZOOPLANKTON Kelimpahan zooplankton/zooplankton abundance (ind/l) pada stasiun : Total Ratarata TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 /Average A CRUSTACEAE 1 Acartia sp. 323.6 52.734 100.67 1.737.825 170.2 2.385.015 477.003 2 Calanus sp. 0 0 0 11.985 0 11.985 2.397 3 Candacia sp. 299.73 7.191 26.367 299.625 659.2 1.292.083 258.417 4 Oithona sp. 11.985 0 2.397 93.483 11.99 119.85 23.97 5 Euphausia sp. 0 0 4.594 0 0 4.594 919 6 Evadne sp. 0 0 0 14.382 0 14.382 2.876 7 Microsetella sp. 0 0 0 11.985 0 11.985 2.397 8 Nematoscelis sp. 0 0 4.794 0 7.192 11.986 2.397 9 Parvocalanus sp. 0 0 4.794 0 0 4.794 959 10 Penilia sp. 0 0 2.397 0 0 2.397 479 11 Pseudocalanus sp. 0 0 0 11.985 0 11.985 2.397 12 Rhabdosoma sp. 0 0 0 14.382 0 14.382 2.876 13 Siriella sp. 0 0 19.176 0 0 19.176 3.835 14 Squilla sp. 83.905 72 217.93 4.374.525 3.511.615 8.188.044 1.637.609 JUMLAH 719.21 59.997 383.12 6.570.177 4.360.154 12.092.658 2.418.532 B HOLOTHURDEAE 15 Balanus sp. 0 0 2.397 0 0 2.397 479 16 Echinopluteus sp. 11.985 0 0 0 0 11.985 2.397 17 Ophiopluteus sp. 11.985 0 16.779 0 26.37 55.131 11.026 JUMLAH 23.97 0 19.176 0 26.37 69.513 13.903 C CILLIATA 18 Tintinopsis sp. 0 0 0 9.588 0 9.588 1.918 19 Cytarocy sp. 0 0 0 0 0 0 0 20 Parafavella sp. 0 0 21.573 9.588 59.93 91.086 18.217 21 Favella sp. 35.955 0 0 0 0 35.955 7.191 22 Xystonella sp. 35.955 0 24 19.176 59.93 115.08 23.016 JUMLAH 71.91 0 21.597 38.352 119.9 251.71 50.342 D SAGITTOIDEA 23 Pterosagitta sp. 83.895 0 2.397 83.895 203.7 373.93 74.786 24 Sagita sp. 83.895 0 14.382 9.588 203.7 311.61 62.322 JUMLAH 167.79 0 16.779 93.483 407.5 685.54 137.108 E UROCOHORDATA 0 0 27 Oikopleura sp. 0 0 4.794 0 203.7 208.54 41.708 JUMLAH 0 0 4.794 0 203.7 208.54 41.708 F POLYCHAETA 28 Sagitella sp. 0 0 0 4.794 0 4.794 959 JUMLAH 0 0 0 4.794 0 4.794 959 G ROTATORIA 25 Brachionus sp. 0 0 11.985 0 9.588 21.573 4.315 29 Keratella sp. 35.955 0 0 35.955 0 71.91 14.382 30 Trichocerca sp. 7.191 0 2.397 683.145 9.598 702.33 140.466 JUMLAH 43.146 0 14.382 719.1 19.186 795.813 159.163 H ECHINODERMATA 31 Veliger sp. 0 0 0 35.955 40.96 76.91 15.382 JUMLAH 0 0 0 35.955 40.96 76.91 15.382 TOTAL 1026 59.997 459.85 891.684 817.6 2092.8 145

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 b. Juni 2009 No. ZOOPLANKTON Kelimpahan zooplankton/zooplankton abundance (ind/l) : TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 Total Rata-rata /Average A CRUSTACEAE 1 Acartia sp. 140 0 349 227 140 856 171 2 Calanus sp. 1.118 2.079 2.796 1.206 489 7.688 1.538 3 Evadne sp. 0 0 52 70 70 192 38 4 Oithona sp. 0 245 577 52 140 1.014 203 5 Eurytemora sp. 349 839 926 140 0 2.254 451 JUMLAH 1.607 3.163 4.7 1.695 839 12.004 2.401 B HOLOTHURDEAE 6 Balanus sp. 0 52 0 122 0 174 35 JUMLAH 0 52 0 122 0 174 35 C CILLIATA 7 Tintinopsis sp. 0 70 0 140 122 332 66 8 Favella sp. 175 0 0 0 70 245 49 9 Xystonella sp. 0 0 0 0 0 0 0 JUMLAH 175 70 0 140 192 577 115 D SARCODINA 10 Globigerina sp. 0 52 0 0 0 52 10 JUMLAH 0 52 0 0 0 52 10 E SAGITTOIDEA 11 Pterosagita sp. 70 35 419 140 0 664 133 JUMLAH 70 35 419 140 0 664 133 F ROTATORIA 12 Brachionus sp. 0 35 0 0 0 35 7 13 Notholca sp. 0 0 0 0 52 52 10 14 Trichocerca sp. 0 0 0 52 52 104 21 JUMLAH 0 35 0 52 104 191 38 G ECHINODERMATA 15 Veliger sp. 0 0 0 0 157 157 31 JUMLAH 0 0 0 0 157 157 31 TOTAL JUMLAH ZOOPLANKTON 1.852 3.407 5.119 2.149 1.29 2 13.819 146

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 c. Agustus 2009 No. ZOOPLANKTON Kelimpahan zooplankton/zooplankton abundance (ind/l) pada stasiun : Total Ratarata TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 /Average A CRUSTACEAE 1 Acartia sp. 507 315 1.206 52 105 2.185 437 2 Calanus sp. 1.415 3.163 839 472 0 5.889 1.178 3 Corycaeus sp. 0 0 0 262 0 262 52 4 Evadne sp. 140 157 157 0 17 471 94 5 Euphausia sp. 210 0 0 0 0 210 42 6 Oithona sp. 105 157 437 70 0 769 154 7 Eurytemora sp. 349 105 384 122 140 1.1 220 8 Penilia sp. 0 0 0 0 17 17 3 9 Podon sp. 17 35 227 0 0 279 56 JUMLAH 2.743 3.932 3.25 978 279 11.182 2.236 B CILLIATA 10 Tintinopsis sp. 262 192 489 227 87 1.257 251 11 Favella sp. 0 140 0 70 52 262 52 12 Parafavella sp. 262 0 87 0 0 349 70 13 Xystonella sp. 0 0 0 0 17 17 3 JUMLAH 524 332 576 297 156 1.885 377 C SARCODINA 14 Acantrometron sp. 105 0 0 0 0 105 21 15 Collozum sp. 0 0 0 52 0 52 10 16 Globigerina sp. 0 0 0 0 52 52 10 JUMLAH 105 0 0 52 52 209 42 D POLYCHAETA 17 Sagitella sp. 192 0 0 0 0 192 38 JUMLAH 192 0 0 0 0 192 38 E SAGITTOIDEA 18 Pterosagita sp. 105 0 70 35 0 210 42 19 Sagita sp. 0 0 0 0 35 35 7 JUMLAH 105 0 70 35 35 245 49 F ROTATORIA 20 Brachionus sp. 0 664 0 0 0 664 133 22 Notholca sp. 0 0 0 349 192 541 108 23 Keratella sp. 174 35 0 0 0 209 41 24 Trichocerca sp. 0 157 87 105 0 349 70 JUMLAH 174 856 87 454 192 1763 94 G ECHINODERMATA 25 Veliger sp. 0 122 0 0 52 174 35 JUMLAH 0 122 0 0 52 174 35 TOTAL 3.843 5.242 3.983 1.816 766 15.65 147

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 d. Oktober 2009 No. ZOOPLANKTON Kelimpahan zooplankton/zooplankton abundance (ind/l) pada stasiun : Total Ratarata TJ1 TJ2 TJ3 TJ4 TJ5 /Average A CRUSTACEAE 1 Acartia sp. 140 367 70 17 0 594 119 2 Calanus sp. 1.433 2.656 1.643 507 122 6.361 1.272 3 Evadne sp. 0 122 105 0 0 227 45 4 Oithona sp. 0 0 0 70 0 70 14 5 Eurytemora sp. 979 2.481 437 87 122 4.106 821 JUMLAH 2.552 5.626 2.255 681 244 11.358 2.272 B CILLIATA 6 Tintinopsis sp. 0 0 0 35 105 140 28 JUMLAH 0 0 0 35 105 140 28 C SAGITTOIDEA 7 Pterosagita sp. 175 192 0 192 0 559 112 JUMLAH 175 192 0 192 0 559 112 D ROTATORIA 8 Brachionus sp. 0 0 52 35 0 87 17 9 Keratella sp. 0 0 0 0 0 0 0 10 Notholca sp. 87 315 105 0 0 507 101 11 Trichocerca sp. 52 52 70 70 0 244 49 JUMLAH 139 367 227 105 0 838 167 E ECHINODERMATA 12 Veliger sp. 17 52 52 17 0 138 28 JUMLAH 17 52 52 17 0 138 28 F HYDROZOA 13 Obelia sp. 70 35 52 0 0 157 31 JUMLAH 70 35 52 0 0 157 31 JUMLAH 3.215 6.551 2.69 1.239 349 14.044 148

Lampiran 3. Frekwensi Jumlah Spesies Fitoplankton di Teluk Jakarta, Tahun 2009. Annex 3. Frequency The Number Of Phytoplankton Species In The Bay of Jakarta, In 2009. Planktoniella sp. 1 1 Pleurosigma sp. 1 Pleurosigma sp. 1 Pleurosigma sp. 1 Pleurosigma sp. 1 1 Rhizosolenia sp. 1 Rhizosolenia sp. 1 Rhizosolenia sp. 1 Rhizosolenia sp. 1 1 Rhabdonema sp. 1 Stephanopyxis sp. 1 1 Stephanopyxis sp. 1 Stephanopyxis sp. 1 Stephanopyxis sp. 1 1 Sriatella sp. 1 Sriatella sp. 1 1 Surirella sp. 1 1 Skeletonema sp. 1 1 Thalassionema sp. 1 Thalassionema sp. 1 Thalassionema sp. 1 1 Thalassiosira sp. 1 Thalassiosira sp. 1 Thalassiosira sp. 1 Thalassiosira sp. 1 1 Thalassiothrix sp. 1 Thalassiothrix sp. 1 Thalassiothrix sp. 1 1 Triceratium sp. 1 Triceratium sp. 1 Triceratium sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 22 3 22 37 5 2 DINOPHYCEAE Ceratium sp. 1 Ceratium sp. 1 Amfnisolenia sp. 1 Ceratium sp. 1 1 Ceratium sp. 1 1 Dinophysis sp. 1 Dinophysis sp. 1 1 Dinophysis sp. 1 Dinophysis sp. 1 Dictyocha sp. 1 1 Distephanus sp. 1 1 Gymnodium sp. 1 1 Noctiluca sp. 1 Noctiluca sp. 1 Noctiluca sp. 1 Noctiluca sp. 1 1 Leponcyclis sp. 1 1 Peridinium sp. 1 Peridinium sp. 1 Peridinium sp. 1 Peridinium sp. 1 1 Protoperidinium sp. 1 Protoperidinium sp. 1 Protoperidinium sp. 1 Protoperidinium sp. 1 1 Prorocentrum sp. 1 Prorocentrum sp. 1 1 Pyrocystis sp. 1 Pyrocystis sp. 1 Pyrocystis sp. 1 1 Podolampas sp. 1 Podolampas sp. 1 Podolampas sp. 1 Podolampas sp. 1 1 Podocyrtis sp. 1 Podocyrtis sp. 1 Podocyrtis sp. 1 1 Sub Total Spesies 9 8 1 7 14 3 EUGLENOPHYCEAE Euglena sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 1 Total Spesies 3 3 A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Kelas April Juni Agustus Oktober Frekwensi Jumlah spesies CYANOPHYCEAE Oscillatoria sp. 1 Oscillatoria sp. 1 Oscillatoria sp. 1 Oscillatoria sp. 1 1 Trichodesmium sp. 1 Trichodesmium sp. 1 Trichodesmium sp. 1 Trichodesmium sp. 1 1 Spirullina sp. 1 Spirullina sp. 1 1 Lyngbia sp. 1 Lyngbia sp. 1 1 Micromonas sp. 1 1 Mycrocystis sp. 1 1 Sub Total Spesies 4 5 3 2 6 CHLOROPHYCEAE Staurastum sp. 1 1 Pediastrum sp. 1 Pediastrum sp 1 1 Scenedesmus sp. 1 1 Spirogyra sp. 1 1 Sub Total Spesies 4 1 4 BACILLARIOPHYCEAE Amphipora sp. 1 1 Achnantes sp. 1 1 Bacteriastrum sp. 1 Bacteriastrum sp. 1 Bacteriastrum sp. 1 Bacteriastrum sp. 1 1 Bellerochea sp. 1 Bellerochea sp. 1 1 Biddulphia sp. 1 Biddulphia sp. 1 Biddulphia sp. 1 Biddulphia sp. 1 1 Bacillaria sp. 1 1 Chaetoceros sp. 1 Chaetoceros sp. 1 Chaetoceros sp. 1 Chaetoceros sp. 1 1 Coscinodiscus sp. 1 Coscinodiscus sp. 1 Coscinodiscus sp. 1 1 Climacosphenia sp. 1 Coconeis sp. 1 1 Cerataulina sp. 1 1 Diatoma sp. 1 1 Detonula sp. 1 Detonula sp. 1 1 Eucampia sp. 1 Eucampia sp. 1 Eucampia sp. 1 1 Fragillaria sp. 1 1 Gomphonema sp. 1 Gomphonema sp. 1 Gomphonema sp. 1 Gomphonema sp. 1 1 Guinardia sp. 1 Guinardia sp. 1 Guinardia sp. 1 1 Hemiaulus sp. 1 Gyrosigma sp. 1 Gyrosigma sp. 1 1 Hemiaulus sp. 1 Hemiaulus sp. 1 Hemiaulus sp. 1 1 Hyalodiscus sp. 1 1 Lauderia sp. 1 1 Licmophora sp. 1 1 Leptocylindrus sp. 1 Leptocylindrus sp. 1 1 Melosira sp. 1 Melosira sp. 1 Melosira sp. 1 Melosira sp. 1 1 Navicula sp. 1 Navicula sp. 1 Navicula sp. 1 Navicula sp. 1 1 Nitzchia sp. 1 Nitzchia sp. 1 Nitzchia sp. 1 Nitzchia sp. 1 1 36 4 8 31 62 149

A.S. Nastiti dan S.T. Hartati / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 131-150 Lampiran 4. Frekwensi Jumlah Spesies Zooplankton yang Ditemukan Selama Penelitian di Teluk Jakarta, Tahun 2009 Annex 4. Frequency The Number Of Phytoplankton Species In The Bay of Jakarta, In 2009. Kelas April Juni Agustus Oktober Frekwensi Jumlah spesies CRUSTACEAE Acartia sp. 1 Acartia sp. 1 Acartia sp. 1 Acartia sp. 1 1 Calanus sp. 1 Calanus sp. 1 Calanus sp. 1 Calanus sp.. 1 1 Candacia sp. 1 Corycaeus sp. 1 1 Evadne sp. 1 Evadne sp. 1 Evadne sp. 1 Evadne sp. 1 1 Euphausia sp. 1 Euphausia sp. 1 1 Microsetella sp. 1 1 Nematoscelis sp. 1 1 Eurytemora sp. 1 Eurytemora sp. 1 Eurytemora sp. 1 1 Oithona sp. 1 Oithona sp. 1 Oithona sp. 1 Oithona sp. 1 1 Parvocalanus sp. 1 1 Penilia sp. 1 Penilia sp. 1 1 Podon sp. 1 1 Pseudocalanus sp. 1 1 Rhabdosoma sp. 1 1 Siriella sp. 1 1 Squilla sp. 1 1 Sub Total Spesies 14 5 9 5 16 HOLOTHUROIDEAE Balanus sp. 1 Balanus sp... 1 1 Echinopluteus sp. 1 1 Ophiopluteus sp. 1 1 Sub Total Spesies 3 1 3 CILLIATA Tintinopsis sp. 1 Tintinopsis sp.. 1 Tintinopsis sp. 1 Tintinopsis sp. 1 1 Cytarocy sp. 1 Favella sp. 1 Favella sp. 1 1 Parafavella sp 1 Xystonella sp. 1 Parafavella sp. 1 1 Favella sp. 1 Xystonella sp. 1 1 Xystonella sp. 1 1 Sub Total jenis 5 3 4 5 SAGITTOIDEA Pterosagitta sp. 1 Pterosagitta sp. 1 Pterosagita sp. 1 Pterosagita sp. 1 1 Sagita sp. 1 Sagita sp. 1 1 Sub Total Spesies 2 1 2 1 2 SARCODINA Pterosagita sp... 1 Acantrometron sp. 1 1 Collozum sp. 1 1 Globigerina sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 3 3 ROTATORIA Brachionus sp. 1 Brachionus sp. 1 Brachionus sp. 1 Brachionus sp. 1 1 Notholca sp. 1 Keratella sp. 1 Keratella sp. 1 1 Notholca sp. 1 Keratella sp. 1 Keratella sp. 1 1 Notholca sp. 1 Notholca sp. 1 1 Trichocerca sp. 1 Trichocerca sp. 1 Trichocerca sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 3 4 4 4 ECHINODERMATA Veliger sp. 1 Veliger sp. 1 Veliger sp. 1 Veliger sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 1 1 1 1 POLYCHAETA Sagitella sp. 1 Sagitella sp. 1 1 1 Sub Total Spesies 1 1 1 1 UROCOHORDATA Oikopleura sp. 1 1 1 Sub Total Spesies 1 1 1 HYDROZOA Obelia sp. 1 1 Sub Total Spesies 1 1 Total Spesies 28 16 24 14 38 150

KEBIASAAN MAKAN DAN LUAS RELUNG BEBERAPA JENIS IKAN DI WADUK DJUANDA, JAWA BARAT ABSTRAK FOOD HABIT AND NICHE BREADTH OF SOME FISH SPECIES AT DJUANDA RESERVOIR, WEST JAVA Sri Endah Purnamaningtyas, dan Didik Wahju Hendro Tjahjo Balai Penelitian dan Pemulihan Sumberdaya Ikan Teregistrasi I tanggal: 08 Juni 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 15 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 04 Desember 2013 Email : endah_purnamaningtyas@yahoo.co.id Ikan seperti hewan lainnya membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kebiasaan makan, dan luas relung beberapa jenis ikan di perairan Waduk Djuanda. Penelitian ini dilakukan selama Januari hingga Desember 2010, dengan menggunakan alat tangkap gill-net percobaan yang dipasang di 6 (enam) stasiun. Analisis kebiasaan makan menggunakan Indeks of Preponderance. Tingkat trofik dan luas relung jenis ikan dievaluasi berdasarkan makanan atau ruang yang dimanfaatkan oleh ikan. Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan di Waduk Djuanda dibagi dalam 4 kelompok yaitu: (1) Ikan herbivora terdiri dari ikan kepiet (Thynnichtys thynnoides) dengan tingkat tropik 2,34 dan luas relung 4,04, nila (Oreochromis niloticus) dengan tingkat tropik 2,12 dan luas relung 2,82, patin (Pangasiondon hypopthalmus) dengan tingkat tropik 2,26 dengan luas relung 2,06, beunteur (Puntius binotatus) dengan tingkat tropik 2,05 dan luas relung 2,54; (2) Ikan omnivora terdiri dari: bandeng Channos channos) dengan tingkat tropik 2,49 dan luas relung 2,89, lalawak (Barbonymus ballaroides) dengan tingkat tropik 2,32 dengan luas relung 3,17 (3) ikan karnivora terdiri dari: oskar (Amphilophus citrinellus) dengan tingkat tropik 3,05 dan luas relung 2,59, kebogerang (Mystus nigriceps) dengan tingkat tropik 3,01 dan luas relung 2,57 (4) ikan predator terdiri dari: golsom (Amphilophus alfari) dengan tingkat tropik 3,69 dan luas relung 1,47, betutu (Oxyeleotris marmorata) dengan tingkat tropik 3,92 dan luas relung 3,08, hampal (Hampala macralepidota) dengan tingkat tropik 4 dan luas relung 1. KATA KUNCI : Kebiasaan makan, luas relung, beberapa Jenis Ikan, Waduk Djuanda ABSTRACT Fish is similar with other animals, it is need a feeding for their of life and growth. The purpose of this study was to assess feeding habits and broad niches several species of fish in the waters Juanda Reservoir. This study was conducted during January to December 2010, using the trial as a gill-net fishing gear mounted on the 6 (six) stations. Feeding habits analysis used of the index of preponderance. Trophic levels and broad niches are evaluated based on the type of fish meal or space utilized by fish. Based on fish eating habits, Juanda Reservoir fish were divided into 4 groups: (1). Herbivorous fish, which consists of kepiet (Thynnichtys thynnoides) with trophic level 2,34 and niche breadth 4,04, nila (Oreochromis niloticus) with trophic level of 2,12 and niche breadth of 2,82, patin (Pangasiondon hypopthalmus) with trophic level 2,26 and niche breadth 2,06, beunteur (Puntius binotatus) with trophic level 2,05 and niche breadth 2,54 group (2). Omnivorous fish consisting of bandeng Channos channos) with trophic level 2,49 and niche breadth 2,89, lalawak (Barbonymus ballaroides) with trophic level 2,32 and niche breadth 3,17 group (3). Carnivorous fish consisting oskar (Amphilophus citrinellus) with trophic level 3,05 and niche breadth 2,59, kebogerang (Mystus nigriceps) with trophic level 3,01 and niche breadth 2,57 and group (4). Predatory fish consists of golsom (Amphilophus alfari) with trophic level 3,69 dan luas relung 1,47, betutu (Oxyeleotris marmorata) with trophic level 3,92 dan luas relung 3,08, hampal (Hampala macralepidota) with trophic level 4 and niche breadth 1. KEYWORD : Food habit, niche breadth, some fish, Djuanda reservoir. PENDAHULUAN Jenis ikan yang hidup di waduk Djuanda terdiri dari ikan asli dan juga ikan hasil tebaran baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Menurut Kartamihardja, (1991) beberapa jenis ikan asli Waduk Djuanda tercatat sebanyak 25 jenis dan semua berasal Sungai Citarum dan BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 Korespondensi penulis: Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Jatiluhur Jl. Cilalawi No. 1 Jatiluhur, Purwakarta - Jawa Barat anak sungainya, jenis ikan tersebut antara lain: lalawak (Barbonymus ballaroides), kebogerang (Mystus nigriceps), beunteur (Puntius binotatus), betutu (Oxyeleotris marmorata), dan hampal (Hampala macrolepidota), jenis ikan hasil tebaran yang secara sengaja atau tidak sengaja didapatkan seperti ikan: kepiet (Thynnichthys thynnoides), sapu-sapu (Hypostomus 151

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 plecostomus), nila (Oreochromis niloticus), mas (Cyprinus carpio), patin (Pangasiondon hypopthalmus), kaca (Parambasis siamensis), bandeng (Chanos chanos), oskar (Amphilophus citrinellus), dan golsom (Amphilophus alfari). Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa kekurangan makan merupakan faktor pembatas bagi perkembangan populasi ikan, sehingga analisis kebiasaan makan ikan perlu diketahui. Luas relung makanan menggambarkan jumlah sumberdaya makanan yang ada dan dimanfaatkan oleh suatu jenis organisme. Luas relung makanan mencerminkan adanya selektifitas dari sekelompok ukuran ikan sampai spesies maupun antar individu dalam satu spesies yang sama terhadap sumberdaya makanan tertentu (Pianka, 1981). Dalam kaitan pengelolaan sumberdaya ikan maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kebiasaan makan, dan luas relung makanan beberapa jenis ikan di Waduk Djuanda. Berdasarkan hasil analisis tersebut diharapkan dapat diprediksi jenis-jenis ikan yang mempunyai peluang tumbuh dan berkembang di Waduk Djuanda. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Pengumpulan Data Penelitian dilakukan di perairan Waduk Ir. H. Djuanda. Pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan metode pengambilan contoh secara stratifikasi (stratified sampling method) (Nielsen & Johnson, 1985). Perairan Waduk Djuanda dipilih 6 stasiun pengamatan, yang masing-masing mewakili alur Sungai Cilalawi yaitu: stasiun I (Cilalawi), stasiun II (KJA), stasiun III (DAM) mewakili Genangan Utama, dan alur Sungai Citarum, yaitu: stasiun IV (Kerenceng), stasiun V (Jamaras), dan stasiun VI (Bojong) (Gambar 1). Penelitian dilakukan pada bulan April, Juni, Agustus, dan Oktober 2010. Sampling ikan digunakan alat tangkap jaring insang (gill-net) dengan ukuran mata jaring 1; 1,5, 2; 2,5; 3; 3,5 dan 4 inchi, yang dioperasikan pada pukul 5 sore dan diangkat pukul 6 pagi. Contoh ikan masing-masing diukur panjang dan beratnya, diambil isi perutnya kemudian diawetkan dengan formalin 5%. Kemudian isi perutnya diamati menggunakan mikroskop di laboratorium Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Jatiluhur. Analisis Data Jenis makanan ikan diamati dengan melihat isi perut ikan terutama untuk lambung (untuk ikan karnivora) dan usus (ikan herbivora dan omnivora), kemudian sampel makanan diamati dengan menggunakan mikroskop. Gambar 1. Figure 1. Metode yang digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan ikan kombinasi antara analisis kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan indeks bagian terbesar (Index of Preponderance) dari Natarajan & Jhingran dalam Effendi (1979) yang merupakan gabungan dari metode frekuensi kejadian (kualitatif) dan metode volumetrik (kuantitatif) dengan rumus sebagai berikut : I i Oi Vi O V i i dimana I i = indeks preponderan kelompok pakan ke-i, O i = persentase kejadian pakan ke-i dan V i = persentase volome pakan ke-i. Estimasi tingkat trofik jenis ikan dihitung dengan menggunakan cara yang dikemukakan oleh Mearns et al. (Caddy & Sharp, 1986), dengan rumus sebagai berikut: T 1 t Peta Waduk Djuanda dan stasiun pengamatan. Stasiun I: Cilalawi, II: KJA, III: DAM, IV: Kerenceng, V: Jamaras, dan VI: Bojong Map of Djuanda Reservoir and observation station. Station I: Cilalawi, II: KJA, III: DAM, IV: Kerenceng, V: Jamaras, dan VI: Bojong Ttp I 100 p dimana T t = tingkat trofik, T tp = tingkat trofik kelompok pakan ke-p dan I p = indeks preponderan kelompok pakan ke-p. Dalam penelitian ini juga digunakan analisa kuantitatif dan metoda yang digunakan : Niche breadth Culver yang 152

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 berdasarkan index Shannon-Wiener (Cox, 1976), dan metoda tersebut tepat untuk contoh yang sedikit (Hutcherson dalam Ranta dan Lundberg, 1981). Bentuk rumusnya adalah: Bi Nij Niji Log Log 2 R 2 Nij Nij dimana, Bi = luas relung jenis ikan ke-i; Nij = nilai pakan ke-j untuk jenis ikan ke-i dan R = jumlah jenis pakan yang tersedia. HASIL DAN BAHASAN HASIL Beberapa jenis ikan yang tertangkap selama penelitian adalah golsom (Amphilophus alfari), hampal (Hampala macrolepidota), kebogerang (Mystus nigriceps), beunteur (Puntius binotatus), oskar (Amphilophus citrinellus), betutu (Oxyeleotris marmorata), kepiet (Thynnichthys thynnoides), nila (Oreochromis niloticus), patin (Pangasiondon hypopthalmus), bandeng (Chanos chanos) dan lalawak (Barbonymus ballaroides). Analisis kebiasaan makan ikan di Waduk Djuanda, terhadap beberapa jenis ikan dan hasil pengamatan disajikan pada Tabel 1. Kebogerang (Mystus nigriceps), jumlah yang teramati 15 ekor, dimana 9 ekor lambungnya berisi makanan dan lainnya kosong. Kebogerang yang diamati mempunyai kisaran ukuran panjang total 15,9 24,6 cm dan mempunyai makanan utama berupa serangga, dengan makanan pelengkap berupa detritus, fitoplankton dan zooplankton, serta makanan tambahannya adalah tumbuhan. Mempunyai tingkat tropik 3,01 dengan luas relung 1,4 sehingga ikan ini termasuk dalam kelompok ikan omnivora (Gambar 2). Tabel 1. Kebiasaan makanan beberapa jenis ikandi Waduk Ir. H. Djuanda Table 1. Food habit of several fish species in Ir. H. Djuanda Reservoir Jenis Ikan Jenis Ikan Kelompok Makanan Tingkat Jumlah Ukuran Nama lokal Nama Latin Fitoplank.Zooplank. Tumbuh. Insecta Moluska Cacing Ikan Udang Pelet Detritus Trofik Patin Pangasionodon hypopthalmus 65,36 21,74 2,62 0,03 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,25 2,26 15 14,5 72 Nila Oreochromis niloticus 53,82 4,87 21,70 0,00 3,72 3,85 0,00 0,00 0,83 11,22 2,12 24 6 26,6 Bandeng Chanos chanos 37,78 43,00 9,29 0,10 0,00 0,00 0,25 0,00 0,00 9,59 2,44 187 12,5 38,5 Beunteur Puntius binotatus 30,86 2,82 53,36 1,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 11,36 2,05 2 9,7 11,1 Lalawak Puntius ballaroides 6,54 3,33 45,79 19,18 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 25,16 2,32 16 12 22,5 Kapiat Thynnichthys thynnoides 10,79 16,94 15,44 15,73 1,15 0,00 0,00 0,00 0,15 39,80 2,34 61 8 14,5 Kb. Gerang Mystus nigriceps 13,60 12,00 2,00 57,80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,60 3,01 15 15,9 24,6 Oscar Amphilophus citrinellus 1,08 5,71 28,09 5,94 0,41 0,33 54,65 0,13 0,66 3,00 3,05 238 4,4 21,5 Betutu Oxyeleotris marmorata 1,92 3,05 2,50 6,00 1,70 0,00 66,60 0,00 0,23 18,00 3,92 7 15 26,5 Golsom Amphilophus alfari 1,60 2,50 0,12 1,13 0,45 1,05 81,75 0,00 0,02 11,38 3,69 104 7 17,5 Hampal Hampala macrolepidota 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 4,00 9 15 27 Oskar (Amphilophus citrinellus), jumlah yang teramati 238 ekor, dimana 192 ekor lambungnya ada makanan dan 46 ekor sisanya kosong. Panjang total ikan oskar yang diamati berkisar antara 4,4 21,5 cm. Ikan mempunyai kebiasaan makanan utama berupa ikan dan tumbuhan dengan makanan pelengkapnya detritus, zooplankton dan seranggga, mempunyai tingkat tropik 3,01 dengan luas relung 2,59 sehingga ikan ini termasuk dalam kelompok ikan omnivora. Golsom (Amphilophus alfari), jumlah yang teramati 104 ekor dengan ukuran panjang total 7 17,5 cm mempunyai kebiasaan makanan utama berupa ikan dan tumbuhan dengan makanan pelengkapnya detritus, zooplankton dan seranggga. dengan tingkat tropik 3,69 dengan luas relung 1,16 merupakan ikan predator. Hampal (Hampala macrolepidota), jumlah yang teramati 9 ekor dengan ukuran panjang total 15 27 cm, dimana 8 ekor dalam lambung ikan hampal ada makanannya dan 1 ekor sisanya kosong, mempunyai makanan utama berupa ikan, sehingga ikan ini mempunyai tingkat tropik 4,0 dengan luas relung 1,0 dan merupakan ikan karnivora. Patin (Pangasionodon hypopthalmus), jumlah yang teramati 15 ekor dengan ukuran panjang total 14,5-72 cm, dimana 9 ekor lambung ikan patin ada makanannya dan 6 ekor sisanya kosong, dengan makanan utamanya fitoplankton dengan makanan pelengkapnya zooplankton dan detritus dengan tingkat tropik antara 2 2,5 dan luas relung 2,06 termasuk dalam kelompok ikan herbivora. Nila (Oreochromis niloticus), jumlah yang teramati 24 ekor dengan ukuran panjang total 6 26,6 cm, dimana 20 ekor dari lambung ikan nila ada makanannya dan 4 ekor sisanya kosong. Ikan tersebut banyak memanfaatkan fitoplankton sebagai makanan utamanya, detritus dan tumbuhan sebagai makanan pelengkapnya dengan tingkat tropik sebesar 2,15 dengan luas relung sebesar 3,85 sehingga termasuk dalam kelompok ikan herbivora yang bersifat generalis. 153

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 Bandeng (Chanos chanos), jumlah yang teramati 187 ekor dengan ukuran panjang total 12,5 38,5 cm. Ikan tersebut memanfaatkan fitoplankton sebagai makanan utamanya, detritus dan tumbuhan sebagai makanan pelengkapnya dengan tingkat tropik 2,44 dengan luas relung 2,89 terrmasuk dalam kelompok ikan herbivora yang bersifat generalis. Kepiet (Thynnichthys thynnoides), jumlah yang teramati 61 ekor dengan ukuran panjang total 8 14,5 cm, dimana 39 ekor didalam lambungnya terdapat makanan dan 22 ekor sisanya konsong. Ikan tersebut mempunyai makanan utama detritus dengan makanan pelengkapnya berupa tumbuhan, zooplankton, serangga dan fitoplankton mempunyai tingkat tropik 2,44 dengan luas relung 4,04 termasuk dalam kelompok ikan herbivora yang bersifat generalis. Betutu (Oxyeleotris marmorata), jumlah yang teramati 7 ekor dengan ukuran 15 26,5 cm, dimana 1 ekor diantaranya lambungnya kosong. Ikan ini konsisten dalam memanfaatkan makanannya, dimana makanan utama ikan ini adalah ikan dengan makanan pelengkapnya berupa serangga dengan tingkat tropik 3,92 dengan luas relung 1,33. Ikan termasuk dalam kelompok ikan predator. Benteur (Puntius binotatus), jumlah yang teramati 2 ekor, dengan ukuran panjang 9,7 11,1cm. Makanan utama ikan ini berupa tumbuhan, fitoplankton dan detritus. Ikan tersebut mempunyai tingkat tropik 2,05 dengan luas relung 2,54 termasuk dalam kelompok ikan herbivora. Lalawak (Puntius bramoides), jumlah yang teramati 16 ekor dengan ukuran panjang 12 22,5 cm dimana 3 ekor diantaranya kosong. Ikan ini mempunyai makanan utama tumbuhan dan detritus dengan makanan pelengkap berupa serangga dan fitoplankton, dengan tingkat tropik 2,32 dengan luas relung 3,17. Termasuk dalam kelompok ikan herbivora Berdasarkan luas relung dan tingkat tropik jenis ir. H. Djuanda dapat dikelompok sebagai berikut (Gambar 2): 1. Kelompok I (ikan herbivora), kelompok ikan ini merupakan kelompok ikan yang mempunyai tingkat tropik sebesar 2 2,5 yang banyak memanfaatkan plankton, dan makrofita sebagai makannya. Sehingga habitat kelompok ikan ini ada di daerah litoral hingga pelajis. Kelompok ikan ini terdiri dari ikan kepiet, nila, benteur, patin, dan lalawak. Ikan-ikan tersebut mempunyai luas relung pakan yang besar. Jenis ikan yang bersifat generalis mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyesuaikan fluktuasi kesediaan pakan yang ada. 2. Kelompok II (ikan omnivora), kelompok ikan yang mempunyai tingkat tropik sebesar 2,5 3. Kelompok ini banyak memanfaatkan tumbuhan dan hewan sebagai makanannya yang relatif seimbang. Habitat kelompok ikan ini ada di daerah litoral hingga pelagis. Kelompok ini terdiri dari ikan bandeng dan lalawak. Secara umum, kelompok ini bersifat relatif lebih generalis dalam memanfaatkan sumber daya pakan dibandingkan kelompok herbivora maupun predator. Sehingga kelompok ini paling baik dalam menyesuaikan fluktuasi kesediaan makanan. 3. Kelompok III (ikan carnivora), kelompok ikan yang mempunyai tingkat tropik sebesar 3,0 3,5 hewan, seperti: cacing, insekta dan moluska. Umumnya habitat kelompok ikan ini ada di daerah litoral. Kelompok ikan ini terdiri dari ikan oskar dan kebogerang. 4. Kelompok IV (predator), kelompok ikan yang mempunyai tingkat tropik sebesar 3,5 4,0 banyak memanfaatkan ikan sebagai makanan utamanya. Kelompok ikan ini terdiri dari ikan Golsom, betutu dan Hampal. Kelompok ini berperan sebagai pengendali keseimbangan kelimpahan antar jenis ikan. Gambar 2. Hubungan tingkat tropik dan luas relung pakan beberapa jenis ikan di Waduk Djuanda (1 : herbivora; 2 : omnivora; 3 : karnivora; 4 : predator; Kpt: kepiet; Ptn: patin; nl: nila; bdg: bandeng; Btt: betutu; Osk: oskar; Hpl: hampal; Kbg: kebogerang; Gls: golsom; Btr: beunter) Figure 2. Relationship beetwen trophic level and niche breadth feed for several species of fish caught at Djuanda reservoir(1 : herbivore; 2: omnivorer; 3: carnivore; 4 : predator; kpt: kepiet; ptn: patin; nl: nila; bdg: bandeng; Btt: betutu; osk: oskar; hpl: hampal; kbg: kebogerang; gls: golsom; btr: beunter) 154

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 BAHASAN Nikolsky (1963) menyatakan bahwa urutan makanan ikan dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu makanan utama, pelengkap dan tambahan. Sebagai batasan yang dimaksud makanan utama adalah kelompok makanan yang mempunyai Indeks Preponderan (IP) lebih besar dari 25%, makanan pelengkap adalah kelompok makanan yang mempunyai IP berkisar antara 5-25%, dan makanan tambahan adalah kelompok makanan yang mempunyai IP kurang dari 5%. Sedangkan luas relung adalah sejumlah spesies yang hidup bersama dalam suatu komunitas yang seimbang tergantung pada beberapa faktor, antara lain: jumlah total macam-macam sumberdaya yang dimanfaatkan oleh sekelompok organisme (luas relung), toleransi kesamaan antar kelompok organisme dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia, dan jumlah total sumberdaya yang dimanfaatkan oleh komunitas organisme tersebut (MacArthur dalam Hespenheide, 1975). Ikan kebogerang di Waduk Djuanda mempunyai kebiasaan makan yang sama dengan hasil penelitian Tjahjo & Purnamaningtyas (2008) di Waduk Cirata dan berbeda dengan hasil penelitian Purnamaningtyas (1993) di perairan yang sama dengan makanan utamanya larva serangga, moluska dan ikan. Hal ini dapat disebabkan karena ketersediaan pakan alami yang ada di perairan. Ikan oskar, memanfaatkan tumbuhan, detritus dan moluska sebagai makanan utamanya hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Purnamaningtyas & Tjahjo (2010) di perairan yang sama. Ikan ini mempunyai kebiasaan makanan yang sangat dinamis, sehingga ikan ini mempunyai kemampuan yang sangat baik menyesuaikan fluktuasi kesediaan makanan. Akibat dari luasnya peran ikan tersebut, keberadaan ikan ini mampu mendominasi perairan Waduk Jatiluhur. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Oldfield et al., 2006). Ikan golsom, termasuk kelompok ikan karnivorapredator yang sangat spesialis dalam memanfaatkan ketersediaan makanan yang ada di alam. Kecenderungan hasil tangkapan ikan golsom akan turun apabila hasil tangkapan ikan oskar meningkat atau sebaliknya. Hal tersebut diduga karena salah satu dari ikan tersebut mengalami perubahan dalam siklus hidupnya sehingga mempengaruhi keberadaan ikan tesebut di perairan. Ikan golsom mempunyai kebiasan makan berupa insekta, bijibijian (Anonimous, 2011b). Ikan hampal, termasuk ikan predator dan mempunyai makanan utama berupa ikan (Huet, 1970. Hal tersebut sama dengan hasil penelitian Tjahjo & Hardjamulia (2003), dan Tjahjo (1994), berbeda dengan hasil penelitian Purnamaningtyas, (1993) yang menyatakan bahwa ikan hampal di waduk yang sama memanfaatkan crustasea, larva serangga dan ikan sebagai makanan utamanya. Ikan patin, ikan ini sangat konsisten dalam memanfaatkan fitopkanton sebagai makanannya. Ikan patin tersebut bersifat lebih spesialis dalam memanfaatkan sumberdaya pakan, dimana jenis ikan ini sangat menyenangi fitoplankton (65%). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Purnomo & Kartamihardja (2003) di Waduk Wonogiri dengan makanan utamanya adalah fitoplankton. Menurut Inger & Chin (1962) bahwa ikanikan jenis pangasius merupakan ikan sungai yang penting di Kalimantan Utara. Ikan nila, banyak memanfaatkan fitoplankton sebagai makanan utamanya. sehingga ikan ini termasuk kelompok herbivora pemakan fitoplankton yang bersifat generalis dalam memanfaatkan ketersediaan makanan yang ada di alam, sehingga mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyesuaikan fluktuasi kesediaan pakan. Kelompok ikan ini ada di daerah litoral. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Tjahjo & Purnomo (1998) di Rawa Taliwang, Tjahjo (2009) di Waduk Djuanda yang menunjukkan bahwa pakan utama ikan nila berupa fitoplankton dengan makanan pelengkapnya detritus. Ikan bandeng, termasuk omnivora dan herbivora, ikan mencari makan di daerah pelagis. Kondisi tersebut sesuai dengan pendapat Tjahjo & Purnamaningtyas (2009), Tjahjo et al, (2011), dan Anonimous, (2011c) yang menyatakan bahwa ikan bandeng banyak memanfaatkan zooplankton dan fitoplankton sebagai makanannya. Ikan kepiet, mempunyai makanannya berupa detritus dan dengan makanan pelengkapnya berupa tumbuhan, zooplankton, serangga dan fitoplankton. Hal tersebut sesuai dengan yang pendapat Anomimous, (2011 c) bahwa ikan tersebut bersifat generalis dalam memanfaatkan pakan, sehingga mampu dengan cepat beradaptasi (menyesuaikan) diri. Ikan betutu, mempunyai makana utama berupa ikan dengan makanan pelengkapnya serangga termasuk ikan predator. Ikan betutu memanfaatkan ikan sebagai makanananya dan ikan ini hidup pada dasar perairan yang dangkal (Anonimous, 2011a), dan realtif berbeda dengan hasil penelitian Tjahjo & Purnamaningtyas (2011) di Situ Cileunca yang menunjukkan bahwa ikan betutu mempunyai makanan utama berupa udang dan ikan. Perbedaan kebiasaan makanan tersebut mungkin disebabkan perbedaan kelimpahan makanan yang ada di masing-masing perairan. Ikan benteur, di Waduk Djuanda bersifat herbivora. Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian Tjahjo (1987) di Waduk Bening dan Anonimous (2011c) yang banyak 155

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 memanfaatkan zooplankton dan detritus sebagai makanannya. Hal tersebut diduga dikarenakan adanya perbedaan kelimpahan makanan alami yang tersedia di Waduk Djuanda, Darma dan Bening. Ikan lalawak, mempunyai makanan utama tumbuhan dan detritus dengan makanan pelengkap berupa serangga dan fitoplankton, sehingga berdasarkan kebiasaan makanannya ikan ini termasuk ikan omnivora. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Tjahjo & Purnamaningtyas (2008) di Waduk Cirata yang mempunyai makanan utama berupa makrofita dengan makanan pelengkapnya zooplankton, ikan dan detritus. Kebiasaan makan ikan di Waduk Ir. H. Djuanda sudah cukup lengkap, dimana kelompok ikan herbivora, omnivora, carnivora dan predator ada. Berdasarkan analisa luas relung, dimana kondisi tersebut menunjukkan kesediaan makanan sudah cukup, sehingga perairan tersebut tidak diperlukan lagi penebaran jenis ikan dalam rangka mengisi relung ekologi yang kosong, tetapi mungkin masih diperlukan penebaran ikan dengan tujuan untuk: 1. Meningkatkan efektifitas & efisiensi masing-masing peran 2. Menjaga keseimbangan rekruitmen dengan laju eksploitasi KESIMPULAN Berdasarkan kebiasaan makan dan luas relung pakannya, komunitas ikan di perairan Waduk Djuanda sudah lengkap. Jenis ikan di Waduk Djuanda dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok, antara lain kelompok ikan: (1) herbivora yang terdiri dari ikan kepiet, nila, patin, dan, beunteur, (2) omnivora terdiri dari ikan bandeng dan lalawak, (3) karnivora terdiri dari ikan oskar dan kebogerang dan (4) predator yang terdiri dari ikan Golsom, betutu dan hampal. Ditinjau dari kemampuan memanfaatkan sumberdaya pakan, nila, kepiat, beunteur dan lalawak mempunyai potensi berkembang dengan baik di Waduk Djuanda. DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2011 a. Oxyeleotris marmorata http:// www.fishbase.org/summary/species Summary.php?ID=5376&genusname=Oxyeleotris &speciesname=marmorata&at. Diunduh tanggal 12 Maret 2011., 2011 b. Puntius binotatus http:// www.fishbase.org/summary/species Summary.php?ID=5180&genusname=Puntius&speciesname= binotatus&at. Diunduh Tanggal 12 Maret 2011., 2011 c. Thynnichthys thynnoides http:// www.fishbase.org/summary/species Summary.php?ID=16209& genusname. Diunduh tanggal 12 Maret 2011. Barlow, G. W. 1976. The Midas Cichlid In Nicaragua in Papers the Biological Sciences Investigations of the Ichthyofauna of Nicaraguan Lakes. University of Nebraska Lincoln. 331-358 p. Caddy, J.F. & G.D. Sharp, 1986. An ecological framework for marine fishery investigations. FAO Fish. Tech. Pap. (283): 152 p. Effendie, M.I. 1979. Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. 122 p. Hespenheide, H.A., 1975. Prey characteristics and predator niche width. In Artemend and Diamon (Eds.) Ecology and Evolution of communities. The Belknap Press of Harvard University Press. p. 183-193. Huet, M. 1970. Textbook of fish culture. Breeding and cultivation of fish. Fishing news (Books). Ltd., London, 436 p. Inger, R.F & P.K,Chin. 1962. The natural freshwater fishes of north borneo. Chicago, Natural History Museum. Kartamihardja, E. S. 1991. Some note on limnological aspect and fisheries of the Saguling, Cirata and jatiluhur reservoirs in West Java, Indonesia. RIFF, AARD. 20 p. (Unpub). Lagler, K.F., Bardach & R. R. Miller. 1962. Ichtyology. New York, John Willy and Sons. 506 p. Nikolsky, G.V., 1963. The ecology of fishes.transl.by 1.Brikeett.Academic Press, London and New York, 352 p. Nielsen, L.A & D.L. Johnson. 1985. Fisheries Tecniques. American Fisheries Society. Bethesda Maryland. 468 p. Pianka, E.R. 1981. Competition and Niche Theory. in Robert M. May (editor). Teoritical Ecology, Principal and Application. Blackwell Scientifific Publication. Oxford. London. p 168-196. Purnamaningtyas. S.E. 1993. Analisa Struktur Komunitas Ikan di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Laporan Keteknikan. Sekolah Tinggi Perikanan. 48 p. Purnamaningtyas. S.E & D.W.H. Tjahjo. 2010. Beberapa Aspek Biologi Ikan Oskar (Amphilophus citrinellus) di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur, Jawa Barat. Bawal. 3 (1): 9-16. 156

S.E. Purnamaningtyas dan D.W.H. Tjahjo / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 151-157 Purnomo, K & E. S Kartamihardja. 2003. Pertumbuhan, mortalitas dan kebiasaan makan ikan Patin Siam (Pangasius hipopthalmus) introduksi di waduk Wonogiri. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Edisi Sumberdaya dan Penangkapan. 9 (3): 13-20 p. Ranta, E. & H. Lundberg. 1981. Resource utilization by Bunblebee Queens, Workers, and male in a subarctic area. Holarct. Ecol. 4: 145-154 p. Tjahjo, D.W.H. & A. Hardjamulia. 1983. Periode makan dan aktivitas ikan hampal(hampala macrolepidota) di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Bull.Penel.Perik. Darat. 4 (2): 54-58 p. Tjahjo, D. W. H. 1986. Studi pendahuluan kebiasaan pakan ikan hampal (Hampala macrolepidota) di Waduk Jatiluhur. Laporan Teknis. Sub Balitkanwar Jatiluhur. 10 p. Tjahjo, D. W. H. 1987. Kebiasaan pakan komunitas ikan di Waduk Bening, Jawa Timur. Bull.Pen.Perik.Darat, 6 (1): 59-64 p. Tjahjo, D.W. H. 1994. Studi pemanfaatan pakan oleh juvenil hampal (Hampala macrolepidota) di Waduk Jatiluhur, Jawa barat. Suplemen. Bull. Pen. PD. 12(2): 54-66. Tjahjo, D.W.H. & K. Purnomo. 1998. Studi interaksi Pemanfaatan Pakan Alami Antar Ikan Sepat (Trichogaster pectoralis), Betok (Anabas testudineus), Mujair (Oreochromis mossambicus), Nila (O. niloticus) dan Gabus (Channa striatus) di Rawa Taliwang. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 4 (3). 50 59. Tjahjo, D.W.H., S. Nuroniah & S.E. Purnamaningtyas. 2001. Evaluasi Bio-limnologi dan Relung Ekologi Komunitas Ikan untuk Menentukan Jenis Ikan yang Ditebar di Waduk Darma. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (1):10-24 p. Tjahjo, D.W.H & S.E Purnamaningtyas. 2008. Kajian Kebiasaan Makan, Luas relung dan Interaksi antar Jenis Ikan Di waduk Cirata, Jawa Barat. Jurnal Iktiologi Indonesia. 8 (2): 59 65. Tjahjo, D.W.H. 2008. Evaluasi Kemampuan Ikan Nila dalam Memanfaatkan Kelimpahan Fitoplankton sebagai Dampak Pengembangan Budidaya Ikan dalam KJA di Waduk Ir H Djuanda. Prosiding Seminar Nasional Tahunan IV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. MS-22. 6 hal. Tjahjo, D.W.H & S.E Purnamaningtyas. 2009. Evaluasi kemampuan ikan bandeng dan nila tebaran dalam memanfaatkan kelimpahan fitoplankton di Waduk Ir. H. Djuanda. Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumberdaya Ikan II. Loka Pemacuan Stok Ikan. PI-02. 11 hal. Tjahjo, D.W.H., S.E. Purnamaningtyas & A. Suryandari. 2009. Evaluasi peran jenis ikan di waduk ir. H. Djuanda, Jawa Barat. J. Penel. Perik. Indonesia, 15(4): 267-276 p. Tjahjo, D.W.H., S.E Purnamaningtyas & E.S. Kartamihardja. 2011. Evaluasi keberhasilan penebaran ikan bandeng (Chanos chanos) di Waduk Ir. H. Djuanda. Bawal, 3 (4): 231-237. Oldfield, R.G, Jeffrey M, & R. M Kenneth. 2006. Habitat Use, Social Behavior, and Female and Male Size Distributions of Juvenile Midas Cichlids, Amphilophus cf. citrinellus, in Lake Apoyo, Nicaragua. College of Arts and Sciences University of Puerto Rico, Mayaguez. Caribbean Journal of Science, 42(2): 000-000:1-11 p. 157

158

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN GOLSOM (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT REPRODUCTIVE BIOLOGY OF BANDED JEWEL CICHLID (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) IN CIRATA RESERVOIR, WEST JAVA ABSTRAK Dimas Angga Hedianto dan Sri Endah Purnamaningtyas Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Teregistrasi I tanggal: 29 Oktober 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal: 26 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 02 Desember 2013 E-mail: dimas_brpsi@yahoo.com Ikan golsom (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) merupakan jenis ikan introduksi yang tidak disengaja masuk ke perairan Waduk Cirata. Populasi ikan ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi reproduksi ikan golsom meliputi nisbah kelamin, dugaan musim pemijahan TKG, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas dan sebaran diameter telur. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan September 2011 menggunakan jaring insang percobaan dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Ikan golsom yang diamati berjumlah 316 ekor dengan nisbah kelamin adalah 1:1,20. Nisbah kelamin berada pada kondisi seimbang pada setiap waktu penelitian. Ikan golsom dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun dengan dugaan puncak pemijahan pada musim kemarau, dimulai pada bulan Maret hingga Juli. Ikan jantan mencapai pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 11,3 cm (kisaran antara 10,5-12,2 cm), sedangkan ikan betina pada ukuran 10,7 cm (kisaran antara 10,1-11,5 cm). Fekunditas berkisar antara 511-4.900 butir (rata-rata 2.131 butir), diameter telur berukuran antara 0,28-1,58 mm dengan tipe pemijahan bersifat partial spawner. KATA KUNCI: Reproduksi, golsom, Hemichromis elongatus, Waduk Cirata ABSTRACT Banded jewel cichlid (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) is unintentional introduced fish in Cirata Reservoir. These fish populations have significant increased in the last five years. The objective of this research were to analyze reproductive biological aspects of banded jewel cichlid such as sex ratio, spawning season, length at first maturity, fecundity and distribution of egg diameter. Research was conducted in March, May, July and September 2011. Experimental gillnet segregated into seven different mesh size were used for fish sampling. Banded jewel cichlid samples observed were 316 fishes with sex ratio of 1:1.20. Sex ratio indicated balanced conditions. The fish spawned more than once a year with peak spawning period was occurred at dry seasons, from March until July. Total length at first maturity of banded jewel male was 11.3 cm (range of 10.5 to 12.2 cm), while for the female it was 10.7 cm (range of 10.1 to 11.5 cm). Fecundity of this fish in the ranged of 511 to 4,900 eggs (average of 2,131 eggs), with eggs diameter in the range of 0.28 to 1.58 mm indicating that banded jewel was categorized as partial spawner fish. KEYWORDS: Reproductive, banded jewel cichlid, Hemichromis elongatus, Cirata Reservoir PENDAHULUAN Ikan golsom merupakan salah satu ikan asing dari famili Cichlidae yang meningkat populasinya di Waduk Cirata, Jawa Barat. Walaupun populasinya cukup melimpah, namun ikan ini tidak bernilai ekonomis di pasaran. Ikan golsom merupakan ikan predator yang berasal dari Afrika dengan ciri khusus berupa corak warna yang khas, seperti bentuk tubuh bulat memanjang (elongate) dan memiliki 4-5 bercak (blotch) membulat di sepanjang linea lateralis (Yamamoto & Tagawa, 2000; Stiassny et al., 2008). Ciri lainnya yaitu sisik berwarna kuning hingga olive (kuning zaitun), terdapat serangkaian titik berwarna merah tipis BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 Korespondensi penulis: Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Jatiluhur Jl. Cilalawi No. 1 Jatiluhur, Purwakarta - Jawa Barat memanjang horizontal di bagian tengah tubuhnya, serta terdapat spot berwarna merah magenta pada tutup insang (operculum) (Yamamoto & Tagawa, 2000) (Gambar 1). Klasifikasi ikan golsom menurut ITIS (2011) adalah Kelas: Actinopterygii, Ordo: Perciformes, Famili: Cichlidae, Genus: Hemichromis, dan Spesies: Hemichromis elongatus, Guichenot 1861. Menurut Purnamaningtyas et al. (2011), ikan golsom merupakan hasil tangkapan dominan dari alat tangkap gillnet di Waduk Cirata dengan kontribusi sebesar 58,3% dari tangkapan total, diikuti oleh jenis ikan asli Waduk Cirata (17,4%) dan ikan introduksi lainnya (24,3%). Dampak 159

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 negatif yang dikhawatirkan muncul adalah perubahan status ikan golsom di Waduk Cirata menjadi spesies yang menginvasi komunitas ikan lainnya dengan sifat predator yang dapat merugikan secara ekonomi dan ekologi. Gambar 2. Lokasi stasiun pengambilan contoh ikan di Waduk Cirata. Figure 2. Sampling site in Cirata Reservoir. Keterangan/Remarks: (1) Maleber, (2) Jangari, (3) Rajamandala and (4) Cipicung Gambar 1. Figure 1. Ikan golsom yang tertangkap di Waduk Cirata Banded jewel cichlid caught at Cirata Reservoir Pada saat ini populasi jenis ikan golsom cenderung terus meningkat, sementara belum banyak penelitian mengenai ikan golsom di Waduk Cirata. Perkembangan populasi suatu jenis ikan tidak lepas dari keberhasilan reproduksi alaminya. Adaptasi tingkah laku reproduksi, baik keberhasilan pemijahan yang tepat tempat maupun tepat waktu, dapat menentukan tingkat rekrutmen populasi di alam (Rahardjo et al., 2010). Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek reproduksi ikan golsom diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengelolaan, seperti kajian untuk pengendalian apabila status ikan golsom di Waduk Cirata berubah menjadi ikan asing invasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan golsom meliputi nisbah kelamin, dugaan musim pemijahan, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas dan sebaran diameter telur. BAHAN DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di perairan Waduk Cirata, Jawa Barat pada bulan Maret, Mei, Juli dan September 2011. Penentuan lokasi sampling pengambilan ikan contoh dilakukan menggunakan metode stratifikasi (stratified sampling method) dimana lokasi penelitian ditentukan secara acak berkelompok yang mewakili setiap aliran sungai kecil, sungai utama dan genangan Waduk Cirata (Nielsen & Johnson, 1985). Pengambilan sampel ikan contoh dilakukan di empat stasiun pengamatan yaitu: (1) Maleber, (2) Jangari, (3) Rajamandala dan (4) Cipicung (Gambar 2). Pengumpulan Data Ikan contoh didapatkan dari hasil tangkapan jaring insang percobaan berukuran mata jaring masing-masing 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5 dan 4 inci. Jaring insang dipasang sebanyak satu set di setiap stasiun penelitian secara sejajar garis pantai pada kedalaman ±1m dari permukaan air. Jaring insang dipasang pada sore hari, kemudian diangkat pada pagi hari. Identifikasi jenis mengacu kepada Loiselle (1992) dan Fishbase (Froese & Pauly, 2012). Penentuan jenis kelamin berdasarkan ciri reproduksi primernya atau ditentukan melalui organ reproduksinya dengan pembedahan. Perkembangan tingkat kematangan gonad (TKG) ikan golsom jantan dan betina disajikan pada Lampiran 1. Pengamatan biologi dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Jatiluhur. Contoh telur yang diambil dari ikan yang matang gonada kemudian dihitung jumlahnya. Pengukuran diameter telur dilakukan terhadap 300 butir telur dari masing-masing bagian gonada (anterior, median, dan posterior) (Setyobudiandi et al., 2009). Pengukuran diameter telur menggunakan mikroskop binokuler pada perbesaran 10x4 yang dilengkapi mikrometer okuler skala 100. Konversi per satuan skala mikrometer okuler adalah 0,025 mm. Analisis Data Nisbah kelamin ditentukan melalui perbandingan antara ikan jantan dan betina. Penentuan seimbang atau tidaknya ikan jantan dan betina dilakukan uji chi-square pada selang kepercayaan 95% (á=0,05) (Steel & Torie, 1989). Keseragaman sebaran rasio kelamin dianalisis menggunakan rumus: 160

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 ( Oi ei) 2.. (1) ei Keterangan: 2= Nilai peubah acak chi-square O i = Frekuensi ikan jantan dan betina ke-i yang diamati e i = Frekuensi harapan dimana jumlah ikan jantan dan betina adalah seimbang Pendugaan ukuran panjang pertama kali matang gonad menggunakan persamaan Spearman-Karber (Udupa, 1986): m = [X k +(X/2)] [X. p i ].......... (2) dimana: m = Log panjang ikan pada kematangan gonad pertama X k = Log terakhir dari nilai tengah kelas panjang dimana semua ikan telah 100% matang gonad X = Pertambahan Log panjang nilai tengah kelas pi = Proporsi ikan matang gonad pada kelas panjang ke- I, dimana pi = ri/ni ri = Jumlah ikan matang gonad pada kelas panjang ke-i ni = Jumlah ikan pada kelas panjang ke-i maka panjang ikan pada waktu mencapai rata-rata kematangan gonad yang pertama (M) adalah: M = antilog (m) jika á = 0,05 maka batas-batas kepercayaan 95% dari M adalah F =........... (5) Keterangan: F = Fekunditas (butir) X = Jumlah telur dalam sebagian kecil dari sampel gonad (butir) G = Berat seluruh sampel gonad (gram) Q = Berat sebagian kecil dari sampel sampel gonad (gram) HASIL DAN BAHASAN HASIL Sebaran Frekuensi dan Nisbah Kelamin Ikan golsom yang tertangkap pada saat penelitian berjumlah 316 ekor, terdiri dari 111 ekor (35,1%) ikan jantan, 133 ekor (42,1%) ikan betina, dan 72 ekor (22,8%) tidak dapat ditentukan jenis kelaminnya. Kisaran panjang total ikan golsom yang tertangkap adalah 6,5-14,7 cm, sedangkan kisaran berat tubuh antara 6,0-63,0 gram. Panjang total ikan golsom jantan berkisar antara 7,0-14,7 cm dengan berat tubuh berkisar antara 7,0-42,0 gram, sedangkan ikan betina memiliki kisaran panjang total antara 6,5-14,3 cm dengan berat tubuh sebesar 6,0-63,0 gram. Modus ukuran panjang ikan golsom jantan dan betina adalah pada kisaran panjang total 7-8 cm (Gambar 3). 50 Antilog......... (3) Nilai indeks kematangan gonad (IKG) dihitung menggunakan rumus (Effendie, 1979): Frekuensi (ekor) 40 30 20 10 0 6 7 7 8 8 9 9 10 10 11 11 12 12 13 13 14 Kisaran Panjang (cm) 14 15 Jantan Betina IKG =........ (4) Keterangan: IKG = Indeks kematangan gonad (%) Bg = Berat gonad (gram) W = Berat tubuh (gram) Fekunditas total atau mutlak didefinisikan sebagai jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan betina yang sudah matang (mature) (Nikolsky, 1963), ditentukan menggunakan gabungan dari metode gravimetrik dan metode sub contoh (Bagenal & Braum, 1978; Efendie, 1979) dengan rumus: Gambar 3. Frekuensi panjang ikan golsom di Waduk Cirata Figure 3. Length frequency of banded jewel cichlid in Cirata Reservoir Secara umum, nisbah kelamin ikan golsom jantan dan betina di Waduk Cirata adalah 1:1,20. Nisbah kelamin pada bulan Maret, Mei, Juli dan September berturut-turut adalah 1:3; 1,14:1; 1:1,16 dan 1:1 (Gambar 4). 161

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 Nisbah Kelamin 100% 80% 60% 40% 20% 0% Maret Mei Juli September Jantan Betina Gambar 4. Nisbah kelamin ikan golsom menurut bulan penelitian Figure 4. Sex ratio of banded jewel cichlid by month Hasil perhitungan Chi-Square didapatkan 2 hitung sebesar 5,2, sedangkan 2 tabel (á=0,05; v=3) sebesar 7,8. Oleh karena itu, hasil uji chi-square nisbah kelamin ikan golsom pada setiap waktu penelitian menunjukkan tidak berbeda nyata atau berada dalam keadaan seimbang. Dugaan Musim Pemijahan Penentuan dugaan musim memijah ikan golsom didasarkan pada fluktuasi rata-rata IKG dan perkembangan TKG pada setiap waktu pengamatan. Perkembangan TKG ikan golsom tersaji pada Tabel 1, sedangkan IKG ikan golsom pada setiap waktu penelitian tersaji pada Gambar 5. Tabel 1. Perkembangan tingkat kematangan gonad ikan golsom di Waduk Cirata, 2011 Table 1. Development of gonad maturity stage of banded jewel cichlid in Cirata Reservoir, 2011 Jenis Kelamin/ Sex Jantan/Male Betina/Female Persentase TKG (%)/ Bulan/ Total (ekor)/ Percentage of Gonadal Stage (%) Month Number (ind) TKG I TKG II TKG III TKG IV Maret 25,0 50,0 25,0 0,0 4 Mei 12,5 62,5 25,0 0,0 8 Juli 29,8 51,1 6,4 12,8 94 September 0,0 40,0 60,0 0,0 5 Maret 25,0 8,3 41,7 25,0 12 Mei 14,3 42,9 28,6 14,3 7 Juli 38,5 34,9 17,4 9,2 109 September 0,0 20,0 20,0 60,0 5 IKG (%) 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Maret Mei Juli September Jantan Betina persentase IKG ikan golsom betina mencapai puncak pada dua bulan pengamatan, yaitu bulan Maret dan September, masing-masing sebesar 2,9% dan 3,3%, sedangkan IKG tertinggi pada ikan jantan pada bulan Maret sebesar 0,4% (Gambar 5). Adanya dua puncak peningkatan rata-rata IKG pada ikan golsom betina dan proporsi TKG matang gonad (TKG III dan IV) yang selalu ditemukan pada setiap waktu penelitian, menginidikasikan bahwa ikan golsom di Waduk Cirata dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun atau multi spawning. Gambar 5. Indeks kematangan gonad ikan golsom pada setiap waktu penelitian Figure 5. Gonado Somatic Index of banded jewel cichlid by observation time Proporsi TKG I dan II (fase belum matang) pada ikan golsom jantan dan betina mengalami kenaikan pada bulan Juli, sedangkan proporsi TKG III dan IV banyak ditemukan pada bulan Maret dan September. Perkembangan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad (L m ) Ikan golsom jantan mencapai rata-rata ukuran pertama kali matang gonad pada panjang total (TL) 11,3 cm dengan kisaran antara 10,5-12,2 cm, sedangkan ikan betina mencapai rata-rata ukuran pertama kali matang gonad pada panjang total 10,7 cm dengan kisaran 10,1-11,5 cm. Ikan golsom betina mencapai ukuran pertama kali matang gonad lebih cepat daripada ikan jantan. 162

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 Fekunditas dan Diameter Telur Fekunditas total ikan golsom betina pada kondisi matang gonad (mature) untuk TKG III berkisar antara 511-2.448 butir dengan rata-rata 1.620 butir dan diameter telur berkisar antara 0,28-1,18 mm. Fekunditas total ikan golsom betina pada kondisi siap memijah (ripe) untuk TKG IV berkisar antara 1.818-4.900 butir dengan rata-rata 2.442 butir dan diameter telur berkisar antara 0,45-1,58 mm (Gambar 6). Frekuensi (%) 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 0.20 0.29 0.30 0.39 0.40 0.49 0.50 0.59 0.60 0.69 0.70 0.79 0.80 0.89 0.90 0.99 1.00 1.09 1.10 1.19 1.20 1.29 1.30 1.39 1.40 1.49 1.50 1.59 Diameter Telur (mm) Frekuensi (%) 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 0.20 0.29 0.30 0.39 0.40 0.49 0.50 0.59 0.60 0.69 0.70 0.79 0.80 0.89 0.90 0.99 1.00 1.09 1.10 1.19 1.20 1.29 1.30 1.39 1.40 1.49 1.50 1.59 Diameter Telur (mm) Gambar 6. Sebaran diameter telur ikan golsom Figure 6. Distribution of egg diameters of banded jewel cichlid BAHASAN Analisis nisbah kelamin diperlukan sebagai tolak ukur untuk mengetahui kestabilan populasi ikan di alam (Nasution et al., 2010). Perbandingan jumlah ikan jantan dan betina yang berada pada kondisi seimbang diperlukan untuk untuk mempertahankan kelangsungan hidup dalam suatu populasi, atau setidaknya ikan betina lebih banyak (Ball & Rao, 1984). Hasil uji chi-square (á=0,05) dari nisbah kelamin ikan golsom jantan dan betina pada setiap waktu penelitian menunjukkan keadaan seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa pola rekrutmen alami ikan golsom di Waduk Cirata cenderung akan terjaga, dimana hal ini akan berdampak terhadap peningkatan populasinya. Lebih lanjut Ball & Rao (1984) mengatakan bahwa adanya fluktuasi nisbah kelamin ikan jantan dan betina secara alami dapat terjadi karena tiga faktor, yaitu perbedaan tingkah laku reproduksi, kondisi lingkungan, dan faktor penangkapan. Seluruh jenis ikan Hemichromis (famili Cichlidae) memiliki sifat monogamous, yaitu pada saat pemijahan hanya melibatkan satu jantan dan betina. Selanjutnya, kedua induk jantan dan betina akan memelihara anakannya hingga umur tertentu dengan membuat sarang pada substrat yang bersifat keras (substrat guarders) (Keenleyside, 1991). Hal ini ditunjukkan selalu seimbangnya nisbah kelamin ikan golsom pada seluruh waktu penelitian di Waduk Cirata. Nisbah kelamin ikan genus Hemichromis lainnya yang telah diteliti di Sungai Cross, Nigeria yang terdiri atas dua jenis ikan, yaitu H. fasciatus dan H. bimaculatus menunjukkan kondisi yang serupa (Offem et al., 2009). Nilai IKG yang dihubungkan dengan waktu dapat menggambarkan aktivitas perkembangan reproduksi secara populasi, hingga pendugaan musim pemijahan (Effendie, 1997; Komolafe & Arawomo, 2007). Peningkatan nilai IKG akan berbanding lurus dengan kenaikan perkembangan TKG matang gonad dan akan mencapai puncak pada saat akan memijah (Effendie, 1997). Tingginya persentase TKG belum matang gonad (TKG I dan II) pada bulan Juli mengindikasikan bahwa pada bulanbulan sebelumnya diduga telah terjadi pemijahan. Persentase ikan golsom yang tinggi pada masa immature (TKG I dan II) menunjukkan bahwa kondisi populasi sedang mengalami rekrutmen yang tinggi. Kondisi TKG tersebut sejalan dengan fluktuasi IKG ikan golsom jantan dan betina yang mengalami kenaikan pada bulan Maret atau pada musim kemarau. Hasil analisis IKG diketahui bahwa terjadi penurunan pada bulan Mei dan Juli pada ikan golsom jantan dan betina. Hal ini mengindikasikan bahwa pada masa musim kemarau, ikan golsom telah memijah. Menurut Yamamoto & Tagawa (2000), ikan golsom di Hawaii memiliki puncak pemijahan di musim kemarau. Ikan golsom di Hawaii tergolong ikan asing, sehingga dapat dikatakan bahwa adaptasi reproduksi ikan ini dapat dilakukan di luar batas geografis aslinya di daerah Afrika. Oleh karena itu, puncak musim pemijahan ikan golsom di Waduk Cirata adalah pada saat musim kemarau, dimulai pada bulan Maret hingga Juli. Nilai IKG ikan golsom betina meningkat kembali pada bulan September atau pada saat mulai memasuki musim penghujan. Namun peningkatan nilai IKG ikan golsom betina tidak sejalan dengan ikan jantan. Hal ini diduga 163

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 bahwa ikan golsom di Waduk Cirata memiliki peluang untuk memijah kembali pada musim penghujan dan perkembangan reproduksi secara populasi dimulai pada bulan September. Hal ini diperkuat karena selalu ditemukannya ikan golsom jantan dan betina dengan kondisi mature (TKG III dan IV) pada setiap waktu penelitian yang mengindikasikan multi spawning atau dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun. Reproduksi populasi ikan golsom dapat dikatakan mampu beradaptasi dengan baik di perairan Waduk Cirata. Adanya perbedaan rata-rata ukuran pertama kali matang gonad dari ikan golsom jantan dan betina menunjukkan bahwa ikan golsom betina akan mengkonversi makanan untuk pertumbuhan gonad terlebih dahulu dari pada pertumbuhan sel (Bagenal & Braum, 1978; Effendie, 1997), sebagai akibat lebih cepatnya ukuran panjang rata-rata matang gonad dari pada ikan jantan. Oleh karena itu, ukuran ikan golsom jantan akan lebih besar daripada ikan betina pada kondisi TKG yang sama. Kondisi ini serupa seperti pada ikan nila, dimana ikan jantan memiliki ukuran lebih panjang daripada ikan betina karena adanya perbedaan konversi untuk pertumbuhan sel dan gonad (Komolafe & Arawomo, 2007). Akibat adanya perbedaan ukuran rata-rata pertama kali matang gonad antara ikan jantan dan betina, diduga peluang tertangkapnya ikan golsom jantan lebih tinggi daripada ikan betina, sehingga populasi ikan betina akan lebih banyak. Sebaran diameter telur ikan golsom di Waduk Cirata pada fase siap memijah (TKG IV) membentuk dua modus penyebaran diameter telur (Gambar 5). Puncak modus dicapai pada selang ukuran 0,70-0,79 mm dengan persentase frekuensi sebesar 19,0% dan pada selang ukuran 1,30-1,39 mm dengan persentase frekuensi sebesar 11,0%. Uji Anova (á=0,05) terhadap sebaran diameter telur menunjukkan berbeda nyata (p<0,05). Oleh karena itu, tipe pemijahan ikan golsom di Waduk Cirata bersifat partial spawner. Ikan akan mengeluarkan telurnya beberapa kali dalam satu musim pemijahan (Rahardjo et al., 2010). Menurut Englund et al. (2000) dan Yamamoto & Tagawa (2000), karakter pemijahan ikan golsom termasuk ke dalam substrate guarding dengan tipe rock spawner dimana ikan betina akan meletakkan telur pada bebatuan, ranting-ranting pohon ataupun benda keras lainnya yang terendam air, kemudian jantan akan membuahi telur tersebut. Selanjutnya, telur akan dijaga bersamaan oleh ikan jantan dan betina hingga berukuran juvenil. KESIMPULAN Nisbah kelamin ikan golsom jantan dan betina pada setiap waktu penelitian di Waduk Cirata berada pada keadaan seimbang. Ikan golsom dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun (multi spawning), yaitu pada musim kemarau dan penghujan. Dugaan puncak pemijahan adalah pada musim kemarau, dimulai pada bulan Maret hingga Juli. Ikan golsom jantan mencapai pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 11,5 cm (kisaran antara 10,7-12,4 cm), sedangkan ikan betina pada ukuran 10,7 cm (kisaran 10,1-11,5 cm). Fekunditas total ikan golsom betina stadia matang gonad (TKG III dan IV) berkisar antara 511-4.900 butir (rata-rata 2.131 butir). Diameter telur berukuran antara 0,28-1,58 mm dengan tipe pemijahan bersifat partial spawner. PERSANTUNAN Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan riset Model Pengendalian Kualitas Lingkungan di Waduk Ir. H. Djuanda dan Kajian Sumber Daya Ikan di Waduk Cirata, Jawa Barat T.A. 2011, di Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan-Jatiluhur, Purwakarta. DAFTAR PUSTAKA Bagenal, T. B. & E. Braum. 1978. Eggs and early life history. In Bagenal, T. (ed.). Methods for Assessment of Fish Production in Freshwaters. Blackwell, Oxford, England: 165-201. Bal, D. V. & K. V. Rao. 1984. Marine fisheries. Tata McGraw- Hill Publishing Company. New Delhi: 51-73. Effendie, M. I. 1979. Metode biologi perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 112 p. Effendie, M. I. 1997. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Bogor. 157 p. Englund, R. A., D. J. Preston, R. Wolff, S. L. Coles, L. G. Eldredge & K. Arakaki. 2000. Biodiversity of freshwater and estuarine communities in lower Pearl Harbor, Oahu, Hawaii with observations on introduced species. Final Report prepared for the U.S. Navy. Bishop Museum Technical Report No. 16. 181 p. Froese, R. & D. Pauly (Eds). 2012. FishBase. World Wide Web electronic publication. www.fishbase.org. Diunduh pada tanggal 22/10/2012. ITIS. 2011. Taxonomy and nomenclature of Hemichromis elongatus (Guichenot in Dumeril, 1861). http:// www.itis.gov/servlet/singlerpt/singlerpt? search_topic=tsn&search_value=553307. Diunduh pada tanggal 29/03/2012. Keenleyside, M. H. Eds. 1991. Cichlid fishes: behaviour, ecology and evolution. Chapman and Hall. London. 378 p. 164

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 Komolafe, O. O & G. A. O Arawomo. 2007. Reproductive strategy of Oreochromis niloticus (Pisces: Cichlidae) in Opa Reservoir, Ile-Ife, Nigeria. Rev. Biol. Trop. 55(2): 595-602. Loiselle, P. V. 1992. An annotated key to the genus Hemichromis Peters 1985. Buntbarsche Bulletin 148: 2-19. Nasution, S. H., I. Muschsin & Sulistiono. 2010. Potensi rekrut ikan bonti bonti (Paratherina striata Aurich) di Danau Towuti, Sulawesi Selatan. Bawal 3(1): 45-55. Nikolsky, G. V. 1963. The ecology of fishes. Transl. by L. Birkett. Academic Press. New York. 352 p. Nielsen, L. A. & D. L. Johnson. 1985. Fisheries techniques. American Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p. Offem, B. O., Y. A. Samsons & I. T. Omoniyi. 2009. Lengthweight relationship, condition factor and sex ratio of forty six important fishes in a tropical flood river. Research Journal of Fisheries and Hydrobiology 4(2): 65-72. Purnamaningtyas, S. E., D. W. H. Tjahjo, D. A. Hedianto, D. I. Kusumaningtyas & Sukamto. 2011. Model pengendalian kualitas lingkungan di Waduk Ir. H. Djuanda dan kajian sumber daya ikan di Waduk Cirata, Jawa Barat. Laporan Tahunan/Akhir. Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan. Balitbang Kelautan dan Perikanan. 63 p. Rahardjo, M. F., D. S. Sjafei, R. Affandi, Sulistiono & J. Hutabarat. 2010. Iktiologi. Lubuk Agung. Bandung. 408 p. Setyobudiandi, I., Sulistiono, F. Yulianda, C. Kusmana, S. Hariyadi, A. Damar. A. Sembiring & Bahtiar. 2009. Sampling dan analisis data perikanan dan kelautan: terapan metode pengambilan contoh di wilayah pesisir dan laut. Cetakan 1. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 319 p. Steel, R. G. H. & J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan prosedur statistika: suatu pendekatan biometrik. (Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri). Edisi kedua. PT. Gramedia. Jakarta. 748 p. Stiassny, M. L. J., A. Lamboj, D. De Weirdt & G. G. Teugels. 2008. Cichlidae. p. 269-403. In Froese, R. & D. Pauly (Eds). FishBase. World Wide Web electronic publication. www.fishbase.org. Diunduh pada tanggal 22/10/2012. Udupa, K. S. 1986. Statistical method of estimating the size at first maturity in fishes. Fishbyte. ICLARM, Philippines 4(2): 8-10. Yamamoto, M. N. & A. W. Tagawa. 2000. Hawai s native and exotic freshwater animals. Mutual Publishing, Honolulu, Hawaii. 200 p. In Froese, R. & D. Pauly (Eds). FishBase. World Wide Web electronic publication. www.fishbase.org. Diunduh pada tanggal 22/10/2012. 165

D.A. Hedianto dan S.E. Purnamaningtyas / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 159-166 Lampiran 1. Kritera tingkat kematangan gonad ikan golsom berdasarkan kondisi gonad Appendix 1. The criteria of gonad maturity stage of banded jewel cichlid based on the condition of gonads TKG/Gonad Maturity Stage Jantan/Male Betina/Female I (immature) Testes kosong transparan, memanjang seperti benang memanjang hingga ke depan rongga tubuh, ujung benang testes tidak terlihat Keadaan ovarium masih kosong transparan dan bentuknya mendekati seperti benang, lebih pendek daripada testes jantan, ujung benang ovari terlihat II (developing) Ukuran testes lebih besar, pewarnaan bening kemerahan, beberapa bagian masih terlihat transparan Ukuran ovarium lebih besar, pewarnaan lebih gelap kekuning-kuningan, telur belum terlihat jelas oleh mata III (mature) IV (ripe) V (spent) Sumber/Sources: Effendie, 1997 Testes semakin besar dan jelas, pewarnaan putih kemerahan yang menandakan mulai terisi sel sperma Testes semakin besar lagi dan sempurna, bentuk berpejal, memanjang dan semakin berwarna putih daripada tingkat sebelumnya Sampel tidak didapatkan Ovarium berwarna kuning, butiran telur mulai terlihat oleh mata, telur terlihat belum sepenuhnya mengisi jaringan dan tidak mudah dipisahkan (menempel pada jaringan ovari) Ovarium semakin besar dan terlihat penuh oleh terisi oleh telur, mengisi ½ - ⅔ rongga perut, telur berwarna kuning dan mudah dipisahkan Sampel tidak didapatkan 166

ESTIMASI PARAMETER POPULASI IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) DI PERAIRAN LAUT JAWA ESTIMATE POPULATION PARAMETERS OF EASTERN LITTLE TUNA (Euthynnus affinis) IN JAVA SEA WATERS ABSTRAK Umi Chodrijah, Thomas Hidayat dan Tegoeh Noegroho Balai Penelitian Perikanan Laut, Muara Baru Jakarta Teregistrasi I tanggal: 25 Juli 2013; Diterima setelah perbaikan tanggal: 25 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 11 Desember 2013 Email : umi_chodriyah@yahoo.co.id Tongkol komo (Euthynnus affinis) yang dikenal dengan nama perdagangan kawa-kawa termasuk dalam family Scombridae. Sebagai ikan pelagis mereka membentuk gerombolan, perenang cepat dan pemakan daging (carnivore). Penelitian tentang estimasi parameter populasi ikan tongkol komo di Laut Jawa didasarkan pada pengumpulan data di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, pada bulan Februari-Desember 2012. Analisis parameter populasi menggunakan program Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN-1). Hasil penelitian menunjukkan sebaran frekuensi panjang cagak ikan tongkol komo selama penelitian diperoleh panjang minimum 11,7 cm FL, panjang maksimum 55,4 cmfl dan panjang-rata-rata 34,1 cm. Persamaan dari hubungan panjang dan bobot ikan tongkol komo adalah W=0,00001L 3,1267 (r 2 = 0,986). Parameter populasi menunjukkan panjang asimtotik (L ) = 59,63 cm, kecepatan pertumbuhan ikan tongkol (K) = 0,91 per tahun dan umur pada saat ditetaskan (t 0 ) = 0,178 tahun. Mortalitas total (Z) adalah 2,64 per tahun dengan mortalitas alami (M) dan mortalitas penangkapan (F) masingmasing 1,13/tahun dan 1,51/tahun. Rasio eksploitasi ikan tongkol adalah 0,57 pertahun. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan ikan tongkol komo di Laut Jawa sudah dimanfaatkan secara penuh (fully exploited). KATA KUNCI : Parameter populasi, tongkol komo, Laut Jawa ABSTRACT BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 As pelagic fish, kawa-kawa (Euthynnus affinis) were included in the family Scombridae, Schooling behaviours, fast swimmers and carnivore. Research on population parameter estimates of kawa-kawa of the Java Sea conducted in the Pekalongan fishing port during February to December 2012. Data analyzed using analytical model application with program of Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN -1). The results showed that the frequency distribution of fish during sampling periods ranged of 11.7 cm FL to 55.4 cmfl with average length of 34.1 cmfl. Equation of a length and weight relationship of W = 0.00001 L 3, 1267 (r 2 = 0.986). Population parameters included asymptotic length growth rate (L ) was 59.63 cmfl, growth rate (K) = 0.91 per year and zero age (t 0 ) was 0.178 years. The total mortality (Z) was 2.64 per year, natural mortality (M) and fishing mortality (F) were 1.13 per year and 1.51 per year, respectively. Exploitation rate (E) was 0.57 per year, it mean that utilization stage of kawa-kawa in the area sampling was fully exploited. KEYWORDS : Population parameters, Euthynnus affinis, Java Sea. PENDAHULUAN Tongkol komo (Euthynnus affinis) dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama kawakawa termasuk dalam family Scombridae. Ikan ini merupakan ikan pelagis, membentuk gerombolan, perenang cepat dan pemakan daging (carnivore). Menurut Statistik Perikanan Tangkap, terdapat 3 jenis tongkol yaitu tongkol krai (Frigate tuna), tongkol komo (kawa-kawa, Eastern little tuna) dan tongkol abu (Longtail tuna) (Ditjen Perikanan Tangkap, 2011). Selain sebagai komoditi ekspor, ikan tongkol juga merupakan komoditi strategis bagi nelayan untuk meningkatkan pendapatan. Pada tahun 2010, volume ekspor komoditi tuna, cakalang dan tongkol sebesar 122.450 ton. Negara tujuan ekspor yang utama adalah Jepang. (Statistik Ekspor Hasil Perikanan, 2011). Laut Jawa merupakan bagian dari paparan Sunda dimana seluruhnya merupakan perairan territorial dengan kedalaman maksimal 70 meter. Kegiatan penangkapan terutama terpusat di pantai utara Jawa, (Nurhakim,et al., 2007). Produksi ikan tongkol di Laut Jawa memberi kontribusi sekitar 10% dari total ikan pelagis yang didaratkan, dimana 33 % diantaranya berasal dari alat tangkap gillnet dan 67% lainnya dari purse seine. (Suwarso, 2009). Korespondensi penulis: Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta Jl. Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta Utara 167

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 Sampai saat ini belum banyak dilakukan pengkajian parameter populasi terhadap sumberdaya tongkol komo. Penelitian tentang perikanan tongkol komo pernah dilakukan di perairan India yaitu Andussamad et al. (2012) melaporkan musim pemijahan tongkol komo berlangsung dua kali yaitu Mei-Juni dan Oktober Desember. Penelitian selanjutnya Jatmiko et al. (2013) menyatakan bahwa panjang asimtotik ikan tongkol komo di perairan Samudera Hindia adalah 63,5 cm dengan rasio eksploitasi 0,55. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi parameter populasi ikan tongkol komo yang tertangkap di Laut Jawa. Informasi ini sangat diperlukan sabagai bahan dasar pengelolaan ikan tongkol sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. BAHAN DAN METODE Pengambilan sampel ikan tongkol komo hasil tangkapan pukat cincin sebanyak 8.371 ekor dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan pada bulan Februari sampai dengan Desember 2012. Pengambilan data bulanan secara berkesinambungan dilakukan dengan bantuan tenaga enumerator. Data morfometri ikan yaitu panjang cagak (diukur dengan ketelitian 0,1 cm) dan berat (ditimbang hingga ketelitian 1gr) diukur untuk tiap individu ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) (Gambar 1). dimana : W = berat ikan (gram) L = panjang cagak ikan (cm) a dan b = konstanta Nilai konstanta b yang diperoleh dari persamaan tersebut di atas selanjutnya diuji ketepatannya terhadap nilai b = 3 dengan menggunakan uji-t. Pendugaan parameter pertumbuhan dari Von Bertalanffy yaitu panjang total asimtotik (L ) dan koefisien pertumbuhan (K) dihitung menggunakan program Elefan I (1987) dalam paket program computer FISAT (Gayanillo et al., 1995). Pendugaan nilai t o (umur pada saat 0 tahun berdasarkan persamaan Pauly, (1984) yaitu : Log (-t o ) = 0,3922-0,2752 Log(L )-1.038 Log(K) (2) Laju mortalitas alami (M) diduga dengan mengaplikasikan model empiris dari Pauly (1980) yaitu : Log (M) = -0,0066 0,279 * Log (L )+0,6543* Log (K)+0,4634*Log(T)....(3) Dimana : L = panjang asimtotik K = kecepatan pertumbuhan T = rataan suhu lingkungan perairan menurut Setyohadi (2010) = 28 o C Koefisien mortalitas total (Z) diperoleh dari kurva hasil tangkapan berdasarkan panjang (length converted catch curve) (Pauly, 1983) yang perhitungannya menggunakan paket program FISAT (Gayanilo et al., 1995). Koefisien mortalitas penangkapan (F) dihitung dari persamaan : F = (Z-M).....(4) Gambar 1. Morfologi ikan tongkol komo Figure 1. Morphology of Euthynnus affinis Analisis Data Untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan, apakah isometrik (b=3) atau alometrik (b±3), yaitu dihitung dari hubungan antara panjang dan berat ikan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Effendie (2002) yaitu : W = a*lb... (1) Laju eksploitasi (E) dihitung menggunakan persamaan (Pauly, 1980) : E = F/Z...... (5) HASIL DAN BAHASAN HASIL Distribusi panjang cagak dan hubungan panjang berat Pengukuran terhadap 8371 ekor ikan tongkol komo diperoleh panjang minimum 11,7 cm FL, panjang maksimum 55,4 cmfl dan panjang-rata-rata 34,1cm (Gambar 1). Sebaran frekuensi panjang cagak setiap bulannya disajikan pada Gambar 2. 168

Frekuensi (%) 20 15 10 5 0 U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 11 14 17 20 23 26 29 32 35 38 41 44 47 50 53 56 FL (cm) nilai b 3,1253 (Gambar 4). Setelah dilakukan uji t dengan tingkat kepercayaan 95%, diperoleh nilai t hitung = 0,004525 lebih kecil dari t tabel =1,965, artinya peningkatan pertambahan berat sebanding dengan pertumbuhan panjangnya. Gambar 2. Distribusi sebaran panjang cagak ikan tongkol komo Laut Jawa Februari-Desember 2012 Figure 2. Fork length distribution of E.affinis in the Java Sea, February December 2012 Frequency(%) 50.0 Februari n = 1003 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50.0 April n = 835 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 Maret n = 1255 Mei n = 987 12.516.520.524.528.532.5 36.540.544.548.552.556.5 Mid Lenght (cm) Frequency (%) 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50.0 Juli n = 418 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 Juni n = 764 50.0 Agustus n = 663 40.0 September n = 594 12.5 16.5 20.5 24.5 28.5 32.5 36.5 40.5 44.5 48.5 52.5 56.5 Mid Lenght (cm) 50.0 Oktober n = 409 40.0 0.0 50.0 November n = 657 Gambar 3. Distribusi frekuensi panjang cagak ikan tongkol komo yang tertangkap di Laut Jawa secara bulanan. Figure 3. Monthly fork length frequency distribution of kawa-kawa (E.affinis) caught in Java Sea. Gambar 3 menunjukkan bahwa pada bulan Februari terdapat satu kelompok umur, selanjutnya bulan Maret sampai April terdapat dua kelompok umur. Pada bulan September sampai Desember relatif tidak terjadi pergerakan modus atau struktur ukuran ikan tongkol komo mempunyai sebaran ukuran yang tidak berbeda signifikan. Pada September-Desember frekuensi panjang didominasi ikan yang berukuran besar (>40 cm). Hal ini dapat diduga proses penambahan baru (rekruitmen) ikan tongkol komo terjadi diantara bulan tersebut. Dapat terlihat pula pada kurva pertumbuhan Von Bertalanffy bahwa rekruitmen diduga terjadi sekitar bulan November. Analisis hubungan panjang berat ikan tongkol komo dihasilkan persamaan W=0,00001L 3,1253 (r 2 = 0,985 dengan Frequency(%) 30.0 20.0 10.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 50 40 30 20 10 0 Desember n = 786 12.5 16.5 20.5 24.5 28.5 32.5 36.5 40.5 44.5 48.5 52.5 56.5 Mid Length (Cm) Gambar 4. Hubungan panjang dan bobot ikan tongkol komo dari perairan Laut Jawa Figure 4. Length and weight relationship of Euthynnus affinis in Java Sea. Analisis dengan program FISAT memperoleh nilai panjang asimtotik (L ) = 59,63 cm dan kecepatan pertrumbuhan (K) = 0,91 pertahun. Berdasarkan hasil analisis, total mortalitas (Z) dari ikan tongkol komo dari perairan Laut Jawa diperoleh 2,64 per tahun. Rata-rata suhu tahunan di perairan Laut Jawa 28 o C, maka jika dimasukkan dalam persamaan empiris Pauly (1980) didapatkan mortalitas alami (M) dari ikan tongkol komo adalah 1,13 pertahun. Mortalitas penangkapan (F) yang didapatkan dari F = Z-M adalah 1,51 pertahun dengan rasio eksploitasi (E) yang diperoleh 0,57 pertahun. Gambar 5 menunjukkan grafik pertumbuhan Von Bertalanffy dari ikan tongkol komo, sedangkan Gambar 6 menunjukkan pendugaan laju kematian total (Z) dan kurva pertumbuhan tongkol komo berdasarkan formula Von Bertalanffy di Laut Jawa. Gambar 5. Grafik pertumbuhan Von Bertalanffy ikan tongkol komo di Laut Jawa Figure 5. Graph of Von Bertalanffy growth function of Euthynnus affinis in the Java Sea 169

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 Gambar 6. Pendugaan laju kematian total ( Z) dan kurva pertumbuhan tongkol komo berdasarkan formula Von Bertalanffy Figure 6. Estimation of total mortality (Z) and growth curve of Euthynnus affinis according to Von Bertalanffy formula BAHASAN Ikan tongkol komo memiliki panjang minimum 11,7 cm FL, maksimum 55,4 cmfl dan panjang-rata-rata 34,1cm. Ukuran panjang ikan tongkol como di perairan Laut Jawa tersebuut lebih kecil bila dibandingkan dengan ukuran ikan tongkol como hasil penelitian sebelumnya. Menurut Kaymaran & Darvishi (2012) menyatakan bahwa panjang ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) di perairan Iran berkisar antara 28-88 cm, dengan rata-rata 66 cm dan Silas et al. (1985) melaporkan bahwa E.affinis sepanjang pantai India memiliki kisaran panjang 12-76 cm. Kasim & Abdussamad, (2003) dalam Kaymaram & Daryishi, (2012) menyebutkan bahwa E.affinis di perairan India mempunyai kisaran panjang 18-83 cm. Perbedaan kisaran panjang ikan tongkol diduga karena perbedaan alat tangkap yang digunakan, kondisi lingkungan dan variasi intensitas penangkapan (Motlagh et al., 2010 dalam Kaymaram & Daryishi, 2012). Berdasarkan atas analisis hubungan panjang dan berat ikan tongkol komo dari perairan Laut Jawa dihasilkan persamaan W = 0,00001L 3,1267 (r 2 = 0,986) dengan nilai b = 3,1267. Setelah dilakukan uji t dengan tingkat kepercayaan 95%, nilai t hitung = 0,004525 lebih kecil dari t tabel = 1,965, yang artinya peningkatan pertambahan berat sebanding dengan pertumbuhan panjangnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ikan tongkol komo mempunyai pola pertumbuhan isometrik dengan nilai b = 3 (b = 3,1267) yang menunjukkan pertumbuhan bobot ikan seiring dengan pertambahan panjangnya. Dibandingkan dengan hasil penelitian lainnya ternyata nilai a dan b hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya (Tabel 1). Menurut Biswas, (1993) dalam Kaymaram & Daryishi, (2012) perbedaan nilai a dan b ini tergantung pada jenis kelamin, tahap kedewasaan, intensitas makan, dan lain lainnya. Selanjutnya menurut Gulland (1983); Sparre & Venema (1992), variasi nilai b ini juga disebabkan berbagai faktor seperti suhu, salinitas, makanan (kuantitas, kualitas dan ukuran), jenis kelamin, tahap kematangan gonad dan kelesatarian habitat. Tabel 1. Parameter a dan b pada hubungan panjang dan bobot beberapa penelitian dari ikan tongkol komo Table 1. The parameters a & b in length- weight relationship of E. affinis Lokasi/Location "a" "b" Penulis/Author Samudera Hindia 0,0138 3,287 Silas,1967 India 0,0254 2,889 Rohit et al.,2012 India 0,019 2,95 James et al., 1993 Iran 0,0186 2,87 Kaymaram & Darvishi (2012) Laut Jawa 0,00001 3,127 Penelitian ini (Present study) 170

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 Analisis dengan program FISAT, menunjukkan ikan tongkol komo diperkirakan mampu tumbuh hingga mencapai panjang maksimum 59,63 cmfl dengan laju pertumbuhan sebesar 0,91 per tahun. Panjang maksimum ini tentu jauh berbeda dengan estimasi panjang asimtotik ikan tongkol komo yang ditemukan di perairan Iran. Perbedaan karakteristik lingkungan diduga menjadi faktor utama perbedaan panjang maksimum ini. Penelitian sebelumnya oleh Rohit et al.(2012) dalam Kaymaram & Darvishi (2012) melaporkan bahwa ikan tongkol jenis E. affinis akan tumbuh cepat pada umur 2 sampai 8 tahun, Selanjutnya menurut Pauly 1980 dalam Sparre & Venema 1999, nilai K merupakan suatu parameter yang menentukan seberapa cepat ikan mencapai panjang asimtotiknya. Ikan dengan nilai K yang tinggi pada umumnya memiliki umur yang relatif pendek. Nilai K yang diperoleh tidak jauh beda dengan penelitian dari Pillai et al., (2002) yang menghasilkan percepatan pertumbuhannya 0,9/tahun (Tabel 2). Laju kematian karena penangkapan (F) bervariasi menurut keragaman upaya penangkapan (f) setiap tahunnya. Nilai F menunjukkan seberapa besar dan meningkatnya tekanan penangkapan (fishing pressure) terhadap stok ikan di suatu perairan (Suman & Boer, 2005). Jika nilai mortalitas alami dari ikan tongkol komo, M = 1,13 per tahun dan mortalitas penangkapan F= 1,51 per tahun maka diperoleh nilai tingkat eksploitasi E= 0,57. Nilai laju eksploitasi (E) tersebut mengindikasikan bahwa tingkat eksploitasi ikan tongkol komo di perairan Laut Jawa sudah berada pada nilai optimumnya (E=0,50). Pauly et al (1984) menyebutkan bahwa nilai laju eksploitasi yang rasional dan lestari di suatu perairan berada pada nilai E<0,5 atau paling tinggi pada nilai E = 0,5. Tabel 2. Panjang asimtotik (L ) dan laju pertumbuhan (K) ikan tongkol komo dari berbagai lokasi penelitian Table 2. Asymptotic length (L ) and growth rate (K) of Euthynnus affinis from several locations Lokasi / Location K(tahun / year) L asimtotik (cm) Penulis /Author Thailand 0,46 76 Yesaki (1982) Srilanka 0,69 59,5 Joseph et al.(1987) Iran 0,69 86 Talebzadeh et al.(1997) India 0,90 81 Pillai et al. 2002 Srilanka 0,52 76,8 Dayaratne & Silva (1991) India 0,79 81,7 Khan (2004) India 0,56 81,92 Rohit et al. (2012) India 0,56 72,5 Ghosh et al. (2010) Iran 0,51 87,66 Motlagh et al. (2010) Iran 0,67 95,06 Kaymaran & Darvishi (2012) Laut Jawa 0,65 56,3 Penelitian ini (Present study) KESIMPULAN Frekuensi panjang cagak ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) sebanyak 8371 ekor diperoleh panjang minimum 11,7 cm FL, panjang maksimum 55,4 cmfl dan panjang-rata-rata 34,1cm, pola pertumbuhan ikan bersifat isometrik dengan persamaan W=0,00001L 3,1267 (r 2 = 0,986).Pendugaan parameter populasi ikan tongkol komo di Laut Jawa diperoleh panjang asimtotik (L ) = 59,63 cm, kecepatan pertumbuhan (K) = 0,91 per tahun dan umur pada saat ditetaskan (t 0 ) = 0,178 tahun. Mortalitas total (Z) adalah 2,64 per tahun dengan mortalitas alami (M) dan mortalitas penangkapan (F) masing-masing 1,13/tahun dan 1,51/tahun. Tingkat eksploitasi (E) ikan tongkol komo adalah 0,57. Hal ini berarti tingkat pemanfaatan ikan tongkol komo di Laut Jawa sudah dimanfaatkan secara penuh (fully exploited). PERSANTUNAN Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian Distribusi dan Kelimpahan Sumbetr daya Ikan Pelagis Besar di WPP 716 Laut Sulawesi dan WPP 712 Laut Jawa pada Balai Penelitian Perikanan Laut Muara Baru, Jakarta tahun anggaran 2012. DAFTAR PUSTAKA Abdussamad, E.M., P. Rohit, K.P.S. Koya & M. Sivadas. 2012. Status and potential of neritic tunas exploited 171

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 from Indian waters. IOTC Second Working Party on Neritic Tunas, Malaysia. Biswas, S.P. 1993. Manual of methods in fish biology. South Asian publishers. 157 p. Dayaratne, P. & De Silva, J., 1991. An assessment of Kawakawa stock on the west coast of Sri Lanka. Asian Fisheries Science. 4 (1991) : 219-226. Ditjen Perikanan Tangkap. 2013. Statistik Perikanan Tangkap 2011. Effendie, I. M. 2002. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor.112 p. Gayanilo Jr F.C., P. Sparre & D. Pauly. 1985. The FAO- ICLARM stock assessment tools (FISAT) Userr s guide. FAO computerized information series fisheries. ICLARM Contribution 1048. 126 p. Ghosh, S.S., Pillai, N.G.K. & Dhokia, H.K. 2010. Fishery, population characteristics and yield estimates of coastal tunas at Veraval. Indian.J.Fish.,57(2):7-13. Gulland, J.A. 1983. Fish stock assessment. A manual of Basic Methods. John Wiley & Sons. Chicester. 233 p. James, P.S.B.R., P.P. Pillai, A.A. Jayaprakash, N.G.K. Pillai, G. Gopakumar, H.M. Kasim, M. Sivadas & K.P. Said Koya. 1993. Fishery, biology and stock assessment of small tunas. In : D.Sudarsan & John, M.E. (Eds), Tuna research in India, Fishery Survey of India, Bombay, India, p.123-148. Jatmiko, I., R.K. Sulistyaningsih. & B.Setyadji. 2013. Study on population parameters of kawakawa, Euthynnus affinis (Cantor 1849), in Indian Ocean (a case study in Northwest Sumatra IFMA 572). Third Working Party on Neritic Tunas, Bali, Indonesia. Joseph,L., R. Maldeniya, & M.Van derknapp. 1987. Fishery, age and growth of Kawakawa and Frigate tuna. In : Collective volume of working documents presented at the expert consultation on stock assessment of tunas in the Indian Ocean, Colombo, Sri Lanka, 4-8 Dec, 1986. Indo-Pac.Tuna. Dev. Mgt. Programme. 2 : 113-23. Kasim, H.M. & E.M. Abdussamad. 2003. Stock assessment of coastal tunas along the east coast of India.In:Somvanshi,V.S.,Varghese,S.&Bhargava,A.K.(Eds). Proc.Tuna Meet. 2003, p. 42-53. Kaymaran, F. & M.Darvishi. 2012. Growth and mortality parameters of Euthynnus affinis in the northern part of the Persian Gulf and Oman Sea. Second Working Party on Neritic Tunas, Malaysia, 19 21 November 2012 IOTC 2012 WPNT02 14 Rev_1. 14 p. Khan,M.Z.,2004. Age and growth mortality and stock assessment of E.affinis from Maharashtra waters. Indian. J. Fish. 51(2) : 209-213. Motlagh, T., S.A. Hashemian & P. Kochanian. 2010. Population biology and assessment of Kawakawa in coastal waters of the Persian Gulf and Oman Sea (Hormozgan Province). Iran. J.Fish. Sci.,9 (2) : 315-326. Nurhakim, S., V.PH., Nikijuluw, D. Nugroho & B.I. Prisantoso. 2007. Fisheries Management Area Fisheries Status by Management Area. Research Center for Capture Fisheries, Jakarta. 47 p. Pauly, D. 1980. On the interrelationship between natural mortality, growth parameters, and mean environmental temperature in 175 fish stocks J. Cons. Int. Expl. Mer, 39: 175-179. Pauly, D. J. Ingles & R. Neal. 1984. Application to shrimp stocks of objective methods for the estimation of growth, mortality, and recruitment related parameters from length frequency data (ELEFAN I and II). In Penaeid Shrimp-Their Biology & Management. Fishing News Book Limited. Farnham-Surrey-England. 220-234. Pillai P.P., N.G.K. Pillai, C. Muthiah,Yohannan, T.M. H., Mohamed Kasim, Gopakumar, G. SaidKoya,K.P., B. ManojKumar, Sivadas, M.Nasser, A.K.V., U. Ganga, H.K Dhokia, S. Kemparaju, M.M. Bhaskaran, M.N.K Elayathu, Balasubramanian, T.S., Manimran, C., Kunjikoya,V.A. & T.T. Ajith Kumar. 2002. Status of exploitation of coastal tunas in the Indian Seas. In : Pillai, N.G.K., Menon, N.G. Pillai,P.P. & Ganga,U.(Eds). Management of Scombrid fisheries. Central Marine Fisheries Research Institute, Kochi, p.56-61. Rohit,P.,A.Chellappan, E.M.Abdussamad, K.K.Joshi, K.P. SaidKoya, M.Sivadas, Sh. Ghosh, A. Margaret Muthu Rathinam, S. Kemparaju, H.K.Dhokia, D.Prakasan & N. Beni. 2012. Fishery and bionomics of the little tuna, Euthynnus affinis exploited from Indian Waters. Indian J. Fish., 59 (3) : 33-42. Sparre, P. & S.C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Ikan Tropis. Buku 1: Manual. Terjemahan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438 p. 172

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 Setyohadi, D. 2010. Kajian pemanfaatan sumberdaya ikan lemuru (Sardinella lemuru) di Selat Bali: Analisis simulasi kebijakan pengelolaan 2008-2020. Disertasi (tidak dipublikasikan). Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang. Silas, E.G., P.P. Pillai, M. Srinath, A.A. Jayaprakash, C. Muthiah, V. Balan, T.M. Yohannan, T.M.P. Sirameetan, M. Mohan, P. Livingston, K.K. Kunhikoya, M.A. Pillai & P.S. Sarma. 1985. Population dynamics of tuna: Stock assessment in tuna fisheries of the exclusive economic zone of India : Biology and stock assessment, edited by E.G.Silas Bulletin Center Marine Fisheries Institute, Cochin, p. 2-27. Suman, A. & M. Boer. 2005. Ukuran pertama kali matang kelamin, musim pemijahan, dan parameter pertumbuhan udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) di perairan Cilacap dan sekitarnya. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 11 (2) : 69-74. Suwarso. 2009. Variasi Musiman Hasil Tangkapan Ikan Tongkol (Euthynnus sp.; Fam. Scombridae) di Laut Jawa. Prosiding Seminar Nasional Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. Universitas Gadjah Mada. 25 Juli 2009 Yogyakarta. 6 p. Talebzadeh,A., A. Salarpouri & S. Behzadi. 1997. Survey stocks of five species of Scombridae in Hormuzgan Coastal waters (Persan Gulf and Oman Sea). Persan Gulf and Oman Sea Ecological Research Institute. 155 p. Yesaki,M. 1982. Thailand. Biological and environmental observations. A report prepared for the Pole-and- Line Tuna Fishing in Southern Thailand Project. FAO.FI:DP/THA/77/008:46 p. 173

U. Chodrijah et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 167-174 Lampiran 1. Distribusi frekuensi panjang cagak ikan tongkol como (Euthynnus affinis) hasil tangkapan purse seine di perairan laut Jawa, tahun 2012 Appendix 1. Distribution of length frequency of Euthynnus affinis of fish catch in Java Sea, in 2012 No ML (cm) Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 1 12.5 1 1 1 1 2 16.5 6 4 55 72 11 7 3 20.5 2 155 22 284 116 50 60 2 3 4 24.5 73 517 182 219 120 63 87 24 40 5 28.5 57 82 129 153 179 60 105 53 2 3 136 6 32.5 64 34 42 101 62 9 125 12 18 57 69 7 36.5 81 93 41 45 29 5 81 87 46 117 77 8 40.5 177 50 15 32 30 6 29 136 77 154 104 9 44.5 298 184 72 40 71 66 60 129 121 182 218 10 48.5 222 120 228 49 70 137 101 130 139 129 128 11 52.5 26 14 96 8 14 10 7 21 6 15 11 12 56.5 3 4 Jumlah 1003 1255 835 987 764 418 663 594 409 657 786 174

PARAMETER POPULASI IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus malabaricus) DI PERAIRAN LAUT JAWA BAGIAN TIMUR POPULATION PARAMETERS OF RED SNAPPER (Lutjanus malabaricus) IN EASTERN JAVA SEA ABSTRAK Wahyuningsih, Prihatiningsih dan Tri Ernawati Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta Teregistrasi I tanggal: 13 Mei 2013; Diterima setelah perbaikan tanggal: 28 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 10 Desember 2013 Email : whynngsh_20@yahoo.com Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) merupakan jenis ikan demersal dari famili Lutjanidae yang bernilai ekonomis penting di Indonesia. Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai dengan November 2012 di Brondong, Lamongan Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek parameter populasi (Lc, Lm, L, t 0, K, Z, E, M, F) dari ikan kakap merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang rata-rata kakap merah yang tertangkap belum sempat melakukan pemijahan (Lc<Lm). Persamaan pertumbuhan ikan kakap merah adalah L t = 97,65 (1 e -0,220(t+0,024) ). Mortalitas alami (M) adalah 0,49 tahun -1, mortalitas karena penangkapan (F) = 0,55 tahun -1 sehingga mortalitas total (Z) = 1,04 tahun -1. Nilai eksploitasi (E) pada kakap merah (Lutjanus malabaricus) adalah 0,53. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatannya sudah mencapai tingkat optimum. Kata kunci: Kakap merah, Parameter populasi, Laut Jawa, Jawa Timur. ABSTRACT Red snapper (Lutjanus malabaricus) is a demersal fish species of the family Lutjanidae important economic value in Indonesia. The study was conducted from January to November 2012 in Brondong, Lamongan. This study aims to determine some aspects of population parameters (Lc, Lm, L, t 0, K, Z, E, M, F) of red snapper. The results showed that the average length of red snapper caught yet had a chance to spawning (Lc <Lm). Red snapper growth equation was Lt = 97.65 (1 - e -0,220(t+0,024) ). Natural mortality (M) was 0.49 year -1, mortality from fishing (F) = 0.55 per year -1 so that total mortality (Z) = 1.04 per year -1. Value of exploitation (E) on the red snapper (Lutjanus malabaricus) is 0.53. It shows that the optimum level of relative utilization. KEYWORDS : Red snapper, Population parameter, Java Sea, East Java. PENDAHULUAN Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) adalah jenis ikan demersal dari famili Lutjanidae yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Kakap merah merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub sektor perikanan yang permintaannya terus meningkat. Daerah penyebaran kakap merah di Laut Jawa ditemukan di perairan Bawean, Kepulauan Karimunjawa, Selat Sunda, selatan Jawa (Parangtritis Yogyakarta), selatan/barat Kalimantan, timur Kalimantan, perairan Sulawesi, Kepulauan Natuna, Kepulauan Lingga dan Kepulauan Riau lainnya (Marzuki & Djamal, 1992). Alat tangkap yang digunakan untuk kakap merah umumnya adalah pancing rawai, pancing ulur, jaring insang atau gill net, bubu, dan trawl dasar. Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong adalah salah satu tempat pendaratan ikan yang terletak di tepi pantai Utara Jawa dan merupakan bagian wilayah dari kabupaten Lamongan. Jenis alat tangkap ikan kakap merah yang dioperasikan oleh nelayan di Brondong adalah jaring cantrang, pancing rawai dasar dan pancing ulur. BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 175-179 Korespondensi penulis: Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta Jl. Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta Utara Berdasarkan lama operasi, penangkapan dapat digolongkan menjadi kapal harian (One day fishing) dan kapal mingguan (a week fishing). Daerah penangkapan kapal harian (5-10 GT) sekitar Tuban, Rembang, Madura, Pati, Jepara dengan jarak sekitar 30-210 mil. Daerah penangkapan kapal mingguan (>10 GT) adalah sekitar P. Bawean, Masalembo, Pulau Kangean, Matasiri, Banyuwangi, dan juga sekitar Pulau Kalimantan. Saat ini upaya penangkapan terus meningkat dan dikhawatirkan akan terjadi penangkapan berlebih terhadap sumberdaya ikan kakap merah, sehingga diperlukan suatu bentuk pengelolaan. Dalam rangka penentuan pengelolaan perikanan yang baik diperlukan informasi dasar terkait dengan parameter populasi ikan kakap merah di wilayah tersebut. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah memberikan informasi terkait parameter populasi (Lc, Lm, L, t 0, K, Z, E, M, F) ikan kakap merah khususnya yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam pengelolaan perikanan kakap merah di perairan Utara Jawa bagian timur. 175

Wahyuningsih, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 175-179 BAHAN DAN METODE Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong dan tempat pengumpul ikan di wilayah PPN Brondong pada Januari Nopember 2012. Sampel ikan kakap merah ( Lutjanus malabaricus) diperoleh dari hasil tangkapan campuran dari ketiga alat tangkap yaitu pancing ulur, pancing rawai dasar, dan jaring cantrang dan tidak dipisahkan berdasarkan jenis alat tangkap. Sampel ikan diukur panjang cagak (Fork length = FL) dengan mistar ketelitian 1 mm dan bobot ditimbang dengan timbangan 5 kg dan ketelitian 0.1 gram. Analisis Data Pendugaan Rata-Rata Panjang Tertangkap (Lc) Penghitungan nilai Lc diperoleh dari frekuensi kumulatif data panjang ikan pada posisi persen 50. Pendugaan Rata-Rata Panjang Pertama Kali Matang Gonad (Lm) Pendugaan rata-rata panjang pertama kali matang gonad (length at first maturity) dilakukan sesuai dengan prosedur penghitungan yang dilakukan Udupa (1986), melalui rumus : m = Xk + X/2 (X pi)...(1) dimana : m : log ukuran ikan saat pertama matang ovarium Xk : log ukuran ikan dimana 100% ikan sampel sudah matang X : selang log ukuran (log size increment) Pi : proporsi ikan matang pada kelompok ke-i Rata-rata ukuran ikan pertama matang ovarium diperoleh dari nilai antilog (m). Estimasi Parameter Pertumbuhan Pendugaan nilai koefesien pertumbuhan L dan K dilakukan dengan menggunakan metode ELEFAN I. Nilai dugaan umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan nol (t 0 ) diperoleh melalui persamaan Pauly (1980) dengan menggunakan rumus yaitu : Log- (t 0 ) = -0,3922 0,2752 Log L-1,038 Log K...(2) Ketiga nilai dugaan parameter pertumbuhan tersebut dimasukkan ke model pertumbuhan Von Bertalanfy. Pola pertumbuhan ikan kakap merah ( L. malabaricus) diperkirakan dengan menggunakan rumus Von Bertalanffy (Sparre & Venema, 1998) sebagai berikut : L t = L (1- e -k (t to) )...(3) dimana : L t : ukuran panjang ikan pada saat umur t tahun(cm) L : panjang maksimum ikan yang dapat dicapai t 0 : umur ikan teoritis pada saat panjangnya 0 cm K : Koefisien pertumbuhan Perhitungan tingkat kematian / mortalitas Tingkat kematian total (Z) dalam suatu kegiatan perikanan tangkap sangat penting untuk menganalisis dinamika populasi atau stok ikan. Kematian dapat dibedakan dalam kematian alami (M) dan kematian karena penangkapan (F). Kematian total dapat diduga dari pergeseran kelimpahan kelompok umur dan dari analisis kurva hasil tangkapan menggunakan data frekuensi panjang (Sparre & Venema, 1998). Kematian total dihitung menggunakan rumus : Z = M + F...(4) Kematian alami (M) diduga dengan metode persamaan empiris Pauly (1980) dengan rumus : Ln M = -0,0152 0,279*Ln L + 0,6543*Ln K + 0,4634* Ln T...(5) dimana : M : mortalitas alami per tahun K : Koefisien pertumbuhan L : panjang maksimum ikan T : Suhu rata-rata tahunan (ºC) HASIL DAN BAHASAN HASIL Rata-Rata Ukuran Pertama Kali Tertangkap (Lc) dan Rata-Rata Panjang Pertama Kali Matang Gonad (Lm) Pengukuran rata-rata panjang kakap merah (Lutjanus malabaricus) tertangkap pada tingkat kemungkinan 50 % (Lc) yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 38,51 cm FL (Gambar 1), sedangkan ukuran rata-rata panjang pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 50 cm FL. Kejadian ini menunjukkan bahwa nilai Lc < Lm yang berarti sebagian besar ikan banyak tertangkap sebelum mengalami pemijahan. Estimasi parameter pertumbuhan Ukuran panjang (FL) ikan kakap merah terkecil selama penelitian tercatat 15 cm dan ukuran terbesar adalah 94 cm. Berdasarkan data struktur ukuran panjang (FL) ikan kakap merah (Gambar 2) diperoleh nilai parameter pertumbuhan yaitu panjang asimtotik (L ) = 97,65 cm, koefisien pertumbuhan (K) = 0,220 per tahun, dan umur 176

Wahyuningsih, et et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 175-179 ikan kakap merah pada saat panjang sama dengan nol (t 0 ) = -0,024. Dengan demikian persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy untuk kakap merah (Lutjanus malabaricus) adalah L t = 97,65[1-e -0,220(t + 0,024) ]. digunakan, musim penangkapan dan daerah penangkapan pada saat sampling (Aziz et al., 1992) dan menurut Sparre & Venema (1998), perbedaan nilai K dapat juga disebabkan oleh kondisi lingkungan perairan. Frekuensi kumulatif (%) 100 80 60 40 20 0 Lc = 38,51 cm 0 20 40 60 80 100 Panjang cagak, FL (cm) Gambar 1. Panjang rata-rata (L 50 ) tertangkap ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) di Brondong (Laut Jawa). Figure 1. Average length (L 50 ) of red snapper (Lutjanus Malabaricus) caught in Brondong (Java Sea) Dugaan Umur Dengan menggunakan rumus pertumbuhan Von Bertalanffy, diperoleh nilai panjang asimtotik (L ) = 97,65 cm, nilai K = 0,220 per tahun, dan nilai dugaan umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan nol (t 0 ) = -0,024 per tahun, sehingga diperoleh persamaan pertumbuhan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) yang didaratkan di Brondong, Lamongan (Pantai Utara Jawa) sebagai berikut: L t = 97,65[1-e -0,220(t + 0,024) ]. Dari persamaan tersebut dapat diduga panjang dari ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) pada umur tertentu (Gambar 3). Panjang cagak/fl (cm) 100 80 60 40 20 Lt = 97.65(1-e -0.220(t-0.024) ) L 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 Umur (tahun) Gambar 2. Sebaran frekuensi panjang kakap merah (Lutjanus malabaricus) hasil analisis program ELEFAN. Figure 2. Length frequency distribution of red snapper (Lutjanus malabaricus) resulted from ELEFAN Program analysis. Beberapa penelitian terkait dengan parameter pertumbuhan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) telah banyak dilakukan pada penelitian sebelumnya di lokasi yang berbeda dari penelitian ini, diantaranya adalah Taiwan, China, Kuwait, Australia, Utara Jawa, dan Kotabaru (kalimantan Selatan) (Tabel 1). Pada penelitian Prihatiningsih et al., (2012) di Kotabaru (Kalimantan Selatan) diperoleh nilai L = 57,86 cm FL dan K = 0,238 per tahun sehingga dari beberapa parameter populasi yang berbeda, diperoleh tingkat pertumbuhan yang berbeda pula. Perbedaan parameter pertumbuhan disebabkan perbedaan ukuran ikan, lama waktu, alat tangkap yang Gambar 3. Kurva pertumbuhan Von Bertalanffy ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) Figure 3. Von Bertalanffy growth curve of red snappers (L. malabaricus). Ukuran panjang (FL) ikan kakap merah terkecil selama penelitian tercatat 15 cm diduga berumur 0,74 tahun (sekitar 9 bulan), ukuran terpanjang tercatat 94 cm diduga mencapai 15 tahun, ukuran panjang rata-rata tertangkap (Lc) adalah 38,51 cm diduga mencapai umur 2 tahun dan panjang pertama kali matang gonad (Lm) adalah 50 cm diduga berumur 3 tahun. Estimasi Tingkat Kematian (Mortalitas) Dari parameter pertumbuhan Von Bertalanffy ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) yang telah dihitung, dapat diperoleh nilai tingkat kematian alami (M) sebesar 0,49 per tahun dan nilai tingkat kematian karena penangkapan (F) sebesar 0,55 per tahun, sehingga tingkat kematian total (Z) = 1,04 per tahun. Dari hasil ini dapat dihitung nilai eksploitasi/tingkat pemanfaatan (E) ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) yang didaratkan di Brondong sebesar 0,53. 177

Wahyuningsih, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 175-179 BAHASAN Berdasarkan hasil penelitian ikan kakap merah yang tertangkap di laut Jawa dan didaratkan di Brondong diperoleh nilai Lm > Lc (Lm = 50,0 ; Lc = 38,51). Hal itu menunjukkan bahwa ukuran rata-rata panjang pertama kali tertangkap lebih kecil dari ukuran pertama kali matang gonad, sehinngga dapat dikatakan bahwa sebagian besar ikan-ikan yang tertangkap belum sempat melakukan pemijahan. Oleh karena itu perlu suatu kebijakan dalam pengelolaan untuk menjaga sumberdaya ikan yang berkelanjutan, salah satunya adalah dengan menentukan minimum ukuran yang boleh ditangkap yaitu sebesar > 50 cm. Menurut Grimes (1987), ikan sejenis kelompok kakap mencapai ukuran kematangan gonad pada ukuran panjang 40% - 50 % dari panjang maksimumnya dan perbedaan ukuran pada saat maturasi sangat dipengaruhi oleh kedalaman serta tipe habitat kaitannya dengan kelimpahan makanan. Nilai Lc ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) hasil penelitian ini (Lc = 38,51 cm) menurun dibandingkan dengan hasil penelitian Prihatiningsih et al., (2012) di perairan Kotabaru (Kalimantan Selatan) yaitu 40,5 cmfl dan Herianti et al. (1993) di perairan Laut Jawa yaitu 43,3. Nikolskii (1969) mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan faktor penting dalam dinamika populasi, karenanya informasi mengenai parameter pertumbuhan perlu diketahui sebab dapat digunakan sebagai dasar untuk menduga kondisi sumberdaya di suatu perairan seperti besarnya sediaan, tingkat pengusahaan serta kemungkinan pengelolaannya. Berdasarkan data hasil penelitian ikan kakap merah di Brondong dan hasil penelitian sebelumnya seperti yang telah ditampilkan pada tabel 1, diperoleh nilai K yang kurang dari satu. Tabel 1. Estimasi parameter pertumbuhan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dengan daerah penangkapan yang berbeda. Table 1. Estimation of parameters growth red snappers with different of fishing ground. L K t 0 Lokasi/Location Sumber/Ref (cm) (per tahun) (tahun) 96,9 (TL) 0,147 Taiwan (Laut China Selatan) 93,0 (TL) 0,142-0,82 China (laut China Selatan) 70,7 (SL) 0,168 0,418 Australia Edwards (1991) 68,9 (TL) 0,358 Kuwait Mathews & Samuel (1991) 56,6 (FL) 0,262 0,009 Australia 64,4 (TL) 0,338 0,397 Utara Jawa (Indonesia) Herianti (1993) 57,86(FL) 97,65 (FL) 0,238 0,220 0,588-0,024 Kalimantan Selatan (Indonesia) Brondong,Lamongan (Utara Jawa) Prihatiningsih (2012) Penelitian ini (2012) Menurut Gulland (1983), apabila nilai K yang kurang dari satu menunjukkan bahwa ikan ini mempunyai pertumbuhan yang lambat. Laju pertumbuhan yang lambat sangat mempengaruhi pola pemanfaatannya. Untuk mencapai pola pemanfaatan yang lestari, perlu dipertimbangkan waktu yang tepat untuk menangkap ikan, baik ditinjau dari sumber dayanya maupun segi ekonominya. Ikan-ikan yang berumur muda harus dibiarkan tumbuh dewasa terlebih dahulu sebelum ditangkap. Penangkapan ikan-ikan muda yang berlebihan akan mengakibatkan kelebihan tangkap pertumbuhan (growth overfishing). Hal ini juga menyebabkan kelebihan tangkap penambahan baru (recruitment overfishing), karena ikan-ikan muda yang belum sempat dewasa dan bertelur sudah tertangkap terlebih dahulu sehingga kehilangan kesempatan untuk penambahan baru (recruitment). Hasil penelitian ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) di Brondong, pada ukuran panjang (FL) terkecil 15 cm diduga berumur 0,74 tahun sedangkan pada ukuran panjang (FL) terbesar 94 cm diduga berumur 15 tahun. Menurut Newman et al. (2000) ikan kakap merah jenis Lutjanus malabaricus mempunyai umur yang cukup panjang dapat mencapai 20 tahun dan pertumbuhannya relatif lambat setelah mencapai dewasa. Ikan yang memiliki koefisien pertumbuhan yang tinggi pada umumnya memiliki umur yang relatif pendek (Pauly, 1980). Tingkat kematian ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) baik secara alami (M) maupun karena aktifitas penangkapan (F) relatif sama sehingga tingkat pemanfaatannya cukup optimum (E = 0,53). Menurut Gulland (1983), tingkat pemanfaatan optimum berada pada saat E = 0,5. Kondisi tersebut perlu kehati-hatian dalam melakukan pemanfaatan, tidak dilakukan penambahan 178

Wahyuningsih, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 175-179 upaya penangkapan karena jika terjadi penambahan upaya penangkapan dikhawatirkan pemanfaatannya mengarah pada kondisi over fishing. KESIMPULAN Rata-rata ikan yang tertangkap belum sempat melakukan pemijahan (Lc < Lm). Persamaan pertumbuhan ikan kakap merah adalah L t = 97,65[1-e -0,220(t + 0,024) ]. Tingkat pemanfaatan (E) adalah 0,53 yang berarti bahwa tingkat pemanfaatannya mencapai tingkat optimum sehingga perlu kehati-hatian dalam upaya pengelolaannya dengan tidak menambah upaya penangkapan sehingga kelestarian sumberdaya ikan kakap merah dapat dipertahankan. PERSANTUNAN Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan penelitian: Pengkajian Sumber Daya Ikan Demersal di WPP 716 Laut Sulawesi dan WPP 712 Laut Jawa di Balai Penelitian Perikanan Laut Tahun 2012. DAFTAR PUSTAKA Aziz, K.A., Muchsin, I. & Boer, M. 1992. Kajian Dinamika Populasi Ikan-ikan Niaga Utama di Perairan Pantai Barat Bengkulu (Laporan Penelitian, tidak dipublikasikan). Fak. Perikanan IPB. Bogor. Edwards, R. R. C. & S. Shaher. 1991. The biometrics of marine fishes from the Gulf of Aden. Fishbyte 9 (2): 27-29. Grimes, C. B. 1987. Reproduvtive biology of the lutjanidae: a review. Westview Press. Boulder and London. pp: 239-294. Gulland, J. A. 1983. Fish stock assessment. A Manual of Basic Methods. John Wiley & Sons. Chicester. 233 p. Herianti, I. & R. Djamal. 1993. Dinamika populasi kakap merah Lutjanus malabaricus (Bloch and Schneider) di perairan Utara Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 78: p. 18 25. Marzuki, S. & R. Djamal. 1992. Penelitian penyebaran kepadatan stok dan beberapa parameter biologi induk kakap merah dan kerapu di perairan laut jawa dan kepulauan Riau. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. 68 p. 49-65. Mathews, C. P. & Samuel, 1991. Growth, mortality and length-weight parameters for some Kuwaiti fish and shrimp. Fishbyte 9 (2): 30-33. Newman, S. J., M. Cappo & D. Williams. 2000. Age, growth, mortality rates, and corresponding yield estimates using otoliths of the tropical red snappers, Lutjanus erythropterus, L.malabaricus, and L. Sebae, from the central Great Barrier Reef. Fisheries Research. 48: 1-14. Nikolskii, G. V. 1969. Fish population dynamics. Oliver and Boyd, Edinburg. 323 p. Pauly, D. 1980. A selection of simple methods for the assessment of tropical fish stocks. FAO Fish. Circ. FIRM/C 729. Roma. 54 pp. Prihatiningsih & Wahyuningsih. 2012. Pertumbuhan, umur dan mortalitas ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dari perairan Kotabaru (Pulau Laut) Kalimantan Selatan. Prosiding. Seminar Nasional Perikanan Tangkap. Manado 30-31 Oktober 2012. p. 373-383. Sparre, P. & S. C. Venema. 1998. Introduksi pengkajian stok ikan tropis. Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan (Terjemahan) : Introduction to Tropical fish stock assessment. FAO Fish Tech. Paper. 306.(1) 376 pp. Udupa, K. S. 1986. StatisticaL method of estimating the size of first maturity in fish. Fishbyte ICLARM. Manila. Vol 4 No 2. August 1986. 8-1. 179

180

JENIS PAKAN ALAMI LARVA IKAN BETOK (Anabas testudineus Bloch) DI PERAIRAN RAWA MONOTON DANAU BANGKAU, KALIMANTAN SELATAN NATURAL FEED ON FISH LARVAE OF CLIMBING PERCH (Anabas testudineus Bloch) IN THE MONOTONOUS MARSHES WATERS OF DANAU BANGKAU, SOUTH KALIMANTAN ABSTRAK Rukmini 1, Marsoedi, Diana Arfiati 2, dan Athaillah Mursyid 3 1 Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2 Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur 3 Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan Teregistrasi I tanggal: 01 Juni 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal: 25 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 06 Desember 2013 email : rukmini_bp@yahoo.com Usaha pembenihan ikan merupakan alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan benih dalam budidaya ikan. Keberhasilan usaha pembesaran ikan betok dibatasi oleh tingkat kelangsungan hidup larva bagi pertumbuhan dan jenis pakan alami larva ikan di habitatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan kelimpahan pakan alami yang dikonsumsi larva ikan betok di perairan rawa monoton Danau Bangkau Kalimantan Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2011-Januari 2012. Pengambilan sampel pakan dan larva dilakukan pada dua tempat yang berbeda pada kedalaman 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan jenis plankton yang dikonsumsi oleh larva ikan betok berubah sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan dan kelimpahan plankton di perairan. Jenis plakton dominan yang dimakan oleh larva betok yaitu Mougeotia sp. 265 sel/l diikuti oleh Coconeis sp. 246 sel/l, Keratella sp. 174 sel/l, Chlorococcum sp. 110 sel/l, Brachionus sp. 98 sel/l, dan Navicula sp. 47 sel/l. Jenis plakton dominan yang dimakan berubah sesuai dengan umur larva. KATA KUNCI : Pakan alami, ikan betok, Anabas testudineus, Danau Bangkau ABSTRACT Business seeding fish an alternative problem-solving to overcome the gap between availability and needs seeds. The success of the business of enlargement climbing fish bounded by the degree of continuity larvæ live for growth and a kind of natural fish larvae feed on their habitat. The purpose of this research was to know the type of plankton that were consumed by climbing perch fish larvae in the waters of the monotonous swamp of Danau Bangkau. The research was conducted from December, 2011- January, 2012. The sample feed and larvæ carried on two different places at the depth of 30 cm. The result showed plankton species consumed by climbing fish larvae change according to size openings mouth fish and abundance plankton in waters. A kind of plankton dominant which are eaten by the climbing larvæ namely Mougeotia sp. 265 cells/l followed by Coconeis sp. 246 cells/l, Keratella sp. 174 cells/l, Chlorococcum sp. 110 cells/l, Brachionus sp. 98 cells/l, and Navicula sp. 47 cells/l. A kind of plankton dominant eaten changed in accordance with the age of larvæ. KEYWORDS : Natural feed, climbing perch, Anabas testudineus, Danau Bangkau PENDAHULUAN Perairan rawa tersebar di seluruh Kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan yang dapat dikelompokkan menjadi perairan rawa monoton yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai dengan luas ±452.704 ha, rawa tadah hujan terdapat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, dan Kabupaten Pulau Laut, dengan luas ±169.094 ha, dan rawa pasang surut terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Laut, dan Kota Baru dengan luas 372.637 ha (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2008). Rawa monoton dapat BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 diartikan sebagai suatu perairan luas dan terbuka yang terus menerus terendam air sepanjang tahun dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Rawa tadah hujan adalah sebagai suatu perairan rawa yang terendam oleh air pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau lahan perairan ini akan kering dengan kedalaman maksimal e 1 meter. Sedangkan perairan rawa pasang surut merupakan perairan yang sangat terpengaruh oleh keadaan pasang dan surut air laut yang masuk dalam perairan rawa baik pasang tunggal (purnama) maupun pasang ganda (perbani) dengan kedalaman maksimal > 4 meter. Tiga tipe perairan rawa terluas terdapat di Kabupaten Hulu Sungai, Korespondensi penulis: Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan Jl. Brigjen H. Hasan Basry Kotak Pos 219 Telp. 0511-3304177 Banjarmasin, Kalimantan Selatan Kode Pos 70123 181

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala (Balai Rawa, 2010). Perairan rawa monoton Danau Bangkau termasuk pada wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mempunyai potensi beberapa jenis ikan rawa diantaranya ikan betok (Anabas testudineus Bloch). Ikan betok merupakan ikan ekonomis yang mempunyai harga cukup tinggi dan sangat digemari masyarakat Kalimantan Selatan. Menurut Slamat et al. (2012), tingkat keragaman genetik mt-dna D Loop intrapopulasi ikan betok yang berasal dari perairan rawa monoton lebih tinggi haplotipenya (sebanyak dari 5) dibandingkan dengan populasi ikan betok di rawa pasang surut (sebanyak 3) dan rawa tadah hujan (sebanyak 2). Ditinjau dari segi produktivitasnya, produksi ikan betok dari perairan rawa monoton lebih tinggi dibandingkan dengan perairan rawa pasang surut dan rawa tadah hujan. Ikan betok dari perairan rawa monoton, memiliki panjang sekitar 25 cm dan berat maksimal 300 g per ekor serta rasa dagingnya lebih enak dibandingkan dengan ikan betok dari kedua perairan rawa lainnya. Permasalahan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani semata-mata masih dari hasil penangkapan ikan betok di alam, karena kegiatan budidaya ikan betok terkendala pada pembenihan. Kelangsungan usaha pembenihan ikan betok dibatasi oleh tingkat kelangsungan hidup larva yang umumnya masih sangat rendah (Marlida, 2001). Hal ini disebabkan oleh periode larva yang merupakan periode kritis dalam daur hidup ikan. Ukurannya pada kemampuan larva dalam menerima pakan alami saat peralihan dari masa endogenous feeding ke masa exogenous feeding. Kesesuaian pakan alami tersebut berhubungan juga dengan ukuran bukaan mulut (Kamler, 1992). Pakan alami berupa plankton peranannya sangat besar bagi sejarah kehidupan ikan. Pakan alami diberikan pada fase larva harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut larva, agar mendukung kelangsungan hidup larva. Singh & Gupta (2010) melakukan penelitian tentang plankton di lingkungan perairan bagi ikan jenis Gambusia holbrook famili Poeciliidae. Hasilnya menunjukkan terdapat hubungan positif antara ukuran bukaan mulut ikan dan ukuran plankton yang dimakan. Apabila ukuran bukaan mulut ikan bertambah besar maka ukuran plankton yang dimakan juga bertambah besar. Informasi tentang jenis plankton dan kelimpahannya yang dikonsumsi larva ikan betok dikaitkan dengan ukuran bukaan mulut larva ikan betok belum banyak diteliti. Umumnya penelitian ikan betok yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya mengulas tentang usaha pembesarannya seperti dilaporkan oleh (Muhammad, 1987), (Normalinda, 2002) dan (Robianti, 2006). Menurut Uttam et al. (2005), populasi ikan betok di alam sudah berkurang dan termasuk pada kategori mudah punah atau kelulushidupannya rendah, sehingga dan dimasukkan pada kriteria International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Upaya konservasi dan pemeliharaan ikan betok yang intensif sangat diperlukan untuk melestarikan ikan betok. Ikan betok termasuk ikan yang mudah bereproduksi secara alami ataupun buatan, tetapi mortalitas larvanya sangat tinggi, sehingga memerlukan kajian yang lebih intensif untuk menemukan jenis pakan yang dikonsumsi larva ikan betok. Tidak adanya informasi mengenai jenis plankton yang dikonsumsi larva yang berhubungan dengan ukuran bukaan mulut, maka pemeliharaan larva ikan dalam budidaya rendah. Menurut Morioka et al, (2009), masa pemeliharaan larva ikan betok sampai berumur 30 hari merupakan masa paling kritis. Ditambahkan oleh Binoy & Thomas (2008) tersedianya makanan larva alami bervariasi sesuai dengan kondisi habitat dan waktu. Tulisan ini bertujuan untuk membahas jenis ukuran dan kelimpahan plankton yang dikonsumsi larva ikan betok pada umur 3 sampai 31 hari serta ukuran bukaan mulut ikan di perairan rawa monoton Danau Bangkau Kalimantan Selatan. Data dan informasi yang diperoleh sangat penting dalam upaya melestarikan ikan betok. Salah satu upaya tersebut diperoleh melalui kegiatan budidaya ikan, khususnya pemeliharaan larva ikan betok. Kecuali itu, informasi ini diharapkan berguna dalam mengatasi permasalahan pembenihan dan restocking benih ikan betok di alam. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di perairan rawa monoton Danau Bangkau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan pada bulan Desember 2011- Januari 2012. Pengamatan mikroskopis terhadap jenis dan ukuran plankton serta ukuran bukaan mulut larva ikan betok dilakukan di Laboratorium Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru dan Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin Kalimantan Selatan. Pengambilan sampel plankton menggunakan plankton net berukuran 20 µm yang disaring dari volume air sebanyak 20 liter. Contoh air diperoleh dari dua kali ulangan di setiap stasiun pengambilan sampel pada kedalaman sekitar 30 cm dari permukaan perairan di dua tempat pengamatan. Sebagai pengawet digunakan formalin dengan kadar 4 %. Pengamatan ukuran bukaan mulut larva ikan betok mulai dilakukan setelah larva berumur 3 hari yang ditandai oleh yolk (cadangan kuning telur) larva sudah hampir terserap habis dan mulut larva mulai terbuka. Pengamatan dilakukan selang tiga hari yaitu pada saat larva berumur 3 hari, 7 hari, 11 hari, 15 hari, 19 hari, 23 hari, 27 hari dan 31 hari. Larva diambil sebanyak 10 ekor dari hasil pemijahan induk betok yang dirangsang menggunakan hormon ovaprim dan ditetaskan pada hapa yang ditempatkan di perairan rawa Danau Bangkau. 182

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 Sampel larva dibedah perutnya dan dikeluarkan saluran pencernaannya. Identifikasi jenis plankton menggunakan mikroskop elektrik dan mengacu pada Shirota (1996). Kelimpahan plankton dihitung dengan menggunakan persamaan Hardy (1970) dalam Hisbi (1989), dengan rumus sebagai berikut : N= n s l... (1) m a v Keterangan : N = jumlah total plankton per liter n = jumlah individu yang ditemukan di setiap lapang pandang m = jumlah tetes sampel yang diperiksa s = volume sampel terkonsentrasi (ml) a = volume air satu tetes sampel (ml) di bawah gelas penutup v = volume air yang disaring (L) Ukuran bukaan mulut (UBM) larva ikan betok diamati melalui mikroskop yang dilengkapi dengan kamera dan komputer. Cara mengukur bukaan mulut sesuai dengan bukaan panjang rahang atas (PRA) larva ikan betok (Gambar 1) dan persamaan (2) sebagai berikut : B = rahang atas bagian belakang Analisis kebiasaan makan larva ikan (plankton yang dikonsumsi larva ikan) menggunakan metode frekuensi kejadian dari Effendie (1997) yaitu dengan mencatat jumlah masing-masing jenis plankton yang terdapat pada lambung yang dinyatakan dalam prosen. Perhitungan frekuensi kejadian jenis makanan (plankton) di dalam lambung larva ikan melalui Index of preponderm dari Effendie (1997) sebagai berikut : Oi = Fk...(3) ln x100% Keterangan : Oi = persentasi frekuensi keberadaan satu jenis pakan (%) Fk = frekuensi keberadaan satu jenis pakan ln = jumlah lambung larva ikan yang berisi plankton HASIL DAN BAHASAN HASIL Kelimpahan Jenis Plankton Hasil perhitungan kelimpahan plankton yang tersaring dari pengambilan contoh air pada habitat larva ikan betok di perairan rawa monoton Danau Bangkau disajikan pada Tabel 1. Ukuran Bukaan Mulut Larva Ikan Gambar 1. Cara mengukur bukaan mulut larva betok Figure 1. Method of measuring mouth openings of larvæ climbing perch UBM = PRA x 2...(2) Keterangan : UBM = ukuran bukaan mulut (μm) PRA = panjang rahang atas (μm) A = rahang atas bagian depan Pengamatan terhadap ukuran bukaan mulut rata-rata larva ikan betok disajikan pada Tabel 2 Makanan Larva Ikan Betok Secara umum makanan larva ikan betok terdiri dari plankton jenis Coconeis sp., Mougeotia sp., dan Brachionus sp. Berdasarkan dominasi jenis plankton yang dimakan oleh larva berbeda menurut ukuran bukaan mulut ikan dan umur larva (Tabel 3). 183

Tabel 1. Kelimpahan rata-rata plankton di perairan rawa Danau Bangkau, Desember 2011. Table 1. The average abundance of plankton in the swamp waters of Danau Bangkau, December 2011. Tabel 2. Ukuran rata-rata bukaan mulut larva ikan betok selama 31 hari Table 2. The average size of mouth openings of the larvae of climbing perch during 31 days Umur larva (Age of larvae), days Ukuran bukaan mulut (µm) (Mouth opening) 3 hari 103,11 1,56 7 hari 106,02 1,85 11 hari 114,35 2,12 15 hari 120,23 8,16 19 hari 131,62 9,77 23 hari 162,46 11,39 27 hari 997,40 13,3 31 hari 1019,15 15,4 Panjang total (mm) (Total length) Tabel 3. Jenis plankton yang dikonsumsi menurut ukuran bukaan mulut larva ikan betok Table 3. Species dominant of plankton consumed as size of mouth openings by climbing perch fish larvae Umur larva (hari) Age of larvae (days) Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 Kelompok (Grup) Jenis plankton (Species) Rata-rata kelimpahan plankton (sel/l) (Average of plankton abundance) Fitoplankton Chlorella sp. 38 Coconeis sp. 246 Mougeotia sp. 265 Chlorococcum sp. 110 Spirogyra sp. 27 Binuclera sp. 13 Pediastrum sp. 11 Nitzschia sp. 13 Navicula sp. 47 Diatoma sp. 38 Zooplankton Brachionus sp. 98 Keratella sp. 174 Kisaran ukuran bukaan mulut (µm) Range of mouth opening (µm) Jenis plankton yang dominan dikonsumsi larva Dominated of plankton species consumed by larvae 3-7 103,1-106,0 Coconeis sp. (80-100 %), Mougeotia sp. (40-60 %) 7-11 106,0-114,4 Coconeis sp. (80-100 %), Mougeotia sp. (20-40 %). 11-15 114,4-120,2 Coconeis sp. (20-100 %), Brachionus sp (0-60 %), Keratella sp. (0-80 %) 15-19 120,2-131,6 Navicula sp. (20-60 %), Diatoma sp. (0-40 %), Brachionus sp. (0-60 %), Keratella sp. (80-100 %). 19-23 131,6-162,5 Navicula sp. (20-60 %), Brachionus sp. (40-60 %), Keratella sp. (0-100 %). 23-27 162,5-997,4 Brachionus sp. (40-60 %), Keratella sp. (80-100 %) 27-31 997,4-1019,2 Navicula sp. (0-40 %), Brachionus sp. (0-60 %), Keratella sp. (80-100 %). 184

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 BAHASAN Kelimpahan Jenis Plankton Tabel 1 menunjukkan jenis plankton yang paling melimpah adalah Mougeotia sp. (265 sel/l), diikuti oleh Coconeis sp. (246 sel/l), Keratella sp. (174 sel/l), Chlorococcum sp. (110 sel/l), dan yang lainnya kurang dari 100 sel/l. Data kelimpahan plankton yang diperoleh juga dapat menentukan kreteria perairan berdasarkan struktur komunitas plankton. Menurut Lund et al. (1958), kelimpahan plankton merupakan petunjuk dari kesuburan suatu perairan. Kreteria perairan berdasarkan kelimpahan plankton yaitu kelimpahan plankton >40 x 10 6 sel/m 3 (perairan subur), 0,1 40 x 10 6 sel/m 3 (kesuburan sedang), dan <0,1 x 10 6 sel/ m 3 (kurang subur). Untuk melihat kesuburan perairan berdasarkan kelimpahan plankton menurut Lund et al. (1958) tersebut, maka data kelimpahan plankton harus dikonversikan menjadi sel/m 3. Setelah nilainya dikonversikan, maka dapat diketahui bahwa kesuburan perairan rawa monoton Danau Bangkau dapat digolongkan pada perairan dengan kesuburan sedang yaitu nilai kelimpahan plankton termasuk 0,1 40 x 10 6 sel/m 3. Ukuran Bukaan Mulut Larva Ikan Ukuran bukaaan mulut larva ikan betok bertambah sesuai dengan perubahan morfologi tubuh dan bertambahnya umur. Pada larva berumur 3 hari (ukuran bukaan mulut 103,1 μm) sampai larva berumur 23 hari (ukuran bukaan mulut 162,5 μm), menunjukkan pertambahan ukuran bukaan mulut tidak begitu nyata. Setelah larva berumur 23-31 hari (ukuran bukaan mulut 1019,2 μm), peningkatan ukuran bukaan mulut terlihat nyata. Perubahan bentuk dan morfologi ukuran bukaan mulut larva ikan betok dapat dilihat pada Gambar 2. A B C D F E G H Gambar 2. Perubahan bentuk morfologi dan ukuran bukaan mulut larva ikan betok. Figure 2. Change of morphological size of openings the mouth of climbing perch fish larvae. Keterangan/Remarks : A = umur 3 hari E = umur 19 hari B = umur 7 hari F = umur 23 hari C = umur 11 hari G = umur 27 hari D = umur 15 hari H = umur 31 hari Gambar 2A-2C menggunakan perbesaran 40 kali dan Gambar 2D-2H menggunakan perbesaran 15 kali. Figure 2A-2C with scaled up 40 x, and Figure 2D-2H with scaled up 15 x Penelitian yang telah dilakukan oleh Doi dkk. (1991) pada ikan kerapu (Ephinephelus suillus) didapatkan ukuran bukaan mulutnya 150 180 μm pada umur 3 hari. Selanjutnya hasil penelitian Bagarinnao (1986) dalam Dert (1991) pada ikan beronang (Siganus gutatus) didapatkan ukuran bukaan mulutnya 125μm (36 jam setelah menetas). Makanan Larva Ikan Betok Tidak semua jenis plankton yang terdapat di rawa monoton Danau Bangkau dikonsumsi oleh larva ikan betok berumur 3-31 hari, tetapi hanya jenis-jenis plankton tertentu saja. Komposisi jenis plankton yang dikonsumsi berubah sesuai dengan bertambahnya umur, ukuran badan, dan bukaan mulut larva. Jenis plankton dominan yang dimakan pada umur larva 3-11 hari adalah Coconeis sp dan Mougeotia sp,; umur 11-15 hari oleh jenis Coconeis sp, Brachionus sp, dan Keratella sp.; umur 15-23 hari oleh jenis Navicula sp, Diatoma sp, Brachionus sp, dan Keratella sp.; umur 23-31 hari oleh jenis Navicula sp, Brachionus sp, dan Keratella sp. 185

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 Larva ikan betok mulai mengkonsumsi plankton di perairan pada umur 3 hari, karena cadangan kuning telurnya (yolk) sudah hampir terserap habis dan mulutnya sudah mulai terbuka. Menurut Waynarovich & Horvart (1980), larva ikan dengan kuning telur besar dapat hidup lebih lama tanpa pakan dari luar. Seiring dengan berkurangnya kuning telur, maka bukaan mulut dan saluran pencernaan juga semakin berkembang. Larva ikan mulai (%) 120 100 80 60 40 20 mencari pakan dari luar pada saat kuning telur masih tersisa sekitar 20 %-30%. Persentase frekuensi keberadaan plankton dalam lambung (saluran pencernaan) larva ikan yang diambil dari perairan rawa monoton Danau Bangkau dijelaskan pada Gambar 3. Chlorella sp. Coconeis sp. Mougeotia sp. Chlorococcum sp. Spirogyra sp. Binuclera sp. Nitzschia sp. Navicula sp. Diatoma sp. Brachionus sp. Keratella sp. 0 3 7 11 15 19 23 27 31 Umur larva (hari) Gambar 3. Persentasi (%) frekuensi keberadaan plankton dalam lambung larva ikan betok Figure 3. Percentage ( % ) of plankton in the gastric of climbing perch fish larvae Jenis plankton diperairan yang dikonsumsi oleh larva ikan betok mengalami perubahan sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Demikian juga jenis yang dikonsumsi sesuai dengan kelimpahan plankton di perairan (Gambar 3). Kelimpahan plankton/pakan alami yang tinggi di habitat larva ikan bila sesuai dengan ukuran bukaan mulut larva, maka akan memperbesar peluang pakan alami dikonsumsi oleh larva, karena itu jumlah yang termakan merupakan fungsi dari densitas pakan. Menurut Wootton (1994), faktor yang menentukan seleksi mangsa (pakan alami) adalah tersedianya pakan, dimana pengambilan pakan alami akan meningkat dengan meningkatnya densitas plankton, karakteristik mangsa dan predator, mudah tidaknya pakan dicerna serta pengalaman predator terhadap pakan. Pakan yang dikonsumsi ikan biasanya berubah sesuai dengan pertumbuhan dan perubahan morfologi ikan. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat proporsi jenis pakan alami yang dikonsumsi dalam hal ukuran bukaan mulut, dan umur larva ikan serta jenis makanan alami fitoplankton ke zooplankton. Perubahan jenis makanan tersebut terkait dengan pertumbuhan sirip larva, dan larva sudah mulai aktif berenang. Morioka et al. (2009) menyebutkan bahwa pertumbuhan sirip larva betok sudah mulai tumbuh dan lengkap pada ukuran larva >8,3 mm. Gerigi mulai tumbuh pada panjang total larva >5 mm. Selain itu, daerah yang disenangi berpindah dari bagian permukaan ke bagian tengah perairan. Sebagian besar larva mulai aktif makan dan berenang pada ukuran panjang total 7 mm Menurut Nikolsky (1963), bahwa selama proses pertumbuhan ikan akan terjadi perubahan ukuran makanan dengan ukuran bukaan mulutnya. Selain ukuran makanan, jenis atau kualitas makanan juga bertambah baik sesuai dengan perkembangan larva. Pada saat dewasa, ikan akan mengikuti pola kebiasaan makan seperti induknya (Effendie, 1978). Selanjutnya Moss (1980) menyebutkan jenis dan ukuran makanan ikan berubah sesuai dengan bertambahnya ukuran ikan. 186

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 KESIMPULAN 1. Terdapat 6 jenis plankton yang dominan melimpah di perairan rawa monoton Danau Bangkau yaitu : Mougeotia sp. (265 sel/l), Coconeis sp. (246 sel/l), Keratella sp.(174 sel/l), Chlorococcum sp. (110 sel/ L), Brachionus sp. (98 sel/l), dan Navicula sp. (47 sel/l). 2. Ukuran bukaaan mulut larva ikan betok bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur dan panjang larva. Pada saat larva berumur antara 3-23 hari, peningkatan ukuran bukaan mulut masih rendah, dan terdapat peningkatan setelah berumur antara 23-31 hari. 3. Terdapat pergeseran jenis pakan alami yang dikonsumsi yaitu dari fitoplankton menjadi zooplankton sesuai dengan bertambahnya ukuran dan keaktifan larva ikan. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih di sampaikan kepada komisi pembimbing Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, Dekan Fakultas Perikanan UNLAM dan Ketua Jurusan/Program studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan UNLAM Banjarbaru, Kepala dan Teknisi Balai Budidaya Air Tawar Mandiangan Kalimantan Selatan dan semua pihak yang telah membantu kelancaran penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Affandie, R.D.S, Syafie, M.F. Rahardjo & Sulistiono. 2005. Fisiologi Ikan, Pencernaan dan Penyerapan Makanan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB Bogor. 158 hlm. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2008. Pemanfaatan dan Konservasi Ekosistem Lahan Rawa Gambut di Kalimantan. Pengembangan Inovasi Pertanian. Laporan Penelitian, 1 (2) : 149-156. Balai Perairan Rawa Kalimantan Selatan, 2010. Laporan Tahunan Perairan Rawa Kalimantan Selatan. 57 hlm. Binoy, V. V. & K. J. Thomas. 2008. The Influence of Hunger on Food-Stocking Behaviour of Climbing perch Anabas testudineus. J. Fish Biology 73 : 1053 1057. Dhert, P. 1991. Improvement Use of Artemia in The Larviculture of The Tropical Fish Lates calcarifer and Siganus gutatus. Thesis Doctor. University Gheat. Belgiam. Doi, M. Munir, Razaki and Zulkifli. 1991. Artificial Propagation of The Grouper Ephinepelus suillus at the Marine Fish Hatchery in Trengganu Demong. Kualalumpur. Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan Bagian I. Fakultas Perikanan, IPB Bogor. 102 hlm. Hisbi, D. 1989. Penelitian dan Monitoring Kualitas Air Sungai Barito yang Termasuk Kawasan Industri Perkayuan Jelapat Kotamadya Banjarmasin/ Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan. Bagian I Kerjasama KPSL Unlam dengan Pemda Tingkat I Kalimantan Selatan (Biro BKLH) Banjarmasin. Laporan Penelitian. 58 hlm. Kamler, E. 1992. Early Life History of Fish. Chapman and Hall, London. 267 p. Lund, J.W.G., C. Kipling, and E.D., Le Cren. 1958. The Inverted Microscope Method of Estimating Algae Numbers and the Statistical Basis of Estimations by Counting. J. Hydrobiol., 11 : 143 170. Marlida, R. 2001. Kajian Fisiologi Pencernaan dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Betok (Anabas Testudineus Bloch) yang Diberi Pakan Berbeda. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin. Makasar. 59 halaman. Muhammad, 1987. Pengaruh Sumber Makanan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) yang Dipelihara dalam Kolam. Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. 63 halaman. Morioka, S., S. Ito, S. Kitamura & B. Vongvichith. 2009. Growth and Morphological Development of Laboratory-Reared Larval and Juvenile Climbing Perch Anabas testudineus. J. Ichthyol Res, 56 : 162-171. Moss, B. 1980. Ecology of Freshwater. Blackwell Scientific Publication, Oxford, London, Exdinburgh Mebourne. p 105. Narwani, A. & A. Mazumder. 2012. Bottom-up Effect of Species Diversity on the Functioning and Stability of Food Webs. J. Animal Ecology, 81 : 701-713. Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes. Translated from Rusian By I Birket. Academic Press. New York. p 67. Normalinda, 2002. Pembesaran Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) dengan Padat Tebar yang Berbeda dalam Bak Plastik. Skripsi. Fakultas Perikanan 187

Rukmini, et al. / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 181-188 Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. 77 halaman. Robianti, 2006. Pengaruh Kadar Protein yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) di Hapa. Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. 81 halaman. Shirota, A. 1996. The Plankton of South Vietnam. Overseas Technical Cooperation Agency Japan. 416 hlm. Singh, N. & P.K. Gupta. 2010. Food and Feeding Habits of an Introduced Mosquito fish, Gambusia holbrooki (Girard) (Poeciliidae) in a Subtropic Lake, Lake Nainital, India. J. Asian Fisheries Science (23) : 270-282. Slamat, Marsoedi, M., Athaillah & A. Diana. 2012. Konservasi Genetik Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) di Perairan Rawa, Kalimantan Selatan. J. Penelitian Perikanan Indonesia, 18 (1) : 1-68. ISSN 0853-5884. Uttam, S., P. K. Deepak, D. Kapoor, R. N. Singh, S. P. Kumar & S. Singh. 2005. Captive Breeding of Climbing Perch Anabas testudineus (Bloch, 1792) with Wova-FH for Conservation and Aquaculture. J. Aquaculture Research, 36 : 941-945. Waynarovich, E. & Hovart, C.C. 1980. The Artificial Propagation of Warm Water Finfishes a Manual for Extention, FAO Fish Tech. 201. p 142. Wotton, R.J. 1994. Ecology of Teleost Fishes. Chapman and Hall. London. p 67. 188

STATUS TROFIK PERAIRAN RAWA PENING DITINJAU DARI KANDUNGAN UNSUR HARA (NO 3 dan PO 4 ) SERTA KLOROFIL-a TROPHIC STATUS OF RAWA PENING WATERS EVALUATED FROM THE NUTRIENTS (NO 3 dan PO 4 ) and CHLOROPHYLL-a ABSTRAK Naila Zulfia dan Aisyah Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Teregistrasi I tanggal: 15 September 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 25 November 2013; Disetujui terbit tanggal: 03 Desember 2013 Email: naila_chubby@rocketmail.com Danau Rawa Pening merupakan danau alami yang multi fungsi yaitu sebagai pembangkit listrik, irigasi, perikanan, air baku dan pariwisata. Aktivitas antropogenik manusia mendorong terjadinya perubahan status trofik perairan.. Ledakan populasi fitoplankton dan tumbuhan air terapung merupakan indikasi terjadinya eutrofikasi di danau ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status terkini kondisi kesuburan Perairan Rawa Pening dengan pendekatan nilai unsur hara (nitrat dan fosfat) serta hubungannya dengan klorofil-a. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2007 di Perairan Rawa Pening. Parameter kimia seperti nitrat, fosfat dan klorofil-a dianalisa di laboratorium menggunakan metode spektrofotometri. Selain itu dilakukan pengukuran insitu beberapa parameter fisika dan kimia (suhu, kecerahan, kedalaman dan ph). Hubungan antara nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a dianalisa dengan regresi linier berganda menggunakan software Excel 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran nilai nitrat, fosfat dan klorofil-a pada Bulan Mei dan Juni masing-masing adalah 1,38 2,18 mg/l dan 1,32 2,12 mg/l (eutrofik); 0,013 0,030 mg/l dan 0,012 0,031 mg/l (mesotrofik) serta 4,67-7,22 mg/l dan 4,71 7,30 mg/l (mesotrofik). Persamaan hubungan antara nitrat dan fosfat terhadap klorofil pada Bulan Mei dan Juni sebagai berikut Y = 0,549 + 2,599 X1 + 36,513 X2 (R2=0,97) dan Y = 1,457 + 1,628 X1 + 73,638 X2 (R2=0,97). Peningkatan kandungan klorofil-a di Rawa Pening berbanding lurus dengan kandungan nitrat dan fosfat. Konsentrasi nitrat pada Bulan Mei sangat mempengaruhi konsentrasi klorofil sementara pada Bulan Juni terjadi sebaliknya dimana fosfat yang berpengaruh besar terhadap klorofil-a. KATA KUNCI : Nitrat, fosfat, klorofil-a, Rawa Pening, eutrofik, mesotrofik. ABSTRACT BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Rawa Pening Lake is a natural lake that has multi-function as electricity power, irrigation, fisheries, raw water as well as tourism. Human anthropogenic activities around lake lead to the changes of trophic status of waters. Eutrophycation indicated by blooming of phytoplankton and aquatic plants. The purpose of this study was to obtain information on the current condition of the trophic status and determine the relationship between nitrate, phosphate with chlorophyll-a. This research was conducted from May to June 2007 in Rawa Pening, Ambarawa. Water samples were taken to analyze nitrate, phosphate and chlorophyll-a concentrations in laboratory by using spectrophotometry and multiple linear regression analysis using Excel 2007 software to show the relationship between those three parameters. Measurements of several parameters (temperature, brightness, depth and ph) were also done. The results showed that concentration of nitrate, phosphate and chlorophyll-a in May and June, ranged from 1.38 2.18 mg/l and 1.32 2.12 mg/l (eutrophic); 0.013 0.030 mg/l and 0.012 0.031 mg/l (mesotrophic) also 4.67 7.22 mg/l and 4.71 7.30 mg/l (mesotrophic), respectively. The relationship between nitrate and phosphate to the chlorophyll-a in May and June was: Y = 0.549 + 2.599 X1 + 36.513 X2 (R2=0.97) and Y = 1.457 + 1.628 X1 + 73.638 X2 (R2=0.97). Relationship between nitrate and phosphate with chlorophyll-a concentration, i.e. increased the content of chlorophyll-a in Rawa Pening directly, proportional to the content of nitrate and phosphate. In May chlorophyll-a significantly influenced by nitrate concentration while in June phosphat is the influential concentrate. KEYWORDS: Nitrate, phosphate, clorophyll-a, Rawa Pening, eutrophic, mesotrophic 189

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 PENDAHULUAN Kondisi perairan umum pada beberapa danau dan waduk mengalami penurunan atau terdegradasi, seperti di Danau Rawa Pening. Degradasi ini disebabkan oleh eksploitasi dan pemanfaatan yang berlebihan. Pemanfaatan tersebut berkaitan antara lain untuk kepentingan komersial atau rekreasi perikanan, tingkat eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan protein ikan atau jasa estetika, serta aspek sosial ekonomi (Cowx, 2002). Haryani (2013) menyimpulkan setidaknya ada 6 permasalahan yang terjadi di perairan umum daratan, seperti sedimentasi dan pencemaran, degradasi lebar sungai dan konversi badan air, ancaman keanekaragaman hayati, ancaman perikanan darat seperti adanya aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA), pariwisata serta banjir dan kekeringan. Sedimentasi dan pencemaran merupakan masalah yang sering terjadi di perairan danau, seperti di Danau Limboto, Maninjau, Singkarak, Rawa Pening, Tempe, Kerinci dan Rawa Taliwang (Soeprobowati et al., 2005; Krismono et al., 2009; Suryono et al., 2010; Chrismadha et al., 2011; Anonim, 2011). Permasalahan yang juga sering terjadi adalah pengkayaan unsur hara akibat dari peningkatan jumlah KJA. Umumnya terjadi di waduk dan danau, seperti Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Lahor, Cirata, Karangkates, Sengguruh, Danau Limboto, Maninjau, Toba serta Singkarak (Yahia, 2010; Anonim, 2011; Chrismadha et al., 2011). Danau Rawa Pening merupakan danau alami yang multi fungsi, sebagai pembangkit listrik, irigasi, perikanan, air baku serta pariwisata (Sutarwi, 2008). Danau Rawa Pening mengalami sedimentasi tingkat ringan dan pengurangan luasan perairan akibat tutupan tanaman air eceng gondok yang mencapai hingga 30% (Anonim, 2011). Berdasarkan konsentrasi nitrat dan fosfat, kecerahan perairan serta kelimpahan fitoplankton dan komunitas bentik, menunjukkan adanya perubahan status trofik perairan ini, dari eutrofik (Putra, 1987; Wibowo, 2004; Soeprobowati et al., 2005; Anonim, 2011) mesotrofik hingga oligotrofik (Wibowo, 2004; Zulfia dan Umar, 2009; Jayanti, 2009). Status trofik merupakan indikator tingkat kesuburan suatu perairan yang dapat diukur dari unsur hara (nutrien) dan tingkat kecerahan serta aktivitas biologi lainnnya yang terjadi di suatu badan air (Shaw et al., 2004; Leitão, 2012). Penggolongan status trofik meliputi hipertrofik, eutrofik, mesotrofik, oligotrofik serta distrofik (Welcomme, 2001, Wetzel, 2001, Jorgensen, 1980). Namun secara garis besar dikenal 3 kategori yaitu eutrofik, mesotrofik dan oligotrofik. Perairan dikatakan eutrofik jika memiliki nutrien tinggi dan mendukung tumbuhan dan hewan air yang hidup di dalamnya. Perairan tipe oligotrofik pada umumnya jernih, dalam dan tidak dijumpai melimpahnya tanaman air serta alga. Kondisi tersebut menggambarkan nutrien yang rendah sehingga tidak mendukung populasi ikan yang relatif besar. Perairan tipe mesotrofik berada di antara tipe eutrofik dan oligotrofik, dengan kondisi nutrien sedang. Beberapa kriteria kualitas air yang menggambarkan status trofik suatu perairan tersaji dalam Tabel 1 berikut. Tabel 1. Klasifikasi status trofik Table 1. Trophic status classification Parameter/ Status trofik/trophic level Sumber/Source Parameter Eutrofik Mesotrofik Oligotrofik Kecerahan/Transparency(m) 3-1,5 6-3 > 6 Wetzel (2001) N-NO 3 (mg/l) >0,2 0,1-0,2 <0,1 Golman & Horne (1983) P-PO 4 (mg/l) 0,031-0,1 0,011-0,03 0,003-0,01 Vollenweider dalam Effendi (2003) Klorofil-a/Chlorophyll-a (mg m -3 ) 8-25 2,5-8 <2,5 Likens (1975) dalam Jorgensen (1980) Kelimpahan plankton/plankton abundance (ind/l) >15.000 2.000-15.000 <2.000 Lander dalam Basmi (1994) Kesuburan perairan merupakan fungsi beban masukan unsur hara (nutrien) yang berlebih dan klorofil (Jeffrey, 1980). Unsur hara yang terjadi di Rawa Pening disebabkan oleh pembusukan gulma air di rawa itu sendiri dan oleh tumpukan erosi dari daerah hulu. Selain itu, peningkatan unsur hara juga dapat disebabkan oleh adanya sisa pakan dan sisa metabolisme ikan budidaya yang masuk ke perairan (Guritno, 2003). Proses dekomposisi akan menghasilkan unsur-unsur hara seperti nitrat dan fosfat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Gambaran status trofik suatu perairan dapat diperoleh salah satunya dengan menghitung konsentrasi total fosfor (zat penting bagi pertumbuhan alga), konsentrasi klorofil a (gambaran jumlah kehadiran alga di perairan) serta tingkat kecerahan air. Metode lain untuk mengklasifikasi tingkat kesuburan adalah dengan menghitung kandungan nitrat dan fosfat serta kelimpahan plankton (Nybakken, 1988). Nitrat dan fosfat dalam keadaan normal merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat merupakan pengontrol 190

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 produktivitas primer perairan di zona eufotik dan dapat menjadi pupuk pada tanaman air. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan dengan bantuan bakteri (Effendi, 2003). Davis dan Cornwell dalam Effendi (2003) menyatakan fosfat merupakan bentuk fosfor yang berfungsi sebagai unsur esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan alga, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan alga akuatik serta mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Klorofil-a merupakan jenis klorofil yang paling banyak terdapat pada fitoplankton (Jeffrey, 1980). Oleh karena itu terdapat saling keterkaitan antara unsur hara (nitrat dan fosfat) dengan klorofil-a. Proses alami yang terjadi di suatu perairan dan kegiatan manusia di sekitar perairan (seperti pertanian, pemukiman, peternakan, budidaya ikan) menjadi penyebab terjadinya perubahan status trofik perairan. Pencemaran bahan organik saat ini telah menjadi fenomena umum dijumpai di hampir semua perairan danau. Ledakan populasi fitoplankton dan tumbuhan air terapung seperti eceng gondok merupakan indikasi terjadinya eutrofikasi (Chrismadha et al., 2011). Status trofik berguna untuk memonitor kualitas air (Leitão, 2012) melalui pemahaman terhadap siklus nutrien dan interaksinya dengan jejaring makanan dalam suatu ekosistem (Dodds, 2007). Pentingnya aspek tersebut serta relatif tingginya dinamika pemanfaatan sumberdaya perairan Rawa Pening melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran status trofik Perairan Rawa Pening melalui pendekatan nilai unsur hara (nitrat dan fosfat) serta hubungannya dengan klorofil-a, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan danau ini secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan pada Mei dan Juni 2007 di Perairan Rawa Pening, Ambarawa, Jawa Tengah. Lokasi pengambilan sampel air ditetapkan sebanyak sembilan stasiun yang dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian dekat outlet (stasiun 1, 2 dan 3), bagian tengah danau (stasiun 4, 5 dan 6) dan dekat dermaga (stasiun 7, 8 dan 9). Lokasi dan deskripsi ke-sembilan stasiun tersebut disajikan pada Gambar 1 dan Tabel 2. Keterangan : Daerah Outlet : Stasiun 1,2,3; Bag. Tengah Danau : Stasiun 4,5,6; Daerah Dermaga : Stasiun 7,8,9 Gambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Sampel di Perairan Rawa Pening, Ambarawa. Figure 1. Map of Sampling Location in Lake Rawa Pening, Ambarawa 191

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Tabel 2. Deskripsi lokasi pengambilan sampel di Perairan Rawa Pening, Ambarawa Table 2. Description of Sampling Sites in Rawa Pening Water, Ambarawa Bagian Danau/ Zone Lake Dekat Outlet/ Outlet Tengah Danau/ Middle Part Dekat Dermaga/ Pier Stasiun/ Deskripsi/ Sampling site Description 1 Daerah penangkapan ikan, kegiatan budidaya, dan tumbuhan air (Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Gangang Rante (Hydrilla verticillata)) 2 Daerah yang jauh dari tumbuhan air Eceng Gondok dan kegiatan pariwisata, terdapat aliran sungai yang masuk dari Sungai Dungrangsang dan Sungai Gajah Barong 3 Kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan terdapat aliran sungai yang masuk dari Sungai Pragunan 4 Kawasan bebas dari kegiatan budidaya dan tumbuhan air (Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)) serta terdapat aliran sungai yang masuk dari Sungai Ndogbacin, Sungai Ngreco dan Sungai Tapen 5 Kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan kegiatan budidaya 6 Kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes), kegiatan budidaya dan daratan serta terdapat aliran sungai yang masuk dari Sungai Torong, Sungai Panjang, Sungai Galeh. 7 Kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Ganggang Rante (Hydrilla verticillata), kegiatan budidaya, daerah penangkapan ikan, Sungai Kebondowo, dekat dengan kegiatan pertanian, daerah pariwisata, daerah budidaya, serta pemukiman 8 Merupakan daerah kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) serta terdapat aliran sungai yang masuk dari Sungai Jenggul, Sungai Legi 9 Daerah kawasan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Gangang Rante (Hydrilla verticillata), kegiatan budidaya, penangkapan ikan, Sungai Tengah, Sungai Sraten, Sungai Muncul Contoh air pada masing-masing stasiun diambil di permukaan dengan menggunakan Snacth Bottle Sampler. Pengambilan sampel ini diasumsikan untuk mendapatkan homogenitas sampel air danau, sehingga diharapkan dapat mewakili kualitas lingkungan danau sesungguhnya (Hadi, 2005). Contoh air diawetkan melalui proses pendinginan pada suhu 4ºC ± 2ºC dalam keadaan tertutup rapat sehingga tidak ada pengaruh udara luar yang dapat merubah komposisi atau menimbulkan gangguan saat analisis dilakukan (Hadi, 2005). Pengukuran kualitas air meliputi nitrat, fosfat dan klorofil-a menggunakan metode Spectrophotometry (Radojevic and Bashkin, 1999). Pengukuran terhadap ph, suhu air, kedalaman dan kecerahan secara insitu. Metode analisis parameter kualitas air mengacu pada APHA (1989) dan Radojevic and Bashkin (1999) yang disajikan pada Tabel 3. Data dan informasi mengenai kelimpahan fitoplankton di perairan ini dirujuk dari hasil penelitian di perairan yang sama tahun 2009 (Jayanti, 2009). Analisa regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui korelasi antara kandungan nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a, menggunakan software Excel 2007, dengan model hubungan : Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 +...+ b n Dari model regresi diketahui nilai koefisien model yang menggambarkan hubungan berbanding lurus atau terbalik dengan Y. Dilakukan uji signifikansi Anova untuk mendapatkan nilai F hitung dan F tabel, sehingga bisa diketahui ketepatan persamaan regresi yang digunakan, uji t dilakukan untuk memperinci variabel yang berpengaruh signifikan terhadap variabel bergantung (Y). HASIL DAN BAHASAN HASIL Hasil pengukuran dan analisa beberapa kualitas air di Perairan Danau Rawa Pening disajikan pada Tabel 4 dan Gambar 4. X n. 192

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Tabel 3. Parameter fisika dan kimia yang diamati serta cara pengukurannya Table 3. Physical and chemical parameter and measurement method Parameter / Parameters Satuan / Unit Metode dan Alat / Method and Instrument Pengamatan Insitu : Parameter Fisika Suhu o C Termometer Kecerahan m Sechi disk Kedalaman m Tongkat berskala Parameter Kimia ph ph meter Analisis di Laboratorium : Parameter Kimia Nitrat mg/l Brucine-Sulfanilik, dan Spektrofotometer Fosfat mg/l Stannous Chlorida Spectrophotometry dan Spektrofotometer Klorofil-a mg m -3 Spectrophotometry dan Spektrofotometer Tabel 4. Pengukuran suhu, kecerahan dan kedalaman pada beberapa stasiun pengamatan di Perairan Rawa Pening, Ambarawa Bulan Mei dan Juni tahun 2007 Table 4. Temperature, transparency and depth of sampling sites in Rawa Pening Water, Ambarawa on May and June 2007 Stasiun/ Station ph Suhu air / Water Temperature ( o C) Kecerahan/ Transparency (cm) Kedalaman/ Depth (cm) Dekat Outlet 1 7,2 27,70-27,80 88 98 189 204 27,75 ± 0,07 2 7,2 27,60-27,70 100 107 288 319 27,65 ± 0,07 3 7,2 27,60-27,70 98 103 160 165 27,65 ± 0,07 Tengah Danau 4 7,3 27,80-27,90 98 109 195 265 27,85 ± 0,07 5 7,2 27,80-27,90 85 88 334 360 27,85 ± 0,07 6 7,1 27,80-27,90 87 98 198 218 27,85 ± 0,07 Dekat Dermaga 7 7,2 28,50-28,60 105 112 1120 1130 28,55 ± 0,07 8 7,1 28,20-28,30 86 97 179 282 28,25 ± 0,07 9 7,4 28,00-28,10 86 98 148 157 28,05 ± 0,07 Derajat Keasaman ph Perairan Rawa Pening berkisar antara 7,1 hingga 7,4, yang berarti masih bersifat alkalis/basa (Tabel 4.). Nilai ph tersebut hampir sama dengan penelitian terbaru yang berkisar 7,1 7,4 (Rovita et al., 2012; Suparjo, 2013). Nilai ph tertinggi terjadi di stasiun 9 (dekat dermaga). Kisaran nilai tersebut sesuai dengan nilai kisaran ph pada perairan air tawar alami yaitu berkisar antara 7-8 (Effendi, 2003). Nilai ph perairan sangat tergantung dengan keberadaan ion hidrogen, dimana kenaikan nilai ph seiring dengan berkurangnya ion hidrogen dan sebaliknya penurunan nilai ph terjadi seiring dengan bertambahnya ion hidrogen dalam perairan (Effendi, 2003). Kisaran nilai ph 7,0-7,7 juga terjadi di beberapa Danau seperti Limboto, Danau Tempe, (Wardoyo et al., 2012; Suryono et al., 2010). 193

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Suhu Rata-rata suhu perairan berkisar 27,65 28,55 ºC (Tabel 4.). Penelitian sebelumnya menghasilkan nilai rerata suhu air yang tidak jauh berbeda. Sementara penelitian terbaru menyatakan rerata suhu air berada pada kisaran 26,69 28,34 ºC (Rovita et al., 2012). Nilai suhu tersebut masih dalam kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan biota di perairan yaitu antara 20 hingga 30ºC serta merupakan suhu permukaan danau yang umum di wilayah tropis yang berkisar 28-29 ºC (Nybakken, 1988). Kecerahan Nilai kecerahan berkisar antara 85 hingga 112 cm dengan kedalaman perairan berkisar antara 148 hingga 1.130 cm (Tabel 4.). Nilai kecerahan yang relatif tinggi dijumpai di bagian perairan yang bebas dari tanaman air dan kegiatan budidaya (stasiun 2 dan 4). Nilai kecerahan tergantung dengan keadaan cuaca, waktu pengukuran, warna air, kekeruhan dan padatan tersuspensi yang ada didalam perairan. Nilai kecerahan rendah terjadi pada stasiun 2, 6 dan 8. Danau yang mengalami penyuburan yang relatif cepat seperti Limboto memiliki kisaran nilai kecerahan perairan 500 4.200 cm (Suryono et al., 2010), Danau Tempe memiliki nilai kecerahan rerata 101,2 cm (Samuel et al., 2012). Dari Gambar 4. terlihat kisaran nitrat antara 1,32 hingga 2,18 mg/l. Nilai fosfat berkisar antara 0,012 hingga 0,031 mg/l, sedangkan untuk pengukuran klorofil-a berkisar antara 4,66 hingga 7,30 mg/l. Hasil pengamatan menunjukkan kisaran nitrat, fosfat dan klorofil-a tertinggi berada pada stasiun yang dekat dengan dermaga (Gambar 2, 3 dan 4). Kisaran nilai nitrat dan fosfat di perairan ini berada di bawah ambang batas sebagaimana yang ditetapkan dalam PP nomor 82 tahun 2001 yaitu 10 mg/l untuk penggunaan kelas I dan II, 20 mg/l untuk kelas III dan IV (Anonim, 2001). Sedangkan untuk kisaran nilai fosfat yaitu 0,2 mg/l untuk kelas I dan II, 1 mg/l untuk kelas III dan 5 mg/l untuk kelas IV. Tingkatan trofik berdasarkan Goldman & Horne (1983) mengklasifikasikan Danau Rawa Pening ke dalam perairan eutrofik, karena nilai nitrat perairan >0,2 mg/l. Sedangkan berdasarkan nilai fosfat dan klorofil-a, perairan ini tergolong mesotrofik (Vollenweider dalam Effendi, 2003; Likens 1975 dalam Jorgensen, 1980). Gambar 2. Kandungan nitrat (mg/l) di Danau Rawa Pening, Ambarawa tahun 2007 Figure 2. Content of Nitrate (mg/l) in Lake Rawa Pening, Ambarawa in 2007 Gambar 3. Kandungan fosfat (mg/l) di perairan Rawa Pening, Ambarawa tahun 2007 Figure 3. Content of Phosphate (mg/l) in Lake Rawa Pening, Ambarawa in 2007 Gambar 4. Kandungan klorofil-a (mg/l) di perairan Rawa Pening, Ambarawa tahun 2007 Figure 4. Content of Chlorophyll-a (mg/l) in Lake Rawa Pening, Ambarawa in 2007 194

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 BAHASAN Nilai ph, Suhu, Kecerahan Kisaran nilai ph (derajat keasaman) Perairan Danau Rawa Pening bersifat alkalis/basa (Effendi, 2003). Menurut Boyd (1982) dalam Effendi (2003), secara umum bakteri tumbuh dengan baik pada ph netral dan alkalis (basa), karena yang diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik dan proses oksidasi adalah bakteri, maka nilai ph Perairan Rawa Pening mendukung adanya proses tersebut. Sebaliknya, proses fotosintesis akan mengalami laju penurunan jika ph terlalu asam atau terlalu basa. Nilai ph tertinggi baik pada Bulan Mei dan Juni terjadi di stasiun 9 (dekat dermaga). ph bervariasi terjadi pada saat terjadinya proses fotosintesis yaitu ph cenderung naik karena fitoplankton menggunakan CO 2 untuk keperluan fotosintesanya sehingga asam karbonat terbuang dan proses respirasi menyebabkan ph cenderung turun karena adanya pelepasan CO 2 bebas ke dalam air yang menghasilkan asam karbonat (H 2 CO 3 ). Suhu air berkisar antara 27,6-28,5 C. Kisaran suhu tertinggi terjadi di stasiun 7-9 yang berada di dekat dermaga. Kisaran suhu tersebut umum terjadi di perairan pada wilayah tropis, yaitu 25-30 C, dimana dalam kisaran suhu tersebut masih dimungkinkan terjadinya proses reaksi dan pertumbuhan alga (Manahan, 1991). Tingginya suhu disebabkan oleh waktu pengambilan sampel yang dilakukan pada siang hari, dimana pada waktu tersebut intensitas cahaya matahari terjadi maksimal sehingga suhu pada zona epilimnion relatif tinggi. Pengukuran kedalaman dan kecerahan air berkisar antara 148 1.130 cm dan 85-112 cm. Kedalaman menentukan seberapa dalam cahaya matahari dapat menembus lapisan air. Cahaya matahari dalam suatu perairan sangat penting dalam membantu proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton, dan melalui proses fotosintesis dapat meningkatkan kandungan oksigen terlarut (Welch, 1952). Nilai kecerahan menunjukkan jumlah cahaya matahari masuk ke dalam perairan yang dipengaruhi oleh adanya padatan tersuspensi baik organik maupun anorganik (Boyd, 1982). Kecerahan suatu perairan ditentukan oleh adanya kandungan bahan organik yang ada di dalamnya. Semakin tinggi kandungan bahan organik menyebabkan nilai kecerahan semakin berkurang. Berdasarkan klasifikasi status trofik Likens (1975) dalam Jorgensen (1980) sebagaimana tertera dalam Tabel 1., nilai kecerahan Perairan Danau Rawa Pening tergolong dalam perairan hyper-eutrofik. Sedangkan menurut Novotny & Olem (1994), dilihat dari nilai kecerahan Danau Rawa Pening memiliki tingkat kesuburan eutrofik. Kondisi perairan hyper-eutrofik juga terjadi di Perairan Danau Limboto dan Danau Tempe, nilai kecerahan masing-masing berkisar antara 10-90 cm dan 18-50 cm (Krismono et al, 2009). Kandungan Nitrat Kandungan nitrat yang diperoleh dari hasil analisa berada pada kisaran 1,38 2,18 mg/l pada Bulan Mei dan 1,32 2,12 mg/l pada Bulan Juni. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 1, 5, 7 dan 9, terendah terdapat di stasiun 2 dan 6 yaitu bagian tengah danau dan bagian outlet (Gambar 2.). Kisaran nilai ini relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya yaitu 0,027 0,60 mg/l (Afiati& Brotohadikusumo, 2002; Jayanti, 2009; Yahia, 2010; Rovita et al., 2012). Kisaran nilai nitrat yang diperoleh masih berada di bawah standar nilai yang disyaratkan dalam PP No. 82 tahun 2001, yaitu 10 mg/l untuk penggunaan kelas I (air minum dan peruntukan lain dengan mutu yang disyaratkan sama) dan II (rekreasi air, budidaya, pertanaman) serta 20 mg/ L untuk penggunaan kelas III (budidaya, pertanaman) dan IV (pertanaman dan peruntukan lain dengan mutu yang disyaratkan sama). Secara umum, konsentrasi nitrat pada perairan dengan kondisi baik (belum terkontaminasi polusi) berada pada kisaran rendah bahkan tidak terdeteksi hingga mencapai 10 mg/l (Wetzel, 2001). Dilihat dari kisaran nilai nitrat >0,2 mg/l, perairan Rawa Pening tergolong tipe eutrofik (Goldman & Horne, 1983) Kisaran nilai nitrat yang hampir sama juga terjadi di Danau Limboto (Krismono et al., 2009) dan Danau Tempe (Direktorat Sumberdaya Ikan, 2009 dalam Anonim, 2013). Tingginya nilai kandungan nitrat diduga karena adanya masukan zat hara dari buangan kegiatan budidaya dan pertanian di sekitar stasiun tersebut (Fried et al., 2003). Peningkatan unsur hara menjadi penyebab tumbuhnya alga serta tumbuhan air secara berlebih yang juga disebut eutrofikasi (Paytan & Mclaughlin, 2007). Selain itu, pada stasiun 7 dan 9 (dekat dermaga) merupakan daerah penangkapan ikan yang mengindikasikan terjadinya pengkayaan nutrien pada perairan tersebut, karena nitrat merupakan salah satu nutrien penting bagi tumbuhan dan algae yang secara tidak langsung merupakan konsumsi bagi ikan karnivora yang terdapat di danau ini (Effendi, 2003). Kandungan nitrat rendah cenderung terjadi pada bagian perairan yang banyak terdapat eceng gondok, seperti di stasiun 3, 6 dan 8. Rendahnya nilai nitrat diduga karena dimanfaatkan oleh tumbuhan eceng gondok dan fitoplankton. Kisaran nilai nitrat tertinggi terdapat di perairan dekat dermaga, dimana pada lokasi tersebut terdapat aktivitas budidaya dan dekat dengan kegiatan pertanian. Diduga nitrat tinggi berasal dari limbah kegiatan budidaya dan pertanian, sesuai dengan sifat nitrat yang mudah pindah melalui air (Goldman&Horne, 1983). Kiranya hal ini sesuai 195

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 dengan kaidah alamiah bahwa kecenderungan tingginya nilai nitrat adalah terjadi pada perairan yang dekat dengan daratan. Kandungan Fosfat Kandungan fosfat yang diperoleh dari hasil analisa berada pada kisaran 0,013 0,030 mg/l pada Bulan Mei dan 0,012 0,031 mg/l pada Bulan Juni. Berbeda dengan nitrat, nilai fosfat pada penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Wibowo (2004), dengan nilai fosfat 0,260 mg/l dan Rovita et al. (2012) dengan kisaran nilai fosfat 0,029-0,048 mg/l. Sebagaimana kisaran nilai nitrat, kecenderungan nilai tertinggi kandungan fosfat terjadi di stasiun 1, 5, 7 dan 9, sementara nilai terendah terjadi di stasiun 2 dan 6 (Gambar 3.). Kisaran nilai ini masih berada dalam batas yang disyaratkan oleh PP no. 82 tahun 2001, yaitu 0.2 mg/l untuk kelas I dan II, 1 mg/l untuk kelas III dan 5 mg/l untuk kelas IV. Jika mengacu pada Vollenweider dalam Effendi (2003), kisaran nilai fosfat yang diperoleh pada penelitian ini tergolong ke dalam tipe mesotrofik. Perbedaan status trofik berdasarkan kandungan nitrat dan fosfat di suatu perairan adalah umum terjadi. Hal tersebut disebabkan oleh sifat nitrat yang mudah larut dalam air dan lebih stabil sementara keberadaan fosfat biasanya relatif kecil daripada kandungan nitrat (Effendi, 2003). Sumber fosfat perairan berasal dari limbah peternakan, limbah manusia terutama detergen, pertanian terutama penggunaan pupuk anorganik seperti TSP/Triple Super Phosphat), limbah industri serta dari proses alamiah di lingkungan itu sendiri (Fried et al., 2003). Sementara itu, rendahnya nilai fosfat di stasiun 2 dan 6 diduga karena lokasi kedua stasiun ini yang relatif dekat dengan outlet Danau Rawa Pening, sehingga fosfat yang terbawa masuk oleh aliran sungai Dungrangsang, Gajah Barong, Torong, Panjang dan Sungai Galeh akan terbawa keluar kembali melalui outlet (mengalami pencucian yang relatif cepat). Pemanfaatan fosfat oleh eceng gondok atau tanaman lain kemungkinan bisa terjadi di stasiun 6 karena di stasiun ini terdapat tumbuhan air tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan (Tchobanoglous, 1991; Dugan, 1972 dalam Effendi, 2003; Romimohtarto dan Juwana, 2005). Sementara di stasiun 2 tidak terdapat tumbuhan air. Kandungan Klorofil-a Kandungan klorofil-a yang diperoleh dari hasil analisa berada pada kisaran 4,67 7,22 mg/l pada bulan Mei dan 4,71 7,30 mg/l pada bulan Juni (Gambar 4.). Kisaran nilai tersebut mengindikasikan Perairan Danau Rawa Pening tergolong dalam perairan mesotrofik atau tingkat kesuburan sedang (Likens, 1975 dalam Jorgensen, 1980). Sebagaimana nitrat dan fosfat, nilai konsentrasi klorofil-a tertinggi terdapat di stasiun 1, 5, 7 dan 9, terendah terdapat di stasiun 2, 4 dan 6. Tingginya klorofil-a di stasiun tersebut karena tingginya konsentrasi nitrat dan fosfat pada stasiun yang sama. Konsentrasi klorofil-a pada suatu perairan bergantung pada konsentrasi nitrogen dan fosfor (Levinton, 1982). Krismono (2010) memperoleh nilai regresi yang menunjukkan adanya hubungan positif antara biomassa klorofil-a dengan nitrat, sehingga dapat dinyatakan bahwa biomasa klorofil-a dipengaruhi oleh nitrat. Komponen hara lain tidak memberikan nilai hubungan yang positif, namun tidak disimpulkan bahwa komponen hara lainnya tidak berpengaruh, anomali tersebut diduga disebabkan oleh keberadaan eceng gondok (Krismono, 2010). Pengaruh Nitrat dan Fosfat terhadap Klorofil-a Hasil analisa regresi berganda antara nitrat dan fosfat terhadap konsentrasi klorofil-a pada Bulan Mei dan Juni menunjukkan pola hubungan yang berbanding lurus yang ditandai dengan kemiringan (slope) yang bernilai positif (Tabel 5.). Pola pada Bulan Mei menggambarkan bahwa setiap peningkatan konsentrasi nitrat dan fosfat sebesar 1,0 mg/l dapat meningkatkan konsentrasi klorofil-a sebesar 2,60 dan 36,51 mg/l dan pada Bulan Juni sebesar 1,63 dan 73,64 mg/l. Koefisien determinasi (R 2 ) menunjukan bahwa 97% klorofil-a dipengaruhi oleh nitrat dan fosfat. Hasil uji-t menunjukan bahwa konsentrasi nitrat pada Bulan Mei sangat mempengaruhi konsentrasi klorofil-a sementara pada Bulan Juni terjadi sebaliknya dimana fosfat yang berpengaruh besar terhadap konsentrasi klorofil-a. Hasil uji-f menunjukan bahwa nilai F hitung pada kedua bulan tersebut lebih besar dari pada F tabel (F hitung > F tabel ) sehingga dapat dikatakan bahwa model regresi yang digunakan tepat secara signifikan. Tabel 5. Korelasi antara Nitrat dan Fosfat terhadap Klorofil-a Table 5. Correlation between Nitrate and Phosphate with Chlorophyll-a Bulan/ Persamaan Regresi/ R 2 F hitung / F value F tabel / F table Month Regression Equation Mei Y = 0,549 + 2,599 X 1 + 36,513 X 2 0,97 101,56 5,14 Juni Y = 1,457 + 1,628 X 1 + 73,638 X 2 0,97 96,56 5,14 196

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Beberapa penelitian menggambarkan bahwa fosfat merupakan unsur penting penyebab terjadinya eutrofikasi (Schindlel et al., 1971 dalam Dillon dan Rigler, 1974; Fried et al., 2003). Keberadaannya dihubungkan dengan pertumbuhan alga sebagaimana ditemukan pertama kali tahun 1968 (Fried et al., 2003), serta konsentrasi klorofil di suatu perairan sebagaimana pertama kali diperkenalkan oleh Sakamoto tahun 1966. Hubungan antara klorofil dan fosfat ini kemudian digunakan untuk memprediksi konsentrasi ratarata klorofil melalui pengukuran fosfat. Berdasarkan hasil analisa hubungan antara kandungan nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a terlihat bahwa kandungan klorofil-a pada perairan meningkat seiring dengan peningkatan kandungan nitrat dan fosfat pada perairan. Nitrat dan fosfat merupakan unsur hara yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan algae. Sedangkan Klorofil-a merupakan jenis klorofil yang paling banyak terdapat pada fitoplankton, sehingga secara tidak langsung gambaran hubungan antara nutrien dengan klorofil-a merupakan gambaran hubungan nutrien dengan fitoplankton (Jeffrey, 1980; Darmono, 2001; Effendi, 2003; Warsa et al., 2006). Walaupun keanekaragaman dan keseragaman fitoplankton di perairan Danau Rawa Pening tergolong rendah, namun memiliki kelimpahan tinggi. Fitoplankton yang ditemukan terdiri atas 33 genus yang berasal dari 4 kelas, yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae serta Cyanophyceae. Ke empat kelas tersebut sering ditemukan di suatu perairan umum seperti danau (Sachlan, 1982; Krienitz, 2009). Wijaya & Hariyati (2013) menemukan 16 genus yang berasal dari 4 kelas fitoplankton, yaitu Chrysophyta, Chlorophyta, Cyanophyta dan Dynophyta. Sementara Wibowo (2004) menemukan 6 kelas fitoplankton yaitu Desmids, Diatom, Chrysophyta, Chlorophyta, Dinoflagellata serta Cyanophyta. Jayanti (2009) menyatakan bahwa kelimpahan fitoplankton di Perairan Rawa Pening tertinggi adalah 456,890 sel/l yang berasal dari genus Dinophyceae. Keberadaan fitoplankton tersebut merupakan sumber pakan alami beberapa jenis ikan pemakan plankton yang mempunyai pergerakan aktif seperti Nilem, Tawes, Sepat Siam (Saputra et al., 1998). KESIMPULAN Nilai konsentrasi nitrat, fosfat dan klorofil-a menunjukkan kecenderunga n yang relatif sama yaitu tinggi di dekat outlet (stasiun 1), tengah danau (stasiun 5) dan dekat dermaga (stasiun 7 dan 9). Dilihat dari nilai kecerahan dan nitrat, Perairan Danau Rawa Pening tergolong dalam perairan eutrofik hingga hyper-eutrofik. Sementara nilai fosfat dan klorofil-a menggolongkan danau ini ke dalam tipe perairan mesotrofik. Terdapat hubungan antara kandungan nitrat dan fosfat terhadap konsentrasi klorofil-a di Perairan Rawa Pening, Ambarawa, Jawa Tengah. Konsentrasi nitrat pada Bulan Mei sangat mempengaruhi konsentrasi klorofil-a sementara pada Bulan Juni terjadi sebaliknya dimana fosfat yang berpengaruh besar terhadap nilai klorofil-a. PERSANTUNAN Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihakpihak yang sudah banyak membantu hingga selesainya tulisan ini. DAFTAR PUSTAKA Afiati N. dan Brotohadikusumo. 2002. Struktur Komunitas Makroinvertebrata, Plankton dan Bakteri Sebagai Penduga Kualitas Lingkungan Air Tawar di Rawa Pening. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta 22 (1) : 75-93. Anonim, 2001. Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. 31 p. Anonim, 2011. Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia, Balai Lingkungan Keairan (http:// www.pusair-pu.go.id/artikel/kesatu.pdf). diunduh pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 14.30 WIB. 6 p. Anonim. 2013. Kebijakan dan Strategi Konservasi Sumberdaya Ikan dan Lingkungannya di Perairan Umum Daratan. images.surajis.multiply. multiplycontent.com/.../..diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 11.45 WIB. APHA (American Public Health Association). 1989. Standar Methods for The Examination of Water and Water Waste. American Public Health Association (APHA), American Water Works Association (AWWA) and Water Pollution Control Federation (WPFC) 17 th Ed. Washington.1.134 p. Basmi, J. 1994. Planktonologi:Teknik Menghitung Plankton (Tidak Dipublikasikan). Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 37 p. Boyd, C.E. 1979. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Auburn University Agricultural Experiment Station. Auburn, Alabama, USA. 359 p. Boyd, C. E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Pub. Co. 318 p. Chrismadha, T., G. S. Haryani, M. Fakhrudin dan P. E. Hehanussa. 2011. aplikasi ekohidrologi dalam 197

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 pengelolaan danau. Prosiding Seminar Nasional Ekohidrologi. p. 25-44. Cowx I.G. 2002. Principles and Approaches to the Management of Lake and Reservoir Fisheries dalam buku Management and Ecology of Lake and Reservoir Fisheries, edited by I.G. Cowx. p. 376-393. Dillon, P.J., F.H. Rigler. 1974. The phosphorus-chlorophyll relationship in lakes. Limnology and Oceanography. 19(5):767-773. Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 176 p. Doods, W. K., 2007. Trophic state, eutrophication and nutrient criteria in streams. TRENDS in Ecology and Evolution Vol.22 No.12. p. 669-676. www.sciencedirect.com. diunduh tanggal 19 Maret 2013 pukul 23.15. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 243 p. Fried, S., B. Mackie, E. Nothwehr. 2003. Nitrate and phosphate levels positively affect the growth of algae species found in Perry Pond. Biology Department, Grinnell College, Grinnell, IA 50112, USA. p. 21-24. Goldman, C.R dan A.J. Horne. 1983. Limnology. Mc. Graw Hill International Book Company. 464 p. Guritno, B. 2003. Program Penyelamatan Rawa Pening. Prosiding Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Senat Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga. p. 29-37. Hadi, A. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 134 p. Haryani, G. S. 2002. Menuju pemanfaatan sumber daya perikanan darat berkesinambungan : permasalahan dan solusinya. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. 8 p. Jayanti, I.K. 2009. Kajian Sumberdaya Danau Rawa Pening Untuk Pengembangan Wisata Bukit Cinta, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 100 p. Jeffrey, S.W. 1980. Algal Pigment System in P.G Falhowsky (ed) Primary Productivity in the Sea. Plenum Press. New York. p. 33-58. Jorgensen, S.E. 1980. Lake Management, Water Development, Supply and Management, Developments in Hydrology. Vol 14. Pergamon Press, Oxford, UK. 167 p. Krienitz, L. 2009. Algae (including cyanobacteria): planktonic and attached. One of chapters in plankton of inland waters: a derivative of encyclopedia of inland waters. Book published by Elsevier Inc. All rights reserved. p. 99-109. Krismono, L. P. Astuti, & Y. Sugiyanti. 2009. Karakteristik kualitas air Danau Limboto, Provinsi Gorontalo. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 15 (1): 59-68. Krismono. 2010. Hubungan antara kualitas air dengan klorofil-a dan pengaruhnya terhadap populasi ikan di perairan Danau Limboto. Limnotek 17 (2). p. 171-180. Leitão, P. C., 2012. Management of the trophic status in Portuguese reservoirs. 20 p. http://swat.tamu.edu/ media/56573/b4-3-leitao.pdf. Diunduh tanggal 19 Maret 2013 pukul 23.05 WIB. Levinton, J.S. 1982. Marine Ecology. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs N.J. 526 p. Manahan, S.E. 1991. Environmental Chemistry. Lewis Publisher, Michigan. 898 p. Novotny, V. and Olem, H. 1994. Water Quality, Prevention, Identification, and Management of Diffuse Pollution. Van Nostrans Reinhold, New York. 1054 p. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologi. Alih bahasa oleh M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. Hutomo dan S. Sukarjo, Gramedia Jakarta : 459 p. Putra, I. N. N. S. 1987. The relative abundance of benthic macroinvertebrates in relation to eutrophication processes in Lake Rawa Pening, Central Java, Indonesia. http://repository.ipb.ac.id/handle/ 123456789/27962. Diunduh dalam bentuk PDF, tanggal 18 Januari 2012. Paytan, A and K. Mclaughlin. 2007. Phosphorus in Our Waters, Oceanography (20) 2 : 200 208. Radojevic, M. and V. N. Bashkin. 1999. Practical Environmental Analysis. Royal Society of Chemistry. Cambridge. 466 p. Romimohtarto K dan S. Juwana. 2005. Biologi Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta. 540 p. 198

Naila Zulfia dan Aisyah / BAWAL Vol. 5 (3) Desember 2013 : 189-199 Rovita, G. D, P. W. Purnomo dan P. Soedarsono. 2012. Starifikasi Vertikal NOƒ -N Dan PO -P Pada Perairan Di Sekitar Eceng Gondok (Eichornia Crassipes Solms) Dengan Latar Belakang Penggunaan Lahan Berbeda Di Rawa Pening. Journal of Management of Aquatic Resources : 1 (1). Universitas Diponegoro. Semarang. p. 1-7. Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Diponegoro. Semarang. Sakamoto, M. 1966. Primary production by phytoplankton community in some Japanese Lakes and Its Dependence on Lake Depth. Arch. Hydrobiol. 62: 1-28. Samuel, S. Makmur, P. R. P. Masak. 2012. Status trofik dan estimasi potensi produksi ikan di Perairan Danau Tempe, Sulawesi Selatan. Bawal IV(2) Agustus 2012 : 121-129. Saputra, S.W, A. Sholichin dan A. Setiarto. 1998. Analisis Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Perairan Rawa Pening, Kabupaten Semarang. Laporan Penelitian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. 26 p. Sastrawijaya, T. A. 1991. Pencemaran Lingkungan. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Shaw, B., C. Mechenich, L. Klessig. 2004. Understanding lake data. 20 p. http://www3.uwsp.edu/cnr-ap/weal/ Documents/G3582.pdf. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 12.29 WIB. Soeprobowati, T. R., W. H. Rahmanto, Jafron W. Hidayat. 2005. Kajian Perubahan Lingkungan Ekosistem Lentik Danau Rawa Pening Menggunakan Diatom sebagai Bioindikator. Laporan akhir hasil penelitian hibah bersaing. Kerjasama Universitas diponegoro Ditjen Pendidikan Tinggi, Depdiknas. 12 p. Suparjo, M. N. 2009. Kajian Potensi Kegiatan Sumberdaya Perikanan Rawa Pening Kabupaten Semarang. https:/ / eprints.undip.ac.id/33694/1/kajian_potensi_ Perikanan_Rawapening Mustofa.pdf. Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013. Suryono, T., S. Sunanisari, E. Mulyana dan Rosidah. 2010. Tingkat kesuburan dan pencemaran Danau Limboto, Gorontalo. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Volume 36 (1): LIPI, Puslit. Oseanografi. p. 49-61. Sutarwi. 2008. Proses Kebijakan Konservasi Sumber Daya Air Danau Rawa Pening Di Jawa Tengah. Widyaprana, Vol (1) : 2. Desember 2008. p. 39-72. Tchobanoglous. 1991. Wastewater Engineering. 3 rd ed. New York Graw Hill Int.1334 p. Wardoyo, S. E., I. Iriana, B. Priono. 2012. Karakteristik fisika kimia dan biologi perairan Danau Tempe di sekitar Soppeng sebagai dasar teknik pengelolaan sumber daya perikanan tangkap. http:// www.pustaka.litbang.deptan.go.id/bptpi/lengkap/ IPTANA/fullteks/Puslitbangkan/9511/9511_9.pdf. P76-85. Diunduh tanggal 15 Juni 2012. Welch, P.S. 1952. Limnology. Mc Graw Hill. New York. 538 p. Welcomme, R.L. 2001. Inland Fisheries:Ecology and Management. Renewable Resources Assessment Group, Imperial College of Science Technology and Medicine, London, UK. Published for:food and Agriculture Organization of the United Nations by Blackwell Science. 358 p. Wetzel R.G., 2001. Limnology Lake and River Ecosystem. Third Edition. Academic Press, California. 1006 p. Wibowo, H., 2004. Tingkat eutrofikasi Rawa Pening dalam kerangka kajian produktivitas primer fitoplankton. Magister Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. 82 p. Wijaya, T. S. dan R. Hariyati. 2013. Struktur komunitas fitoplankton sebagai bio indikator kualitas perairan Danau Rawapening Kabupaten Semarang Jawa Tengah. eprints.undip.ac.id/.../7._jurnal_ SELULLA_RICHE.pdf. p. 55-61. Yahia, M.A.A. 2010. The Impact of Farming Activities to Water Quality of River and Lake Rawa Pening (Case Study in Semarang Regency, Indonesia). Thesis. Environmental Sciences Post Graduate Degree Program Diponegoro University. 66 p. Zulfia, N dan C. Umar. 2009. Sebaran Spasial Karakteristik Sedimen dan Beberapa Parameter Kualitas Air di Perairan Rawa Pening, Ambarawa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 15 (3) : 211-219. 199

200

BAWAL WIDYA RISET PERIKANAN TANGKAP Pedoman bagi Penulis UMUM 1. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang natural history ikan (pemijahan, pertumbuhan serta kebiasaan makan dan makanan) serta lingkungan sumberdaya ikan. 2. Naskah yang dikirim asli dan jelas tujuan, bahan yang digunakan, maupun metode yang diterapkan dan belum pernah dipublikasikan atau dikirimkan untuk dipublikasikan di mana saja. 3. Naskah ditulis/diketik dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak diperkenankan menggunakan singkatan yang tidak umum 4. Naskah diketik dengan program MS-Word dalam 2 spasi, margin 4 cm (kiri)-3 cm (atas)-3 cm (bawah) dan 3 cm (kanan), kertas A4, font 12-times news roman, jumlah naskah maksimal 15 halaman dan dikirim rangkap 3 beserta soft copynya. Penulis dapat mengirimkan naskah ke Redaksi Pelaksana BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Gedung Balitbang KP II Jl. Pasir Putih II Ancol Timur, Jakarta Utara 14430, E-mail: drprpt2009@gmail.com. 5. Dewan Redaksi berhak menolak naskah yang dianggap tidak layak untuk diterbitkan. PENYIAPAN NASKAH 1. Judul : Naskah hendaknya tidak lebih dari 15 kata dan mencerminkan isi naskah, diikuti dengan nama penulis. Jabatan atau instansi penulis ditulis sebagai catatan kaki di bawah halaman pertama. 2. Abstrak : Dibuat dengan Bahasa Indonesia dan Inggris paling banyak 250 kata, isinya ringkas dan jelas serta mewakili isi naskah. 3. Kata Kunci : Ditulis dengan Bahasa Indonesia dan Inggris, terdiri atas 4 sampai 6 kata ditulis dibawah abstrak dan dipilih dengan mengacu pada agrovocs. 4. Pendahuluan : Secara ringkas menguraikan masalah-masalah, tujuan, dan pentingnya penelitian. Jangan menggunakan sub bab. 5. Bahan dan Metode : Secara jelas dan ringkas menguraikan penelitian dengan rincian secukupnya sehingga memungkinkan peneliti lain untuk mengulangi penelitian yang terkait. 6. Hasil dan Bahasan : Hasil dan bahasan dipisah, diuraikan secara jelas serta dibahas sesuai dengan topik atau permasalahan yang terkait dengan judul. 7. Kesimpulan : Disajikan secara ringkas dengan mempertimbangkan judul naskah, maksud, tujuan, serta hasil penelitian. 8. Persantunan : Memuat judul kegiatan dan dana penelitian yang menjadi sumber penulisan naskah. 9. Daftar Pustaka : Disusun berdasarkan pada abjad tanpa nomor urut dengan urutan sebagai berikut. Nama pengarang (dengan cara penulisan yang baku), tahun penerbitan, judul artikel, judul buku atau nama dan nomor jurnal, penerbit dan kota, serta jumlah atau nomor halaman. Contoh : Sunarno, M. T. D., A. Wibowo, & Subagja. 2007. Identifikasi tiga kelompok ikan belida (Chitala lopis) di Sungai Tulang Bawang, Kampar, dan Kapuas dengan pendekatan biometrik. J.Lit.Perikan.Ind. 13 (3). 1-14. Sadhotomo, B. 2006. Review of environmental features of the Java Sea. Ind.Fish Res J. 12 (2). 129-157. Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scintific Publishing Company. New York. 318 p. Defeo, O., T. R. Mc Clanahan, & J. C. Castilla. 2007. A brief history of fisheries management with emphasis on societal participatory roles. In McClanahan T. & J. C. Castilla (eds). Fisheries Management: Progress toward Sustainability. Blackwell Publishing. Singapore. p. 3-24. Utomo, A. D., M. T. D. Sunarno, & S. Adjie. 2005. Teknik peningkatan produksi perikanan perairan umum di rawa banjiran melalui penyediaan suaka perikanan. In Wiadnyana, N. N., E. S. Kartamihardja, D. I. Hartoto, A. Sarnita, & M. T. D. Sunarno (eds). Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia Ke-1. Pusat Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. p. 185-192. Publikasi yang tak diterbitkan tidak dapat digunakan, kecuali tesis, seperti contoh sebagai berikut: Anderson, M.E, Satria F. 2007. A New Subfamily, Genus, and Species of Pearlfish (Teleostei: Ophidiiformes: Carapidae) from Deep Water off Indonesia. Species Diversity 12: 73-82. 10. Tabel : Disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, dengan judul di bagian atas tabel dan keterangan. 11. Gambar : Skema, diagram alir, dan potret diberi nomor urut dengan angka Arab. Judul dan keterangan gambar diletakkan di bawah gambar dan disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. 12. Foto : Dipilih warna kontras atau foto hitam putih, judul foto ditulis dalam dua Bahasa Indonesia dan Inggris, dan nomor urut di sebaliknya. Dicetak dalam kertas foto atau dalam bentuk digital. 13. Cetak Lepas (Reprint) : Penulis akan menerima cetak lepas secara cuma-cuma. Bagi tulisan yang disusun oleh lebih dari seorang penulis, pembagiannya diserahkan pada yang bersangkutan.