MODEL MANAJEMEN PENGURANGAN RISIKO BENCANA

dokumen-dokumen yang mirip
Evaluasi Fungsi Tangga Darurat pada Gedung-gedung di Universitas Negeri Semarang

IDENTIFIKASI FASILITAS SAFETY BUILDING SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN DI GEDUNG INSTITUSI PERGURUAN TINGGI

KAJIAN PENGORGANISASIAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH

128 Universitas Indonesia

KAJIAN PENGORGANISASIAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dengan keadaan geografis dan kondisi sosialnya berpotensi rawan

Universitas Indonesia Library >> UI - Disertasi (Membership)

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI. 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD

BAB V PEMBAHASAN. PT. INKA (Persero) yang terbagi atas dua divisi produksi telah

BAB V PEMBAHASAN. Hasil penelitian yang dilakukan di PT. Asahimas Chemical mengenai

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA

Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi Tentang Perberdaan pengetahuan Responden Mengenai Emergency Preparedness Berdasarkan Masa Kerja...

PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS PENGELOLAAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN. (Kepala keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit)

BAB I PENDAHULUAN. monoksida, atau produk dan efek lainnya (Badan Standar Nasional, 2000).

BAB 1 : PENDAHULUAN. mencapai 50 derajat celcius yang menewaskan orang akibat dehidrasi. (3) Badai

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. maupun buatan manusia bahkan terorisme pernah dialami Indonesia.

BAB II TINJAUN PUSTAKA

Lampiran 1 DENAH INSTALASI ICU. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan darurat (Emergency) menurut Federal Emergency. Management Agency (FEMA) dalam Emergency Management

STUDI TINGKAT KEANDALAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PADA BANGUNAN APARTEMEN (Studi Kasus Apartemen Di Surabaya)

BAB IV VISI MISI SASARAN DAN TUJUAN

RENCANA INDUK MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN (MFK) DI RSU BINA KASIH

BAB IV RENCANA AKSI DAERAH PENGURANGAN RESIKO BENCANA KABUPATEN PIDIE JAYA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau

STRATEGI PENGELOLAAN PEMELIHARAAN FASILITAS GEDUNG KANTOR DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA

Studi Evaluasi Jalur Evakuasi Terhadap Keselamatan Karyawan Pada Wisma Barito Pasific

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 : PENDAHULUAN. Berdasarkan data dunia yang dihimpun oleh WHO, pada 10 dekade terakhir ini,

ANALISIS RISIKO KEBAKARAN DALAM PEMENUHAN SISTEM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG TAHUN 2014

EVALUASI SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI BENCANA KEBAKARAN (Studi Kasus di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II)

BAB IV HASIL DAN ANALISIS Prosedur Perencanaan Sistem Proteksi Kebakaran

TANGGAP DARURAT BENCANA DI GEDUNG ASTER RUMAH SAKIT UMUM DR. MOEWARDI

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

EVALUASI DESAIN JALUR EVAKUASI PENGGUNA BANGUNAN DALAM KONDISI DARURAT PADA BANGUNAN APARTEMEN X

STANDARD OPERATING PROCHEDURE (SOP) KEDARURATAN DI TEKNIK KELAUTAN ITB

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS UPAYA PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI GEDUNG BOUGENVILLE RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG

Sistem Proteksi Kebakaran pada Gedung UKM Universitas Brawijaya Malang

- Mengurangi dan mengendalikan bahaya dan resiko - Mencegah kecelakaan dan cidera, dan - Memelihara kondisi aman

Pranata Pembangunan Pertemuan 1 Pentingnya Tangga kebakaran. Sahid Mochtar, S.T., MT. Ratna Safitri, S.T., M.Ars.

KERENTANAN (VULNERABILITY)

DIREKTORAT BINA UPAYA KESEHATAN DASAR PERAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DASAR DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

CHECKLIST KEGAWATDARURATAN RUMAH SAKIT. Belum Terlaksana

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PENYUSUNAN PROFIL PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

ANALISIS TIGA FAKTOR DOMINAN SISTEM PROTEKSI AKTIF DAN PASIF SERTA SISTEM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI GEDUNG VOKASI UI TAHUN 2013

Jurnal Ilmu Kebencanaan (JIKA) ISSN Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 7 Pages pp

MITIGASI BENCANA BANJIR DI WILAYAH DKI JAKARTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS. Tris Eryando

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

BAB 1 : PENDAHULUAN. sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia akhir-akhir ini. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)

GAMBARAN PELAKSANAAN SISTEM TANGGAP DARURAT SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN KEADAAN DARURAT DI PT. INKA (PERSERO) MADIUN JAWA TIMUR

EMERGENCY PLANING AND EVACUATION LANGKAH-LANGKAH DALAM MENGHADAPI BAHAYA KEBAKARAN

PENDAHULUAN. Supriadi R 1), Marhawati M 2), Arifuddin Lamusa 2) ABSTRACT

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan Terdapat perbedaan hasil antara level kesiapsiagaan antara konsep

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 77 TAHUN 2011 TENTANG URAIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

III. METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN ISTILAH 10/15/14

JUDUL : Managemen Tanggap Darurat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut indeks rawan bencana Indonesia (BNPB, 2011), Kabupaten

Arahan Distribusi Lokasi Pos Pemadam Kebakaran Berdasarkan Kawasan Potensi Risiko Bencana Kebakaran di Kota Surabaya

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT JANTUNG HASNA MEDIKA NOMOR TENTANG PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN KEWASPADAAN BENCANA

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana

TUGAS AKHIR EVALUASI EMERGENCY RESPONSE PLAN DAN ALAT PEMADAM API RINGAN PADA PT. PHILIPS INDONESIA ADHITYA NUGROHO

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

a. Visi Masyarakat Kabupaten Aceh jaya Tangguh Menghadapi Bencana Yang Didukung Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas, Beriman dan Bertaqwa

Perancangan Emergency Response Plan di PT E-T-A Indonesia

AKSESIBILITAS JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) BAGI PENYANDANG DIFABEL DI KOTA BANDA ACEH MENURUT PERSEPSI MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK

penelitian Pengaruh Sumber Daya Organisasi Terhadap Kesiapsiagaan Petugas BPBD Kota Langsa Mengahadapi Bencana di Kota langsa.

SKRIPSI Sebagian Persyaratan. Oleh FAKULTAS YOGYAKARTA 20111

BAB I PENDAHULUAN I.1. Kondisi Umum

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK RENCANA KERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENJA - SKPD) TAHUN ANGGARAN 2019

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN

PERAN JALUR EVAKUASI DALAM MENANGGULANGI KEADAAN DARURAT PADA PT. EFRATA RETAILINDO

ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM EVAKUASI PASIEN DALAM TANGGAP DARURAT BENCANA KEBAKARAN PADA GEDUNG BERTINGKAT DI RUMAH SAKIT X SEMARANG

EVALUASI TANGGA KEBAKARAN SEBAGAI SARANA EVAKUASI KEBAKARAN ( STUDI KASUS UMB TOWER )

AKUNTABILITAS KINERJA

ANALISIS STRUKTUR BANGUNAN YANG DITINJAU DARI TANGGA DARURAT PADA PUSAT PERBELANJAAN MESRA INDAH MALL SAMARINDA

D. DAFTAR PENILAIAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (PERFORMANCE APPRAISAL) 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas sebagai

ALTERNATIF STRATEGI PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERDASARKAN ANALISIS SWOT DI SDN 1 NGADIREJO KECAMATAN NGADIREJO KABUPATEN TEMANGGUNG

BAB I PENDAHULUAN. imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respon dari masyarakat, komunitas,

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

BAB 1 PENDAHULUAN. dan rehabilitasi dengan mendekatkan pelayanan pada masyarakat. Rumah sakit

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 39 TAHUN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Prosedur Penanggulangan Darurat Kebakaran dan Bencana Alam

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 83 TAHUN 2017

Jurnal Geografi Media Infromasi Pengembangan Ilmu dan Profesi Kegeografian

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bencana dilihat dari beberapa sumber memiliki definisi yang cukup luas.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi

Transkripsi:

ISSN 2302-0253 7 Pages pp. 65-71 MODEL MANAJEMEN PENGURANGAN RISIKO BENCANA Cut Vivi Elvida 1, T. Budi Aulia 2, Irin Caisarina 3 1) Magister Teknik Sipil Program Banda Aceh 2,3) Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala no2ng_zacvi@yahoo.com Abstract: The purpose of this study is to assess the completeness of evacuation routes and to formulate the strategies of disaster risk reduction. The Methods that used in collecting the data were used secondary and primary data. The data were processed in statistics descriptive and SWOT analysis. According to the writer observation, nowadays the condition of Mother and Child Hospital are in accordance with the regulation and standard. However, there are several features of evacuation routes that need improvement, for instance; the number range of APAR, provides smoke control system, emergency lights, evacuation maps, evacuation directions, evacuation signs, and determine a rallying point. SWOT analysis results obtainedthree alternative strategies: (1) arrange the particular team that equipped with the education and training of disaster management, (2) develop Standard Operating Procedure (SOP) for disaster risk reduction, (3) designing the emergency response plan in coordination with the Department of Health, BPBA and Fire. After appearing the strategies above,ahp analysis are needed to determine the priority strategies to be implemented. The result shows that the value of the global priorities for the alternatives (1) of 0.2707, alternative (2) of 0.3854 and alternative (3) of 0.3439. Furthermore, from the results above that the alternative strategy (3) has the highest result 0.3854. In brief, to improve the quality of disaster risk reduction management in Women's and Children's Hospital is preparing Standard Operating Procedure (SOP) for disaster risk reduction. Keywords: Evacuation routes, mother and child hospitals, disaster management, SWOT, AHP. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kelengkapan jalur evakuasi dan merumuskan strategi pengurangan resiko bencana. Jenis data yang digunakan yaitu data sekunder dan data primer. Data diolah secara statistik deskriptif dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh penulis, saat ini kondisi Rumah Sakit Ibu dan Anaktelah memenuhi peraturan dan standar yang ada. Namun, ada beberapa hal mengenai jalur jalur evakuasi yang masih memerlukan perbaikan seperti: jumlah jangkauan APAR, menyediakan sistem pengendali asap, lampu darurat, peta evakuasi, arah evakuasi, rambu-rambu evakuasi, dan menentukan titik kumpul. Hasil analisis SWOT memperoleh tiga alternatif strategi yaitu (1) membentuk tim khusus yang dibekali dengan pendidikan dan pelatihan terhadap penanggulangan bencana, (2) menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurangan risiko bencana, (3) merancang rencana tanggap darurat bencana yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, BPBA dan Pemadam Kebakaran. Setelah muncul tiga alternatif strategi tersebut maka dilakukan analisis AHP, yaitu untuk menentukan strategi yang paling prioritas untuk segera dilaksanakan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai prioritas global untuk alternatif (1) sebesar 0,2707, alternatif (2) sebesar 0,3854 dan alternatif (3) sebesar 0,3439. Dari nilai di atas dapat dilihat bahwa alternatif strategi (2) mempunyai nilai prioritas tertinggi yaitu sebesar 0,3854. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kualitas manajemenpengurangan risiko bencana di Rumah Sakit Ibu dan Anak adalah dengan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurangan risiko bencana. Kata Kunci: Jalur evakuasi, rumah sakit ibu dan anak, manajemen bencana, SWOT, AHP. PENDAHULUAN Bencana yang terjadi kapan dan dimana saja dapat menimpa rumah sakit. Menghadapi kondisi ini rumah sakit harus siap dalam menghadapi bencana, baik dengan menyiapkan sarana dan prasarana jalur evakuasi maupun memiliki manajemen pengurangan risiko bencana dengan baik. 65 - Volume 4, No. 4, November 2015

Tsunami tahun 2004 silam telah menghancurkan Rumah Sakit Ibu dan Anak, saat ini rumah sakit tersebut dibangun kembali pada lokasi semula dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana. Rumah Sakit Ibu dan Anakdibangun kembali sesuai dengan persyaratan teknik yang berlaku agar tetapberjalan sesuai fungsinya saat terjadi bencana.kelengkapan sarana dan prasarana medis serta didukung oleh dokter spesialis yang kompeten di bidangnya menjadikan Rumah sakit Ibu dan Anak sebagai tempat rujukan berobat bagi masyarakat khususnya perempuan dan anak-anak. Tingkat okupansi hunian rumah sakit yang semakin tinggi menuntut keamanan yang tinggi pula terhadap keselamatan pengunjung rumah sakit. Kelengkapan fasilitas penyelamatan yang tersedia bila terjadi keadaan darurat atau bencana belum tentu dapat melayani kebutuhan dalam proses keselamatan bagi pasien, pengunjung serta staf di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Sarana jalur evakuasi yang tersedia masih perlu dikaji kelengkapan dan fungsinya guna mencegah dan mengurangi korban dan menentukan strategi manajeman yang tepat dalam penguranganrisiko bencana. KAJIAN KEPUSTAKAAN Pintu Darurat Kebakaran Menurut Juwana (2005), pintu keluar harus memenuhi syarat-syarat berikut: 1. Pintu harus tahan terhadap api sekurangkurangnya dua jam. 2. Pintu harus dilengkapi dengan minimal tiga engsel. 3. Pintu harus dilengkapi dengan alat penutup pintu otomatis (door closer). 4. Pintu dilengkapi dengan tuas/tungkai pembuka pintu yang ada di luar ruang tangga. 5. Pintu dilengkapi dengan tanda peringatan TANGGA KEMBALI. DARURAT-TUTUP 6. Pintu harus dilengkapi dengan kaca tahan api dengan luas maksimal 1m2 dan diletakkan di setengah bagian atas dari daun pintu. 7. Pintu harus dicat dengan warna merah. Tangga Darurat Peraturan tentang tangga kebakaran berbeda di setiap negara, namun pendekatan bagi sistem pintu keluar pada dasarnya sama, yaitu memberi kemudahan bagi penghuni/pengguna bangunan untuk dapat selamat keluar dari bangunan yang terkena bencana. Kepmenneg PU No. 10/KPTS/2000, tangga harus memenuhi injakan tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 (dua) tanjakan disetiap lintasan, dan ketentuan lain seperti pada table berikut. Tabel 1. Dimensi Injakan dan Tanjakan Tangga Fungsi Tangga Tanjakan (R) Injakan (G) Tangga Umum Tangga Khusus Maks Min Maks Min 190 115 355 250 190 115 355 240 Sumber: Kepmenneg PU No.10/KPTS/2000 Volume 4, No. 4, November 2015-66

Manajeman Tanggap Darurat Rumah Sakit Manajeman bencana untuk rumah sakit merupakan kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respon dan pemulihan. Pencegahan dan mitigasi bisa meliputi perbaikan standar bangunan dan kemampuan pemadam kebakaran. Kesiapsiagaan rumah sakit harus mengembangkan rencana dan prosedur bencana, mendapatkan peralatan yang diperlukan, melatih seluruh komponen rumah sakit / tenaga kesehatan tentang jalur evakuasi, serta meninjau dan melakukan tes secara rutin tentang jalur evakuasi bencana. Proses pemulihan meliputi debriefing atau mewancara kembali, peninjauan dan perbaikan rencana serta prosedur bencana, mengidentifikasi serta melaksanakan hasil pembelajaran (Dirjen Depkes RI, 2007) Analisis SWOT Menurut Rangkuti (2005), Analisis SWOT adalah mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi yang akan dilakukan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Analisis SWOTmembandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses). Analisis AHP Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah pendekatan dalam pengambilan keputusan dengan menentukan kriteria dari berbagai pilihan sehingga membentuk suatu tingkatan. Penyelesaian masalah dengan AHP mengandalkan intuisi sebagai input utamanya. Akan tetapi, intuisi harus berasal dari pembuat keputusan yang memahami masalah keputusan yang dihadapi. Peralatan utama dari model ini adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur dipecah kedalam kelompok-kelompoknya dan kelompok-kelompok tersebut menjadi suatu bentuk hirarki (Akbar, 2014). METODE PENELITIAN Proses Pengumpulan Data Data Primer Data primer diperoleh dari pengamatan secara langsung, pengukuran, wawancara dengan pejabat berwenang Rumah Sakit Ibu dan Anak serta memberikan kuesioner secara langsung kepada responden yaitu para pegawai/paramedis dan pasien/pengunjung. Data-data tersebut adalah: 1. Pengamatan Komponen jalur evakuasi, meliputi pintu darurat, tangga darurat, dan kelengkapan jalur evakuasi lainnya. 2. Penyebaran kuesioner Kuesionerini diisi oleh pejabat ahli untuk memberi masukan terhadap jalur evakuasi 67 - Volume 4, No. 4, Novemver 2015

dan manajemen penanggulangan dan pengurangan risiko bencana. Responden diambil sebanyak 5 (lima) orang, yaitu: Kepala Rumah Sakit Ibu dan Anak, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Kepala Bidang Pelayanan Medis Rumah Sakit Ibu dan Anak, dan Tenaga Ahli dari Dinas Bina Marga. HASIL DAN PEMBAHASAN Pintu Darurat/Kebakaran Pada gedung A, B dan D tidak ditemukan pintu darurat. Pintu darurat berjumlah 2 (dua) buah pada setiap lantai pada gedung C yang berada di depan tangga darurat dan dapat menutup secara otomatis. Pintu dilengkapi dengan kaca bening untuk melihat ke dalam dan ke luar tangga. Pintu darurat di Rumah Sakit Ibu dan Anak berukuran, tinggi 210 cm, lebar 100 cm dan ukuran pintu kedua tinggi 210 cm, lebar 160 cm. yang tersedia pada gedung C sebanyak 2 (dua) buah yaitu 1 (satu) buah tangga dan 1 (satu) buah ramp, sedangkan tangga yang biasa digunakan terletak di tengah bangunan yang jumlahnya 1 (satu) buah. Tangga darurat dan ramp terbuat bahan yang tidak mudah terbakar yaitu beton dan pada finishingnya diberi bahan anti licin yang berupa tegel bergaris. Ramp di RSIA berfungsi dan terawat dengan baik, tetapi tangga darurat mengalami disfungsi dan tidak terawat. Gedung D masing-masing lantai memiliki 1 (satu) buah tangga darurat yang terbuat dari beton. Pada ruang tangga tidak terdapat pencahayaan darurat, exhaust fan dan pressure fan. Gambar 2. Tangga Darurat dan Ramp Gambar 1. Pintu Darurat Tangga Darurat/Kebakaran Gedung A dan B memiliki 1 (satu) buah tangga darurat dan digunakan juga untuk jalur naik turun sehari-hari. Tangga darurat ini terbuat dari beton dan tahan api. Tangga darurat Hasil Penyebaran Kuesioner kepada Pejabat Ahli Analisis berdasarkan beberapa sumber di atas maka dapat ditentukan beberapa faktor penting yang menjadi faktor-faktor srategis dalam manajemen pengurangan risiko bencana pada bangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak, diantaranya adalah: 1. Analisis Faktor-Faktor Strategis faktor strategis dalam analisis ini berupaya menemukan keserasian dan memaksimalkan kekuatan internal dengan peluang pada faktor Volume 4, No. 4, November 2015-68

eksternal serta meminimalkan kelemahan faktor internal dan ancaman faktor eksternal. Dari hasil analisis diperoleh nilai kekuatan (S) adalah 1,6 sedangkan nilai kelemahan (W) adalah 1,37 sehingga bila (S W) merupakan sumbu X, maka total nilai yang didapat adalah 0,24. Untuk nilai peluang (O) adalah 1,92 sedangkan nilai ancaman (T) adalah 1,04 sehingga bila (O T) yang merupakan sumbu Y total nilai yang didapat adalah 0,08. Nilai yang diperoleh menjelaskan bahwa posisi manajemen pengurangan risiko bencana pada Rumah Sakit ibu dan Anak merupakan situasi yang sangat menguntungkan dengan kekuatan 0,24 dan memiliki peluang 0,08,. Apabila dituangkan dalam peta kekuatan strategi, maka manajemen pengurangan risiko bencana berada pada kuadran I. alternatif strategi sesuai dengan potensi serta kondisi lingkungan internal dan eksternal yang dimiliki. 3. Pemilihan strategi manajemen pengurangan risiko bencana dengan analisis AHP Dari analisis SWOT dapat disimpulkan beberapa alternatif strategi yang bisa diaplikasikan pengelola dalam penerapan Manajemen Pengurangan Risiko Bencana di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Untuk menentukan strategi yang paling penting maka digunakan analisis AHP yang dapat dilakukan dengan cara: a. Membentuk tim khusus yang dibekali dengan pendidikan dan pelatihan terhadap pengurangan bencana (Alt 1). b. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurangan risiko bencana (Alt 2). c. Merancang Rencana Tanggap Darurat Bencana yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, BPBA dan Pemadam Kebakaran (Alt 3). Gambar 3Peta Kekuatan Manajemen Pengurangan Risiko Bencana 2. Analisis Perumusan Strategis Dengan menggunakan data tentang faktorfaktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta data tentang faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman, maka dapat disusun matriks SWOT. Matriks SWOT menghasilkan empat kemungkinan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu 1. Tangga darurat ditinjau secara fisik menurut Kepmenneg PU No. 10/KPTS/2000 memenuhi syarat, namun ada beberapa jumlah tanjakan yang lebih dan ukuran lebar tangga yang tidak sesuai. Disamping itu tangga darurat tidak dipelihara dengan baik 69 - Volume 4, No. 4, Novemver 2015

sehingga tidak berfungsi dan menjadi tempat penyimpanan barang-barang bekas. Tangga darurat juga tidak dilengkapi dengan pengendali asap dan lampu darurat, sehingga cukup membahayakan. 2. Berdasarkan hasil evaluasi dan penggabungan rumusan strategi manajemen pengurangan risiko bencana dari hasil kuesioner kepada pegawai/paramedis dan pasien/pengunjung dengan hasil kuesioner kepada pejabat ahli, dan berdasarkan hasil survey kondisi eksisting RSIA, didapatkan strategi yang sebaiknya diterapkan dalam Manajemen Pengurangan Risiko Bencana (MPRB) di Rumah Sakit Ibu dan Anak adalah dengan Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurangan risiko bencana. 3. Dari hasil analisis AHP dapat disimpulkan bahwa pengalokasian dana untuk kegiatan pemeliharaan dan perawatan bangunan penyelamat merupakan strategi terbaik untuk menghasilkan kegiatan pemeliharaan gedung yang optimal. Saran Berdasarkan hasil yang didapat, maka ada beberapa saran yang perlu diberikan untuk mewujudkan pemeliharaan gedung yang optimal, yaitu : 1. Pembenahan terhadap tangga darurat yang disfungsi sehingga dapat digunakan sesuai penggunaannya. 2. Dari hasil analisa SWOT dan AHP untuk menerapkan strategi manajemen penanggulangan bencana, maka perlu diterapkan strategi-strategi berikut: a. Perlu dilakukan koordinasi dan kerjasama yang lebih baik antara RSIA dengan BPBA, Dinkes dan Pemadam Kebakaran dalam hal perencanaan, pengawasan dan pengendalian sehingga Manajemen Pengurangan Risiko Bencana dapat berjalan dengan baik. b. Meningkatkan kualitas SDM dengan memberikan sosialisasi, pendidikan dan pelatihan kepada pegawai dan paramedis di lingkungan Rumah Sakit ibu dan Anak. c. Perlu dilakukan simulasi/latihan pendek secara berkala untuk menguji kemampuan evakuasi dan dapat melakukan pemetaan tindak darurat bencana. DAFTAR PUSTAKA Akbar, A., 2014, Analytical Hierarchy Process Proses Hirarki Analitis Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, 2007, Hospital Preparedness for Emergency & Disaster, Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum 2000, Kepmenneg PU No. 10/KPTS/2000 Tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung & lingkunga,. Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum, 2008, Kepmenneg PU No.26/PRT/M/2008 Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Volume 4, No. 4, November 2015-70

Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan,. Jakarta. Juwana, J., S., 2005, Panduan Sistem Bangunan Tinggi untuk Arsitek dan Praktisi Bangunan, PT. Erlangga, Jakarta. Rangkuti, F., 2005, Analisa SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 71 - Volume 4, No. 4, Novemver 2015