Menimbang : Mengingat :

dokumen-dokumen yang mirip
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALEMBANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG HUTAN KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA,

PERATURAN DAERAH KOTA PALOPO Nomor 7 Tahun 2008

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2008 T E N T A N G

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 15 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG IZIN PEMANFAATAN RUANG

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 4 TAHUN 2003 TENTANG SURAT IZIN TEMPAT USAHA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG KAWASAN INDUSTRI KECAMATAN GELUMBANG KABUPATEN MUARA ENIM

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2011 NOMOR 1 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN NAMA JALAN

WALIKOTA BANJARMASIN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG, Menimbang

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU KOTA KUPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG,

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 3 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU IZIN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN IZIN LOKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENGATURAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMA

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PEKANBARU NOMOR : 5 TAHUN 1993 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG KAWASAN PARIWISATA PANTAI WIDURI

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DI KOTA TANGERANG

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 11 TAHUN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN TENTANG IZIN KERJA DAN PRAKTIK PERAWAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PENGENDALIAN DAN PERLINDUNGAN SEMPADAN SUNGAI

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PENGGUNAAN JALAN BAGI KENDARAAN YANG MELEBIHI MUATAN SUMBU TERBERAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PEKANBARU Nomor : 14 Tahun 1998 TENTANG

LEMBARAN DAERAH K A B U P A T E N B A N D U N G PENYEDIAAN TANAH UNTUK PEMAKAMAN UMUM OLEH PERUSAHAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN

IZIN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUARA ENIM,

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN IZIN LOKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA,

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG IZIN PEMANFAATAN RUANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 10 TAHUN 2008 SERI : E NOMOR : 5

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2010 SERI : E NOMOR : 3

Dengan Persetujuan bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR dan BUPATI LUWU TIMUR MEMUTUSKAN :

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG IZIN PEMBUANGAN AIR LIMBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,

PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2002 T E N T A N G RETRIBUSI IZIN PENGUSAHAAN OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG TONASE DAN PORTAL

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG PENGELOLAAN TEMPAT PEMAKAMAN DAN PENYELENGGARAAN PEMAKAMAN JENAZAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 04 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG IZIN PEMBUANGAN DAN PEMANFAATAN AIR LIMBAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR : 08 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN USAHA PERTAMBANGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2008 NOMOR 10

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG. Nomor 2 Tahun 2002 Seri B PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA PEDAGANG KAKI LIMA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENERTIBAN PENEBANGAN POHON DAN BAMBU DI LUAR KAWASAN HUTAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2002 T E N T A N G IZIN USAHA HOTEL DENGAN TANDA BUNGA MELATI

PERATURAN DAERAH KOTA PEKANBARU Nomor : 8 Tahun 2003 TENTANG : RETRIBUSI IZIN PENGENDALIAN PEMBUANGAN LEMBAH CAIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALEMBANG,

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DI KABUPATEN TAPIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI TAPIN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 4 TAHUN 2003 T E N T A N G RETRIBUSI IZIN USAHA PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 52 TAHUN 2001 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

WALIKOTA LANGSA PROVINSI ACEH QANUN KOTA LANGSA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN HUTAN KOTA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

NOMOR : 7 TAHUN 1989 (7/1989)

PEMERINTAH KOTA PONTIANAK

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 21 TAHUN 2013

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN IZIN USAHA ANGKUTAN UMUM

WALIKOTA KENDARI PROVINSI SULAWSEI TENGGARA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

Transkripsi:

1 PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TEKNIK RUANG KOTA KAWASAN 7 ULU DAN SEKITARNYA KECAMATAN SEBERANG ULU I PALEMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALEMBANG, Menimbang : a. bahwa perkembangan fisik kota perlu diimbangi dengan optimalisasi pemanfaatan lahan secara optimal dengan tetap menganut prinsip-prinsip proporsionalitas, keseimbangan lingkungan, efektifitas dan efesiensi, khususnya pada Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang; b. bahwa sehubungan dengan huruf a, dengan pesatnya tuntutan masyarakat terhadap pemanfaatan lahan secara lebih optimal di kawasan pusat kota, perlu meninjau dan memperbaharui Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang Nomor 4 Tahun 1980 tentang Rencana Terperinci Pusat Perdagangan Regional Seberang Ulu Palembang; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Teknik Ruang Kota Kawasan 7 Ulu dan Sekitarnya Kecamatan Seberang Ulu I Palembang. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1859 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kotapraja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara RI Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1821); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara RI Tahun 1981 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan lembaran Negara Nomor 3699); 5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4247); 6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377); 7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Thaun 2008 Nomor 59, Tambahan lembaran Negara RI Nomor 4844); 9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); 10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara RI Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3258); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4242);

2 13. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4663); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4663); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4664); 16. Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 17. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 8 Tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilyah Kota Palembang 1999-2009 (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2000 Nomor 11); 18. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Restribusi Perizinan Bangunan (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2004 Nomor 29); 19. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pedoman dan Pembinaan Operasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2004 Nomor 31); 20. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 6 Tahun 2007 tentang Hutan Kota (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2007 Nomor 6); 21. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 6 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kota Palembang (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2008 Nomor 6); 22. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Palembang (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2008 Nomor 9). Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALEMBANG d a n WALIKOTA PALEMBANG MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TEKNIK RUANG KOTA KAWASAN 7 ULU DAN SEKITARNYA KECAMATAN SEBERANG ULU I PALEMBANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Pemerintah Kota Palembang. 2. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Palembang. 3. Walikota adalah Walikota Palembang. 4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kota Palembang. 5. Dinas Tata Kota adalah Dinas Tata Kota Kota Palembang. 6. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Tata Kota Kota Palembang. 7. Rencana Teknik adalah pengaturan geometris pemetaan ruang yang menggambarkan keterkaitan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya serta keterkaitan dengan utilitas bangunan dan utilitas kota atau kawasan. 8. Ruang Kota adalah wadah kehidupan yang meliputi ruang daratan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dengan makhluk hidup lainnya melakukan kegiatannya dan memelihara kelangsungan kehidupannya.

3 9. Kawasan adalah suatu kesatuan wilayah yang mempunyai status fungsi lindung dan/atau status fungsi budidaya dalam bentuk penggal atau ruas jalan dan/atau blok lingkungan. 10. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 11. Kawasan Cagar Budaya adalah tempat serta ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan batuan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. 12. Ruang Terbuka Hijau/Taman yang selanjutnya disingkat RTH adalah ruang di dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk areal memanjang/jalur atau mengelompok, dimana penggunaannya lebih bersifat terbuka, berisi hijau tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang tumbuh secara alami atau tanaman budidaya. 13. Garis Sempadan Jalan yang selanjutnya disingkat GSJ adalah garis rencana jalan yang ditetapkan dalam rencana kota. 14. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah garis yang tidak boleh dilampaui oleh denah bangunan kearah GSJ yang ditetapkan dalam rencana kota. 15. Garis Sempadan Sungai adalah garis batas luar pengamanan sungai. 16. Koefesien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka perbandingan jumlah luas lantai dasar terhadap luas tanah perpetakan yang sesuai dengan rencana kota. BAB II MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 Pengaturan Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan pedoman terhadap pemanfaatan ruang kota bagi pemerintah dan masyarakat dalam Daerah. Pasal 3 Pemberian pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, bertujuan untuk menata, mengatur dan melindungi pemanfaatan ruang kota agar tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. BAB III LETAK KAWASAN Pasal 4 (1) Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya seluas 61,6 hektar, dinyatakan dalam peta terlampir dan merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Daerah ini. (2) Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai batas-batas sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sungai Musi. - Sebelah Selatan dengan Jalan Jenderal A. Yani. - Sebelah Barat dengan Jalan SH Wardoyo dan Sungai Kenduruan. - Sebelah Timur dengan Sungai Aur. BAB IV PERUNTUKAN Pasal 5 Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya terdiri atas 8 (delapan) blok, dengan peruntukan sebagai berikut : a. Blok I seluas 13,3 hektar dengan peruntukan Cagar Budaya, Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perkantoran, perhotelan, perdagangan, jasa dan fasilitas pendukung.

4 b. Blok II seluas 6,3 hektar dengan peruntukan Cagar Budaya, Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perkantoran, perhotelan, perdagangan, jasa dan fasilitas pendukung. c. Blok III seluas 7,5 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perdagangan, jasa, pendidikan dan fasilitas pendukung. d. Blok IV seluas 9,0 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perdagangan, jasa, pendidikan dan fasilitas pendukung. e. Blok V seluas 4,3 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perdagangan, jasa, permukiman dan fasilitas pendukung. f. Blok VI seluas 2,1 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), perdagangan, perhotelan, jasa dan fasilitas pendukung. g. Blok VII seluas 11 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), permukiman dan fasilitas pendukung. h. Blok VIII seluas 8,1 hektar dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau/Taman (RTH), permukiman dan fasilitas pendukung. BAB V PRASARANA LINGKUNGAN, UTILITAS UMUM DAN FASILITAS SOSIAL Pasal 6 (1) Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya dilengkapi dengan prasarana jalan dan sungai, dengan rincian sebagai berikut : a. Prasarana jalan dibagi dalam 3 (tiga) fungsi, terdiri atas : 1) Jalan arteri adalah Jalan Jenderal A. Yani. 2) Jalan kolektor adalah Jalan KHA Azhari dan Jalan SH Wardoyo. 3) Jalan lokal/inspeksi lingkungan. b. Sungai yang terletak di sekitar Kawasan 7 Ulu dan Sekitarnya, terdiri atas: 1) Sungai Musi : Sungai Musi di sepanjang batas utara kawasan ini dengan Garis Sempadan Sungai 20 meter. 2) Sungai Aur : Lebar sungai 12 meter, GSJ 6 meter, GSB 3 meter. 3) Sungai Kenduruan : Lebar Sungai 6 meter, GSJ 4 meter, GSB 3 meter. 4) Sungai Kademangan : 1. Pada blok I, lebar 7 meter, GSJ 4 meter, GSB 4 meter. 2. Pada blok III, V, dan VII, lebar 7 meter, GSJ 6 meter, GSB 4 meter. (2) Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya dilengkapi dengan kawasan lindung dan cagar budaya, sebagai berikut : a. Kawasan Kampung Kapiten terletak di Blok I. b. Bangunan Kelenteng 9/10 Ulu terletak di Blok II. Pasal 7 Tabel Garis Sempadan Jalan (GSJ) dan Garis Sempadan Bangunan (GSB) di Kawasan 7 Ulu dan Sekitarnya, sebagai berikut: No. Kelas Jalan Nama Jalan G S J G S B 1. Arteri Jalan Jenderal A Yani 50 m 10 m 2. Kolektor Jalan KHA Azhari 20 m 10 m Jalan SH Wardoyo 20 m 10 m 3. Lokal Jalan yang terdapat dalam kawasan

5 BAB VI KETENTUAN MENDIRIKAN BANGUNAN Pasal 8 Setiap kegiatan mendirikan bangunan di Kawasan 7 Ulu dan sekitarnya berdasarkan KDB sesuai dengan blok, sebagai berikut: BLOK KDB (%) I 80 II 80 III 80 IV 80 V 80 VI 80 VII 60 VIII 60 diatur BAB VII PENYIDIKAN Pasal 9 (1) Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini dilakukan oleh penyidik sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. (2) Selain Penyidik Umum, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Pemerintah Kota diberikan kewenangan yangn diberikanya,maka penyidikan atas pelangaran Peraturan Daerah ini. (3) Apabila undang-undang yang menjadi dasar hukum tidak mengatur secara tegas kewenangan yang diberikannya, maka penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) dalam melaksanakan tugas penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), berwenang : a. menerima laporan atau pengaduan dari orang atau badan hukum tentang adanya dugaan tindak pidana perusakan dan pencemaran lingkungan ; b. melakukan tindakan pertama dan pemeriksaan pada saat itu ditempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penyitaan benda atau surat ; e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ; g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya penyidik memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka atau keluarganya; i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus memberitahukan dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyidikannya kepada Penuntun Umum sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. BAB VIII KETENTUAN PIDANA Pasal 10 (1) Pelanggaran atas ketentuan Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 dan Pasal 8 Peraturan Daerah ini, diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

6 (2) Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tindak pidana yang mengakibatkan perusakan dan pencemaran lingkungan diancam pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pelanggaran dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah kejahatan. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 11 Terhadap prasarana lingkungan, utilitas umum dan fasilitas sosial serta bangunan yang sudah ada, harus disesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini dan dilaksanakan secara bertahap. BAB X PENUTUP Pasal 12 Masa berlakunya Peraturan Daerah ini selama 10 (sepuluh) tahun (2009-2019), dengan ketentuan setelah 5 (lima) tahun berjalan dapat diadakan peninjauan kembali. Pasal 13 Hal-hal yang secara teknis belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, akan ditetapkan lebih lanjut sepanjang mengenai peraturan pelaksanaannya dengan Peraturan Walikota. Pasal 14 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang Nomor 4 Tahun 1980 tentang Rencana Terperinci Pusat Perdagangan Regional Seberang Ulu Palembang serta seluruh peraturan teknis pelaksanaannya, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 15 Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini, dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palembang Ditetapkan di Palembang pada tanggal 29 Mei 2009 WALIKOTA PALEMBANG, Cap/dto Diundangkan di Palemban pada tanggal 29-5-2009 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALEMBANG H. EDDY SANTANA PUTRA Cap/dto Drs. H. Marwan Hasmen, M.Si LEMBARAN DAERAH KOTA PALEMBANG Tahun 2009 Nomor 8

7

8