PENGGUNAAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MATERI BANGUN RUANG

dokumen-dokumen yang mirip
PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MATERI BANGUN RUANG

Key Word: creative-productive, buzz group, increasing, mathematic

PENGGUNAAN MODEL THINK TALK WRITE

PENGGUNAAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN MEDIA BENDA KONKRET

PENGGUNAAN METODE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PETA

PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SD. 1 Mahasiswa PGSD FKIP UNS 2,3 Dosen PGSD FKIP UNS

PENGGUNAAN MODEL ROLE PLAYING UNTUK PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 LUNDONG

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG PECAHAN MELALUI MODEL CIRC PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI RAHAYU TAHUN AJARAN 2012/2013

PENERAPAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MEDIA MUATAN DALAM PENINGKATAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROUND TABLE DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN BAHASA JAWA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI ENTAK

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 KRACAK

Keywords: Scientific, concrete object media, Mathematics

Noviana Kusumawati Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pekalongan Jl. Sriwijaya No 3 Pekalongan, ABSTRAK

PENERAPAN MODEL RME DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS V SDN GUMILIR 04 TAHUN AJARAN

ilmiah serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan yang Maha Esa perlu ditanamkan kepada siswa. Hal tersebut dapat tercapai salah

Keywords: RME, paper folding media, fraction

Nur Khasananah 1, Triyono 2, Joharman 3 FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret

PENGGUNAAN MODEL CTL DENGAN MEDIA MANIK-MANIK DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS IV

PENGGUNAAN MODEL OPEN ENDED LEARNING

PENDAHULUAN Pembelajaran sangat berperan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik apabila proses

PENERAPAN METODE KUMON DENGAN MEDIA GRAFIS DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SDN 2 KUTOSARI TAHUN AJARAN

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DIAM DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BANGUN DATAR SISWA KELAS V SD NEGERI 2 JOGOPATEN TAHUN AJARAN

Keywords: Scientific, Concrete Media, Mathematics

PENERAPAN MODEL CONCEPT SENTENCE DENGAN MEDIA GAMBAR DALAM PENINGKATAN

PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN MEDIA MISTAR GESER DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENERAPAN METODE KUMON DENGAN MEDIA GRAFIS

PENERAPAN METODE INKUIRI TERBIMBING DENGAN BENDA NYATA DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN PECAHAN SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN MEDIA BENDA MANIPULATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN BILANGAN PECAHAN

PENGGUNAAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS V SEKOLAH DASAR

UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KARTU DOMINO KATA BERGAMBAR SISWA KELAS V SD

PENGGUNAAN MIND MIND DENGAN MEDIA GRAFIS DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 2 KEDUNGWINANGUN

PENGGUNAAN METODE JARIMAGIC DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP GAYA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS)

PENERAPAN MODEL TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI)

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNINGTIPE STAD DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BANGUN DATAR PADA SISWA KELAS III SD

PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS III SD

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SDN 01 BOJONGSARI TAHUN AJARAN

PENGGUNAAN TIPE STAD DENGAN MEDIA GAMBAR DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENERAPAN TEKNIK NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN BILANGAN PECAHAN SISWA KELAS V SD

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI MODEL LEARNING CYCLE (PEMBELAJARAN BERSIKLUS) PADA SISWA SEKOLAH DASAR

PENERAPAN MEDIA PAPAN FLANEL DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BANGUN DATAR SISWA KELAS III SDN 1 PANJER

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MEDIA EDUTAINMENT

PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

Keywords: Open Ended Learning, multimedia, mathematic

PENGGUNAAN MEDIA POWERPOINT DALAM PENINGKATAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS V SD NEGERI 2 KASEGERAN

UPAYA PENINGKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DENGAN PENGGUNAAN MEDIA FLASHCARD PADA SISWA KELAS V SDN 2 SEMPOR KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS V SD

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE TGT DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 BOCOR

PENGGUNAAN MODEL KONTEKSTUAL DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN PADA SISWA KELAS III SD NEGERI ORI TAHUN AJARAN 2012/2013

PENERAPAN METODE BELAJAR MEMBACA TANPA MENGEJA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR

PENERAPAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN MEDIA BENDA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS III SDN 3 PANJER

PENGGUNAAN METODE MENDONGENG DENGAN MEDIA SCRABBLE DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA KELAS I SD NEGERI 2 KALIREJO TAHUN AJARAN 2014/2015

Kata kunci: Talking Stick, Handout, IPS

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG SOAL CERITA PECAHAN PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR

Kata kunci: Index Card Match, kartu gambar, Bahasa Inggris

PENERAPAN METODE INDEX CARD MATCH DAN MEDIA GAMBAR DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS SISWA KELAS IV SDN 2 GRENGGENG TAHUN AJARAN 2013/2014

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN IPA DENGAN METODE DEMONSTRASI BERBANTU MEDIA GAMBAR PADA KELAS IV SDN LOMPIO. Oleh.

PEGGUNAAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS III SD NEGERI TANJUNGREJO TAHUN AJARAN 2012/2013

PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN METODE RESITASI DENGAN BAHAN AJAR LEAFLET UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA KELAS III SD NEGERI 1 GRENGGENG TAHUN AJARAN

PENGGGUNAAN METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)

Keywords: Index Card Match, card number, Learning Mathematics

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN SISWA KELAS IV SD

PENERAPAN METODE GROUP INVESTIGATION DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS V SDN 3 DOROWATI TAHUN AJARAN 2014/2015

PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING DALAM PEMBELAJARAN PKn SISWA KELAS IV SDN 2 PANGENJURUTENGAH TAHUN AJARAN 2013/2014

PENERAPAN PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN DI SEKOLAH DASAR KABUPATEN KEBUMEN TAHUN AJARAN 2011/2012

IG.A.K. Wardani (2009: 10.7), yang menyatakan bahwa: Pemerintah telah berupaya keras meningkatkan profesionalitas

PENGGUNAAN METODE GUIDED NOTE TAKING DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS SISWA KELAS V SD

KALAM CENDEKIA, Volume 5, Nomor 2.1, hlm

Keywords: Quantum Teaching, Concrete Media, Mathematics

PENGGUNAAN MODEL AUDITORY, INTELLECTUALLY, REPETITION

KALAM CENDEKIA, Volume 5, Nomor 1.1, hlm

PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TIPE TGT DENGAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS V SDN 6 PANJER TAHUN AJARAN 2014/2015

PENGGUNAAN MODEL MAKE A MATCH DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PERKALIAN DAN PEMBAGIAN SISWA KELAS II Oleh:

Keywords: Concept Sentence, puzzle media, writing skills. menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Candiwulan.

MENINGKATKAN KETERAMPILAN HITUNG PENJUMLAHAN PADA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PERMAINAN BUJUR SANGKAR AJAIB KELAS II SD 1 PEDES ARTIKEL JURNAL

PENERAPAN MODEL COURSE REVIEW HORAY DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG PECAHAN DI KELAS IV SD

PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TEKNIK THINK PAIR SHARE DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SD

Hannaning dkk : Penerapan pembelajaran Berbasis Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan

Keywords: TAI (Team Assisted Individualization), increase, math, learning outcomes

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA PECAHAN DENGAN METODE PROBLEM SOLVING LEARNING (PSL)

PENGGUNAAN METODE ROLE PLAYING DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS DI KELAS V SD

Kata kunci: cooperative script, peningkatan, IPS

PENERAPAN MODEL MIND MAP DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 SOKAWERA TAHUN AJARAN 2014/2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA UNTUK SISWA KELAS III SD NEGERI PONCOWARNO TAHUN AJARAN 2013/2014

PENGGUNAAN MEDIA BANGUN DATAR DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN BILANGAN PECAHAN SISWA KELAS III SD NEGERI BANJARSARI TAHUN AJARAN 2011/2012

Keywords: Teams Games Tournament (TGT), visual media, social science

PENERAPANMODEL KOOPERATIF TIPE PAIR CHECK

PENERAPAN METODE THINK PAIR SHARE DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD

Keywords: Quantum Teaching model, visual media, science, learning

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERHITUNG BILANGAN BULAT MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KOPERASI MELALUI METODE MIND MAPPING

Keyword:Question and answer, word card

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME)

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MEDIA REALIA DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG GAYA PADA SISWA KELAS V SDN 2 BANJURPASAR TAHUN AJARAN

Transkripsi:

PENGGUNAAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MATERI BANGUN RUANG Nurul Chujaemah 1, Septi Yuliana 2, Suci Utaminingsih 3, Triyono, H. Setyo Budi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jl. Kepodang 67A Telp. (0287)381169 Kebumen nurulchujaemah@yahoo.co.id Abstract : THE USING CONSTRUKTIVISM METHOD IN IMPROVING RESULT OF TEACHING MATHEMATICS GEOMETRY LEARNING FOR FOURTH GRADE LEVEL The objective of this research are: 1. Improving the result of teaching learning activity in Mathematics geometry lesson for fourth grade level of elementary school in 20011/2012 academic year. 2. Understanding the obstacle and finding the solution/way out in using construktivism method in improving the result of teaching learning activity in 2011/2012 academic year. This study is a classroom action research method was implemented in three cycles and eachconsisting of four stages, namely the planning stage, the action stage, the stage of observation and reflection phase. Data source are from teacher and students. The results showed that the use of construktivism method can improve student learning result in mathematics learning. It can be seen with increasing student learning result in each cycle. The initial value average the average grade is 52. After the first cycle of action increased to 63,2 and the second cycle of action increased to 80. While the third cycle increased to 90. Key word: Constructivism, geometry Abstrak : PENGGUNAAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MATERI BANGUN RUANG Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi tentang : (1) Penggunaan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD tahun pelajaran 2011/2012, (2) Mengetahui kendala dan solusi penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam tiga siklus dan setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaa, tahap tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Sumber data berasal dari guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika yaitu dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Pada nilai awal diperoleh nilai rata-rata kelas yaitu 52. Setelah dilakukan tindakan siklus I terjadi peningkatan menjadi 63,2 dan dengan tindakan siklus II terjadi peningkatan kembali menjadi 80, sedangkan pada siklus III terjadi peningkatan kembali menjadi 90. Kata kunci: Konstruktivisme, Bangun ruang Pendahuluan Pendidikan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menyiapkan siswa menghadapi masa yang akan datang. Pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi berbagai tantangan hidup di masa yang akan datang. Saat ini dunia pendidikan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, jika pendidikan di Indonesia tidak ditingkatkan mutu dan kualitasnya maka pendidikan di

Indonesia akan tertinggal dengan pendidikan di Negara lain. Upaya pembaharuan dunia pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, guru sebagai pelaksana pembelajaran juga memegang peran besar dalam memajukan pendidikan. Bahkan kemajuan dunia pendidikan bisa dikatakan tergantung kepada seorang guru dalam mendidik anak didiknya agar menjadi seseorang yang kompeten dan kreatif. Seorang guru perlu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan siswanya untuk mengkonstruksi pemikirannya sendiri untuk menemukan konsep pembelajaran, serta mengetahui untuk apa konsep itu dipelajari. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pemikirannya sendiri agar lebih aktif, kreatif, menumbuhkan kesan bermakna dan menarik bagi siswa, sehingga kualitas belajar yang diharapkan dalam pembelajaran dapat tercapai. Terutama pada mata pelajaran Matematika yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran yang sangat sulit sehingga ditakuti oleh sebagian besar siswa. Seorang guru hendaknya memberi kesan yang menyenangkan bagi siswanya dalam mempelajari matematika yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan. Kesan matematika dikalangan siswa sebagai mata pelajaran yang sangat sulit hendaknya dapat digantikan dengan kesan yang menyenangkan dan menarik. Pembelajaran matematika bukan hanya berhubungan dengan angka dan operasi hitung bilangan, melainkan juga terdapat pembelajaran yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, sehingga proses pembelajarannya bukan hanya penguasaan operasi hitung bilangan, tetapi juga merupakan proses penemuan. Pendidikan matematika diharapkan dapat menjadi suatu wahana bagi siswa untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kondisi kehidupan lingkungan hidup mereka. Pengembangan pendidikan matematika dapat diterapkan lebih lanjut didalam kehidupan sehari-hari yang dapat bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat. Salah satu materi matematika yang terdapat dalam sekolah dasar kelas IV adalah materi bangun ruang sederhana. Materi tersebut sangat dekat hubungannya dengan benda-benda yang sering ditemui oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari, untuk itu penyampaian materi harus lebih berkesan dan menarik agar siswa lebih memahami penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari dan bukan bersifat hafalan konsep saja. Pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika materi bangun ruang sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa dalam memahami konsep dan prinsip bangun ruang disekolah dasar adalah salah satunya dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme. Daniel Muijs dan David Reynolds (2008: 97) mengemukakan bahwa Di dalam pendidikan, ide-ide konstruktivis sebagai berarti bahwa semua pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan bukan pengetahuan yang datang dari guru diserap oleh murid. Hal ini berarti di dalam pembelajaran siswa menggunakan pengetahuannya sendiri yang kemudian dikonstruksikan kedalam pembelajaran, pengetahuan yang didapat oleh siswa bukan berasal dari seorang guru. Pendekatan konstruktivisme akan menciptakan siswa menjadi lebih aktif dalam memahami materi yang diberikan, sehingga pengalaman belajar siswa akan bertambah sesuai dengan apa yang mereka lakukan dalam proses belajarnya. Proses pembelajaran melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang perlu dilakukan siswa untuk memperoleh kualitas belajar yang lebih baik. Pendekatan konstruktivisme dapat menjadikan siswa lebih mudah memahami konsep, dalam pembelajaran bangun ruang diharapkan siswa akan memahami konsep bangun ruang secara utuh dari pengetahuan riil menuju pengetahuan secara abstrak. Pengetahuan siswa mengenai sifat-sifat bangun ruang sederhana yang didapatkan akan berupa pengalaman yang didapatkan sendiri dari proses eksplorasi dengan

menggunakan bahan riil yang mereka gunakan dalam kegiatan eksplorasi. Sehingga ketika mereka dihadapkan pada gambar abstrak bangun ruang, mereka telah mengetahui dengan tepat sifat-sifat bangun ruang tersebut dan dapat menunjukkan sifatsifat bangun ruang tersebut dengan tepat. Penggunaan bahan riil yang sesuai dengan pengalaman siswa akan mempermudah siswa untuk memahami konsep-konsep sifat bangun ruang, sehingga pengetahuan yang mereka dapatkan akan teringat dalam waktu yang lama. Sehingga siswa akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan yang mungkin akan mereka hadapi dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang. Namum pada kenyataan yang ditemui pada saat pengamatan pembelajaran matematika di kelas IV ditemukan permasalahan pada saat pembelajaran bangun ruang berlangsung. Pembelajaran masih terpusat pada guru dan guru hanya menggunakan metode ceramah selama pembelajaran, sehingga siswa hanya menjadi pendengar yang baik dan pengetahuan yang mereka dapatkan hanyalah pengetahuan yang ditransfer dari seorang guru sehingga konsep yang didapatkan bersifat hayalan saja bukan hasil dari pemikiran mereka sendiri. Berdasarkan karakteristik yang dikemukakan oleh Basett (dalam Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 2001: 11) bahwa karakteristik anak sekolah dasar meliputi (1) mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat dan tertarik dengan dunia sekitar yang mengelilingi diri mereka sendiri; (2) mereka senang bermain dan lebih suka bergembira; (3) mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencoba usaha-usaha baru; (4) mereka biasanya tergetar hatinya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan; (5) mereka belajar dengan efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi; (6) mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak-anak lainnya. James dan James (dalam Ruseffendi, 1992: 27) menyatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Wahyudin (2007) menyatakan bahwa bangun ruang adalah suatu bangun yang bagian-bagiannya tidak berada dalam suatu bidang. Bangun ruang ada yang bentuknya teratur dan ada yang tidak teratur. Bangun ruang yang bentuknya teratur pada umumnya sudah memiliki nama, misalnya kubus, balok, tabung, bola, limas, prisma, kerucut. Langkah-langkah penerapan pendekatan konstruktivisme: a) Fase start, dalam fase ini guru memungkinkan ingin mulai dengan mengukur pengetahuan siswa sebelumnya dan menetapkan sebagai kegiatan. Guru dapat memulai dengan pertanyaan terbuka, lalu mendorong siswa untuk memberikan jawabanjawaban terbuka. Sebagai alternatif adalah mulai dengan sebuah masalah yang relevan dengan kehidupan seharihari, sebagai contoh pertanyaan seputar benda yang berupa bangun ruang yang sering dijumpai siswa. b) Fase eksplorasi, dalam fase ini siswa mengerjakan kegiatan yang ditetapkan guru di fase 1. Kegiatan ini biasanya bersifat eksploratik, melibatkan situasi atau bahan riil, dan memberikan kesempatan untuk kerja kelompok, sebagai contoh siswa bereksplorasi mencari tahu pengertian bangun ruang menggunakan bahan riil bangun ruang c) Fase refleksi, dalam fase ini mungkin diminta untuk menengok kembali kegiatan itu dan menganalisis serta mendiskusikan apa yang telah mereka kerjakan, baik dengan kelompok lain atau dengan guru. Sebagai contoh siswa mendiskusikan pengertian bangun ruang dari hasil eksplorasi yang telah mereka lakukan secara berkelompok d) Fase aplikasi dan diskusi, dalam fase ini guru meminta seluruh siswa untuk

mendiskusikan berbagai temuan dan menarik kesimpulan. Sebagai contoh siswa mendiskusikan pengertian bangun ruang dan menarik kesimpulan pengertian bangun ruang. Pendekatan konstruktivisme akan lebih efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual, oleh karena itu pendekatan konstruktivisme harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum pembelajaran dilaksanakan, siswa terlebih dahulu harus mengamati benda-benda yang ada di lingkungan hidup sehari-hari. Alasannya agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengkonstruksinya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar bangun ruang menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap pembelajaran bangun ruang yang sedang dipelajari menjadi paham dan mengerti. Rumusan Masalah dan Tujuan Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut: (1) bagaimanakan penggunaan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV materi bangun ruang, (2) Apakah kendala dan solusi yang dihadapi dalam penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV materi bangun ruang. Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang: (1) penerapan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV materi bangun ruang, (2) kendala dan solusi yang dihadapi dalam penggunaan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV materi bangun ruang. Metode Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas pada dasarnya mempunyai prinsip yang tidak jauh berbeda dengan pengumpulan data jenis penelitian yang lain. Data yang diambil berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil evaluasi belajar matematika. Data kualitatif berupa keefektifan pembelajaran di kelas ketika guru mengajar matematika menggunakan pendekatan konstruktivisme. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian ini dilaksanakan dalam kawasan kelas sehingga disebut penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas dan upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang diangkat dari kegiatan tugas sehari-hari di kelas (Kasihani Kasbolah, 2001) Model penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah system spiral refleksi diri yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart (1990: 11) yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Penelitian ini dimulai dari bulan Desember 2011. Peneliti mengawali dengan pengajuan judul tentang penelitian yang akan dilaksanakan. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas IV Tahun Ajaran 2011/2012. Sumber data yang digunakan peneliti ini yaitu dari siswa dan teman sejawat. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara dan hasil belajar siswa. Analisis data yang dilakukan dengan analisis kualitatif, yang meliputi tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan dan terus menerus selama dan setelah pengumpulan data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. memperoleh data hasil penelitian yang akurat. Untuk itu peneliti menggunakan berbagai

instrument penelitian yang akan dikonfirmasikan dengan pihak terkait seperti; kepala sekolah, guru atau teman sejawat, serta siswa. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data yaitu mengambil data dari tiga narasumber. Variable peningkatan proses dan hasil belajar divalidasi menggunakan instrument observasi dan wawancara yang diberikan kepada observer dan siswa serta instrument tes hasil belajar untuk siswa. Indikator kinerja merupakan uraian tentang petunjuk-petunjuk atau tanda-tanda yang diharapkan muncul sebagai wujud keberhasilan dalam melakukan tindakan. Tahapan kegiatan dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Taggart (1990) yang meliputi 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Tahapan ini dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan sehingga ditemukan hasil yang optimal. Hasil dan Pembahasan Table 1 Nilai Hasil Belajar Siswa Uraian Siklus I Siklus II Siklus III Nilai 85 90 95 Tertinggi Nilai 45 60 75 Terendah Rata-rata 63,2 80 88 Nilai Tuntas / 13 21 25 KKM Belum 12 4 0 tuntas/ KKM Persentase 52% 84% 100% Tuntas Persentase Belum tuntas 48% 16% 0% Berdasarkan hasil analisis data di atas, pembelajaran menggunakan pendekatan konstruktivisme dalam materi bangun ruang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV dengan peningkatan nilai rata-rata nilai hasil belajar siswa pada setiap siklusnya, pada siklus I nilai tertinggi 85, nilai terendah 45, nilai rata-rata siswa yaitu 63,2, jumlah siswa yang tuntas 13, jumlah siswa tidak tuntas 12, persentase siswa yang tuntas 52%, dan persentase siswa yang belum tuntas yaitu 48%. Pada proses belajarnya pun keaktifan siswa semakin meningkat, keaktifan siswa terlihat pada fasefase pendekatan konstruktivisme yaitu pada fase start siswa sudah mulai aktif menjawab dan menanyakan tentang materi pelajaran, dalam fase eksplorasi siswa aktif dalam mencari tahu pengertian bangun ruang dengan mengamati bangun ruang rill, dalam fase refleksi siswa menganalisis serta mendiskusikan hasil temuan dalam kegiatan eksplorasi, keaktifan siswa dalam fase aplikasi dan diskusi keaktifan siswa terlihat dalam mendiskusikan dan menyimpulkan oengertian bangun ruang. Namun keaktifan siswa tersebut belum maksimal dan perlu ditingkatkan kembali dalam siklus selanjutnya dengan cara memperbaiki tindakan guru sesuai dengan langkah-langkah. Masih terdapat siswa yang belum tuntas sebesar 48% dan keaktifan siswa dalam fase pendekatan konstruktivisme yang belum maksimal maka peneliti akan melakukan perbaikan tindakan pada siklus II dengan mengacu kekurangan-kekurangan yang ditemui pada siklus I belum sesuai dengan pendapat Madden (dalam Daniel Muijs dan David Reynolds 2008: 108) yang menyampaikan alasan penggunaan pembelajaran matematika yaitu pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika akan menunjukkan hasil-hasil yang positif dibanding dengan metode lain. Peneliti akan memperbaiki berbagai kekurangan yang ditemui dalam siklus I, kekurangan tersebut akan menjadi langkah perbaikan pada siklus II. Tindakan pada siklus II mengakibatkan peningkatan yaitu dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 60, nilai rata-rata siswa yaitu 80, jumlah siswa yang tuntas 21, jumlah siswa yang belum tuntas 4, persentase siswa yang tuntas 84%, dan persentase siswa yang belum tuntas 16%. Pada siklus II masih terdapat 16% dan pada proses belajarnya pun

keaktifan siswa sudah semakin meningkat, keaktifan siswa terlihat pada fase-fase pendekatan konstruktivisme yaitu pada fase start siswa sudah mulai aktif menjawab dan menanyakan tentang materi pelajaran, dalam fase eksplorasi siswa aktif dalam mencari tahu sifat-sifat bangun ruang dengan mengamati bangun ruang rill, dalam fase refleksi siswa menganalisis serta mendiskusikan hasil temuan dalam kegiatan eksplorasi, keaktifan siswa dalam fase aplikasi dan diskusi keaktifan siswa terlihat dalam mendiskusikan dan menyimpulkan sifat-sifat bangun ruang. Keaktifan siswa tersebut belum maksimal dan perlu ditingkatkan kembali dalam siklus selanjutnya dengan cara memperbaiki tindakan guru sesuai dengan langkah-langkah. Karena masih terdapat siswa yang belum tuntas sebesar 16% dan keaktifan siswa dalam fase pendekatan konstruktivisme yang belum maksimal maka peneliti akan melakukan siswa yang belum tuntas belajar, peneliti akan melakukan tindakan perbaikan pada siklus III dengan harapan ketuntasan belajar siswa mencapai 100%. Hasil belajar siswa pada siklus II belum sesuai dengan pendapat Madden (dalam Daniel Muijs dan David Reynolds 2008: 108) yang menyampaikan alasan penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika yaitu pembelajaran matematika akan menunjukkan hasil-hasil yang positif dibanding dengan metode lain. Dengan mengacu pada kekurangan-kekurangan yang ditemui pada siklus II, peneliti akan melakukan perbaikan pada siklus III. Tindakan pada siklus III menghasilkan nilai tertinggi 95, nilai terendah 75, nilai rata-rata siswa yaitu 88, jumlah siswa yang tuntas 25, jumlah siswa yang belum tuntas 0, persentase siswa yang tuntas 100%, dan persentase siswa yang belum tuntas 0%. Pada proses belajarnya pun keaktifan siswa semakin meningkat, keaktifan siswa terlihat pada fase-fase pendekatan konstruktivisme yaitu pada fase start siswa sudah terlihat aktif menjawab dan menanyakan tentang materi pelajaran, dalam fase eksplorasi siswa aktif dalam mencari tahu pengertian bangun ruang dengan mengamati bangun ruang rill, dalam fase refleksi siswa menganalisis serta mendiskusikan hasil temuan dalam kegiatan eksplorasi, keaktifan siswa dalam fase aplikasi dan diskusi keaktifan siswa terlihat dalam mendiskusikan dan menyimpulkan oengertian bangun ruang. Keaktifan siswa tersebut dianggap sudah sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan pada siklus III ini sudah mencapai hasil yang diharapkan yaitu siswa yang mendapatkan predikat tuntas belajar telah mencapai 100%, keaktifan siswa juga sudah dianggap memenuhi kriteria siswa aktif. Peningkatan hasil belajar siswa yang terjadi pada setiap siklusnya dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dalam materi bangun ruang pada siswa kelas IV sesuai dengan teori Madden dan McDavin. Menurut Madden (dalam Daniel Muijs dan David Reynolds 2008: 108) menyampaikan alasan penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika yaitu pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika akan menunjukkan hasil-hasil yang positif dibanding dengan metode lain. Hasil-hasil yang positif ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pendapat tersebut sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh McDavin (dalam Daniel Muijs dan David Reynolds 2008:108) yang menyatakan bahwa siswa-siswa yang diajar dengan menggunakan metode-metode konstruktivis menunjukkan hasil yang lebih baik secara signifikan pada postes. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh siswa, maka peneliti mengakhiri penelitian karena penelitian sudah mencapai hasil yang diharapkan oleh peneliti yaitu perolehan nilai siswa 70 yang merupakan batas KKM dengan persentase ketuntasan belajar siswa mencapai 100%. Simpulan dan Saran Penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika

tentang bangun ruang yang dilakukan sesuai dengan langkah-langkah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dengan hasil yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar siswa yang telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar minimal 70 dan persentase ketuntasan belajar siswa mencapai 100%. Hasil pada siklus I nilai rata-rata siswa 63,2 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 52%. Pada siklus II terjadi peningkatan yaitu nilai rata-rata siswa menjadi 80 dengan persentase ketuntasan belajar siswa mencapai 84%. Tindakan pada siklus III juga mengalami peningkatan hasil belajar siswa menjadi 88 dengan persentase ketuntasan belajar siswa mencapai 100%. Penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika tentang bangun ruang sederhana ditemukan kendala yaitu siswa kurang mantap dalam melaksanakan setiap fase konstruktivisme. Kendala tersebut dapat diatasi dengan solusi yaitu dalam melaksanakan fase konstruktivisme lebih dimantapkan agar mudah dilaksanakansehingga kualitas belajar siswa dapat lebih baik dan hasil belajar semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sekiranya dapat memberikan motivasi tersendiri bagi peneliti lain untuk dapat menerapkan pendekatan konstruktivisme dengan efektif sehingga hasil belajar siswa dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran semakin meningkat. Daftar Pustaka Wahyudin. (2007). Matematika Bangun Ruang. Bandung: Epsilon Grup Kasbolah, K. (2001). Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang Padmono, H.Y. (1999). Penelitian Tindakan Kelas 1. Surakarta: UNS Daniel Muijs dan David Reynolds. 2008. Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT. Remaja. Mulyani Sumantri dan Johan Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. CV. Maulana: Bandung. Ruseffendi, dkk. 1992. Pendidikan Matematika 3. Jakarta: Depdikbud