BAB I PENDAHULUAN. H. Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm.33.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Pustaka Setia Bandung, Bandung, 2013, hlm. 23

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam

BAB I PENDAHULUAN. Kehadiran Bank Muammalat Indonesia (BMI) pada tahun 1992, telah

BAB I PENDAHULUAN. hal Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Bandung: Pustaka Setia, 2013,

BAB I PENDAHULUAN. Makhalul Ilmi, Teori dan Praktek Lembaga Mikro Keuangan Syariah, UII Press, Yogyakarta, 2002, hlm.91. 2

BAB I PENDAHULUAN. tetapi jika dilihat kondisi UMKM di Indonesia, dapat dikatakan bahwa UMKM kurang

BAB II GAMBARAN UMUM BMT SYARIAH TAMBANG KABUPATEN KAMPAR. A. Sejarah singkat BMT Syariah Tambang Kabupaten Kampar

Manusia selalu dihadapkan pada masalah ekonomi seperti kesenjangan. ekonomi, kemiskinan, dan masalah-masalah lainnya. Namun banyak masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia, (diakses pada 15 November 2015). 3

BAB 1 PENDAHULUAN. hlm.15. Press, 2008,hlm. 61

BAB I PENDAHULUAN. 2004, hlm Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Watamwil (BMT), UII Pres Yogyakarta,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Baitul Mal wa Tamwil atau di singkat BMT adalah lembaga. yang ada pada Alquran dan Hadist. Sesuai dengan namanya yaitu baitul

BAB I PENDAHULUAN. of founds) dengan pihak yang mengalami kekurangan dana. Sehingga

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam dunia perbankan, terutama perbankan syari ah tidak lepas dari

BAB 1 PENDAHULUAN. perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1992 tentang Perkoperasian, PP RI No. 9 Tahun 1995 tentang

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Lembaga keuangan Mikro Syariah BMT mempunyai dua sisi. membawa misi sosial pada masyarakat, keberadaan BMT ditengah-tengah

BAB I PENDAHULUAN. Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang merupakan jasa keuangan syariah yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Asuransi Syariah (AS), Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), dan Unit Simpan

PERANAN BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) AHMAD DAHLAN CAWAS DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA KECIL DI KECAMATAN CAWAS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia yang berkembang pesat

BAB I PENDAHULUAN. Namun demikian, upaya tersebut kiranya perlu dibarengi pula dengan upaya

BAB I PENDAHULUAN. lebih dikenal dengan nama Bank Syariah di Indonesia bukan merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. atau badan badan hukum koperasi yang memberikan kebebasan masuk

BAB I PENDAHULUAN. keuangan perbankan dan lembaga keuangan non bank. Mengenai lembaga

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ismail, Perbankan Syariah, Prenadamedia Group, Jakarta, 2011, hlm 29-30

sebagai anggota dengan bekerjasama secara kekeluargaan. Koperasi di Indonesia berlandaskan pancasila dan undang-undang dasar 1945.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. adalah agama fitrah (suci), yang sesuai dengan sifat dasar manusia ( human

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka mengatasi krisis tersebut. Melihat kenyataan tersebut banyak para ahli

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Agama Islam sebagai ajaran rahmatan lil alamin, pada dasarnya

Dr. Mulyaningrum Bakrie School of Management Jakarta, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Intermediasi keuangan merupakan proses penyerapan dari unit surplus

BAB I PENDAHULUAN. tabungan dan pembiayaan, Bank Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT),

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 5

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan jumlah penduduk muslim

BAB II LANDASAN TEORI TEORI PEMBIAYAAN MURABAHAH DAN PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Lembaga keuangan perbankan syariah merupakan salah satu lembaga

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 mengalami tumbuh sebesar

BAB I PENDAHULUAN. syariah merupakan implementasi dari pemahaman umat Islam terhadap prinsipprinsip

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian rakyat yang berdasarkan kekeluargaan dan kegotongroyongan.

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyentuh kalangan bawah (grass rooth). Semula harapan ini hanya

BAB I PENDAHULUAN. Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, UPP-AMP YKM, Yogyakarta, 2002, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia), Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1999, hlm. 1. Pustaka Utama, hlm. 10

BAB I PENDAHULUAN. 2001, hlm Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah: dari Teori ke Praktik, Gema Insani, Jakarta,

BAB I PENDAHULUAN. negara adalah sektor perbankan. Bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang

BAB I PENDAHULUAN. Ibadah merupakan hubungan vertikal Allah SWT dengan manusia sebagai

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi Islam saat ini cukup pesat, ditandai dengan berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. oleh negara-negara sedang berkembang tetapi juga di negara-negara maju.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai organisasi perantara antara masyarakat yang kelebihan dana dengan

PERANAN BAITUL MAL WAT TAMWIL (BMT) BUANA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PEDAGANG KECIL DI DESA MULUR KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. yang hanya mengejar target pendapatan masing-masing, sehingga tujuan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari dua istilah, yaitu Baitul mall dan Baitul Tamwil. Pengertian BMT

BAB I PENDAHULUAN. umum dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Agama islam tidak hanya meliputi

BAB I PENDAHULUAN. mereka. Lembaga keuangan tersebut diharapkan bisa menyokong seluruh bagian

BAB I PENDAHULUAN. 1 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syari ah, Depok : Rajagrafindo Persada, 2014, h. 24

BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTEK PROGRAM MICROFINANCE SYARI AH BERBASIS MASYARAKAT (MISYKAT) DAN MANAJEMEN

BAB I PENDAHULUAN. syariah di Indonesia. Masyarakat mulai mengenal dengan apa yang disebut

BAB I PENDAHULUAN. merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. 1 Agama Islam

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan menerapkan prionsip syariah semakin berkembang pesat. Pelopor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. telah menjadikan manusia dengan berbagai naluri, di antaranya naluri hidup

BAB I PENDAHULUAN. usahanya. Sedangkan bank adalah sebuah lembaga atau perusahaan yang aktifitasnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Ahmad M. Saefuddin, Ekonomi dan Masyarakat dalam Perspektif Islam, (Jakarta: CV Rajawali, 1987), h.71.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. hlm Husaini Usman, Manajemen; Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, bumi aksara, Jakarta,

BAB I BAB V PENUTUP PENDAHULUAN. Bab ini merupakan bab penutup yang berisi. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dapat mengetahui produk apa yang akan mereka butuhkan.

LANDASAN TEORI Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia. negara negara anggota dan masyarakat Muslim pada umumnya.

BAB I PENDAHULUAN. maupun kehidupan yang bersifat spritual. Firman Allah QS. Al-Māidah/5: telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku-ridhai

BAB I PENDAHULUAN. Searah dengan perubahan zaman, perubahan tata ekonomi dan. produktif untuk memberdayakan perekonomian masyarakat.

pemberian semua jasa yang dibutuhkan nasabahnya baik nasabah penyimpan

BAB I PENDAHULUAN. Julius R. Latumaerissa, Mengenal Aspek-Aspek Operasi Bank Umum, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, Cet. I, hlm. 1.

BAB I PENDAHULUAN. lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB V PEMBAHASAN. Setelah melakukan pengamatan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BMT

BAB I PENDAHULUAN. fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank. 1. nilai-nilai syariah berusaha menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. Pres, cet-ke 1, 2004, h Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Watamwil, Yogyakarta: UII

BMT merupakan pelaku ekonomi baru dalam kegiatan perekonomian nasional yang beroperasi dengan menggunakan prinsip syariah. BMT melakukan fungsi

BAB I PENDAHULUAN. Islam, seperti halnya bank konvensional, juga berfungsi sebagai suatu

BAB I PENDAHULUAN. yang menjalankan sebagian besar sistem operasional perbankan syariah.

BAB I PENDAHULUAN. kajiannya. Lebaga ini berdiri berdasarkan SK Rektor No.Un.3/Kp.07.6/104/2007 tanggal

BAB I PENDAHULUAN. Bank Syariah pertama kali dilakukan di Pakistan dan Malaysia. Bank ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu agama yang mengajarkan prinsip at ta awun yakni saling

BAB IV. oleh Baitul mal wat Tamwil kepada para anggota, yang bertujuan agar anggota

SKRIPSI PENERAPAN PRINSIP KEKELUARGAAN DALAM PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH PADA BMT AL-AMIN MAKASSAR KALYISAH BAHARUDDIN

BAB I PENDAHULUAN. pelanggan agar tidak berpindah ke perusahaan lain (Susanto, 2008:59). nyata dari sektor perbankan (Lupiyoadi dan Hamdani, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan permodalan tidak mudah diperoleh. 1. Mudharabah BMT Bina Umat Sejahtera Semarang (Universitas Negeri Semarang, 2007)

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatkan kualitas perekonomian masyarakat, dana

BAB I PENDAHULUAN. keuangan syariah non bank yang banyak ditemui di masyarakat. BMT dalam

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekitar tujuh tahun lamanya, sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi dan moneter pada akhir tahun 1997, peranan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) cukup besar dalam membantu kalangan usaha kecil dan menengah. Peranan BMT tersebut sangan penting dalam membangun kembali iklim usaha yang sehat di Indonesia. Bahkan, ketika terjadi krisis ekonomi dan moneter, BMT sering malakukan observasi dan supervisi ke berbagai lapisan masyarakat untuk menelaah bagi terbukanya peluang kemitraan usaha. Hal tersebut ditunjukkan untuk membengkitkan kembali sektor riil yang banyak digeluti oleh kalangan usaha kecil dan menengah serta untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.1 Latar belakang berdirinya BMT bersamaan dengan usaha pendirian Bank Syariah Indonesia, yakni pada tahun 1990-an. BMT semakin berkembang tatkala pemerintah mengeluarkan kebijakan hukum ekonomi UU No. 7/1992 tentang Perbankan dan PP No. 72/1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Bagi Hasil. Pada saat bersamaan, ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) sangat aktif melakukan pengkajian intensif tentang pengembangan ekonomi Islam di Indonesia. Dari berbagai penelitian dan pengkajian tesebut, terbentuklah BMT-BMT di Indonesia. ICMI berperan besar dalam mendorong pendirian BMT-BMT di Indonesia. Keberadaan BMT sendiri, dapat dipandang memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai media penyalur pendayagunaan harta ibadah, seperti zakat, infak, sedekah dan wakaf, serta dapat pula berfungsi sebagai institusi yang bergerak dibidang investasi yang bersifat produktif sebagai layaknya bank. Pada fungsi kedua dapat dipahami bahwa selain berfungsi sebagai 1 H. Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm.33. 1

2 lembaga keuangan, BMT juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Sebagai lembaga keuangan, BMT bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang memercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkan dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang diberikan pinjaman oleh BMT. Adapun sebagai lembaga ekonomi, BMT berhak melakukan kegiatan ekonomi, seperti mengelola kegiatan perdagangan, industri, dan pertanian.2 BMT adalah lembaga keuangan yang berbasis Islam yakni adanya keharusan menerapkan prinsip-prinsip hukum dan etika bisnis yang Islami, antara lain prinsip ibadah (at-tauhid), persamaan (al-musawat), kebebasan (al-huurriyat), keadilan (al- adl), tolong-menolong (at-ta awun), dan toleransi (at-tasamuh). Firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 1: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-nya. 3 Dalam ayat tersebut, dapat kita ketahui bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita orang Islam untuk beribadah kepada Allah SWT supaya kita termasuk menjadi orang-orang yang bertaqwa. Akan tetapi tak hanya beribadah kepada Allah saja yang harus kita penuhi, selain itu juga diwajibkan untuk bergaul dengan sesama manusia dengan baik. Dalam ayat selanjutnya disebutkan bahwa seorang manusia juga diperintah Allah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, yakni sesuai dengan yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya (QS. Al-Maidah ayat 2). 2 M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 318. 3 Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, CV. Toha Putra, Semarang, 1989, hlm. 156.

3 Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-nya. Selanjutnya, secara garis besar BMT juga menerapkan sistem manajemen yang dibedakan menjadi empat ; yakni planning (perencanaan), actuating (pelaksanaan), organizing (pengorganisasian), dan controlling (control/pengawasan). Dengan fungsi empat maksud tersebut, BMT berpotensi atau mampu mencapainya. Fungsi adanya BMT merupakan potensi penggerak ekonomi yang cukup signifikan karena secara konseptual BMT diarahkan untuk membina usaha kecil dikalangan masyarakat bawah, terutama pedesaan. Akan tetapi, pada realitasnya kehadiran BMT hingga kini belum dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kelas bawah dan pertumbuhan usaha kecil sebagaiman yang diharapkan. Adapun kelemahan BMT pada umumnya adalah lemahnya SDM, manajemen, fasilitas, servis, permodalan, dan lain-lain, yang berakhir pada sulitnya menumbuhkan kepercayaan masyarakat luas (public trust) jika suatu saat BMT mengalami pailit (taflis). Anggota/calon anggota BMT pada umumnya resah dan khawatir jika suatu saat BMT mengalami pailit dikarenakan pada kenyataannya banyak BMT yang mengalami pailit tak dapat mengembalikan dana anggotanya. Selain itu, pada lembaga BMTjuga tidak dibawahi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang sewaktu-waktu terjadi pailit maka dana anggota akan ditanggung oleh LPS. Faktanya, jumlah nasabah pada BMT Bina Ekonomi Umat saat ini berjumlah 2.624 orang, dengan persentase dana anggota yang macet sebesar 63%, yang digelapkan oleh karyawan 25% dan lainnya 12% adalah dana

4 lancar. Dari data yang diketahui, maka jumlah anggota yang dananya macet (tak dapat kembali) sebesar 1978 orang. Sedangkan anggota yang mengembalikan dana lancar hanya sebesar 10% dikarenakan apabila anggota sudah melunasi, belum ada jaminan pasti bahwa anggota dapat meminjam kembali pada BMT dikarenakan kas BMT kosong. Dalam artian bahwa kas BMT tidak menyediakan untuk pemberian kredit/pinjaman akan tetapi hanya menyediakan untuk pengambilan dana tabungan dari anggota. Tidak utuhnya UU yang dimiliki BMT sebagaimana diatas membuat anggota tidak memiliki perlindungan hukum yang pasti. Sehingga ketika BMT mengalami pailit (taflis), maka anggota kemungkinan tidak mendapat kepastian hukum dan jaminan terhadap dana yang ikut terbangkrutkan bisa jadi hilang begitu saja tanpa ada tindak lanjut hukum secara formal (Negara). Sampai saat ini, problematika perlindungan hukum dana anggota yang belum pasti dalam BMT salah satunya ketika BMT mengalami pailit (taflis) belum diatur dengan baik oleh Negara, baik dari aspek tata cara penyelesaian sengketanya maupun pengembalian dana anggota. Oleh karena itu, BMT sebagai usaha mikro yang sistem manajemennya lebih menekankan pada aspek kepercayaan (trust) tentunya perlu lebih didukung oleh regulasi perundang-undangan yang pasti, karena kepercayaan tidak dapat menjamin dana anggota itu aman akibat risiko-risiko yang kemungkinan terjadi. Walaupun beberapa BMT mengambil bentuk koperasi, namun hal ini masih bersifat pilihan dan bukan keseharusan. Untuk BMT yang berbadan hukum koperasi, UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Koperasi dapat dijadikan landasan untuk menentukan hak dan kewajiban. Dalam penyelesaian sengketa pailit, lembaga keuangan yang memiliki badan hukum dapat mengatur prosedur penyelesaian hak-hak anggota dalam perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu, BMT yang belum memiliki badan hukum ketika terjadi pailit, sudah pasti mengalami akan kesulitan. Hal ini disebabkan karena ketidak jelasan pada pemisahan harta kekayaan pendiri dengan BMT.

5 Sekitar tahun 2013, tepatnya tanggal 31 desember 2013, BMT Bina Ekonomi Umat (BIKUM) diputuskan pailit dari hasil rapat anggota dan pengurus. Dari hasil yang diketahui bahwa sekitar dana ratusan juta dari kas yang ada di BMT Bina Ekonomi Umat mengalami minus. Oleh karena itu, oleh anggota dan pengurus sendiri menyatakan bahwa BMT Bina Ekonomi sudah tidak mampu beroperasi dan dilanjutkan. Dengan hal ini maka dana akan anggota yang ada di BMT mengalami kemacetan, terutama dalam hal pengembalian. Berdasarkan uraian diatas, salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kepailitan Baitul Maal wat Tamwil(BMT) adalah pengembalian dana anggota jika sewaktu-waktu BMT mengalami pailit (taflis) karena tidak adanya peraturan yang jelas dari pemerintah dan tidak adanya lembaga penjamin yang dapat menjamin dana BMT jika terjadi pailit (taflis). Maka, peneliti mengangkat judul skripsi Analisis Pengembalian Dana Anggota Dalam Keadaan Pailit di BMT Bina Ekonomi Umat Di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang. B. Fokus Penelitian Fokus dalam penelitian ini adalah menganalisis tentang faktor-faktor yang menyebabkan BMT Bina Ekonomi Umat pailit. C. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana analisis faktor-faktor penyebab BMT Bina Ekonomi Umat pailit dilihat dari aspek internal maupun eksternal? 2. Bagaimana analisis pengembalian dana anggota ketika BMT Bina Ekonomi Umat tersebut dalam kondisi pailit?

6 D. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya BMT Bina Ekonomi Umat mengalami pailit dilihat dari aspek internal maupun eksternal. 2. Untuk menjelaskan bagaimana BMT Bina Ekonomi Umat dalam mengembalikan dana anggotanya ketika dalam kondisi pailit. E. Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Secara teoritis : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para stakeholders tentang tujuan awal mendirikan BMT dan untuk keberlangsungan BMT sendiri dimasa yang akan datang. 2. Secara praktis : Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan masukan kepada pembaca umumnya dan pihak terkait agar menyadari bahwa sebagai anggota BMT yang notabenenya sebagai penggerak kemajuan ekonomi rakyat membutuhkan perlindungan pasti dari pemerintah akan dananya ketika sewaktu-waktu BMT dalam kondisi pailit. F. Sistematika Penulisan Proposal yang penulis susun terdiri dari tiga bagian yang merupakan rangkaian dari beberapa bab, yaitu : 1. Bagian muka (preliminaries) yang memuat : Cover 2. Bagian isi/batang meliputi : Bab I : Pendahuluan Pada bab pendahuluan akan dibahas hal-hal sebagai berikut : latar belakang, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

7 Bab II : Kajian Pustaka Hal yang dikemukakan dalam landasan teori ini meliputi : pengertian dan ruang lingkup kepailitan, tata cara permohonan pailit, tujuan kepailitan, syarat kepailitan, prosedur pernyataan pailit, akibat putusan pailit, faktor-faktor penyebab terjadinya kepailitan, definisi BMT, visi-misi dan tujuan, kesehatan BMT, penelitian terdahulu dan kerangka berfikir. Bab III : Metode Penelitian Dalam bab ini berisikan tentang metode penelitian yang terdiri darijenis penelitian, pendekatan penelitian, waktu dan lokasi penelitian, sebyek dan obyek penelitian, sumber data, lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, uji keabsahan data dan metode analisis data. Bab IV : Penelitian dan Pembahasan Dalam bab ini membahas tentang penelitian yang dilakukan oleh peneliti secara langsung pada BMT Bina Ekonomi Umat Sedan. Bab ini berisikan gambaran umum BMT Bina Ekonomi Umat, penyajian data dan analisis data Bab V : Penutup Berisikan kesimpulan dari hasil analisis data serta mengemukakan saran-saran yang berkaitan dengan penelitian tersebut. 3. Bagian akhir Bagian akhir terdiri dari : daftar pustaka, lampiran-lampiran dan penutup.