BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang sehingga dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif. Hal ini dapat terpenuhi apabila tidak terjadi permasalahan gizi (Depkes RI, 2002). Masalah gizi merupakan gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan (Soekirman, 2000). Bayi dan anak-anak adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap masalah gizi karena mereka memerlukan nutrisi tambahan untuk pertumbuhan dan perkembangan, memiliki cadangan energi yang terbatas dan masih tergantung pada orang lain (WHO, 2012). Gangguan gizi diawal kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan berikutnya. Gizi kurang pada balita tidak hanya dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan produktivitas dimasa dewasa. Oleh karena itu, keterlambatan intervensi kesehatan, gizi dan psikososial mengakibatkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki atau digantikan kemudian hari. Dampak dari adanya keterlambatan intervensi kesehatan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya gizi buruk (Wirjatmadi et al., 2012). Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk pada balita yaitu penyebab langsung adalah kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit infeksi. Namun penyebab tersebut selalu diiringi dengan latar belakang lain yang lebih kompleks seperti kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kondisi lingkungan dan pola asuh yang diberikan terhadap balita (Hidayat et al., 2010). 1
2 Hasil penelitian Mustapa et al.,(2013) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asupan energi dengan status gizi sehingga merupakan faktor risiko, namun tidak terdapat hubungan antara protein, lemak dan karbohidrat dengan status gizi sehingga bukan merupakan faktor risiko. Akan tetapi ada kecenderungan tubuh mengalami defisit zat-zat gizi jika berlangsung secara terusmenerus dan dapat mempengaruhi status gizi balita. Selain asupan makanan, penyebab langsung lain terjadinya gizi buruk yaitu penyakit infeksi. Seorang balita yang menderita penyakit infeksi, nafsu makannnya cenderung berkurang sehingga asupan gizinya pun berkurang. Jika berlangsung dalam waktu yang lama dengan frekuensi berkali-kali maka akan berdampak pada kurang gizi (Ulfani et al., 2011). Hal ini diperkuat dari hasil penelitian Kusriadi (2010) yang dilakukan di NTB menunjukkan bahwa penyakit infeksi pada anak balita dapat meningkatkan risiko kurang gizi sebesar 1,78 kali dibandingkan dengan anak yang tidak terinfeksi suatu penyakit tertentu, sedangkan penyebab tidak langsung adalah pola asuh. Pola asuh utamanya pengasuhan makan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap asupan gizi dan penyakit infeksi. Hasil penelitian Nurlila (2011) menunjukkan bahwa pola asuh yang buruk berisiko mengalami kejadian gizi buruk 12,67 kali dibandingkan dengan balita yang memiliki pola asuh yang baik. Penyebab rendahnya pola asuh pada anak yaitu karena kesibukan dari orang tua yang mengasuh tanpa memperhatikan anak dalam bermain di rumah maupun di luar rumah, sehingga anak tidak terkontrol baik dari segi asupan makan maupun kebutuhan lainnya, sehingga dapat terjadi gizi buruk. Apabila jumlah asupan zat gizi yang diterima berkurang ditambah lagi dengan penyakit infeksi maka dapat menyebabkan balita akan mengalami keterlambatan pertumbuhan, memiliki IQ yang lebih rendah dari balita normal seusianya, jika berlangsung dalam waktu yang lama akan menyebabkan kematian. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013 prevalensi gizi buruk di Indonesia 5,7% dan Sulawesi Tengah sebesar 6,6 % (Kemenkes, 2013). Senada dengan data ini, berdasarkan Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala tahun 2013 diperoleh data sebesar 14,6 % balita
3 di Kabupaten Donggala mengalami gizi buruk (Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2013). Berdasarkan data tersebut terlihat prevalensi gizi buruk di Kabupaten Donggala berada diatas prevalensi nasional begitu pula dengan prevalensi gizi buruk di Sulawesi Tengah juga mengalami peningkatan secara nasional dan hal ini masih menjadi masalah di beberapa Kabupaten di Sulawesi Tengah salah satunya Kabupaten Donggala. Bila ditinjau dari segi aspek konsumsi pangan, konsumsi energi di Kabupaten Donggala mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012 yaitu mencapai 2087,6 kkal/kapita/hari sedangkan konsumsi protein tidak mengalami perubahan yang signifikan yaitu 55,8 gram/kapita/hari. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi akses pangan yang dimiliki Donggala tergolong kabupaten yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat namun pada kenyataannya dilapangan jumlah gizi buruk masih cukup tinggi disana (Badan Ketahanan Pangan Donggala, 2013). Kecamatan Dampelas merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Donggala, sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sojol, sebelah barat berbatasan dengan selat makassar, sebelah timur dengan Kabupaten Parigi Moutong dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Balaesang. Kondisi ini menjadikan Kecamatan Dampelas menjadi daerah yang dilalui jalan antar kota dan Kabupaten serta merupakan jalan trans antar sulawesi (BPS Kabupaten Donggala, 2013). Dari segi aspek pelayanan kesehatan Dampelas memiliki 1 puskesmas rawat inap, 11 unit puskesmas pembantu, sementara tenaga kesehatan yang tersedia untuk melayanai masyarakat terdiri dari 2 dokter, 24 tenaga paramedis, 1 petugas gizi, 2 bidan dan 16 bidan desa. Dari data diatas terlihat bahwa dari segi sarana dan prasana pelayanan kesehatan masih minim, sehingga tak jarang pasien yang membutuhkan perawatan intensif harus dirawat jalan ke Rumah Sakit di Kota Palu. Sementara itu, prevalensi balita gizi buruk di Kecamatan Dampelas sebesar 14,2% merupakan tertinggi kedua setelah Kecamatan Sojol di Kabupaten Donggala (Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2013).
4 Tingginya angka gizi buruk pada balita apabila tidak segera diatasi maka akan memberikan dampak baik pada individu itu sendiri, keluarga hingga dampak bagi masyarakat. Dampak untuk individu yang akan ditimbulkan dari gizi buruk diantaranya perkembangan anak terganggu. Efek dari kejadian malnutrisi akan berpengaruh terhadap perkembangan mental dan otak anak, namun tergantung derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi gizi buruk ini terjadi pada masa golden periode yakni pada masa tahapan perkembangan otak (0-3 tahun), dapat dibayangkan jika otak tidak dapat berkembang baik pada masa itu sebagaimana anak yang sehat dan kondisi ini akan irreversible (sulit dapat pulih kembali) (Nency, 2005) Dampak jangka pendek gizi buruk bagi individu adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan lainnya, sedangkan dampak jangka panjangnya adalah terjadinya penurunan IQ, penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu hal yang sangat dikhawatirkan adalah menurunnya prestasi akademik di sekolah (Nency, 2005). Dari hasil penelitian yang dilakukan di Bogor, bahwa anak yang pernah mengalami gizi buruk mempunyai rata-rata IQ lebih rendah 15 point dibandingkan anak sehat pada umumnya (Amelia, 1995). Dampak gizi buruk bagi keluarga yaitu dari segi ekonomi. Orang tua yang memiliki balita gizi buruk akan mengeluarkan sejumlah biaya serta waktu untuk merawat anaknya. Sehingga tak jarang dari mereka yang akan pulang paksa dari rumah sakit atau bahkan dari rumah pemulihan akibat minimnya penghasilan yang diperoleh karena tidak memiliki waktu untuk bekerja, sedangkan dampak yang ditimbulkan gizi buruk bagi masyarakat dan pemerintah adalah hilangnya generasi penerus bangsa. Berdasarkan penjelasan diatas sehingga peneliti tertarik untuk menganalisis faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.
5 B. Perumusan Masalah Berdasarkan penjelasan diatas, maka timbul suatu masalah penelitian yaitu: 1. Apakah asupan energi merupakan faktor risiko terhadap kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah? 2. Apakah asupan protein merupakan faktor risiko terhadap kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah? 3. Apakah penyakit infeksi merupakan faktor risiko terhadap kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah? 4. Apakah pola asuh merupakan faktor risiko terhadap kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menganalisis faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. 2. Tujuan Khusus a. Menganalisis asupan energi sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah b. Menganalisis asupan protein sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. c. Menganalisis riwayat penyakit infeksi sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah d. Menganalisis pola asuh sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Memperluas wawasan keilmuan mengenai gizi buruk dibidang ilmu anak dan ilmu gizi.
6 2. Bagi pemerintah daerah Sebagai bahan informasi ilmiah didalam penyusunan program gizi untuk dapat menanggulangi masalah gizi buruk. 3. Bagi masyarakat Sebagai bahan informasi ilmiah serta tambahan ilmu pengetahuan bagi masyarakat mengenai dampak yang akan ditimbulkan apabila gizi buruk tidak segera diatasi, sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu ditinjau faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya. E. Keaslian Penelitian Beberapa penelitian yang telah dilakukan berhubungan dengan penelitian ini antara lain adalah: Tabel 1 Keaslian Penelitian No. Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Persamaan & perbedaan 1. Taruna J (2002) 2. Anwar K (2006) 3. Nurlila (2011) Hubungan status ekonomi keluarga dengan terjadinya kasus gizi buruk pada anak balita di Kabupaten Kampar Faktor risiko kejadian gizi buruk di Kabupaten Lombok Timur Faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kendari Sosial ekonomi keluarga berhubungan dengan gizi buruk Pola asuh sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk Pola asuh, pendapatan, pengetahuan gizi asupan energi dan protein merupakan penyebab gizi buruk Persamaan: Variabel dependen: Status gizi Desain penelitian: Cross sectional study Lokasi penelitian: Kabupaten Kampar Provinsi Riau Persamaan: Pola asuh Subjek penelitian: Balita 12-23 bulan Lokasi penelitian Lombok Nusa Tenggara Barat Persamaan Asupan energi protein, pola asuh Penyakit infeksi Lokasi penelitian: Kendari Sulawesi Tenggara
7 Tabel 1. (lanjutan) 4. Mustapa et al., (2013) Analisis faktor determinan kejadian masalah gizi pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tilote Kecamatan Tilongo Pola asuh, asupan energi berhubungan dengan status gizi Persamaan: Variabel independen Pola asuh, asupan energi dan protein Penyakit infeksi Desain penelitian: Cross sectional study Subjek penelitian: 1-5 tahun Lokasi Penelitian: Gorontalo Berbeda dengan beberapa penelitian-penelitian sebelumnya, pada penelitian ini peneliti ingin menganalisis faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah dengan variabel independent asupan energi, asupan protein, pola asuh dan penyakit infeksi dengan variabel luar (karakteristik keluarga dan karakteristik balita) sedangkan variabel dependen adalah status balita gizi buruk.