BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Dinding Penahan Tanah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DINDING PENAHAN TANAH ( Retaining Wall )

DESAIN DIMENSI DINDING PENAHAN TANAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM GEO 5

GEOTEKNIK TAMBANG DASAR DASAR ANALISIS GEOTEKNIK. September 2011 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA.

D3 JURUSAN TEKNIK SIPIL POLBAN BAB II DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

PERENCANAAN DINDING GRAVITASI DENGAN PROGRAM GEO 5

PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH PADA RUAS JALAN TENGGARONG SEBERANG KM 10 KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral tertentu

BAB III DINDING PENAHAN TANAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

INFO TEKNIK Volume 5 No. 2, Desember 2004 ( ) Desain Dinding Penahan Tanah (Retaining Walls) di Tanah Rawa Pada Proyek Jalan

Gambar 1.1. Dinding penahan tanah geofoam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dedy Ardianto Fallo, Andre Primantyo Hendrawan, Evi Nur Cahya,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 9. B ANGUNAN PELENGKAP JALAN

MEKANIKA TANAH 2 KESTABILAN LERENG. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SUB STUKTUR PONDASI, RETAINING WALL, DAN BASEMENT

BAB I PENDAHULUAN. syarat bagi angkutan darat tersebut untuk melakukan aktifitas. Keberadaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. stabilitas lereng. Analisis ini sering dijumpai pada perancangan-perancangan

TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya angkat keatas. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TIMBUNAN PELEBARAN JALAN SIMPANG SERAPAT KM-17 LINGKAR UTARA ABSTRAK

MEKANIKA TANAH (CIV -205)

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat

I. PENDAHULUAN. Pada perencanaan pembangunan sebuah pondasi harus diperhatikan beberapa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. air. Melalui periode ulang, dapat ditentukan nilai debit rencana. Debit banjir

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN STABILITAS DINDING PENAHAN

RETAINING WALL DAN BASEMENT

ANALISA KESTABILAN LERENG METODE SLICE (METODE JANBU) (Studi Kasus: Jalan Manado By Pass I)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

INFRASTRUKTUR PERBANDINGAN PENGGUNAAN DINDING PENAHAN TANAH TIPE KANTILEVER DAN GRAVITASI DENGAN VARIASI KETINGGIAN LERENG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

GROUNDSILL PENGAMAN JEMBATAN KRETEK YOGYAKARTA

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam bab ini akan dibahas dasar-dasar teori yang melandasi setiap

PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pelabuhan, fasilitas pelabuhan atau untuk menangkap pasir. buatan). Pemecah gelombang ini mempunyai beberapa keuntungan,

DAFTAR ISI. i ii iii. ix xii xiv xvii xviii

PENGANTAR PONDASI DALAM

BAB IV STUDI LONGSORAN

Bendungan Urugan I. Dr. Eng Indradi W. Tuesday, May 14, 13

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

L O N G S O R BUDHI KUSWAN SUSILO

Contents BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pokok Permasalahan Lingkup Pembahasan Maksud Dan Tujuan...

BAB I PENDAHULUAN. Dinding ( wall ) adalah suatu struktur padat yang membatasi dan melindungi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH KANTILEVER PADA RUAS JALAN SILAING PADANG - BUKITTINGGI KM ABSTRAK

PERTEMUAN IX DINDING DAN RANGKA. Oleh : A.A.M

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang

Bab 3 Metodologi III TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sering mengalami gempa bumi dikarenakan letak geografisnya. Dalam segi

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TEKANAN TANAH LATERAL 3 (TIGA) DIMENSI AKIBAT BEBAN KERETA API DOUBLE TRACK PADA DINDING PENAHAN TANAH.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bendungan Urugan II. Dr. Eng Indradi W. Sunday, May 19, 13

Stabilitas lereng (lanjutan)

BAYU TEGUH ARIANTO NIM : D NIRM :

DESAIN SOFTWARE DINDING PENAHAN TANAH TIPE KANTILEVER DENGAN PROGRAM VISUAL BASIC 6.0. La Ode Muhyamin. Abstrak

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH

BABI PENDAHULUAN. Pada masa Pembangunan Jangka Panjang Tahap II ini, Indonesia telah

(FORENSIC GEOTECHNICAL ENGINEERING) TOPIK KHUSUS CEC 715 SEMESTER GANJIL 2012/2013

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu masalah yang kita hadapi dalam suatu lereng adalah masalah

Analisis Stabilitas Pada Tanah Timbunan Dengan Perkuatan Geotekstil Dikombinasikan Dengan Dinding Penahan Tanah Di Ruas Jalan Tol Cisumdawu

BAB 1 PENDAHULUAN. mempertahankan tanah yang memiliki elevasi lebih tinggi dibandingkan tanah di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya

Meliputi pertimbangan secara detail terhadap alternatif struktur yang

BAB V PERENCANAAN DAM PENGENDALI SEDIMEN

ANALISA GRAVITY WALL DAN CANTILIVER WALL DITINJAU DARI SEGI EKONOMIS TERHADAP TINGGI YANG VARIATIF

BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. disampaikan dalam sub bab ini. Perhitungan dan analisa Retaining Wall adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Proyek pembangunan gedung Laboratorium Akademi Teknik Keselamatan

ANALISIS STABILITAS LERENG TEBING SUNGAI GAJAHWONG DENGAN MEMANFAATKAN KURVA TAYLOR

BAB III METODOLOGI. Bab III Metodologi 3.1. PERSIAPAN

lanau (ML) yang tebabiya 6 meter, atau tanah longsor yang terjadi di Sidangbarang

Pengertian struktur. Macam-macam struktur. 1. Struktur Rangka. Pengertian :

BAB III METODOLOGI BAB III METODOLOGI

TEMBOK PENAHAN TANAH (TPT)

BAB II DESKRIPSI KOMPETENSI MATA KULIAH

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Longsoran Pengertian gerakan tanah (mass movement) dengan longsoran (Landslide) mempunyai kesamaan. Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batu pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula, gerakan tanah mencakup gerak rayapan dan aliran maupun longsoran. Dari definisi gerakan tanah dapat disimpulkan bahwa longsoran adalah bagian dari gerakan tanah. (Widjojo, 1985). Pada dasarnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis batuan. Gaya gaya yang berkerja pada lereng secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu : gaya gaya yang cendrung untuk menyebabkan material pada lereng untuk bergerak ke bawah dan gaya gaya yang menahan material pada lereng sehingga tidak terjadi pergerakan atau longsoran. Berdasarkan pergerakan massa runtuhnya, longsor dapat dikelompokkan menjadi beberapa, yaitu : 1. Runtuhan ( falling); merupakan jatuhnya bongkahan batu atau material yang terlepas dari lereng yang terjal. Bongkahan batuan tersebut dapat jatuh melayang di udara, memantul beberapa kali pada permukaan bumi, menggelinding atau mengkombinasi dari beberapa bentuk pergerakan tersebut. Massa batuan jatuh mempunyai energi kinetik dan kecepatan yang sangat tinggi. 2. Gelinciran (sliding); merupakan pergerakan massa ke arah bawah dan keluar yang disebabkan oleh tegangan geser yang bekerja pada permukaan runtuh melebihi tahanan geser yang dimiliki oleh material pada permukaan runtuh. 3. Gulingan ( toppling); merupakan tergulingnnya beberapa blok blok batuan yang diakibatkan oleh momen guling yang bekerja pada blok blok batuan 5

6 tersebut. Longsoran tipe ini biasanya terjadi di lereng lereng terjal atau bahkan vertikal yang memiliki bidang tidak menerus yang hampir tegak lurus. Momen guling tersebut dihasilkan oleh gaya hidrostatik dari air yang mengisi pada bidang tidak menerus. 4. Aliran ( flowing); merupakan material yang bergerak ke arah bawah lereng seperti suati cairan. Aliran dipengaruhi oleh jumlah kandungan atau kadar air tanah, terjadi pada material tak terkonsolodasi. Bidang longsor antara material yang bergerak umumnya tidak dapat dikenali. Longsoran juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kecepatan gerak massa runtuhnya, seperti yang terlihat pada tabel II.1. Tabel II.1. Klasifikasi longsoran berdasar kecepatan pergerakan massa runtuh. KECEPATAN KETERANGAN >3 meter/detik Ekstrim, sangat cepat 3 meter/detk s.d. 0,3 meter/menit Sangat cepat 0,3 meter/menit s.d. 1,5 meter/hari Cepat 1,5 meter/hari s.d. 1,5 meter/bulan Sedang 1,5 meter/bulan s.d. 1,5 meter/tahun Lambat 0,06 meter/tahun s.d. 1,5 meter/tahun Sangat lambat < 0,06 meter/tahun Ekstrim, sangat lambat (Sumber : Varnes, 1978 dalam Hansen, 1984) Menurut terjadinya kelongsoran, Terzaghi (1950) dalam Murdiyanto (2012) membagi menjadi beberapa kelompok, yaitu : 1. Penyebab penyebab eksternal yang menyebabkan naiknya gaya geser yang bekerja sepanjang bidang runtuh, antara lain : a) Perubahan geometri lereng b) Penggalian atau penggerusan pada kaki lereng c) Pembebanan pada puncak atau permukaan bagian atas lereng d) Getaran yang ditimbulkan oleh gempa bumi atau ledakan e) Penurunan muka air tanah secara mendadak f) Hujan. 2. Penyebab penyebab internal yang menyebabkan turunnya kekuatan geser material, antara lain :

7 a) Pelapukan b) Keruntuhan progresive c) Hilangnya sementasi tanah (kepadatan) d) Berubah bentuknya material Terdapatnya sejumlah tipe longsoran menunjukkan beragamnya kondisi yang dapat menyebabkan lereng menjadi tidak stabil dan proses proses yang memicu terjadinya longsoran. Sehingga dari sejumlah tiper tersebut bisa diantisipasi terjadinya longsoran dengan membuat dinding penahan tanah (Retaining wall). B. Dinding Penahan Tanah Pada awalnya dibuatnya dinding penahan tanah (Retaining wall) akibat bertambah luasnya pemakaian konstruksi penahan yang digunakan sebagai tempat penimbunan atau penyimpanan bahan bahan yang berbentuk butiran. Dinding penahan tanah (Retaining wall) digunakan untuk mencegah material agar tidak longsor. Dinding penahan tanah ( Retaining wall) adalah suatu bangunan yang dibangun untuk mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng yang dibangun di tempat di mana kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri, dipengaruhi oleh kondisi gambaran topografi tempat itu, bila dilakukan pekerjaan tanah seperti penanggulan atau pemotongan tanah. (Sudarmanto, 1996). Secara umum fungsi dari dinding penahan tanah (Retaining wall) adalah untuk menahan besarnya tekanan tanah akibat parameter tanah yang buruk sehingga longsor bisa dicegah, serta untuk melindungi kemiringan tanah dan melengkapi kemiringan dengan pondasi yang kokoh. Bagian dinding yang berdampingan dengan arah urugan balik ( backfill) atau lereng disebut bagian belakang ( Back), sedangkan bagian yang menampakkan ketinggian dinding disebut bagian depan (Face), permukaan dasar dinding disebut dasar (Base). Bagian dasar ini biasanya dibuat terpisah, terjiri dari dua bagian, yaitu bagian dasar belakang yang disebut tumit ( Heel) dan bagian dasar depan yang disebut kaki (Toe).

8 Tanah yang berada di atas bidang horisontal atau lebih tinggi dari dinding disebut beban tambahan ( surcharge). Apabila lereng permukaan tanah naik atau ke atas maka dinding tersebut mempunyai beban tambahan akibat adanya lereng atau kemiringan tanah ( sloping surcharge). Sebaliknya bila lereng permukaan tanah menurun maka dinding tersebut mempunyai beban tambahan negatif (negative surcharge). Sedangkan apabila permukaan tanah horisontal dengan dinding penahan tanah disebut tanah mempunyai beban tambahan horisontal (horizontal surcharge). Gambar II.1. Penampang melintang dinding penahan tanah (Sumber : Alan Scott, 1998) Konstruksi dinding penahan pada umumnya digunakan untuk menjaga kestabilan tanah atau bahan bahan lainnya, akibat tidak dapat menahan keadaan lereng yang lebih besar. Secara garis besar dinding penahan tanah diklasifikasikan menjadi tujuh jenis, yaitu : Secara garis besar dinding penahan tanah diklasifikasikan menjadi tujuh jenis, yaitu : 1. Dinding gravitasi (Gravity Wall) Dinding penahan yang dibuat dari beton tak bertulang atau pasangan batu. Sedikit tulangan beton kadang-kadang diberikan pada permukaan dinding untuk mencegah retakan permukaan akibat perubahan temperatur. 2. Dinding semi gravitasi (semi gravity wall) Dinding gravitasi yang berbentuk agak ramping. Karena ramping, pada strukturnya diperlukan penulangan beton, namun hanya pada bagian dinding

9 saja. Tulanagn beton yang berfungsi sebagai pasak, dipasang untuk menghubungkan bagian dinding dan fondasi. 3. Dinding kantilever (Cantilever wall) Bentuk dinding ini merupakan huruf T terbalik atau seperti huruf L dan setiap bagian diperhitungkan sebagai suatu kantilever. Dinding ini pada umumnya dibuat dari beton bertulang. Dinding kantilever untuk mencapai kesatabilannya mengandalkan berat sendiri dan berat tanah yang berada di atas tumit ( Heel). Untuk dinding yang tidak terlalu tinggi, jenis kantilever cukup ekonomis. Tinggi dinding ini kurang lebih 6 s.d. 7,5 meter. 4. Dinding kontrafort (Counterfort wall) Bentuk dinding ini sama dengan dinding kantilever, hanya antara lantai dasar dengan dinding diperkuat dengan suatu dinding penopang yang dikenal sebagai counterfort. 5. Dinding butters (Butters wall) Bentuk dari dinding butters ini sama dengan dinding kontrafort (Counterfort wall). Hanya pada dinding ini penopang berada pada bagian depan dinding (Face) yang nampak, sehingga menjadikan kurang rapi jadi jarang digunakan. Sama dengan dinding kontrafort ( Counterfort wall), dinding ini akan lebih ekonomis digunakan bila ketinggian lebih dari 7 meter. 6. Abutmen jembatan (Bridge abutmen) Bentuk dinding ini kadang kadang mempunyai sayap yang biasa disebut juga dengan wing wall, sayap tersebut digunakan untuk menahan tanah pengisi dan mencegah terjadinya erosi. Kemiringan sayap ( wing) terhadap muka abutmen berkisar antara 0 o 30 o. 7. Cribb wall Dinding ini terbuat dari kayu, beton cetak atau baja yang kemudian diisi dengan tanah butiran. Dinding ini hanya digunakan untuk dinding dinding yang lebih kecil dan tekanan tanahnya tidak terlalu besar. Dinding ini tidak dapat menahan beban tambahan (surcharge).

10 Dinding penahan tanah sudah digunakan secara luas dalam hubungannya dengan jalan raya, kereta api, jembatan, kanal atau terusan dan lainnya. Bentuk dari dinding ini kadang sudah berubah atau dimodifikasi agar didapat bentuk yang ekonomis. Kegunaan dari dinding penahan tanah (Retaining wall) adalah sebagai berikut: 1. Jalan raya atau jalan kereta api yang dibuat sepanjang lereng. 2. Jalan raya atau kereta api yang ditinggikan agar terjadi perbedaan tinggi. 3. Subways atau jalan persilangan yang berada dibawah permukaan tanah dapat dibuat pada bagian yang diisi. 4. Jalan raya atau jalan kereta api yang dibuat lebih rendah agar didapat suatu pemisah pada subways atau underpass. 5. Dinding penahan tanah ( retaining wall) yang menjadi batas atau pinggir kanal. Dinding penahan ini disebut flood walls, yang gunanya untuk mengurangi banjir dari sungai dalam membuat suatu terusan. 6. Suatu dinding penahan tanah (retaining wall) yang digunakan untuk menahan pengisi dalam membentuk suatu jembatan. Tanah ini disebut approach fill dan dinding penahan disebut abutments. 7. Dinding penahan yang digunakan untuk menahan tanah pengisi disekitar bangunan atau gedung gedung. 8. Dinding penahan yang digunakan sebagai batas tempat penyimpanan seperti pasir, biji besi atau butiran lainnya. Bila dinding tidak cukup kuat, maka bahan butiran tersebut dapat menekan keluar. Kedua jenis stabilisasi di atas disesuaikan dengan kondisi kadar air tanahnya. Kadar air rendah atau di bawah kadar air optimum, stabilisasi yang digunakan dengan cara mekanis (pemadatan), dengan maksud untuk memperkecil volume rongga sehingga kompresibilitas menjadi lebih kecil. Kadar air tinggi atau di atas kadar air optimum, menggunakan stabilisasi penambahan bahan-bahan (additives) untuk memperbaiki kelemahan sifat-sifat tanah dan menambah kekuatan serta daya dukungnya.

11 C. Program Geo 5 v.13 1. Program Geo 5 v.13 Bukan hal yang asing lagi bagi para perencana dalam penggunaan program bantu (software) untuk mempermudah kinerja dari para perencana. Sudah banyak beredar di sekitar para perencana, khususnya para ahli geoteknik program bantu (software) untuk membantu kinerja mereka. Di Indonesia sendiri juga ada program bantu ( Software) buatan dalam negeri, akan tetapi program bantu (software) ini dibuat hanya untuk tujuan pendidikan dan belum bisa dipertanggungjawabkan hasil keluaran ( Output) dari program ini, jenis dari program ini juga hanya ada dua macam yaitu perencanaan dinding penahan tanah tipe grafitasi dan abument pada jembatan saja. Program Geo 5 keluaran dari perusahaan Fine software yang mengkhususkan untuk membuat program bantu dalam bidang ketekniksipilan ini telah membuat program bantu untuk mempermudah kinerja para ahli geoteknik. Program Geo 5 belum banyak yang mengenal, dikarenakan program bantu Geo 5 ini baru keluar diawal tahun 2009. Program Geo 5, Program ini merupakan sederetan program yang diciptakan untuk mempermudah proses perencanaan desain dinding penahan tanah. Kegunaan dari program Geo 5 adalah dapat memberikan informasi mengenai stabilitas dinding penahan tanah dalam menahan bahaya guling, geser, dan keruntuhan daya dukung akibat tekanan yang dihasilkan oleh tanah. 2. Kegunaan Geo 5 v.13 Program bantu ini dikhususkan untuk menghitung dan menganalisis masalah masalah yang berkaitan dengan pekerjaan tanah, misalnya pekerjaan pemancangan, dinding penahan tanah ( Retaining Wall), menganalisis penurunan tanah ( Settlement), menganalisis stabilitas lereng ( Slope Stability), dan lain sebagainnya. 3. Manfaat Geo 5 v.13 Di era globalisasi seperti sekaran ini persaingan dalam dunia kerja semakin ketat, bahkan agar bisa menembus persaingan dalam dunia kerja para perencana sering dihadapkan yang bertentangan, misalkan perencana harus bisa menghitung

12 dan menganalisis suatu rancangan bangunan dalam waktu yang singkat namun harus dengan hasil yang tepat dan akurat. Untuk menjawab semua tantangan tersebut perencana tidak hanya bisa menggunkan cara cara yang lama (manual), akan tetapi harus ada sebuah terobosan alat bantu untuk mempermudah perhitungan dan penganalisis suatu rancang bangunan khususnya dalam hal ini yang berhubungan dengan geoteknik. Geo 5 menjawab semua tantangan para perencana geoteknik dalam dunia kerja. Geo 5 merupakan program bantu yang memiliki banyak keunggulan, Geo 5 dapat menghitung dan menganalisis dalam waktu yang singkat, akurat dan tepat. Geo 5 dilengkapi dengan peraturan standar analisis, dalam program bantu ini standar yang digunakan adalah peraturan dari Denmark. Namun bila perencana menginginkan peraturan lain program bantu ini juga dilengkapi dengan pilihan standar peraturan lainnnya salah satunya adalah dari Amirican Concrete Institute (ACI), bila standar peraturan yang diinginkan tidak tersedia, maka perencana dapat menentukan sendiri dengan memodifikasi peraturan yang sudah tersedia. Geo 5 dapat menghitung dan menganalisis stabilitas lereng, stabilitas dinding penahan tanah, menganalisis keamanan dari dimensi dinding penahan tanah yang telah dibuat, dan lain sebagainya.