SURAT EDARAN JAKSA AGUNG R.I.

dokumen-dokumen yang mirip
JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NO: KEP-052/J.A/5/1996

MATRIKS 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2011

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Keempat, Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 3.4 Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 558 /A/J.A/ 12/ 2003 TENTANG

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

MATRIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kesatu, Wewenang-Wewenang Khusus Dalam UU 8/2010

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA, KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

BERITA NEGARA. No.711, 2013 MAHKAMAH AGUNG. Penyelesaian. Harta. Kekayaan. Tindak Pidana. Pencucian Uang. Lainnya PERATURAN MAHKAMAH AGUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian, Kedudukan, serta Tugas dan Wewenang Kejaksaan

2 3. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Rep

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA INSTRUKSI JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : INS-001/G/9/1994 TENTANG TATA LAKSANA PENEGAKAN HUKUM

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG. Penyelesaian. Uang Pengganti. Pengadilan. Pemberantasan TIPIKOR. Petunjuk Pelaksanaan.

2011, No b. bahwa Tindak Pidana Korupsi adalah suatu tindak pidana yang pemberantasannya perlu dilakukan secara luar biasa, namun dalam pelaksan

BAB III DASAR HUKUM PEMBERHENTIAN TIDAK TERHORMAT ANGGOTA KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA MENURUT PERPRES NO 18 TAHUN 2011

Berdasarkan angka 1 dan 2 diatas dan dengan pertimbangan hal-hal, antara lain: 1. Azas peradilan yang cepat, sederhana dan biaya ringan

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA I N S T R U K S I JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : INS 002/A/JA/1/2005 TENTANG

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN)

KEPUTUSAN BERSAMA KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor : KEP Nomor : KEP- IAIJ.

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II GAMBARAN UMUM KEJAKSAAN NEGERI BENGKALIS. serta perkara perdata dan Tata Usaha Negara dengan kata lain Jaksa Pengacara

JAKARTA, 03 JUNI

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG. Aset. Aset Negara. Aset Tindak Pidana. Pemulihan.

RINGKASAN PUTUSAN. Darmawan, M.M Perkara Nomor 13/PUU-VIII/2010: Muhammad Chozin Amirullah, S.Pi., MAIA Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), dkk

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-005 /A/JA/03/2013 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PENGAWALAN DAN PENGAMANAN TAHANAN

Matrutty Segera Dieksekusi

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Mencermati Peradilan di Indonesia

Keputusan Presiden No. 55 Tahun 1991 Tentang : Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia

INDONESIA CORRUPTION WATCH 1 Oktober 2013

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLlK INDONESIA JAKARTA

2018, No terhadap korban tindak pidana pelanggaran hak asasi manusia yang berat, terorisme, perdagangan orang, penyiksaan, kekerasan seksual, da

2016, No Peraturan Jaksa Agung Nomor Per-009/A/JA/01/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia sebagaimana telah d

2017, No kementerian/lembaga tanpa pernyataan dirampas, serta relevansi harga wajar benda sitaan Rp300,00 (tiga ratus rupiah) yang dapat dijual

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA

BAB II TINJAUN PUSTAKA. Hukum acara pidana di Belanda dikenal dengan istilah strafvordering,

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLlK INDONESIA JAKARTA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1961 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No masyarakat terhadap pelaksanaan penegakan hukum oleh Kejaksaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,

Hak Cipta. Pengertian Hak Cipta hak ekslusif untuk 1. mengumumkan, 2. memperbanyak, 3. memberi izin

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERAMPASAN ASET TINDAK PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LAMPIRAN II : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 600/PRT/M/2005 Tanggal : 23 Desember 2005

BAB II PROFIL INSTANSI. A. Sejarah singkat Kantor Kejaksaan Tinggi Sumut Medan

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2018 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN

BAB II PIDANA TAMBAHAN DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI YANG BERUPA UANG PENGGANTI. A. Pidana Tambahan Dalam Tindak Pidana Korupsi Yang Berupa Uang

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan, baik bidang hukum, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dari

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kedelapan, Permintaan Keterangan Kepada PPATK (Berdasarkan Informasi PPATK

Makalah Daluwarsa Penuntutan (Hukum Pidana) BAB I PENDAHULUAN

*12398 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 32 TAHUN 2000 (32/2000) TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Instrumen Perdata untuk Mengembalikan Kerugian Negara dalam Korupsi

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. adalah adanya kekuasaan berupa hak dan tugas yang dimiliki oleh seseorang

I. PENDAHULUAN. Penanganan dan pemeriksaan suatu kasus atau perkara pidana baik itu pidana

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keuangan negara sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KESEPAKATAN BERSAMA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01/KB/I-VIII.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemberantasan tindak pidana korupsi di negara Indonesia hingga saat

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lemb

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTAHANAN. INPRES. Korupsi. Monitoring. Percepatan.

A. KESIMPULAN. Penggunaan instrumen..., Ronny Roy Hutasoit, FH UI, Universitas Indonesia

Transkripsi:

SURAT EDARAN JAKSA AGUNG R.I. NOMOR : SE-006/A/JA/03/2013 TENTANG POLA HUBUNGAN KERJA ANTARA BIDANG DATUN DENGAN BIDANG INTELIJEN DAN BIDANG TINDAK PIDANA KHUSUS

TUJUAN GUNA MEWUJUDKAN POLA HUBUNGAN KERJA YANG SERASI DAN PERSAMAAN PEMAHAMAN DALAM MELAKSANAKAN TUGAS DAN FUNGSI MASING-MASING SATUAN KERJA AGAR TETAP BERPEDOMAN PADA KEPJA NOMOR: KEP-052/J.A/5/1996 TANGGAL 17 MEI 1996 TENTANG POLA HUBUNGAN KERJA ANTARA SATUAN KERJA JAM DATUN DENGAN SATUAN KERJA JAM PEMBINAAN, JAM INTELIJEN, JAM PIDUM DAN JAM PIDSUS 2

a. Apabila bidang DATUN sudah memberikan bankum, timkum, dan tindakan hukum lain kepada stake holder wajib diinformasikan secara tertulis kepada bidang Intelijen dan bidang Pidsus; b. Apabila bidang Intelijen dan bidang Pidsus dalam menjalankan tugasnya menemukan adanya produk DATUN berupa bankum, timkum, dan/atau tindakan hukum lain, maka bidang Intelijen dan bidang Pidsus wajib melakukan koordinasi dengan bidang DATUN sebelum proses tindak lanjut penyelidikan dan penyidikan; c. Apabila bidang Intelijen dan bidang Pidsus dalam menjalankan tugasnya memperoleh informasi yang akan ditindaklanjuti ke tingkat penyelidikan atau penyidikan wajib wajib melakukan koordinasi dengan idang DATUN guna mengetahui apakah kasus tersebut sedang/tidak ditangani bidang DATUN.

Dalam hal terjadi perbedaan pemahaman dan pandangan terhadap suatu kasus apakah kasus tersebut termasuk dalam ruang lingkup Pidana atau termasuk dalam ruang lingkup DATUN, maka Pimpinan satuan kerja di tingkat Kejagung, Kejati, Kejari dan Cabjari wajib mengambil alih dan segera diambil suatu keputusan yang didahului dengan ekspose perkara. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya maka bidang DATUN, bidang Intelijen dan bidang Pidsus wajib memupuk semangat kerjasama dalam rangka menciptakan persamaan persepsi. 4

KEPUTUSAN JAKSA AGUNG R.I. NOMOR : KEP-052/J.A/5/1996 TENTANG POLA HUBUNGAN KERJA ANTARA SATUAN KERJA JAM DATUN DENGAN SATUAN KERJA JAM BIN, JAM INTEL, JAM PIDUM, DAN JAM PIDSUS

MAKSUD &TUJUAN Tumbuh dan berkembangnya persamaan pemahaman dan semangat kerjasama, dalam melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing satuan kerja; Mencegah kesan adanya pertentangan kepentingan (conflict of interest) antar JAM dalam melaksanakan misi Kejaksaan; Terbinanya informasi yang seimbang dan saling menunjang antar satuan kerja dengan dijiwai semangat keterbukaan, kebersamaan dan keterpaduan; Menjadi pedoman dan petunjuk pengendalian bagi pelaksanaan tugas dan fungsi satuan kerja JAM BIN, JAM INTEL, JAM PIDUM da JAM PIDSUS baik di tingkat Kejagung maupun antar satuan kerja di Kejati, Kejari/Cabjari sehingga tercapai hasil pelaksanaan tugas secara optimal. 6

a. Satuan kerja JAM BIN menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN tentang adanya gugatan perdata/tun terhadap Kejaksaan sehubungan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi JAM BIN untuk mendapat penanganan sebagaimana mestinya. b. Satuan kerja JAM BIN memberikan dukungan data/informasi ataupun lainnya kepada satuan kerja JAM DATUN guna keberhasilan penanganan perkara perdata/tun tersebut. c. Satuan kerja JAM DATUN menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM BIN tentang perkembangan penanganan gugatan perkara perdata/tun sehubungan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi JAM BIN, dan satuan kerja JAM DATUN dapat meminta data/informasi tambahan yang dianggap perlu untuk penyelesaian.

a. Satuan kerja JAM DATUN secara tertulis meminta bantuan satuan kerja JAM INTEL untuk melakukan : Pengumpulan data mengenai keadaan Tergugat a.l. alamat Tergugat, harta kekayaan Tergugat selain yang telah disita dalam perkara pidana atau perdata, dan ahli waris Tergugat. Pengamanan persidangan perkara perdata/tun yang menarik perhatian masyarakat dan barang-barang yang telah/akan disita dalam perkara perdata. b. Satuan kerja JAM DATUN menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM INTEL sehubungan dengan diterimanya Surat Kuasa Khusus tertentu yang dianggap penting dalam perkara perdata/tun sehingga satuan kerja JAM INTEL dapat melakukan tindakan pengamanan dalam rangka mendukung terlaksananya tugas sebagaimana tercantum dalam SKK.

c. Satuan kerja JAM INTEL menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN sehubungan dengan hasil kegiatan penyelidikan terhadap pejabat dan instansi pemerintah/bumn/ BUMD yang diduga melakukan perbuatan yang merugikan asset negara sebagai bahan pertimbangan bagi satuan kerja JAM DATUN untuk menindaklanjuti dengan instrumen hukum perdata atau untuk menolak SKK. d. Satuan kerja JAM INTEL menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN sehubungan dengan gugatan perdata/tun terhadap Kejaksaan akibat tindakan pencegahan dan penangkalan terhadap seseorang ataupun larangan barang cetakan yang dilakukan oleh satuan kerja JAM DATUN atas nama Jaksa Agung R.I. Untuk mendapat penanganan sebagaimana mestinya.

a. Satuan kerja JAM PIDUM menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN sehubungan dengan diterbitkannya SP3 terhadap kasus/perkara tindak pidana umum yang diduga menimbulkan kerugian/kekayaan negara, untuk ditangani secara perdata oleh satuan kerja JAM DATUN. b. Satuan kerja JAM PIDUM menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN mengenai rencana penuntutan terhadap perkara tindak pidana umum yang menimbulkan kerugian keuangan/kekayaan negara, agar satuan kerja JAM PIDUM bersama satuan kerja JAM DATUN mempertimbangkan kemungkinan penggabungan gugatan ganti kerugian ke dalam perkara pidana sesuai dengan ketentuan Pasal 98 KUHAP, ataupun untuk melakukan gugatan perdata secara terpisah.

c. Satuan kerja JAM PIDUM menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN sehubungan dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap perkara tindak pidana umum yang menimbulkan kerugian keuangan/kekayaan negara, untuk ditangani secara perdata. d. Satuan kerja JAM DATUN menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM PIDUM sehubungan dengan gugatan perdata terhadap Kejaksaan karena adanya putusan bebas, putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau dakwaan JPU yang tidak dapat diterima yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap perkara tindak pidana umum yang diduga menimbulkan kerugian keuangan/kekayaan negara, yang akan ditangani secara perdata oleh satuan kerja JAM DATUN.

a. Satuan kerja JAM PIDSUS dapat menginformasikan secara tertulis kepada satuan kerja JAM DATUN sehubungan dengan laporan/informasi terjadinya tindak pidana dalam Instansi Pemerintah/BUMN/BUMD yang sedang ditanganinya, sehingga satuan kerja JAM DATUN menolak SKK untuk kasus/perkara yang sama dari Instansi Pemerintah/BUMN/BUMD. b. Apabila dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh satuan kerja JAM PIDSUS ternyata kasus/perkara tersebut merupakan perkara perdata, maka satuan kerja JAM PIDSUS dapat menyerahkan perkara dimaksud kepada satuan kerja JAM DATUN untuk penanganan selanjutnya.

c. Apabila pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan atas perkara korupsi yang mencantumkan hukuman tambahan pembayaran uang pengganti sesuai dengan Pasal 34 c UU No. 3/1971 mengalami hambatan, maka satuan kerja JAM PIDSUS menyerahkan penyelesaian penagihan pembayaran uang pengganti tersebut kepada satuan kerja JAM DATUN. d. Terhadap perkara tindak pidana khusus yang diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap atau tindakan hukum lainnya yang mengandung aspek hukum perdata, satuan kerja JAM PIDSUS dapat menyerahkan perkara tersebut kepada satuan kerja JAM DATUN untuk penanganan selanjutnya. e. Apabila satuan kerja JAM DATUN dengan satuan kerja JAM PIDSUS menangani kasus/perkara yang sama pada saat yang bersamaan, maka penyelesaian kasus/perkara tersebut lebih diutamakan melalui instrumen hukum pidana.

Pola hubungan kerja tersebut dilaksanakan oleh satuan kerja JAM BIN, JAM INTEL, JAM PIDUM, JAM PIDSUS dan JAM DATUN, baik di tingkat Kejagung maupun antar satuan kerja di Kejati dan Kejari/Cabjari. Pola hubungan kerja tersebut dilaksanakan dengan sarana dan upaya sesuai dengan ketentuan administrasi umum yang berlaku di Kejaksaan serta administrasi masing-masing satuan kerja serta kebijakan yang ditentukan oleh Jaksa Agung. 14

Penanganan kasus/perkara oleh satua kerja JAM INTEL, JAM PIDUM dan JAM PIDSUS yang diperkirakan akan dapat menimbulkan gugatan perdata/tun sejak dini perlu koordinasi dengan satuan kerja JAM DATUN agar dapat diambil langkah-langkah guna membantu mengatasinya. Penanganan kasus/perkara perdata dan TUN oleh satuan kerja JAM DATUN yang terkait dengan satua kerja JAM BIN, JAM INTEL, JAM PIDUM dan JAM PIDSUS sejak dini perlu koordinasi dengan satuan-satuan kerja tersebut, sehingga satuan kerja lainnya dapat mengambil langkah-langkah guna menunjang penyelesaian kasus/perkara perdata/tun tersebut. 15

PENUTUP Pola hubungan kerja antara satuan kerja JAM DATUN dengan satuan kerja lainnya dimaksudkan agar pelaksanaan tugas dan fungsi kerja JAM DATUN yang terkait dengan satuan kerja JAM BIN, JAM INTEL, JAM PIDUM dan JAM PIDSUS dapat lebih transparan, terkoordinir dan terarah sehingga satuan-satuan kerja tersebut dapat saling menunjang dalam melaksanakan tugas pokok Kejaksaan secara utuh menyeluruh. Mengingat adanya perbedaan pendekatan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kejaksaan anatara satuan-satuan kerja tersebut, maka satuan kerja JAM DATUN harus selalu mengadakan koordinasi sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kejaksaan. Pola hubungan kerja ini akan dapat bermanfaat bila dilaksanakan oleh seluruh jajaran Kejaksaan, dengan tekad bahwa Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. 16