Generasi Santun. Buku 1B. Timothy Athanasios

dokumen-dokumen yang mirip
Generasi Santun. Buku 1A. Timothy Athanasios

PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI

PERTEMUAN KE 6 POKOK BAHASAN

PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI

PANCASILA Sebagai Sumber Nilai

BAB IV PANCASILA SEBAGAI ETIKA (MORAL)POLITIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis

Tiga macam nilai menurut Noto Negoro, antara lain: 1) Nilai Kebenaran, yang bersumber pada akal manusia.

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

Oleh: Regina Tamburian Gita Nur Istiqomah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

MANUSIA, NILAI DAN MORAL

PANCASILA Sebagai Etika Politik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

II. TINJAUAN PUSTAKA

PANCASILA SEBAGAI FALSAFAH HIDUP BANGSA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. anggota suatu kelompok masyarakat maupun bangsa sekalipun. Peradaban suatu

Pancasila Sebagai Dasar Negara (dalam hubungannya dengan Pembukaan UUD 1945)

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan

BAB VI PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. secara sadar dengan tujuan untuk menyampaikan ide, pesan, maksud,

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia

ASTA CITRA ANAK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Bab Pendahuluan Ini Memuat : A. Latar Belakang, B. Fokus Penelitian,C. Rumusan

A. Pengertian Pancasila

PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI

BAB I PENDAHULUAN. tonggak majunya suatu negara. Diera globalisasi ini pendidikan semakin

BAB I PENDAHULUAN. begitu, seorang guru pendidikan agama Islam harus mampu mendidik. keselamatan dunia maupun di akhirat kelak.

2.4 Uraian Materi Pengertian dan Hakikat dari Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia,

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI MORAL DAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI MELALUI MEDIA DONGENG ANAK DI PG SURI TAULADAN BANJARAN, TAMAN, PEMALANG SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. mencerminkan sosok manusia berkarakter. Beliau membawa misi risalahnya

KODE ETIK DOSEN MUKADIMAH BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PENGEMBANGAN ETIKA DAN MORAL BANGSA. Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Masyarakat Agraris 2.2 Pekerjaan Tenaga Kerja Tani Padi

KODE ETIK DOSEN STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gejolak dalam dirinya untuk dapat menentukan tindakanya.

BAB VI REALISASI PANCASILA

2.2 Fungsi Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Negara...7

PANCASILA. Sebagai Sistem Etika. Disampaikan pada perkuliahan Pancasila kelas PKK. H. U. Adil Samadani, SS., SHI.,, MH. Modul ke: Fakultas Teknik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suatu masyarakat karena dapat menjadi suatu rambu-rambu dalam kehidupan serta

BAB I PENDAHULUAN. lain-lain. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Digugu artinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

AL-QUR AN SEBAGAI PERANTARA PENGUATAN KARAKTER (RELIGIUS, TOLERANSI DAN DISIPLIN) MAHASISWA FKIP PGSD UMS ANGKATAN 2012

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

NOVIA KENCANA STMIK MDP

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG

BAB I PENDAHULUAN. memberikan hiburan atau kesenangan juga sebagai penanaman nilai edukatif.

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan.

BAB I PENDAHULUAN. terlarang serta tingginya budaya kekerasan merupakan contoh permasalahaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia anak-anak merupakan usia yang sangat penting dalam perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

MATERI KULIAH ETIKA BISNIS. Pokok Bahasan: Pancasila sebagai Landasan Etika Bisnis

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. pemikiran si peneliti karena menentukan penetapan variabel. Berdasarkan Kamus Besar

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Bangsa yang memiliki karakter tangguh lazimnya tumbuh berkembang

FAKTA PANCASILA DALAM KEHIDUPAN

PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah

KODE ETIK DOSEN, TENAGA KEPENDIDIKAN & MAHASISWA UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

BAB I PENDAHULUAN. Mitra Pustaka, 2006), hlm 165. Rhineka Cipta,2008), hlm 5. 1 Imam Musbikiin, Mendidik Anak Kreatif ala Einstein, (Yogyakarta:

BAB III PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Telaah Budi Pekerti dalam Pembelajaran di Sekolah (Implementasi Konsep dan Prinsip Tatakrama dalam Kehidupan Berbasis Akademis) Oleh: Yaya S.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. jalur pendidikan formal, nonformal dan informal, karena dapat dijadikan satu

BAB I PENDAHULUAN. pribadi dalam menciptakan budaya sekolah yang penuh makna. Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan dinamika perubahan sosial budaya masyarakat. mengembangkan dan menitikberatkan kepada kemampuan pengetahuan,

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan dikenal sebagai satu wadah untuk membangun dan

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. sistem yang lain guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan

PANCASILA SEBAGAI LANDASAN ETIKA (I)


BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. afektif, maupun psikomotorik. Kenyataannya pendidikan yang dilakukan pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia

SAMSURI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pembangunan nasional. Menurut Samani dan Harianto (2011:1) paling tidak ada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan, bukan hanya terjadi ketika seseorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya

PANCASILA IDEOLOGI TERBUKA

I. PENDAHULUAN. ihwal yang selayaknya dikerjakan dan yang selayaknya dihindari.

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah bahkan sekolah dewasa ini di bangun oleh pemerintah agar anak-anak

BAB II KAJIAN PUSTAKA Nilai Sosial tentang Kebersihan dan Sampah. Dalam sosiologi nilai adalah prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan,

BAB I PENDAHULUAN. Kementrian Agama RI, Modul Bahan Ajar Pendidikan Dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) Guru Kelas RA, Jakarta, 2014, hlm. 112.

ANTROPOLOGI ALKITAB (Pelajaran 12) By Dr. Erastus Sabdono. Pemulihan Gambar Diri (Bagian 4)

Transkripsi:

Generasi Santun Buku 1B Timothy Athanasios

Teori Nilai PENDAHULUAN Seorang pendidik terpanggil untuk turut mengambil bagian dalam menumbuhkembangkan manusia Indonesia yang utuh, berakhlak suci, dan berbudi pekerti luhur, yang merangkum nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang terhormat. Cita-cita luhur tersebut sudah digariskan sejak semula tentang kaidah berbangsa dan bernegara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Namun pada prakteknya kita justru melihat suatu kemunduran akhlak dan kemerosotan moral yang menyedihkan. Ambillah sebagai contoh, semua orang setuju bahwa kejujuran adalah salah satu nilai hakiki dalam kehidupan manusia, namun kita seringkali menemukan kasus-kasus ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan nilai kasih dan tanggung jawab; kita semua menyadari pentingnya nilai-nilai tersebut, namun justru yang kita dapatkan adalah pola perilaku masyarakat yang semakin tidak mengasihi dan semakin tidak bertanggung jawab. 2

Itu artinya, setiap orang sebenarnya menyadari apa yang baik dan yang benar, namun tidak tahu bagaimana cara untuk mempraktekkan nilai-nilai yang baik dan benar tersebut ke dalam perilaku-perilaku spesifik untuk menyikapi situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah buku ini ditulis, yaitu untuk menolong para pendidik membudayakan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupannya, sehingga dapat menjadi teladan bagi para peserta didik agar dapat berperilaku baik dan benar; sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. PENGERTIAN NILAI Hidup manusia selalu berkaitan dengan nilai. Manusia senantiasa dinilai dan menilai. Istilah nilai dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya keberhargaan (worth) atau kebaikan. Nilai pada hakekatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek. Kajian mengenai nilai dalam filsafat moral sangat bermuatan normatif dan metafisika. Nilai adalah harga atau mutu yang menunjukkan kualitas seseorang dalam kegunaannya bagi dirinya dan bagi sesamanya. Nilai-nilai kehidupan adalah hal-hal yang dipegang teguh oleh manusia, di mana di dalam hal-hal 3

tersebut, manusia menemukan arti dan kepuasan secara intrinsik terhadap kebutuhannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia memiliki perbedaan dan persamaan nilai-nilai kehidupan. Namun ada nilai-nilai universal dan luhur yang tergali dari budaya bangsa, yang dirumuskan sebagai nilai-nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang tercatat dalam perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, dimana Pancasila dinyatakan sebagai nilai dasar dan nilai instrumental yang tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya kita belum dapat merealisasikannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan pengejawantahan lebih lanjut sebagai arahan bagi kehidupan nyata. Pengejawantahan itu kita temukan dalam tata perilaku individu yang kreatif dan dinamis, guna mewujudkan semangat yang terkandung dalam nilai-nilai dasar itu. 4

Bambang Daroeso dalam bukunya: Filsafat Pancasila, mencatat beberapa hal yang perlu kita pahami tentang nilai, yaitu: 1. Nilai merupakan suatu realitas abstrak yang tidak dapat di-inderakan, namun nyata dalam kehidupan manusia; yang dapat diamati adalah obyek yang memiliki nilai tersebut, contoh: orang yang berperilaku jujur (kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa meng-indera kejujuran tersebut). 2. Nilai memiliki sifat normatif; mengandung harapan, cita-cita, dan tujuan sehingga nilai nemiliki sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Contoh: keadilan (semua orang ingin diperlakukan dengan adil). 3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong (motivator) bagi manusia yang adalah pendukung nilai. Manusia bertindak sesuai dengan nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan mendorong manusia untuk berperilaku baik dan benar serta rajin beribadah. MACAM-MACAM NILAI Dalam kajian ilmu filsafat, nilai dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1. Nilai logika: nilai benar atau salah. 2. Nilai estetika: nilai indah atau tidak indah. 3. Nilai etika/moral: nilai baik atau buruk. 5

Jika seseorang menjawab suatu pertanyaan dengan benar, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan bahwa ia salah. Kita tidak mengatakan bahwa hal itu buruk karena jawabannya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakannya demikian. Jika kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan. Nilai estetika bersifat subjektif pada diri orang yang bersangkutan. Seseorang dapat merasa tergugah ketika melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak menyukai lukisan tersebut. Adalah tidak sopan untuk memaksakan makanan yang kita sukai pada orang lain yang tidak menyukainya. Perlu dicatat bahwa moral adalah bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani tata perilaku serta tindakan baik atau buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Kaelan dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menyebutkan tentang tiga macam nilai, yaitu: 6

1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia. 2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat beraktivitas. 3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan kerohanian manusia secara intrinsik yang meliputi: a. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal; rasio dan budi manusia. b. Nilai keindahan yang bersumber pada perasaan; emosi manusia. c. Nilai kebaikan/moral yang bersumber pada unsur kehendak; karsa manusia. d. Nilai religius yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. Nilai-nilai tersebut di atas masih bersifat abstrak, oleh karena itu perlu suatu realisasi konkret yang dapat dilakukan secara spesifik melalui pola perilaku dan perbuatan setiap pribadi, sekaligus juga dapat diamati dan dinikmati dampaknya oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. 7

Teori Perilaku Pada suatu malam yang sepi, hujan turun dengan teramat derasnya, Anda sedang menyetir sebuah mobil sport dengan jumlah penumpang maksimum dua orang. Ketika Anda melewati sebuah halte bus, di sana Anda melihat tiga orang terjebak di dalam halte bus di bawah guyuran hujan deras. Yang pertama adalah sahabat Anda, yang kedua adalah seseorang yang sangat Anda sukai, dan yang ketiga adalah seorang nenek yang sakit keras dan perlu segera dibawa ke rumah sakit. Pertanyaannya adalah: Apa solusi terbaik yang akan Anda ambil jika Anda berada dalam situasi tersebut? Perilaku adalah tindakan atau aktivitas manusia yang memiliki bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. 8

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut meresponi stimulus tersebut. Dalam berperilaku, seseorang akan sangat dipengaruhi oleh hal-hal pragmatis seperti: 1. Apa yang pelaku pikir akan ia dapatkan ketika melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu? 2. Apa hasil yang dirasakan oleh perilaku ketika melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? 3. Apa pendapat orang lain jika pelaku melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? 4. Apakah perilaku yang dilakukan itu mudah atau sulit untuk dilakukan atau tidak dilakukan? 5. Apakah tersedia alat atau cara untuk membantu pelaku untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? Contoh nyata dari lima poin di atas adalah tentang kegiatan merokok. Jika seseorang tidak merasa mendapatkan hal yang baik ketika ia merokok, bahkan sebaliknya merasakan sentimen negatif di lingkungan orang-orang yang tidak merokok, serta adanya cara dan hukum yang membebaninya jika ia melanjutkan 9

perilakunya tersebut, maka besar kemungkinan ia akan mencoba berhenti dari aktifitas merokoknya. Sebaliknya jika seseorang menemukan dukungan publik yang menghargai perilakunya untuk merokok dan ia sendiri menikmati hasilnya, maka besar kemungkinan bahwa ia akan terus merokok. Berikut ini adalah rangkuman faktor-faktor yang mempengaruhi pola perilaku manusia, yaitu: 1. Genetika; faktor bawaan dari gen seseorang. 2. Sikap; ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu. 3. Norma sosial; pengaruh tekanan dan penghargaan dari lingkungan sosial. 4. Kontrol perilaku pribadi; kepercayaan seseorang mengenai sulit atau mudahnya melakukan suatu perilaku. 5. Waktu; faktor yang mempengaruhi kesukaan akan perilaku tertentu pada masa tertentu. 6. Pembelajaran; bagaimana seseorang dapat memilih perilaku tertentu secara baik dan benar sebagai hasil dari belajar untuk kebaikan pribadi dan sekaligus kebaikan bersama. 10

PELAJARAN 1 BERDOA SEBELUM MAKAN TUJUAN PEMBELAJARAN Membiasakan nilai perilaku KETUHANAN di rumah. PENDAHULUAN Sebutkanlah beberapa alasan mengapa setiap kita perlu berdoa sebelum menyantap makanan! PENJELASAN Doa adalah hal yang penting untuk dilakukan dalam kehidupan. Doa sebisa mungkin dilakukan sebelum kita melakukan sesuatu; tidak terkecuali sebelum menikmati makanan yang tersedia. Dalam mendidik anak, kita perlu membiasakannya untuk berdoa sebelum makan, karena berdoa sebelum makan akan memupuk nilai-nilai ke-tuhanan dalam diri seorang anak. Lalu mengapa kita perlu berdoa sebelum makan? 11

1. Mengakui bahwa semua nikmat berkat datang dari Tuhan. 2. Menghargai mereka yang bersusah payah menyediakannya bagi kita. 3. Bersimpati dengan mereka yang belum dapat menikmati makanan seperti yang kita nikmati. Dengan berdoa sebelum makan, kita mengucap syukur atas nikmat pemeliharaan Tuhan atas hidup kita melalui berkatnya. Kita juga mendoakan mereka yang telah menyediakan makanan itu bagi kita. Selain itu, kita juga mendoakan mereka yang belum dapat menikmati makanan yang kita nikmati, sehingga mereka pun dipelihara oleh Tuhan, Sang pemberi berkat. BERSYUKUR UNTUK BERKATNYA, BERTERIMA KASIH UNTUK PENYEDIAAN-NYA, BERHARAP BAGI MEREKA YANG BELUM DAPAT MENIKMATI Itulah sebabnya kita perlu membiasakan diri untuk berdoa sebelum makan dengan sikap yang baik untuk: 1. Mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita beruntung masih dapat menyantap makanan. 2. Mengekspresikan rasa syukur dalam bentuk doa dan ucapan syukur. 12

3. Tidak terburu-buru atau sekedar lewat saja ketika berdoa. BERDOA TANPA DISERTAI RASA KESUNGGUHAN TIDAKLAH MENJADI UCAPAN SYUKUR KEPADA TUHAN. PENUTUP Pendidik membuat doa singkat dan sederhana untuk dilafalkan oleh peserta didik kelas 1 SD sebelum menyantap makanan DOA SEBELUM MAKAN KESIMPULAN Kita dapat menyimpulkan beberapa kebenaran dalam materi Generasi Santun tentang tata perilaku BERDOA SEBELUM MAKAN, sebagai berikut: 1. Mengakui bahwa semua berkat jasmani datangnya daripada Tuhan. 2. Mengakui peranan orang lain yang telah menyediakan makanan bagi kita. 13

3. Mengembangkan rasa sepenanggungan bagi mereka yang belum dapat menikmati makanan. Kiranya Tuhan juga memelihara mereka, sebagaimana Tuhan telah memelihara hidup ini. 4. Penting untuk diingat bahwa berdoa tanpa disertai rasa kesungguhan tidaklah menjadi ucapan syukur kepada Tuhan. 14