BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Penyusunan Tataran Transportasi Lokal Kota Tual 1.1. LATAR BELAKANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATARAN TRANSPORTASI WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

POKOK-POKOK PIKIRAN MENGENAI PENGEMBANGAN JARINGAN PELAYANAN DAN PRASARANA TRANSPORTASI DARAT TERPADU DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL BAB IX SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

RUU SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL DAN HARAPAN SISTEM TRANSPORTASI YANG TERINTEGRASI, AMAN, EFEKTIF, DAN EFISIEN

BUPATI OGAN KOMERING ULU TIMUR PERATURAN BUPATI OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR $0 TAHUN 2015 TENTANG TATANAN TRANSPORTASI IOKAL

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 3 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM. 49 TAHUN 2005 TENTANG SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (SISTRANAS)

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG POLA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI WILAYAH

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER. PERHUBUNGAN NOMOR: KM 11 TAHUN 2010 TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PENYEBERANGAN SINABANG KABUPATEN SIMEULUE

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1

BAB I PENDAHULUAN. disamping fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa. Dalam kaitannya dengan sektorsektor

VISI DAN MISI DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN TANAH DATAR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DRAFT LAPORAN AKHIR KABUPATEN TUAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERHUBUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang

PAPARAN MENTERI PERHUBUNGAN

Paparan Menteri Perhubungan

BIRO PERENCANAAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL. BAB IX SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (Lanjutan)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini bangsa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan di segala

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA TANGERANG SELATAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN BUPATI SISTRANAS PADA TATRALOK PERATURAN BUPATI BULELENG NOMOR..TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

K E R A N G K A A C U A N K E G I A T A N

RANCANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG RENCANA UMUM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun merupakan tahap ketiga dari

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. transportasi dan komunikasi yang sangat diandalkan dalam mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai fungsi sebagai penggerak, pendorong dan penunjang. dan prasarana yang didukung oleh tata laksana dan sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

STRATEGI UMUM DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG

PENDAHULUAN. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN MULTIMODA. pengangkutan barang dari tempat asal ke tempat tujuan dengan lebih efektif dan

Rencana Strategis (RENSTRA)

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun I-1

1.1. Latar Belakang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mandailing Natal Tahun I - 1

Bab I Pendahuluan I-1 BAB I PENDAHULUAN I.1 TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mendukung

BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persilangan rute perdagangan

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN DERMAGA DI PELABUHAN GILIMANUK, PROVINSI BALI

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun I Latar Belakang

Pemerintah Kabupaten Wakatobi

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Transportasi sebagai urat nadi kehidupan berbangsa dan bernegara, mempunyai fungsi sebagai penggerak, pendorong dan penunjang pembangunan. Transportasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari sarana dan prasarana yang didukung oleh tata laksana dan sumber daya manusia membentuk jaringan prasarana dan jaringan pelayanan. Bentuk elemen yang terkait dalam sistem transportasi baik sarana, prasarana maupun pergerakan antara lain adalah kelaikan, sertifikasi, perambuan, kenavigasian, sumberdaya manusia, geografi, demografi dan lain-lain. Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh peran sektor transportasi. Karenanya sistem transportasi harus dibina agar mampu menghasilkan jasa transportasi yang handal, berkemampuan tinggi dan diselenggarakan secara terpadu, tertib, lancar, aman, nyaman dan efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan; mendukung mobilitas manusia, barang serta jasa; mendukung pola distribusi nasional serta mendukung pengembangan wilayah dan peningkatan hubungan internasional yang lebih memantapkan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. Dalam pembangunan transportasi, pemerintah mempunyai peranan sebagai pembina, sehingga berkewajiban untuk menyusun rencana dan merumuskan kebijakan, mengendalikan dan mengawasi perwujudan transportasi. Salah satu kewajiban dimaksud adalah menetapkan jaringan prasarana transportasi dan jaringan pelayanan. Disamping itu juga berkewajiban untuk melaksanakan tugas pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang tidak diusahakan, dengan prioritas daerah-daerah yang kurang berkembang. Hasil pembangunan transportasi yang mampu menunjang upaya pemerataan dan penyebaran pembangunan, pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional dengan jaringan transportasi yang semakin berkembang luas, perlu terus dimantapkan dan dikembangkan sejalan dengan peningkatan tuntutan kualtas pelayanan akibat makin meningkatnya kebutuhan mobilitas manusia dan barang serta tuntutan peningkatan kualitas pelayanan di masa yang akan datang. Dengan semakin terbatasnya anggaran pembangunan menuntut perubahan pola pikir ke arah perencanaan dan penetapan prioritas pembangunan dan pengembangan sarana prasarana perhubungan secara efektif, sesuai permintaan yang berdasar realitas pola aktivitas, pola bangkitan tarikan pergerakan, sebaran pergerakan serta keunggulan komparatif antar zone dalam suatu wilayah, yang terbentuk dalam suatu tatanan transportasi wilayah yang sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). I - 1

Berdasarkan kondisi diatas dengan memperhatikan perkiraan perubahan pola aktivitas, pola pergerakan serta peruntukan lahan maka perlu disusun Tataran Transportasi Wilayah (TATRAWIL) sebagai masukan dalam penyusunan Tataran Transportasi Nasional (TATRANAS) dalam kerangka Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS). Sejalan dengan kebijakan yang tertuang dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2000, yang mengakibatkan terjadinya suatu pergeseran baik pada kewenangan maupun secara kelembagaan serta perubahan struktur kewilayahan, sektor transportasi harus tetap memandang suatu daerah sebagai wilayah fungsional sehingga mengharuskan dilakukannya penerapan kebijakan transportasi secara khusus yang berada dalam suatu kerangka nasional yang utuh. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN STUDI Penyusunan Tatrawil DIY ini dilaksanakan dengan maksud untuk mendapatkan suatu tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman dalam lingkup wilayah DIY yang mencakup transportasi jalan raya, transportasi jalan rel dan transportasi udara yang masing-masingnya terdiri dari sarana dan prasarana yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien, terpadu dan harmonis. 1.3. RUANG LINGKUP Ruang lingkup pekerjaan penyusunan Tatrawil Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini akan mencakup beberapa hal sebagai berikut : a) Pengumpulan data, sekurang-kurangnya mencakup : data sektor transportasi, data sektor bidang lain, kebijakan dan perencanaan lingkup Propinsi DIY serta kebijakan dan rencana nasional terkait, inventarisasi model analisis/prediksi berbasis telematika. b) Identifikasi dan analisis awal isu strategis dan permasalahan transportasi, penggunaan dan penyempurnaan identifikasi dan analisis awal, pengelompokan permasalahan dan distribusi tugas. c) Perumusan kebijakan dan sasaran pembangunan, mencakup perumusan sasaran dan kebijakan, revisi sasaran dan kebijakan disesuaikan dengan hasil pembangunan berdasarkan standar dan kriteria yang berlaku. d) Analisis kelembagaan dan finansial, mencakup : peraturan perundang-undangan dan kepemilikan, pengusahaan jasa transportasi, koordinasi kelembagaan dan efisiensi, analisis pola pendanaan/pembiayaan e) Analisis penyediaan jaringan transportasi yang mencakup : identifikasi jaringan prasarana dan pelayanan transportasi antar zona dalam skala propinsi serta skala regional dan nasional terkait, analisis tingkat pelayanan/ kinerja operasional, analisis I - 2

kinerja biaya, analisis keterpaduan antar dan intra moda serta pelayanan multimoda, analisis dampak pengoperasian sistem transportasi. f) Analisis permintaaan jasa transportasi, yang mencakup penetuan zona, bangkitan dan distribusi arus barang dan orang, analisis pola arus barang dan orang serta model pengembangan transportasi, pemilihan moda. g) Identifikasi defisiensi transportasi di waktu yang akan datang, mencakup identifikasi defisiensi transportasi di waktu yang akan datang berdasarkan tingkat kinerja sasaran saat ini, pengaruh peningkatan operasional terhadap kebutuhan transportasi di waktu yang akan datang, pendefinisian dan kriteria koridor kritis h) Analisis dan evaluasi alternatif koridor kritis, mencakup analisis pilihan jenis angkutan pada koridor kritis, permintaan lalu lintas terhadap jenis angkutan pada koridor kritis, penyusunan, analisis dan evaluasi perencanaan pada koridor kritis, peringkat koridor kritis. i) Analisis dan evaluasi alternatif rencana dan program transportasi wilayah, mencakup : penyusunan alternatif, modal split dan arus lalu lintas di waktu yang akan datang, dampak jangka panjang terhadap alternatif rencana pola arus lalu lintas, analisis komprehensif masing-masing alternatif, serta evaluasi alternatif rencana. 1.4. PENGERTIAN TATRAWIL Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) adalah tataran transportasi yang terorganisasi secara kesisteman, terdiri dari transportasi jalan, transportasi jalan rel, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, transportasi laut dan transportasi udara yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien, terpadu dan harmonis yang berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antar simpul atau kota wilayah dan dari simpul atau kota wilayah ke simpul atau kota nasional atau sebaliknya. Kota wilayah adalah kota-kota yang memiliki keterkaitan dengan beberapa kabupaten dalam satu propinsi, kota gerbang wilayah, kota-kota pusat kegiatan ekonomi wilayah dan kota-kota yang memiliki dampak strategis terhadap pengembangan wilayah propinsi. Simpul wilayah adalah pusat distribusi barang dan orang atau sebagai pintu masuk atau keluar barang dan orang yang bersifat wilayah seperti pelabuhan penyeberangan antar kabupaten/kota dalam propinsi, pelabuhan laut regional dan bandar udara bukan pusat penyebaran. I - 3

1.5. LANDASAN TATRAWIL Penyusunan Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) didasarkan atas : a) Undang-Undang No.13/1980 tentang Jalan b) Undang-Undang No. 13/1992 tentang Perkeretaapian c) Undang-Undang No. 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan d) Undang-Undang No. 15/1992 tentang Penerbangan e) Undang-Undang No. 21/1992 tentang Pelayaran f) Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah g) Undang-Undang No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah h) Peraturan Pemerintah No. 8/1990 tentang Jalan Tol i) Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 91/PR. 008/PHB-87 tentang Kebijakan Umum Transportasi j) Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 15/1997 tentang Sistem Transportasi Nasional 1.6. AZAS TATRAWIL Sesuai dengan Pedoman Teknis yang telah ditetapkan, TATRAWIL harus disusun dengan berasaskan pada beberapa prinsip dasar berikut : BERKEADILAN BERKEADILAN BERKEADILAN TINJAU ULANG TINJAU TINJAU ULANG ULANG TRANSPARAN TRANSPARAN TRANSPARAN KOORDINASI/ SINKRONISASI AKUNTABEL T A T R A W I L KETERPADUAN KETERPADUAN KETERPADUAN REALISTIS REALISTIS REALISTIS KEUNGGULAN MODA KESISTEMAN KESISTEMAN KESISTEMAN a) Keadilan b) Transparansi c) Akuntabilitas d) Realistis e) Kesisteman f) Keunggulan moda g) Keterpaduan intra dan antar moda h) Koordinasi dan sinkronisasi i) Tinjau ulang secara berkala Gambar 1. 1. Azas Penyusunan Tatrawil I - 4

1.7. METODOLOGI PENDEKATAN STUDI Sebagai salah satu perwujudan dari Sistranas, disamping dua perwujudan yang lain yaitu Tataran Transportasi Nasional (Tatranas) dan Tataran Transportasi Lokal (Tatralok), maka konsep Tatrawil harus disusun dengan memperhatikan keterkaitanketerkaitan kesisteman dan keterpaduan dengan Tatranas dan Tatralok (lihat gambar 1.2). Dengan hubungan dan keterkaitan tersebut semakin menunjukkan bahwa ketiga tataran transportasi (Tatranas, tatrawil dan Tatralok) tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan karena pelayanan perpindahan orang dan/ atau barang dari kota wilayah maupun kota lokal ke kota nasional tidak dapat dilakukan dengan salah satu tataran transportasi saja melainkan harus terpadu dengan tataran transportasi lainnya. Demikian sebaliknya orang dan/ atau barang dari kota nasional menuju kota wilayah dan kota lokal harus dilayani dengan ketiga tataran transportasi diatas. TATANAN Tatanan Kepelabuhanan Tatanan Kebandarudaraan Darat SISTRANAS KESISTEMAN Kematraan Fungsi Udara Laut Sarana Prasarana Tataran Nasional HIRARKI Fungsi Administrasi Tataran Wilayah Tataran Lokal Tataran Nasional Tataran Wilayah RPJP 25 TH RPJM 5 TH RPJPD 1TH Tataran Lokal Gambar 1. 2. Kedudukan Tataran Transportasi dalam Sistranas I - 5

Pada akhirnya, tataran transportasi ini akan menjadi indikasi arah pengembangan jaringan transportasi yang didasarkan pada arah peruntukan lahan baik skala nasional, regional maupun lokal. Untuk selanjutnya, dari indikasi arah pengembangan jaringan transportasi tersebut akan digunakan untuk menyusun rencana pengembangan dan pembangunan transportasi sebagai berikut : a. Rencana pembangunan jangka panjang (RPJP 25 tahun) b. Rencana pembangunan jangka menengah (RPJM 5 tahun) c. Rencana pembangunan jangka pendek (RPJPD 1 tahun) Efektifitas Tatrawil sebagai salah satu bentuk pembinaan penyelenggaraan transportasi sangat tergantung pada proses serta tahapan penyusunan, keterlibatan serta peran serta stakeholder, responsifnes terhadap tuntutan reformasi serta bentuk penetapannya. Memperhatikan hal tersebut, maka sebagai landasan operasional pelaksanaan studi penyusunan Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) Propinsi DIY disusun kerangka studi sebagai acuan dalam pelaksanaan studi yang secara skematis diuraikan dalam Gambar 1.3. Kerangka studi tersebut menguraikan pola pikir dalam pelaksanaan studi yang secara garis besar berisi urutan input, proses dan output. Tahap input merupakan masukan berupa faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses analisis dan pengambilan keputusan rekomendasi. Beberapa input yang diperlukan dalam studi penyusunan Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) Propinsi DIY ini meliputi : a. Kondisi fisik wilayah, yang meliputi batas wilayah, luas wilayah, iklim, topografi, kondisi tanah dan batuan; b. Kondisi sosial ekonomi wilayah yang meliputi: jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan, penduduk usia produktif, tingkat PDRB dan PDRB perkapita, besaran ekspor dan impor, tingkat inflasi, komoditas andalan; c. Kondisi transportasi, yang meliputi identifikasi jaringan sarana dan prasarana, jaringan pelayanan, moda unggulan serta identifikasi kinerja moda-moda transportasi di Propinsi DIY yang terdiri atas moda transportasi jalan raya, jalan rel, moda transportasi udara serta moda transportasi angkutan sungai dan penyeberangan (ASDP) di Waduk Sermo (Kabupaten Kulon Progo) yang cukup potensial untuk dikembangkan. d. Peraturan dan regulasi yang terkait, yang meliputi Undang-undang dan peraturan pelaksanaan di bawahnya yang berkaitan dengan transportasi, antara lain : UU nomor 13 tahun 1980 tentang Jalan, UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan Raya, UU momor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 1985 Tentang Jalan serta peraturan di bawahnya. I - 6

e. Kebijakan yang berkaitan dalam lingkup regional (misalnya RTRWP, Sistem Transportasi Wilayah/Regional); dan lingkup nasional (misalnya RTRWN, Sistem Transportasi Nasional). Tahap proses merupakan tahap pengkajian dan analisis terhadap masukan yang diperoleh dari tahap sebelumnya, meliputi: a. Identifikasi dan analisis awal isu-isu strategis yang terkait dengan kondisi fisik wilayah; kondisi sosial ekonomi; kondisi transportasi; dan rencana penataan tata ruang yang ada; b. Analisis kelembagaan dan finansial mencakup peraturan perundang-undangan dan kepemilikan; pengusahaan jasa transportasi; koordinasi kelembagaan dan efisiensi; analisis pola pendanaan/ pembiayaan; c. Analisis penyediaan jaringan transportasi, mencakup identifikasi jaringan prasarana dan pelayanan transportasi antar zona dalam skala propinsi serta skala regional dan nasional terkait; analisis tingkat pelayanan/kinerja operasional; analisis kinerja biaya; analisis keterpaduan antar dan intra moda serta pelayanan multimoda; analisis dampak pengoperasian sistem transportasi; d. Analisis permintaan jasa transportasi, mencakup penentuan zona; bangkitan dan distribusi arus barang dan orang; analisis pola arus barang dan orang serta model pengembangan transportasi; pemilihan moda; e. Identifikasi defisiensi transportasi di waktu yang akan datang, mencakup identifikasi defisiensi transportasi di waktu yang akan datang berdasarkan tingkat kinerja sasaran saat ini; pengaruh peningkatan operasional terhadap kebutuhan transportasi di waktu yang akan datang; pendefisian dan kriteria koridor kritis; f. Analisis dan evaluasi alternatif koridor kritis, mencakup analisis pilihan jenis angkutan pada koridor kritis; permintaan lalu lintas terhadap jenis angkutan pada koridor kritis; penyusunan, analisis dan evaluasi perencanaan pada koridor kritis; serta peringkat koridor kritis. g. Analisis dan evaluasi alternatif rencana dan program transportasi wilayah, mencakup penyusunan alternatif; modal split dan arus lalulintas di waktu yang akan datang; dampak jangka panjang terhadap alternatif rencana pola arus lalu lintas; analisis komprehensif masing-masing alternatif; serta evaluasi alternatif rencana. Tahap output sebagai tahap akhir studi merupakan tahap penyusunan rekomendasi yang terkait dengan rencana pengembangan jaringan sarana dan prasarana transportasi wilayah yang mencakup struktur jaringan, pelayanan transportasi, moda transportasi unggulan, serta outlet wilayah yang akan digunakan bersama-sama dokumen RTRW Propinsi dan RTRW Kabupaten/ kota yang ada di wilayah DIY dalam pengambilan kebijakan penentuan prioritas pembangunan dan pengembangan sarana-prasarana transportasi di tingkat wilayah (propinsi, kabupaten/kota) pada horizon waktu 5 tahun (tahun 2005 sampai dengan tahun 2009). I - 7

PRINSIP DASAR PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN P E N Y U S U N A N TAT R AW I L P R O P I N S I D I Y - Perumusan Konsepsi TATRAWIL DIY Sebagai Perwujudan dari Sistranas - Penyusunan Program Pengembangan Sistem Transportasi Wilayah dalam Kurun waktu 5 Tahun ke Depan Iswntifikasi dan analisis awal isu-isu strategis Analisis kelembagaan dan finansial Analisis penyediaan jaringan transportasi Analisis permintaan jasa transportasi Identifikasi defisiensi transportasi di masa yang akan datang Analisis dan evaluasi alternatif koridor kritis Keadilan Transparansi Akuntabel Realistis Kesisteman Keunggulan Moda Keterpaduan Intra dan Antar Moda Analisis dan evaluasi alternatif rencana dan program transportasi wilayah Visi & Misi Pembangunan Transportasi Propinsi DIY Kebutuhan Pergerakan Orang & Barang - Maksud dan Tujuan - Kajian Data Eksisting Wilayah - Teknik Pengumpulan Data Sekunder dan Primer - Usulan Metodologi - Rencana Kerja dan Jadwal Pelaksanaan LAPORAN ANTARA - Hasil Kompilasi Data - Analisa dan Penilaian Awal Hasil Survai Lapangan - Analisa Pendahuluan - Pengembangan Model Transportasi LAPORAN AKHIR Rencana Pengembangan Jaringan Sarana dan Prasarana Transportasi Horizon 5 th ke Depan : - Struktur jaringan - Pelayanan transportasi - Moda transportasi unggulan - Outlet wilayah IDEAL GOAL (Tujuan) INPUT PROSES OUTPUT Gambar 1. 3. Metodologi Pendekatan Studi I - 8

BAB 1... 1 PENDAHULUAN... 1 1.1. LATAR BELAKANG... 1 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN STUDI... 2 1.3. RUANG LINGKUP... 2 1.4. PENGERTIAN TATRAWIL... 3 1.5. LANDASAN TATRAWIL... 4 1.6. AZAS TATRAWIL... 4 1.7. METODOLOGI PENDEKATAN STUDI... 5 Gambar 1. 1. Azas Penyusunan Tatrawil... 4 Gambar 1. 2. Kedudukan Tataran Transportasi dalam Sistranas... 5 Gambar 1. 3. Metodologi Pendekatan Studi... 9 I - 8