SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

dokumen-dokumen yang mirip
SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

OLEH: YULFINA HAYATI

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merril) merupakan salah satu komoditas pangan yang

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

RESPON ENAM VARIETAS KEDELAI (Glycine max L. Merril) ANJURAN TERHADAP SERANGAN LARVA PEMAKAN DAUN KEDELAI SKRIPSI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa ayat di dalam Al-Qur an menunjukkan tanda-tanda akan

PENGARUH EKSTRAK ETANOL CABAI MERAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max L.Mer) merupakan salah satu komoditi pangan

BAB I PENDAHULUAN. yang hasilnya dapat kita gunakan sebagai bahan makanan pokok. Salah satu ayat di

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

BAB I PENDAHULUAN. masih tergantung pada penggunaan pestisida sintetis yang dianggap

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB III METODE PENELITIAN. Lengkap (RAL) yang terdiri atas kontrol positif dan lima perlakuan variasi

I. PENDAHULUAN. commit to user

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Teodora Ballos, Sonja V. T Lumowa, Helmy Hassan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mulawarman

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) merupakan tanaman pangan terpenting ketiga

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

BAHAN DAN METODE. Pestisida, Medan Sumut dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Medan

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

BAHAN DAN METODE. tempat ± 30 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Awal Juli sampai

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan sumber protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat yang paling baik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sirih hijau (Piper betle L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella tanaman

AGROTEKNOLOGI TANAMAN LEGUM (AGR62) TEKNOLOGI PENGELOLAAN JASAD PENGGANGGU DALAM BUDIDAYA KEDELAI (LANJUTAN)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Kasa Sentral Pengembangan

EFEK MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) TERHADAP MORTALITAS ULAT DAUN Spodoptera exigua PADA TANAMAN BAWANG MERAH

VI. PEMBUATAN PESTISIDA NABATI. Yos. F. da Lopes, SP, M.Sc & Ir. Abdul Kadir Djaelani, MP

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober Januari 2014 di

BAB I PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L] Merr.) merupakan tanaman komoditas pangan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kendal Payak Balai Penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian evaluasi ketahanan beberapa aksesi bunga matahari (Halianthus

Hama Kedelai dan Kacang Hijau

I. PENDAHULUAN. Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu tanaman pangan

Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill) merupakan tanaman pangan yang memiliki

I. TINJAUAN PUSTAKA. klasifikasinya termasuk Divisio: Spermathopyta, Subdivisio: Species: Glycine max (L.) Merrill (Sumarno dan Harnoto, 1983).

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

DENSITAS TRIKOMA DAN DISTRIBUSI VERTIKAL DAUN BEBERAPA VARIETAS KEDELAI

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

TATA CARA PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Di

PENGARUH PENGGUNAAN JARAK TANAM TERHADAP HASIL TANAMAN KACANG PANJANG ( VIGNA SINENSIS ) OLEH NINDA AYU RACHMAWATI

BAB I PENDAHULUAN. penting di Indonesia termasuk salah satu jenis tanaman palawija/ kacang-kacangan yang sangat

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. dan siap untuk dimakan disebut makanan. Makanan adalah bahan pangan

BAB I PENDAHULUAN. pengolahan seperti tempe, tahu, tauco, kecap dan lain-lain (Ginting, dkk., 2009).

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan ini memiliki

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L) Meriill) merupakan salah satu komoditi tanaman yang

TINJAUAN PUSTAKA. Serangga Hypothenemus hampei Ferr. (Coleoptera : Scolytidae). Penggerek buah kopi (PBKo, Hypothenemus hampei) merupakan serangga

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat : Penelitian ini dilakukan di Green House Kebun Biologi

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

BAB I PENDAHULUAN. mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama atau penyakit tanaman

III. BAHAN DAN METODE. Selatan yang diketahui memiliki jenis tanah Ultisol dan Laboratorium Ilmu Tanah

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN KETEPENG DAN ABU SABUT KELAPA UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.)

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

APLIKASI EKSTRAK BIJI JARAK

BAB I PENDAHULUAN. (Rismunandar, 1993). Indonesia memiliki beragam jenis beras dengan warna nya

KAJIAN SISTEM PEMASARAN KEDELAI DI KECAMATAN BERBAK KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR HILY SILVIA ED1B012004

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu dan Laboratorium Ilmu

III. BAIIAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN. tanaman sayuran, kacang-kacangan, tomat, jagung dan tembakau. Helicoverpa

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,

III. BAHAN DAN METODE. Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Penelitian ini

III. BAHAN DAN METODE

TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK TONGKOL, ULAT GRAYAK, DAN BELALANG PADA JAGUNG DI SULAWESI SELATAN. Abdul Fattah 1) dan Hamka 2)

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kacang Hijau

BAB III METODE. kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Kecepatan Kematian. nyata terhadap kecepatan kematian (lampiran 2a). Kecepatan kematian Larva

PENGARUH USIA, LUAS PERMUKAAN, DAN BIOMASSA DAUN PADA TIGA VARIETAS KEDELAI

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tanaman akan tumbuh subur dengan seizin Allah SWT. Jika Allah tidak

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang termasuk dalam famili Cruciferae dan berasal dari Cina bagian tengah. Di

BAHAN DAN METODE. Y ij = + i + j + ij

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Jurusan Proteksi Tanaman

Pemberian Pupuk Organik Granular Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogea,l) Pada Tanah Ultisol

Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya

III. BAHAN DAN METODE

I. PENDAHULUAN. karena nilai gizinya sangat tinggi. Kedelai mempunyai kandungan protein yang

Transkripsi:

ISBN : 978-602-97522-0-5 PROSEDING SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II Konstribusi Sains Untuk Pengembangan Pendidikan, Biodiversitas dan Metigasi Bencana Pada Daerah Kepulauan SCIENTIFIC COMMITTEE: Prof. H.J. Sohilait, MS Prof. Dr. Th. Pentury, M.Si Dr. J.A. Rupilu, SU Drs. A. Bandjar, M.Sc Dr.Ir. Robert Hutagalung, M.Si FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON, 2010 i

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP INTENSITAS KERUSAKAN DAUN DAN PRODUKSI AKIBAT SERANGAN HAMA UTAMA PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max M.) Mechiavel Moniharapon, Debby D. Moniharapon Jurusan Biologi, F-MIPA Unpatti ABSTRAK Daun sirih (Piper betle L.) sebagai salah satu pestisida alami yang dapat digunakan untuk pengendalian hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya efektivitas penggunaan ekstrak daun sirih terhadap intensitas kerusakan daun dan produksi akibat serangan hama utama pada tanaman kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok dengan tingkat konsentrasi ekstrak daun sirih terdiri dari enam perlakuan konsentrasi. Perlakuan A0 (tanpa perlakuan), A1 (50 g per 100 ml air), A2 (100 g per 100 ml air), A3 (150 g per 100 ml air), A4 (200 g per 100 ml air) dan A5 (250 g per 100 ml air). Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 200 g per 100 ml air dan 250 g per 100 ml air mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dibandingkan perlakuan lainnya dalam menekan populasi imago Phaedonia inclusa S., intensitas kerusakan daun dan polong akibat serangan hama tersebut dan jumlah polong per rumpun tanaman. Ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 200 g per 100 ml air dan 250 g per 100 ml air dapat menghasilkan berat kering biji per rumpun mencapai 22,23 g dan 29,34 g. Berat kering biji tertinggi dicapai melalui tingkat konsentrasi 250 g per 100 ml air, yaitu sebesar 29,34 g. PENDAHULUAN Kedelai merupakan tanaman semusim yang mempunyai banyak manfaat. Sebagai bahan makanan pada umumnya kedelai tidak langsung dimasak, melainkan diolah terlebih dulu sesuai dengan kegunaannya misalnya dibuat tempe dan tahu. Selain itu kedelai juga dibuat kecap taoco, taoge, bahkan diolah secara modern menjadi susu, minyak dan minuman sari kedelai (Anonim, 1992). Menurut Direktorat Pertanian Tanaman Pangan tahun 1986 dalam Lamina (1989) bahwa tiap 100 gram bahan kedelai mengandung kalori 330 kal, protein 35 g, lemak 18 g, karbohidrat 35 g, kalsium 227 miligram, fosfor 585 miligram, besi delapan milligram, vitamin A 110 SI, dan vitamin B satu milligram. Konsumsi kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk. Dalam usaha mencapai swasembada kedelai tersebut, PROSEDING Hal. 206

maka harus dilakukan peningkatan produksi. Namun usaha dalam meningkatkan produksi kedelai, kendala terbesar yang dihadapi para petani adalah masalah penanganan hama dan penyakit terutama serangan hama utama pada pertanaman kedelai. Serangan hama utama mengakibatkan kerugian yang cukup berarti yakni 52,3 persen (Anonim, 1993). Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengendalikan hama utama pada tanaman kedelai. Salah satu cara pengendalian yang sering digunakan adalah dengan mengunakan pestisida sintetis yang berdampak negatif bagi lingkungan. Daun sirih (Piper betle L.) merupakan pestisida alami yang dapat digunakan sebagai pengganti pestisida kimiawi, karena kandungan eugenol dalan ekstrak daun sirih akan mempengaruhi saraf dari serangga sehingga memperlihatkan gejala seperti gelisah, kejang-kejang, lumpuh seketika dan kematian. Hal ini tentu saja berakibat langsung pada meningkatnya produksi kedelai. METODOLOGI Penelitian dilaksanakan di desa Toisapu, Kecamatan Teluk, Ambon Baguala, Kotamadya Ambon. Penelitian berlangsung dari bulan Juni sampai bulan Agustus 2007. Bahan dan alat yang digunakan antara lain : Benih kedelai var Tidar, pupuk (urea, TSP,dan KCL), Ekstrak daun sirih tua, cangkul, tali, sprayer, timbangan, gelas ukur, ember, blender, lup, baskom plastik, saringan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (Randomized Block Design) yang terdiri dari lima perlakuan konsentrasi daun sirih dan perlakuan tanaman control, masingmasing sebagai berikut : A0 (control), A1 (50 g daaun sirih per 100 ml air), A2 (100 g daun sirih per 100 ml air), A3 (150 g daun sirih per 100 ml air), A4 (200 g daun sirih per 100 ml air) dan A5 (250 g daun sirih per 100 ml air). Pelaksanaan penelitian berupa : pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, dan pengamatan ( Jenis dan populasi hama, Intensitas kerusakan daun dan polong, Jumlah polong per rumpun tanaman, Berat kering biji per rumpun tanaman). Intensitas kerusakan daun dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sugiharso (1980) sebagai berikut : (n x V) P = x 100 % Z x N PROSEDING Hal. 207

dimana : P (intensitas kerusakan), n (banyaknya daun tiap katagori serangan), V (nilai skala dari tiap kategori serangan yang diamati), Z (nilai skala dari kategori serangan yang tertinggi ) dan N (banyaknya daun yang diamati). Nilai skala untuk tiap kategori serangan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Penentuan nilai skala untuk setiap kategori serangan Nilai skala Persentase serangan Kategori serangan 0 0 normal 1 0 25 ringan 2 25 50 sedang 3 50 75 berat 4 > 75 sangat berat Intensitas kerusakan polong dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sugiharto (1980) sebagai berikut : a P = x 100 % a + b dimana : P (intensitas kerusakan dalam persen), a (jumlah polong yang terserang per rumpun tanaman, dan b (jumlah polong yang tidak terserang per rumpun tanaman) Nilai skala untuk tiap kategori serangan dapat dilihat pada Tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Jenis dan Populasi Hama Pengamatan jenis dan populasi hama dilakukan terhadap populasi dari jenis hama yang ditemukan pada areal pertanaman selama penelitian. Jenis hama utama yang ditemukan adalah hama kumbang daun (Phaedonia inclusa S.) pada stadia imago. Stadia telur, larva dan pupa dari hama ini tidak ditemukan pada areal pertanaman disebabkan karena imago tidak dapat meletakan telur pada tanaman kedelai tersebut akibat terhalang oleh bulu-bulu yang terdapat pada permukaan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunjaya (1970), bulu-bulu atau rambutrambut pada permukaan tanaman dapat merupakan penghalang bagi investasi hama. Hama lalat kacang (Agromyza phaseoli) tidak ditemukan karena tanaman kedelai varietas Tidar tersebut bersifat tahan terhadap lalat kacang, sedangkan hama ulat tentara (Spodoptera litura) tidak ditemukan karena suhu, kelembaban dan curah hujan tidak menunjang perkembangbiakan hama PROSEDING Hal. 208

tersebut (22,63 0 C 32,43 0 C ; 86% ; 25 mm). Menurut Sunjaya (1970), kehadiran suatu jenis hama pada areal pertanaman tertentu ditentukan oleh berbagai faktor fisik yakni suhu dan kelembaban (26 0 C dan 73 100%) serta curah hujan. Untuk melihat sampai sejauh mana faktor perlakuan ekstrak daun sirih terhadap rata-rata populasi imago kumbang daun, maka dilakukan Uji Beda Nyata Jujur seperti terdapat pada Tabel 2. Tabel 2. Uji Beda Nyata Jujur Rata-rata Populasi Imago Kumbang Daun (Ekor) Perlakuan Rata-rata B e d a A0 18,92 A1 13,55 5,37** A2 8,59 10,33** 4,96** A3 6,92 12,00** 6,63** 1,67 A4 5,03 13,89** 8,52** 3,56** 1,89 A5 2,96 15,96** 10,59** 5,63** 3,96** 2,07 BNJ 0,05 = 2,34 ** = berbeda sangat nyata 0,01 = 3,06 Berdasarkan hasil analisis data (Tabel 2) ternyata perlakuan A4 dan A5 (200 g, 250 g per 100 ml air) mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dibandingkan perlakuan A0, A1, A2 dan A3 (control, 50 g, 100 g dan 150 g per 100 ml air) terhadap rata-rata populasi imago kumbang daun (Phaedonia inclusa S.). Rata-rata populasi hama yang ditemukan pada petak perlakuan A0 (18,92 ekor), A1 (13,55 ekor), A2 (8,59 ekor), A3 (6,92 ekor), A4 (5,03 ekor) dan A5 (2,96 ekor). Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun sirih semakin tinggi pula kandungan eugenol (C 10 H 12 O 2 ) dalam larutan semprot mengakibatkan serangga yang terkontak langsung dengan ekstrak daun sirih akan mempengaruhi saraf dari serangga sehingga memperlihatkan gejala seperti gelisah, dan hal ini dapat dilihat melalui perilaku serangga tersebut yakni serangga membersihkan antena, mulut atau bagian tubuh lain dan gejala ini dikenal dengan eksitasi. Disamping itu serangga juga menunjukkan gejala kejangkejang (konvulsi), gejala lumpuh seketika (paralisis) dan kematian. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarumingkeng (1992) yang menyatakan bahwa secara khas racun saraf menimbulkan empat tahap gejala yaitu : eksitasi, konvulasi (kekejangan), paralisis (kelumpuhan) dan kematian. Kematian serangga akibat penggunaan konsentrasi ekstrak daun sirih yang terlalu tinggi dapat menghambat fungsi kerja enzim cholinesterase dalam proses konduksi rangsangan saraf. Cholinesterase mempercepat hidrolisa acetycholin menjadi cholin dan asam asetat sehingga PROSEDING Hal. 209

dengan adanya penambahan konsentrasi pada ekstrak daun sirih, bertambah pula kandungan bahan aktifnya mengakibatkan daya meracunpun meningkat, dengan demikian mempertinggi daya penghambat kerja enzim cholinesterase dalam mengambil acetycholin untuk dirombak menjadi cholin dan asam asetat sehingga acetycholin akan tertimbun pada simpul saraf serangga dan mengakibatkan kerja rangsangan saraf tidak dapat berlangsung normal, sehingga serangga lumpuh seketika dan akhirnya mengalami kematian. 2. Intensitas Kerusakan Daun (%) Untuk melihat sampai sejauh mana faktor perlakuan ekstrak daun sirih terhadap rata-rata intensitas kerusakan daun, maka dilakukan Uji Beda Nyata Jujur seperti terdapat pada Tabel 3. Tabel 3. Uji Beda Nyata Jujur Rata-rata Intensitas kerusakan Daun oleh Kumbang Daun (%) Perlakuan Rata-rata B e d a A0 78,33 A1 69,44 8,89 A2 61,67 16,66* 7,77 A3 50,00 28,33** 19,44** 11,67 A4 43,33 35,00** 26,11** 18,34* 6,67 A5 31,67 46,66** 37,77** 30,00** 18,33* 11,66 BNJ 0,05 = 14,22 * = berbeda nyata 0,01 = 18,62 ** = berbeda sangat nyata Berdasarkan hasil analisis data (Tabel 3) ternyata perlakuan A4 dan A5 (200 g, 250 g per 100 ml air) mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dibandingkan perlakuan A0, A1, A2, dan A3 (control, 50 g, 100 g, dan 150 g per 100 ml air) terhadap rata-rata intensitas kerusakan daun akibat serangan kumbang daun. Rata-rata intensitas kerusakan daun yang ditemukan pada petak perlakuan A0 (78,33 persen), A1 (69,44 persen), A2 (61,67 persen), A3 (50,00 persen), A4 (43,33 persen) dan A5 (31,67 persen). Hal ini bila dikaitkan dengan hasil analisis (Tabel 2), maka jelas terlihat bahwa populasi hama terendah dijumpai pada perlakuan A4 dan A5 jika dibandingkan dengan perlakuannya lainnya. Dengan demikian semakin tinggi populasi, semakin banyak pula bahan makanan yang diperlukan baginya untuk hidup dan berkembang biak sehingga tanaman kedelai yang merupakan sumber makanan akan mengalami kerusakan. Semakin tinggi populasi hama, semakin semakin tinggi pula intensitas kerusakan PROSEDING Hal. 210

yang ditimbulkannya dan sebaliknya semakin rendah populasi hama semakin rendah pula intensitas kerusakan yang ditimbulkannya. 3. Intensitas Kerusakan Polong (%) Untuk melihat sampai sejauh mana faktor perlakuan ekstrak daun sirih terhadap rata-rata intensitas kerusakan polong, maka dilakukan Uji Beda Nyata Jujur seperti terdapat pada Tabel 4. Tabel 4. Uji Beda Nyata Jujur Rata-rata Intensitas Kerusakan Polong oleh Kumbang Daun (%) Perlakuan Rata-rata B e d a A0 30,06 A1 27,80 2,26 A2 24,79 5,27* 3,01 A3 21,12 8,94** 6,68** 3,67 A4 17,16 12,90** 10,64** 7,63** 3,96 A5 13,23 16,83** 14,57** 11,56** 7,89** 3,93 BNJ 0,05 = 4,21 * = berbeda nyata 0,01 = 5,52 ** = berbeda sangat nyata Berdasarkan hasil analisis (Tabel 4) ternyata perlakuan A4 dan A5 (200 g dan 250 g per 100 ml air) mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dibandingkan perlakuan A0, A1, A2, dan A3 (control, 50 g, 100 g, dan 150 g per 100 ml air) terhadap rata-rata kerusakan polong akibat serangan kumbang daun. Rata-rata intensitas kerusakan polong selama penelitian adalah sebagai berikut : A0 (30,06 persen), A1(27,80 persen), A2(24,79 persen), A3 (21,12 persen), A4 (17,16 persen) dan A5 (13,23 persen). Hal ini disebabkan karena populasi hama yang terdapat pada petak perlakuan A4 dan A5 tidak berbeda dan sangat rendah (Tabel 2), maka jelas kerusakan polong yang ditimbulkannyapun rendah. Selanjutnya pada perlakuan A0, A1, A2 dan A3 jelas terlihat bahwa semakin tinggi populasi hama, semakin banyak pula bahan makanan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, sehingga tanaman kedelai yang merupakan sumber makanan akan mengalami kerusakan. Semakin tinggi populasi hama, semakin tinggi pula intensitas kerusakan yang ditimbulkannya dan sebaliknya semakin rendah populasi hama semakin rendah pula intensitas kerusakan yang ditimbulkannya. 4. Jumlah Polong Per Rumpun Tanaman PROSEDING Hal. 211

Untuk melihat sampai sejauh mana faktor perlakuan ekstrak daun sirih terhadap rata-rata jumlah polong per rumpun tanaman, maka dilakukan Uji Beda Nyata Jujur seperti terdapat pada Tabel 5. Tabel 5. Uji Beda Nyata Jujur Rata-rata Jumlah Polong Per Rumpun Tanaman Perlakuan Rata-rata B e d a A0 11,00 A1 15,46 4,46 A2 17,13 6,13 1,67 A3 19,66 8,66** 4,20 2,53 A4 22,67 11,67** 7,21** 5,54 3,01 A5 24,67 13,67** 9,21** 7,54* 5,01 2,00 BNJ 0,05 = 6,44 * = berbeda nyata 0,01 = 8,43 ** = berbeda sangat nyata Berdasarkan hasil analisis data (Tabel 5) ternyata perlakuan A5 sangat berbeda nyata dengan perlakuan A0, A1 dan A2 terhadap rata-rata jumlah polong per rumpun tanaman. Ratarata jumlah polong per rumpun tanaman selama penelitian sebagai berikut A0 (11,00), A1 (15,46), A2 (17,13), A3 (19,66), A4 (22,67) dan A5 (24,67). Hal ini bila dikaitkan dengan hasil analisis data (Tabel 2 dan 3), maka jelas terlihat bahwa populasi imago hama kumbang daun yang ditemukan selama penelitian berbeda, menyebabkan kerusakan yang ditimbulkannya juga berbeda. Kerusakan tersebut berpengaruh terhadap proses fotosintesis, sehingga proses jalannya fotosintesa tidak berlangsung normal karena banyaknya daun yang berlubang-lubang, hal ini berpengaruh pada pembentukan polong yang dihasilkan. Semakin tinggi populasi hama, maka jumlah polong yang terbentuk lebih sedikit. Disamping itu, semakin tinggi populasi hama semakin berpengaruh pula terhadap jumlah bunga yang gugur akibat aktivitas serangga hama tersebut, mengakibatkan polong yang terbentukpun berkurang dan sebaliknya semakin rendah populasi hama, maka polong yang terbentuk semakin banyak karena jumlah bunga yang gugur berkurang. 5. Berat Kering Biji Per Rumpun Tanaman (g) Untuk melihat sampai sejauh mana faktor perlakuan ekstrak daun sirih terhadap rata-rata berat kering biji per rumpun tanaman, maka dilakukan Uji Beda Nyata Jujur seperti terdapat pada Tabel 6. PROSEDING Hal. 212

Tabel 6. Uji Beda Nyata Jujur Rata-rata Berat Kering Biji Per Rumpun Tanaman (g) Perlakuan Rata-rata B e d a A0 11,21 A1 13,16 1,95 A2 15,64 4,43 2,48 A3 19,77 8,56 6,61 4,13 A4 22,23 11,02 * 9,07 6,59 2,46 A5 29,34 18,13** 16,18** 13,70** 9,57* 7,11 BNJ 0,05 = 9,39 * = berbeda nyata 0,01 = 12,30 ** = berbeda sangat nyata Berdasarkan hasil analisis data (Tabel 6) ternyata perlakuan A4 (200 g per 100 ml air) dan A5 (250 g per 100 ml air) mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dalam meningkatkan berat kering biji per rumpun dibandingkan perlakuan A0, A1, A2, dan A3. Perlakuan A5 dapat meningkatkan berat kering biji per rumpun sebesar 29,34 g atau 73,35 kw per ha ; perlakuan A4 sebesar 22,23 g atau 55,57 kw per ha ; perlakuan A3 sebesar 19,77 g atau 49,42 kw per ha ; perlakuan A2 sebesar 15,64 g atau 39,10 kw per ha ; perlakuan A1 sebesar 13,16 g atau 32,90 kw per ha dan perlakuan A0 sebesar 11,21 g atau 28,02 kw per ha. Dengan demikian semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun sirih semakin tinggi pula kandungan bahan aktif eugenol dalam larutan semprot mengakibatkan hama kumbang daun (Phaedonia inclusa) tersebut mati terbunuh dan intensitas kerusakan polongpun menurun sehingga berat kering biji yang dihasilkanpun meningkat. dan besar polong. Berat kering biji ditentukan pula oleh jumlah polong, ukuran Makin banyak jumlah polong dan makin pendek ukuran polong, mengakibatkan beratnya akan sebanding dengan sedikit polong tetapi ukuran polongnya panjang dan bijinya besar-besar. KESIMPULAN 1. Ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dengan konsentrasi 200 g per 100 ml air dan 250 g per 100 ml air mempunyai efektifitas yang sama dan lebih efektif dibandingkan perlakuan lainnya terhadap populasi imago kumbang daun (Phaedonia inclusa), intensitas kerusakan daun, intensitas kerusakan polong akibat serangan hama tersebut dan meningkatkan jumlah polong per rumpun tanaman. PROSEDING Hal. 213

2. Ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 200 g per 100 ml air dan 250 g per 100 ml air dapat menghasilkan berat kering biji per rumpun mencapai 22,23 g atau 55,57 kw per ha dan 29,34 g atau 73,55 kw per ha. DAFTAR PUSTAKA Anonymous, 1992. Budidaya Kedelai. Aksi Agraris Kanisius Cetakan Ke Lima. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Anonymous, 1993, Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Daerah Tingkat I Maluku. Lamina, 1989. Kedelai dan Pengembangannya. Cetakan Pertama. Penerbit C.V. Simplex, Jakarta Sunjaya, P.I., 1970. Dasar-dasar Ekologi Serangga. Bagian Ilmu Hama Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sugiharto, 1980. Penuntun Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan II. Depertemen Ilmu Hama dan Penyakit, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Tarumingkeng, R.C., 1992. Insektisida, Sifat, Mekanisme Kerja dan Dampak Penggunaannya. Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta. PROSEDING Hal. 214