Hukum Cerai Tanpa Sebab



dokumen-dokumen yang mirip
Hukum Ucapan Fulan Mati Syahid

Apakah Tasbih Termasuk Bid'ah?

Hukum Onani. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Syaikh Muhammad al-utsaimin rahimahullah

Apakah Wanita yang Dicerai Mendapat Warisan Dari Mantan Suaminya yang Wafat?

Hukum Menyuap Dan Menerimanya حكم دفع الرشوة و أخذها

Hukum Mengubah Nazar

Apakah Boleh Bekerja di Bank Kovensional?

Hukum Merokok Dan Menjualnya

Apakah Asal dalam Dakwah Adalah Tauqifi?

Sifat Shalat Istisqa (Minta Hujan)

Tata Cara Sujud Tilawah

Salafus Shalih dan Sederhana dalam Tertawa dan Bercanda

Hukum Meninggalkan Haji Sunnah Untuk Memberikan Kesempatan Kepada Kaum Muslimin

Hukum Sodomi Terhadap Istri

Seorang Bapak Tidak Boleh Memaksa Putrinya Menikah

Ikhlas Dalam Menuntut Ilmu

Mutiara Nasehat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu

Memuji Orang-Orang Shalih dan Mendorong Mereka Agar Terus Berjalan Lurus

Azal Dan Hukumnya. Penyusun : Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa

Hukum Asuransi Jiwa Dan Harta

Mengobati Rasa Gelisah Dan Sedih

Hukum Bersumpah Atas Nama Nabi Muhammad shalallahu alihiwasallam

Hukum Memakai Emas Dan Intan Bagi Laki-Laki

Membuka Wajah Di Hadapan Kerabat Bukan Mahram

Di Antara Kemungkaran Pakaian Wanita Dalam Pesta Perkawinan

Hukum Memakai Celana Panjang yang Lebar

Hukum Berobat Kepada Dukun Dan Peramal

Mengambil Ilmu dan Mendatangi Para Ulama

Hukum Menunduk Dan Mencium Tangan

Hukum Nikah Dengan Niat Talak

Hukum Wanita Safar Sendirian Dengan Pesawat

Salafus Shalih Dan Hak-Hak Makhluk

Hikmah Perkawinan Nabi Muhammad salallahu alaihiwassalam

Menghormati dan Menghargai Ulama

Hukum Bersiwak Bagi Yang Puasa Setelah Gelincir Matahari

Pengertian Ikhlas. Syaikh Muhammad Bin Shalih al-'utsaimin. rahimahullah. Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Hukum Menanam Saham Di Sebagian Perusahaan

Hukum Berkabung Atas Kematian Raja dan Pemimpin

Penetapan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal

Apakah Hukum Isbal Hanya Untuk Orang Sombong?

Salafus Shalih: Berbuat Baik Kepada Teman

ISTRI-ISTRI PENGHUNI SURGA

Tata Cara Shalat Malam

Apakah Masjidil Haram Sama Dengan Masjid-Masjid Lainnya Di Tanah Haram?

Apakah Hukumnya Bila Suami Masuk Islam Dan Bagaimana Bila Sebaliknya?

Membatalkan Shalat Witir

Hukum Mandi Hari Jum'at

Hukum Meyakini Bahwa Rasulullah SHALALLHU ALAIHI WA SALLAM Ada Di Setiap Tempat Dan Mengetahui Perkara Gaib

Hukum Memelihara Jenggot

Pengobatan Dengan Ruqyah Untuk Penyakit Kejiwaan

Negeri Yang Wajib Ditinggalkan

Jalan Keluar Bagi Suami Istri Sebelum Cerai

Zakat Perhiasan Wanita

Hukum Mencela Ulama. Syaikh Muhammad al-utsaimin rahimahullah. Terjemah :Muhammad Iqbal A.Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Hukum Khitan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'utsaimin - rahimahullah Dan Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa

Hukum Bersalaman Dengan Wanita Bukan Mahram

Hukum Banyak Bergerak dalam Shalat

Shalat Isya Di Belakang Imam Yang Shalat Tarawih

[ Indonesia Indonesian

Pengertian Wasathiyah (Moderat) Dalam Agama

Orang yang Terakhir Masuk Surga dan yang Paling Rendah

Salafus Shalih Dan Adab Berbicara

Hukum Poligami. Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Hukum Sebab Dan Akibat, Serta Bergantung Kepada Sebab

Hukum Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Ruang Lingkup Kerja Wanita

Haramnya Sihir Pengasih dan Pembenci

Kepada Siapa Wanita Harus Menutup Wajahnya?

KUMPULAN FATWA. Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit. Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali

Fatwa Tentang Hakikat Sihir

Bersihkan Hatimu Untuk Membangun Ummat

Hukum Menyuap Dan Menerimanya

E٤٢ J٣٣ W F : :

Dorongan Untuk Memanfaatkan Berbagai Sarana Informasi dengan Beberapa Syarat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Menjampi Air Termasuk Ruqyah Yang Syar'i

Salaf Dan Sabar Terhadap Musibah

Hukum-Hukum Wasiat. Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa. Terjemah :Muhammad Iqbal A.Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

: : :

Tiga Kedustaan Yang Dilakukan Nabi Ibrahim alaihissalam

Bid ah Berkumpul Untuk Ta ziyah dan Menghidangkan Makanan Kepada yang Datang

Tata Cara Qunut dan Kadarnya

Syarat-Syarat Hijab Syar'i

Surat Untuk Kaum Muslimin

Hukum membuka wajah dan Berkhalwah

Keutamaan Menghapal Al-Qur`an

Syarat-Syarat Wajib Zakat

Tata Cara Shalat dalam Pesawat

Kekhususan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya

Rayuan Setan Dalam Pacaran

ADAB MEMAKAI SANDAL آداب التنعل. Penyusun : Majid bin Su'ud al Usyan. Terjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Pelajaran Dari Perang Badar

Meraih Sifat Qona ah (Merasa Kecukupan)


Menyoal Poligami dan Kendalanya Jumat, 26 Nopember 04

Salafus Shalih Tidak Suka Ketenaran

Transkripsi:

Hukum Cerai Tanpa Sebab Syaikh Muhammad bin al-utsaimin rahimahullah Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2012-1433

حكم الطالق بدون سبب «باللغة اإلندونيسية» الشيخ حممد بن صالح العثيمني رمحه اهلل ترمجة: حممد إقبال أمحد غزايل مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو 2012-1433

بسم اهلل الرمحن الرحيم Pertanyaan: Apakah hikmahnya keputusan cerai itu ada di tangan suami? Apakah hukumnya orang yang menceraikan istrinya tanpa sebab? Dan bagaimanakah hukumnya jika istri yang meminta cerai tanpa sebab? Jawaban: Adapun perceraian ada di tangan suami, maka itulah keadilan, karena di tangan suamilah pelaksanaan aqad nikah, maka harus di tangannya pula untuk melepaskan ikatan ini, dan karena suami bertanggung jawab/pemimpin terhadap wanita, sebagaimana firman Allah subhanahuwata ala: قال اهلل تعايل: ق ومون ٱلر ج ال ع ٱلن س اء ب م ا ٱهلل ف ضل ب ع ض ل م ع عض ا ب قوا و ب م أ نف م ن أ مول م ]سورة النساء : 43 ] 3

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah subhanahuwata ala telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), (QS. an-nisaa`:34) Apabila ia yang memimpin, jadilah perkara berada di tangannya. Inilah tuntutan pandangan yang benar. Karena suami lebih sempurna akal dan berpandangan lebih jauh dari pada wanita. Maka engkau tidak menemukan dia berniat cerai kecuali sang suami melihat bahwa hal itu adalah pilihan terakhir. Akan tetapi bila cerai berada di tangan istri, niscaya istri lebih sedikit akal, tidak berpikir jauh, dan cepat emosi. Bisa jadi ia disukai oleh seseorang, lalu ia langsung mencerai suaminya, karena ia lebih menyukai orang yang menyukainya maka ia lebih mengutamakannya di atas suaminya. Dan hikmah yang lebih utama tentang keputusan cerai ada di tangan suami adalah hikmah yang ketiga. 4

Adapun pertanyaan kedua: yaitu hukum orang yang menceraikan istrinya tanpa ada sebab, maka para ulama berkata: sesungguhnya berlaku pada thalaq (cerai) itu lima hukum Islam: maksudnya, hukumnya wajib, haram, sunat, makruh dan mubah. Pada dasarnya cerai itu tidak disukai, karena hal itu membuka ikatan pernikahan dimana telah diperintahkan secara syara' untuk melakukannya, dan terkadang terjadi padanya bahaya besar. Sebagaimana bila wanita banyak anak dari suami. Maka karena perceraian ini terjadilah perpisahan keluarga dan muncullah berbagai problem sebagai dampak dari perceraian ini. Dan apabila harus melakukan hal itu karena tidak mungkin hidup bahagia di antara suami istri, maka ketika itu hukumnya mubah/boleh. Ia termasuk nikmat Allah subhanahuwata ala, maksud saya hukumnya boleh pada jika keadaannya demikian, karena jika suami 5

istri tetap di atas ikatan pernikahan dalam kehidupan yang menyengsarakan dan susah niscaya dunia menjadi berat bagi mereka, akan tetapi termasuk nikmat Allah subhanahuwata ala bahwa apabila kebutuhan mengharuskan hal itu niscaya hukumnya boleh. Adapun istri yang meminta cerai, maka sesungguhnya hukumnya haram kecuali ada alasan tertentu, seperti suami kurang agamanya, atau kurang baik akhlaknya, atau ia (istri) tidak bisa sabar hidup bersamanya. Maka pada saat itu tidak mengapa istri meminta cerai, seperti yang pernah dilakukan oleh istri Tsabit bin Qais bin Syammasy radiyallahu anhum, saat ia datang kepada Nabi Muhammad sallahu alaihi wassalam seraya berkata: Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, saya tidak mencela akhlak dan agamanya, akan tetapi saya membenci kufur dalam Islam. Maksudnya, ia khawatir kufur 6

terhadap haq suaminya dengan Islam, maka ia meminta untuk berpisah. Maka Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: 'Apakah engkau mau mengembalikan kebunnya?' Qais Radiyallahu anhum telah memberikannya kepadanya sebagai mahar. Ia menjawab: 'Ya.' Nabi Muhammad shalallahu aaihiwasallam bersabda kepada suaminya, yaitu Tsabit Radiyallahu anhum: 'Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia satu kali.' 1 Dan dalam hadits dari Nabi : قال رسول اهلل : )أ ي ا ر ائ حة ا ل نة ) ع ل ي أس ا ب ي م ق ا ف غ ا ط ال وج ل ت ز ة س أ ا امر أ م ر ام ف ح Rasulullah shalallahu aaihiwasallam bersabda, 'Wanita manapun yang meminta cerai dari suaminya 1 HR. al-bukhari 5273, 7

tanpa sebab, maka diharamkan atasnya aroma surga." 2 Hadits ini menunjukkan bahwa jika istri meminta cerai tanpa ada sebab apa-apa- termasuk dosa besar karena adanya ancaman dalam hal itu. Syaikh Ibnu Utsaimin Fatwa yang beliau tanda tangani. 2 HR. Ahmad 5/277, 283, ad-darimi 2270, Abu Daud 2226, at- Tirmidzi 1187 dan ia berkata: Hadits Hasan, Ibnu Majah 2055, al- Hakim 2/2809 dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz- Dzahabi. 8