PENGELOLAAN LIMBAH B3 PENIMBUNAN DAN DUMPING

dokumen-dokumen yang mirip
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

PENGELOLAAN LIMBAH B3

PENGELOLAAN LIMBAH B3. Disampaikan oleh: Deputi MENLH Bidang Pengeloaan B3, Limbah B3, dan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Disampaikan Pada Kegiatan Bimbingan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B September 2016

2 secarakimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Daur ulang (recycle) Limbah B3 merupakan kegiatan mendaur ulang yangbermanfaat melalui proses

Teknik Bioremediasi Hidrokarbon

ISBN : Oleh: Ir. Setiyono, MSi

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 101 TAHUN 2014 GELOLAAN LIMBAH B3. 1 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN 2015

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

FORMULIR PERMOHONAN IZIN DUMPING TAILING, SERBUK BOR, DAN LUMPUR BOR KE LAUT

AUDIT LIMBAH B3 Bahan Berbahaya dan Beracun

Pengelolaan dan Pengendalian Limbah B3

BAB 3 METODE PENELITIAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indon

IDENTIFIKASI & TEKNIK PENYIMPANAN LIMBAH B3

IMPLEMENTASI PERATURAN DAN KEBIJAKAN DI BIDANG PENGUMPULAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH B3

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

TATA CARA PENGELOLAAN LIMBAH B3. Oleh : Iyan Suwargana Kabid Pemanfaatan Limbah B3 Pada Asdep Administrasi Pengendalian Limbah B3 3R LIMBAH B3

2014, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disin

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. menurunkan kualitas lingkungan dan derajat kesehatan masyarakat disebabkan

KLASIFIKASI LIMBAH. Oleh: Tim pengampu mata kuliah Sanitasi dan Pengolahan Limbah

BAB 1 PENDAHULUAN. Tailing yang dihasilkan dari industri pertambangan menjadi perdebatan karena volume

Praktik Cerdas TPA WISATA EDUKASI. Talangagung

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

APLIKASI PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN LIMBAH B3 DAN LIMBAH NON B3

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (LB3)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

PENGELOLAAN LIMBAH B3 [PP 101 TAHUN 2014]

TATA CARA PEMULIHAN LAHAN TERKONTAMINASI LB3

CARA PENGELOLAAN PEMBANGUNAN PERTAMBANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

INDIKATOR RAMAH LINGKUNGAN UNTUK USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN TERBUKA BATUBARA

TATA CARA PEMULIHAN LAHAN TERKONTAMINASI LB3

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

Tugas Akhir Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah Dengan Menggunakan Software Modflow Di Daerah Bekas TPA Pasir Impun Bandung, Jawa Barat

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BUPATI TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

Infrastruktur PLP dalam Mendukung Kesehatan Masyarakat

KAJIAN PEMANFAATAN LIMBAH PENAMBANGAN EMAS (STUDI KASUS: PEMANFAATAN TAILING DI PT. ANTAM UBPE PONGKOR)

JENIS DAN KOMPONEN SPALD

PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 247 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 299 TAHUN 2016 TENTANG

2018, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136,

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 107 TAHUN 2016 TENTANG

PEMBINAAN PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN DI PROVINSI DKI JAKARTA

Pengelolaan Emisi Gas pada Penutupan TPA Gunung Tugel di Kabupaten Banyumas. Puji Setiyowati dan Yulinah Trihadiningrum

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

PEMBINAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI PROVINSI DKI JAKARTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1994 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 245 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi.

PENGELOLAAN EMISI GAS PADA PENUTUPAN TPA GUNUNG TUGEL DI KABUPATEN BANYUMAS

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun

BAB I PENDAHULUAN. yang maju identik dengan tingkat kehidupan yang lebih baik. Jadi, kemajuan

Syarat Penentuan Lokasi TPA Sampah

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN BUPATI BANTUL NOMOR 300 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR: 300.K/38/M.PE/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

X. BIOREMEDIASI TANAH. Kompetensi: Menjelaskan rekayasa bioproses yang digunakan untuk bioremediasi tanah

BAB I PENDAHULUAN. dari industri masih banyak pabrik yang kurang memperhatikan mengenai

RINGKASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2010 TENTANG REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 1 : PENDAHULUAN. dan pengelolaan yang berkelanjutan air dan sanitasi untuk semua. Pada tahun 2030,

2016, No Nomor 333, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5617); 3. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 tentang Kementerian Lin

PETUNJUK TEKNIS PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN

ContohPenilaianPROPER: PengelolaanLimbahB3Kegiatan Pertambangan

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :... TAHUN... TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

BUPATI PENAJAM PASER UTARA

~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 7 TAHUN TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH

Transkripsi:

PENGELOLAAN LIMBAH B3 PENIMBUNAN DAN DUMPING Hotel Sahid Rich Jogja, 18-19 November 2015 Subdirektorat Penimbunan dan Dumping Limbah B3 Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015 1

Konsep Pengelolaan Limbah B3 Secara Garis Besar : 1. Reduce (mengurangi Limbah B3) upaya menggunakan teknologi bersih dan metode baru sehingga limbah yang akan muncul relatif sedikit; 2. 3R Limbah B3 (reuse, recycle, recovery) upaya pemanfaatan kembali Limbah B3 yang telah muncul sebagai bahan baku dan bahan bakar; dan 3. Penimbunan Limbah B3 sebagai solusi terakhir.

3 R limbah B3 besar manfaatnya 1. Lingkungan menjadi bersih dan sumber daya tidak tersia-siakan 2. Secara Internal masuk ke dalam indikator keberhasilan KLHK yang salah satu indikator keberhasilannya adalah mengurangi beban pencemaran dan mengendalikan kerusakan 3. Kreatifitas muncul, khususnya dalam pengelolaan Limbah, karena masih banyak teknologi dan metode yang belum dilakukan oleh pelaku limbah (misalnya teknologi ban bekas atau plastik bekas menjadi bahan bakar) 4. Penghematan anggaran negara (khususnya menghemat cost recovery) 5. Penyerapan tenaga kerja. 3

PENIMBUNAN LIMBAH B3 (Definisi) Kegiatan menempatkan Limbah B3 pada fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Dasar Hukum: 1. UU 32 Tahun 2009 Pasal 59; 2. PP 101 Tahun 2014 Pasal 146; dan 3. Keputusan Kepala Bapedal No. 04 Tahun 1995. 4

PENIMBUNAN LIMBAH B3 1. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri, Penimbunan Limbah B3 diserahkan kepada Penimbun Limbah B3 (pihak ke-3). 2. Penimbunan Limbah B3 dapat dilakukan sendiri pada fasilitas berupa: a. Penimbusan akhir (landfilling); b. Reinjeksi pada sumur tidak aktif (re-injection well); c. Penempatan kembali di area bekas tambang (backfilling); d. Dam tailing; dan e. Fasilitas penimbunan Limbah B3 lain sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 5

FASILITAS PENIMBUSAN AKHIR (Landfill) Penimbusan akhir terdiri dari : A. Penimbusan kelas I; B. Penimbusan kelas II; dan C. Penimbusan kelas III. Penentuan kelas berdasarkan uji total konsentrasi zat pencemar 6

PERSYARATAN LOKASI PENIMBUSAN LIMBAH B3 a. Bebas Banjir; b. Permeabilitas tanah; c. Merupakan daerah yang secara geologis aman, stabil, tidak rawan bencana, dan di luar kawasan lindung; dan d. Tidak merupakan daerah resapan air tanah.

PENENTUAN KARAKTERISTIK LIMBAH B3 & Kelas Penimbusan a. Fasilitas Penimbusan Akhir (Landfill): Kelas I, Kelas II, atau Kelas III contoh Bahan Pencemar Total Kadar Max (mg/kg berat kering) KOLOM A Total Kadar Max (mg/kg berat kering) KOLOM B b. Mengacu pada Total Konsentrasi Zat Pencemar (Limbah B3) Lihat KEPKaBAPEDAL No. 04/1995 Ar 300 30 Cd 50 5.. dst Catatan: 1)Jika kadar bahan pencemar > kolom A landfill kelas I 2)Jika kadar bahan pencemar < kolom A, > kolom B landfill kelas II 3)Jika kadar bahan pencemar < kolom B landfill kelas III

PERSYARATAN FASILITAS PENIMBUSAN AKHIR LIMBAH B3 1. Desain Fasilitas (double liner, single liner, dan clay liner); 2. Memiliki sistem pelapis yang dilengkapi dengan: a) saluran untuk pengaturan aliran air permukaan; b) pengumpulan air lindi dan pengolahannya; c) sumur pantau; dan d) lapisan penutup akhir; 3. Memiliki peralatan pendukung Penimbunan Limbah B3 yang paling sedikit terdiri: a) peralatan dan perlengkapan untuk mengatasi keadaan darurat; b) alat angkut untuk Penimbunan Limbah B3; dan c) alat pelindung dan keselamatan diri; 4. Memiliki rencana Penimbunan Limbah B3, penutupan, dan pasca penutupan landfill. 9

SISTEM PELAPISAN DASAR (LINER) PENIMBUSAN AKHIR Penimbusan Akhir Kelas I Penimbusan Akhir Kelas II Penimbusan Akhir Kelas III Lapisan Penutup Lapisan Penutup Lapisan Penutup LIMBAH LIMBAH LIMBAH Lapisan Pelindung Sistem Pengumpul Lindi 30 cm Geomembran Lapisan Pelindung Sistem Pengumpul Lindi Geomembran Lapisan Pelindung Sistem Pengumpul Lindi Lapisan Tanah Penghalang 30 cm Lapisan Tanah Penghalang Lapisan Tanah Penghalang Sistem Deteksi Kebocoran Geomembran Sistem Deteksi Kebocoran Sistem Deteksi Kebocoran Lapisan Dasar 1 m Lapisan Dasar Lapisan Dasar Tanah Setempat Tanah Setempat Tanah Setempat 10

Contoh Desain Fasilitas Penimbusan Akhir (Landfill) kelas I Penimbusan Akhir Akhir Kelas Kelas?? I Lapisan Penutup LIMBAH Lapisan Pelindung Sistem Pengumpul Lindi Geomembran Lapisan Tanah Penghalang Sistem Deteksi Kebocoran Geomembran Lapisan Dasar Tanah Setempat 11

Contoh Landfill Kelas 1 oleh Waste Generator 12

Contoh Penimbusan Akhir Limbah B3 Kelas 1 oleh Pihak ke-3 Lokasi : PPLi-B3 Cibinong, Bogor 13

Penimbunan LB3 dengan cara Re-Injeksi 14

Dam Tailing (Tailing Tambang Mineral) 15

AIR AIR 16

PENGELOLAAN LIMBAH B3 (Dam Tailing) Dalam PP 101 Tahun 2014, Tailing (Proses pengolahan bijih mineral logam pada industri pertambangan Emas) termasuk Limbah B3 dengan Kode Limbah B416, Kategori Bahaya 2 Ore/ Bongkahan Mineral (Emas dmp) Proses pemisahan mineral CIL (carbon in leach) Detoxifikasi Proses oksidasi penurunan Sianida (CN) <0.5 ppm (Kepmen LH 202 tahun 2004) Dam Tailing Penimbunan tailing Pembuangan Sianida (CN) ke badan air <0.05 ppm [Kepdal 04 tahun 1995 (BMLCK-PPLIB3)] 17 *BMLCK-PPLIB3: Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Pengolahan Limbah B3

Penimbunan kembali tailing dengan cara Backfilling 18 18

DUMPING LIMBAH B3 (Definisi) Membuang, menempatkan dan/atau memasukkan limbah dalam jumlah, konsentrasi, waktu dan lokasi tertentu dengan persyaratan tertentu ke media laut. DASAR HUKUM: 1. UU 32 Tahun 2009 Pasal 20 ayat (3), Pasal 60-61; dan 2. PP 101 Tahun 2014 Pasal 175-190. 19

DUMPING LIMBAH B3 20

DUMPING LIMBAH B3 1. Setiap Orang untuk dapat melakukan Dumping Limbah B3 ke media lingkungan hidup wajib memperoleh izin dari Menteri. 2. Limbah B3 yang dapat dilakukan dumping ke media lingkungan hidup berupa laut meliputi: a. tailing dari kegiatan pertambangan; dan b. serbuk bor hasil pemboran usaha dan/atau kegiatan eksplorasi dan/atau eksploitasi di laut menggunakan serbuk bor berbahan dasar sintetis (synthetic based mud); 3. Limbah B3 yang akan dilakukan dumping wajib dilakukan Netralisasi atau Pengurangan kadar racun sebelum dilakukan dumping ke laut. 21

DUMPING LIMBAH B3 (Tailing) 1. Lokasi tempat dilakukan Dumping Limbah B3 harus memenuhi persyaratan yang meliputi: a. di dasar laut pada laut yang memiliki lapisan termoklin permanen; dan b. tidak berada di lokasi tertentu atau daerah sensitif berdasarkan Peraturan Perundang- Undangan. 2. Dalam hal tidak terdapat laut yang memiliki lapisan termoklin permanen, lokasi tempat dilakukan Dumping Limbah B3 berupa tailing dari kegiatan pertambangan harus memenuhi persyaratan lokasi yang meliputi: a. di dasar laut dengan kedalaman lebih besar atau sama dengan 100 m (seratus meter); b. secara topografi dan batimetri menunjukkan adanya ngarai dan/atau saluran di dasar laut yang mengarahkan tailing ke kedalaman lebih dari atau sama dengan 200 m (dua ratus meter); dan c. tidak ada fenomena up-welling. 22

Deep Sea Tailing Placement (contoh Newmont Batu Hijau)

2 Pipa darat sepanjang 6.2 km, memiliki 402 spools, 44 diameter steel pipe 9.5mm wall, 20mm rubber line Pipa darat

Pipa laut sejauh 3,2 km Mulut pipa sedalam 125 m dpl Tailing di dumping pada ngarai laut sedalam 3-4 km

DUMPING LIMBAH B3 (Serbuk Bor) 1. Dalam hal tidak terdapat laut yang memiliki lapisan termoklin permanen, lokasi tempat dilakukan dumping limbah B3 berupa serbuk bor dari kegiatan pertambangan di laut harus memenuhi persyaratan: a. di laut dengan kedalaman lebih dari atau sama dengan 50 m (lima puluh meter); dan b. dampaknya berada di dalam radius sama dengan atau lebih kecil dari 500 m (lima ratus meter) dari lokasi dumping di laut. 2. Dalam hal Limbah B3 berupa serbuk bor dari kegiatan pertambangan di laut akan dilakukan dumping ke lokasi memiliki kandungan Total Polyhydrocarbon (TPH) lebih dari 0% (nol perseratus) tetapi kurang dari 10% (sepuluh perseratus), setiap orang yang melakukan dumping harus mengupayakan pengurangan kandungan hidrokarbon tersebut sampai dengan: a. paling tinggi 5% (lima perseratus) pada tahun 2017; dan b. 0% (nol perseratus) pada tahun 2025. 26

KETENTUAN DUMPING SERBUK BOR Synthetic Based Mud (SBM) TAMPAK SAMPING TAMPAK ATAS R = 500 m R = 500 m BATASAN AREA TERKENA DAMPAK R = 500 m R = 500 m Lokasi dumping Kedalaman laut > 50 m 27

RENCANA LOKASI DUMPING 28

PETA BATHIMETRY (kedalaman laut/contour laut) 29

PETA DAERAH TERLARANG 30

MODELLING POLA SEBARAN TSS Pola sebaran TSS (Serbuk Bor) pada kedalaman 10 meter Pola sebaran TSS (Serbuk Bor) pada kedalaman 20 meter 31

DIAGRAM ALIR PENGELOLAAN SERBUK BOR SEBELUM DUMPING 32

PERALATAN PENGELOLAAN SERBUK BOR Shale shaker Desilter Desander 33

SERBUK BOR DAN LUMPUR BOR Sebelum Sesudah Kadar TPH 12.50% Kadar TPH 3.39%, kehalusan 100-150 mesh Serbuk bor yang di dumping ke laut 34

Penimbunan LB3 Penimbusan, reinjeksi, backfill, dam tailing dll... (prinsip cradle to grave) atau sebagai alternatif akhir Dumping ke Laut (prinsip cradle to grave) Penimbunan LB3 alternatif utama 3R (Reuse- Recycle-Recovery (prinsip cradle to cradle) menggunakan teknologi basis pemanfaatan Dumping prinsip cradle to cradle misalnya dimanfaatkan pada industry batako dan readymix-- salah satu produk readymix adalah Tripod atau Tetrapod sebagai breakwater atau bahan pemecah gelombang laut (penahan abrasi air laut) 35

TERIMA KASIH 36