Korupsi Struktural; Analisis Database Korupsi Versi 4 ( )

dokumen-dokumen yang mirip
Pengembangan Penelitian dan Kegiatan Anti Korupsi di Non-Fakultas Hukum; Studi Kasus FEB-UGM

Mengapa Rakyat (DIPAKSA) Menyubsidi Koruptor?

PENERAPAN ANTIKORUPSI PADA DUNIA BISNIS PERAN KADIN DALAM MEWUJUDKAN PENGUSAHA BERINTEGRITAS

Ketika Hukuman Tak Memberi Efek Jera

KOORDINASI DAN SUPERVISI PENCEGAHAN KORUPSI DALAM SEKTOR PELAYANAN PUBLIK

Bagaimana kondisi negara dan masyarakat Indonesia sekarang?

TREN PENANGANAN KASUS KORUPSI SEMESTER I 2017

Trend Pemberantasan Korupsi 2013

Bagaimana Cara Memberantas Korupsi?

High Level Commitment and Dialogue Penerapan Antikorupsi Pada Dunia Bisnis. Agus Rahardjo. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

PENINGKATAN KAPASITAS PENGENDALIAN INTERN DAN UPAYA PENCEGAHAN KORUPSI GUNTUR KUSMEIYANO DIREKTORAT DIKYANMAS DEPUTI BIDANG PENCEGAHAN KPK

PERAN SERTA MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. Kecurangan pada pemerintahan, baik pusat dan daerah sudah kerap kali

TANGGAPAN TERHADAP GLOBAL CORRUPTION BAROMETER. Jakarta, 9 Juli 2013

BAB 1V ANALISIS PEMBERATAN HUKUMAN YANG DILAKUKAN ARTIDJO ALKOSTAR DALAM MEMUTUS SUATU PERKARA KORUPSI

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Tantangan Pelayanan Publik di Bidang Pertanahan

Kapita Selekta: Multidoor Approach & Corporate Criminal Liability dalam Kasus Pidana Perikanan

MATERI KPK. Indonesia Kita. Pemberantasan Korupsi. Gratifikasi

TURBULENSI DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI PENGADAAN BARANG DAN JASA. Nisa Yulianingsih 1, R.B. Sularto 2. Abstrak

UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh Putri Maha Dewi, S.H., M.H

BAB I PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi yang diikuti dengan Tindak pidana pencucian uang

BAB I PENDAHULUAN. reformasi berjalan lebih dari satu dasawarsa cita- cita pemberantasan

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN PEMBUKTIAN TERBALIK Disusun Oleh Riono Budisantoso (PPATK) dan Yunus Husein (Mantan Ka PPATK)

KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH

1. Beberapa rumusan pidana denda lebih rendah daripada UU Tipikor

BAB I PENDAHULUAN. juga sudah diakui pula sebagai masalah internasional. Tindak pidana korupsi telah

1 Merugikan keuangan negara; 2 Suap menyuap (istilah lain: sogokan atau pelicin); 3 Penggelapan dalam jabatan; 4 Pemerasan; 5 Perbuatan curang;

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR - UMB DADAN ANUGRAH S.SOS, MSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan masyarakat adil,

2 tersebut dilihat dengan adanya Peraturan Mahkamah agung terkait penentuan pidana penjara sebagai pengganti uang pengganti yang tidak dibayarkan terp

Komisi Pemberantasan Korupsi. Peranan KPK Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

STUDI KASUS KORUPSI DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan

Pemberantasan Korupsi : Antara Asset Recovery dan Kurungan Bd Badan. Adnan Topan Husodo Wakil Koordinator ICW Hotel Santika, 30 November 2010

BAB I PENDAHULUAN. salah satu contoh kecurangan tersebut adalah tindakan perbuatan korupsi yang

BAB I PENDAHULUAN. sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini, karena korupsi merupakan sebuah

Korupsi dan Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Penanggulangannya. Oleh : Dewi Asri Yustia. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. penerapannya dilakukan secara kumulatif.

PERAN KADIN DALAM PENGEMBANGAN PROFESI ANTI KORUPSI

STRATEGI ASSET TRACING

BAB III PENUTUP KESIMPULAN. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana

NO. PERTANYAAN JAWABAN

INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) JAWA BARAT TAHUN 2015

Pro dan Kontra Operasi Undercover dan Penjebakan dalam mengungkap Tindak Pidana Korupsi. Oleh : Sujanarko, capim KPK.

Laporan Penelitian Implementasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 dalam Penanggulangan Pembalakan Liar

KENDALA IMPLEMENTASI UNCAC DALAM LEGISLASI DI INDONESIA CATATAN ATAS KRIMINALISASI PENYUAPAN DI SEKTOR PRIVAT

Pertama-tama, perkenanlah saya menyampaikan permohonan maaf dari Menteri Luar Negeri yang berhalangan hadir pada pertemuan ini.

BAB I PENDAHULUAN. melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

PERWAKILAN JAKARTA RAYA. Oleh Hasidin Samada Asisten Ombudsman RI

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan merupakan fenomena umum yang terjadi pada banyak

PENANGANAN KEJAHATAN ALIRAN DANA PERBANKAN, KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG. Oleh : Yenti Garnasih

BAB I PENDAHULUAN. Jenis fraud (kecurangan) yang terjadi di setiap negara ada kemungkinan

LEMBAGA PEMBERANTASAN SURVEI OPINI PUBLIK NASIONAL

1.4. Modul Mengenai Pengaturan Pemberantasan Pencucian Uang Di Indonesia

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

I. PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena

Korupsi di parlemen bentuknya banyak mulai dari budgeting hingga legislasi itu sendiri.

SNI ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan BADAN STANDARDISASI NASIONAL

Studi atas Unsur Merugikan Keuangan Negara dalam Delik Tindak Pidana Korupsi

Matriks Perbandingan KUHAP-RUU KUHAP-UU TPK-UU KPK

PENGEMBALIAN ASET HASIL TINDAK PIDANA (Asset Recovery) LIABILITY

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

Sudah Bayar, Terdakwa Korupsi Minta Bebas

BAB I PENDAHULUAN. pidana korupsi yang dikategorikan sebagai kejahatan extra ordinary crime.

Mengejar Aset Tipibank KBP. AGUNG SETYA

BAB III METODE PENELITIAN sampai dengan Desember peneliti untuk melakukan pengumpulan data.

Pendidikan Anti-Korupsi Untuk Perguruan Tinggi

LATAR BELAKANG MODERASI PERTUMBUHAN EKONOMI GLOBAL

BAB I PENDAHULUAN. masalah infrastruktur yang belum merata dan kurang memadai. Kedua, distribusi yang

BAB I PENDAHULUAN. membawa pengaruh yang besar dalam setiap tindakan manusia. Persaingan di dalam

Transkripsi:

Korupsi Struktural; Analisis Database Korupsi Versi 4 (2001-2015) Rimawan Pradiptyo Timotius Hendrik Partohap Pramashavira Laboratorium Ilmu Ekonomi, Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada 5 April 2016

Pendahuluan Korupsi Narkoba Perpajakan Illegal Logging Database korupsi adalah salah satu dari beberapa database kejahatan yang disusun oleh Laboratorium Ilmu Ekonomi, FEB, UGM. Database didasarkan pada putusan MA yang dapat diakses publik di putusan.mahkamahagung.go.id Database-database ini selalu diupdate dari waktu ke waktu terutama untuk keperluan penelitian, meski dapat pula digunakan sebagai masukan kebijakan. 2

Perkembangan Database Korupsi 549 kasus 831 terdakwa V1 2001-2009 V2 2001-2012 1289 kasus 1831 terdakwa 1518 Kasus 2142 Terdakwa V3 2001-2013 V4 2001-2015 2321 3109 Terdakwa 3

Sumber Data MA In Krach hanya di level MA atau PK KPK In Krach di level MA dan PK In Krach di level Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Yuyuk Andriati dan Pak Budi Prasetyo dari Humas KPK yang membantu peneliti mendapatkan akses putusan pengadilan kasus-kasus yang ditangani KPK baik di tingkat MA, PT maupun PN Data putusan MA kami akses dari situs 4 putusan.mahkamahagung.go.id

Karakteristik Update Data Update data putusan pengadilan cenderung tidak linear: Update di tahun 2015 seringkali berisi peningkatan putusanputusan untuk tahun-tahun sebelumnya Pola ini berbeda dengan perilaku data ekonomi pada umumnya. Konsekuensi: diperlukan sumberdaya yang lebih tinggi untuk melakukan update data putusan pengadilan dibandingkan update data ekonomi Hasil update data ditampilkan di Peta Korupsi di situs CegahKorupsi.feb.ugm.ac.id. 5

Distribusi Kasus Korupsi Distribusi Terdakwa & Terpidana 395 398 372 372 409 381 Gurem (<Rp 10 juta) 185 178 194 254 186 326 301 254 219 299 288 Kecil (Rp10 juta - Rp99.9 juta) Sedang (Rp100 juta - Rp999.9 juta) 61 9 17 36 26 34 7 12 121 140 102 48 Besar (Rp1 miliar - Rp24.9 miliar) Kakap (Rp25 miliar atau lebih) Terdakwa Terpidana 6

Distribusi Terdakwa dan Koruptor Menurut Gender TERDAKWA GENDER TERDAKWA Tidak Bersalah, 546, 18% 202, 8% Bersalah, 2563, 82% Tidak Bersalah Bersalah Laki-Laki Perempuan 2361, 92%

Distribusi Wilayah Terpidana MALUKU DAN PAPUA BALI & NT SULAWESI KALIMANTAN SUMATERA JAWA LAIN Wilayah Terpidana 111 136 360 225 578 735 Keberadaan terpidana korupsi masih didominasi di Jawa dan Sumatera Terdapat hubungan yang erat antara pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi dengan jumlah terpidana korupsi. Nilai total korupsi masih didominasi oleh Jabodetabek dan Sumatera yaitu Rp121,3 T (harga berlaku), 94,08% dari total korupsi, atau senilai Rp195,14 T di tahun 2015 JABODETABEK 424 0 100 200 300 400 500 600 700 800 8

Kerugian Negara Menurut Wilayah Kerugian Negara Wilayah Harga Berlaku Harga Konstan (Rp Miliar) Proporsi (Rp Miliar) Proporsi Jabodetabek 88,207.4 68.39% 129,258.0 63.03% Jawa Lain 4,012.1 3.11% 5,110.5 2.49% Sumatera 33,137.0 25.69% 65,881.4 32.12% Kalimantan 1,640.8 1.27% 2,562.5 1.25% Sulawesi 1,580.2 1.23% 1,779.6 0.87% Bali & NT 123.5 0.10% 147.1 0.07% Maluku dan Papua 275.2 0.21% 341.8 0.17% Total 128,976.1 100.00% 205,080.8 100.00% 9

1115 Distribusi Pekerjaan Terpidana Pekerjaan Terpidana 149 62 PNS BUMN/D LEMBAGA INDEPENDENT 559 POLITISI 670 SWASTA/LAIN- LAIN Korupsi oleh politisi (legislator dan kepala daerah) dan swasta (1420 terpidana) ternyata mengalahkan jumlah pelaku korupsi PNS (1115 terpidana) Total nilai korupsi oleh politisi dan swasta mencapai Rp 50,1 T (harga berlaku) atau 39,09% (setara dengan Rp86,4 T dengan harga tahun 2015) Perlu reorientasi strategi penanggulangan korupsi untuk fokus ke korupsi oleh politisi dan swasta 10

Kerugian Negara Menurut Pekerjaan (lanjutan) Jenis Pekerjaan Perpidan a Korupsi % Kerugian Negara (harga berlaku) % Kerugian Negara (harga konstan 2015) % PNS 1115 43.71% 21.3 16.59% 26.9 13.22% BUMN/D 149 5.84% 4.5 3.48% 8.7 4.27% Lembaga Independen 62 2.43% 52.4 40.84% 81.8 40.14% Legislatif 480 18.82% 1.6 1.27% 2.0 0.97% Kepala Daerah 75 2.94% 1.4 1.08% 1.8 0.88% Swasta/Lainnya 670 26.26% 47.1 36.74% 82.6 40.53% Total 2551 100.00% 128.2 100.00% 203.9 100.00% 11

Jenis Korupsi yang Ditangani KPK (KPK, 2015) 250 200 224 Pengadaan Barang/Jasa Perijinan 150 100 142 10% 3%1% 4% 30% Penyuapan Pungutan 50 0 19 20 44 14 5 48% 4% Penyalahgunaan Anggaran TPPU Merintangi Proses KPK

Pelaku Korupsi yang Ditangani KPK (KPK, 2015) 180 167 160 140 120 100 123 128 10% Politisi Kepala Lembaga/Kementerian Duta Besar 80 60 53 25% 32% Komisioner 40 20 0 23 4 7 13 3% 24% 4% 1% 1% Eselon I / II / III Hakim Swasta Lainnya

Kerugian Negara Menurut Pekerjaan Proporsi Kerugian Negara Distribusi Pekerjaan Terpidana Korupsi 17% 37% 1% 1% 41% 3% PNS BUMN/D Lembaga Independen Legislatif Kepala Daerah Swasta/Lainnya 3% 26% 19% 2%6% 44% PNS BUMN/D Lembaga Independen Legislatif Kepala Daerah Swasta/Lainnya 14

Apakah Hukuman Menjerakan? Total Kerugian Negara vs Hukuman Finansial (Triliun) 203.9 Hukuman finansial adalah gabungan nilai hukuman Denda, Hukuman Pengganti dan Perampasan Barang Bukti (aset) Aset non moneter tidak dimasukkan karena tidak ada nilai taksiran dari aset tersebut di putusan pengadilan 128.2 KERUGIAN NEGARA 29.7 65.5 TUNTUTAN HUKUMAN FINANSIAL Harga Berlaku Harga Konstan (2015) 13.6 21.3 HUKUMAN FINANSIAL (PUTUSAN PENGADILAN) Penggunaan harga konstan (2015) adalah upaya untuk penyetaraan nilai korupsi dan hukuman finansial dalam konteks kekinian. Hal ini perlu dilakukan mengingat inflasi di Indonesia cenderung tinggi 15

Rata-rata dan Median Hukuman Finansial Rata-rata (Miliar) Median (Juta) 40.6 446.5 240.9 200.0 11.9 150.0 4.5 5.3 KERUGIAN NEGARA TUNTUTAN HUKUMAN FINANSIAL HUKUMAN FINANSIAL (PN) HUKUMAN FINANSIAL (INKRACH) KERUGIAN NEGARA TUNTUTAN HUKUMAN FINANSIAL HUKUMAN FINANSIAL (PN) HUKUMAN 16 FINANSIAL (INKRACH)

Hukuman Finansial Menurut Pekerjaan Kerugian Negara (A) (Rp Miliar) Tuntutan Jaksa (B) (Rp Miliar) % (B/A) Putusan Pengadilan (C) (Rp Miliar) % (C/A) PNS 21,271 1,044 4.9% 844 4.0% BUMN/D 4,462 2,435 54.6% 2,109 47.3% Lembaga Independen 52,368 17,052 32.6% 302 0.6% Legislatif 1,634 537 32.8% 402 24.6% Kepala Daerah 1,391 881 63.3% 770 55.3% Swasta/Lainnya 47,110 7,786 16.5% 9,126 19.4% 17

Hukuman Finansial Menurut Pekerjaan (lanjutan) Secara umum hukuman finansial kepada para terpidana korupsi cenderung suboptimal (lebih rendah dari kerugian negara yang diakibatkan) Hukuman finansial kepada para kepala daerah cenderung lebih proporsional terhadap nilai kerugian negara, dibandingkan pekerjaan lain Hukuman finansial kepada para legislator dan swasta cenderung lebih rendah daripada kerugian negara yang diakibatkan 18

Hukuman Finansial Menurut Skala Korupsi Skala Korupsi Terpi dan a Avg. Kerugian Negara (A) Avg Tuntutan Jaksa (B) B/A (%) Avg Putusan Pengadilan (C) C/A (%) Gurem 62 119,934 2,037,049 1698.5% 4,111,515 3428.1% Kecil 512 10,198,507 21,405,450 209.9% 101,505,468 995.3% Sedang 1062 154,962,172 170,303,109 109.9% 664,341,936 428.7% Besar 779 1,417,735,018 699,716,427 49.4% 516,807,423 36.5% Kakap 148 48,453,559,408 10,710,261,681 22.1% 4,021,250,522 8.3% 19

Hukuman Finansial Menurut Skala Korupsi (lanjutan) Hukuman finansial kepada terpidana korupsi cenderung tajam ke bawah tapi tumpul ke atas Koruptor kelas gurem (nilai korupsi < Rp10 juta) dihukum rata-rata 3.428% lebih tinggi dari kerugian negara yang diciptakan Koruptor kelas kakap (nilai korupsi Rp25 M ke atas) hanya dihukum ratarata 8,3% dari nilai kerugian negara yang diciptakan Perlu revisi UU Tipikor agar hukuman yang diberikan kepada para terpidana korupsi menjadi proporsional dengan biaya sosial korupsi yang ditimbulkannya. Pertanyaan: mengapa DPR sibuk mengajukan RUU Revisi KPK tapi tidak mengajukan RUU Revisi TIPIKOR agar hukuman kepada para terpidana korupsi proporsional?? 20

Nilai Subsidi Kepada Koruptor 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Subsidi Kepada Koruptor 182.6 114.6 Harga Berlaku Harga Konstan (2015) Koruptor besar (Rp1M- Rp24,9M) dan koruptor kakap (Rp25M ke atas) cenderung disubsidi oleh rakyat Nilai hukuman finansial mereka jauh lebih rendah daripada kerugian negara yang diakibatkannya 21

Subsidi Koruptor, Beban Siapa? Nilai kerugian negara (biaya sosial eksplisit) Rp203,9 T, namun total hukuman finansial hanya Rp21,26 T (10,42%) Belum menghitung BIAYA SOSIAL KORUPSI! Lalu siapa yang menanggung kerugian sebesar Rp203,9 T Rp21,26 T = Rp182,64 Triliun tersebut? Tentu saja para pembayar pajak yang budiman: Ibu-ibu pembeli susu formula untuk bayi mereka Mahasiswa dan pelajar yang membeli buku teks mereka Orang sakit yang membeli obat-obatan di apotek dan toko obat Generasi di masa datang yang mungkin saat ini belum lahir Sepertinya hanya di Indonesia para koruptor disubsidi oleh rakyat dan generasi muda di masa datang! 22

Potensi Re-Alokasi Subsidi Koruptor Kesehatan Seluruh Masyarakat Indonesia Gratis Biaya BPJS hingga Rp 60.000/bulan Pembangunan 600 Rumah Sakit Standard Internasional Pendidikan Meluluskan 182.000 Magister Luar Negeri atau 45.500 Doktor Luar Negeri Meluluskan 546.000 Sarjana dengan standard PTN Top Indonesia Infrastruktur Pembangunan Jalan Tol Sepanjang lebih dari 10.000 km Pembangunan MRT sepanjang 202 km. Olahraga Pembangunan 182 Stadion Sepakbola Standard Internasional Membiayai 20 orang Rio Haryanto selama 40 tahun 23

Estimasi Biaya Sosial Korupsi (KPK, 2012) SUMBER DAYA ALAM (0.18%) Biaya sosial = Rp 923 milyar Hukuman finansial = Rp 2 milyar PERDAGANGAN (2.09%) Biaya sosial = Rp 218 milyar Hukuman finansial = Rp 5 milyar INFRASTRUKTUR (26.59%) Biaya sosial = Rp 9.6 milyar Hukuman finansial = Rp 2.5 milyar PELAYANAN PUBLIK (25.48%) Biaya sosial = Rp 75 milyar Hukuman finansial = Rp 19 milyar Subsidi kepada koruptor di atas belum sepenuhnya mencerminkan biaya sosial korupsi Nilai biaya sosial korupsi di 4 kasus ternyata jauh lebih besar daripada besarnya kerugian negara di 4 kasus tersebut (KPK, 2012) 24

Biaya Sosial Korupsi (KPK, 2012) Biaya Reaksi Korupsi 3 Biaya Implisit Korupsi 4 1 2 Biaya Eksplisit Korupsi Biaya Antisipasi Korupsi Biaya Eksplisit Korupsi Nilai uang yang dikorupsi, baik itu dinikmati sendiri maupun bukan (kerugian negara secara eksplisit) Biaya Implisit Korupsi Opportunity costs akibat korupsi, termasuk beban cicilan bunga di masa datang yang timbul akibat korupsi di masa lalu Perbedaan multiplier ekonomi antara kondisi tanpa adanya korupsi dengan kondisi jika terdapat korupsi Biaya Antisipasi Tindak Korupsi Biaya sosialisasi korupsi sebagai bahaya laten Reformasi birokrasi untuk menurunkan hasrat korupsi (memisahkan orang korupsi karena terpaksa atau karena keserakahan) Biaya Akibat Reaksi Terhadap Korupsi Biaya peradilan (jaksa, hakim, dll) Biaya penyidikan (KPK, PPATK, dll) Policing costs (biaya operasional KPK, PPATK dll) Biaya proses perampasan aset di luar dan di dalam negeri

Kerugian Negara vs Kerugian Ekonomi (KPK, 2012) Kasus di Sektor Kerugian Negara (A) Biaya Sosial Korupsi Tercatat (B) Hukuman Finansial (C ) B/A (%) C/A (%) C/B (%) Kehutanan Rp10,2 Miliar Rp 923,2 Miliar Rp 1,7 Miliar 9.040,22% 16.65% 0,18% Perdagangan Rp5,2 Miliar Rp218,2 Miliar Rp4,6 M 4.165,76% 86.94% 2,09% Kesehatan Rp26,7 Miliar Rp 75,6 Miliar Rp19,3 Miliar 283,33% 72.21% 25,48% Transportasi Rp3,9 Miliar Rp 9,7 Miliar Rp 2,6 Miliar 250,02% 66.60% 26,64%

Kerugian Negara vs Biaya Sosial Korupsi 128.2 114.6 KERUGIAN NEGARA (HARGA BERLAKU) 203.9 182.6 KERUGIAN NEGARA (HARGA KONSTAN 2015) Biaya Korupsi Subsidi Koruptor 320.5 286.5 BIAYA SOSIAL KORUPSI TERCATAT Dampak korupsi akan jauh lebih besar jika dihitung berdasarkan biaya sosial korupsi daripada kerugian negara saja Estimasi biaya sosial korupsi dilakukan dengan mengalikan kerugian negara (harga berlaku) dengan angka pengali 2,5x lipat yang diperoleh dari hasil analisis untuk kasus transportasi (minimum irreducible approach) Biaya sosial korupsi akan jauh lebih tinggi jika kasus korupsi tsb merusak lingkungan 27

Sumber State Captured Corruption Korupsi Swasta Korupsi Politisi State Captured Corruption 28

Companies Rule the Countries Politisi Korporasi Korporasi Corporate Liability Birokrat Politisi Political Responsibility State Captured Corruption Birokrasi Credible Policy 29

ISO 37001 Sistem Manajemen Anti-Suap Alat yang sangat fleksibel Dapat digunakan oleh organisasi sektor swasta, publik, dan sukarela Dapat digunakan oleh organisasi kecil, menengah, dan besar Penerapan Kebijakan Anti-Suap Kepemimpinan Manajemen Terbaik Penunjukkan Pengawas Perilaku Anti-Suap Pelatihan Perilaku Anti-Suap Assesmen Resiko Suap hingga ke pihak ketiga Pengendalian Keuangan Anti-Suap Prosedur Pelaporan dan Investigasi Potensi Suap 30