FORMULATING PROBLEM AND MAKING HYPOTHESIS SKILLS THROUGH DEVELOPMENT WORKSHEET BASED INQUIRY ON ELECTROLYTE AND NONELECTROLYTE SUBJECT MATTER

dokumen-dokumen yang mirip
MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No.2 pp May 2013

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No.2, pp , May 2015

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.3. pp , September 2015

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No. 2, pp , May 2015

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5 No. 3. pp , September 2016

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI IPA MAN SUMENEP

KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI ASAM BASA KELAS XI DI SMAN PLOSO JOMBANG

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 02, Mei 2016, 1-5 ISSN:

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERORIENTASI GUIDED DISCOVERY

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No.2 pp May 2013

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 2, pp , May 2014

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No. 2, pp , May 2015

ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR LANCAR PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT NONELEKTROLIT MENGGUNAKAN INKUIRI TERBIMBING.

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5, No. 2, pp May 2016

KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI PENGEMBANGAN LKS BERBASIS PROBLEM SOLVING PADA SUBMATERI REAKSI OKSIDASI REDUKSI

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERORIENTASI SOFT SKILLS PADA MATERI POKOK LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT KELAS X DI MAN MOJOKERTO

Hannaning dkk : Penerapan pembelajaran Berbasis Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, ISSN:

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.3, No.03. pp. 8-12, September 2014

KETERAMPILAN PROSES SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI LAJU REAKSI DI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURABAYA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI POKOK LARUTAN PENYANGGA UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA KELAS XI SMA

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya, ISBN : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya, 17 September 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI POKOK ASAM-BASA DI KELAS XI SMAN 1 BOJONEGORO

BioEdu Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi

PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA

PENERAPAN METODE PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA KELAS XI IPA SMA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA PADA MATERI LAJU REAKSI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013

UNESA Journal of Chemical Education Vol.6, No.3 pp , September 2017

MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK MENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN TENTANG KEBEBASAN BERORGANISASI

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERORIENTASI SETS PADA MATERI POKOK ZAT ADITIF MAKANAN

Widianita*, Elva Yasmi Amran**, dan R. Usman Rery*** Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau.

Abstrak. Kata kunci :Eksperimen Inkuiri, Eksperimen Verifikasi, Tingkat Keaktifan, Hasil Belajar.

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 1, pp Januari 2014

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKDP) BERBASIS GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN PRACTICAL SKILLS DAN PEMAHAMAN KONSEP IPA PESERTA DIDIK SMP

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No. 3 pp September 2013

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6 No. 1, pp January 2017


Unesa Journal of Chemistry Education Vol. 2, No. 2, pp May 2013 ISSN:

Abstrak. Kata-Kata Kunci : Inkuiri, Self-Efficacy, Laju Reaksi. Abstract

ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR ORISINIL PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT-NONELEKTROLIT MENGGUNAKAN INKUIRI TERBIMBING.

KETERAMPILAN BERPENDAPAT SISWA KELAS XI SMA MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING PADA MATERI LAJU REAKSI

Kata Kunci: metode inkuiri, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar, kegiatan ekonomi

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MATERI ASAM DAN BASA DENGAN MENGGUNAKAN INQUIRY BASED LEARNING (IBL) PADA KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI 5 MAKASSAR

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS MIND MAPPING PADA MATERI LAJU REAKSI UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN BERFIKIR KREATIF SISWA KELAS XI SMA

Ernita Vika Aulia dan Ismono Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya

Septi Lilis Suryani dan Eko Hariyono Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya. Key Words : academic skill, guided discovery, learning output, heat

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No. 3, pp September 2013

DESKRIPSI KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PONTIANAK

THE DEVELOPMENT OF THE STUDENT ACTIVITIES WORKSHEETS BASED ON CONSTRUCTIVISM ON THE SOLUBILITY AND CONSTANT SOLUBILITY PRODUCT

KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 PACET KELAS XI

PENINGKATAN SELF EFFICACY DAN BERPIKIR KRITIS MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI MATERI POKOK ASAM BASA KELAS XI SMAN 9 SURABAYA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING

Efektifitas Pembelajaran Induktif Berbasis Masalah Pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 9 Makassar

KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA SMA PADA PRAKTIKUM SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ARTIKEL PENELITIAN OLEH: SELLY MARSELA LUDOVIKA SAYAK NIM F


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PETA DI KELAS V SDN 002 BAGAN BESAR DUMAI

UNESA Journal of Chemical Education Vol 6, No.2 pp , May 2017

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA KELAS XII IPS 4 DI SMA NEGERI 1 BARABAI

PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF CHEMBOND (CHEMICAL BONDING) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATERI IKATAN KIMIA KELAS X SMA

Roma Yunita 1), Sriwulandari 2), Suwondo 3) phone :

PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

Unnes Physics Education Journal

Key Word: media, material of acid base solution.

Pendidikan Biologi, FITK, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2) MTsN II Pamulang koresponden: Abstrak

PENERAPAN STRATEGI SNOWBALLING PADA MATERI ATOM, ION, MOLEKUL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VIII SMPN 19 SURABAYA

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 03, pp , September 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2, No. 3, pp September 2013

KETERAMPILAN MEMPREDIKSI DAN MENGKOMUNIKASIKAN PADA MATERI KELARUTAN DAN Ksp MENGGUNAKAN INKUIRI TERBIMBING.

(Artikel) Oleh KHOIRUNNISA

Army Rejanti dan Prabowo Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

Jurnal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar

Unesa Journal of Chemical Education Vol. 1, No. 1, pp Mei 2012 ISSN:

BioEdu Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi

Ermei Hijjah Handayani*, Elva Yasmi Amran**, Rini***

PENGEMBANGAN LKS PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA POKOK BAHASAN LARUTAN PENYANGGA KELAS XI IPA SMA

PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES MAHASISWA PGMI MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA PEMBELAJARAN IPA MI

PENGEMBANGAN LKS BERBASIS DISCOVERY LEARNING

KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM KELAS XI SMAN 18 SURABAYA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

UNESA Journal of Chemical Education Vol.4, No.2, pp , May 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP KELAS VII

Santi Helmi et al., Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA (Fisika)...

Yunita Fitri Anggraeni 1), Kartono 2), Idam Ragil Widianto Atmojo 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jalan Slamet Riyadi 449 Surakarta

Nuriah Habibah*, Erviyenni**, Susilawati*** No.

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI KALOR TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMA

KETERAMPILAN INFERENSI PADA MATERI KELARUTAN DAN Ksp DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

Harun Nasrudin 1, Choirun Nisa 2.

Transkripsi:

KETERAMPILAN PERUMUSAN MASALAH DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS SISWA MELALUI PENGEMBANGAN LKS BERBASIS INKUIRI PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT FORMULATING PROBLEM AND MAKING HYPOTHESIS SKILLS THROUGH DEVELOPMENT WORKSHEET BASED INQUIRY ON ELECTROLYTE AND NONELECTROLYTE SUBJECT MATTER Komang Avidia Ariyani and Dian Novita Jurusan Kimia, FMIPA, UNESA e-mail: Avidiaariyani@gmail.com. Nomor HP: 081233069225 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan perumusan masalah dan pengembangan hipotesis siswa melalui pengembangan LKS berbasis inkuiri pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit yang dilakukan secara empiris. Peningkatkan Keterampilan perumusan masalah dan pengembangan hipotesis dilakukan dengan memberikan test berupa pre-test (tes yang dilakukan sebelum menggunakan LKS pengembangan) dan post-test (tes yang dilakukan setelah menggunakan LKS pengembangan). Pelaksanaan test pre-test serta post-test dilakukan kepada 12 siswa kelas XI MIA 2 SMAN 19 Surabaya untuk mengetahui peningkatan keterampilan perumusan masalah dan keteramplan pengembangan hipotesis siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar pre-test dan post-test keterampilan proses perumusan masalah dan pengembangan hipotesis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Keterampilan perumusan masalah dan keterampilan pengembangan hipotesis siswa mengalami peningkatan yang dibuktikan dengan hasil pre-test yang mencapai ketuntasan klasikal sebesar 16,67%, sedangkan hasil post-test yakni mencapai ketuntasan klasikal sebesar 83,33%. Adapun nilai rata-rata pada masing-masing komponen keterampilan proses yakni keterampilan perumusan masalah mencapai 3,22 dengan persentase 91,67% dan termasuk dalam kategori Amat baik, sedangkan keterampilan pengembangan hipotesis mencapai nilai rata-rata sebesar 2,67 dengan persentase 75% dan termasuk dalam kategori Amat baik. Kata-kata Kunci: Lembar Kerja Siswa, Inkuiri, keterampilan perumusan masalah, keterampilan pengembangan hipotesis, larutan elektrolit dan nonelektrolit. Abstract The study aim to describe the formulating problem and making hypothesis skills through development worksheet based inquiry on electrolyte and nonelectrolyte solution subject matter that had been done according to empirically feasibility. The increaasing of formulating problem and making hypotehsis skills had been done by make a test of worksheet and give pre-test (test that had been done before using developed worksheet) and post-test (test that had been done after using developed worksheet). The implementation of developed worksheet was reviewed and tested on 12 students of class XI MIA 2 SMA N 19 Surabaya, to know the increasing of formulating problem and making hypothesis skill from each student. The instrument that used were pretest and post-test process skills to formulating problem and developing hypothesisi skills. Based on the result of study can conclude that the formulating problem and making hypothesis skills of student was increased that showed by the result of pre-test can get 16,67%, its different with the result of post-test, it can get 83,33%. There re the rate value of each component in formulating problem skill get 3,22 with the percentage is 91,67%. Then for making hypothesis get the value is 2,67 with the percentage 75%. Keywords: Worksheet, Inquiry, Formulating Problem Skill, Making Hypothesis Skill, Electrolyte and Nonelectrolyte Solution. B-248

PENDAHULUAN Sistem Pendidikan Nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global. Menurut Hamalik (1994) berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk perbaikan-perbaikan peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya adalah pengubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik di Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia [1]. Berdasarkan Sanjaya (2006) salah satu penyebab masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah karena proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan siswa dalam menghafal informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari [2]. Tugas utama guru atau tenaga pendidik adalah sebagai fasilitator dengan tugas utama menyelanggarakan kegiatan belajar menagajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan. Ilmu kimia diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejalagejala alam khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat [3]. Para ilmuwan mempelajari gejala alam melalui proses dan sikap ilmiah tertentu, dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah itu ilmuwan memperoleh penemuan-penemuan yang dapat berupa fakta, teori, hukum, dan prinsip/konsep yang disebut produk kimia. Oleh sebab itu, pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai sikap, proses, dan produk. Kimia sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta, konsep dan prinsipprinsip kimia. Kimia sebagai proses/ metode penyelidikan (discovery/ inquiry) meliputi cara berpikir, sikap, dan langkahlangkah kegiatan ilmiah untuk memperoleh produk-produk kimia, Pendekatan keterampilan proses harus diterapkan karena ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa, sehingga dengan menerapkan keterampilan proses akan dapat menyiapkan siswa untuk menghadapi fakta atau masalah-masalah yang ada di lapangan [4]. Keterampilan proses dalam pembelajaran juga menekankan pada penumbuh kembangan sejumlah keterampilan tertentu agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru. Keterampilan proses dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemaham siswa terhadap suatu fakta, konsep, atau teori tersebut [3]. Inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Inkuiri lebih menekankan siswa untuk menemukan konsep melalui percobaan di laboratorium menggunakan langkah-langkah ilmiah B-249

yaitu dalam mengamati, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan, sedangkan guru adalah untuk memfasilitasi proses penyelidikan dan untuk membantu siswa memperhatikan dan bersifat reflektif tentang proses pemikiran mereka [5]. Keterampilan Perumusan Masalah adalah langkah yang akan membawa para siswa ke sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Perumuskan Masalah adalah tahap kedua setelah pengamatan, dalam keterampilan ini setelah siswa mengamati, siswa diminta untuk membuat rumusan masalah berdasarkan apa yang diamati siswa. Hal ini sama dengan tahapan inkuiri yakni Merumuskan masalah dilakukan setelah melakukan pengamatan Keterampilan Pengembangan Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji atau suatu penjelasan yang mungkin untuk satu perangkat pengamatan atau jawaban terhadap suatu pertanyaan. Hipotesis didasakan pada pengamatan seseorang dan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya), sebagai jawaban sementara maka hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis [6]. Tahapan inkuiri yang dapat diterapkan adalah Merumuskan hipotesis. LKS berbasis inkuiri untuk melatih keterampilan proses menyajikan rangkuman materi kimia secara sistematis melakukan percobaan yang disusun sesuai dengan model pembelajaran inkuiri, serta langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan keterampilan proses. Inkuiri dipilih karena didalamnya mengembangkan keterampilan proses. Siswa diajak melakukan penyelidikan melalui percobaan dengan membuat hipotesis terhadap permasalahan yang disajikan dengan menghubungkan konsep yang kemudian diterapkan secara langsung melalui penyelidikan sehingga konsep tersebut diingat dan dipahami oleh siswa tidak hanya menjadi hafalan. METODE Metode Tes Pre-test & Post-test Lembar tes berisi sejumlah soal yang berbentuk uraian yang mewakili indikator pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit yang harus dikerjakan siswa sebelum menerima proses kegiatan belajar mengajar menggunakan LKS yang telah dikembangkan dan setelah menerima proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan LKS yang telah dikembangkan sebagai media pembelajarannya pada materi pokok larutan elektrolit dan non-elektrolit. Lembar tes disusun untuk mengetahui tingkat keterampilan perumusan masalah dan pengembangan hipotesis siswa. Nilai ketuntasan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dituangkan dalam bentuk angka dan huruf, yakni pada rentang 4.00 1.00 untuk angka yang ekuivalen dengan huruf A sampai dengan D sebagaimana tertera pada tabel 1: Tabel 1 Nilai Ketuntasan Pengetahuan dan Keterampilan Rentang Angka Huruf 3,85 4,00 A 3,51 3,84 A- 3,18 3,50 B+ 2,85 3,17 B B-250

Rentang Angka Huruf 2,51 2,84 B- 2,18 2,50 C+ 1,85 2,17 C 1,51 1,84 C- 1,18 1,50 D+ 1,00 1,17 D Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014, ketuntasan klasikal tercapai apabila pada tes, 75% siswa di kelas tersebut mencapai ketuntasan individu. Perhitungan nilai siswa pada setiap tes dilakukan dengan cara berikut: Ketuntasan klasikal diperoleh dengan rumus: Ketuntasan minimal hasil belajar siswa mata pelajaran kim di SMA Negeri 19 Surabaya yaitu ditetapkan dengan skor rerata 2,67. Siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan individu apbila skor rerata yang diperolehnya adalah 2,67. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Hasil Keterampilan Proses Perumusan Masalah dan Pengembangan Hipotesis Terdapat dua keterampilan proses yang diujikan kepada siswa yakni perumusan masalah, dan pengembangan hipotesis, Berikut akan disajikan secara singkat pada Tabel 1 hasil penilaian pretest dan post-test keterampilan proses. Gambar 1 Persentase Ketuntasan Keterampilan Perumusan Masalah dan Pengembangan Hipotesis Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa hanya 2 siswa yang tuntas pada test awal atau pre-test sedangkan lainnya tidak tuntas sehingga didapatkan persentase ketuntasan klasikal adalah 16,67%. Pada hasil post-test juga menunjukkan bahwa 10 siswa tuntas dan 2 siswa yang tidak tuntas sehingga didapatkan persentase ketuntasan klasikal adalah 83,33%. Kedua siswa yang tidak tuntas adalah siswa 7 dan siswa 12 yang mendapatkan nilai 2. Apabila dilihat untuk setiap komponen keterampilan proses, maka siswa harus memperoleh skor maksimum di setiap pertanyaan komponen keterampilan proses, apabila siswa dapat menjawab setiap soal dengan benar atau hampir benar maka keterampilan proses siswa dikatakan baik. Berdasarkan Tabel 2 pada pre-test kemampuan keterampilan proses ada 10 subyek yang tidak tuntas, dan ada ada 2 subyek yang tuntas yakni siswa 1 dan siswa 5 dengan perolehan skor masingmasing siswa adalah 2,67, sedangkan pada saat post-test juga masih terdapat siswa yang tidak tuntas. Siswa yang memperoleh nilai tertinggi adalah siswa 1 dengan skor 4 sedangkan siswa yang tidak tuntas yakni B-251

siswa 7 dan siswa 12 dengan perolehan masing-masing siswa adalah 2. Pada pre-test siswa terlihat kesulitan dalam menjawab pertanyaan, bahkan lembar soal terlihat masih kosong. Mereka hanya mengisi pada soal pengamatan no 1 yaitu menjelaskan hasil pengamatan mereka tentang fenomena yang disajikan, sedangkan pada saat mengerjakan soal tentang merumuskan masalah siswa masih kesulitan bagaimana membuat rumusan masalah yang sesuai dengan fenomena. Siswa terlihat lebih mudah ketika mengerjakan soal pengembangan hipotesis karena dia mampu menyambungkan dengan materi tentang elektrolit yang sudah ia dapatkan sebelumnya, namun juga ada siswa yang terlihat kesulitan membuat hipotesis yang benar yang sesuai dengan teori mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hal ini disebabkan karena siswa belum siap untuk diberikan test, banyak siswa yang beralasan bahwa sudah lupa dengan materi larutan elektrolit dan nonelektrolit juga pada saat menerima pelajaran tersebut siswa tidak diajarkan bagaimana menerapkan keterampilan proses dengan benar bahkan ketika pelaksanaan percobaan siswa mengaku bahwa keterampilan proses yang diajarkan tidak lengkap dan tidak berurutan. Ketidaktuntasan pada post-test disebabkan oleh proses berfikir siswa tersebut yang tergolong lambat bila dibandingkan dengan siswa yang lain, menurut guru kimia yang mengajar kelas XI MIA 2 kedua siswa ini yakni siswa 7 dan siswa 12 memang termasuk siswa yang memiliki kemampuan berfikir rendah Hal ini juga didukung oleh Suyono [2015] penedekatan keterampilan proses merupakan proses atau langkah-langkah yang sering dilakukan oleh para ilmuwan dalam mengembangkan metode ilmiah. Teori tersebut dilatarbelakangi oleh teori natural-romantisme, yakni menekankan pada aktivitas siswa. [7]. Tujuan penerapan pendekatan ini adalah agar siswa sejak di pendidikan dasar sudah bisa mencari dan menemukan masalah kemudian melaksanakan langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh sebab itu, keterampilan proses perlu dilatihkan dalam jangka waktu yang lama, tidak instant. Hasil ini dikatakan wajar ketika siswa mengalami kesulitan saat pretest karena mendapatkan sedikit kesempatan dalam melakukan percobaan ilmiah. Hasil post-test yang meningkat menunjukkan bahwa siswa telah memiliki keterampilan proses yang jauh lebih baik Berdasarkan tabel 2 maka didapatkan grafik rata-rata nilai pre-test dan post-test keterampilan perumusan masalah adalah sebagai berikut: Gambar 2 Nilai rata-rata Keterampilan Perumusan Masalah Nilai keterampilan proses perumusan masalah siswa pada LKS dihitung dengan rubrik penskoran dengan rentang 0-3. Berdasarkan Gambar 2, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai pre-test siswa adalah 1,33 dan nilai rata-rata post-test B-252

siswa adalah 3,22. Adapun presentase dari nilai tersebut yaitu 91,67%, sehingga berdasarkan rubrik Riduwan tahun 2013 yang telah dibuat maka keterampilan proses perumusan masalah siswa pada LKS adalah baik sekali secara klasikal dan mengalami peningkatan. Data hasil pengembangan hipotesis berdasarkan tabel 2 didapatkan grafik rata-rata nilai pre-test dan post-test adalah sebagai berikut: Nilai keterampilan pengembangan hipotesis siswa pada LKS dihitung dengan rubrik penskoran dengan rentang 0-3. Berdasarkan Gambar 3, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai pre-test siswa adalah 1,22 dan nilai rata-rata post-test siswa adalah 2,67. Adapun presentase dari nilai tersebut yaitu 75%, sehingga berdasarkan rubrik Riduwan tahun 2013 yang telah dibuat maka keterampilan proses perumusan masalah siswa pada LKS adalah baik sekali secara klasikal dan mengalami peningkatan. Gambar 3 Nilai rata-rata Keterampilan Pengembangan Hipotesis B-253

Contoh Hasil Pengerjaan Pre-test dan Post-test Siswa a. Pre-test dan Post-test Perumusan Masalah Pre-test Perumusan Masalah Post-test Perumusan Masalah b. Pre-test dan Post-test Pengembangan Hipotesis Pre-test Pengembangan Hipotesis Post-test Pengembangan Hipotesis PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa: 1. Keterampilan perumusan masalah dan keterampilan pengembangan hipotesis siswa mengalami peningkatan yang dibuktikan dengan hasil pre-test yang mencapai ketuntasan klasikal sebesar 16,67%, sedangkan hasil post-test yakni mencapai ketuntasan klasikal sebesar 83,33%. 2. Nilai rata-rata dan Persentase ketuntasan klasikal masing-masing komponen keterampilan proses yakni keterampilan perumusan masalah mencapai nilai rata-rata 3,22 dengan persentase 91,67%, sedangkan B-254

keterampilan pengembangan hipotesis mencapai nilai rata-rata 2,67 dengan presentase sebesar 75%. Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset. Saran Saran yang dapat diberikan untuk peneliti selanjutnya adalah sebagai berikut: 1. Penelitian keterampilan proses yang dilakukan hanya 2 aspek pada penelitian-penelitian berikutnya diharapkan bisa melatihkan aspek keterampilan proses yang lain. 2. Pemberian soal tes yang lebih menarik siswa atau lebih variatif. DAFTAR PUSTAKA 1. Hamalik, Oemar. 1994. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2. Sanjaya, Wina. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 3. Darusman, Departemen Pendidikan Nasional. 2014. Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar Sekolah Menengah Atas. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan menengah umum. 4. Semiawan, Conny.dkk. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta. Rineka Cipta. 5. Arends, Richard. 2012. Learning to Teach. New York: Mc Graw Hill 6. Nur, Muhammad. 2011. Modul Keterampilan-keterampilan Proses Sains. Surabaya: UNESA Press. 7. Suyono dan Hariyanto. 2015. Implementasi Belajar dan B-255