III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik untuk mengetahui

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui

III. METODOLOGI PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola post test only

METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan. metode post test only controlled group design.

III. METODE PENELITIAN. dan diberikan tumbukan daun pada tikus putih (rattus norvegicus ) jantan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan. metode post test only controlled group design.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang

III. METODOLOGI PENELITIAN. dan pengamatannya dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi

III. METODOLOGI PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola post test only

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan Post Test Only Control Group Design yang

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap dengan pendekatan Post Test Only Control Group Design.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Post Test Only

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) dan dengan pendekatan Post Test Only Control Group

BAB III METODE PENELITIAN. perlakuan pada subjek penelitian kemudian mempelajari efek perlakuan

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian adalah eksperimen dengan metode desain paralel.

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Fakultas MIPA

III. METODE PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola post test-only

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Obstetri Ginekologi, Patologi Anatomi,

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode rancangan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode acak

BAB IV METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. test-only control group design. Menggunakan 20 ekor tikus putih yang

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang

METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode acak

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN. terkontrol dengan pola post test-only control group design. Menggunakan 25

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Forensik, Ilmu Patologi Anatomi dan Farmakologi.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan Post Test Only

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola post test only

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. laboratoris in vivo pada tikus putih wistar (Ratus Norvegicus)jantan dengan. rancangan post test only control group design.

BAB 4 METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan metode

BAB 3 METODE PENELITIAN. Semarang, Laboratorium Sentral Fakultas Kedokteran Universitas

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

BAB III METODE PENELITIAN. dengan Rancangan Acak Terkontrol (RAT). Pemeliharaan dan pemberian ekstrak cabe jawa dan zinc (Zn) pada tikus

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, yaitu untuk

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PELAKSANAAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Pengembangan

BAB III METODE PENELITIAN. Waktu dan lokasi penelitian ini adalah sebagai berikut : dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr.

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode posttest only

III. METODE PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola post test only

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni dengan

Gambar 6. Desain Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. terkontrol. Menggunakan 25 ekor tikus putih ( Rattus norvegicus) jantan

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kedokteran Forensik, Ilmu

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Ilmu Patologi Anatomi dan

MATERI DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dengan rancangan eksperimental dengan (Post Test Only

METODE PENELITIAN. Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang ilmu kedokteran forensik dan

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan eksperimental dengan randomized pre post test control

METODOLOGI PENELITIAN. Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan dari penelitian ini adalah Histologi, Patologi

BAB III METODE PENELITIAN. Desain pada penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. terkontrol dengan pola post test only control group design. Menggunakan 25

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan Fisika FMIPA Universitas

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dan menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini meliputi ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok (THT)

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan post test dan controlled group design pada hewan uji.

III. METODE PENELITIAN. jantung dilaksanakan di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan eksperimental murni, dengan rancanganpost-test control

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan post test only

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test with

BAB 4 MATERI DAN METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. pendekatan Pre test - Post Test Only Control Group Design. Perlakuan hewan coba dilakukan di animal house Fakultas Kedokteran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Rancangan penelitian dalam penelitian ini menggunakan rancangan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODA PENELITIAN. designs) dengan rancangan randomized post-test control group design, 56 yang

BAB III METODE PENELITIAN. laboratorium yang dilakukan dengan hewan uji secara in vivo. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. laboratoris murni yang dilakukan pada hewan uji secara in vivo. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hewan Uji dan

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) Penelitian ini

III. METODE PENELITIAN. denan menggunakan hewan uji berupa tikus putih betina galur Sprague

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA. Universitas Lampung untuk pemeliharaan, pemberian perlakuan, dan

Transkripsi:

39 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik untuk mengetahui perbandingan kecepatan penyembuhan antara preparat madu bunga akasia dengan oxoferin dan oksitetrasiklin dalam perawatan luka bakar derajat II pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dewasa galur Sprague Dawley. Rancangan penelitian ini menggunakan post test only controlled group design. B. Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini berjumlah 6 ekor tikus putih ( Rattus norvegicus) jantan dewasa galur Sprague Dawley berumur 3-4 bulan yang dipilih secara random. Pemilihan sampel digunakan dengan cara simple random sampling, pada uji eksperimental ini, variabel yang di uji adalah numerik berpasangan sehingga perhitungan sampel dihitung dengan rumus (Dahlan, 2009):

40 Dengan nilai α = 5 % (zα = 1,96), β = 20 % (zβ = 0,84), simpangan baku = S dan selisih rerata skor histopatolpgi yang dianggap bermakna sebagai ( ). S = 1,5 Maka jumlah minimal sampel adalah 18 ekor tikus. Jadi tiap perlakuan dibutuhkan minimal 5 sampel ( 5) untuk masing-masing perlakuan dan jumlah perlakuan sebanyak 4 kali, sehingga total sampel minimal yang dibutuhkan adalah sebanyak 20 sampel yang didapatkan pada 5 ekor tikus putih dari populasi yang ada. Adapun perlakuan yang diberikan pada masing-masing tikus adalah: 1). Sampel kontrol yaitu bagian tubuh tikus yang diberi luka bakar derajat II dengan diameter 2 cm yang akan dibiarkan sembuh secara normal tanpa pemberian zat aktif,

41 2). Sampel perlakuan dengan madu yaitu bagian tubuh tikus yang diberi luka bakar derajat II dengan diameter 2 cm, selama proses penyembuhan akan diberikan preparat madu bunga akasia dengan nama dagang Madu bunga akasia yang dipasarkan oleh Kedai Pramukua Kwarda Lampung dengan izin DEPKES RI. SP. No. : 074/08.01/92 diberikan secara topikal 2-3 kali sehari dan ditutup dengan kassa steril, 3). Sampel perlakuan dengan obat oxoferin, yaitu bagian tubuh tikus yang diberi luka bakar derajat II dengan diameter 2 cm, selama proses penyembuhan luka diberikan obat oxoferine yang diproduksi oleh perusahaan Pharos secara dressing 2-3 kali sehari dan ditutup dengan kassa steril, 4). Sampel perlakuan obat oksitetrasiklin yaitu bagian tubuh tikus yang diberi luka bakar derajat II dengan diameter 2 cm, selama proses penyembuhan luka diberikan obat oksitetrasiklin secara dressing 2-3 kali sehari dan ditutup dengan kassa steril. Tabel 3. Jenis perlakuan penelitian dan dosis yang diberikan pada setiap perlakuan. Hewan Percobaan Jenis Perlakuan Dosis Tikus dengan Luka bakar Kontrol (tanpa pemberian zat - derajat II Tikus dengan Luka bakar aktif) Madu Bunga akasia 100% derajat II Tikus dengan Luka bakar derajat II Tikus dengan Luka bakar derajat II Oxoferin Oksitetrasiklin 3% 5-10 ml 2 x sehari 3 x sehari

42 C. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan pada bulan oktober-november 2012. Tempat penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu selama adaptasi sampai perlakuan pada hewan percobaan dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, sedangkan pembuatan preparat dan pengamatannya dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Inklusi : 1. Sehat (tidak tampak penampakan rambut kusam, rontok, dan aktif). 2. Memiliki berat badan sekitar 150-250 gram. 3. Berjenis kelamin jantan. 4. Berusia sekitar 3-4 bulan. Ekslusi : 1. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di laboratorium. 2. Sakit selama masa pemberian perlakuan (penampakan rambut kusam, rontok dan aktivitas kurang atau tidak aktif, keluarnya eksudat yang tidak normal dari mata, mulut, anus, genital).

43 E. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan yaitu: madu murni bunga akasia, larutan oxoferin, salep oksitetrasiklin, plaster, kassa steril, aquadest, alkohol, obat anestesi lidokain, tikus putih (Rattus norwegicus) jantan dewasa galur Sprague dawley, pakan dan minum tikus, larutan formalin 10% untuk fiksasi preparat histopatologis, alkohol, etanol, xylol, pewarna Hematoksilin dan Eosin, entelan dan kamera digital untuk dokumentasi. 2. Alat penelitian Alat yang digunakan adalah solder listrik ( electro cauter) yang ujungnya dimodifikasi dengan logam aluminium berdiameter 2cm, jas lab, kipas angin, gunting plester, pinset anatomis, spuit dan jarum, kassa steril, arloji, kandang serta botol minum tikus, mikroskop cahaya, object glas, cover glass, deck glass, tissue cassette, rotary microtome, oven, water bath, platening table, autotechnicom processor, neraca analitik Metler Toledo dengan tingkat ketelitian 0,01g untuk menimbang berat mencit,, pisau cukur dan gagangnya, gunting untuk mencukur rambut/bulu tikus, penggaris, sarung tangan steril, bengkok, kom, staining jar, staining rak, kertas saring, histoplast, dan parafin dispenser. F. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas (Independent variable) Pemberian zat aktif pada tikus putih ( Rattus norwegicus) jantan dewasa yaitu :

44 a. madu bunga akasia, b. larutan oxoferin, c. salep oksitetrasiklin,. 2. Variabel Terikat (Dependent variable) Penilaian kecepatan kesembuhan kulit tikus dengan luka bakar derajat II yaitu : a. Gambaran histopatologi kulit tikus b. Gambaran klinis kulit tikus G. Definisi Operasional Tabel 4. Definisi Operasional Variabel Definisi Skala Madu bunga akasia Madu murni yang diperoleh dari petani lebah yang berasal dari sari bunga kopi dan dipasarkan oleh Kategorik Kedai Pramuka Kwarda Lampung dengan izin DEPKES RI. SP. No. : 074/08.01/92. Oxoferin Obat Oxoferine dengan zat aktif Tetrachlorodecaoxide yang diproduksi oleh Darya- Varia Laboratoria, Gunung Putri, Bogor-Indonesia yang masih tersegel dan tertutup dengan baik Kategorik Oksitetrasiklin Obat Oksitetrasiklin dengan zat aktif senyawaa turunan tetrasiklin yang diproduksi oleh Indofarma, Bekasi-Indonesia yang masih tersegel dan tertutup dengan baik Kategorik Luka Bakar Derajat II Gambaran histopatologi kulit tikus Luka bakar yang mencapai dermis, tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung, atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas dindingnya meninggi Sediaan histopatologi dilihat pada pembesaran 40x pada lapangan pandang acak disetiap spesimen menggunakan hasil pemeriksaan patologi anatomi dari biopsi insisi luka yang mencakup terdapatnya sel radang, tingkat pembentukan kolagen, tingkat pembentukan epitelisasi dan jumlah pembentukan pembuluh darah baru. Ordinal Numerik

45 H. Prosedur Penelitian 1. Persiapan Tikus putih (Rattus norwegicus) jantan dewasa galur Sprague sawley yang digunakan dalam penilitian ini diperoleh dari Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Sebelum dilakukan perlakuan kepada semua tikus laboratorium, 6 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Spargue dawley dilakukan adaptasi di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan diberi pakan standar secukupnya selama 7 hari. Sesudah masa adaptasi, tikus dipisahkan menjadi satu kandang berisi satu ekor tikus. 2. Pembuatan Luka Bakar derajat II Cara pembuatan luka bakar derajat II (Handian, 2006): a. Tentukan terlebih dahulu daerah yang akan dibuat luka bakar sebanyak empat daerah pada bagian tubuh tikus b. Cukur bulu sesuai dengan luas area luka bakar, yaitu pada daerah punggung kanan bagian atas, punggung kanan bagian bawah, punggung kiri bagian atas dan punggung kiri bagian bawah c. Pasang perlak dan alasnya di bawah tikus d. Cuci tangan e. Pakai sarung tangan f. Lakukan anestesi pada area kulit yang akan dibuat luka bakar dengan dosis 0,2 cc lidokain dalam 2 cc aquades

46 g. Panaskan solder listrik (electro cauter) yang ujungnya dimodifikasi dengan logam aluminium berdiameter 2 cm yang telah disiapkan selama 30 menit. h. Tempelkan solder listrik (electro cauter) pada kulit tikus selama 2 detik. 3. Prosedur penanganan Luka Bakar Derajat II Penangan luka bakar derajat II dilakukan 2-3 kali perhari (Dewi, 2008), sebelum diberikan preparat madu nektar akasia pada luka atau pemberian preparat oxoferin dan oksitetrasiklin, luka dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan air aquadest. Berikut prosedur penanganan luka bakar yang dilakukan pada tikus percobaan: a. Cuci tangan. b. Tempatkan perlak yang dilapisi kain di bawah luka yang akan dirawat. c. Pakai sarung tangan steril. d. Siapkan kasa. e. Atur posisi tikus untuk mempermudah tindakan. f. Olesi bagian luka dengan kasa yang telah dibasahi dengan Madu nektar akasia setebal 2 mm hingga menutup seluruh permukaan luka untuk kelompok perlakuan Madu nektar akasia. g. Tetesi bagian luka yang telah terinfeksi dengan menggunakan larutan Oxoferin 5-10 ml 2-3 kali sehari untuk kelompok perlakuan setebal 2 mm hingga menutup seluruh permukaan luka untuk kelompok perlakuan Oxoferin.

47 h. Olesi bagian luka yang telah terinfeksi dengan menggunakan salep Oksitetrasiklin 3% 2-3 sehari untuk kelompok perlakuan setebal 2 mm hingga menutup seluruh permukaan luka untuk kelompok perlakuan Oksitetrasiklin. i. Tutup luka dengan kasa steril. j. Untuk kelompok kontrol tanpa balutan dan tidak diberikan perlakuan apapun. 4. Prosedur operasional pembuatan slide Pembuatan preparat histopatologi dilakukan di Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. a. Prosedur pembuatan slide : 1) Organ yang telah dipotong secara melintang difiksasi menggunakan formalin 10% selama 3 jam. 2) Bilas dengan air mengalir sebanyak 3-5 kali. 3) Dehidrasi dengan : a) Alkohol 70% selama 0,5 jam b) Alkohol 96% selama 0,5 jam c) Alkohol 96% selama 0,5 jam d) Alkohol 96% selama 0,5 jam e) Alkohol absolut selama 1 jam f) Alkohol absolut selama 1 jam g) Alkohol absolut selama 1 jam h) Alkohol xylol 1:1 selama 0,5 jam

48 4) Clearing dengan menggunakan: Untuk membersihkan sisa alkohol, dilakukan clearing dengan xilol I dan II masing-masing selama 1 jam. 5) Impregnansi dengan parafin selama 1 jam dalam oven suhu 65 o C. 6) Pembuatan blok parafin: Sebelum dilakukan pemotongan blok parafin, parafin didinginkan dalam lemari es. Pemotongan menggunakan rotary microtome dengan menggunakan disposable knife. Pita parafin dimekarkan pada water bath dengan suhu 60 o C. Dilanjutkan dengan pewarnaan hematoksilin eosin. b. Prosedur pulasan HE : Setelah jaringan melekat sempurna pada slide, memilih slide yang terbaik selanjutnya secara berurutan memasukkan ke dalam zat kimia di bawah ini dengan waktu sebagai berikut. 1) Dilakukan deparafinisasi dalam : a) Larutan xylol I selama 5 menit b) Larutan xylol II selama 5 menit c) Ethanol absolut selama 1 jam 2) Hydrasi dalam: a) Alkohol 96% selama 2 menit b) Alkohol 70% selama 2 menit c) Air selama 10 menit 3) Pulasan inti dibuat dengan menggunakan : a) Haris hematoksilin selama 15 menit

49 b) Air mengalir c) Eosin selama maksimal 1 menit 4) Lanjutkan dehidrasi dengan menggunakan a) Alkohol 70% selama 2 menit b) Alkohol 96% selama 2 menit c) Alkohol absolut 2 menit 5) Penjernihan: a) Xylol I selama 2 menit b) Xylol II selama 2 menit 6) Mounting dengan entelan lalu tutup dengan deck glass.

50 Berat badan tikus ditimbang Tikus 1 Tikus 2 Tikus 3 Tikus 4 Tikus 5 Tikus 6 Diadaptasi selama 7 hari Diberi luka bakar dengan logam panas berdiameter 2 cm Diberi perawatan selama 14 hari Hari ke 1 Hitung Dibersihkan dengan dibersihkan dengan dibersihkan dengan dibersihkan dengan diameter aquades 1 x sehari aquades dan dressing aquades dan dressing aquades dan dressing hari 2,6, 8 madu bunga akasia 100% larutan Oxoferin tebal salep oksitetrasiklin 10,12,14 tebal 2mm 2 x sehari 2mm 2 x sehari tebal 2mm 2x sehari Hari ke 14 Tikus dinarkosis dengan klorofom Diambil sampel biopsi pada daerah luka bakar Sampel dikirim ke laboratorium Histologi dan Patologi Fakultas Kedoteran Unila untuk pembuatan sediaan preparat Pengamatan sediaan histopatologi dilakukan menggunakan mikroskop cahaya Interpretasi hasil Gambar 12. Diagram alur penelitian

51 I. Cara Pengumpulan Data 1. Histopatologi Penilaian mikroskopis penyembuhan luka dilihat pada pembesaran 40x pada 5 lapangan pandang acak disetiap spesimen menggunakan hasil pemeriksaan patologi anatomi dari biopsi insisi luka yang mencakup jumlah sel radang, tingkat pembentukan kolagen, tingkat pembentukan epitelisasi dan jumlah pembentukan pembuluh darah baru dengan kriteria modifikasi Nagaoka (2000). Sampel biopsi diambil satu kali dan dilakukan bersamaan pada hari ke-21 (Manjas dkk., 2010). 2. Gambaran Klinis Gambaran klinis penyembuhan luka dinilai dengan dilakukannya 2 kali pengukuran pada hari pertama dan hari terakhir penyembuhan dengan batas waktu penelitian selama 14 hari untuk melihat perbedaannya. Selama penelitian digunakan teknik observasi eksperimen dimana 3 perlakuan pada masing-masing tikus dilakukan pengamatan pada hari ke 1 dan 14 untuk melihat penyembuhan luka secara makroskopis. Diameter luka bakar rata-rata dihitung dengan cara seperti dibawah ini (Suratman dkk., 1996).

52 dx (1) dx (3) dx (3) dx (4) dx (2) Gambar 10. Diameter Luka Bakar. Luka yang terjadi diukur diameternya seperti gambar 7. Kemudian dihitung diameter rata-ratanya dengan rumus sebagai berikut: Keterangan : = Diameter luka hari ke x Untuk mengukur persentase kesembuhan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan : = Persentase penyembuhan hari ke = diameter luka hari pertama = diameter luka hari ke

53 Tabel 5. Tabel penilaian mikroskopis. Parameter dan Deskripsi Jumlah sel polimorfonukleat per lapangan pandang Terdapat 1-5 sel polimorfonukleat per lapangan pandang Terdapat 6-10 sel polimorfonukleat per lapangan pandang Terdapat 11-15 sel polimorfonukleat per lapangan pandang Derajat pembentukan kolagen Kepadatan kolagen lebih dari jaringan normal/lapang pandang kecil mikroskop Kepadatan kolagen sama dengan jaringan normal/ lapang pandang kecil mikroskop Kepadatan kolagen kurang dari jaringan normal/lapang pandang kecil mikroskop Derajat terjadinya epitelisasi Epitelisasi normal/lapang pandang kecil mikroskop Epitelisasi sedikit/lapang pandang kecil mikroskop Tidak ada epitelisasi/lapang pandang kecil mikroskop Jumlah pembentukan pembuluh darah baru Lebih 2 pembuluh darah baru/lapang pandang kecil 3 mikroskop 1-2 pembuluh darah baru/lapang pandang kecil 2 mikroskop Tidak ada pembuluh darah baru/lapang pandang kecil 1 mikroskop Skor 3 2 1 3 2 1 3 2 1 3 2 1 J. Pengolahan dan Analisis Data Hasil penelitian lalu akan dianalisis apakah memiliki distribusi normal (p>0,05) atau tidak secara statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk karena jumlah sampel 50. Jika berdistribusi normal, akan dilanjutkan dengan metode uji parametrik repeated Analysis Of Varian (ANOVA). Apabila tidak memenuhi syarat uji parametrik, akan dilakukan transformasi. Jika pada uji ANOVA menghasilkan nilai p<0,05 maka akan dilanjutkan dengan melakukan analisis post hoc pairewise comparisson untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan. Apabila hasil transformasi tidak memenuhi syarat digunakan uji Friedman dan dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 17.0 (Dahlan, 2011).