BAB III METODOLOGI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai

ANALISIS HIDROMETER ASTM D (98)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BATAS SUSUT. Kadar air, w= 100% 89.63

KORELASI CBR DENGAN INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

UJI SARINGAN (SIEVE ANALYSIS) ASTM D-1140

BAB VII ANALISIS SARINGAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DAN SILICA FUME

BAB III METODOLOGI. langsung terhadap obyek yang akan diteliti, pengumpulan data yang dilakukan meliputi. Teweh Puruk Cahu sepanajang 100 km.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2. Kekuatan Geser Tanah ( Shear Strength of Soil ), parameternya dapat diperoleh dari pengujian : a. Geser Langsung ( Direct Shear Test ) b.

KORELASI ANTARA HASIL UJI KOMPAKSI MODIFIED PROCTOR TERHADAP NILAI UJI PADA ALAT DYNAMIC CONE PENETROMETER

ANALISA PENGGUNAAN TANAH KERIKIL TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG TANAH UNTUK LAPISAN KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN RAYA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PERSENTASE KADAR BATU PECAH TERHADAP NILAI CBR SUATU TANAH PASIR (Studi Laboratorium)

BAB III METODOLOGI. terhadap obyek yang akan diteliti, pengumpulan data yang dilakukan meliputi:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

L 01 UJI KLASIFIKASI

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diuji menggunakan material tanah lempung yang disubtitusi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

DAFTAR ISI. Agus Saputra,2014 PENGARUH ABU SEKAM PADI TERHADAP KARAKTERISTIK TANAH LUNAK


BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

STUDI LABORATORIUM DALAM MENENTUKAN BATAS PLASTIS DENGAN METODE FALL CONE PADA TANAH BUTIR HALUS DI WILAYAH BANDUNG UTARA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian sifat fisik tanah adalah sebagai pertimbangan untuk merencanakan dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. (undisturb) dan sampel tanah terganggu (disturb), untuk sampel tanah tidak

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan diuji adalah jenis tanah lempung/tanah liat dari YosoMulyo,

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah lanau

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

III. METODE PENELITIAN. yang berasal dari daerah Karang Anyar, Lampung Selatan yang berada pada

METODE PENELITIAN. Tanah yang akan diuji adalah jenis tanah lanau yang diambil dari Desa

III. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel tanah lempung lunak ini berada di Rawa Seragi,

KATA PENGANTAR. Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas

PENGARUH LAMA PERENDAMAN TERHADAP NILAI CBR SUATU TANAH LEMPUNG UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA LOKASI GEDUNG GRHA WIDYA (Studi Laboratorium).

III. METODE PENELITIAN. Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung Rawa Sragi,

METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan merupakan tanah lempung lunak yang. diambil dari Desa Yosomulyo, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro.

4. ANALISA UJI LABORATORIUM

METODE PENELITIAN. 3. Zat additif yaitu berupa larutan ISS 2500 (ionic soil stabilizer).

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah lanau

III. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel tanah lempung berpasir ini berada di desa

DAFTAR ISI... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... HALAMAN UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... ABSTRACT...

III. METODOLOGI PENELITIAN. Sampel tanah yang akan diuji adalah jenis tanah lempung (soft clay) yang

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa tanah

PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR. Cut Nuri Badariah, Nasrul, Yudha Hanova

METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung yang berasal dari. daerah Karang Anyar, Lampung Selatan.

METODE PENELITIAN. Lampung yang telah sesuai dengan standarisasi American Society for Testing

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan diuji adalah jenis tanah berbutir halus dari Yoso Mulyo,

3 METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENGUJIAN HUBUNGAN ANTARA KADAR AIR DAN KEPADATAN PADA CAMPURAN TANAH SEMEN

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan di gunakan untuk penguujian adalah jenis tanah lempung

DAFTAR ISI. TUGAS AKHIR... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PENGESAHAN PENDADARAN... iii. PERNYATAAN... iv. PERSEMBAHAN... v. MOTTO...

PENGARUH KAPUR TERHADAP TINGKAT KEPADATAN DAN KUAT GESER TANAH EKSPANSIF

PENGARUH WAKTU PEMERAMAN TERHADAP KAPASITAS TARIK MODEL PONDASI TIANG BAJA UJUNG TERTUTUP PADA TANAH KOHESIF

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diambil meliputi tanah tidak terganggu (undistrub soil).

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diambil meliputi tanah terganggu (disturb soil) yaitu tanah

III. METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini sampel tanah yang digunakan adalah jenis tanah organik

MEKANIKA TANAH SIFAT INDEKS PROPERTIS TANAH MODUL 2. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENGUJIAN TENTANG ANALISIS SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR SNI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB VIII PEMERIKSAAN KEPADATAN STANDAR REFERENSI Braja M. Das. Principles of Geotechnical Engineering.Chapter 5 Soil Compaction.

METODE PENELITIAN. daerah Rawa Sragi, Lampung Timur. Lokasi pengujian dan pengambilan. sampel tanah dapat dilihat pada Gambar 5

III. METODE PENELITIAN. 2. Air yang berasal dari Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang akan diuji adalah jenis tanah lempung yang diambil dari

KORELASI ANTARA HASIL UJI DYNAMIC CONE PENETROMETER DENGAN NILAI CBR

III. METODE PENELITIAN. paralon sebanyak tiga buah untuk mendapatkan data-data primer. Pipa

METODE PENELITIAN. tanah yang diambil yaitu tanah terganggu (disturb soil) dan tanah tidak

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN ANALISIS

BAB III LANDASAN TEORI. saringan nomor 200. Selanjutnya, tanah diklasifikan dalam sejumlah kelompok

III. METODE PENELITIAN. Lokasi pengamatan dan pengambilan sampel tanah pada penelitian ini

BAB V HASIL PEMBAHASAN

LAMPIRAN A PROSEDUR PENGUJIAN AWAL

III. METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, pertama melakukan pengambilan sampel tanah di

KLASIFIKASI TANAH SI-2222 MEKANIKA TANAH I

METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini diantaranya : 1. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung yang berasal dari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian pada tugas akhir ini bersifat research di laboratorium

METODE PENELITIAN. Tanah yang akan di gunakan untuk penguujian adalah jenis tanah lempung

BAB V METODE PELAKSANAAN. pelaksanaan di lapangan penulis melakukan pengumpulan data berupa : pekerja) dan disertai dengan dokumentasi di lapangan,

BAB IV METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang digunakan adalah tanah lempung yang terdapat yang. 1. Lokasi : Desa Margakaya, Jati Agung, Lampung Selatan

KARAKTERISASI BAHAN TIMBUNAN TANAH PADA LOKASI RENCANA BENDUNGAN DANAU TUA, ROTE TIMOR, DAN BENDUNGAN HAEKRIT, ATAMBUA TIMOR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan sesuai, maka diperlukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III DATA PERENCANAAN

KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG YANG DITAMBAHKAN SEMEN DAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI SUBGRADE JALAN. (Studi Kasus: Desa Carangsari - Petang - Badung)

PENGARUH PENAMBAHAN ABU AMPAS TEBU DAN SERBUK GYPSUM TERHADAP KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI BOJONEGORO

METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan merupakan tanah berbutir halus yang. diambil dari Desa Yoso Mulyo, Kecamatan Metro Timur, Metro.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan secara umum adalah eksperimen di laboratorium dengan penyajian data secara deskriptif. Berdasarkan permasalahan yang diteliti, metode analisis yang digunakan adalah data laboratorium. 3.1 Alur Penelitian Mulai Penyelidikan Tanah Penentuan agregat beton Perhitungan daya dukung Tidak Uji kuat tekan beton Membuat model pondasi Ya Pemancangan model pondasi Pembacaan daya dukung awal Pengamatan dan pembacaan daya dukung secara kontinyu Analisis hasil pengamatan Selesai Gambar 3.1. Skema penelitian

40 3.2 Pengambilan Sampel Tanah Lokasi pengambilan sampel tanah terganggu maupun tidak terganggu adalah disekitar Sport Hall Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gambar 3.2. Lokasi pengambilan sampel tanah terganggu Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah terganggu (disturbed) untuk pengujian engineering properties dan pemodelan lahan untuk pengujian load test dan tanah tidak terganggu (undisturbed) untuk pengujian beberapa index properties. Sampel tanah terganggu didapatkan dengan cara menggali tanah di daerah lokasi menggunakan alat gali yang kemudian dimasukkan kedalam wadah dan dibawa ke laboratorium. Sedangkan untuk sampel tanah tak terganggu diambil dengan metode hand Auger boring.

41 Gambar 3.3. Hand Auger boring 3.3 Penyelidikan Tanah Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian peningkatan nilai daya dukung tanah terhadap waktu dengan pondasi beton. Sebelum memulai perhitungan daya dukung minimal, harus dilakukan penyelidikan tanah dilokasi penelitian. Tanah yang diambil dari tempat lokasi harus didapatkan parameter tanahnya untuk mendukung perhitungan daya dukung, dalam mencari nilai parameter tanah dilakukan pengujian parameter indeks (index properties). Dalam penelitian ini, pengujian parameter tanah dilakukan di laboratorium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil Universitas Pendidikan Indonesia, Gedung FPTK lantai 2. Prosedur pengujian dilakukan berdasarkan standar ASTM. Pengujian- pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini diantara lain adalah : 3.3.1 Uji Parameter Indeks (Index Properties) Untuk mengetahui karakteristik sampel tanah perlu dilakukan serangkaian pengujian index properties. Pengujian index properties dilakukan untuk sample tanah penelitian yang diambil dari lokasi. Rangkaian uji index properties adalah sebagai berikut :

42 a. Pengujian Kadar Air (Water Content) Metode yang digunakan dalam pengujian kadar air ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-2216-1998. Di dalam ASTM dijelaskan tujuan dari pengujian kadar air adalah untuk mendapatkan nilai kadar air yang terkandung dalam material uji. Dalam menganalisis pengujian yang sudah dilakukan, dapat dicari nilai kadar air sampel tersebut dengan cara sebagai berikut: atau Dimana : w = kadar air (%) W 1 = berat cawan W 2 = berat tanah basah + cawan W 3 = berat tanah kering + cawan W w = berat air = W 2 W 1 W S W S = berat butir = W 3 W 1 b. Pengujian Batas-Batas Atterberg Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-4318-00. Pengujian batas-batas Atterberg ini ada tiga batas yang diuji yaitu batas cair, batas plastis, dan batas susut. Namun dalam penelitian ini yang dilakukan hanya dua batas pengujian, yaitu pengujian batas cair dan batas plastis, karena dengan dua pengujian batas ini sudah cukup untuk mencari data yang dibutuhkan. Berikut prosedur pengujian batas-batas Atterberg yang digunakan: a) Batas Cair (Liquid Limit) Didalam ASTM dijelaskan bahwa tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui nilai batas cair sampel yang akan diuji. Dalam menganalisis pengujian ini dilakukan dengan cara memplotkan data data yang sudah didapatkan ke grafik (dengan

43 skala log) batas cair. Lalu tarik garis dengan 25 ketukan maka akan didapatkan nilai batas cair. Gambar 3.4. Alat Casagrande b) Batas Plastis(Plastic Limit) Didalam ASTM dijelaskan bahwa tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui nilai batas plastis, yaitu batas diantara keadaan pasltis dengan semi plastis, sampel yang akan diuji. Dalam menganalisis pengujian ini dilakukan dengan cara mencari nilai kadar air dari tiga keadaan yang sudah ditentukan, rata-rata dari nilai kadar air tersebut adalah nilai batas plastis sampel tersebut. c. Pengujian Berat Jenis (Spesific Gravity) Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-854-02 Erlenmeyer. Pengujian berat jenis ini bertujuan untuk mencari nilai berat jenis sampel. Berat jenis tanah digunakan pada hubungan fungsional antara fase udara, air, dan butiran dalam tanah dan oleh karenanya diperlukan untuk perhitungan perhitungan parameter indeks tanah (index properties).

44 Gambar 3.5. Erlenmeyer Dalam menganalisis perhitungan data pengujian ini dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: Membuat grafik kalibrasi berat erlenmeyer + air dengan suhu dengan nilai persamaannya. Untuk nilai Gt (faktor koreksi berat jenis) dilihat dari tabel yang sudah ada. Mencari nilai berat jenis denganmenggunakan rumus berikut, Dimana : Gs = berat jenis W1 = berat erlenmeyer + laruta tanah W2 = berat erlenmeyer + air (didapat dari ploting grafik kalibrasi alat) W3 = berat tanah kering Gt = faktor koreksi berat jenis air Berat jenis yang digunakan adalah nilai berat jenis yang sudah dirata-ratakan dari 5 hasil berat jenis yang dihasilkan dari pengujian ini.

45 d. Pengujian Sieve Analysis (Uji Saringan) Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-1140. Pengujian saringan ini bertujuan untuk mencari susunan ukuran butir tanah khusus berbutiran kasar atau tertahan saringan nomor 200. Gambar 3.6. Satu set ayakan (sieve) Dalam menganalisis pengujian ini ada beberapa urutan langkah yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut: Menjumlahkan berat tanah yang lolos saringan, dan mecari prosentasenaya. Membuat grafik gradasi butiran dari data tersebut dengan menggunakan skala log. Mencari nilai koefisien keseragaman, yaitu nilai Cc dan Cu dengan rumus berikut. Cu D D 60 10 Cc D D 10 2 30 xd 60 Catatan :

46 Berdasarkan USCS (Unified Soil Classification System), ditentukan bahwa tanah yang bergradasi baik (well graded) adalah yang memenuhi : Untuk gravel : Cu > 4 dan 1 < Cc < 3 Untuk pasir : Cu > 6 dan 1 < Cc < 3 Bila syarat di atas tidak terpenuhi, maka tanah tersebut bergradasi buruk (poor graded). e. Pengujian Hidrometer (Hydrometer Analysis) Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-442. Pengujian hidrometer ini bertujuan untuk mencari susunan ukuran butir tanah khusus berbutiran halus lolos saringan nomor 200. Gambar 3.7. Perlengkapan uji hidrometer Dalam menganalisis pengujian dapat dihitung persen halusnya, dan dengan menggunakan chart dapat dihitung ekuivalennya. Selain itu, dari hasil perhitungan dapat dibuat grain size distribution curve. Berikut cara mendapatkan nilai persen halusnya dan diameter butiran sampel:

47 Rc a % Finer 100% W s Dimana : a = faktor koreksi = 165. G 2. 65 ( G 1) s s Rc = koreksi pembacaan hidrometer = Ra - C 0 - Ct Ra = pembacaan hidrometer sebenarnya C 0 = koreksi nol (zero correction) Ct = koreksi suhu Diameter efektif (D) dapat dihitung menggunakan rumus : Dimana : D = diameter butir (mm) L = effective depth (cm) t = elapsed time (menit) = viskositas aquades (poise) G s = specific gravity of soil G w = specific gravity of water K = 30 g( G G ) s w Pembuktian rumus Stokes Gaya geseran F = 6..R. v Berat = mg = 4/3.R 3. s.g Gaya ke atas = 4/3.R 3. w.g = B Jadi untuk butiran yang jatuh dalam larutan 4/3.R 3. w.g + 6..R. v = 4/3.R 3. s.g

48 sehingga v = 2 R g s w 9 ( ) v D g 1 18 s 2 w dimana : D = diameter butir v = kecepatan terminal s = berat isi butir w = berat isi air = 1 gr/cm 3 = viskositas larutan (air s = G s. w = G s 2 1 D Gs G w g Gs G w g v g D 18 10 1800 2 D 1800 v G G g s w (mm) Bila partikel / butir berdiameter D jatuh pada ketinggian L cm dalam waktu t menit, maka : D 1800 L L 30 G G t g G G t g s w s w D K L (mm) t 3.3.2 Uji Engineering Properties Dalam mencari engineering properties sampel dilakukan beberapa pengujian, yaitu pengujian kompaksi, california bearing ratio (CBR), triaxial, konsolidasi,dll. Dalam penelitian ini hanya diambil beberapa pengujian saja, yaitu kompaksi dan triaxial. a. Pengujian Kompaksi Pengujian kompaksi dalam ASTM ada dua jenis yaitu pengujian kompaksi modifikasi (modified compaction) dan kompaksi standar

49 (standard compaction). Dalam penelitian ini pengujian kompaksi yang digunakan adalah kompaksi modifikasi. Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-1557. Pengujian kompaksi ini bertujuan untuk mencari nilai berat isi maksimum dan kadar air optimum. Dalam mencari nilai berat isi kering pada pengujian ini dapat menggunakan rumus sebagai berikut: d dimana : W = V = w = W V( 1 w) Berat total tanah kompaksi bahan dalam mold Volume mold Kadar air tanah kompaksi Setelah didapatkan beberapa nilai berat isi kering dari variasi pengujian, selanjutnya membuat grafik untuk mencari nilai berat isi kering maksimal. Grafik berat isi kering ini harus berada diantara garis zero air void curve. Garis zero air void curve ini dibuat dalam dua kondisi yaitu pada saat derajat kejenuhan sampel tanah 80% dan 100%. Untuk membuat garis zero air void curve ini dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut: Gs d 1 dimana : Gs = w = w = Sr = w wgs Sr Berat jenis tanah Berat volume air Kadar air Derajat kejenuhan b. Pengujian Triaxial UU

50 Metode yang digunakan dalam pengujian ini diambil dari standar ASTM, yaitu ASTM D-2850. Pengujian triaxial ini bertujuan untuk mencari nilai kuat geser tanah yaitu kohesi (c) dan sudut geser tanah (). Dalam pengujian triaxial UU ini akan mendapatkan nilai parameter kuat geser dan modulus Young sampel tanah. Untuk mencari nilai tersebut dapat digunakan menggunakan cara berikut ini: Mencari nilai modulus Young Nilai modulus Young dapat dicari dengan melihat grafik pengujian triaxial, yaitu grafik tegangan vs regangan (ε). Mencari nilai parameter kuat geser tanah Dalam mencari nilai parameter kuat geser tanah, yaitu nilai kohesi (c 0 ) dan nilai sudut geser tanah (), dengan menggunakan grafik lingkaran Mohr. Gambar 3.8. Alat triaksial 3.4 Penentuan Perbandingan Bahan Campuran Beton Agregat beton yang digunakan adalah berdasarkan SNI 7394 tahun 2008, agregat beton yang dubutuhkan untuk mencapai kuat beton 30 MPa adalah sebagai berikut:

51 Semen = 448 kg (1) Pasir = 664 kg (1,49) Kerikil = 1000 kg (2,23) Air = 215 L Dengan perbandingan air terhadap semen adalah 0,48. 3.5 Pengujian Kuat Tekan Beton Prosedur uji kuat tekan beton dilakukan berdasarkan SNI 03-1974-1990. Pada standar ini dijelaskan bahwa pengujian kuat beton bertujuan untuk menentukan nilai kuat tekan (compressive strength) beton dengan benda uji beton silinder yang dibuat dan dimatangkan (curring). Pada pengujian ini cetakan silinder yang digunakan adalah 10cm x 20cm. campuran beton yang sudah diaduk berdasarkan perbandingan material beton dimasukan kedalam cetakan tersebut. Setelah 24 jam dalam cetakan, campuran beton dapat dikeluarkan dari cetakan, lalu melakukan proses curring dengan merendam beton selama kurun waktu tertentu. Pada saat beton akan diuji, sampel beton dikeluarkan dulu dari perendaman 5 jam sebelum pengujian, hal ini dilakukan agar sampel beton yang akan diuji sudah kering terlebih dahulu.

52 Gambar 3.9. Cetakan silinder Gambar 3.10. Alat kuat tekan beton 3.6 Perhitungan Daya Dukung Tiang Setelah didapatkan nilai parameter tanah pada uji penyelidikan tanah, selanjutnya dapat menghitung kapasitas daya dukung pondasi tiang. Dalam peneltitan ini perhitungan kapasitas daya dukung tiang yang dihitung adalah daya dukung tiang tunggal dengan menggunakan metode Meyerhoff. 3.7 Pembuatan Model Pondasi Model pondasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pondasi dengan bahan beton. Dalam membuat model pondasi ini sebelumnya

53 dilakukan pengujian uji kuat tekan beton dalam menentukan mutu kuat betonnya agar sesuai dengan standar yang ada, yaitu SNI 03-2847-2002. Dalam standar SNI 03-2847-2002 disebutkan kuat tekan beton minimal untuk tiang pancang adalah 30 MPa. Untuk memenuhi kekuatan tersebut dalam penelitian ini dilakukan beberapa pengujian yaitu pengujian perbandingan antara pasir, semen, krikil, air, dan bahan adiktif yang digunakan. Dimensi model pondasi tiang yang direncanakan pada penelitian ini adalah 5cm x 5cm dengan panjang tiang 80cm. Penentuan dimensi ini berdasarkan keterbatasan lahan yang ada dan menyesuaikan dengan batas tegangan pada pondasi tiang, yaitu pengaruh tegangan yang diakibatkan tiang. Pengaruh tegangan ini berbeda untuk arah vertikal dan horisontalnya, pada buku Braja M. Das dijelaskan pengaruh tegangan arah horisontal adalah 2 hingga 2,5 kali diameter sedangkan pengaruh arah vertikal adalah 4 kali diameter. 3.8 Pemancangan Model Pondasi Pemancangan dilakukan dengan menggunakan cara hidrolik, yaitu ditekan dengan menggunakan alat uji tekan yang akan digunakan pada saat pengujian. Pada saat pemancangan untuk memastikan tiang terpancang dengan benar, tegak lurus dengan area tanah, setiap penekanan di cek ketegakannya dengan menggunakan waterpass.

54 Gambar 3.11. Alat tekan hidraulik 3.9 Pengujian Load Test Pondasi yang sudah dipancang selanjutnya akan diuji kapasitas daya dukung sesaat setelah pemancangan. Pengujian load test dilakukan dengan menggunakan metode quick maintained load test yang tercantum pada standar ASTM 1143. Pada metode quick maintained load test pada ASTM ini dilakukan dengan menggunakan beban hingga 200% beban rencana dengan memberikan beban secara cyclic. Pada tiap tahap pemberian beban, beban ditahan selama 5 menit dengan pembacaan dilakukan setiap 2,5 menit. Setelah interval 5 menit tambahkan/kurangi beban tahap selanjutnya. Beban cyclic yang dilakukan adalah sampai 200% beban rencana dengan detail sebagai berikut: Cycle 1: 0% 25% 50% 25% 0% Cycle 2: 0% 50% 75% 100% 75% 50% 0% Cycle 3: 0% 50% 100% 125% 150% 125% 100% 50% 0% Cycle 4: 0% 50% 100% 150% 175% 200% 150% 100% 50% 0% Pengujian beban siklik ini dimulai darisiklik pertama dengan beban awal yang diberikan adalah 25% dari beban rencana yang didimakan selama 5 menit lalu dibaca penurunan yang terjadi, selanjutnya beban ditingkatkan menjadi 50% beban rencana yang didiamkan juga selama 5 menit lalu dibaca penurunanya. Tiap penambahan dan pengurangan beban selama proses siklik ini didiamkan selama 5 menit sampai siklik terakhir selesai. Pengujian daya dukung model pondasi tiang ini akan dilakukan sampai pengaruh nilai daya dukung tidak mengalami perubahan yang signifikan, dengan rentang waktu yang diusulkan oleh penulis yaitu: a. Pembacaan pada awal penelitian dilakukan setiap hari (dalam penelitian ini sampai hari ke-4).

55 b. Pembacaan selanjutnya tergantung dari hasil peningkatan, dalam penelitian ini dilakukan 2 atau 3 hari sekali. c. Jika hasil peningkatan sudah cenderung tidak signifikan pembacaan selanjutnya diberi rentang waktu yang agal jauh. d. Setelah mendapatkan data daya dukung model pondasi tersebut, dilakukan ploting grafik antara nilai daya dukung terhadap waktu pembacaan. Lalu membandingkan grafik tersebut terhadap tiap material model pondasi tiang. Rentang waktu tersebut dapat saja berubah tergantung dari hasil pengujian tiang yang dilaksanakan, jika pada minggu pertama dihari tertentu pengaruh nilai daya dukung sudah mulai tidak signifikan rentang waktu dapat berubah pada minggu pertama yang semula dilakukan tiap satu hari bias saja diubah menjadi tiap tiga hari atau lebih. 3.10 Interpretasi Pengujian Beban (Loading Test) Dalam menganalisis hasil uji beban statik dalam penelitian ini menggunakan tiga metode yaitu; metode Davisson, Mazurkewicz, dan Chin. Dari ketiga metode ini nilai yang akan diambil adalah nilai rata-rata dari ketiga metode tersebut. Dalam menbandingkan nilai kapasitas daya dukung pondasi pada saat awal pemancangan dengan akhir pengujian, dimana ada selisih waktu yang berpengaruh, dengan menggunakan dengan metode Denver & Skov (1988).