KALSIUM KARBIDA CALCIUM CARBIDE

dokumen-dokumen yang mirip
MINYAK BIJI GANJA CANNABIS SATIVA SEED OIL

AMONIUM OKSALAT MONOHIDRAT AMMONIUM OXALATE MONOHYDRATE

1,2-DIBROMO-1,1-DIFLUOROETHANE 1,2-DIBROMO-1,1-DIFLUOROETANA

SELENIUM ASPARTAT SELENIUM ASPRATATE

SEMEN ALUMINA KIMIA CEMENT, ALUMINA, CHEMICALS

AMONIUM PARA-MOLIBDAT AMMONIUM PARA-MOLYBDATE

1,4-DIKLOROBENZEN-D4 1,4-DICHLOROBENZENE-D4

SODIUM BROMAT SODIUM BROMATE

KARBOWAKS 300 CARBOWAX 300

ALIZARIN ALIZARINE. 1. N a m a. 2. Sifat Fisika Kimia. Golongan senyawa anorganik

MINYAK JARAK CASTOR OIL

KALSIUM KARBONAT CALCIUM CARBONATE

BRUSIN SULFAT BRUCINE SULFATE

KALSIUM HIPOKLORIT CALCIUM HYPOCHLORITE

1,2-DIBROMO-3-KLOROPROPANA 1,2-DIBROMO-3-CHLOROPROPANE

KRISOIDIN ( JINGGA BASA 2 ) CHRYSOIDINE (C.I. BASIC ORANGE 2)

BENDIOKARB BENDIOCARB

PARASETAMOL ACETAMINOPHEN

PROPILEN KARBONAT PROPYLENE CARBONATE

N - Heptana. N - heptane

RHODAMIN B RHODAMINE B

POLIVINIL ASETAT POLYVINYL ACETATE

BROMASIL BROMASIL. 1. N a m a. Golongan Heterocyclic, nitrogen, halogen, aromatic

ASAM TARTARAT TARTARIC ACID

TRANSFLUTRIN TRANSFLUTHRIN

IDENTIFIKASI BAHAYA B3 DAN PENANGANAN INSIDEN B3

BRODIFAKUM BRODIFACOUM

ISOPROPIL MIRISTAT ISOPROPYL MYRISTATE

BUTIL FENIL METIL KARBAMAT BUTHYL PHENYL METHYL CARBAMATE (BPMC)

KALSIUM SIANAMIDA CALCIUM CYANAMIDE

KALIUM HIDROKSIDA POTASSIUM HYDROXIDE

SERAT KERAMIK CERAMICS FIBER

AMMONIUM IODIDA AMMONIUM IODIDE

ATROPIN SULFAT ATROPINE SULPHATE

SODIUM HIPOKLORIT SODIUM HYPOCHLORITE

AMIL ALKOHOL AMYL ALCOHOL

WASPADAI BAHAYA ASAM KUAT DALAM PRODUK YANG DIGUNAKAN DI RUMAH TANGGA

TOKSIKOLOGI BEBERAPA ISTILAH. Toksikologi Toksisitas Toksin / racun Dosis toksik. Alfi Yasmina. Sola dosis facit venenum

Asam Maleat MALEIC ACID

Material Safety Data Sheet

AMONIUM NITRAT AMMONIUM NITRATE

DISODIUM OXALATE. Sinonim / Nama Dagang (1,2,3,8) Ethanedioic acid, disodium salt; Oxalic acids, disodium salt; Disodium Sodium oxalate.

ARSENIK ARSENIC. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat Bahaya Peringkat NFPA (Skala 0-4):

PIPERONAL PIPERONAL. 1. N a m a Golongan Aldehida, Heterosiklik

Material Safety Data Sheet. : Resin Pinus Oleo

ASAM ADIPAT ADIPIC ACID

Polietilen Tereftalat (PET)

ASAM ANTRANILAT ANTHRANILIC ACID

HIDROGEN BROMIDA HYDROGEN BROMIDE

AlCl₃ (Aluminium Klorida) Ishmar Balda Fauzan ( ) Widya Fiqra ( ) Yulia Endah Permata ( )

11/9/2011 TOKSIKOLOGI. Alfi Yasmina BEBERAPA ISTILAH. Toksikologi Toksisitas Toksin / racun Dosis toksik. Sola dosis facit venenum

LEMBAR DATA KESELAMATAN

ALUMUNIUM N a m a Golongan Sinonim / Nama Dagang Nomor Identifikasi : Sifat Fisika Kimia Nama bahan Deskripsi

BENOMIL BENOMYL. 1. N a m a. 2. Sifat Fisika Kimia. Golongan Karbamat heterosiklik. Sinonim / Nama Dagang

ARSENIK TRIOKSIDA ARSENIC TRIOXIDE

2,3,7,8 TETRAKLORODIBENZO P - DIOKSIN 2,3,7,8 TETRACHLORODIBENZO P DIOXIN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

ISOAMIL ASETAT ISOAMYL ACETATE

Data Keracunan Rumah Sakit Tahun

PT. TRIDOMAIN CHEMICALS Jl. Raya Merak Km. 117 Desa Gerem Kec. Grogol Cilegon Banten 42438, INDONESIA Telp. (0254) , Fax.

PIRIDIN PYRIDINE. 2. Sifat Fisika Kimia (1,4,5,6) Nama Bahan Piridin Deskripsi

KERACUNAN AKIBAT PENYALAH GUNAAN METANOL

LEMBAR DATA KESELAMATAN

KARBON DIOKSIDA CARBON DIOXIDE

ALUMINIUM HIDROKSIDA ALUMINUM HYDROXIDE

KALOMEL CALOMEL. 1. N a m a Golongan Garam anorganik

LEMBAR DATA KESELAMATAN

ASPIRIN ACETYL SALICYLIC ACID

BUTIL BENZIL FTALAT BUTYL BENZYL PHTHALATE

Lem Vip. Lembar Data Keselamatan. 1. Deskripsi Produk dan Perusahaan : 2. Identifikasi Bahaya : 3. Komposisi / Informasi dari zat zat yang digunakan :

LEMBAR DATA KESELAMATAN

PT. TRIDOMAIN CHEMICALS Jl. Raya Merak Km. 117 Desa Gerem Kec. Grogol Cilegon Banten 42438, INDONESIA Telp. (0254) , Fax.

SODIUM SULFIT SODIUM SULFITE

LEMBAR DATA KESELAMATAN

DIETILTOLUAMIDA N,N-DIETHYLTOLUAMIDE

Lenkote Alkali Resisting Primer

ASAM SALISILAT SALICYLIC ACID

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

LEMBARAN DATA KESELAMATAN BAHAN menurut Peraturan (UE) No. 1907/2006

PT. BINA KARYA KUSUMA

Lembaran Data Keselamatan Bahan

PT. BINA KARYA KUSUMA

LEMBARAN DATA KESELAMATAN BAHAN menurut Peraturan (UE) No. 1907/2006

: Prevathon 50 SC Insektisida

ALIL ALKOHOL. Alil Alcohol

KARBON HITAM CARBON BLACK

T-BUTIL ALKOHOL T-BUTYL ALCOHOL

BESI (II) GLUKONAT ANHIDRAT FERROUS GLUCONATE, ANHYDROUS

SIANOGEN BROMIDA CYANOGEN BROMIDE

Material Safety Data Sheet. : Gliserin Mentah

MATERIAL SAFETY DATA SHEET ANILINE 99%

ISOOKTANA ISOOCTANE. 2. PENGGUNAAN Digunakan dalam menentukan bilangan oktan bahan bakar, sebagai pelarut. (2)

MSDS NaCl (natrium klorida)

LEMBAR DATA KESELAMATAN

ASAM BORAT BORIC ACID

PAPARAN PESTISIDA DI LINGKUNGAN KITA

SAFETY DATA SHEET. MSDS #: 394 Tanggal Revisi: 15/03 BAGIAN 1 IDENTIFIKASI PRODUK

LEMBARAN DATA KESELAMATAN BAHAN menurut Peraturan (UE) No. 1907/2006

Wood-Eco Woodstain. Lembar Data Keselamatan. 1. Deskripsi Produk dan Perusahaan : 2. Identifikasi Bahaya :

Transkripsi:

KALSIUM KARBIDA CALCIUM CARBIDE 1. N a m a Golongan Karbida inorganik Sinonim / Nama Dagang Calcium carbide; Acetylenogen; Calcium acetylide; Calcium dicarbide; Ethyne, Calcium derivative; Calcium carbide, anhydrous. Nomor Identifikasi : Nomor CAS : 75-20-7 Nomor OHS : 03870 Nomor RTECS : EV9400000 Nomor EC (EINECS) : 200-848-3 Nomor EC Index : 006-004-00-9 UN : 1402 ICSC : 0406 2. Sifat Fisika Kimia Nama bahan Calcium carbide Deskripsi Bentuk fisik kristal hitam dengan bau khas seperti bau bawang putih. Titik lebur 2300 o C. Berat jenis relatif (air = 1) 2,22-2,26. Kelarutan dalam air bereaksi; larut dalam alkohol. Rumus kimia: CaC 2. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat Bahaya Peringkat NFPA (Skala 0-4): Kesehatan 3 : Tingkat keparahan sangat tinggi Kebakaran 3 : Sangat mudah terbakar Reaktivitas 2 : Reaktif

Klasifikasi EC: F : Mudah menyala R15 : Kontak/bersinggungan dengan air menghasilkan gas yang sangat mudah menyala S2 : Jauhkan dari jangkauan anak-anak S8 : Jaga wadah dalam keadaan kering S43 : Jika terjadi kebakaran, gunakan bahan kimia kering 3. Penggunaan Pembentukan gas asetilen untuk penerangan (1 kg karbida menghasilkan 300 liter asetilen); sebagai bahan pereduksi (contoh: untuk mereduksi tembaga sulfid menjadi logam tembaga); sebagai senapan penanda untuk keperluan pelayanan kelautan, produksi pembuatan kalsium, besi, kumparan, lamp-black, sianamid; proses penyambungan dan pemotongan logam. 4. Identifikasi Bahaya Risiko utama dan sasaran organ Bahaya utama terhadap kesehatan: luka bakar pada saluran respiratorik, luka bakar pada kulit, luka bakar pada mata, luka bakar pada membran mukosa. Organ sasaran: efek korosif lokal pada inhalasi, kulit, mata dan penelanan. Rute paparan Paparan jangka pendek Terhirup Luka bakar Kontak dengan kulit Luka bakar Kontak dengan mata Luka bakar Tertelan Luka bakar

Paparan jangka panjang Terhirup Sama dengan yang dilaporkan pada paparan inhalasi jangka pendek. Kontak dengan kulit Sama dengan yang dilaporkan pada paparan kontak kulit jangka pendek. Kontak dengan mata Sama dengan yang dilaporkan pada paparan kontak dengan mata jangka pendek. Tertelan Sama dengan yang dilaporkan pada paparan tertelan jangka pendek. 5. Stabilitas dan reaktivitas Reaktivitas : Dapat bereaksi dengan perubahan suhu akibat kontak bahan tersebut dengan air. Melepaskan gas-gas yang bersifat toksik, korosif, mudah terbakar atau dapat meledak. Kondisi yang harus dihindari : Hindarkan dari kontak dengan udara. Simpan pada tempat kering. Hindarkan dari sumber air dan pipa pembuangan limbah. Tancampurkan : Asam, basa, logam, halogen, oksidator, bahan mudah terbakar, garam logam, dan oksida logam. Kalsium karbida dengan Asam : Menghasilkan asetilen Basa : Menghasilkan asetida Bahan mudah terbakar : Tancampurkan Besi (III) klorida : Cepat terbakar saat dinyalakan Besi (III) oksida : Cepat terbakar saat dinyalakan Bromida : Berpijar pada suhu 350 C Cesium hidrida : Menghasilkan asetilen Fluorida perkloril : Dengan gas menghasilkan reaksi ledakan pada 100-300 C

Gas hidrogen klorida : Berpijar pada pemanasan Klorin : Berpijar pada suhu 245 C Kobalt : Menghasilkan asetilen Kuningan : Dapat bereaksi dan menghasilkan senyawa eksplosif Kalium+klorin+air : Dapat meledak Magnesium : Berpijar pada saat berkontak Metanol : Bereaksi kuat setelah periode induksi Natrium peroksida : Campurannya eksplosif Oksidator (kuat) : Bereaksi Perak nitrat : Menghasilkan bahan yang sangat mudah meledak Rubidium hidrida : Menghasilkan asetilen Selenium : Berpijar pada suhu 500 C Sulfur : Berpijar pada suhu 500 C Tembaga : Dapat bereaksi dan menghasilkan senyawa eksplosif Timah (II) klorida : Dapat menyala, tereduksi menjadi timah metalik dan dilanjutkan dengan berpijar Timbal difluorida : Berpijar pada saat berkontak Yodium : Berpijar pada suhu 305 C Bahaya dekomposisi : Produk dekomposisi termal: gas-gas hidrokarbon Polimerisasi : Tidak terpolimerisasi. 6. Penyimpanan Simpan dan tangani sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan standard yang berlaku. Simpan dalam wadah tertutup rapat. Simpan pada tempat yang sejuk dan kering, memiliki ventilasi, dan jauhkan dari bahan-bahan tancampurkan. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jauhkan dari makanan, minuman, dan bahan makanan hewan.

7. Toksikologi Toksisitas Data pada hewan Tidak tersedia data Karsinogenik Tidak tersedia data Mutagenik Tidak tersedia data Data Reproduksi Tidak tersedia data Informasi Ekologi Tidak tersedia data 8. Efek Klinis Keracunan akut Terhirup Kalsium karbida: lihat informasi pada bahan korosif alkalin. Paparan okupasional telah menyebabkan penderita mengalami cheilitis yang ditandai oleh bibir yang kering, kemerahan dan bengkak, deskuamasi (pengelupasan) yang berat dan fisura radial yang dalam. Lesi erosif yang cenderung bernanah pada sudut bibir telah ditemukan dalam observasi. Korosif alkalin: dapat menyebabkan iritasi dari saluran pernafasan dengan batuk, tersedak, nyeri dan dapat saja terjadi luka bakar membran mukosa. Pada beberapa kasus, dapat terjadi edema paru, baik segera terutama pada kasus berat maupun pada masa laten 5-72 pasca paparan. Gejala dapat juga meliputi dada terasa berat, sesak nafas, dahak berbusa, sianosis, dan pusing. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hipotensi, nadi lemah dan cepat, dan ronki basah. Kasus yang berat dapat fatal.

Kontak dengan kulit Kalsium karbida: lihat informasi pada korosif alkalin. Bahan yang kering dapat saja menyebabkan dermatitis atau melanoderma tipe yang unik dengan hiperpigmentasi dan telangiektasis yang banyak. Korosif alkalin: kontak langsung dapat menyebabkan nyeri yang hebat, luka bakar, dan dapat menyebabkan noda coklat. Area yang terkena dapat terasa lebih lembut, tampak seperti agar-agar, nekrotik, kerusakan jaringan dapat dalam. Kontak dengan mata Kalsium karbida: lihat informasi pada korosif alkalin. Paparan okupasional menyebabkan lesi dengan kemerahan yang berat pada kelopak dan konjungtiva mata, kadang disertai sekret yang mukopurulent. Pada kasus yang berat sensitifitas konjungtiva dan kornea dapat sangat berkurang. Keratitis dan konjungtivitis dapat berkembang tandap gejala dan akhirnya memburuk menjadi kekeruhan pada kornea. Korosif alkalin: kontak langsung dapat menyebabkan rasa nyeri dan luka bakar. Dapat ditemukan edema, destruksi epitelium, kekeruhan kornea, dan iritasi. Bila kerusakan tidak berat, maka gejala di atas akan cenderung pulih. Pada luka bakar yang berat, seluruh gejala dapat tidak muncul secara segera. Komplikasi lanjut dapat meliputi edema yang menetap, vaskularisasi dan luka parut pada kornea, kekeruhan yang permanen, stafiloma, katarak, simblefaron dan kebutaan. Tertelan Kalsium karbida: lihat informasi pada korosif alkalin. Korosif alkalin: dapat menyebabkan nyeri dengan segera, luka bakar disekitar mulut, korosi dari membran mukosa yang awalnya berwarna keputihan dan berbusa, lalu berubah warna menjadi kecoklatan, disertai bengkak dan ulkus. Dapat terjadi hipersalivasi, kesulitan menelan dan bersuara. Bahakan pada kondisi tidak ditemukan adanya bukti luka bakar pada mulut, dapat saja terjadi rasa nyeri bakar pada esofagus dan lambung, muntah dan diare. Muntahan bersifat kental, berlendir, dan kemudian mengandung darah dan serpihan robekan mukosa. Edema epiglotis dapat menyebabkan kesulitan bernafas bahkan hingga asfiksia. Syok ditandai dengan hipotensi, nadi lemah dan cepat, nafas dangkal, kulit terasa lembab. Dapat terjadi kolaps sirkulasi, yang bila tidak segera dikoreksi, dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Pada kasus berat,

perforasi esofagus dan lambung dapat disertai mediastinitis, nyeri substernal, peritonitis, rigiditas abdomen dan demam. Striktur esofagus, dan mungkin striktur lambung dan pilorik, dapat terjadi dalam beberapa minggu, dapat pula tertunda hingga beberapa bulan atau bahkan tahunan. Kematian dapat terjadi dalam waktu singkat akibat asfiksia, kolaps sirkulasi, atau aspirasi dalam jumlah yang sedikit. Jika kematian tertunda mungkin disebabkan karena komplikasi perforasi, pneumonia, atau akibat dari terbentuknya striktur. Keracunan kronik Terhirup Korosif alkalin: tergantung pada konsentrasi dan durasi dari paparan, paparan yang berulang atau lama dapat menyebabkan perubahan berupa inflamasi adan ulkus pada mulut, dapat pula terjadi gangguan bronkial dan saluran pencernaan. Kontak dengan kulit Korosif alkalin: efek bergantung pada konsentrasi dan durasi paparan. Paparan berulang dan lama dapat menyebabkan dermatitis dan efek serupa dengan paparan akut. Kontak dengan mata Kororsif alkalin: efek tergantung pada konsentrasi dan durasi paparan. Paparan berulang dan lama dapat menyebabkan konjungtivitis atau serupa dengan efek pada paparan akut. Tertelan Korosif alkalin: tergantung pada konsentrasi, penelanan berulang dapat menyebabkan efek inflamasi dan ulserasi dari membran mukosa mulut dan efek lain serupa dengan penelanan secara akut. 9. Pertolongan Pertama Terhirup Bila aman memasuki area, segera pindahkan korban dari area pemaparan. Bila perlu, gunakan kantong masker berkatup atau pernafasan penyelamatan. Jaga agar korban tetap hangat dan tenang. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Kontak dengan kulit Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun atau detergen ringan dan air dalam jumlah yang banyak sampai dipastikan tidak ada bahan kimia yang tertinggal (selama 15-20 menit). Untuk luka bakar, tutup daerah yang terkena menggunakan verban/kassa yang steril, kering dan longgar. Bila perlu segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Kontak dengan mata Segera cuci mata dengan air yang banyak atau dengan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%), selama 30 menit, atau sekurangnya satu liter untuk setiap mata dan dengan sesekali membuka kelopak mata atas dan bawah sampai dipastikan tidak ada lagi bahan kimia yang tertinggal. Tutuplah mata menggunakan kassa steril. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Tertelan Jangan sekali-kali merangsang muntah atau memberi minum bagi pasien yang tidak sadar/pingsan. Bila terjadi muntah, jaga agar kepala lebih rendah daripada panggul untuk mencegah aspirasi. Bila korban pingsan, miringkan kepala menghadap ke samping. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Catatan untuk dokter: untuk terhirup pertimbangkan pemberian oksigen. Untuk penelanan pertimbangkan tindakan esofagoskopi, hindarkan tindakan bilas lambung. 10. Penatalaksanaan Stabilisasi a. Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara. b. Penatalaksanaan fungsi pernafasan untuk memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida. c. Penatalaksanaan sirkulasi, bertujuan mengembalikan fungsi sirkulasi darah. d. Jika ada kejang, beri diazepam dengan dosis:

Dewasa: 10-20 mg IV dengan kecepatan 2,5 mg/30 detik atau 0,5 ml/30 menit, jika perlu dosis ini dapat diulang setelah 30-60 menit. Mungkin diperlukan infus kontinyu sampai maksimal 3 mg/kg BB/24 jam. Anak-anak: 200-300 µg/kg BB Dekontaminasi a. Dekontaminasi mata Dilakukan sebelum membersihkan kulit: Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terkena atau terburuk kondisinya. Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan cuci dengan sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9% diguyur perlahan selama 30 menit atau sekurangnya satu liter untuk setiap mata. Hindarkan bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya. Jika masih belum yakin bersih, cuci kembali selama 10 menit. Jangan biarkan pasien menggosok matanya. Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat dan konsul ke dokter mata. b. Dekontaminasi kulit (termasuk rambut dan kuku) Bawa segera pasien ke air pancuran terdekat. Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir yang dingin atau hangat serta sabun minimal 10 menit. Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan kain atau kertas secara lembut. Jangan digosok. Lepaskan pakaian, arloji, dan sepatu yang terkontaminasi atau muntahannya dan buanglah dalam wadah/plastik tertutup. Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan menggunakan sarung tangan, masker hidung, dan apron. Hati-hati untuk tidak menghirupnya. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut. c. Dekontaminasi saluran cerna Hindari kumbah lambung (risiko terjadi perforasi) dan pertimbangkan untuk melakukan esofagoskopi.

Antidotum : - 11. Batas Paparan dan Alat Pelindung Diri Batas paparan kalsium karbida: Belum ada penetapan batas paparan okupasional Ventilasi: Sediakan sistem ventilasi penghisap udara setempat. Ventilasi harus tahan ledakan jika terjadi konsentrasi bahan yang akan meledak. Pastikan dipatuhinya batas paparan yang sudah ditentukan. Proteksi mata: Gunakan kaca mata pengaman tahan percikan dengan pelindung wajah. Sediakan kran pencuci mata untuk keadaan darurat serta semprotan air deras dekat dengan area kerja. Pakaian: Gunakan pakaian pelindung yang tahan bahan kimia. Sarung tangan: Gunakan sarung tangan pelindung yang tahan bahan kimia. Respirator: Pada keadaan sering digunakan atau paparan berat, proteksi pernafasan dapat digunakan. Proteksi pernafasan disusun peringkatnya mulai dari minimum hingga maksimum. Perhatikan cara penggunaan (warning properties) sebelum digunakan. Setiap respirator debu dan kabut dengan masker wajah penuh. Setiap respirator pemurni udara dengan masker wajah penuh dan penyaring partikulat yang sangat tinggi. Setiap respirator pemurni udara, dengan sumber tenaga apapun, yang memiliki masker wajah penuh dan sangat tinggi. Untuk konsentrasi yang tidak diketahui atau sangat berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan: Setiap respirator pemasok udara memiliki pelindung wajah penuh yang dioperasikan dalam suatu mode tekanan negatif atau positif lain digabungkan dengan pasokan pelepas terpisah. Setiap alat pernafasan serba lengkap memiliki pelindung wajah penuh.

12. Manajemen Pemadam Kebakaran Bahaya ledakan dan kebakaran: bahaya kebakaran hebat. Campuran antara debu bahan ini dan udara dapat menjadi nyala api atau bahkan meledak. (2) Media pemadaman: bahan kimia kering, pasir, alkali, soda ash. (2) 13. Manajemen Tumpahan Bila terjadi tumpahan hindari panas, api, percik api, dan sumber nyala lainnya. Jangan menyentuh tumpahan. Hentikan kebocoran bila memungkinkan tanpa menimbulkan risiko kepada petugas yang bersangkutan. Jangan menyemprotkan air langsung kepada tumpahan. Tumpahan kering, sedikit: kumpulkan bahan ke dalam suatu wadah tertutup untuk kemudian dibuang/dimusnahkan. Tumpahan cairan, sedikit: serap menggunakan pasir atau bahan tidak mudah terbakar lainnya. Kumpulkan bahan ke dalam suatu wadah untuk kemudian dibuang/dimusnahkan. Tumpahan besar: buatlah bendungan untuk menampung tumpahan, untuk dibuang kemudian. Tumpahan serbuk: tutuplah bahan tumpahan menggunakan plastik atau bahan lainnya untuk mengurangi penyebaran bahan tumpahan serta melindungi dari kontak terhadap air. Jauhkan orang-orang yan tidak berkepentingan, isolasi daerah bahaya dan berikan larangan memasuki area tersebut. (2) 14. Daftar Pustaka 1. Budavari, S. The Merck Index, 13 th ed. An Encyclopedia of chemicals, Drugs and Biologicals. Merck & Co., Inc, NJ, 2001. 2. Micromedex (R) Healthcare Series. Micromedex Inc. 3. OHS, MDL Information System, Inc., Donelson Pike, Nashville, 1997. 4. Olson K.R., Poisoning & Drug Overdose, Fourth Edition, McGraw Hill Companies, Inc., USA, 2004, p. 292-296 5. http://www.inchem.org/documents/icsc/icsc/eics0406.htm (diunduh Agustus 2010) 6. http://msds.chem.ox.ac.uk/ca/calcium_carbide.html (diunduh Agustus 2010)

7. http://www.pesticideinfo.org/detail_chemical.jsp?rec_id=pc33688 (diunduh Agustus 2010) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Disusun oleh: Sentra Informasi Keracunan Nasional (SiKer Nas) Pusat Informasi Obat dan Makanan, Badan POM RI Tahun 2010 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------