LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK RESTORAN, RUMAH MAKAN DAN WARUNG MAKAN BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN SETDA KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 2005
DAFTAR ISI NO. URAIAN HAL 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK RESTORAN, RUMAH MAKAN DAN WARUNG MAKAN 1-8
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 11 TAHUN 2005 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK RESTORAN, RUMAH MAKAN DAN WARUNG MAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WAKATOBI, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 28 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah merupakan salah satu jenis Pajak yang dapat dikelola oleh Daerah Kabupaten Wakatobi; Mengingat b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Daerah. : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209; 2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan; 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686); 4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686); 5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 6. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 296, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);
7. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Kolaka Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4339 ); 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah pengganti Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan; 10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138); Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN WAKATOBI dan BUPATI WAKATOBI MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK RESTORAN, RUMAH MAKAN DAN WARUNG MAKAN KABUPATEN WAKATOBI. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kabupaten Wakatobi; b. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Wakatobi; c. Kepala Daerah adalah Bupati Wakatobi;
d. Pejabat adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas tertentu dibidang Retribusi Daerah sesuai dengan Ketentuan Peraturan Perundangundangan yang berlaku; e. Badan adalah suatu bentuk Badan Usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha badan lainnya; f. Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah pajak yang dipungut atas pelayanan Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan; g. Pengusaha Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya; h. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data, dan/atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban pajak berdasarkan perundang-undangan Pajak Daerah; i. Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Pajak adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang outentik dan dengan bukti itu membuat keterangan tindak pidana dibidang retribusi yang terjadi serta menentukan tersangkanya; j. Restoran adalah sebuah tempat yang menyediakan satu atau beberapa jenis makanan dan minuman, baik masakan asing maupun masakan nusantara kepada masyarakat umum dengan sistem pelayanan tertentu dan dipungut bayaran; k. Rumah Makan adalah sebuah tempat yang menyediakan beberapa jenis makanan dan minuman khas nusantara kepada masyarakat umum yang dipungut bayaran; l. Warung Makan adalah sebuah tempat yang menyediakan makanan dan minuman jenis lokal kepada masyarakat umum, dengan dipungut bayaran; m. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPPD adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban, menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah; n. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang dapat disingkat SKPD adalah surat ketetapan pajak yang dapat menentukan besar jumlah pokok pajak; o. Surat Setoran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yang digunakan wajib pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas daerah atau ketempat lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah; p. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau denda;
BAB II NAMA, OBYEK DAN SUBYEK PAJAK Pasal 2 Dengan Nama Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan dipungut pajak atas setiap penyelenggaraan Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. 3 Pasal 3 (1) Obyek Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. (2) Tidak termaksud Obyek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah : Pasal 4 (1) Subjek Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. (2) Wajib Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah Pengusaha Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. BAB III DASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK Pasal 5 Dasar pengenaan Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. Pasal 6 Tarif Pajak Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan ditetapkan sebesar 10 % (sepuluh persen) dari jumlah pembayaran kepada Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. BAB IV MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH Pasal 7 Masa Pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan 1 (satu) bulan Takwin.
Pasal 8 Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat Pembayaran Restoran, Rumah Makan dan Warung Makan. Pasal 9 (1) Setiap Wajib Pajak berkewajiban mengisi Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD). (2) STPD sebagimana dimaksud pada ayat (1) harus di isi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh wajib pajak atau kuasanya. (3) STPD yang dimaksud dalam ayat (1) harus disampaikan kepada Kepala Daerahselambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah berakhirnya masa pajak. (4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian STPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. BAB V PERHITUNGAN, PENETAPAN DAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal 10 Besar pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana maksud pada pasal 5. Pasal 11 (1) Berdasarkan STPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) Kepala Daerah menetapkan Pajak Terutang dengan menerbitkan SKPD. (2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenagkan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2 % (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD. Pasal 12 (1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah sesuai waktu yang telah ditentukan; (2) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). BAB VI KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK Pasal 13 (1) Berdasarkan permohonan wajib pajak, Kepala Daerah dapat memberikan keringanan dan atau pembebasan pajak; (2) Tata cara pemberian keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan Kepala Daerah.
BAB VII K A D A L U W A R S A Pasal 14 (1) Hak untuk melakukan penagihan pajak dinyatakan kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat pajak terutang, kecuali apabila wajib pajak melakukan Tindak Pidana Dibidang Perpajakan Daerah; (2) Kadaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertagih apabila : a. Diterbitkan surat teguran dan surat paksa atau; b. Surat pengakuan hutang pajak dan wajib pajak baik langsung maupun tidak langsung. BAB VIII TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK YANG KADALUWARSA Pasal 15 (1) Piutang Pajak yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kadaluwarsa dapat dihapuskan; (2) Kepala Daerah menetapkan Keputusan penghapusan piutang pajak yang sudah kadaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 16 (1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada pasal 6 dan pasal 11, sehingga merugikan Keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). (2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB X PENYIDIKAN Pasal 17 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana Pajak Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenan dengan tindak pidana dibidang Pajak Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Pajak Daerah; c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang Pajak Daerah; d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain yang berkenan dengan tindak pidana dibidang Perpajakan; e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut; f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang Pajak Daerah; g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e; h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Pajak Daerah; i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; j. Menghentikan Penyidikan; k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang Perpajakan menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyidikannya kepada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tantang Hukum Acara Pidana. Pasal 18 (1) Selain Penyidik POLRI, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kabupaten diberi kewenangan khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan Tindak Pidana Dibidang Perpajakan Daerah. (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sesuia penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 19 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur dan ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 20 Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak Tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Wakatobi. Ditetapkan di Wangi - Wangi pada tanggal 21 November 2005 BUPATI WAKATOBI, Cap/Ttd SARIFUDDIN SAFAA Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Wakatobi pada tanggal 21 November 2005 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN WAKATOBI, A N A S M A I S A LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 2005 NOMOR 10 SERI B