PENGUKURAN KOMPONEN-KOMPONEN MESIN BUBUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE SCHLESINGER

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS KEMAMPUAN DAN KEANDALAN MESIN BUBUT WEILER PRIMUS MELALUI PENGUJIAN KARAKTERISTIK STATIK MENURUT STANDAR ISO 1708

ANALISIS KETELITIAN GEOMETRIK MESIN FRAIS HORISONTAL KUNZMANN UF6N DI LABORATORIUM MANUFAKTUR TEKNIK MESIN UNSRAT

PENGUJIAN KETELITIAN GEOMETRIK PADA MESIN BUBUT EMCOMAT EM 17S MENURUT ISO 1708

Pengukuran Ketelitian Komponen Mesin Bubut Dengan Standar ISO 1708

PENGUKURAN STATIS KETELITIAN GEOMETRIK MESIN BUBUT MAXIMAT V13 DI BENGKEL TEKNIK MESIN PNJ MENURUT REFERENSI

STUDI KEMAMPUAN DAN KEANDALAN MESIN FREIS C2TY MELALUI PENGUJIAN KARAKTERISTIK STATIK MENURUT STANDAR ISO Julian Alfijar 1 ), Purnomo 2 )

Studi Kemampuan Dan Keandalan Mesin Milling F4 Melalui Pengujian Karakteristik Statik Menurut Standar Iso 1701

ANALISIS PENGARUH CUTTING SPEED DAN FEEDING RATE MESIN BUBUT TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA DENGAN METODE ANALISIS VARIANS

PENGARUH PARAMETER POTONG TERHADAP DIAMETER PITS ULIR METRIK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Mesin bubut (Turning machine) adalah suatu jenis mesin perkakas

MEKANIKA Volume 12 Nomor 1, September Keywords : Digital Position Read Out (DRO)

PENGUJIAN KEBULATAN HASIL PEMBUBUTAN POROS ALUMINIUM PADA LATHE MACHINE TYPE LZ 350 MENGGUNAKAN ALAT UKUR ROUNDNESS TESTER MACHINE

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. pemesinan. Berikut merupakan gambar kerja dari komponen yang dibuat: Gambar 1. Ukuran Poros Pencacah

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Disusun oleh : Yulius Wahyu Jatmiko NIM : I

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. hasil yang baik sesuai ukuran dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ukuran poros : Ø 60 mm x 700 mm

Bab II Teori Dasar Gambar 2.1 Jenis konstruksi dasar mesin freis yang biasa terdapat di industri manufaktur.

ANALISA KEDATARAN GUIDE WAYS TERHADAP PENGARUH GERAK CARRIAGE PADA MESIN BUBUT G.D.W LZ 350 DENGAN ALAT UKUR DIGI- PAS DWL-200

BAB III PERAWATAN MESIN BUBUT PADA PT.MITSUBA INDONESIA

PENGARUH KECEPATAN POTONG TERHADAP TEMPERATUR PEMOTONGAN PADA PROSES PEMBUBUTAN

ANALISIS UMUR PAHAT DAN BIAYA PRODUKSI PADA PROSES DRILLING TERHADAP MATERIAL S 40 C

BAB li TEORI DASAR. 2.1 Konsep Dasar Perancangan

Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut

ANALISA KELAYAKAN MESIN MILLING F3 DENGAN PENGUJIAN KETELITIAN GEOMETRIK

PROSES PRODUKSI. Jenis-Jenis Mesin Bubut

Materi 3 Seting Benda Kerja, Pahat, dan Zero Offset Mesin Bubut CNC Tujuan :

PROSES FREIS ( (MILLING) Paryanto, M.Pd.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN KEBULATAN HASIL PEMBUATAN POROS ALUMINIUM MENGGUNAKAN EMCO T.U CNC -2A SMKN2 PEKANBARU DENGAN ROUNDNESS TESTER MACHINE

PENGARUH VARIASI PARAMETER PROSES PEMESINAN TERHADAP GAYA POTONG PADA MESIN BUBUT KNUTH DM-1000A

BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT

(Sumber :

M O D U L T UT O R I A L

PENGUKURAN KEKASARAN PROFIL PERMUKAAN BAJA ST37 PADA PEMESINAN BUBUT BERBASIS KONTROL NUMERIK

PROSES PEMBUBUTAN LOGAM. PARYANTO, M.Pd.

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH KEMIRINGAN SISI POTONG PAHAT DAN KECEPATAN POTONG TERHADAP KUALITAS KEKASARAN PERMUKAAN MATERIAL PADA SHAPING MACHINE

PENGUJIAN KELAYAKAN MESIN BUBUT MAXIMAT V13 DI POLITEKNIK NEGERI PADANG

CREATED BY: Fajri Ramadhan,Wanda Saputra dan Syahrul Rahmad

Simulasi Komputer Untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan Pada Proses Cylindrical Turning Berdasarkan Parameter Undeformed Chip Thickness

Berita Teknologi Bahan & Barang Teknik ISSN : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik Departemen Perindustrian RI No. 22/2008 Hal.

Kata kunci: Rekondisi, Bubut Mawitec D-0-0 BU-16, Uji coba, Perbaikan Kelistrikan dan Mekanik

PENGARUH JENIS PAHAT, JENIS PENDINGINAN DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP KERATAAN DAN KEKASARAN PERMUKAAN BAJA ST 42 PADA PROSES BUBUT RATA MUKA

BAB II Mesin Bubut I II. 1. Proses Manufaktur II

FM-UII-AA-FKU-01/R0 MESIN BUBUT 2.1. TUJAN PRAKTIKUM

PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER

TUGAS TEKNIK PERAWATAN MESIN MAKALAH MESIN BUBUT, SEKRAP DAN FRAIS

DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI Bab VI Pengukuran Kelurusan, Kesikuan, Keparalellan, Dan Kedataran BAB VI

Pengaruh Kedalaman Pemakanan, Jenis Pendinginan dan Kecepatan Spindel

ANALISIS PENGARUH PUTARAN SPINDLE TERHADAP GAYA POTONG PADA MESIN BUBUT

TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 4 bulan yaitu dari bulan Oktober 2014

ANALISA KEKERASAN MATERIAL TERHADAP PROSES PEMBUBUTAN MENGGUNAKAN MEDIA PENDINGIN DAN TANPA MEDIA PENDINGIN

TURBO Vol. 6 No p-issn: , e-issn: X

c. besar c. besar Figure 1

9 perawatan terlebih dahulu. Ini bertujuan agar proses perawatan berjalan sesuai rencana. 3.2 Pengertian Proses Produksi Proses produksi terdiri dari

BAB III Mesin Milling I

LAMPIARN 1.4 TEST UJI COBA INSTRUMEN. Mata Pelajaran Tingkat/Semester : XI/ Hari / Tanggal :... Waktu. : 60 menit Sifat Ujian

PENGARUH VARIASI PUTARAN SPINDEL DAN KEDALAMAN PEMOTONGAN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BAJA ST 60 PADA PROSES BUBUT KONVENSIONAL

PENGARUH PEMOTONGAN DENGAN DAN TANPA CAIRAN PENDINGIN TERHADAP DAYA POTONG PADA PROSES TURNING

BAB III METODOLOGI. Pembongkaran mesin dilakukan untuk melakukan pengukuran dan. Selain itu juga kita dapat menentukan komponen komponen mana yang

SIMULASI UNTUK MEMPREDIKSI PENGARUH PARAMETER CHIP THICKNESS TERHADAP DAYA PEMOTONGAN PADA PROSES CYLINDRICAL TURNING

III. METODE PENELITIAN. Penelitian sekaligus pengambilan data dilakukan di Laboratorium Produksi dan

PEMBUATAN ALAT PEMEGANG MATA BOR DALAM RANGKA REKONDISI PERALATAN MESIN BOR KOORDINAT ACIERA 22 TA LABORATORIUM PEMESINAN JURUSAN TEKNIK MESIN

PENGARUH PARAMETER PEMOTONGAN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES BUBUT BAJA AISI 1045

Analisa Perhitungan Waktu dan Biaya Produksi pada Proses Drilling

OPTIMASI PROSES PEMBUATAN MOBIL KAYU DENGAN MESIN CNC ROUTER PADA INDUSTRI BATIK KAYU

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan kerja

BAB 3 PROSES FRAIS (MILLING)

MESIN BOR. Gambar Chamfer

Pengaruh Kemiringan Benda Kerja dan Kecepatan Pemakanan terhadapgetaran Mesin Frais Universal Knuth UFM 2

Gambar I. 1 Mesin Bubut

BUKU 3 PROSES FRAIS (MILLING) Dr. Dwi Rahdiyanta

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN MEMPERGUNAKAN MESIN BUBUT (KOMPLEK)

PROSES BUBUT (Membubut Tirus, Ulir dan Alur)

MATERI KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

ALGORITMA PEMILIHAN DIAMETER PAHAT PROSES PEMESINAN POCKET 2-1/2D DENGAN METODA HIGH SPEED MACHINING

Disusun Oleh : BAIYIN SHOLIKHI DIPLOMA III TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA JUNI 2012

SOAL LATIHAN 2 TEORI KEJURUAN PEMESINAN

Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais

MODUL I PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES.

Jumlah Halaman : 20 Kode Training Nama Modul` Simulation FRAIS VERTIKAL

STUDI KECERMATAN ALAT UKUR ROUNDNESS TESTER MACHINE PRODUKSI LABORATORIUM JURUSAN TEKNIK MESIN UNVERSITAS RIAU DENGAN METODE HELIX

MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT. Dwi Rahdiyanta FT-UNY

STUDI KECERMATAN ALAT UKUR KEBULATAN (ROUNDNESS TESTER MACHINE) PRODUKSI LABORATORIUM PENGUKURAN UNIVERSIATAS RIAU

PENGARUH TEBAL PEMAKANAN DAN KECEPATAN POTONG PADA PEMBUBUTAN KERING MENGGUNAKAN PAHAT KARBIDA TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN MATERIAL ST-60

ANALISIS PEMOTONGAN RODA GILA (FLY WHEEL) PADA PROSES PEMESINAN CNC BUBUT VERTIKAL 2 AXIS MENGGUNAKAN METODE PEMESINAN KERING (DRY MACHINING)

BAB II LANDASAN TEORI

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI MEKANIK JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN

LAPORAN TUGAS AKHIR STUDY TENTANG CUTTING FORCE MESIN BUBUT (DESAIN DYNAMOMETER SEDERHANA)

SOAL LATIHAN 2 TEORI KEJURUAN PEMESINAN

BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya proses permesinan merupakan sebuah keharusan. mesin dari logam. Proses berlangsung karena adanya gerak

Pengaruh Jenis Pahat, Kecepatan Spindel dan Kedalaman Pemakanan terhadap Tingkat Kekasaran Permukaan Baja S45C

Gambar 1. Kepala tetap, tampak spindel utam a mesin

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

SOAL LATIHAN 6 TEORI KEJURUAN PEMESINAN

SMK PGRI 1 NGAWI TERAKREDITASI: A

Dalam menentukan ukuran utama mesin skrap ini, hal yang berpengaruh antara lain:

MODUL MESIN CNC-3. Oleh: Dwi Rahdiyanta FT-UNY

OPTIMASI PARAMETER PEMESINAN TANPA FLUIDA PENDINGIN TERHADAP MUTU BAJA AISI Jl. Jend. Sudirman Km 3 Cilegon,

PROSES SEKRAP ( (SHAPING) Paryanto, M.Pd. Jur. PT Mesin FT UNY

Transkripsi:

PENGUKURAN KOMPONEN-KOMPONEN MESIN BUBUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE SCHLESINGER Slamet Riyadi (1), Rochim Suratman (2), dan Muki Satya Permana (3) Magister Teknik Mesin, Universitas Pasundan Bandung (1) email : 1978slamet@gmail.com (2) email : rochim_suratman@yahoo.com (3) email : mkpermana@yahoo.com ABSTRACT This Study aims to determine the operational feasibility of a machine tool through testing components based method lathe with Schlesinger, by taking objects on a lathe Tonk-Il is in a private company in the city of Bandung. The test includes measurement of the flatness of the bed, moved the motion alignment measurement head relative to the motion moved off the sledge, the measurement accuracy of the main spindle, the axis alignment measurement launchers outside the head off the sledge motion, precision spindle bearing carrier for Keming the press. Measurement of components lathe testing that can be done due to lack of measurement tools that can support the implementation of other measures. To memngetahui how irregularities after testing the characteristics on a lathe by using the method of Schlesinger. From the measurement results of the five types of testing that has been done shows that the lathe types of Tong-Il is in a private company in the city fit for use in accordance with the method of Schlesinger, in other words, has the capability and reliability to produce a product or workpiece with high accuracy. Keywords : Precision Machine Tool Geometry. I. PENDAHULUAN Mesin perkakas adalah mesin yang umum dipergunakan dalam industri. Mesin ini adalah mesin kerja yang dapat dipergunakan untuk memotong logam, kayu dan sebagainya dengan jalan menghilangkan sebagian benda kerja dengan mempergunakan pahat pemotong agar diperoleh hasil dengan ukuran yang diinginkan. Prinsip gerakan yang diberikan oleh mekanisme mesin di dalam proses pemotongan ini ialah gerakan potong dan gerakan makan. Faktor-faktor yang turut menentukan ketelitian hasil pengukuran adalah pemasangan pondasi yang benar, kesejajaran sumbu dengan sumbu yang berpotongan, pahat pemotong dan kondisi pemotongan, perlengkapan pemegang benda kerja, kualitas dari benda kerja yang dibubut dan keahlian operator untuk menghasilkan proses pemesinan yang tepat.untuk menyakini bahwa suatu mesin perkakas masih mampu menghasilkan sebuah hasil proses pemesinan yang sesuai dengan toleransi awal, maka beberapa pemeriksaan atau pengetesan perlu dilakukan terhadap mesin-mesin tersebut. Pengetesan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan toleransi geometri berupa 230 pemeriksaan kerataan suatu permukaan, ketegaklurusan dari sumbu-sumbu yang berpotongan, kesejaran dan ketegaklurusan garis dengan garis atau suatu permukaan dengan permukaan yang lain. Dengan demikian, maka pengukuran geometris hanya berkaitan dengan ukuran, bentuk dan gerakan relatif dari suatu komponen terhadap komponen yang lain. Hal ini berpengaruh terhadap ketelitian kerja dari mesin tersebut. Pengetesan dimaksudkan untuk memeriksa ketelitian kerja mesin dan dilakukan dengan mengadakan pengukuran terhadap produk yang dihasilkan oleh mesin tersebut.adapun pengamatan pada penelitian ini dengan cara melakukan pengukuran pada mesin bubut tipe Tong-Il. dilakukan pada komponenkomponen bed, spindle, tailstock, sumbu spindle dengan sumbu tailstock dan gerak kepala lepas. Prosedur pengukuran dilaksanakan berdasarkan uji chart (chart test) yang termuat dalam buku Testing Machines Tool karangan Dr. Georg Schlesinger dan dimuat pula dalam rekomendasi ISO no. R 230 (tentang test code), R 1708 (untuk mesin bubut).

Ketelitian pengukuran pada mesin bubut sangat dipengaruhi oleh kecermatan dari alat ukur yang digunakan. Alat yang digunakan untuk pengukuran kerataan ini adalah spirit level dengan tingkat kecermataan sebesar 0.01 mm. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka masalah yang ingin diselesaikan dalam penelitian ini adalah bagaimana melakukan pengukuran kerataan dan ketegaklurusan pada sumbu yang berpotongan dengan menggunakan spirit level dan menerapkan metode Schlesinger sehingga dapat diperoleh toleransi setiap komponen pada mesin bubut tersebut. Tujuannya penelitian ini adalah melakukan pengukuran kerataan pada bed dengan jarak 00 mm dengan jumlah data 22 pengukuran. Tujuan berikutnya adalah melakukan pengukuran ketegaklurusan pada simpang putar spindle, kesejajaran kepala lepas terhadap bed dan kesejajaran sumbu spindle terhadap sumbu tailstock. Tujuan terakhir adalah melakukan analisis data dan pengolahan data dengan menggunakan statistik. Langkah-langkah penyelesaian masalah dimulai dari pengukuran kerataan pada bed dengan menggunakan Spirit Level pada jarak 00 mm. Kemudian, pengukuran ketegaklurusan dilakukan pada sumbu putar spindle sebanyak kali putaran dengan menggunakan alat ukur Dial Indikator dengan tingkat kecermatan 0.01 mm. Selanjutnya kesejajaran kepala lepas terhadap bed dengan jarak 00 mm, dan pengukuran kesejajaran sumbu spindle terhadap sumbu tailstock dengan panjang 600 mm dengan menggunakan test Mandrel. Setelah seluruh data hasil pengukuran di atas terkumpul, kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan menggunakan statistik (ANNOVA). 2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Sistem yang Digunakan derajat ketelitian yang dilaksanakan pada mesin bubut didasarkan pada test chart nomor 1 sampai untuk pemeriksaan mesin bubut. Test chart tersebut (pada lampiran 1) dimuat dalam buku Testing Machine Tools karangan Dr. Georg Schlesinger dan rekomendasi ISO dengan nomor 230 dan R 1708. Dengan demikian sistem pengukuran yang dipergunakan dalam pengukuran mesin tersebut di atas adalah sistem pengukuran yang sudah diakui oleh ISO (Organisasi Internasional untuk Standardisasi). 2.2 Metode penelitian Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam 1. baru bisa dilaksanakan apabila mesin sudah dalam keadaan level. Sebelum pengukuran dimulai harus cermat di level dengan menggunakan spirit level, karena keadaan level dari suatu mesin merupakan dasar untuk pengetesan-pengetesan selanjutnya. 2. Alat-alat bantu untuk pengukuran yang harus disediakan 3. Pengantian prosedur tes dengan metode yang setara jika alat-alat seperti terlihat pada test chart tidak ada, maka pengetesan tersebut diganti dengan metode lain yang setara. 4. mesin-mesin khusus. Bila akan melakukan pengukuran terhadap mesin-mesin khusus yang berbeda dengan mesin-mesin standar karenanya tidak tercakup di dalam test chart, maka harus dipergunakan prinsipprinsip pengetesan yang dapat dipertanggungjawabkan. 5. Perubahan toleransi dari suatu panjang reference. Dalam hal mesin-mesin yang akan diukur tersebut dari ukuran yang terkecil, maka sangat tidak praktis mendasarkan kesalahan dengan referensi seperti tercantum pada test chart yaitu 00 mm, 300 mm atau 0 mm. Sebagai contoh sebuah mesin bubut otomatis dengan panjang bed 65 mm, maka kesalahan yang diizinkan harus lebih kecil bila dihubungkan dengan referensi panjang seperti yang tercantum di dalam test chart dan bila hal ini dilakukan, hasilnya dibawah 0.01 mm. Hal ini tidak perlu bagi suatu mesin yang bukan dari jenis mesin bubut presisi. Karena itu besarnya toleransi ditentukan yaitu kira-kira 0.005 mm. 6. Pengetesan dilakukan hanya pada keadaan diam atau tidak terbebani. Bila mesin sedang bekerja, perubahanperubahan dan getaran akan timbul pada rangka dan bagian-bagian mesin. Dari hasil pengamatan pengukuran yang dilakukan bersama-sama dengan adanya 231

getaran sukar dilakukan karena alasanalasan sebagai berikut: a. Deformasi dari bed dan komponen yang lain dari mesin tidak mudah untuk diperhitungkan karena sangat komplek. b. Tegangan-tegangan dan deformasi yang disebabkan karena proses pemotongan pada sebuah mesin kecil dan mesin medium sangat kecil, sehingga sangat sulit diukur. 7. Mesin dites dalam keadaan utuh. Mesin yang dites harus dalam keadaan utuh, karena beberapa komponen dipasang dengan mempergunakan gayagaya dan fit sehingga untuk melucutinya juga diperlukan gaya-gaya. Suatu mesin yang dilucuti akan mempengaruhi kerja mesin disamping itu memakan waktu yang banyak dan mahal. 8. Pengetesan yang memakan waktu yang yang banyak tidak diulang dilakukan dan untuk ini diserahkan kepada pembuat mesin tersebut yang dapat diminta hasilhasilnya sebagai contoh ketelitian dari pada pitch leadscrew. 9. Untuk mengetes spindle (pemeriksaan ini mencakup pemeriksaaan atas bantalanbantalanya), sebaiknya mesin dijalankan terlebih dahulu minimal 30 menit sampai 60 menit, karena: a. Temperatur pemakaian sudah tercapai. b. Oli-oli sudah stabil temperaturnya sehingga deformasi-deformasi yang terjadi karena panas sudah maksimal. c. Bantalan-bantalan sudah berada pada posisi normal. 3. Hasil dan Pembahasan Pengujian pada mesin bubut merk Tong-Il pada arah longitudinal maupun arah transversal dilakukan untuk jarak 00 mm. Mesin yang digunakan objek dalam proses pengukuran tersebut disajikan pada Gambar 1. Gambar 1. kerataan pada bed 1. pada bed mesin bubut merk Tong- Il pada arah longitudinal. Berdasarkan hasil penelitian dengan 22 kali pengukuran pada jarak 00 mm, yang diperoleh dari hasil pengujian pada bed mesin bubut Tong-Il arah longitudinal yang ada diperusahan adalah sebagai berikut: a. bed A pada arah longitudinal. Adapun data hasil pengukuran pada bed arah longitudinal jarak 00 mm disajikan pada Tabel 4.1 sebagai berikut: Tabel 1. Data dari hasil pengukuran pada bed dengan jarak 00 mm mm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 1 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 22 22 23 2 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 22 22 23 22 00 3 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 22 22 21 22 22 22 23 4 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 21 22 22 5 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 22 22 21 22 22 22 23 6 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 21 22 22 21 22 22 22 22 232

nilai pengukuran 24 23 23 22 22 21 21 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 dengan jarak 00 mm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 Gambar 2. Penyebaran data hasil penyebaran data hasil pengukuran a. gerak kepala lepas terhadap eretan arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-Il. Tabel 2. gerak kepala lepas terhadap eretan arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-Il. (mm) Pengujian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 1 2 3 4 5 6 00 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 pengukuran dengan jarak 00 mm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Gambar 2. Penyebaran data hasil pengukuran gerak kepala lepas terhadap eretan arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-Il 233

nilai pengukuran b. wrok spindle centre point for true running pada mesin bubut merk Tong-Il Tabel 3. wrok spindle centre point for true running pada mesin bubut merk Tong-Il Titik Pengujian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 8 8 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 jarak pengukuran dengan titik 1 2 3 4 5 6 7 8 Gambar 3. Penyebaran data hasil pengukuran wrok spindle centre point for true running pada mesin bubut c. centering sleeve for true running pada mesin bubut merk Tong-Il. Ttitk 1 2 3 4 5 Tabel 4. centering sleeve for true running pada mesin bubut merk Tong-Il. Pengujian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 1 2 3 4 5 234

nilai pengukuran taper spindle nose nilai centering sleeve for true running 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 pengukuran dengan percobaan lima titik 1 2 3 4 5 Gambar 4. Penyebaran data hasil pengukuran centering sleeve for true Running pada mesin bubut merk Tong-Il. d. Taper wrok spindle nose pada mesin bubut merk Tong-Il. 300 Tabel 5. Taper wrok spindle nose pada mesin bubut merk Tong-Il. Pengujian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 40 41 40 41 41 42 41 41 41 41 2 41 41 41 41 41 41 41 41 42 42 3 41 41 41 41 41 41 41 41 43 41 4 41 41 43 41 41 41 41 41 41 41 5 41 40 40 41 41 41 41 42 41 41 6 41 41 41 41 41 41 41 41 41 43 43 42 41 40 39 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 pengukuran dengan jarak 300 mm Gambar 5. Penyebaran data hasil penyebaran data hasil pengukuran Taper wrok spindle nose e. kepararelan spindle terhadap bed arah vertikal dan horizontal pada mesin bubut merk Tong-Il. Tabel 6. kepararelan spindle terhadap bed arah vertikal dan horizontal pada mesin bubut merk Tong-Il Mm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 300 1 2 3 4 5 6 2 3 4 235

nilai pengukuran tailstock terhadap bed nilai pengukuran spindle 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 pengukuran dengan jarak 300 mm 1 2 3 4 5 Gambar 6. Data penyebaran hasil pengukuran kepararelan spindle terhadap bed arah vertikal dan horizontal pada mesin bubut merk Tong-Il f. kepararelan kepararelan tailstock terhadap bed arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-il Tabel 7. kepararelan kepararelan tailstock terhadap bed arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-Il jarak Tailstock sleeve pararel with bed in vertical plane 0,02 / 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 21 21 21 21 21 23 20 22 20 23 2 20 20 20 21 21 21 21 21 21 21 0 3 20 20 20 20 20 23 20 22 20 23 4 20 20 20 20 20 20 20 20 20 22 5 20 20 20 20 20 20 20 20 20 22 23 22 21 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 pengukuran dengan jarak 0 mm 1 2 3 4 5 Gambar 7. Penyebaran data hasil pengukuran kepararelan kepararelan tailstock terhadap bed arah vertikal pada mesin bubut merk Tong-Il g. kesejajaran sumbu spindle terhadap sumbu tailstock terhadap bed pada mesin bubut merk Tong-Il. Mm 600 Tabel 8. kesejajaran sumbu spindle terhadap sumbu tailstock terhadap bed pada mesin bubut merk Tong-Il. Pewngujian 1 2 3 4 Jumlah (x -2 ) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 236

nilai pengukuran spindle terhadap tailstock 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 15 16 17 18 19 20 21 22 pengukuran dengan jarak 600 mm 1 2 3 4 5 Gambar 8. Penyebaran data hasil pengukuran kesejajaran sumbu spindle terhadap sumbu tailstock terhadap bed pada mesin bubut merk Tong-Il. 4. Kesimpulan Pengujian yang dilakukan pada lima komponen gerak dari mesin perkakas bubut yang diperusahan, meliputi kerataan pada bed, putaran spindle, kesejajaran gerak kepala lepas terhadap bed, pengukuran kesejajaran gerak pindah kepala lepas relatif terhadap gerak pindah eretan, pengukuran ketelitian spindel utama, pengukuran kesejajaran sumbu peluncur luar kepala lepas terhadap gerak eretan dan ketelitian poros pembawa karena keming pada bantalan tekan. Pengu-kuran dari kelima jenis pengujian yang dapat dilakukan disebabkan keterbatasan alat bantu ukur yang dapat menunjang pelaksanaan pengukuran lainnya. Dari hasil pengukuran dari kelima jenis pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa mesin bubut yang ada pada perusahaan layak digunakan, dengan kata lain memiliki kemampuan dan keandalan untuk menghasilkan produk atau benda kerja dengan ketelitian tinggi. 5. Referensi - Arifin, S. 1993, Alat Ukur dan Mesin Perkakas. Ghalia Indonesia, Jakarta - Bagiasna, K. 2000, Pengantar Pengetesan Ketelitian Geometrik Mesin Perkakas. Teknik Produksi Mesin Institut Teknologi Bandung. - Budianto, N. 2008. Ketelitian Geometri Mesin Bubut Harrison 600 Bekas Pakai di Laboratorium Manufaktur Jurusan Teknik Mesin Unsrat, Skripsi Program S1 Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, Manado. - Priambodo, B. 1981. Teknologi Mekanik, Erlangga Jakarta - Poeng, R. 2004, Laporan Praktikum Pengetesan Mesin Perkakas. Teknik Produksi Mesin Institut Teknologi Bandung. - Rochim, T. 1985. Proses Pemesinan, Laboratorium Teknik Produksi Mesin Institut Teknologi Bandung. - Tolosi, K. 20, Analisis Ketelitian Geometrik Mesin Frais Horisontal Kuzman UF6N di Laboratorium Manufaktur Teknik Mesin Unsrat, Skripsi Program S1 Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, Manado. - Schlesinger George, 1986, Testing Machine Tools. 237