Problem Pelaksanaan dan Penanganan

dokumen-dokumen yang mirip
MAKALAH HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Oleh: Ifdhal Kasim Ketua Komnas HAM RI, Jakarta

Hak Atas Standar Penghidupan Layak dalam Perspektif HAM. Sri Palupi Peneliti Institute for Ecosoc Rights

PENANAMAN MODAL ECOLINE SITUMORANG

Makalah. WORKSHOP Memperkuat Justisiabilitas Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya : Prospek dan Tantangan. Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya

Access to justice exists if: People, notably poor and vulnerable, Suffering from injustices Have the ability

ATAU BERKEPERCAYAAN. Nicola Colbran Norwegian Centre for Human Rights. Disampaikan dalam acara Workshop Memperkuat

HAK ATAS PENDIDIKAN. Materi Perkuliahan HUKUM & HAM (Tematik ke-3)

MENEGAKKAN KEDAULATAN INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEPULAUAN MENUJU NEGARA MARITIM YANG BERMARTABAT (KOMISI KEAMANAN) (Forum Rektor Indonesia 2015)

Makalah. WORKSHOP Memperkuat Justisiabilitas Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya : Prospek dan Tantangan

KOMENTAR UMUM 9 Pelaksanaan Kovenan di Dalam Negeri 1

Komitmen Dan Kebersamaan Untuk Memperjuangkan Hak Asasi Manusia diselenggarakan oleh Pusham UII bekerjasama dengan

Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan

MAKALAH HAK SIPOL & HAK EKOSOB. Oleh: Ifdhal Kasim Ketua Komnas HAM RI, Jakarta

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

IKHTISAR EKSEKUTIF. Ikhtisar Eksekutif

HAM DAN PERLINDUNGAN HAK KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN. Oleh: Johan Avie, S.H.

HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA

ANGGOTA DPRD. Pembekalan Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar MEP-UGM, 5 September Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP

PUSANEV_BPHN KEBIJAKAN ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Lembaga Akademik dan Advokasi Kebijakan dalam Perlindungan Perempuan dari Kekerasan Berbasis Gender Margaretha Hanita

I. PENDAHULUAN. membentuk sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas. Menurut

Perumusan Masalah Dalam Analisis Kebijakan : Lanjutan

Otda & Wawan Mas udi JPP Fisipol UGM. Disampaikan pada acara WORKSHOP Penyusunan Buku Kelompok Rentan, yang diselenggarakan oleh Pusham UII

Hak atas Informasi dalam Bingkai HAM

IKHTISAR EKSEKUTIF. Pencapaian kinerja sasaran Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Tahun 2015 dapat digambarkan sebagai berikut : iii

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Demokrasi Berbasis HAM

BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I PENDAHULUAN. politik sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan penetapan

BAB I PENDAHULUAN. Ateh (2016) dalam artikelnya mengungkapkan, pernah menyampaikan bahwa ada yang salah dengan sistem perencanaan dan

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

BAB I PENDAHULUAN. MDGs lainnya, seperti angka kematian anak dan akses terhadap pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat perkembangan pembangunan

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

UNSUR-UNSUR S TANGGUNG GJAWAB A KOMANDAN

RANGKUMAN HASIL KONFERENSI

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang

Sejarah AusAID di Indonesia

RENSTRA DINAS KETAHANAN PANGAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Advokasi Anggaran. berbasis HAK Anak : Langkah DEMI Langkah. Penulis : Antarini Arna Adzkar Ahsinin. Editor: Dian Kartika Sari

2017, No Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

Prinsip Dasar Peran Pengacara

KEGIATAN ANALIS KETAHANAN PANGAN BIDANG CADANGAN PANGAN. Oleh: Dr. Ardi Jayawinata,MA.Sc Kepala Bidang Cadangan Pangan

1. Kita tentu sama-sama memahami bahwa pangan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia, oleh sebab itu tuntutan pemenuhan pangan

Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2015 TANGGAL 22 JUNI 2015 RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA TAHUN BAB I

2012, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran

Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

V. SIMPULAN DAN SARAN. 1. Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Kementerian melaksanakan kebijakan

Oleh : Arief Setyadi. Persyaratan Gender dalam Program Compact

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai bidang memerlukan tenaga yang berkualitas, yaitu manusia yang dapat. kualitas sumber daya manusia yang tinggi pula..


BAB V VISI, MISI DAN TUJUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN SOLOK TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang

Konsep dan Implementasi Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan: Upaya Mendorong Terpenuhinya Hak Rakyat Atas Pangan

PENANGANAN KEDARURATAN BENCANA AKIBAT LIMBAH B3. Oleh : Yus Rizal (BNPB)

3.4. AKUTABILITAS ANGGARAN

RENSTRA BADAN KETAHANAN PANGAN BAB I PENDAHULUAN

seperti Organisasi Pangan se-dunia (FAO) juga beberapa kali mengingatkan akan dilakukan pemerintah di sektor pangan terutama beras, seperti investasi

MAKALAH. Kelompok Rentan, HAM & Tanggungjawab Polisi. Oleh: M. Syafi ie, S.H. PUSHAM UII Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Acuan Kebijakan

PENDAHULUAN. Latar Belakang

KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI & KEWENANGAN MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK UU NO. 39 TAHUN 2008 TENTANG KEMENTERIAN NEGARA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

HAK AKSES INFORMASI PUBLIK. Oleh: Mahyudin Yusdar

Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi di Internet

UNSUR-UNSUR KEJAHATAN GENOSIDA

KATA PENGANTAR. Salam Sejahtera,

Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MENYUSUN INDIKATOR YANG BERPERSPEKTIF GENDER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 01 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN. sudah ada sejak dahulu, namun jenis dan karakternya selalu berubah.

Demokrasi Sebagai Kerangka Kerja Hak Asasi Manusia

Ifdhal Kasim. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

Transkripsi:

Problem Pelaksanaan dan Penanganan Pelanggaran Hak Atas Pangan Sri Palupi Institute t for Ecosoc Rights Disampaikan dalam acara Workshop Memperkuat Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya: Prospek dan Tantangan, diselenggarakan oleh Pusat Studi HAM UII, bekerjasama dengan NCHR University of Oslo Norway, di Yogyakarta, 13-15 15 Nopember 2007.

Hak Atas Pangan Sebagai bagian dari hak atas standar kehidupan yang layak, hak atas pangan menjadi indikator apakah masyarakat hidup dengan martabat yg paling dasar. Dengan hak atas pangan berarti: setiap orang memiliki hak bukan hanya atas pangan yang diperlukan sekedar utk bertahan hidup, tetapi juga atas pangan dengan kualitas dan kuantitas yg memadai utk hidup secara lebih bermartabat Pemenuhan hak atas pangan berarti: 1) tersedianya pangan, 2. terpenuhinya kebutuhan akan gizi, 3. terbebasnya pangan dari bahan berbahaya, 4. dapat diterimanya pangan secara kultural, pangan dapat diakses secara fisik dan ekonomi Hak atas pangan menuntut tanggung jawab pemerintah untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi

Kondisi Hak Atas Pangan di Indonesia Potret pelanggaran hak atas pangan: 60% penduduk miskin mengalami rawan pangan; jumlah balita penderita gizi buruk meningkat dari 1,67 juta di tahun 2005 menjadi 2,3 juta di tahun 2006; setiap jam 24 balita Indonesia meninggal, 54% karena gizi buruk; 20-40% anak balita di 72% kabupaten menderita kurang gizi Tingginya i anak balita penderita gizi i buruk-busung b lapar dilatarbelakangi l i oleh beragam faktor yg ada di tingkat rumahtangga, komunitas, dan kebijakan publik. Pemerintah gagal dalam memenuhi hak atas pangan. Hak atas pangan di Indonesia dijamin oleh konstitusi dan dijabarkan dalam UU No. 7/1996 tentang Pangan dan PP No. 28/2002 tentang Ketahanan Pangan Kelemahan UU No.7/1996: terfokus pada ketersediaan pangan murah dan mutu pangan, namun mengabaikan dimensi keadilan dan penanggulangan kemiskinan sebagai bagian dari pengakuan hak atas pangan. UU tsb lebih banyak mengatur soal-soal yg terkait dengan industri dan perdagangan pangan, sementara kepentingan masyarakat miskin akan jaminan sosial dan kepentingan petani akan lahan dan keadilan/kehidulan yg layak kurang diperhitungkan --- Padahal hak atas pangan terkait dengan kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pemenuhan hak petani atas lahan/reforma agraria (Pasal 11 Kovenan)

Kendala Pelaksanaan Hak Atas Pangan 1) Hak atas pangan masih dipandang d sbg hak yg tidak justiciable. i Pemenuhannya bertahap, mekanisme monitoring di tingkat internasional lemah, belum ada mekanisme pengaduan terhadap pelanggaran. Interpretasi legal atas penerapan dan penanganan pelanggaran lemah 2) Hak atas pangan adalah hak asasi yg paling sulit dan kompleks. (Fakta kelaparan, problem aktor penanggung jawab, sifat pangan, perdebatan ideologis) i 3) Melemahnya peran pemerintah dan menguatnya peran korporasi dan lembaga internasional, membuat tidak jelas siapa aktor yg bertanggung jawab 4) Pemenuhan hak atas pangan yg terkait erat dengan kebijakan penanggulangan kemiskinan dan hak petani atas tanah/reforma agraria, menuntut perubahan mendasar dalam kebijakan pembangunan 5) Lemahnya pemahaman aparat pemerintah akan hak asasi, khususnya hak ekosob

Orientasi Kebijakan Pembangunan Lebih banyak memberi ruang bagi pemodal besar dan mengorbankan hak-hak dasar kelompok miskin Berdimensi tunggal (ekonomi), yg berdampak pada kerusakan alam dan berakibat pada bencana yg terus menerus Kebijakan pembangunan daerah berorientasi peningkatan PAD dan kurang berpihak pada yg miskin Kebijakan alokasi anggaran yg pelit utk yg miskin, royal utk birokrat dan boros utk bayar hutang

Apa yang Bisa Dilakukan Tantangan pemenuhan hak atas pangan adalah bagaimana dapat mewujudkan perlindungan efektif terhadap hak atas pangan, baik melalui mekanisme legal atau mekanisme lain. Adanya mekanisme legal belum tentu menjamin pelaksanaan hak atas pangan. Namun adanya mekanisme legal dapat mendorong pemerintah untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam melaksanakan menghormati, melindungi dan memenuhi e hak Perlu mengupayakan langkah legislasi di tingkat nasional untuk membuat hak atas pangan menjadi semakin justiciable --- mendorong adanya strategi pelaksanaan hak atas pangan yg dituangkan dalam kerangka hukum

Substansi Legislasi Pelaksanaan Hak Atas Pangan Prinsip umum ttg hak atas pangan dan tanggung g jawab utk menghormati, melindungi dan memenuhi Identifikasi pembentukan institusi dan definisi peran, tanggung jawab dan otoritasnya Benchmarks yg hendak dicapai Agenda reformasi legislatif dan administratif, dan identifikasi area Peran dan tanggung jawab aktor di tingkat regional, nasional dan lokal Mekanisme partisipasi civil society, khususnya yg berada di lokasi rawan pangan Prinsip2 i pengaturan perdagangan, termasuk pajak dan tarif Perlindungan konsumen

Substansi Legislasi Pelaksanaan Hak Atas Pangan Monitoring pasar dan intervensinya Identifikasi individu dan kelompok rentan yang perlu dibantu Hak-hak individual Skema pengadaan pangan Penyusunan sistem pencadangan pangan Kaitannya dengan strategi penanggulangan kemiskinan Peran monitoring i oleh lembaga hak asasi dan parlemen (kelembagaan monitoring) Peranan pengadilan terkait dengan kasus Gugatan individu dan kelompok: apa yg dapat dituntut di pengadilan