PENGENALAN TIPE SUARA JANTUNG DENGAN METODE BACKPROPAGATION

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

ANALISA DAN PENGENALAN SUARA JANTUNG MENGGUNAKAN WAVELET DAN JST DALAM MENGKLASIFIKASIKAN JENIS KELAINAN KATUP JANTUNG PADA MANUSIA

T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX

BAB IV PEMBAHASAN. A. Hasil Model Radial Basis Function Neural Network (RBFNN) Langkah-langkah untuk menentukan model terbaik Radial Basis Function

KLASIFIKASI KELAINAN JANTUNG ANAK MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN ALGORITMA BACKPROPAGATION A B S T R A K

PREDIKSI PENDAPATAN ASLI DAERAH KALIMANTAN BARAT MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI CURAH HUJAN SUMATERA UTARA DENGAN METODE BACK PROPAGATION (STUDI KASUS : BMKG MEDAN)

ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TEKNIK PERAMALAN - A

VOL. 01 NO. 02 [JURNAL ILMIAH BINARY] ISSN :

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB III METODE PENELITIAN. Pemotong an Suara. Convert. .mp3 to.wav Audacity. Audacity. Gambar 3.1 Blok Diagram Penelitian

BAB II. Penelitian dengan jaringan syaraf tiruan propagasi balik. dalam bidang kesehatan sebelumnya pernah dilakukan oleh

ANALISIS PENAMBAHAN MOMENTUM PADA PROSES PREDIKSI CURAH HUJAN KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB III METODE PENELITIAN. Alam Universitas Lampung pada bulan Februari 2014 sampai Mei 2014.

KLASIFIKASI ARITMIA EKG MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN FUNGSI AKTIVASI ADAPTIF

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI PENYAKIT SALURAN PERNAFASAN DENGAN METODE BACKPROPAGATION

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

BAB III METODE PENELITIAN

PENGENALAN KARAKTER ALFANUMERIK MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGARATION

UNIVERSITAS INDONESIA PENDETEKSI SISTEM PENGENALAN PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Anatomi Jantung

SIMULASI PENGENALAN KELAINAN JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

BAB II LANDASAN TEORI

SIMULASI PENGENALAN KELAINAN JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN SKRIPSI

APLIKASI JARINGAN SARAF TIRUAN UNTUK INVENTARISASI LUAS SUMBER DAYA ALAM STUDI KASUS PULAU PARI

ANALISIS ALGORITMA INISIALISASI NGUYEN-WIDROW PADA PROSES PREDIKSI CURAH HUJAN KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. untuk pengguna interface, membutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak.

Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

Presentasi Tugas Akhir

ABSTRAK. Pemodelan Kecerdasan Buatan Untuk Pengenalan Citra Elektrokardiografi (EKG) Oleh: Imam Tazi, M.Si

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. perangkat. Alat dan bahan yang digunakan sebelum pengujian:

BAB III PEMBAHASAN. A. Arsitektur dan Model Fuzzy Neural Network untuk Klasifikasi Stadium

JARINGAN SARAF TIRUAN DENGAN BACKPROPAGATION UNTUK MENDETEKSI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi,

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER FEEDFORWARD DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI NILAI KURS JUAL SGD-IDR

PERANCANGAN SISTEM PENGENALAN DAN PENYORTIRAN KARTU POS BERDASARKAN KODE POS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. dan mengembalikannya kembali ke jantung (Taylor, 2010). Jantung terdiri dari

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA) IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK MENGENALI MOTIF BATIK

Jaringan Syaraf Tiruan pada Robot

NEURAL NETWORK BAB II

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman

ALGORITMA BACK PROPAGATION NEURAL NETWORK UNTUK PENGENALAN POLA KARAKTER HURUF JAWA

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT

KLASIFIKASI POLA HURUF VOKAL DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN BACKPROPAGATION. Dhita Azzahra Pancorowati

PENENTUAN MODEL RETURN HARGA SAHAM DENGAN MULTI LAYER FEED FORWARD NEURAL NETWORK MENGGUNAKAN ALGORITMA RESILENT BACKPROPAGATION

PERBANDINGAN ANTARA MODEL NEURAL NETWORK DAN MODEL DUANE UNTUK EVALUASI KETEPATAN PREDIKSI WAKTU KERUSAKAN SUATU KOMPONEN

BAB III METODE PENELITIAN

Analisa Suara Jantung Normal Menggunakan Discrete Wavelet Transform (DWT) dan Fast Fourier Transform (FFT)

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM

Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation dan Steepest Descent untuk Prediksi Data Time Series

JARINGAN SYARAF TIRUAN PREDIKSI PENYAKIT LUDWIG ANGINA

ABSTRACT. Kata kunci: Fuzzy Tsukamoto, Jaringan Syaraf Tiruan, Backpropagation 1. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS PENAMBAHAN NILAI MOMENTUM PADA PREDIKSI PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. ke seluruh tubuh. Jantung bekerja non-stop selama kita hidup. Karena itu,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6

ANALISIS PERBANDINGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN REGRESI LINEAR BERGANDA PADA PRAKIRAAN CUACA

PENGEMBANGAN STETOSKOP ELEKTRONIK DAN SOFTWARE ANALISIS AUSKULTASI

Jurnal Coding, Sistem Komputer Untan Volume 04, No.2 (2016), hal ISSN : x

Seminar Nasional Ilmu Komputer (SNIK 2016) - Semarang, 10 Oktober 2016 ISBN:

PENERAPAN TEKNIK JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA BACKPROPAGATION UNTUK PERAMALAN HARGA SAHAM Putra Christian Adyanto

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MENGENALI TULISAN TANGAN HURUF A, B, C, DAN D PADA JAWABAN SOAL PILIHAN GANDA

Muhammad Fahrizal. Mahasiswa Teknik Informatika STMIK Budi Darma Jl. Sisingamangaraja No. 338 Simpanglimun Medan

BAB 4 DISAIN MODEL. Pengguna. Citra. Ekstraksi Ciri x. Antar muka (Interface) Data Hasil Ekstraksi Ciri. Testing dan Identifikasi.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bunyi Jantung I (BJ I)

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI VOLUME PEMAKAIAN AIR BERSIH DI KOTA PONTIANAK

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

BAB II DASAR TEORI Jaringan Syaraf Tiruan. Universitas Sumatera Utara

Metode Jaringan Saraf Tiruan Propagasi Balik Untuk Estimasi Curah Hujan Bulanan di Ketapang Kalimantan Barat

EKSPRESI EMOSI MARAH BAHASA ACEH MENGGUNAKAN ALGORITMA PERCEPTRON

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI PENJUALAN HANDPHONE DENGAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION (Studi Kasus : CV.

METODOLOGI PENELITIAN

ANALISA JARINGAN SARAF TIRUAN DENGAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MENGETAHUI LOYALITAS KARYAWAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Klasifikasi Pola Huruf Vokal dengan Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER PERCEPTRON PADA APLIKASI PRAKIRAAN CUACA

EKSTRAKSI CIRI PADA ISYARAT SUARA JANTUNG MENGGUNAKAN POWER SPECTRAL DENSITY BERBASIS METODE WELCH

Estimasi Suhu Udara Bulanan Kota Pontianak Berdasarkan Metode Jaringan Syaraf Tiruan

SIMULASI DAN ANALISIS FILTER ADAPTIF UNTUK REDUKSI SUARA JANTUNG DARI REKAMAN SUARA PERUT MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS)

BAB I PENDAHULUAN. darah. Penyakit Jantung (cardiovascular disease) adalah setiap kondisi yang

ANALISIS FUNGSI AKTIVASI SIGMOID BINER DAN SIGMOID BIPOLAR DALAM ALGORITMA BACKPROPAGATION PADA PREDIKSI KEMAMPUAN SISWA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

PENGENALAN TIPE SUARA JANTUNG DENGAN METODE BACKPROPAGATION Irmalia Suryani Faradisa Teknik Elektro, ITN Malang irmaliaf@yahoo.com ABSTRAK Salah satu cara yang digunakan dokter untuk mendiagnosis penyakit jantung adalah dengan mendengarkan suara jantung dengan stetoskop. Teknik ini dikenal dengan teknik auskultasi. Suara jantung yang dihasilkan pada beberapa kasus penyakit jantung menunjukkan adanya pola tertentu yang bisa dikenali. Pola suara ini dapat diambil sebagai bahan untuk menentukan diagnosis. Masalah yang timbul adalah suara jantung menempati frekuensi yang cukup rendah yaitu sekitar 20 400 Hz, amplitudo yang rendah masalah kebisingan lingkungan, kepekaan telinga dan pola suara yang mirip antara jenis suara jantung yang satu dengan yang lain. Karena faktor-faktor di atas tersebut kesalahan diagnosis bisa terjadi apabila prosedur auskultasi tidak dilakukan dengan benar. Data didapatkan dari situs internet. Pada penelitian ini dibahas cara menganalisis isyarat suara jantung dengan menggunakan metode artifical neural network.dengan metode ini Sensitivitas yang dicapai > 0.8 sedangkan spesifisitas > 0.75 sedang untuk ketelitian yang dicapai untuk perangkat lebih dari 80%. Kata-kata kunci: suara jantung, murmur, artificial neural network 1. Pendahuluan Suara adalah suatu instrumen yang dapat digunakan untuk mendiagnosis banyak hal salah satunya dalam kesehatan untuk mendiagnosis organ internal. Beberapa organ internal dapat menimbulkan suara seperti jantung, paru-paru, otot, dan perut. HaI ini bisa terjadi karena posisi, gerak dan kondisi objek dapat dipahami dari tekanan suara, interval suara dan warna suara. Untuk mendengarkan dan mengenali suara yang ditimbulkan oleh organ tubuh, seorang dokter cukup menggunakan stetoskop. Suatu diagnosis melalui suara yang ditimbulkan oleh organ tubuh dikenal dengan sebutan teknik auskultasi. Dalam penelitian ini yang akan dianalisis adalah sinyal yang dihasilkan dari suara jantung. Seperti diketahui bahwa suara yang dihasilkan oleh jantung baik suara jantung normal ataupun suara jantung abnormal berada pada frekuensi disaat telinga relatif tidak sensitif yaitu di bawah 500 Hz. Suara jantung yang didengar oleh dokter dengan menggunakan stetoskop sebenarnya terjadi pada saat penutupan katup jantung. Jantung abnormal memperdengarkan suara tambahan yang disebut murmur, yang disebabkan oleh pembukaan katup yang tidak sempurna (stenosis) dan penutupan katup yang tidak sempurna (regurgitasi), Stenosis mengakibatkan darah dipaksa melewati bukaan yang sempit sedangkan regurgitasi mengakibatkan aliran balik darah. Dalam masing masing kasus suara yang timbul adalah akibat aliran darah melewati bukaan sempit dengan kecepatan tinggi. Ada perbedaan rentang frekuensi antara suara jantung normal (Sl dan S2) dan abnormal (murmur). Suara jantung S1 terdiri terutama atas energi dalam rentang frekuensi 30 hingga 45 Hz, yang sebagian A- 2 besar berada di bawah ambang dengar. Suara jantung S2 biasanya memiliki nada yang lebih tinggi dengan energi maksimum berada dalam rentang 50 hingga 70 Hz sedangkan murmur sering menghasilkan suara dengan nada yang jauh lebih tinggi. Suatu murmur regurgitasi menghasilkan suara dengan frekuensi 100 hingga 600 Hz dan bahkan untuk jenis murmur tertentu mempunyai frekuensi hingga 1000 Hz. Dari sifat-sifat yang ada dari tiap kondisi suara jantung, dicoba untuk mendapatkan ciri khas dari tiap suara jantung. Diharapkan ciri atau pola yang berhasil didapat dapat membedakan jenis suara jantung pada kasus yang satu dengan kasus yang lain. 2. Jantung Detak jantung menghasilkan suara yang berbeda yang dapat didengarkan pada stetoskop, yang sering dinyatakan dengan lub-dub. Suara lub disebabkan oleh penutupan katup atrioventrikular (tricuspid dan mitral) yang mengalirkan darah dari atria ke ventricle dan mencegah aliran balik (Gambar 1). Gambar 1 Ruang dan Katup Jantung Umumnya hal ini disebut suara jantung pertama (S1l), yang terjadi hampir bersamaan

dengan timbulnya kompleks QRS elektrokardiogram (EKG) dan terjadi sebelum systole (periode kontraksi jantung) (Gambar 2). Suara dub disebut suara jantung kedua (S2) dan disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aortic dan pulmonary ) yang mengalirkan darah ke system sirkulasi sistemik dan paru. Katup ini tertutup pada akhir systole dan sebelum katup atrioventrikular membuka kembali, Suara S2 ini terjadi hampir bersamaan dengan akhir gelombang T elektrokardiogram. Gambar 2 Relasi EKG dan Suara Jantung [4] Jantung abnormal memperdengarkan suara tambahan yang disebut murmur, murmur disebabkan oleh pembukaan katup yang tidak sempurna (stenosis) dan penutupan katup yang tidak sempurna (regurgitasi), Stenosis mengakibatkan darah dipaksa melewati bukaan yang sempit sedangkan regurgitasi mengakibatkan aliran balik darah.. Dalam masing masing kasus suara yang timbul adalah akibat aliran darah melewati bukaan sempit dengan kecepatan tinggi. Penyebab lain terjadinya murmur adalah adanya kebocoran septum yang memisahkan jantung bagian kiri dan kanan sehingga darah mengalir dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan. Hal ini mengakibatkan penyimpangan sirkulasi sistemik. Gambar 3 menunjukkan ragam gelombang suara jantung normal dan beberapa jenis murrnur. Gambar 3 Ragam Gelombang Suara Jantung Normal dan Abnormal Ada perbedaan rentang frekuensi antara suara jantung normal (Sl dan S2) dan abnormal (murmur). Suara jantung S1 terdiri terutama atas energi dalam rentang frekuensi 30 hingga 45 Hz, yang sebagian besar berada di bawah ambang dengar. Suara jantung S2 biasanya memiliki nada yang lebih tinggi dengan energi maksimum berada dalam rentang 50 hingga 70 Hz sedangkan mumur sering menghasilkan suara dengan nada yang jauh lebih tinggi. Suatu murmur regurgitasi menghasilkan suara dengan frekuensi 100 hingga 600 Hz dan bahkan untuk jenis murmur tertentu mempunyai frekuensi hingga 1000 Hz [2]. A-3 3. Konversi Sinyal Kontinyu ke Diskrit Sinyal auskultasi bentuk kontinyu. harus dikonversi dengan proses sampling. Dalam proses sampling bisa terjadi distorsi, juga terbatasnya lebar pita. Untuk mengatasi maka sinyal sampling harus mempunyai frekuensi tinggi dengan memenuhi kondisi berikut : Seluruh sistem melibatkan komputer digital untuk memproses sinyal pada sistem waktu diskrit. Yang pertama sinyal harus dikodekan dalam bilangan biner. Menggunakan transformasi Laplace dapat menyederhanakan manipulasi dari sistem kontinyu. Cara yang lain adalah dengan transformasi Z. 4. Teori Perancangan Filter Digital Filter digital orde empat secara matematis dapat diimplementasikan dalam dua cara yang berbeda, yaitu (Wood. J.W.W.; 2002): Dan Ada tiga tipe utama pendekatan tanggapan filter digital, yaitu; Butterworth, Chebyshev (2 versi), dan eliptik 5. Metoda Backpropagation Backpropagation merupakan algoritma pembelajaran yang terawasi dan biasanya digunakan oleh perceptron dengan banyak lapisan untuk mengubah bobot-bobot yang terhubung dengan neuron-neuran yang ada-pada lapisan tersembunyinya. Algoritma backpropagation menggunakan error output untuk mengubah nilai bobot-bobotnya dalam arah mundur (backward). Untuk memanfaatkan error ini, tahap perambatan maju (forward propagation) harus dikerjakan terlebih dahulu. Pada saat perambatan maju, neuronneuron diaktifkan dengan menggunakan fungsi aktivasi yang dapat dideferensiasilkan,seperti sigmoid: Arsitektur jaringan backpropagation seperti terlihat pada Gambar 4. Fungsi aktivasi yang digunakan, antara lapisan input dan lapisan tersembunyi, dan antara lapisan tersembunyi dengan lapisan output adalah fungsi aktivasi logsig.

Gambar 4 Arsitektur jaringan backpropagation Algoritma Backpropagation: Inisialisasi bobot (ambil bobot awal dengan nilai random yang cukup kecil) Tetapkan: Maksimum Epoh, Target Error, dan Learning Rate(α). Inisialisasi: Epoh = 0, MSE = 1. Kerjakan langkah-langkah berikut selama (Epoh < Maksimum Epoh) dan (MSE > Target Error): 1. Epoh = Epoh + 1 2. Untuk tiap-tiap pasangan elemen yang akan dilakukan pembelajaran, kerjakan: Fedforward : a. Tiap-tiap unit input (Xi, i=1,2,3,...,n) menerima sinyal xi dan meneruskan sinyal tersebut ke semua unit pada lapisan yang ada di atasnya (lapisan tersembunyi). b. Tiap-tiap unit pada suatu lapisan tersembunyi (Zi,j=1,2,3,..,p) menjumlahkan sinyal-sinyal input terbobot: (1) gunakan fungsi aktivasi untuk menghitung sinyal outputnya: (2) dan kirimkan sinyal tersebut ke semua unit diatasnya (unit-unit output). c. Tiap-tiap unit output (Yk, k=1,2,3,...,m) menjumlahkan sinyal-sinyal input terbobot. (3) gunakan fungsi aktivasi untuk menghitung sinyal outputnya: (4) dan kirimkan sinyal tersebut ke semua unit di lapisan atasnya (unit-unit output). Catatan: Langkah (b) dilakukan sebanyak jumlah lapisan tersembunyi. Backpropagation d. Tiap-tiap unit output (Yk, k=1,2,3,..,m) menerima target pola yang berhubungan dengan pola input pembelajaran, hitung informasii erromya: kemudian hitung koreksi bobot (yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki nilai wjk): hitung juga koreksi bias (yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki nilai b2k). Langkah (d) ini juga dilakukan sebanyak jumlah lapisan tersembunyi, yaitu menghitung informasi error dari suatu lapisan tersembunyi ke lapisan tersembunyi sebelumnya. e. Tiap-tiap unit tersembunyi (zj,j=l,2,3,,p) menjumlahkan delta inputnya (dari unit-unit yang berada pada lapisan di atasnya),kalikan nilai ini dengan turunan dari fungsi untuk menghitung informasi error,kemudian hitung koreksi bobot (yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki nilai vij),hitung juga koreksi bias (yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki nilai b1j): f. Tiap-tiap unit ouput (Yk, k=1,2,3,...,m) memperbaiki bias dan bobotny a (j=0,1,2,...,p): Tiap-tiap unit tersembunyi (Zj=1,2,3,...,p) memperbaiki bias dan bobotnya (i=0,1.,2,...,n). 3. Hitung MSE. 6. Kerangka Pemikiran Di dalam penelitian ini akan dirancang suatu sistem Komputer yang dapat mengidentifikasi suara jantung normal atau tidak normal. Data berupa Heart sounds yang diambil dari beberapa sumber diinternet diidentifikasikan dengan cara data yang terekam dalam bentuk *.wav, dan frekuensi sampling 8000 Hz data ini dipotong-potong dengan durasi 1-1.8 detik. Kerangka konsep pemikiran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5 Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV Raw Data Filtering Sinyal Transform to Frequency Domain Normalize + Scale Neural Network Berupa Sinyal Software Filter Transformasi Fourier Skala,, Amplitudo, Backpropagation, Gambar 5 Kerangka Konsep Pemikiran 7. Pengamatan Peubah dan Analisis Dengan menerapkan teori backpropagation, data yang telah diketahui sebagai normal atau abnormal dengan 9 keadaan dan telah ditentukan titik awal dan titik akhirnya, digunakan sebagai pembelajaran. Hasilnya diuji-cobakan pada gelombang masukan yang lain. Sehingga diperoleh A- 4

keluaran berupa keputusan, yaitu tergolong normal atau abnormal dengan 9 keadaan ataupun tidak pada 10 keadaan tersebut. Secara rinci, pembahasan meliputi Filtering Canceling waktu dalam gelombang heartsounds Identifikasi gelombang heartsounds dengan metode backpropagation Tampilan keluaran 8. Metode Rekayasa Perangkat Lunak Metode yang digunakan untuk membahas dan menguji data dalam penelitian ini adalah rekayasa perangkat lunak, yaitu dengan merancang perangkat lunak Analisis Isyarat Suara Jantung dengan Neural Network. Adapun flowchart untuk sistem tersebut adalah seperti pada gambar 6 Mulai Gambar 7 Plot Sinyal dan Spektrum Frekuensi Mitral Stenosis Gambar 8 Plot Sinyal dan Spektrum Frekuensi Ventrikel Septum Defek Pengenalan Sinyal Proses pembelajaran Ya Tidak Proses Uji data Proses pembelajaran Data base pembelajaran Iterasi Proses Pengenalan End Gambar 6 Flowchat Sistem Pengenalan Sinyal Suara Jantung 9. Plot Sinyal Apabila didengarkan secara manual, kesembilan jenis data tidak dapat dibedakan dengan mudah apabila tidak didengarkan oleh ahlinya untuk itu dibuat plot sinyal dan dilihat spektrum frekuensinya. Gambar 9 Plot Sinyal dan Spektrum Frekuensi Holosystolic Murmur Gambar 10 Plot Sinyal dan Spektrum Frekuensi Aorta Regurgitation 10. Proses Neural Network Jaringan syaraf ini terdiri dari lapisan input, 2 lapisan tersembunyi, dan lapisan output. Lapisan A-5

input terdiri atas 4 neuron. Lapisan tersembunyi utama pertama terdiri atas 10 neuron dengan fungsi aktivasi tansig, sedangkan lapisan tersembunyi kedua terdiri atas 5 neuron dengan fungsi aktivasi logsig. Lapisan output terdiri dari 1 neuron dengan fungsi aktivasi purelin. Sebelum jaringan dibangun, terlebih dahulu dilakukan preprosesing untuk melakukan normalisasi menggunakan mean dan deviasi standart. Kemudian dibangun jaringan syaraf dengan metode pembelajaran gradien descent dengan momentum (traingdm) Tentukan bobot awal dan Sebelum dilakukan pelatihan, kita tetapkan parameter terlebih dahulu parameter-parameter yang digunakan sebagai berikut: net.trainparam.epochs = 4000; net.trainparam.goal = 0.001; net.trainparam.ir = 0.5; net.trainparam.show = 200; trainparam.mc = 0.8; Setelah melakukan proses pelatihan beberapa kali maka akan didapatkan grafik korelasi seperti dibawah ini. Gambar 11 Hubungan antara target dengan ouput jaringan untuk data pelatihan Setelah melakukan proses seperti diatas untuk tiap-tiap suara jantung maka dihasilkan korelasi pada setiap kasus jantung seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini. Untuk setiap data jantung dicari pula nilai akurasinya dengan memberikan data cek pada setiap kasus suara jantung yang banyaknya bervariasi. Kita ambil contoh saja untuk kasus jantung normal dan Mitral Stenosis. Tabel 5 Data hasil Uji Untuk Data Kasus Jantung Mitral Stenosis Data Apakah Waktu Epoch Korelasi MS Sesuai? Orang ke- (detik) 1 YA 2 k 200 0.9999 2 YA 900 100.000 0.994 3 YA 2 2 0.999 4 YA 900 100.000 0.991 5 YA 2 2 0.994 6 YA 2 2 0.995 7 YA 120 32425 0.9995 8 YA 1200 150.000 0.993 9 Tidak 1200 150.000 0.795 A- 6 10 YA 150 35250 0.9995 Dari data tabel 4 dan 6 maka didapatkan sensitivitas SE dan Spesifisitas SP sebagai berikut dan juga ketelitiannya: Hasil Pengujian Diagnosis Positif Negatif Positif 9 (TP) 1 (FN) 10 (P) Negatif 1 (FP) 7(TN) 8 (P ) 10 (Q) 8 (Q ) 18 Sensitivitas : SE=TP/(TP + FN) =TP/P =9/10 = 0.9 Spesivisitas: SP =TN/(FP + TN) =TN/P = 7/8 = 0.875 Ketelitian : 90% Sensitivitas (SE) merupakan probablitas yang mempunyai pengujian positif dari sekelompok pasien yang mempunyai diagnosis positif. Spesifisitas (SP) adalah probabilitas dari pengujian negatif sekelompok pasien yang mempunyai diagnosis negatif. 11. Kesimpulan Dari uji coba dan analisis di atas dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Semua data untuk setiap kasus suara jantung harus digunakan sebagai data pelatihan dan data cek, guna keperluan pengidentifikasian sinyal suara jantung. 2. Ketelitian dan Sensitivitas dari perangkat ini tergantung dari ketepatan batas korelasi yang digunakan. 3. Ketelitian dan Sensitivitas dari perangkat ini tergantung dari banyaknya iterasi yang dilakukan 4. Sensitivitas yang dicapai untuk perangkat > 0.8 sedangkan spesifisitas > 0.75 5. Ketelitian yang dicapai untuk perangkat diatas lebih dari 80%. 6. Penelitian tersebut diatas dapat mengidentifikasikan sinyal suara jantung sebanyak 9 kasus suara jantung. 12. Saran Untuk pengembangan lebih lanjut dalam penelitian auskultasi, berikut ini diberikan beberapa saran, antara lain: 1. Untuk Mendapatkan hasil keakurasian dan sensitivitas yang lebih baik hendaknya epoh dan batas korelasi adalah mendekati maksimum dalam pengambilan keputusan. Dan juga data untuk pengecekan diperbanyak lagi 2. Penelitian menggunakan data primer diperlukan sehingga menghasilkan perangkat yang real time. DAFTAR PUSTAKA Lehrer, Steven, MD. Dr. Damayanti,DSA.,1994, Memahami Bunyi dan Bising Jantung Anak, Binarupa Aksara.

Heart Soundshttp://w.w.w.scii sdsu. edu/multi media/headsounds, 2004 Normal and Abnormal Heart Sounds, http://www.bioscience.org/at.lases/heart/soun d.htm, 2004 Widodo Thomas Sri, (2004) Analisis Spektral Isyarat Jantung Seminar on Electical Enginering (SEE 2004) hal 109-114, Universitas Achmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia Widodo Thomas Sri, (2005 ) Analisis Wavelet Isyarat Jantung 6 th Seminar on Intelligent Technology and Its applications hal 344-349, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya Indonesia Guyton Athur C MD, Jhon E Hall PhD. Text Bokk Of Medical Physiology Purnomo Mauridhi Hery, Agus Kurniawan, Supervised Artificial artificial neural network dan Aplikasinya,2006 Graha Ilmu Yogyakarta Muis Saludin, 2006 teknik Jaringan Syaraf Tiruan, Graha Ilmu Kusumadewi, Sri, (2004) Membangun Jaringan Saraf Tiruan Menggunakan Mathlab & Excel Link, Graha Ilmu, Yogyakarta A-7

Tabel 1 Korelasi Hasil Pengujian untuk Data Pelatihan Sama Dengan Data Cek Data Target Epoh = 400 Normal MS MR VSD ASE HM ASD AR PS Normal 0.99952 0.34953 0.39054 0.38882 0.51561 0.42011 0.5618 0.48425 0.54682 MS 0.50196 0.9995 0.79442 0.80334 0.87145 0.83586 0.63263 0.69452 0.65131 MR 0.52109 0.76842 0.96053 0.90386 0.89501 0.71346 0.73881 0.73813 0.76817 VSD 0.62141 0.91783 0.82907 0.9959 0.93496 0.87168 0.67293 0.76474 0.68069 ASE 0.4972 0.6264 0.69116 0.83782 0.9995 0.82001 0.55579 0.73974 0.65007 HM 0.37183 0.74691 0.67463 0.653 0.90676 0.9995 0.57335 0.68031 0.65833 ASD 0.37186 0.56763 0.62914 0.57218 0.52676 0.34568 0.9995 0.7295 0.80046 AR 0.35365 0.50203 0.38277 0.70312 0.69768 0.5225 0.72939 0.9995 0.63728 PS 0.4157 0.51760 0.6478 0.60002 0.58353 0.31312 0.76279 0.6348 0.9968 Tabel 2 Korelasi Hasil Pengujian untuk Data Pelatihan Tidak Sama Dengan Data Cek Data Target Epoh = 1000, R = 0.95 Nrml MS MR VSD ASE HM ASD AR PS Nr 0.999 0.369 0.589 0.293 0.517 0.432 0.412 0.322 0.563 MS 0.501 0.997 0.759 0.955 0.896 0.848 0.919 0.961 0.843 MR 0.521 0.887 0.998 0.912 0.918 0.763 0.882 0.845 0.826 VSD 0.621 0.973 0.801 0.984 0.961 0.934 0.965 0.967 0.882 ASE 0.497 0.856 0.751 0.960 0.999 0.912 0.943 0.895 0.865 HM 0.371 0.757 0.694 0.752 0.911 0.999 0.855 0.750 0.845 ASD 0.371 0.929 0.814 0.893 0.925 0.894 0.977 0.927 0.843 AR 0.353 0.926 0.758 0.967 0.896 0.874 0.932 0.990 0.832 PS 0.4157 0.798 0.778 0.708 0.791 0.766 0.739 0.792 0.999 Tabel 3 Sensitivitas Hasil Pengujian untuk Data Pelatihan Sama Dengan Data Cek Data Target Epoh = 400, r = 0.95 Normal MS MR VSD ASE HM AR ASD PS Norml YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK MS TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK MR TDK TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK VSD TDK TDK TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK ASE TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK TDK TDK HM TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK TDK AR TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK ASD TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK PS TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA Tabel 4 Sensitivitas Hasil Pengujian untuk Data Pelatihan Tidak Sama Dengan Data Cek Data Target Epoh = 1000,r = 0.97 NRM MS MR VSD ASE HM AR ASD PS Norm YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK MS TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK MR TDK TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK TDK VSD TDK YA TDK YA TDK TDK TDK TDK TDK ASE TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK TDK TDK HM TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK TDK AR TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK TDK ASD TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA TDK PS TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK TDK YA A- 8

A-9