PERS SEHAT, BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB

dokumen-dokumen yang mirip
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SISTIM HUKUM INDONESIA POKOK BAHASAN

LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Berkomitmen terhadap Pokok Kaidah Negara Fundamental

PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PANCASILA. Pancasila dalam Kajian Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (Lanjutan) Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA. Modul ke: Fakultas MKCU

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 54/PUU-X/2012 Tentang Parliamentary Threshold dan Electoral Threshold

Peraturan Daerah Syariat Islam dalam Politik Hukum Indonesia

1. Arti pancasila sebagai way of life (pandangan hidup)

3.2 Uraian Materi Pengertian dan Hakikat dari Dasar Negara Pancasila sebagai dasar negara sering juga disebut sebagai Philosophische Grondslag

WAWASAN NUSANTARA. Dewi Triwahyuni. Page 1

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1966 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan atas kekuasaan belaka, maka segala kekuasaan negara harus

BAHAN TAYANG MODUL 5

MATERI UUD NRI TAHUN 1945

Pancasila Sebagai Dasar Negara (dalam hubungannya dengan Pembukaan UUD 1945)

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 19/PUU-VIII/2010 Tentang UU Kesehatan Tafsiran zat adiktif

1. Pancasila sbg Pandangan Hidup Bangsa

PENERAPAN SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

PANCASILA DAN EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

AGENDA DALAM SISTEM EKONOMI INDONESIA

d. Hak atas kelangsungan hidup. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan Berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara tentu memiliki tujuan dan cita-cita nasional untuk menciptakan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 112/PUU-XIII/2015 Hukuman Mati Untuk Pelaku Tindak Pidana Korupsi

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MAKALAH DEMOKRASI PANCASILA INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambaha

BAB I PENDAHULUAN. : Setiap orang berhak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan. mengeluarkan pendapat. Serta ditegaskan dalam Pasal 28F, yaitu

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

B. Tujuan C. Ruang Lingkup

DEMOKRASI PANCASILA. Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH.

BAB VI PENUTUP. A. Simpulan

MODUL 5 PANCASILA DASAR NEGARA DALAM PASAL UUD45 DAN KEBIJAKAN NEGARA

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA DAN DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pancasila dalam Konteks Ketatanegaraan Indonesia. Selly Rahmawati, M.Pd.

BAB I KETENTUAN UMUM

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

Ringkasan Putusan.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1990 TENTANG AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KATA PENGANTAR. Penulis. iii

FAKTA PANCASILA DALAM KEHIDUPAN

Kedudukan Pembukaan UUD Anggota Kelompok : -Alfin Anthony -Benadasa -Jeeva Laksamana -Nicolas Crothers -Steven David -Lukas Gilang

I. Hakikat Pancasila. 1. Pancasila sebagai dasar Negara

TUGAS AKHIR PEMASYARAKATAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

PLEASE BE PATIENT!!!

PANCASILA PANCASILA DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG POLITIK, HUKUM, SOSIAL BUDAYA, DAN PERTAHANAN KEAMANAN. Nurohma, S.IP, M.

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 35/PUU-XII/2014 Sistem Proporsional Terbuka

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : VII/MPR/2001 TENTANG VISI INDONESIA MASA DEPAN

Ratifikasi Konvensi ILO Nomor 182 dengan UU No. 1 Tahun 2000 sebagai Politik Hukum Nasional untuk Mewujudkan Perlindungan Anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

DEMOKRASI. Drs. H.M. Umar Djani Martasuta, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MAKNA, HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP PANCASILA

SANTIAJI PANCASILA: Lima Nilai Dasar PANCASILA

UU 8/1990, AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA. Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor : 8 TAHUN 1990 (8/1990) Tanggal : 13 OKTOBER 1990 (JAKARTA)

BAB I LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. maupun nonlitigasi. Sejak dulu keberadaan advokat selalu ada semacam. penguasa, pejabat bahkan rakyat miskin sekalipun.

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

PANCASILA DAN IMPLEMENTASINYA

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

NOMOR 20 TAHUN 1982 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK PERTAHANAN KEMANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA INDONESIA TAHUN

MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

IMPLEMENTASI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

DINAS PENDIDIKAN SMP NEGERI 3 LAWANG ULANGAN AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008

Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

RUBRIK RESENSI KEBEBASAN ATAU KEBABLASAN PERS KITA

PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

Penjabaran Pancasila Dalam Pasal UUD 45 dan Kebijakan negara. Komarudin, MA

PENDIDIKAN PANCASILA PANCASILA SEBAGAI DASAR HUKUM

BAB I PENDAHULUAN. demi stabilitas keamanan dan ketertiban, sehingga tidak ada lagi larangan. tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang mencakup:

BAB I PENDAHULUAN. Kebebasan Pers. Seperti yang sering dikemukakan, bahwa kebebasan bukanlah semata-mata

BAB I PENDAHULUAN. dan dasar negara membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

Nama : Yogi Alfayed. Kelas : X ips 1. Tugas : Kaidah yang fundamental (PPKn) JAWABAN :

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BAB I PENDAHULUAN. secara ideal. Namun dalam dunia globalisasi, masyarakat internasional telah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB V. Penutup. Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Ideologi Negara. Modul ke: 05Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

BAB 1 PENDAHULUAN. selaku pejabat publik dengan masyarakat. Dan komunikasi tersebut akan berjalan

Transkripsi:

PERS SEHAT, BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB Erman Anom Dosen FIKOM Universitas INDONUSA Esa Unggul, Jakarta Erman.anom@indonusa.ac.id ABSTRAK Keadan pers di suatu negara, masing-masing dalam posisi, fungsi serta struktur yang saling berbeda. Tetapi dalam prakteknya selalu dijumpai ada hubungan antara pers, pemerintah dan masyarakat. Pada dasarnya tiap negara memiliki sistem pers sendiri-sendiri. Sistem itu selaras dengan falsafah atau ideologi yang dianut oleh sesuatu bangsa. Kata Kunci: Pers sehat, sistem pers, pers bebas bertanggung jawab Pendahuluan Pers pada tiap-tiap negara berbeda-beda satu dengan yang lain. Perbedaan yang paling kelihatan dapat ditemui pada negara-negara berkembang. Hal ini terjadi karena sistem politik dan pemerintahan yang berbeda-beda, seperti dari sistem pemerintahan demokrasi, komunis, diktator, sosialis, dan sebagainya. Sistem demokrasi sendiri juga ada yang berbedabeda, mengikut model tertentu. Untuk Indonesia, sistem pers walau apapun label yang digunakan tidak boleh lepas dari perlembagaan negara, dan sistem pemerintahan negara yang dirumuskan dalam Undang- Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Untuk Indonesia konsep pers bebas dan bertanggung jawab dalam batasan interaksi positif antara pers, masyarakat, dan pemerintah digunakan dalam pengembangan kehidupan sistem pers. Pers mempunyai peranan yang efektif dalam menjembatani komunikasi di masyarakat, termasuk antara masyarakat dengan pemerintah. Pers harus menjadi rekan kerja pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus memberikan kebebasan dan tanggung jawab pada pers untuk menyiarkan berita yang layak untuk disiarkan asal tetap menjaga kepentingan bangsa yang utama. Tinjauan Teori Kebebasan pers merupakan subsistem dari sistem kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan (UUD1945 pasal 28). Pelaksanaan kebebasan pers yang dilaksanakan harus mempunyai landasan hukum yang kuat. Kebebasan pers harus fokus pada permasalahan keseimbangan antara kebebasan dengan tanggung jawabnya. Karena seperti semboyan dalam hukum komunikasi massa yang dapat dianggap baku dan universal, yang mengatakan bahwa kebebasan harus dibarengi dengan kewajiban-kewajiban, maka kebebasan pers bukanlah kebebasan mutlak yang tanpa batasan. Ada rambu-rambu sebagai koridor kebebasan pers yang harus dipatuhi, agar kebebasan itu tidak menjadi liar, atau malah merusak. Tetapi semboyan kebebasan pers atau kemerdekaan pers tersebut dalam implementasinya sering tidak mudah terwujudkan. Kebebasan pers, secara normatif tidak saja dibatasi oleh kaidah 5

atau norma hukum dibidang media massa, tetapi juga dibatasi oleh etika, norma agama, sosial budaya lainnya yang hidup dan terpelihara dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga dalam pelaksanaan kebebasan pers, batas-batas kebebasan itu tidak hanya yang tercantum dalam undang-undang pers dan undang-undang positif lainnya, tetapi juga etika jurnalistik, dan norma-norma sosial budaya lainnya. Pembatasan kebebasan pers harus dirumuskan dalam undangundang pokok pers, karana kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang disertai kesadaran akan pentingnya penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dalam kode etika jurnalistik serta sesuai dengan hati nurani insan pers. Dewasa ini sangat dirasakan pelaksanaan pers dihadapkan pada permasalahan yaitu kebebasan pers dilapangan masih menghadapi hambatan dan tantangan, keluhan ini muncul terutama dari kalangan komunitas media massa. Tetapi disisi lain masyarakat mengeluhkan bahwa pelaksanaan kebebasan pers, sudah melewati batas dan tidak proporsional lagi, sehingga lebih banyak membawa dampak ketidak harmonisan dalam masyarakat. Antara pelaku media massa dan masyarakat terjadi ketidak harmonisan. Contohnya sering terjadi masyarakat tidak terima pemberitaan pers sehingga masyarakat memukul wartawan dan melempari kantor pers dan kasus Front Pembela Islam menduduki kantor majalah Playboy Indonesia. Untuk itu dalam pasal-pasal undang-undang pokok pers harus ada perubahan dan perbaikan dalam rangka memenuhi dan mewujudkan rasa keadilan. Pro-Kontra Perubahan Undang- Undang No.40/1999 Mengapa terjadi pro-kontra perubahan Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999? Benarkah UU yang dihasilkan dalam situasi reformasi itu terlalu bebas dari sudut pandang politik? Atau, justru membatasi pertumbuhan pers dari segi lain, dari sisi keusahaan media? Sebagaimana diketahui, ide merevisi UU No 40/1999 muncul dalam Rapat Kerja antara Menteri Negara Komunikasi dan Informasi dengan Komisi I DPR pada 6 Desember 2001. Beberapa anggota Dewan menyatakan UU ini tidak berhasil menjaga pers dari kebablasannya, sehingga menimbulkan eksesekses negatif, termasuk terlalu berani mengkritik pemerintah dan mengumbar pornografi. Inisiatif itu segera mendapat tanggapan terutama dari komunitas pers sendiri, yang umumnya menolak ide revisi itu. Leo Batubara, tokoh pers, berargumentasi, revisi hanya akan mengembalikan kesewenangan pemerintah dalam mengawasi pers. (Kompas, 3/5/ 2002) Demo penentangan terhadap revisi UU juga dilakukan sejumlah praktisi pers pada Hari Pers Sedunia (3/5/2002) di depan Istana Merdeka lebih lanjut Leo berpendapat : sebenarnya kita perlu curiga dengan penentangan terhadap revisi UU ini; tetapi bukan dari sudut pandang kekuasaan, melainkan dari aspek keusahaan pers. Benarkah aksi kontrarevisi itu murni kebebasan informasi atau ada muatan kepentingan ekonomi? (Kompas, 3/5/2002). 6

Pembahasan Isi UU No 40/1999? Sejak zaman kemerdekaan UU Pokok Pers sudah mengalami tiga kali perubahan. Dari UU No 11/1966 menjadi UU No 21/1982, dan terakhir UU No 40/1999. Apa yang membedakan antara ketiga UU ini? Pertama-tama secara face validity kita dapat melihat perbedaan ketiganya dari istilah yang digunakan. Dari tema yang dipakai, ternyata UU No 4/1967 dan UU No 21/1982 sarat dengan tugas kenegaraan (baca: kekuasaan), sehingga dapat dipahami jika selama ini pers Indonesia banyak dibebani pesanpesan pemerintah. Sebaliknya, UU No 40/1999 penuh tugas kerakyatan. Pers menjadi lebih terbuka, termasuk dalam mengkritik pemerintah. Jadi, dengan adanya UU No 40/1999 itu, pers kita berpindah posisi dan peranan, dari menjalankan supremasi negara (state) menjadi pelaksana supremasi rakyat (people) dan lebih menonjol kepentingan pragmatis media (bisnis). Buktibukti pers alat kekuasaan, bembangunan dan lebih mementingkan bisnis dapat dilihat dalam pasal 2 ayat 1dan 2 UU Pokok Pers No.11/1966 dan pasal 2 ayat 2 UU Pokok Pers No. 21/1982. Mengenai menonjol pers bisnis dapat dilihat dalam pasal 1 ayat 2,3,5,6 dan 7 dan pasal 3 ayat UU No.40/1999. Tidak mengherankan bila hal demikian terjadi. Rupanya berlaku dalil, UU itu mencerminkan semangat zamannya. Romantika revolusi tampaknya masih mengalir kuat dalam UU No 4/1967. Sementara, UU No 21/1982 sangat menonjolkan semangat "pembangunan" yang diagungagungkan rezim Orde Baru (Orba). Dalam UU No 40/1999 amat terasa semangat kemerdekaan pers sesuai gerakan reformasi menentang penggunaan model dan sistem pers yang dilakukan rezim Orba hampir seperempat abad (1966-1998). Membela Rakyat? Selain memiliki wacana, UU itu juga mempunyai tuntunan praktis. Ada dua aspek yang diatur dalam UU tentang Pers. Pertama, aturan yang berkaitan dengan isi (code of publication). Persoalan kebebasan atau kemerdekaan pers diatur dalam kode ini. Kedua, aturan yang berhubungan dengan perusahaan pers (code of enterprise). Agak sedikit berbeda dari dua UU sebelumnya, dalam UU No 40/1999 aspek (pasal/ayat) yang mengatur bidang perusahaan pers memperoleh porsi lebih besar. Dalam Bab I Pasal 1, sekurang-kurangnya ada lima ayat yang berkenaan dengan perusahaan pers (Ayat 2, 3, 5, 6, dan 7). Pasal 3 Ayat (2) juga menyebut pers sebagai lembaga ekonomi. Porsi pengaturan perusahaan pers juga tampak dalam Bab IV. Ada enam pasal yang berkaitan dengan itu, ditambah Bab VI (1 pasal tentang perusahaan pers asing), Bab VIII, Pasal 18 Ayat (2) dan (3), serta Bab IX Pasal 19 Ayat (2). Bandingkan pengaturan masalah ini dengan aspek substansi (kemerdekaan pers) yang diatur dalam Bab II (lima pasal), ditambah Bab VIII Pasal 18 Ayat (1), dan Bab IX Pasal 19 Ayat (1). Dari situ tampak, UU No 40/1999 dapat dibaca lebih berorientasi pada aspek ekonomi. Berarti lebih berpihak pada pemodal. Bila sudah bicara modal, lazimnya cenderung pada keuntungan. Jadi, dalam perusahaan pers, informasi tiada lain adalah komoditas yang sekadar untuk diperjualbelikan. 7

Dalam situasi dan alam pikiran seperti itu, boleh jadi ihwal "hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilainilai demokrasi, HAM, supremasi hukum masyarakat" dalam arti sejatinya, terabaikan. Dalam pers industri, belum tentu berita yang dimuat benarbenar merupakan hal yang diperlukan masyarakat; sebaliknya berita itu adalah hal yang ingin dijual media. Visi Pers Kerakyatan Untuk kepentingan usaha media, UU No 40/1999 jelas menguntungkan. Apalagi bagi pemain lama, mereka mendapat dua keuntungan dengan UU ini. Ketika masih berlaku mekanisme SIUPP dengan modal amat memadai, mereka membeli sejumlah SIUPP dan mengembangkan usaha medianya dengan baik. Dengan adanya UU No 40/1999, yang di satu sisi amat berpihak pada pengusaha dan di sisi lain menjamin tidak akan ada pihak mana pun yang menghalangi kemerdekaan pers (Pasal 18 Ayat 1), maka sentosalah usaha media mereka. Bila cara-cara seperti ini masih akan dipertahankan, tentu amat merugikan masyarakat kebanyakan, karena mereka amat rentan dengan modal usaha. Ketentuan penerbitan pers yang selalu harus berbadan usaha, bukan saja bisa membenarkan pendapat bahwa pers kita baru saja keluar dari mulut harimau (penguasa) dan mulai masuk ke mulut buaya (pengusaha), tetapi secara substantif dan praktis tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Ditambah ketentuan "pers harus berbadan usaha", sebetulnya tidak sejalan dengan peraturan di atasnya (UUD 1945 Pasal 28), maka UU No 40/1999 perlu diubah. Dalam Pasal 28 UUD 1945, belum tentu yang dimaksud dengan "kebebasan menyatakan pendapat diatur oleh undangundang" harus ada wujudnya sebagai badan usaha. Bisa saja berbentuk yayasan, paguyuban, atau komunitas, yang penting jujur dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun hukum. Sayang, sejak UU No 4/1966, UU No 21/1982 hingga UU No 40/1999, istilah perusahaan pers sebagai penjabaran pasal 28 tetap dipertahankan. Atas dasar itu maka UU No 40/1999 harus diubah dengan wacana bukan sekadar ingin bebas dari (free from) sejumlah aturan penguasa (pemerintah), tetapi harus dipikirkan mengenai kebebasan untuk (free for) sebanyak-banyak kepentingan rakyat. Wacana dan tuntutan praktis UU itu kelak harus mencerminkan demokratisasi dari segi akses mengelola dan mendapatkan informasi. Pers Sehat, Bebas dan Bertanggung Jawab Dalam Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/1966 merumuskan kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan untuk menyatakan serta menegakkan kebenaran dan keadilan, dan bukanlah kebebasan dalam pengertian liberalisme dan Ketatapan MPR No. IV/MPR/1973 tentang Garis Besar Haluan Negara (GBHN), dirumuskan lebih jelas yakni: Pers yang sehat, iaitu pers yang bebas dan bertanggung jawab. Pemerintah Soeharto mempunyai pandangan bahwa Pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab iaitu pers yang dapat menjalankan peranannya yang ideal. Kalangan pers sendiri memberikan penjabaran tentang pers yang sehat sebagai berikut: Pers yang sehat secara ideal adalah pers yang melak- 8

sanakan fungsi-fungsi ideal yang tertuang dalam GBHN, secara bebas dan bertanggung jawab. Hal ini hanya dapat dilaksanakannya dengan baik, apabila pers itu sehat secara kebendaan, sehat secara ekonomis. Jika secara ekonomis, materiil pers tidak sehat, maka terlihat kecenderungan pada sementara pers mempertahankan survivalnya dengan mendasarkan orientasi perjuangannya kepada tuntutan yang bersifat kebendaan, dengan kata lain terlihat keadaan yang cenderung mengembangkan erosi idealisme perjuangan pers yang hakikatnya harus diabdikan kepada tujuantujuan memasyarakatkan cita-cita nasional, iaitu masyarakat kebangsaan maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Hasil rumusan Penataran P-4 Pemimpin Editor-PWI, 1979). Sumber hukum Kebebasan Pers yang Bertanggung jawab ini adalah pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatakan bahawa Kemerdekaan mengeluarkan pendapat melalui lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang. Sumber hukum kebasan dan bertanggung jawab dapat dilihat juga dalam Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/1966 dan Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973. Tolak ukur bagi undangundang atau peraturan-perundangan yang mengatur tentang kemerdekaan ataupun kebebasan memberikan pendapat melalui tulisan dengan kata lain kebebasan pers, sebagai pelaksanaan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945, dengan sendirinya adalah dasar Pasal 28 Undang-undang Dasar itu sendiri, yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi seperti berikut: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang- Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusian yang adil dan beradap, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permesyuaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berpegang kepada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai tolak ukur kebebasan pers, ketentuan Undang-Undang Pokok Pers tentang kebebasan Pers ditelaah. Rumusan kebebasan pers terkandung dalam pasal 2 ayat 2 c dan pasal 5 Undang-undang Pokok Pers yang menunjuk pada Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/1966 pasal 2 ayat 1 dan ayat 2. pasal 2 ayat 2 c Undang- Undang Pokok Pers No.11/1966: memperjuangkan kebenaran dan keadilan atas asas kebebasan Pers yang bertanggung jawab. Pasal 5 Undangundang Pokok Pers No.11/1966: 1. Kebebasan Pers sesuai dengan hak asasi warga negara dijamin. 2. Kebebasan Pers ini berdasarkan atas tanggung jawab nasional dan pelaksanaan pasal 2 dan pasal 3 Undang-undang Pokok Pers No.11/1966. 9

Kebebasan pers itu berasaskan pada tugas, kewajiban dan fungsi pers sesuai pasal 2 Undang-Undang Pokok Pers serta hak pers sesuai pasal 3 Undang- Undang Pokok Pers No.11/1966. Dalam penjelasan Pasal 2 dan Pasal 3 tersebut dikatakan bahawa Dalam melaksanakan fungsi, kewajiban dan haknya Pers Nasional terikat oleh pertanggungjawaban yang ditentukan dalam Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/1966 pasal 2 ayat 1 dan ayat 2, yang isinya adalah sebagai berikut: ayat 1: Kebebasan pers berhubungan erat dengan keperluan adanya pertanggung jawaban kepada : a. Tuhan Yang Maha Esa b. Kepentingan rakyat dan keselamatan Negara c. Kelangsungan dan penyelesaian Perjuangan Nasional hingga terwujudnya tujuan nasional d. Moral dan tata susila e. Kepribadian bangsa. ayat 2: Kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan untuk menyatakan serta menegakkan kebenaran dan keadilan, dan bukanlah kebebasan dalam pengertian liberalisme. Pers yang bebas dan bertanggung jawab harus diucapkan dalam satu nafas. Walaupun begitu, dengan semangat menyebut pers bebas dan bertanggung jawab dalam satu nafas, perlu juga disatukan pengertian tentang kriteria tersebut. Bahwa pasal 2 TAP MPRS No. XXXII/MPRS/1966, dapat digunakan sebagai dasar kriteria tersebut. Keadaan menunjukkan penterjemah pengertian kebebasan yang hakikatnya adalah kebebasan yang bertanggung jawab masih belum terlihat keserasian dan keseimbangannya. Sementara itu normanorma, hak dan kewajiban pers seperti yang terkandung di dalam ketentuanketentuan undang-undang yang mengikat serta di dalam kode etika jurnalistik wartawan Indonesia, masih pula serba mengambang dan tidak seimbang. Tegasnya persepsi pemerintah, masyarakat dan pers sendiri terhadap norma-norma, hak dan kewajiban pers belumlah serasi. Kesimpulan Dalam undang-undang No. 40/1999, menyatakan pers yang memiliki kemerdekaan untuk mencari dan menyampaikan informasi juga sangat penting yang dijamin dengan ketetapan MPR RI No.XVII/ MPR/1999. Pers dalam melaksanakan kontrol sosial sangat penting pula untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya. Undangundang itu dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan perananya, pers harus menghormati hak asasi setiap masyarakat, karena itu dituntut pers yang profesional dan terbuka dikontrol oleh masyarakat. Daftar Pustaka Anwar Arifin, Komunikasi Politik dan Pers Pancasila, Media Sejahtera, Jakarta, 1992. Erman Anom, Dasar dan Sistem Akhbar dalam Era Kepimpinan Soeharto 1966-1998, Tesis, Universitas Kebangsaan Malaysia, Bangi, 2006. Kepmenpen RI No. 01/PER/MEN PEN/1984 tentang SIUPP Simorangkir, J.T.C, Undang-Undang Pers, Bratara, Jakarta, 1967. 0

Said, Tribuana, Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan, Pers Pancasila, Haji Masagung, Jakarta, 1988. Undang-Undang RI No. 40 Tahun 1999 tentang Pers Undang-Undang RI No. 21 Tahun 1982 tentang Pers Undang-undang RI No. 11 Tahun 1966 tentang Pers Undang-undang RI No. 4 Tahun 1967 tentang Pers 1