BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian tentang Dampak Perubahan Iklim Terhadap

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia (Sujianto dalam Arifini dan Mustika, 2013 : 294-

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. subsistem yang saling mempengaruhi, mulai dari subsistem hulu, a. Industri pengolahan hasil pertanian;

III. BAHAN DAN METODE. Aplikasi pengawet nira dan pembuatan gula semut dilakukan di Desa Lehan Kecamatan

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Purworejo yang terdiri dari 49 desa.luas wilayah Kecamatan Pituruh yaitu 7681

I PENDAHULUAN. tebu, bit, maple, siwalan, bunga dahlia dan memiliki rasa manis. Pohon aren adalah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perekonomian pedesaan merupakan perekonomian yang dihasilkan

KERANGKA PENDEKATAN TEORI

PENGOLAHAN BUAH-BUAHAN

CARA MEMBUAT: -Potong ayam menjadi 2 bagian atau belah membujur dadanya dan tekan hingga terbuka lebar. -Lumuri bumbu halus hingga rata

Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas. KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae,

ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI GULA KELAPA (Suatu Kasus di Desa Sindangangin Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gula merah kelapa diperoleh dari nira kelapa yang telah diuapkan dan dicetak

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada

BAB II LANDASAN TEORI. Pertama, penelitian dari Maninggar Praditya (2010) dengan judul Analisis

ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI AGROINDUSTRI GULA KELAPA DI DESA JALATUNDA KECAMATAN MANDIRAJA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk -

II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

Cara Menanam Cabe di Polybag

Teori bertani alami: Yang harus di bangun terlebih dahulu adalah memperbaiki tanah

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. penggunaannya sebagai santan pada masakan sehari-hari, ataupun sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh subur di Indonesia. Semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

CONTOH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN PADA KELOMPOK BAHAN PANGAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan September Desember 2016 di

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

TANAMAN BERKHASIAT OBAT. By : Fitri Rahma Yenti, S.Farm, Apt

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. mengadopsi proses dan cara berpikir manusia yaitu teknologi Artificial

PENDAMPINGAN PENERAPAN DIVERSIFIKASI PRODUK GULA KELAPA/MERAH KEMASAN KECIL

III.TATA CARA PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccarum officinarum L) termasuk famili rumput-rumputan. Tanaman

Untuk Daerah Tertinggal

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 ANALISIS SITUASI

tips: Menyimpan Tahu Segar

tips: Menyimpan Tahu Segar

KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI APEL (Malus sylvestris L.)

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

PEMBUATAN SAOS CABE MERAH Nurbaiti A. Pendahuluan Cabe merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi

KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN

Buletin Analisis Hujan Bulan Februari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan April, Mei dan Juni 2013 KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. Komoditi hortikultura dalam negara agraris seperti Indonesia sangat besar,

Resep Kastengel Bawang Merah

PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan dan Laboratorium

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Coleman and Lawrence (2000) menambahkan bahwa kelemahan dari pakan olahan dalam hal ini wafer antara lain adalah:

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

BAB I PENGANTAR. pola curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara serta peningkatan

Feed Wafer dan Feed Burger. Ditulis oleh Mukarom Salasa Selasa, 18 Oktober :04 - Update Terakhir Selasa, 18 Oktober :46

Mengenal Jenis-Jenis Gula

KERANGKA PENDEKATAN TEORI

I. PENDAHULUAN. mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin banyak. Upaya pemenuhan

Buletin Analisis Hujan Bulan April 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Juni, Juli dan Agustus 2013 KATA PENGANTAR

Iklim Perubahan iklim

ONDE-ONDE GURIH CARA MEMBUAT : 1 Campur udang dengan ayam, bawang putih, garam, merica dan gula pasir, aduk rata.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi

KELAPA GENJAH SEBAGAI SUMBER NIRA UNTUK PEMBUATAN GULA

4 Resep Masakan Rumahan Sehari Hari Yang Wajib Anda Coba

MAKALAH LINGKUNGAN BISNIS

Buletin Analisis Hujan dan Indeks Kekeringan Bulan Desember 2012 dan Prakiraan Hujan Bulan Februari, Maret dan April 2013 KATA PENGANTAR

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. pertumbuhan tanaman cabai merah telah dilakukan di kebun percobaan Fakultas. B.

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Tempat dan Waktu Bahan dan Aiat Metode Penelitian

Waktu yang dibutuhkan untuk menggoreng makanan tergantung pada:

ANEKA RUJAK DAN ASINAN NAN SEGAR

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang didukung dengan studi pustaka.

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Petanahan dan Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

VI. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan

Buletin Analisis Hujan Bulan Januari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Maret, April dan Mei 2013 KATA PENGANTAR

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.

Pengolahan Tanah Dosis Waktu Aplikasi Sebelum diolah beri pupuk organik dari limbah panen / limbah ternak ataupun sampah kota yang diolah dengan

II TINJAUAN PUSTAKA Gula Aren

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Sistematika dan Morfologi Tanaman Kelapa. Menurut Hutchinson (1959) sistematika tanaman kelapa adalah:

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Usahatani a. Pengertian Usahatani Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga produksi pertanian menghasilkan pendapatan petani yang lebih besar. Ilmu usahatani juga didefinisikan sebagai ilmu mengenai cara petani mendapatkan kesejahteraan (Wanda, 2015 : 602) b. Pendapatan Usahatani Pendapatan usahatani dapat dibagi menjadi dua pengertian, yaitu (1) pendapatan kotor, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam usahatani selama satu tahun yang dapat diperhitungkan dari hasil penjualan atau pertukaran hasil produksi yang dinilai dalam rupiah berdasarkan harga per satuan berat pada saat pemungutan hasil, (2) pendapatan bersih, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam satu tahun dikurangi dengan biaya produksi selama proses produksi. Biaya produksi meliputi biaya riil tenaga kerja dan biaya riil sarana produksi (Gustiyana dalam Wanda, 2015 : 603) 9

10 2. Teori Produksi a. Definisi Produksi Produksi adalah suatu proses untuk mengubah barang input menjadi barang output. Dapat pula dikatakan bahwa produksi adalah rangkaian proses yang meliputi semua kegiatan yang dapat menambah atau menciptakan nilai guna dari barang dan jasa. b. Fungsi Produksi Fungsi produksi adalah hubungan yang saling mempengaruhi antara input dan output. Memproduksi suatu output harus mempertimbangkan besar kecilnya penggunaan input. Konsep utama yang dikenal dalam teori ini adalah memproduksi output semaksimal mungkin dengan input tertentu, serta memproduksi sejumlah output tertentu dengan biaya produksi seminimal mungkin. c. Biaya Produksi Biaya produksi adalah semua faktor produksi yang digunakan, baik dalam bentuk benda maupun jasa selama produksi berlangsung. Pengertian lainnya adalah kompensasi yang diterima oleh para pemilik faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai (Daniel dalam Wanda, 2015 : 603).

11 3. Perubahan Iklim Perubahan Iklim merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan berubahnya pola iklim dunia yang mengakibatkan fenomena cuaca yang tidak menentu. Perubahan iklim ini terjadi karena adanya perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (KLH 2004). IPCC (2007) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim terjadi karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer atau tata guna lahan. Unsur-unsur iklim yang bisa kita rasakan perubahannya diantaranya adalah suhu udara, tekanan udara, angin, kelembaban udara, awan dan curah hujan. 4. Iklim Musim Iklim musim yang ada di Indonesia terdiri dari 2 jenis, yaitu Angin musim barat daya (Muson Barat) dan Angin musim timur laut (Muson Timur). Angin muson barat bertiup sekitar bulan oktober hingga April yang basah sehingga membawa musim hujan/penghujan. Angin muson timur bertiup sekitar bulan april hingga bulan Oktober yang sifatnya kering yang mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami musim kering atau kemarau.

12 Kondisi iklim musim di daerah penelitian juga mengalami hal yang sama. Antara bulan Oktober hingga April 2015 adalah musim penghujan dan pada bulan Mei hingga September 2015 adalah musim kemarau. 5. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) milimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. 6. Mitigasi Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.( UU Nomor 24 Tahun 2007). Kegiatan mitigasi yang dimaksud sebagaimana yang tercantum dalam UU Nomor 24 tahun 2007 adalah : a. Pelaksanaan tata ruang b. Pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan c. Penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern.

13 7. Gula Kelapa Gula kelapa atau gula merah terbuat dari air sadapan bunga pohon kelapa atau air nira kelapa, sering juga disebut dengan gula jawa. Teksturnya berupa bongkahan berbentuk silinder dan berwarna coklat. Biasanya digunakan dalam bahan pemanis makanan dan minuman dengan cara diiris tipis. Gula kelapa dalam perdagangan dikenal sebagai gula merah (gula jawa), biasanya dijual dalam bentuk setengah mangkok, silinder dan berbentuk serbuk (gula semut), (Palungkun dalam Suyudi, 2007: 23). Sebagai produk agroindustri, gula kelapa mempunyai peranan penting terutama eksistensi dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh jenis gula lain dalam pemakaiannya. Hal ini karena gula kelapa mengandung mineral, rasa, aroma dan warna yang khas. Peranan gula kelapa dalam pengolahan pangan diantaranya adalah sebagai penyedap (campuran) masakan, bahan baku pembuatan minuman, industri makanan kecil dan campuran ramuan jamu. Gula kelapa selain digunakan sebagai pemanis juga pembentuk rupa (appearance), tekstur, warna dan aroma serta flavor (Thahjaningsih dalam Tri Yanto dan Naufalin, 2012:11). 8. Proses pembuatan gula kelapa Nira merupakan bahan baku utama pembuatan gula kelapa, nira adalah cairan bening yang terdapat di dalam mayang kelapa yang pucuknya belum dibuka. Nira sering juga dibuat legen kata ini sebenarnya istilah bahasa jawa berasal dari kata legi artinya manis.

14 Nira ini didapatkan dengan penyadapan atau penderesan. Satu buah mayang dapat disadap selama 10-35 hari tergantung kondisi pohon kelapa, namun produksi optimal hanya 15 hari. Hasil yang diperoleh sekitar 0,5 1 liter nira setiap mayang, atau sekitar 2 4 liter nira per pohon setiap harinya (Said, 2007 : 21) Ada beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya nira yang diperoleh, salah satunya adalah iklim. Penyadapan yang dilakukan pada musim penghujan akan mendapatkan nira lebih banyak daripada musim kemarau. Menurut pengakuan penyadap, bahwa hasil penyadapan dua mayang pada musim penghujan sama dengan tiga mayang pada musim kemarau. Nira hasil sadapan dikumpulkan dalam ember/baskom kemudian sesegera mungkin dimasak untuk mencegah terbentuknya asam. Sisa pengawet yang mengumpul di ujung pongkor sebaiknya jangan diikutkan karena akan menghasilkan warna gula yang kurang baik. Sebelum dimasak nira disaring terlebih dahulu untuk membuang kotoran-kotoran yang berupa bunga kelapa, lebah dan semut. Penyaringan nira ini hendaknya menggunakan kain saring yang bersih dan hasil saringan langsung ditampung dalam wajan. Wajan yang berisi nira bersih dipanaskan di atas tungku. Pada awal pemasakan api harus besar untuk mempercepat proses penguapan. Nira akan mendidih pada suhu sekitar 110 C. Pada saat mulai mendidih, kotoran halus akan terapung ke permukaan bersama buih nira. Kotoran-kotoran ini dibuang dengan menggunakan serok.

15 Pendidihan selanjutnya akan menimbulkan busa nira yang meluapluap berwarna coklat kekuning-kuningan. Sewaktu-waktu nira yang mendidih ini diaduk-aduk untuk menjaga agar buih nira tidak meluap ke luar wajan. Untuk mengurangi meluapnya buih maka tambahkan parutan kelapa, kemiri atau minyak goreng secukupnya (kira-kira 5 gram atau satu sendok makan minyak goreng untuk 25 liter nira yang dimasak). Api dikecilkan ketika nira sudah mengental dan pekatan nira tetap diaduk-aduk. Untuk mengetahui bahwa nira tersebut sudah masak atau belum, dilakukan uji kekentalan, yaitu dengan cara meneteskan pekatan nira ke dalam air dingin. Apabila tetesan tadi menjadi keras, berarti pemasakan sudah cukup dan wajan segera diangkat dari tungku. Waktu yang diperlukan untuk memasak 25-30 liter nira kira-kira 4-5 jam. Pekatan nira segera diaduk untuk mempercepat proses pendinginan. Pengadukan dilakukan sampai suhunya turun menjadi sekitar 70 C. Pengadukan ini juga akan menyebabkan tekstur dan warna gula yang dihasilkan lebih baik dan cepat kering. Pekatan nira yang telah mengering segera dituangkan ke dalam cetakan bambu yang sudah dilapisi plastik untuk mempermudah proses pelepasan setelah gulanya kering.

16 B. Penelitian Terdahulu No Peneliti Metode Hasil 1.. Khory Nirdayana, Dina Novia Priminingtyas dan Heru Santoso Hadi. 2011. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi dan Pendapatan Usahatani Mangga. Habitat. Volume XXII, Nomor 2. -Analisis Deskriptif. -Analisis Kuantitatif a.analisis Pengetahuan dan Sikap Usaha Tani Mangga. b.analisis Biaya c.analisis Penerimaan d.analisis Pendapatan 2. Heru Santoso H.S, Tatiek Koerniawati A., Nur Layli R. 2011. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Dan Pendapatan Usahatani Jagung. Agrise. Volume. XI, Nomor 3. 3. M.Muslich Mustadjab, dkk. 2012. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Pendapatan Petani Tebu. Jurnal Pembangunan Desa. Volume. XII Nomor. 1 Analisis Usahatani a. Perhitungan biaya produksi. b. Perhitungan penerimaan usahatani. c. Perhitungan keuntungan. a. Uji beda rata-rata b. Analisis regresi berganda dengan dummy variabel a. Pengetahuan petani, terdapat 22% dengan kategori kurang; 51,2 %dengan kategori cukup dan 26,8% dengan kategori baik; b. Sikap petani, 61% kategori cukup; dan 39,0% dengan kategori baik. Adanya dampak perubahan iklim menurunkan produksi jagung pada tahun 2010. Pada tahun 2009 produksi jagung yang dihasilkan sebesar 4.246,06 kg/ha sedangkan produksi pada tahun 2010 sebesar 2.269,76 kg/ha. Penurunan rendemen akibat perubahan iklim tidak mempengaruhi penerimaan gula oleh petani, yaitu apabila terjadi perubahan iklim gula yang diterima petani sebesar 39,97kw/ha dan apabila tidak sebesar 38,80 kw/ha. 4. Elly Rasmikayati dan Endah Djuwendah. 2015. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Perilaku Dan Pendapatan Petani. Jurnal Manusia Dan Lingkungan.Volume. 22, Nomor 3. Penelitian dilakukan dengan metode Survey eksplanatory. Mitigasi yang dilakukan petani terhadap perubahan iklim, diantaranya memperluas lahan pemilihan sumber irigasi, memilih varietas unggul berorientasi iklim, pertimbangan iklim dalam memilih pupuk, perbaikan teknik usahatani, perubahan pola tanam serta menggeser masa tanam dan waktu panen.

17 No Peneliti Metode Hasil 5. Silvana Maulidah, Heru Santoso, Hadi 1. Analisis Kualitatif (Deskriptif) 1. Sikap petani terhadap adanya perubahan iklim Subagyo, dan Qiki 2. Analisis Kuantitatif adalah: sebanyak 13 orang a. Analisis Biaya (TC) melakukan perawatan Rifqiyah. 2012. b. Analisis Penerimaan (menambah perlakuan); 5 Dampak Perubahan Total Usahatani orang melakukan pencabutan Iklim Terhadap (TR) tanaman cabe; dan 23 orang Produksi Dan Pendapatan Usaha c. Analisis Pendapatan/ petani melakukan pembiaran. 2. Dampak perubahan iklim Tani Cabai Rawit. Keuntungan menyebabkan terjadinya Agritech. Volume. 8, Usahatani (Π) penurunan produksi cabai rawit (juga secara kualitas) dan Nomor 2. menyebabkan terjadinya 6. Fahriyah, Heru Santoso dan Sherley Sabita. 2011. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Dan Pendapatan Usahatani Apel. Agrise. Volume XI, Nomor 3. 1. Analisis Kualitatif (Deskriptif) 2. Analisis Kuantitatif peningkatan pendapatan petani. Sikap petani akan adanya dampak perubahan iklim adalah dan perlakuan sebanyak 30 orang (71,4%) dengan cara penyemprotan ZPT, fungisida dan insektisida dan melakukan perawatan seperti penyulaman, penyiangan, pembubunan, pemangkasan. Sedangkan 12 orang (28,6%) memilih tidak melakukan pemeliharaan dan berinisiatif untuk menanam tanaman lain. Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, obyek yang dikaji hampir sama yaitu adalah petani. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini juga hampir sama dengan penelitian terdahulu yaitu tentang perubahan iklim terhadap pendapatan petani. Hasil penelitian di atas sebagian dapat diambil untuk hipotesis di penelitian ini. Menurut hasil penelitian di atas perubahan iklim berpengaruh positif terhadap pendapatan petani dan para petani telah melakukan tindakan mitigasi yang semestinya dalam menghadapi perubahan iklim.

18 C. Hipotesis 1. Variabel umur, produksi, biaya dan hari orang kerja (HOK) diduga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani gula kelapa di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan dan Desa Rangkah, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. 2. Usahatani gula kelapa di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan dan di Desa Rangkah, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen diduga di atas UMK Kabupaten Kebumen tahun 2015 3. Petani gula kelapa diduga telah melakukan mitigasi perubahan iklim dengan cara menyiram dan memupuk tanaman kelapa. A. Kerangka Pemikiran Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani gula kelapa dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu yang berasal dari petani gula kelapa diantaranya adalah umur, produksi gula kelapa, biaya usaha dan hari orang kerja (HOK). Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar petani gula kelapa, seperti perubahan iklim. Unsur-unsur yang mempengaruhi perubahan iklim diantaranya adalah suhu, angin, awan, kelembapan udara, dan curah hujan. Unsur yang diambil dalam penelitian ini adalah curah hujan. Perubahan iklim memberikan dampak hampir ke seluruh bagian di permukaan bumi ini. Petani gula kelapa di Kabupaten Kebumen juga terkena dampak adanya perubahan iklim. Nira yang sejatinya menjadi bahan baku utama pembuatan gula kelapa juga terkena dampaknya akibat kemarau panjang tahun lalu. Musim kemarau yang panjang menghasilkan

19 nira sedikit, hal ini berdampak pula pada produksi gula kelapa, nira yang dihasilkan sedikit maka produksinya pun sedikit kemudian mengakibatkan pendapatan petani menurun. Analisis faktor internal yang mempengaruhi pendapatan petani gula kelapa yaitu umur responden, produksi gula kelapa, biaya usaha dan hari orang kerja digunakan alat analisis regresi linear berganda. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan petani gula kelapa yaitu perubahan iklim yang dilihat dari curah hujan tiap tahunnya selama kurun waktu 31 tahun. Penelitian ini dilakukan pula untuk mengetahui mitigasi atau upaya apa saja yang dilakukan petani gula kelapa guna mengurangi resiko adanya perubahan iklim. Analisis usahatani digunakan untuk mengetahui apakah pendapatan petani di atas UMK Kabupaten Kebumen tahun 2015. Selain itu untuk mengetahui gambaran tercukupinya kebutuhan sehari-hari petani gula kelapa di Kecamatan Petanahan dan Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Analisis usahatani terdiri dari analisis biaya, analisis penerimaan dan analisis keuntungan.

20 Petani Gula Kelapa Faktor-Faktor Pendapatan Petani Gula Kelapa Analisis Usahatani Gula Kelapa Internal Eksternal Analisis Biaya 1. Umur 2. Produksi Gula Kelapa 3. Biaya Usaha 4. Jumlah Hari Kerja Perubahan Iklim (Curah Hujan) Analisis Penerimaan Analisis Keuntungan Rugi Mitigasi Perubahan Iklim Untung Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran