ANALISIS PRE STACK TIME MIGRATION (PSTM) DAN PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) METODE KIRCHHOFF DATA SEISMIK 2D LAPANGAN Y CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

dokumen-dokumen yang mirip
Perbandingan Metode Model Based Tomography dan Grid Based Tomography untuk Perbaikan Kecepatan Interval

Analisis Kecepatan Seismik Dengan Metode Tomografi Residual Moveout

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengolahan data pada Pre-Stack Depth Migration (PSDM) merupakan tahapan

Perbaikan Model Kecepatan Interval Pada Pre-Stack Depth Migration 3D Dengan Analisa Residual Depth Moveout Horizon Based Tomography Pada Lapangan SF

Analisis Pre-Stack Time Migration (PSTM) Pada Data Seismik 2D Dengan menggunakan Metode Kirchoff Pada Lapangan ITS Cekungan Jawa Barat Utara

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (Psdm Vti) Pada Data Seismik Laut 2D

BAB I PENDAHULUAN. banyak dieksplorasi adalah sumber daya alam di darat, baik itu emas, batu bara,

Koreksi Efek Pull Up dengan Menggunakan Metode Horizon Based Depth Tomography

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 5, No.2, April 2016, Hal 75-80

Speed Model Processing using Ray Tracing Method for 2D Depth Domain Migration (Pre Stack Depth Migration) on the field "AV"

Bab 6. Migrasi Pre-stack Domain Kedalaman. Pada Data Seismik Dua Dimensi

III. TEORI DASAR. pada permukaan kemudian berpropagasi ke bawah permukaan dan sebagian

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Divisi Geoscience Service PT. ELNUSA Tbk., Graha

Analisis Velocity Model Building Pada Pre Stack Depth Migration Untuk Penggambaran Struktur Bawah Permukaan Daerah x

Analisis Velocity Model Building Pada Pre Stack Depth Migration Untuk Penggambaran Struktur Bawah Permukaan Daerah x

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (PSDM VTI) pada Data Seismik Laut 2D

KOREKSI EFEK PULL-UP ANOMALY MENGGUNAKAN METODE PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) DI LAPANGAN X SUBANG, JAWA BARAT SKRIPSI

PRE STACK DEPTH MIGRATION VERTICAL TRANSVERSE ISOTROPY (PSDM VTI) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D

PERBAIKAN MODEL KECEPATAN INTERVAL PADA PRE-STACK DEPTH MIGRATION 3D DENGAN ANALISA RESIDUAL DEPTH MOVEOUT HORIZON BASED TOMOGRAPHY PADA LAPANGAN SF

Migrasi Pre-Stack Domain Kedalaman Dengan Metode Kirchhoff Pada Medium Anisotropi VTI (Vertical Transverse Isotropy)

PRE-STACK TIME MIGRATION (PSTM) BERBASIS SEISMIC UNIX PADA DATA SEISMIK 2D CEKUNGAN BRYANT CANYON LEPAS PANTAI TELUK LOUISIANA TEXAS

Analisis Perbandingan PSTM dan PSDM Dalam Eksplorasi Hidrokarbon di Lapangan SBI

Wahyu Tristiyoherni Pembimbing Dr. Widya Utama, DEA

KOREKSI EFEK PULL UP DENGAN MENGGUNAKAN METODE HORIZON BASED DEPTH TOMOGRAPHY

PROPOSAL KERJA PRAKTIK PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D MARINE DAERAH X MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMAX 2003

Koreksi Struktur Lapangan LP dengan Menggunakan Metode Pre Stack Depth Migration (PSDM)

KOREKSI EFEK PULL UP MENGGUNAKAN METODE HORIZON-BASED DEPTH TOMOGRAPHY

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Tabak, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah

Analisa Pre-Stack Time Migration (PSTM) Data Seismik 2D Pada Lintasan ITS Cekungan Jawa Barat Utara ABSTRAK

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Ampah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah

KOREKSI EFEK PULL-UP PADA DATA SEISMIK MENGGUNAKAN METODE PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM)

PERBANDINGAN POST STACK TIME MIGRATION METODE FINITE DIFFERENCE DAN METODE KIRCHOFF DENGAN PARAMETER GAP DEKONVOLUSI DATA SEISMIK DARAT 2D LINE SRDA

STUDI PRE-STACK DEPTH MIGRATION PADA STRUKTUR KOMPLEK TUGAS AKHIR I KOMANG ANDIKA ARIS PERMANA NIM:

Jurnal OFFSHORE, Volume 1 No. 1 Juni 2017 : ; e -ISSN :

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

REPROCESSING DATA SEISMIK UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENAMPANG STACK PADA DAERAH NATUNA TIMUR

ANALISA PENAMPANG SEISMIK PRE-STACK TIME MIGRATION DAN POST- STACK TIME MIGRATION BERDASARKAN METODE MIGRASI KIRCHHOFF (Studi Kasus Lapangan GAP#)

Gambar 3.1 Peta lintasan akuisisi data seismik Perairan Alor

INTERPRETASI RESERVOIR HIDROKARBON DENGAN METODE ANALISIS MULTI ATRIBUT PADA LAPANGAN FIAR

MIGRASI PRE-STACK DOMAIN KEDALAMAN (PSDM) DENGAN METODE KIRCHHOFF DAN PEMBANGUNAN MODEL KECEPATAN DENGAN TOMOGRAFI. Oleh Kaswandhi Triyoso

VARIASI NILAI MIGRATION APERTURE PADA MIGRASI KIRCHOFF DALAM PENGOLAHAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D DI PERAIRAN ALOR

Pengolahan Data Seismik 2D Menggunakan Software Echos dari Paradigm 14.1

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pemrosesan awal setelah dilakukan input data seismik 2D sekunder ini adalah

MODEL KECEPATAN MENGGUNAKAN HORIZON VELOCITY ANALYSIS DAN PENYELARASAN DENGAN DATA SUMUR TUGAS AKHIR FADHILA NURAMALIA YERU NIM:

Migrasi Domain Kedalaman Menggunakan Model Kecepatan Interval dari Atribut Common Reflection Surface Studi Kasus pada Data Seismik Laut 2D

Imaging Subsurface Menggunakan Metode Crs: Study Kasus pada Steep Dip Reflector dan Data Low Fold

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN METODE PRE-STACK TIME MIGRATION (PSTM) ISOTROPY DAN METODE PSTM ANISOTROPY HIGH ORDER MOVEOUT (HOM)

APLIKASI METODE TRANSFORMASI RADON UNTUK ATENUASI MULTIPEL PADA PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D LAUT DI PERARIRAN X

III. TEORI DASAR. gangguan (usikan) dalam medium sekitarnya. Gangguan ini mula-mula terjadi

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan. Seismik Multiatribut Linear Regresion

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya 2) Pertamina Asset 3

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III TEORI DASAR. Metode seismik refleksi merupakan suatu metode yang banyak digunakan dalam

BAB IV METODE DAN PENELITIAN

APLIKASI INVERSI SEISMIK UNTUK KARAKTERISASI RESERVOIR

BAB IV METODE PENELITIAN. Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015

BAB IV METODE PENELITIAN

ANALISA INVERSI ACOUSTIC IMPEDANCE (AI) UNTUK KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT PADA LAPANGAN X FORMASI PARIGI CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT.

BAB III METODE PENELITIAN. Objek yang dikaji adalah Formasi Gumai, khususnya interval Intra GUF a sebagai

TEKNOLOGI SEISMIK REFLEKSI UNTUK EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

KARAKTERISASI RESERVOAR BATUPASIR PADA LAPANGAN SG MENGGUNAKAN INVERSI ACOUSTIC IMPEDANCE (AI) DAN ELASTIC IMPEDANCE (EI)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan melalui langkah - langkah untuk memperoleh

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

Bab III Pengolahan Data

Nugroho Budi Raharjo * Widya Utama * Labolatorium Geofisika Jurusan Fisika FMIPA ITS ABSTRAK

BAB IV INTERPRETASI SEISMIK

PENERAPAN METODE F-K DEMULTIPLE DALAM KASUS ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE

BAB II TEORI DASAR (2.1) sin. Gambar 2.1 Prinsip Huygen. Gambar 2.2 Prinsip Snellius yang menggambarkan suatu yang merambat dari medium 1 ke medium 2

Keywords: Pre Stack Depth Migration, Constarined Velocity Inversion, Grid Based Tomography.

INVERSI IMPEDANSI ELASTIK UNTUK MENGESTIMASI KANDUNGAN RESERVOIR BATUPASIR LAPANGAN Ve FORMASI CIBULAKAN CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

BAB III MIGRASI KIRCHHOFF

KIRCHHOFF DEPTH MIGRATION MENGGUNAKAN MODEL KECEPATAN YANG DIBANGUN DARI COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) TUGAS AKHIR

SEISMIC DATA PROCESSING

ANALISIS ATRIBUT SEISMIK UNTUK IDENTIFIKASI POTENSI HIDROKARBON (Studi kasus daerah Amandah, Formasi Talangakar, Cekungan Jawa Barat Utara)

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 2, No. 1, Januari 2014, Hal 31-38

Pengolahan Data Seismik 2 D Menggunakan ProMAX "Area Cekungan Gorontalo"

INTERPRETASI DATA PENAMPANG SEISMIK 2D DAN DATA SUMUR PEMBORAN AREA X CEKUNGAN JAWA TIMUR

METODE KOHERENSI STRUKTUR-EIGEN DAN SEMBLANCE UNTUK DETEKSI SESAR PADA DATA SEISMIK 3-D TUGAS AKHIR

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. laut Indonesia, maka ini akan mendorong teknologi untuk dapat membantu dalam

Aplikasi Inversi Seismik untuk Karakterisasi Reservoir lapangan Y, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Analisis Reservoar Pada Lapangan

ANALISIS PERBEDAAN PENAMPANG SEISMIK ANTARA HASIL PENGOLAHAN STANDAR DENGAN PENGOLAHAN PRESERVED AMPLITUDE

ATENUASI NOISE DENGAN MENGGUNAKAN FILTER F-K DAN TRANSFORMASI RADON PADA DATA SEISMIK 2D MULTICHANNEL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV PERMODELAN POISSON S RATIO. Berikut ini adalah diagram alir dalam mengerjakan permodelan poisson s ratio.

INTERPRETASI DATA SEISMIK PADA CEKUNGAN X : STUDI KASUS EKSPLORASI GEOFISIKA UNTUK MENCARI AREA PROSPEK MIGAS

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN

ATENUASI MULTIPLE PADA DATA SEISMIK 2D CEKUNGAN BRYANT CANYON LEPAS PANTAI TELUK LOUISIANA TEXAS

Transkripsi:

ANALISIS PRE STACK TIME MIGRATION (PSTM) DAN PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) METODE KIRCHHOFF DATA SEISMIK 2D LAPANGAN Y CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Yenni Fitri 1, Afdal 1, Daz Edwiza 2, Mualimin 3 1 Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas 2 Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Andalas 3 PT. Pertamina EP ASSET 3 Cirebon e-mail: ye_nhi@ymail.com ABSTRAK Pada penelitian ini telah dilakukan migrasi sebelum stack metode Kirchhoff dengan domain waktu dan kedalaman. Pre stack time migration (PSTM) dan pre stack depth migration (PSDM) menghasilkan penampang seimik dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing. PSTM menghasilkan penampang seismik dengan reflektor yang lebih fokus tetapi kemenerusan kurang kontinyu. PSDM menghasilkan penampang seismik dengan kemenerusan reflektor yang baik tetapi kurang fokus. Dari segi kemenerusan reflektor, PSDM lebih cocok diaplikasikan pada data seismik 2D lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara. Hal ini karena daerah penelitian ini memiliki struktur geologi dan statigrafi yang kompleks. Kata kunci : stacking, migrasi, PSTM dan PSDM ABSTRACT Pre stack migration using the Kirchhoff method in time and depth domains has been conducted. The seismic cross-section produced by the pre stack time migration (PSTM) and pre stack depth migration (PSDM) has certain advantages and disadvantages. The reflector of the cross-section from the PSTM more focuses but less continuity. On the other hand, the PSDM yields the crosssection with better reflector continuity but less focus. Thus, in terms of reflector continuity, the PSDM is more proper used in 2D seismic data of 'Y' field, North West Java Basin. This is due to the basin having complex geologic structure and stratigraphy. Keywords : stacking, migration, PSTM and PSDM I. PENDAHULUAN Metode seismik refleksi memberikan kontribusi besar dalam kegiatan eksplorasi seismik. Hal ini disebabkan metode ini mempunyai ketepatan serta resolusi yang tinggi di dalam memodelkan struktur geologi di bawah permukaan bumi. Metode ini dapat menentukan titik pemboran dan menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan success ratio pemboran (Priyono, 2006). Metode seismik refleksi dilakukan melalui tiga tahapan yaitu, akuisisi, pengolahan dan interpretasi data. Tahapan pengolahan data merupakan tahapan sangat penting untuk menghasilkan penampang seismik beresolusi tinggi. Hal ini, untuk melihat zona target yang diinginkan dan dapat menampilkan kondisi bawah permukaan yang sesuai dengan interpretasi kondisi geologi daerah tersebut (Mukkadas, 2005). Pada pengolahan data dilakukan beberapa koreksi untuk menghasilkan penampang seismik yang baik. Salah satu koreksi yang dilakukan adalah migrasi. Migrasi merupakan proses untuk memindahkan kedudukan reflektor pada posisi dan waktu pantul yang sebenarnya (Hasanudin, 2005). Metode migrasi berdasarkan algoritma dibagi tiga yaitu, Kirchhoff, beda hingga (finite difference), dan transformasi Fourier atau migrasi F-K. Migrasi berdasarkan tipenya dibagi menjadi migrasi sebelum stack (pre stack migration) dan migrasi sesudah stack (post stack migration). Post stack migration dan prestack migration dapat dilakukan dengan domain waktu dan kedalaman (Yilmaz, 1987). Sulistiana (2011) melakukan pengolahan data seismik laut 2D dengan post stack dan migrasi pre stack dalam domain waktu. Migrasi pre stack menghasilkan penampang stack yang lebih bagus daripada migrasi post stack. Penggambaran struktur penampang pre stack mampu 219

menggambarkan struktur sesar dengan lebih baik dan kemenerusan yang lebih kontinyu dibandingkan post stack. Kesimpulan yang sama juga didapatkan oleh Herdiyantoro (2012). Sukmana (2014) melakukan migrasi tipe post stack dengan metode Kirchhoff dan finite difference. Hasilnya menunjukkan perbedaan pencitraan bawah permukaan kedua metode tersebut. Pada metode Kirchhoff pencitraan bawah permukaan kenampakan reflektor lebih jelas dan lebih kontinyu, sedangkan pada metode finite difference pencitraan bawah permukaan lebih fokus dan tegas untuk titik reflektor tetapi kenampakannya tidak terlalu jelas. Pre stack migration dapat juga dilakukan dalam domain kedalaman (PSDM). Tipe migrasi ini, dapat menggambarkan struktur bawah permukaan yang kompleks dan variasi kecepatan yang kompleks dengan lebih baik. Keakuratan ini karena kemampuannya untuk melakukan pemfokusan terhadap suatu titik reflektor pada kondisi dimana terjadi perubahan kecepatan secara lateral (Furniss, 1999). Berbeda dengan PSDM, PSTM lebih akurat untuk struktur geologi dan kecepatan yang tidak terlalu kompleks. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan migrasi tipe PSTM dan PSDM pada struktur kompleks lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara. Cekungan Jawa Barat Utara merupakan cekungan yang memiliki struktur geologi yang kompleks karena merupakan hasil dari sedimentasi tektonik berkali-kali (Budiyani dkk., 1991). II. METODE Pada penelitian ini dilakukan pre stack migration metode Kirchhoff dengan dua domain yaitu PSTM dan PSDM. Skema dari tahapan pengolahan data untuk kedua metode ini dapat dilihat pada Gambar 1. 220

Gambar 1 Skema penelitian 2.1 Pre Stack Time Migration (PSTM) Data penelitian yang digunakan adalah data seismik 2D yang sudah berupa CDP gather dari nomor 2009 sampai 3071 yang telah dilakukan pra-pengolahan data oleh Pertamina EP. Migrasi Tipe PSTM dilakukan dua kali dengan kecapatan RMS yang berbeda. Kecepatan RMS awal diperoleh dengan mentransformasi langsung kecepatan stacking menjadi kecepatan RMS. Kecepatan stacking diperoleh dari picking kecepatan secara vertikal pada semblance yang memiliki energi maksimum ditandai warna yang lebih kuat sampai diperoleh gather yang datar seperti Gambar 2.d. Setelah kecepatan RMS awal diperoleh barulah dilakukan migrasi PSTM awal dengan dengan adalah masukan yang digunakan adalah CDP gather dan kecepatan RMS awal. Hasil migrasi PSTM berupa time migrated gather dan time migrated section. 221

Gambar 2 Picking Kecepatan stacking time section, kecepatan satu step, (c) semblance dan (d) CDP gather Kecepatan RMS akhir diperoleh dengan melakukan picking secara horizontal dengan terlebih dahulu membagi time migrated section hasil PSTM awal menjadi beberapa lapisan. Kecepatan RMS akhir merupakan suatu cara untuk memperbaiki kecepatan RMS awal. Setelah diperoleh kecepatan RMS akhir kemudian dilakukan migrasi PSTM akhir dengan masukan time migrated gather hasil PSTM awal dan kecepatan RMS akhir. Migrasi PSTM akhir selesai jika diperoleh time migrated gather yang datar. Jika belum datar, proses pembuatan kecepatan RMS akhir diulangi. 2.2 Pre Stack Depth Migration (PSDM) Migrasi tipe PSDM dilakukan dua kali dengan menggunakan kecepatan interval. Kecepatan interval awal diperoleh dengan mentransformasi kecepatan RMS akhir ke formula Dix dan dipicking kecepatan pada dua lapisan teratas dan dilanjutkan picking kecepatan lapisan ketiga dan seterusnya pada coherency inversion. Setelah diperoleh kecepatan interval awal barulah dilakukan migrasi PSDM awal dengan masukan CDP gather dan kecepatan interval awal. PSDM awal menghasilkan depth migrated section dan depth migrated gather. Kecepatan interval akhir diperoleh dengan mentransformasi kecepatan interval awal ke horizon based tomography dan dilakukan picking kecepatan pada tiap-tiap lapisan. Setelah diperoleh kecepatan interval akhir barulah dilakukan migrasi PSDM akhir dengan masukan depth migrated gather hasil PSDM awal dan kecepatan interval akhir. Migarsi PSDM dikatakan selesai apabila diperoleh depth migrated gather hasil PSDM akhir yang datar. Jika belum datar, maka proses pembuatan kecepatan interval akhir diulangi kembali. III. HASIL DAN DISKUSI 3.1 Penampang Seismik Hasil Stacking Gambar 3 menunjukkan penampang seismik hasil stacking. Dari gambar dapat dilihat bahwa kemenerusan masih kurang baik dan struktur reflektor sebenarnya belum terlihat jelas seperti ditunjukkan garis putus-putus warna hitam gambar. Penampang seismik hasil stacking masih terdapat efek multiple seperti ditunjukkan oleh garis warna hitam pada gambar. 222

Gambar 3 Penampang seismik hasil stacking 3.2 Penampang seismik Hasil PSTM Hasil migrasi tipe PSTM ada dua keluaran yaitu time migrated gather dan time migrated section. Time migrated gather hasil PSTM awal (Gambar 4.a) menunjukkan gather yang masih belum datar, berbeda dengan hasil PSTM akhir (Gambar 4.b) yang datar. Dari Gambar 5 dapat dilihat reflektor hasil PSTM awal lebih fokus dibanding hasil PSTM akhir. Kemenerusan reflektor hasil PSTM akhir (Gambar 5.b) lebih jelas dibanding hasil PSTM awal (Gambar 5.a) yang ditunjukkan oleh garis putus-putus warna hitam. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan kualitas pencitraan penampang PSTM akhir lebih baik dibandingkan hasil PSTM awal. Gambar 4 Time migrated gather hasil PSTM awal dan PSTM akhir Gambar 5 Time migrated section hasil PSTM awal dan PSTM akhir Hasil PSTM akhir lebih baik daripada PSTM awal disebabkan oleh masukan gather dan kecepatan yang digunakannya. PSTM awal menggunakan CDP gather awal yang belum dimigrasi sehingga hasil migrasinya belum maksimum. Sedangkan, PSTM akhir menggunakan gather yang telah dimigrasi yaitu time migrated gather hasil PSTM awal sehingga lebih mudah 223

untuk membuat gathernya menjadi datar. Untuk kecepatan, PSTM awal menggunakan kecepatan RMS awal yang dianalisis secara vertikal tanpa membagi menjadi beberapa lapisan terlebih dahulu. Sedangkan kecepatan RMS yang digunakan pada PSTM akhir merupakan kecepatan RMS awal yang dianalisis kembali menggunakan metode picking secara horizontal atau picking kecepatan pada masing-masing lapisan. Dengan demikian, kecepatan RMS akhir memberikan hasil yang lebih baik untuk membuat gather menjadi datar sehingga hasil migrasi PSTM akhir memberikan kualitas pencitraan yang lebih baik dibandingkan hasil PSTM awal. 3.3 Penampang Seismik Hasil Migrasi Tipe PSDM Hasil migrasi tipe PSDM ada dua keluaran yaitu depth migrated gather dan depth migrated section. Depth migrated gather hasil PSDM awal dan akhir (Gambar 6) menghasilkan gather yang cukup datar. Hanya saja gather hasil PSDM awal (Gambar 6.a) agak miring dibandingkan dengan gather hasil PSDM akhir (Gambar 6.b) yang ditunjukkan oleh garis putus-putus warna putih. Depth migrated section PSDM awal dan akhir (Gambar 7) juga telah menunjukkan pencitraan yang baik. Akan tetapi, pencitraan kemenerusan dan ketajaman reflektor mengalami sedikit peningkatan pada PSDM akhir (Gambar 7.b) dibanding PSDM awal (Gambar 7.a) yang terlihat pada garis putus-putus warna hitam. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan kualitas pencitraan penampang PSDM akhir lebih baik dibanding hasil PSDM awal. Gambar 6 Depth migrated gather hasil PSDM awal dan PSDM akhir Gambar 7 Depth migrated section hasil PSDM awal dan PSDM akhir Hasil PSDM akhir lebih baik daripada PSDM awal disebabkan oleh masukan gather dan kecepatan yang digunakannya. PSDM akhir menggunakan CDP gather yang telah dimigrasi yaitu depth migrated gather hasil PSDM awal yang gathernya telah datar. Untuk kecepatan, PSDM awal menggunakan kecepatan interval awal yang diperoleh dari hasil picking pada transformasi Dix dan coherency inversion. Pada transformasi Dix, picking kecepatan dilakukan pada dua lapisan teratas yang diasumsikan lapisan tersebut datar. Lapisan ketiga dan seterusnya menggunakan coherency inversion. Keterbatasan pada transformasi Dix jika dua lapisan teratas yang digunakan teranyata tidak datar akan menghasilkan akumulasi error pada lapisan di bawahnya. PSDM akhir menggunakan kecepatan interval akhir yang diperoleh dari 224

hasil picking pada horizon based tomography. Pada horizon based tomography, picking kecepatan masing-masing lapisan dilakukan secara simultan atau serentak sehingga apabila terjadi error pada satu lapisan tertentu tidak mempengaruhi lapisan yang lainnya. Jadi, kecepatan interval akhir memberikan kemungkinakan error lebih kecil dibanding kecepatan interval awal sehingga hasil migrasi PSDM akhir menghasilkan kualitas pencitraan yang lebih baik dibanding PSDM awal. 3.4 Perbandingan Penampang Seismik PSTM dan PSDM Untuk membandingkan penampang seismik hasil PSTM dan PSDM digunakan PSTM akhir dan PSDM akhir. PSTM akhir adalah hasil terbaik dari dua kali melakukan migrasi tipe PSTM dan PSDM akhir adalah hasil terbaik dari dua kali melakukan migrasi tipe PSDM. Gambar 8 merupakan penampang seismik hasil stacking, hasil PSTM akhir dan PSDM akhir. 225

(c) Gambar 8 Penampang seismik stacking, PSTM akhir dan (c) PSDM akhir. Penampang seismik hasil stacking (Gambar 8.a) adalah penampang seismik dari lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara sebelum proses migrasi diaplikasikan. Secara umum dapat dilihat bahwa hasil migrasi PSTM (Gambar 8.b) dan PSDM (Gambar 8.c) mampu mereposisi reflektor dan memperbaiki kualitas pencitraan dibandingkan dengan hasil stacking (Gambar 8.a). Hal ini ditunjukkan oleh garis warna hijau, biru, kuning dan hitam pada masingmasing gambar. Dari Gambar 8 terlihat bahwa kemenerusan reflektor hasil PSDM (Gambar 8.c) lebih baik dibanding hasil PSTM (Gambar 8.b) yang ditunjukkan oleh garis warna hijau, biru, kuning dan hitam pada gambar. Pada hasil PSTM pencitraan posisi reflektor masih belum jelas dan kemenerusannya terputus-putus dan masih terlihat jelas efek multiple seperti terlihat pada garis hitam Gambar 8.b. Hasil PSTM juga menunjukkan kemiringan reflektor lebih besar dibandingkan hasil PSDM seperti terlihat pada garis kuning Gambar 8.b dan 8.c. Meskipun PSDM lebih baik dalam pencitraan posisi dan kemenerusan reflektor tetapi hasil PSDM menampilkan reflektor yang kurang fokus dibanding hasil PSTM seperti terlihat pada garis biru, hitam dan kuning Gambar 8.b dan 8.c. Hanya pada garis hijau Gambar 8.c posisi reflektor hasil PSDM lebih fokus dibanding hasil PSTM. Penampang seismik hasil migrasi PSDM lebih jelas kemenerusannya dibanding PSTM. Hal ini disebabkan karena pada PSDM kecepatan interval yang tepat mampu menghasilkan penggambaran geologi yang terbebas dari proses distorsi, sedangkan pada PSTM menghasilkan penggambaran struktur yang kurang tepat. Kecepatan interval yang tepat pada metode PSDM mampu mengembalikan reflektor seismik ke posisi lateral yang sebenarnya sedangkan pada PSTM tidak mampu memperlihatkan kondisi reflektor sebenarnya Metode PSTM dengan ternyata hanya dapat digunakan pada struktur geologi yang sederhana karena berasumsi perambatan gelombang lurus di bawah permukaan. Jejak sinar (raypath) pada domain waktu masih mengandung error akibat adanya perubahan kecepatan yang digunakan pada saat perambatan jejak sinar. Jadi, metode PSDM yaitu migrasi dengan domain kedalaman merupakan solusi terbaik untuk struktur geologi yang kompleks. Jejak sinar pada domain kedalaman sesuai dengan keadaan sebenarnya sehingga mampu menangani variasi kecepatan secara lateral. Migrasi domain kedalaman mampu melakukan pemfokusan pada titik reflektor pada kondisi tempat terjadinya perubahan kecepatan lateral. IV. KESIMPULAN Penerapan migrasi pada data seismik 2D lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara menghasilkan penampang seimik yang lebih baik dibandingkan dengan penampang seimik hasil stacking atau sebelum migrasi. Penampang hasil migrasi telah mampu menggambarkan reflektor yang lebih jelas dan menghilangkan efek multiple yang masih terdapat pada hasil stacking. Penerapan migrasi tipe PSTM dan PSDM pada data seismik 2D lapangan Y 226

Cekungan Jawa Barat Utara menghasilkan penampang seimik dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing. Penampang seismik hasil PSTM menghasilkan penampang seismik dengan reflektor yang lebih fokus tetapi kemenerusan kurang kontinyu. Penampang seismik hasil PSDM menghasilkan penampang seismik dengan kemenerusan reflektor yang baik tetapi kurang fokus. Pada lokasi penelitian ini, hasil migrasi PSDM lebih cocok diaplikasikan karena telah mampu mereposisi reflektor dan memberikan kemenerusan yang lebih kontinyu sehingga hasil interpretasi nantinya dapat menggambarkan struktur lapisan bawah permukaan bumi dengan benar. DAFTAR PUSTAKA Budiyani, S., Priambodo, D., Haksana, B.W., Sugianto,P., 1991. Konsep Eksplorasi Untuk Formasi Parigi di Cekungan Jawa Barat Utara. Makalah IAGI. Vol 20th, Indonesia. hal 45-67. Furniss, A., 1999, Velocity Modelling for Depth Conversion and Depth Imaging, 24th HAGI Annual Meeting Pre-Course, Surabaya. Hasanudin, M., 2005, Teknologi Seismik Refleksi Untuk Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi, Oseana, Vol.XXX, No.4, LIPI, Jakarta. Hendriyantoro, T.P., 2012, Analisa Penampang Seismik Pre Stack Time Migration dan Post Stack Time Migration Berdasarkan Metode Migrasi Kirchhoff (Studi Kasus Lpangan GAP#), Jurnal, Jur. Geofisika, ITS. Mukkadas, A., 2005, Analisis Perbedaan Penampang Seismik Antara Hasil Pengolahan Standar dengan Pengolahan Preserved Amplitude, MEKTEK, Vol.VII, No.3. Priyono, A., 2006, Buku Ajar Seismik Eksplorasi, Prodi. Geofisika, ITB, Bandung. Sukmana, A., 2014, Migrasi Finite Difference dan Kirchhoff Pada Data Seismik Refleksi 2D, Fibusi (JoF), Vol.2, No.1, Jur. Pend. Fisika, UPI. Sulistiana, N., 2011, Reprocessing Data Seismik untuk Meningkatkan Kualitas Penampang Stack, Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY, Semarang. Yilmaz, O., 1988, Seismic Data Processing, Society Exploration Geophysics, Tusla.1 227