MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober Desember 2011, bertempat di kandang C dan Laboratorium Nutrisi Unggas, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis proksimat pakan dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Ternak yang Digunakan Penelitian ini menggunakan DOC ayam broiler strain Ross sebanyak 160 ekor dengan rataan bobot badan awal 42 g/ekor yang dipelihara selama 33 hari. Kandang dan Peralatan Kandang yang digunakan adalah 4 buah kandang yang setiap kandang dibagi menjadi 4 pen dengan ukuran masing-masing 1m x 1m x1,5m. Kandang sistem litter beralaskan sekam padi yang telah difumigasi. Setiap pen berisi 10 ekor ayam dan dilengkapi dengan 1 tempat ransum dan 1 tempat air minum. Setiap kandang diberi lampu pijar 100 watt sebanyak 1 buah sebagai penghangat buatan (brooder). Peralatan lain yang digunakan diantaranya tirai penutup, kertas koran, timbangan digital, plastik untuk tempat ransum, ember untuk mengambil air, seng sebagai lingkar pembatas, sapu, sekam pengganti, termometer, gelas ukur, label, karung, mangkuk, sikat lantai, detergen, karbol, masker, dan alat tulis. Ransum dan Air Minum Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Air minum yang diberikan pada ayam adalah air minum kemasan isi ulang yang telah dianalisis kandungan mineralnya (Tabel 2). Vitamin E dan C yang digunakan merupakan produksi PT. Trouw Nutrition Indonesia dan sudah disediakan dalam bentuk bubuk. Pada saat 6 hari pertama penelitian ini menggunakan pakan starter komersial BR-611 berbentuk crumble produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia. Komposisi zat makanan ransum komersial disajikan dalam Tabel 2. 15
Tabel 2. Kandungan Mineral Air yang Diberikan pada Ayam Penelitian Parameter Satuan Hasil Persyaratan SNI 01-3553-1996 Keadaan: Bau tidak berbau tidak berbau Rasa Normal normal Warna Unit PtCo < 0,04 maks. 5 ph 6,53 6,5-8,5 Kekeruhan NTU 0,07 maks. 5 Jumlah zat padat terlarut mg/liter 64 maks. 500 Kesadahan (CaCO 3 ) mg/liter 28,6 maks. 150 Zat Organik (KMnO 3 ) mg/liter 0 maks. 1,0 Nitrat mg/liter 7,55 maks. 45 Nitrit mg/liter 0,001 maks. 0,005 Amonium mg/liter < 0,002 maks. 0,15 Sulfat mg/liter 4,4 maks 200 Klorida mg/liter 13,8 maks. 250 Fluorida mg/liter 0,69 maks. 1 Sianida mg/liter < 0,003 maks. 0,05 Besi mg/liter < 0,0006 maks. 0,3 Mangan mg/liter < 0,0001 maks. 0,05 Tabel 3. Komposisi Zat Makanan Ransum Komersial Broiler Starter BR-611 Produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia Zat Makanan Jumlah (%) Kadar air (maksimal) (%) 13 Protein kasar (%) 21,5-23,5 Serat kasar (maksimal) (%) 5 Abu (maksimal) (%) 7 Kalsium (minimal) (%) 0,9 Fosfor (minimal) (%) 0,6 Energi metabolis (kkal/kg) 3000 3100 Sumber: Label Pakan BR-611 PT. Charoen Pokphand Indonesia (2011) Ransum Perlakuan berbentuk crumble diberikan pada umur 7 21 hari dengan mengacu pada kebutuhan Ross (2009). Ransum penelitian berbentuk pellet diberikan pada umur 22-33 hari. Komposisi dan kandungan zat makanan ransum penelitian tercantum pada Tabel 4. 16
Tabel 4. Komposisi dan Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian (umur 7 33 hari) Bahan R1 R2 R3 R4 Jagung (%) 60,30 46,06 60,30 46,06 Wheat Pollard (%) 1,40 8,20 1,40 8,20 Bungkil Kedele (%) 24,75 34,63 24,75 34,63 Tepung daging dan tulang (%) 4,85 1,10 4,85 1,10 Corn Gluten Meal (CGM) (%) 4,75 1,00 4,75 1,00 Crude Palm Oil (CPO) (%) 1,35 6,15 1,35 6,15 Premix a (%) 2,0 2,50 2,0 2,50 Tepung batu (limestone) (%) 0,10 0,36 0,10 0,36 Total 100 100 100 100 Vitamin E+C (g/l air minum) 0 0 1 1 Hasil analisis kandungan zat makanan ransum b : Kadar air (%) 13,45 13,04 13,45 13,04 Abu (%) 4,84 4,80 4,84 4,80 Protein kasar (%) 21,81 23,29 21,81 23,29 Lemak kasar (%) 4,73 7,69 4,73 7,69 Serat kasar (%) 4,02 5,94 4,02 5,94 BETN (%) 51,15 45,24 51,15 45,24 Energi bruto (kkal/kg) 3.986,00 4.328,00 3.986,00 4.328,00 Kalsium (%) 1,25 1,32 1,25 1,32 Phospor Total(%) 0,66 0,76 0,66 0,76 Keterangan : a setiap kg premix (produksi PT. Trouw Nutrition Indonesia) mengandung vitammin A 500 KIU, vitamin D 3 140 KIU, vitamin E 3,2 g, vitamin B 1 120 mg, vitamin B 2 320 mg, vitamin B 6 160 mg, vitamin B 12 0,8 mg, biotin 3,6 mg, vitamin K 3 120 mg, calcium d-pantothenate 480 mg, folic acid 40 mg, niacin 2 g, Fe 2,4 g, Cu 0,8 g, Zn 2,4 g, Mn 2,8 g, Se 6 mg, I 60 mg b Analisis zat makanan ransum dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Prosedur Pemeliharaan Penelitian ini dilangsungkan selama 33 hari. Pemberian pakan saat DOC (1 minggu pertama) dilakukan 8 kali sehari setiap jam 06.00, 08.00, 10.00, 12.00, 15.00, 17.00, 19.00, dan terakhir pada jam 21.00 dengan jumlah pemberian sedikit atau secukupnya. Pemberian pakan ransum penelitian untuk umur 8-33 (minggu ke-2 sampai akhir) diberikan selama 2-3 kali sehari. Pagi hari diberikan sebanyak 40% dimulai pada jam 06.00 WIB setelah kandang dibersihkan, kemudian sebanyak 60% pada waktu jam 15.30 WIB. Pemberian vitamin melalui air minum hanya dilakukan selama jam 09.00 15.00 WIB. Pemberian vitamin sehari dilakukan selama 2 kali (masing-masing 3 jam) untuk mengantisipasi reduksi kandungan vitamin dalam air. Adapun acuan dalam pemberian vitamin C ialah sebesar 150 mg/kg pakan atau setara dengan 60 mg/l air minum (Mckee et al., 1997) sedangkan untuk vitamin E sebesar 17
100 mg/kg pakan atau setara dengan 8 mg/l air minum setelah dikurangi kandungan yang ada dalam pakan (Niu et al., 2009). Dengan acuan ini maka dosis vitamin yang diberikan adalah sebanyak 1 gram untuk setiap 1 liter air minum. Suhu kandang selama pemeliharaan selalu diukur. Suhu diukur sebanyak 3 kali dalam sehari, yaitu pada pukul 07.00, 13.00, dan 23.00. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer digital. Nilai rataan suhu lingkungan di kandang selama proses pemeliharaan berkisar 25-30 o C. Rancangan dan Analisis Data Perlakuan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yakni: 1. R1 = pakan tinggi pati (jagung) tanpa suplementasi vitamin E dan C melalui air minum 2. R2 = pakan tinggi lemak (CPO) tanpa suplementasi vitamin E dan C melalui air minum 3. R3 = pakan tinggi pati (jagung) + suplementasi vitamin E dan C melalui air minum 4. R4 = pakan tinggi lemak (CPO) + suplementasi vitamin E dan C melalui air minum Rancangan Percobaan Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 10 ekor ayam. Apabila terdapat perbedaan (p < 0.05) antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Mattjik dan Sumertajaya 2002). Model linier yang digunakan adalah sebagai berikut : Y ij = µ + τ i + ε ij Y ij = Nilai pengamatan perlakuan ke-i ulangan ke-j µ = Rataan umum τ i ε ijk = Efek perlakuan ke-i = Galat percobaan 18
Peubah yang Diamati Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah: Suhu. Suhu diukur sebanyak 3 kali dalam sehari, yaitu pada pukul 07.00, 13.00, dan 23.00 dengan menggunakan termometer digital. Konsumsi Ransum (g/ekor). Konsumsi ransum rataan per ekor per minggu dihitung dari selisih antara jumlah ransum yang diberikan selama 7 hari dengan sisa ransum. Perhitungan sisa ransum dilakukan dengan memisahkan ekskreta dan sisa ransum yang ada di tempat pakan. Bobot Badan Akhir (g/ekor). Bobot badan akhir diperoleh dari rataan bobot badan per ekor pada saat ayam berumur 33 hari. Pertambahan Bobot Badan (g/ekor). Perhitungan bobot badan awal saat DOC datang dilakukan satu per satu untuk mengetahui bobot badan DOC rata-rata. Perhitungan pertambahan bobot badan dihitung dengan cara penimbangan bobot badan per ekor pada akhir minggu dikurangi rataan bobot badan per ekor awal minggu DOC datang. Perhitungan PBB juga dilakukan 7 hari sekali. Konversi Ransum. Konversi ransum diperoleh dari perbandingan jumlah konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan (feed/gain) setiap minggu selama penelitian. Mortalitas (%). Banyaknya ayam yang mati dibandingkan dengan jumlah ayam awal yang dipelihara. IOFCC (Income Over Feed and Chick Cost) (Rp/ekor). IOFCC (Income Over Feed and Chick Cost) yakni perbedaan rata-rata pendapatan (dalam rupiah) yang diperoleh dari hasil penjualan satu ekor ayam pada akhir penelitian dengan rata-rata pengeluaran biaya satu ekor ayam selama penelitian setelah dikurangi dengan biaya pakan. Untuk mengetahui income over feed and chick cost (IOFCC) digunakan rumus menurut Santoso dalam Mide (2007): IOFCC (Rp/ekor) = TP (Rp) {BR (Rp) + DOC (Rp)} Keterangan : IOFCC= Income Over Feed and Chick Cost TP = Total Penjualan BR = Biaya Ransum + vitamin E dan C 19