PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 03/Menhut-II/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS TAMAN NASIONAL MENTERI KEHUTANAN,

TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM MENTERI KEHUTANAN,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM BALAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Banten mempunyai fungsi sebagai berik

KAWASAN KONSERVASI UNTUK PELESTARIAN PRIMATA JURUSAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM STRATEGI PEMULIHAN KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA PULAU RAMBUT

BAB I PENDAHULUAN. ekosistemnya. Pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

2016, No d. bahwa Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a, sudah tidak sesuai dengan

GUBERNUR SULAWESI UTARA

1 S A L I N A N. No. 150, 2016 GUBERNUR KALIMANTAN BARAT BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 150 TAHUN 2016 NOMOR 150 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Menteri Kehutanan No. 134/Menhut-II/2004 tentang Perubahan fungsi

TATA CARA MASUK KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN BUPATI MADIUN,

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya alam juga semakin besar, salah satunya kekayaan alam yang ada

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 96 TAHUN 2015 TENTANG

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

URAIAN TUGAS BALAI PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KEPALA BALAI

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 84 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.49/Menhut-II/2014 TENTANG

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Ekologi Hidupan Liar HUTAN. Mengapa Mempelajari Hidupan Liar? PENGERTIAN 3/25/2014. Hidupan liar?

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN,

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005

2. Seksi Pengembangan Sumberdaya Manusia; 3. Seksi Penerapan Teknologi g. Unit Pelaksana Teknis Dinas; h. Jabatan Fungsional.

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 35 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

4 Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki tanah air yang kaya dengan sumber daya alam dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hidup Indonesia terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Kaedah

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 123/Kpts-II/2001

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

PP 62/1998, PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DI BIDANG KEHUTANAN KEPADA DAERAH *35837 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP)


WALIKOTA TASIKMALAYA

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2009 NOMOR 19 SERI D

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 95 TAHUN 2008

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 022 TAHUN 2017 TENTANG TUGAS, POKOK, FUNGSI, DAN URAIAN TUGAS DINAS KEHUTANAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. b. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang kehutanan;

I. PENDAHULUAN. individual tourism/small group tourism, dari tren sebelumnya tahun 1980-an yang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan.

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 71 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS KEHUTANAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 58 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA RANCANGAN PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR. TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA BUNDER

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 14 TAHUN 2013

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah

6 PERTIMBANGAN KAWASAN KARST DALAM PENYUSUNAN ZONASI TNMT

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dilakukan secara tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Nomor : 677/Kpts-II/1998 TENTANG HUTAN KEMASYARAKATAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN,

DATA PROFIL SKPD. 3. ALAMAT Jalan Laskar Wanita Mentarjo Komplek Perkantoran Gunung Gare Pagar Alam

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.22, 2008 DEPARTEMEN KEHUTANAN. KAWASAN. Pelestarian.Suaka Alam. Pengelolaan. Pedoman.

BAB I PENDAHULUAN. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang. sumber daya alam. Pasal 2 TAP MPR No.IX Tahun 2001 menjelaskan

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 18 TAHUN 2008 T E N T A N G

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROSES SUKSESI VEGETASI GAMBUT DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH BIDANG KEGIATAN : PKM-AI.

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1998 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN EKOSISTEM LEUSER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA NILAI KEARIFAN LOKAL: PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

PERATURAN PEMERINTAH Nomor 68 Tahun 1998, Tentang KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1998 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN EKOSISTEM LEUSER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 1998 TENTANG

DESAIN PENGEMBANGAN PENATAAN WILAYAH KERJA TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

WALIKOTA TASIKMALAYA

BIDANG KEHUTANAN. SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAHAN KABUPATEN OKU 1. Inventarisasi Hutan

DINAS KEHUTANAN PROPINSI JAWA TIMUR

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN NOMOR 677/KPTS-II/1998 TENTANG HUTAN KEMASYARAKATAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN,

LEMBAR PENGESAHAN. a. Nama Lengkap : Rianah Sary NIM. H

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya

2 dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Suhartini Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 4 TAHUN 2006

LAPORAN IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI OBYEK WISATA ALAM DI KARANGTEKOK BLOK JEDING ATAS. Oleh : Pengendali EkosistemHutan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

AA. URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Transkripsi:

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA MENUJU PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL MANDIRI: PENGELOLAAN BERBASIS RESORT, DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR Bidang Kegiatan : PKM Artikel Ilmiah Diusulkan Oleh : Bobi Riharno (E34053345/ 2005) Lina Kristina Dewi (E34050785/ 2005) Meutia Esti Handini (E34052737/ 2005) Febriyanto Kolanus (E34063555/ 2006) INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

ii HALAMAN PENGESAHAN USULAN PKM-AI 1. Judul Kegiatan 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/Institut/Politeknik e. Alamat Rumah dan No.Tel./HP 4. Anggota Pelaksana Kegiatan 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No.Tel./HP Menyetujui, Ketua Jurusan/Program Studi/, Pembimbing Unit Kegiatan Mahasiswa : MENUJU PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL MANDIRI: PENGELOLAAN BERBASIS RESORT, DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR : Pertanian : Bobi Riharno : E34053345 : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata : Institut Pertanian Bogor : Pondok AA Jl. Bateng No. 19 Rt 01/09 Kec. Dramaga Kab. Bogor Kode Pos 16680 Tel. - / HP 085219148486 email: bono_2510@yahoo.com : 3 orang : Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc : 132 133 962 : Jl. Praja Raya No. 8 Kebayoran Lama Jakarta Selatan HP 08159477743 Bogor, 2 April 2009 Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP. 131 411 832 Wakil Rektor III Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bobi Riharno NIM. E34053345 Dosen Pendamping, Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS NIP. 130 473 999 Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc NIP. 132 133 962

1 MENUJU PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL MANDIRI: PENGELOLAAN BERBASIS RESORT, DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR Bobi Riharno, Lina Kristina Dewi, Meutia Esti Handini, Febriyanto Kolanus Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Kawasan konservasi di Indonesia semakin hari semakin diperhatikan keberadaannya. Terbukti dengan semakin banyaknya kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi, misalnya saja Taman Nasional (TN), yang saat ini jumlahnya terus bertambah. Menurut Widada (2008), Taman Nasional yang pertama dibentuk di Indonesia adalah TN Gunung Gede pangrango, TN Ujung Kulon, TN Gunung Leuser,TN Baluran, dan TN Komodo pada tahun 1980. Keberadaan Taman Nasional terus menjadi perhatian, dan saat ini TN di Indonesia berjumlah 51. Saat ini, data dan informasi penting yang akurat mengenai Taman Nasional sering dipegang oleh mitra TN sehingga pengelolaan kawasan menjadi lemah. Pengelolaan Taman Nasional dengan sistem yang ada sekarang umumnya kurang efektif karena kegiatan terfokus di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) bahkan ada yang terfokus di TN padahal kunci utama kegiatan adalah di resort. Oleh karena itu perlu adanya system pengelolaan bentuk lain yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang saat ini dihadapi oleh TN di Indonesia. Salah satu cara yang saat ini sedang dalam tahap percobaan adalah Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Pengelolaan TN Berbasis Resort adalah suatu upaya pengelolaan yang memberdayakan resort sebagai unit pengelolaan terkecil di lapangan, sehingga tidak cukup hanya di tingkat SPTN. Sumberdaya manusia ditingkat Resort akan bekerja pada dua fokus secara paralel dan sinergi. Saat ini Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) sudah melaksanakan sistem pengelolaan tersebut, dari hasil yang terlihat di lapangan melalui wawancara dengan pengelola kawasan serta observasi lapang dapat diketahui bahwa pengelolaan dengan sistem ini sangat efektif karena dengan pengelolaan kawasan menjadi optimal terutama dilihat dari kinerja pegawai, baik dari tingkat atas (Balai) hingga tingkat yang paling bawah (Resort). Pengelolaan Taman Nasional berbasis resort dapat diterapkan pada pengelolaan yang didasarkan pada pemangkuan kawasan, sehingga semua unit dapat diberdayakan dengan optimal. Kata Kunci: Taman Nasional, Resort, Alas Purwo

2 PENDAHULUAN Latar Belakang Kawasan konservasi merupakan kawasan yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai kawasan yang dilindungi dan memiliki ciri khas tersendiri. Tujuan utama pengelolaan kawasan konservasi adalah menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan ekosistemnya disamping untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penunjang budidaya, rekreasi, wisata alam, dan jasa lingkungan. Selain itu, pengelolaan kawasan konservasi mengacu kepada tiga prinsip konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Salah satu bentuk kawasan konservasi yang ada di Indonesia adalah Taman Nasional, yaitu kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (Departemen Kehutanan, 1990). Saat ini, terdapat 51 Taman Nasional di Indonesia, dimana setiap Taman Nasional memiliki ciri dan kriteria yang berbeda-beda, sehingga persoalan yang dihadapinya pun sangat kompleks dan beragam. Salah satu persoalan yang dihadapi terkait dengan masalah internal, yaitu minimnya keberadaan staf di lapangan, yang berdampak pada masih seringnya terjadi banyak gangguan kawasan seperti illegal logging, perambahan, pengambilan hasil hutan yang illegal dll. Pola-pola pengambilan keputusan terhadap berbagai persoalan dan pengembangan potensi pengelolaan di suatu Taman Nasional, seharusnya didasarkan pada data dan informasi terkini dan akurat, dengan mendorong dikembangkannya pola pengambilan keputusan yang ilmiah (scientific-based decision making). Namun sayangnya, dalam pengelolaan TN saat ini, sebagian besar data terkini dikelola oleh para mitra TN. Hal ini juga sebagai dampak akibat lemahnya pengelolaan TN dalam mengelola data dan informasi yang digali dari kawasan TN. Sehingga dibutuhkan suatu upaya agar performa pengelolaan TN dapat ditingkatkan dan Taman Nasional dapat dikelola secara mandiri.

3 Saat ini, hampir semua organisasi pengelola TN belum mampu membangun sistem pengelolaan yang berbasis pada pola pemangkuan kawasan. Banyak resortresort, sebagai unit terkecil manajemen kawasan di tingkat lapangan yang belum diberdayakan. Sebagai unit terkecil pengelolaan Taman Nasional, Resort memegang kunci dalam pengumpulan data dan informasi terkini dari kawasan Taman nasional tersebut. Sehingga semua informasi terkini mengenai kawasan bisa dipetakan dan dijadikan dasar perencanaan dan pengelolaan TN. Pola pengelolaan seperti ini disebut dengan pengelolaan taman nasional berbasis resort. Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort dilakukan dengan memberdayakan resort sebagai unit pengelolaan terkecil taman nasional di lapangan, sehingga tidak cukup hanya di tingkat Seksi Pengelolaan Taman Nasional. Keberhasilan suatu kegiatan pengelolaan kawasan hutan sangat berpengaruh pada aksi dan reaksi petugas di lapangan dalam melakukan berbagai kegiatan pengelolaan baik pada bidang perlindungan dan pengamanan hutan, monitoring dan pengendalian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta kegiatan lain yang bersifat pendekatan kepada masyarakat sekitar kawasan.sdm ditingkat Resort akan bekerja pada dua fokus secara paralel dan sinergi. Pola pengelolaan berbasis resort ini sudah mulai diterapkan oleh Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) yang saat ini menjadi perintis pelaksanaan pengelolaan Taman Nasional berbasis resort di Indonesia. Sampai saat ini, hasil yang didapatkan sangat efektif, dimana kinerja pegawai lapangan meningkat, terkumpulnya data dan informasi yang akurat yang dikelola oleh pengelola TN sendiri serta berkurangnya gangguan terhadap kawasan. TUJUAN Tujuan penulisan artikel ilmiah ini adalah : 1. Untuk mempelajari implementasi pola pengelolaan berbasis resort di Taman Nasional Alas Purwo 2. Untuk menentukan nilai keberhasilan pola pengelolaan taman nasional berbasis resort.

4 METODE Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Februari-23 Maret 2009 dan berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) dengan fokus pengambilan data di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 1 yaitu di Resort Rowobendo, Resort Grajagan dan Resort Pancur. Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Taman Nasional Alas Purwo Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam pengambilan data adalah kuisioner, alat perekam, alat dokumentasi berupa kamera, buku-buku di perpustakaan Taman Nasional Alas Purwo, dan alat tulis. sementara bahan dan obyek yang digunakan yaitu aspek kelembagaan serta aktivitas yang ada di masing-masing resort di TNAP khususnya SPTN 1.

5 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi jenis aktivitas yang dilakukan setiap resort terkait dengan rencana kerja yang telah disusun, dan kondisi potensi kawasan yang ada di masing-masing resort. Sedangkan data sekunder meliputi rencana kerja dan laporan bulanan setiap resort tahun 2009, rencana kerja TN tahun 2009, dan laporan kejadian masing-masing resort tahun 2008 sampai 2009. Metode yang digunakan untuk memperoleh data primer adalah melalui ikut serta dalam aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing resort serta mencatat hasil dari aktivitas tersebut. Sementara data sekunder diambil melaui studi literatur dan wawancara dengan pihak pengelola baik di tingkat balai maupun resort, pengunjung, dan masyarakat sekitar Taman Nasional. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan berbasis resort yang telah diterapkan oleh TNAP merupakan pengelolaan yang memberdayakan resort sebagai unit pengelola terkecil dalam TN. Struktur resort dalam pengelolaan TNAP berada dibawah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN). Menurut Departemen Kehutanan (2007), pola pembangunan struktur pengelolaan Taman Nasional Alas Purwo berdasarkan P. 03/Menhut-II/2007 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional merupakan Balai Taman Nasional Tipe B yang terdiri dari : 1. Sub Bagian Tata Usaha; 2. Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I 3. Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II 4. Kelompok Jabatan Fungsional Sub bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan tata persuratan, ketatalaksanaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, kearsipan, rumah tangga, perencanaan, kerjasama, data, pemantauan dan evaluasi, pelaporan serta kehumasan.

6 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan anggaran, evaluasi dan pelaporan, bimbingan teknis, pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, pengelolaan kawasan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan lestari, pengamanan dan pengendalian kebakaran hutan, pemberantasan penebangan dan peredaran kayu, tumbuhan, dan satwa liar secara illegal serta pengelolaan sarana prasarana, promosi, bina wisata alam dan bina cinta alam, penyuluhan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta kerjasama di bidang pengelolaan kawasan taman nasional. (Departemen Kehutanan,2007) Pengelolaan TNAP secara operasional kerja terbagi menjadi dua wilayah kerja Seksi Penngelolaan dan masing-masing terbagi menjadi 3 (tiga) wilayah kerja Resort (Ariyanto, 2008).Setiap resort diberi kewenangan untuk mengelola kawasannya sendiri-sendiri. Rencana pengelolaan dibuat setiap bulan dan pelaporan kegiatan pengelolaan pun dilakukan setiap bulan. Hal ini jelas berbeda dengan Taman Nasional lain di Indonesia yang pada umumnya kebijakan dan rencana pengelolaan menginduk langsung pada rencana pengelolaan balai. Dengan sistem pengelolaan berbasis resort ini setiap resort dapat mengusulkan sendiri rencana anggaran untuk mengelola resortnya, sehingga setiap resort umumnya memiliki rencana anggaran yang berbeda karena memiliki potensi yang berbeda sehingga rencana pengelolaan pun berbeda untuk masing-masing resort. Implementasi pengelolaan basis resort ini terlihat jelas dengan sistem pengelolaan yang dilaksanakan oleh masing-masing resort, dalam satu resort umumnya terdapat enam petugas pelaksana termasuk kepala resort. Petugas tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing memiliki tugas jaga di resort setiap tiga hari sekali dalam satu minggu. Kegiatan yang dilaksanakan pada tiap resort didasarkan pada tiga pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Pada dasarnya setiap Taman Nasional di Indonesia pengelolaannya didasarkan pada tiga pilar konservasi, namun yang membedakan pengelolaan di TNAP adalah cara penerapannya. Di TNAP

7 penerapan tiga pilar konservasi dilaksanakan secara bersamaan dan intensif. Umumnya kegiatan yang terkait dengan perlindungan kawasan untuk setiap resort sama, yaitu patroli rutin, register kawasan (pencatatan terhadap kerusakan hutan dan akibatnya, perjumpaan dan kematian satwa), penjagaan kawasan dan penyuluhan terhadap masyarakat sekitar. Sedangkan kegiatan yang terkait dengan pengawetan dan pemanfaatan berbeda-beda karena disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing resort. Dengan adanya kegiatan-kegiatan ini, maka kondisi kawasan setiap resort dapat terus terpantau dan dapat membantu pengelolaan kawasan dalam mencapai tujuan serta visi misi pengelolaan kawasan (Hartono,2008). Implementasi pengelolaan berbasis resort melalui kegiatan-kegiatan yang telah diterapkan oleh masing-masing resort telah menunjukkan hasil yang baik dan sesuai dengan rencana kerja dan prosedur yang ditetapkan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya kemajuan dan perbaikan kawasan. Berdasarkan data Laporan Kejadian (LK) di SPTN I tahun 2008, telah terjadi 14 kasus pencurian hasil hutan berupa bambu, pohon Tanjang, Akasia, dan Sonokeling serta perburuan satwa (Kijang, banteng, dan Burung Derkuku), namun pada tahun 2009 (sampai bulan Maret) tidak ditemukan adanya kasus pencurian. Hal ini dapat terjadi karena adanya patroli rutin dan juga penegakan hukum yang tegas oleh petugas, sehingga tingkat pencurian menurun drastis. Data berupa angka yang menunjukkan adanya pelanggaran hanya diketahui sejak Oktober 2007, tepatnya sejak pengelolaan berbasis resort ini mulai dirintis. Namun dari hasil wawancara baik dengan petugas maupun dengan masyarakat dapat diketahui bahwa sejak ditetapkannya sistem ini, pelanggaran hampir tidak ada terutama pelanggaran berupa pencurian. Hasil lain dari pengelolaan berbasis resort adalah adanya pemeliharaan dan penjagaan kawasan yang dilakukan oleh masing-masing resort secara intensif (tabel 1). Kegiatan ini bertujuan untuk memonitoring kondisi potensi masing-masing resort agar keberadaan dan kelestariannya tetap terjaga.

8 Tabel 1. Kegiatan Pemeliharaan Kawasan di Setiap Resort No. Resort Kegiatan Pemeliharaan Kawasan 1. Rowobendo a. Pembinaan habitat Banteng b. Penanaman bibit Sawo Kecik dan Jati 2. Pancur a. Penanaman bibit sawo Kecik dan Pangkal Buaya b. Pemeliharaan tanaman di areal Camping Ground 3. Grajagan a. Persemaian bibit Mangrove b. Penanaman bibit Mangrove, Nyamplung, Kemiri, dan Kepuh Kemajuan sistem PBR tidak hanya terjadi pada kawasan TNAP, tetapi juga pada kualitas sumberdaya manusia. Kemampuan sumberdaya manusia ditingkat Resort akan bekerja pada dua fokus secara paralel dan sinergis. Ke dalam kawasan, melakukan pengamanan, patroli, inventarisasi, monitoring, pengendalian pemantauan, dan evaluasi. Ke luar kawasan harus mampu membangun komunikasi dan kemitraan dengan berbagai komponen di desa-desa yang bertinteraksi khususnya yang bersentuhan langsung dengan taman nasional. Selain itu, adanya system ini telah meningkatkan tanggungjawab dan kedisiplinan setiap pegawai yang ditandai dengan adanya hasil kerja sehingga kinerja pengelolaan di setiap bidang dapat berjalan terencana dan sinergis. Pengelolaan kawasan Taman Nasional berbasis resort memiliki banyak kelebihan, diantaranya kegiatan resort menjadi lebih terencana dan terfokus. Selain itu setiap resort dapat membuat rencana pengelolaan dengan lebih spesifik karena kegiatan yang akan dilaksanakan berkaitan dengan resort itu sendiri serta sesuai dengan potensi dari masing-masing resort, begitupun dengan penyusunan anggaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing resort sehingga implementasi di lapangan menjadi lebih mudah. Keunggulan lain adalah dalam sistem pelaporan, setiap kegiatan yang dilakukan dan hasil dari patroli selalu dibuat laporan harian, sehingga dalam menyusun laporan bulanan akan lebih mudah karena dapat menggabungkan laporan harian tersebut sehingga data lebih akurat karena setiap data dicatat setiap harinya.

9 KESIMPULAN Secara umum, Implementasi pelaksanaan manajemen berbasis resort di Taman Nasional Alas Purwo sudah terlaksana dengan baik. Implementasi Pengelolaan Berbasis Resort yang dilaksanakan di TNAP diharapkan dapat mempercepat tercapainya tujuan suatu pengelolaan taman nasional, melalui beberapa tahapan yang meliputi; penataan wilayah kerja Resort, penataan sumber daya manusia resort, perencanaan kegiatan dan dukungan pembiayaan, serta sarana dan prasarana yang secara keseluruhan dilakukan dalam beberapa tahapan. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc atas bantuan dan bimbingannya selama menyusun PKM Artikel Ilmiah ini. Terimakasih juga kepada seluruh anggota Praktek Kerja Lapang Profesi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB dan kepada seluruh pihak Taman Nasional Alas Purwo. DAFTAR PUSTAKA Ariyanto, D. 2008. Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Banyuwangi. Departemen Kehutanan. 1990.Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta. Departemen Kehutanan. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 03/Menhut- II/2007 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional. Jakarta. Hartono. 2008. Mencari Bentuk Pengelolaan Taman Nasional Model Sebuah Tinjauan Reflektif Praktek Pengelolaan Taman Nasional Di Indonesia, Banyuwangi Widada. 2008. Mendukukung Pengelolaan Taman Nasional yang Efektif Melalui Pengembangan Masyarakat Sadar Konservasi yang Sejahtera. Departemen Jenderal PHKA dan JICA. Jakarta.