Pada Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta

dokumen-dokumen yang mirip
Makalah Tentang Masalah Kesehatan

PARADIGMA SAKIT VS. PARADIGMA SEHAT

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata

BAB I PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing (UU No. 17/2007).

BAB I PENDAHULUAN. mutu pelayanan kesehatan pada seluruh masyarakat. Menurut WHO kesehatan adalah

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI DESA MANCASAN WILAYAH PUSKESMAS BAKI I SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. dan bayi terjadi transisi epidemiologis penyakit. Populasi lansia semakin

BAB I PENDAHULUAN. membangun manusia Indonesia yang tangguh. Pembangunan dalam sektor kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan

PENDIDIKAN KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada mulanya berupa upaya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pencegahan (preventif) untuk meningkatkan kualitas hidup serta memberikan

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN HARI KESEHATAN NASIONAL 14 NOVEMBER 2016

2016 GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN HOSPITAL HOMECARE DI RSUD AL-IHSAN PROVINSI JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan dalam bidang kesehatan adalah salah satu bentuk kongkret

Written by Dr. Aji Hoesodo. I. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. (GSI), safe motherhood, program Jaminan Persalinan (Jampersal) hingga program

Indonesia Menuju Pelayanan Kesehatan Yang Kuat Atau Sebaliknya?

BAB I PENDAHULUAN. mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sektor kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan merupakan hal yang paling penting dalam setiap kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi

BAB I PENDAHULUAN. maupun sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III PEMBANGUNAN KESEHATAN PROVINSI GORONTALO

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA STANDAR PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya

BAB I PENDAHULUAN. (WHO, 2015). Sedangkan kesehatan menurut Undang Undang No. 36 Tahun 2009

BAB I PENDAHULUAN. kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat

BAB I PENDAHULUAN. perbekalan kesehatan adalah pelayanan obat dan perbekalan kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa (1986) adalah suatu proses yang

BAB 1 PENDAHULUAN. tentang perlunya melakukan Primary Health Care Reforms. Intinya adalah

BAB I PENDAHULUAN Sistem pelayanan kesehatan yang semula berorientasi pada pembayaran

BAB 1 PENDAHULUAN. kepada pandangan terhadap konsep sehat dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya

Keunggulan komparatif (comparative advantage) suatu wilayah terdiri dari. sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), kapital serta ilmu

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh seluruh

Pengertian Paradigma. Paradigma I Normal Sc. Anomalies Crisis Revol Paradigma II

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KOMPONEN IPM 5.1 INDIKATOR KESEHATAN. Keadaan kesehatan penduduk merupakan salah satu modal

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan ketertiban dunia yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah memasuki era baru, yaitu era reformasi yang ditandai

Oleh : DODIET ADITYA SETYAWAN NIP Mata Kuliah. Program Studi Diploma IV Kebidanan Komunitas Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta

Prosiding SNaPP2014 Sosial, Ekonomi, dan Humaniora ISSN EISSN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGANTAR. xi P a g e

KONSEP DEMAND DALAM SEKTOR KESEHATAN. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

V. IMPLEMENTASI STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia

BAB III ABORSI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi segala kebutuhan dirinya dan kehidupan keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan masalah global yang sering dihadapi di dunia baik di

PROGRAM DOKTER KECIL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA SISWA SEKOLAH DASAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan kesehatan yang semakin muncul di permukaan. Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. perubahan kearah perbaikan kualitas dan profesionalisme di berbagai sektor. Sektor

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

RUMAH SAKIT UMUM KELAS C DENGAN UNGGULAN PELAYANAN KESAHATAN MATA D SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN atau Indonesia Sehat 2025 disebutkan bahwa perilaku

BAB I PENDAHULUAN. dapat melakukan aktivitas sehari-hari dalam hidupnya. Sehat adalah suatu

satu sarana kesehatan yang memiliki peran penting di masyarakat adalah apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2014, tenaga kesehatan

II. TINJAUAN TEORITIS

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. OLEH IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes

BAB I PENDAHULUAN. akhirnya dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Hal. masyarakat dan swasta (Depkes RI, 2005).

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan Indonesia bertujuan memandirikan masyarakat untuk

Oleh. Dr.Lili Irawati,M.Biomed

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang utuh untuk kualitas hidup setiap orang dengan menyimak dari segi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi- tingginya,

UPTD PUSKESMAS KAMPAR KIRI

DEFINISI PENGERTIAN KESELAMATAN KERJA (K3)

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care). (Depkes RI, 2005).

PEDOMAN PEDOMAN PENGELOLAAN USIA LANJUT (USILA) PUSKESMAS WARA BARAT BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN atau Indonesia Sehat 2025 disebutkan bahwa perilaku. yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan;

APOTEKER, FKTP DAN ERA JKN. Oleh Helen Widaya, S.Farm, Apt

Dalam Pokok bahasan ini akan diuraikan secara ringkas berbagai pendekatan dan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan, pemerintah telah menetapkan pola dasar pembangunan yaitu. pembangunan mutu sumberdayamanusia(sdm) di berbagai

Transkripsi:

Hand Out ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PARADIGMA SEHAT Oleh : Ig. Dodi et Aditya S, SKM. DEPATEMEN KESEHATAN RI POLTEKKES SURAKARTA JURUSAN KEBIDANAN Jl. Ksatrian No. 2 P.O.Box 180 Danguran, Klaten Slatan S Telpon & Fax : (0272) 321941 Klaten 57425

PARADIGMA SEHAT 1. PENDAHULUAN K onsep sehat dalam upaya penanganan kesehatan penduduk mengalami banyak perubahan sejalan dengan pemahaman dan pengetahuan kita bagaimana suatu masyarakat mengahayati dan menghargai bahwa kesehatan itu merupakan Human Capital yang sangat besar nilainya dan bagaimana kita / masyarakat menghayati bahwa Sehat itu Gaya Hidup sebagaimana tema HKN 2004. Pemahaman masyarakat tentang penyebab penyakit, konsep sehat sakit, dan pemahaman bahwa upaya kesehatan merupakan bagian dari pembangunan SDM, akan mendasari bagaimana upaya kesehatan di suatu Negara sebaiknya diselnggarakan. Sampai saat ini, banyak Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, apabila berbicara masalah kesehatan pada umumnya persepsi / asosiasi kita langsung tertuju pada Pengobatan Penyakit, Rumah Sakit, Puskesmas, Poliklinik. Hal ini memberikan dampak terhadap focus upaya kesehatan adalah pada pembiayaan penanganan orang sakit atau pembiayaan tempat tempat pelayanan kesehatan tersebut. Dengan demikian terkesan bahwa Penanganan Kesehatan Masyarakat masih berupa program program konvensional, hanya menekankan pada pengembangan rumah sakit rumah sakit, penanganan penyakit secara individual, spesialistis, terutama penanganan kejadian sakit secara episodik. Program kesehatan yang hanya mengutamakan upaya Kuratif dalam jangka panjang tidak menguntungkan. Sehingga berapapun besarnya biaya yang disediakan akan selalu kurang, karena permintaan akan pelayanan medis kuratif akan selalu meningkat. Upaya kesehatan Kuratif khususnya Rumah Sakit akan cenderumg berkumpul ditempat yang banyak uangnya, yaitu di kota kota besar saja. Upaya kesehatan Kuratif tidak akan membawa masyarakat ke Sehat Produktif secara lebih Cost Effective. Hal ini menyebabkan upaya kesehatan yang hanya berorientasi pada tindakan Kuratif, dari segi ekonomi hanya akan bersifat Konsumtif tidak Produktif. Dengan kata lain dipandang dari segi ekonomi, melakukan investasi pada orang yang tidak/belum sakit (sehat) akan lebih Cost-Effective daripada terhadap orang sakit, karena investasi pada orang sehat lebih dekat ke produktifitas. 1

2. PARADIGMA dan KONSEP BARU tentang SEHAT Stepen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People menjelaskan arti Paradigma sbb : The word paradigm comes from Greek. It was originally a scientific term, and is more commonly used today to mean a model, theory, concept, perception orientation, assumption or frame of reference. In the more general sense, it s the way we see the world, not in term of our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting. ( Kata Paradigma berasal dari Yunani. Hal ini berhubungan dengan kata ilmiah dan umumnya digunakan pada saat ini dalam arti model, teori, konsep, orientasi persepsi, asumsi atau cara pandang dari referensi. Dalam pengertian umum adalah cara melihat dunia tidak hanya dari sudut pandang kami tetapi berhubungan dengan penerimaan, pemahaman dan interpretasi. Dalam makna yang lebih populer, Paradigma dapat diartikan sebagai Visi serta Orientasi kita terhadap Realitas. Paradigma berkembang sebagai hasil sintesa dalam kesadaran manusia terhadap informasi informasi yang diperolehnya baik dari pengalaman maupun dari penelitian. Sementara itu, konsep sehat sakit selalu berubah sejalan dengan pemahaman kita tentang nilai, peran, penghargaan, dan pemahaman kita terhadap kesehatan. Pada jaman Yunani, sehat itu sebagai virtue (kebaikan) yaitu sesuatu yang dibanggakan, sedangkan sakit dipandang sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Filosofi yang berkembang pada saat itu adalah Filosofi Cartesian yaitu filosofi yang berorientasi pada kesehatan fisik semata, yang menyatakan bahwa seseorang disebut sehat apabila tidak ditemukan disfungsi alat tubuh. Mental dan Roh menjadi urusan Agama, bukan kesehatan. Setelah ditemukan kuman penyebab penyakit batasan sehatpun akhirnya berubah dimana seseorang dikatakan sehat apabila setelah diadakan pemeriksaan secara seksama tidak ditemukan penyebab penyakit. Pada Tahun 50-an, definisi WHO tentang Sehat adalah sebagai keadaan sehat sejahtera fisik, mental sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Dan pada tahun 80-an, definisi Sehat WHO mengalami perubahan seperti pada UU Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992 yang telah memasukkan unsur Hidup Produktif Sosial dan Ekonomi. Definisi terkini yang dianut oleh negara negara maju seperti Kanada yang mengutamakan konsep sehat produktif ; Sehat adalah Sarana atau alat untuk hidup sehari hari secara produktif. Upaya kesehatan harus diarahkan untuk dapat membawa setiap manusia memiliki kesehatan yang cukup agar dapat hidup produktif. Kesehatan bersama dengan Pendidikan dan Rasa Aman merupakan dasar dari Human Capital. 2

3. PARADIGMA SEHAT K ebijakan upaya pelayanan kesehatan senantiasa berubah sesuai dengan pemahaman dari pembuat kebijakan tentang peran kesehatan sebagai modal dasar human capital yang sangat penting untuk tercapainya kemandirian dan ketahanan bangsa agar mampu bersaing dalam era globalisasi. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka dapat disebutkan bahwa Faktor factor yang mendorong perlunya Paradigma Sehat adalah : a). Pelayanan Kesehatan yang berfokus pada pelayanan orang sakit ternyata tidak efektif, b). Konsep sehat mengalami perubahan, dimana dalam arti sehat terkandung unsur Sehat Produktif secara Sosial dan ekonomis, c). Adanya Transisi Epidemiologis dari penyakit infeksi ke penyakit Kronik Degeneratif; dimana untuk pencegahannya sangat diperlukan perubahan Perilaku, d). Adanya Transisi Demografis, yaitu semakin meningkatnya jumlah penduduk Usia Lanjut yang memerlukan pendekatan yang berbeda dalam penangananya, e). Makin jelasnya pemahaman tentang faktor faktor yang mempengaruhi kesehatan penduduk. Lalonde ( 1974 ) dan Hendrik L. Blum ( 1974 ) secara bersamaan mengemukakan bahwa Status Kesehatan Penduduk/Manusia BUKAN hanya hasil pelayanan medis saja, melainkan faktor faktor lain seperti Lingkungan, Perilaku dan Genetik justru lebih berpengaruh terhadap Status Kesehatan Manusia. Upaya kesehatan yang selama ini dilakukan masih berorientasi pada upaya penanggulangan penyakit secara episodik dan upaya penyembuhan saja. Upaya kesehatan yang demikian ini sering kali menyesatkan pola pikir kita bahwa seolah olah apabila semua orang sakit bisa diobati, maka masyarakat menjadi sehat. Upaya kesehatan harusnya diarahkan untuk dapat membawa setiap penduduk memiliki kesehatan yang optimal agar bisa hidup produktif. Orientasi baru upaya kesehatan adalah orientasi memelihara dan meningkatkan kesehatan penduduk, yang merupakan suatu orientasi sehat positif sebagai kebalikan dari orientasi pengobatan penyakit yang bersifat Kuratif Responsif. Dengan kata lain, Program kesehatan yang berorientasi pada upaya Kuratif merupakan Health Program for Survival, sedangkan Program kesehatan yang berorientasi pada upaya Promotif dan Preventif merupakan Health Program for Human Development. Upaya kesehatan dengan Health Oriented Approach 3

dalam jangka panjang akan menjamin kemandirian yang lebih besar, meningkatkan ketahanan mental dan fisik penduduk, dan bermuara pada terciptanya SDM yang berkualitas yang sangat diperlukan untuk melaksanakan pembangunan. Upaya pelayanan kesehatan yang menekankan pada Upaya Kuratif-Rehabilitatif kurang menguntungkan karena : a). Intervensi yang dilakukan pada orang sakit tidak menguntungkan karena : Penderita telah kehilangan produktifitas, Yang bersangkutan harus berobat, Untuk kembali pada keadaan sehat produktif memerlukan waktu lama. b). Upaya Kuratif Rehabilitatif dalam jangka panjang tidak menguntungkan karena permintaan terhadap jenis pelayanan kuratif akan terus meningkat, sementara itu pelayanan kuratif cenderung terkumpul pada tempat tempat yang tersedia banyak uang, yaitu di kota kota besar saja. c). Dari segi Ekonomi, investasi pada orang yang TIDAK atau BELUM Sakit ( SEHAT ) lebih Cost Effective dan lebih Produktif daripada terhadap orang sakit. d). Untuk meningkatkan kesehatan penduduk lebih baik tidak melalui penyediaan banyak obat, tempat tidur di rumah sakit dan balai pengobatan, melainkan dengan lebih memperhatikan mereka yang tidak sakit agar tetap sehat, tidak jatuh sakit dan membuat penduduk lebih tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu, implementasi Paradigma Sehat akan lebih menekankan pada upaya : Pencegahan Penyakit, Promosi Kesehatan, dan Perlindungan Kesehatan masyarakat. Sejalan dengan konsep Paradigma Sehat, Rumah Sakit dan tempat tempat penyelenggaraan Pelayanan Kuratif perlu ditambahkan dengan pelayanan klinik yang bersifat pencegahan seperti : Screening, Konseling, Diagnosis dan Pengobatan Dini Penyakit dengan menambahkan peralatan dan teknologi medis yang canggih. Pencanangan Paradigma Sehat khususnya pada masa krisis dewasa ini adalah sangat tepat, karena memberdayakan masyarakat agar tidak jatuh sakit melalui upaya Promotif-Preventif adalah lebih penting dari pada memberikan obat, alat ataupun fasilitas pengobatan. 4

4. UPAYA KESEHATAN YANG ADA U paya kesehatan yang berorientasi pada penanggulangan penyakit, indikator yang sering digunakan adalah cakupan pelayanan, ratio ketersediaan dokter, banyaknya rumah sakit dan puskesmas dan sebagainya. Sebenarnya apabila kita pikirkan secara lebih kritis, banyaknya dokter, rumah sakit atau puskesmas tidak menjamin masyarakat menjadi sehat. Upaya kesehatan dengan pendekatan penyembuhan terhadap penyakit membuat upaya kesehatan tersebut dinilai sangat konsumtif dan tidak produktif sehingga menempatkan upaya pelayanan kesehatan tersebut pada arus pinggir dari pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah sekarang harus segera merencanakan perubahan upaya kesehatan yang berorientasi pada Pembinaan Kesehatan Bangsa ( Shaping The Health of The Nation ) yaitu Upaya Kesehatan yang dalam jangka panjang dapat menjamin kemandirian dan ketahanan penduduk untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat dan membebaskan ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap dokter dan obat. 5. KEBIJAKAN KESEHATAN BARU D engan kebijakan baru dalam pembangunan kesehatan yaitu Paradigma Sehat, maka diharapkan benar benar merupakan titik balik kebijakan Depkes dalam menangani kesehatan penduduk yang lebih menitik beratkan pada Pembinaan Kesehatan Bangsa ( Shaping The Health of The Nation ), dan bukan sekedar penyembuhan penyakit. Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution menyatakan bahwa : hampir pada setiap terobosan baru perlu didahului dengan perubahan paradigma untuk memecahkan atau merubah kebiasaan dan cara berpikir yang lama. Upaya kesehatan di masa mendatang harus mampu menciptakan dan menghasilkan SDM Indonesia yang Sehat Produktif. Sehingga obsesi upaya kesehatan harus dapat mengantarkan setiap penduduk memiliki status kesehatan yang optimal. Orientasi baru upaya kesehatan adalah Orientasi menyehatkan penduduk, suatu orientasi sehat produktif, sebagai kebalikan dari orientasi pengobatan penyakit yang bersifat kuratif. 5

6. KONSEKWENSI / IMPLIKASI DARI PERUBAHAN PARADIGMA P erubahan paradigma baru akan membawa dampak yang cukup luas. Hal itu disebabkan karena pengorganisasian upaya kesehatan yang ada ; tenaga tenaga kesehatan yang ada ; fasilitas pelayanan kesehatan yang ada ; dan peraturan perundangan yang ada merupakan wahana dan sarana pendukung dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada upaya penyembuhan penyakit. Sehingga untuk mendukung terselenggaranya Paradigma Sehat yang berorientasi pada upaya Promotif Preventif, Proaktif, Community Centered, Partisipasi Aktif dan Pemberdayaan Masyarakat, maka semua wahana, tenaga dan fasilitas yang ada sekarang perlu dilakukan penyesuaian atau bahkan reformasi, termasuk reformasi kegiatan dan program di semua tingkat, baik di Pusat, Propinsi, Kabupaten dan Kota bahkan sampai tingkat Kecamatan. Pada masa krisis sekarang ini dimana obat dan pengobatan menjadi mahal, keluarga keluarga dipaksa untuk dapat membuat keputusan yang bijak dalam membelanjakan uangnya yang terbatas oleh sebab itu sudah seharusnya pemerintah lebih menekankan pada pendidikan dan penyuluhan kesehatan agar masyarakat mampu menghindarkan diri dari penyakit, tidak mudah jatuh sakit, dan melaksanakan kebiasaan hidup sehat. 7. INDIKATOR KESEHATAN S ementara itu kita mulai mempertanyakan apakah indikator indikator yang dipergunakan dewasa ini yaitu seperti IMR, CDR dll masih layak disebut sebagai Indikator Kesehatan Penduduk. Untuk dapat menilai berapa banyak penduduk yang sehat apakah masih mungkin bila kita gunakan angka kematian dan kesakitan penduduk?. Untuk dapat mengukur status kesehatan penduduk yang tepat perlu digunakan Indikator Positif ( Sehat ) dan bukan hanya Indikator Negatif ( Sakit, Mati ). WHO menyarankan agar penggunaan Indikator Kesehatan Penduduk harus mengacu pada Indikator Sehat Positif dan Konsep Holistik yang terdiri atas : a). Melihat ada tidaknya kelainan Patofisiologis pada seseorang, b). Mengukur kemampuan fisik seseorang, c). Penilaian atas kesehatan sendiri, 6

d). Indeks Masa Tubuh ( BMI ) e). Kesehatan Mental f). Kesehatan Spiritual Dewasa ini mulai dipertanyakan keterkaitan antara IMR yang rendah dengan Bayi Sehat. Penelitian di Afrika menemukan bahwa 26% dari bayi yang dapat diselamatkan ( tidak mati ) ternyata cacat. { IMR dg. Status Kesehatan Bayi...? } Demikian halnya dengan peningkatan Umur Harapan Hidup waktu lahir. Peningkatan Umur Harapan Hidup itu harus diartikan sebagai bertambahnya produktifitas dan bukan sekedar bertambah umur tapi sakit sakitan. WHO menyebutkan bahwa perpanjangan umur harus diartikan sebagai add life to years rather than merely add years to life. Disamping itu, penambahan umur harus pula diartikan sebagai penambahan years of disability free life dan BUKAN penambahan years of disabled life. 8. TENAGA KESEHATAN P eranan dokter, dokter gigi, perawat dan bidan dalam upaya kesehatan yang menekankan pengobatan penyakit adalah sangat penting. Mereka semua merupakan tulang punggung upaya pelayanan medis di Indonesia. Namun untuk pengelolaan upaya kesehatan dan pembinaan bangsa yang sehat, tenaga kesehatan yang ada tersebut ternyata tidak cukup. Membina kesehatan bangsa memerlukan pendekatan holistik yang lebih luas, menyeluruh, dan dilakukan kepada masyarakat secara kolektif tidak individual. Intervensi yang utama adalah Membina lingkungan yang menggalakkan upaya promotif, preventif ; Memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kesehatan agar lebih efektif dan efisien ; Menyusun peraturan perundangan yang mendukung terciptanya upaya pembinaan kesehatan bangsa. Untuk menangani kegiatan kegiatan tersebut, disamping tenaga kesehatan yang telah ada diperlukan pula tenaga kesehatan yang memiliki wawasan, keterampilan dan ilmu pengetahuan yang berbeda dari sekedar dokter, dokter gigi, bidan dan perawat. Oleh karena itu tenaga kesehatan yang ada tersebut harus dilengkapi dengan disiplin ilmu yang berbasis comunity dan dapat membina dan mengembangkan serta merubah perilaku masyarakat. Disiplin ilmu yang dimaksud adalah Kesehatan Masyarakat dan Psikologi serta Ilmu Sosial. 7

9. KESEHATAN DAN KOMITMEN POLITIK M asalah kesehatan pada dasarnya adalah masalah politik, oleh karena itu untuk memecahkan masalah kesehatan diperlukan komitmen politik. Pembangunan sosial ekonomi yang baik diperlukan tenaga pembangunan yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang tangguh. Dewasa ini masih terasa adanya anggapan bahwa unsur kesehatan penduduk tidak banyak berperan terhadap pembangunan sosial ekonomi. Para penentu kebijakan banyak yang beranggapan sektor kesehatan lebih merupakan sektor konsumtif ketimbang sektor produktif sebagai penyedia sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga apabila ada alokasi dalam sektor ini kurang diperhatikan. Sementara itu para pakar kesehatan belum mampu memperlihatkan secara jelas manfaat investasi bidang kesehatan dalam menunjang pembangunan negara. Kesenjangan derajat kesehatan masyarakat antar wilayah perlu segera diatasi. Investasi yang selama ini lebih ditekankan pada penambahan fasilitas, peralatan dan tenaga medis perlu ditinjau kembali. Banyaknya Rumah Sakit, Puskesmas, Poliklinik, Bidan, Dokter, Perawat dll, bukan merupakan jaminan meningkatnya kesehatan penduduk. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa pemecahan masalah kesehatan tidak bisa ditemukan di bangsal bangsal rumah sakit ataupun ruang tunggu poliklinik atau puskesmas, melainkan di Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan juga gedung DPR. Pergeseran paradigma dari pelayanan medis ke pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat memerlukan pembaharuan komitmen politik dari pemerintah. --------------------- oo 0 oo ---------------------- KEPUSTAKAAN 1. Prof. Dr. Does Sampoerno, MPH ( 1999 ).Paradigma Sehat, Seminar Reformasi Pembangunan Kesehatan Yang Berwawasan Paradigma Sehat, Universitas Diponegoro, Semarang. 2. Depkes RI, Undang undang Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992, Depkes RI, Jakarta. 8