BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kebisingan Kereta Api dan Kesehatan

Tabel 2.1 Tangga Intensitas dari Kebisingan Skala Intensitas Desibels Batas Dengar Tertinggi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. gangguan kesehatan berupa ganngguan pendengaran (auditory) dan extrauditory

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada telinga oleh getaran-getaran melalui media elastis, dan jika tidak dikehendaki

BAB I PENDAHULUAN. Menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 mengenai kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. industrialisasi di Indonesia maka sejak awal disadari tentang kemungkinan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BIOAKUSTIK. Akustik membahas segala hal yang berhubungan dengan bunyi,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan disektor industri dengan berbagai proses produksi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A

BAB I PENDAHULUAN. canggih yang biasa digunakan selain pemakaian tenaga sumber daya manusia. Mesinmesin

BAB V PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui karakteristik subjek. penelitian tenaga kerja meliputi :

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan Materi #9 Genap 2014/2015. TIN206 - Pengetahuan Lingkungan

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah penyebab utama dari penurunan pendengaran. Sekitar 15 persen dari orang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan

Kebisingan KEBISINGAN. Dedy Try Yuliando Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas Padang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 29 orang, PNS yang mengajar di SD N Pujokusuman 1 Yogyakarta sebanyak

BAB V PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden yang Memengaruhi Tekanan Darah

BAB I PENDAHULUAN. contoh adalah timbulnya masalah kebisingan akibat lalu lintas.

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan dan keselamatan kerja. Industri besar umumnya menggunakan alat-alat. yang memiliki potensi menimbulkan kebisingan.

BAB I PENDAHULUAN. 2007). Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang tidak sesuai dengan tempat dan waktunya (Suratmo, 2002). Suara tersebut

TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan teknologi yang semakin meningkat mendorong Indonesia

KONDISI LINGKUNGAN KERJA YANG MEMPENGARUHI KEGIATAN MANUSIA

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. (Armilawati, 2007). Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American. hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%.

BAB 1 PENDAHULUAN. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal

BAB I PENDAHULUAN. yang terdiri dari orang laki-laki dan orang perempuan.

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. finishing yang terdiri dari inspecting dan folding. Pengoperasian mesinmesin

BAB I PENDAHULUAN. daya regang atau distensibilitas dinding pembuluh (seberapa mudah pembuluh tersebut

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. kerja. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyak industri yang ada di Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat serius saat ini adalah hipertensi yang disebut sebagai the silent killer.

HUBUNGAN OLAHRAGA TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI

Lingkungan Kerja. Dosen Pengampu : Ratih Setyaningrum,MT.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 1: Mengenal Hipertensi. Daftar Isi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bunyi merupakan suatu gelombang berupa getaran dari molekul-molekul zat

asuhan keperawatan Tinnitus

BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Triple Burden Disease, yaitu suatu keadaan dimana : 2. Peningkatan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM), yang merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan pembanguan adalah semakin

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peneletian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Program Konservasi Pendengaran (1) Hearing Conservation Program (1)

BAB 1 PENDAHULUAN. kematian kerena payah jantung, infark miocardium, stroke, atau gagal. ginjal (Pierece, 2005 dalam Cahyani 2012).

Jurnal Keperawatan, Volume X, No. 2, Oktober 2014 ISSN ANALISIS KARAKTERISTIK PEKERJA DENGAN GANGGUAN KETULIAN PEKERJA PABRIK KELAPA SAWIT

GAMBARAN RESIKO GANGGUAN PENDENGARAN PADA PEKERJA SARANA NON MEDIS DI AREA PLANTROOM RUMAH SAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH HARAPAN KITA JAKARTA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising yang

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kelainan pada satu atau lebih pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. bertambah dan pertambahan ini relatif lebih tinggi di negara berkembang,

Audiometri. dr. H. Yuswandi Affandi, Sp. THT-KL

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi di bidang industri menyebabkan terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. secara Nation Wide mengingat prevalensinya cukup tinggi umumnya sebagian

BAB I PENDAHULUAN. jantung beristirahat. Dua faktor yang sama-sama menentukan kekuatan denyut nadi

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014). Salah satu PTM

ANALISIS KEBISINGAN PADA KAWASAN COMPRESSOR HOUSE UREA-1 PT. PUPUK ISKANDAR MUDA, KRUENG GEUKUEH ACEH UTARA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keadaan cukup istirahat maupun dalam keadaan tenang. 2

- BUNYI DAN KEBISINGAN -

BAB I PENDAHULUAN. dan kematian yang cukup tinggi terutama di negara-negara maju dan di daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Landasan teori ini sangat membantu untuk dapat memahami suatu sistem. Selain dari itu

III. METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik

I. PENDAHULUAN. mengganggu dan atau dapat membahayakan kesehatan. Bising ini. merupakan kumpulan nada-nada dengan bermacam-macam intensitas yang

BAB II TINJAUAN TEORITIS. darah arteri meningkat melebihi batas normal.menurut World. (2001) seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan

Membahas bio-akustik berarti berusaha mengurai keterkaitan antara bunyi. gelombang bunyi, getaran dan sumber bunyi dengan kesehatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. milimeter air raksa (mmhg) (Guyton, 2014). Berdasarkan Seventh Joint National

BAB I PENDAHULUAN. Tidur adalah suatu keadaan yang berulang-ulang, perubahan status kesadaran

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

BAB I PENDAHULUAN. penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. kondisi kesehatan, aktivitas karyawan perlu dipertimbangkan berbagai potensi

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bunyi atau Suara Suara adalah sensasi yang dihasilkan apabila getaran longitudinal molekul-molekul dari lingkungan luar yaitu pemadatan dan perenggangan dari molekul-molekul yang silih berganti mengenai membran timpani. Pola dari gerakan ini digambarkan sebagai perubahan-perubahan pada membran timpani tiap unit waktu merupakan sederetan gelombang, dan gerakan ini dalam lingkungan sekitar kita umumnya dinamakan gelombang suara 10. Bunyi didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada telinga oleh getaran-getaran melalui media elastis dan manakala bunyi-bunyi tersebut tidak dikehendaki maka dinyatakan sebagai kebisingan. Terdapat dua hal yang menentukan kualitas suatu bunyi, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran per detik atau disebut Hertz (Hz), yaitu jumlah dari golongan-golongan yang sampai di telinga setiap detiknya. Biasanya suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang-gelombang sederhana dari beraneka frekuensi. Nada dari kebisingan ditentukan oleh frekuensi yang ada. Intensitas atau arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut desibel db dengari memperbandingkannya dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm 2 yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat dapat didengar telinga normal 3. B. Kebisingan Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki. Pengaruh gangguan kebisingan tergantung pada intensitas dan frekuensi nada. Contohnya frekuensi yang lebih tinggi akan lebih mengganggu dari frekuensi rendah. Nada atau bunyi tunggal lebih mengganggu dari pada bunyi yang terdiri dari beberapa nada 11. Bising merupakan bunyi yang tidak disukai. Karena terlalu keras dan 7

menyebabkan rasa nyeri. Bising mempunyai konotasi fisik, fisiologi dan psikologik. Secara fisik bising menciptakan bunyi yang sangat kompleks, sangat sedikit atau tanpa periodik. Namun bising ini dapat diukur dan dapat dianalisis sifatnya. Besarnya pengaruh bising pada para pekerja tergantung pada intensitas bunyi, frekuensi bunyi, jangka waktu terpapar bising, serta tergantung pula pada kepekaan pekerja tersebut, seperti pernah mendapatkan pengobatan dengan obat ototoksik, seperti streptomisin, kanamisin, garamisin, kina 12. Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan : 1. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide band noise), misalnya mesin-mesin, kipas angin, dapur pijar dan lainlain, 2. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit (steady state, narrow hand noise), misalnya gergaji sirkuler, katup gas dan lain-lain. 3. Kebisingan terputus-putus (intermittent), misalnya lalu-lintas, suara kapal terbang di lapangan udara. 4. Kebisingan impulsif (impact or impulsif noise), seperti pukulan tukul, tembakan bedil atau meriam, ledakan. 5. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan 3. Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah Sound Level Meter. Alat ini mengukur kebisingan di antara 30-120 db dan dari frekuensifrekuensi dari 20-20.000 Hz 3. C. Fisiologi Pendengaran Telinga, secara anatomis, terdiri dari 3 bagian : 1. Bagian luar (telinga luar) terbentuk dari pinna (bagian luar) dan saluran telinga atau eksternal auditory meatus. Pinna berfungsi untuk mengumpulkan gelombang suara. Saluran telinga mengantar gelombang suara dari luar ke gendang telinga atau membran timpani. Gendang telinga merupakan jaringan elastik, sehingga dapat berfungsi- sebagai permukaan gendang. Bila gelombang suara mengenai gendang, gendang akan 8

bergerak dan merangsang proses penghantaran suara dari luar ke tengah telinga yang sensitif. 2. Gendang telinga memisahkan saluran telinga dari bagian lain organ, yang disebut telinga tengah. Telinga tengah adalah ruang yang mengandung udara dan tiga tulang kecil yang disebut osikel. Ruang telinga tengah dihubungkan dengan bagian luar melalui tube yang meluas dari telinga tengah ke bagian belakang hidung, pada kedua sisi. Tube ini disebut tube Eustachian atau tube faringo timpani dan memungkinkan tekanan di telinga tengah sama besarnya dengan atmosfer. Osikel jumlahnya 3 yang saling bersentuhan dan bekerja menurut prinsip ungkit, untuk memperkeras gelombang suara ketika gelombang sedang dibawa melalui telinga tengah. 3. Bagian telinga berikutnya yang paling sensitif adalah telinga dalam atau cochlea, Terdiri dari tulang seperti selubung mirip bekicot dan mengandung cairan serta beratus-ratus ujung saraf sensitif. Gelombang suara dihantarkan dari gendang telinga oleh osikel, ke telinga dalam. Cairan dalam telinga bergerak sebagai respons dari gelombang dan ujung saraf merubahnya menjadi rangsang listrik, yang berjalan ke pusat pendengaran di otak, serta diterima sebagai suara 13. Gelombang suara yang tertangkap oleh telinga bagian luar akan diteruskan ke gendang telinga dan menyebabkan membran ikut bergetar. Getaran kemudian diperkeras oleh tulang-tulang pendengaran yang dapat didengar oleh telinga bagian tengah. Selanjutnya getaran ini akan diteruskan ke telinga bagian tengah, getaran ini akan menyebabkan gerakan bergelombang pada bagian perilimfe yang terdapat dalam canal is vesikularis dan getaran tersebut akan menjalar ke dasar cochlea menuju ke ujung dan kemudian ke timpani serta berakhir pada foramen rotundum. Gelombang yang disebabkan oleh cairan perilimfe menyebabkan distorsi pada membrana basiler, hal ini yang menyebabkan sel-sel rambut pada organon corti akan terangsang impuls selanjutnya akan diteruskan ke otak melalui ujung saraf koklea sehingga kita dapat mendengar suara tersebut 14. 9

D. Pengaruh Kebisingan Terhadap Tenaga Kerja Terpapar suara dengan tingkat kebisingan yang sangat tinggi walaupun dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan ketulian yang bersifat sementara, yang pemulihannya setelah pindah ke lingkungan kerja yang normal. Betapapun, tenaga kerja yang terpapar kebisingan dengan tingkat suara yang tinggi bekerja dalam beberapa tahun, dapat mengakibatkan ketulian yang bersifat tetap (permanent hearing loss). Kebisingan juga dapat menyebabkan stess dan serta sisitem jantung dan peredaran darah. Ini juga dapat menyebabkan efek psikologi dan gangguan komunikasi dan penurunan efisiensi tenaga kerja. Melalui mekanisme hormonal yaitu diproduksinya hormon adrenalin, dapat meningkatkan frekuensi detak jantung dan tekanan darah. Kejadian ini termasuk gangguan kardiovaskuler 15. pengaruh-pengaruh bising dalam industri terhadap tenaga kerja biasanya terbagi dua yaitu : 1. Non Auditory Effect Menyebabkan gangguan percakapan oleh karena adanya intervensi sehingga komunikasi terganggu. Derajat gangguan bising atau Speech Interference Level (SIL) terhadap percakapan tergantung pada dua faktor yaitu: masking ability dari bising dan situasi atau keperluan komunikasi. Pengaruh lain adalah fisiologis gangguan tidur, gangguan kenyamanan pendengaran, gangguan pelaksanaan tugas dan gangguan faal tubuh. a. Gangguan komunikasi Bilamana seseorang berbicara di suatu ruang bising, maka suara tersebut akan sulit ditangkap atau dimengerti oleh pendengarnya. Pembicara tersebut tidak jarang harus berteriak atau mendekat pada lawan bicaranya. Gangguan komunikasi ini adalah disebabkan oleh masking effect dari background noise yang intensitasnya cukup tinggi. b. Gangguan tidur Beberapa peneliti telah menemukan bahwa prosentase seseorang akan terbangun dari tidurnya adalah 5% pada tingkat intensitas suara-40 10

dba, dan meningkat sampai 30% pada 70 dba. Pada intensitas suara yakni 100 dba sampai 120 dba, hampir setiap orang akan terbangun dari tidurnya. c. Gangguan pelaksanaan tugas Kebisingan yang terputus-putus (intermittent noise) adalah lebih mengganggu daripada kebisingan kontinyu, dan intermittent noise yang belum dikenal sebelumnya oleh seseorang adalah lebih mengganggu daripada yang telah dikenal. Pekerjaan yang rumit (complex work) akan lebih banyak terganggu dari pada yang simple work. Kebisingan dengan frekuensi yang tinggi (>1000Hz) adalah lebih mengganggu daripada kebisingan yang (frekuensinya rendah. Kebisingan lebih banyak mengganggu kecermatan/ketelitian kerja seseorang daripada kuantitas kerja. d. Perasaan tidak senang atau mudah marah (annoyance) Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi annoyance level seseorang dan faktor-faktor tersebut misalnya: 1) Karakteristik kebisingan meliputi tingkat intensitas dan frekuensinya, 2) Kepekaan perorangan terhadap bising, 3) Sikap kita terhadap sumber bising, 4) Interupsi dari bising yakni sedang berkonsentrasi, menonton TV, dan lain-lain. e. Gangguan faal tubuh Gangguan faal tubuh yang terjadi akibat pemaparan bising antara lain, peningkatan tekanan darah dan peningkatan frekuensi pernapasan. Gangguan ini biasanya terjadi pada permulaan pemaparan (initial exposure) dan terutama bila kebisingan yang terpapar yang berulang dan lama akan terjadi proses adaptasi. Gangguan faal lainnya dapat ditemukan pada pemaparan kebisingan adalah : 1) Aktivitas lambung menurun, 11

2) Tonus otot meningkat, 3) Perubahan biokimiawi/biological changes (kadar glukosa, urea dan kolesterol dalam darah, kadar katelolamin dalam air seni). 4) Gangguan keseimbangan/equilibrium disorders, dengan gejalagejala seperti mual, vertigo dan nygtasmus (pada intensitas di atas 30 dba). 2. Auditory Effect Pengaruh pemaparan bising pada organ pendengaran adalah sebagai berikut: a. Trauma akustik Terjadi oleh paparan suara yang sangat keras dan dalam waktu yang sangat singkat, misalnya ledakan. Kerusakan ini mudah didiagnosis terjadinya dapat dengan tepat diketahui. Bagian yang terkena umumnya pada gendang telinga (membran timpani pecah/lubang). Kelainan ini bersifat reversible dengan jalan dioperasi. b. Temporary Threshold Shift (TTS) Terjadi apabila seseorang memasuki tempat bising, sehingga mengalami kenaikan nilai ambang dengar yang sementara. Kenaikan ini akan pulih kembali apabila keluar dari tempat bising. Untuk kembali secara sempurna maka perlu istirahat (bebas bising) untuk pemaparan di atas 85 db maka recovery sempurna memerlukan waktu 3-7 hari. Apabila recovery tidak dapat sempurna maka dalam waktu lama akan menjadi Permanent Threshold Shift (tuli bersifat menetap). Besarnya TTS (tuli sementara) dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1) Tingginya intensitas bising, semakin tinggi tingkat suara semakin besar pula TTS, 2) Lama pemaparan, semakin lama terjadinya kontak suara, semakin besar pula TTS. 3) Spektrum suara, oleh karena kepekaan telinga pada setiap frekuensi tidak sama, maka bentuk spektrum akan mempunyai pengaruh yang berlainan. 12

4) Temporal pattern, suara yang kontinyu akan memberikan energi lebih banyak dari pada suara yang terputus-putus, oleh karena itu TTS yang terjadi lebih besar. 5) Kepekaan individu, kepekaan telinga pada kebisingan masingmasing orang berbeda-beda oleh karena itu TTS juga berbeda. 6) Pengaruh obat-obatan, pengaruh obat-obatan dapat mempercepat ketulian apabila diberikan bersamaan dengan kontak suara. 7) Keadaan kesehatan, keadaan telinga menyebabkan pengaruh yang berbeda. Telinga yang sudah tuli menjadi lebih peka, sehingga TTS tidak besar 14. c. Permanent Threshold Shift (PTS) Permanent threshold shift atau sering disebut Noise-Induced Hearing Loss (MIHL) adalah kehilangan daya dengar secara perlahan-lahan oleh karena pemaparan bising keras (di atas 85 dba), dalam waktu yang lama dan akhirnya bersifat irreversibel. PTS atau NIHL ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor & internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kepekaan individu, obat-obatan, darah (Hb, tekanan darah, kadar gula dan lain-lain), penyakit telinga serta umur. Sedangkan faktor eksternal yang berperan adalah: intensitas kebisingan, lama pemaparan, spektrum suara, jenis bising, hobi dan bising lingkungan tempat kerja 16. E. Nilai Ambang Kebisingan Seperti halnya physiological stress lainnya, kebisingan dapat menimbulkan respon yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Hal ini adalah penting untuk diketahui dalam menetapkan suatu standar karena penetapan suatu standar atau NAB pada suatu level tertentu tidak akan menjamin bahwa semua pekerjaan yang terpapar pada level tersebut (8 jam sehari atau 40 jam per minggu) akan terlindung dari gangguan kesehatan 14. Besarnya ketulian sangat tergantung pada level suara. Oleh karena itu 13

perlu diusahakan agar level suara tidak terlalu tinggi supaya pendengaran tenaga kerja tetap aman tidak terganggu meskipun dalam bekerja tidak menggunakan alat pelindung diri. Nilai Ambang Batas adalah jalan keluar dari kenyataan bahwa di tempat kerja yang menggunakan mesin-mesin tidak mungkin diusahakan tidak adanya suara-suara yang intensitasnya tinggi. Di Indonesia Nilai Ambang Batas Kebisingan adalah 85 db A sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga kerja Nomor : Kep-51/MEN/1999. Akan tetapi NAB bukan merupakan jaminan sepenuhnya bahwa tenaga kerja tidak akan terkena resiko akibat bising akan tetapi hanya mengurangi risiko yang ada 17. Table 2.1. Intensitas Dan Jam Kerja Yang Dapat Diperkenankan 17. Intensitas Kebisingan (db(a)) Waktu Kerja (Jam) 85 8 jam 88 4 91 2 94 1 97 30 menit 100 15 103 7,5 106 3,75 109 1,88 112 0,94 115 28,12 detik 118 14,06 121 7,03 124 3,52 127 1,76 130 0,88 133 0,44 136 0,22 139 0,11 F. Tekanan Darah 1. Pengertian Tekanan Darah Pendapat beberapa ahli tentang tekanan darah adalah sebagai 14

berikut: a. Tekanan darah adalah kekuatan darah yang mengalir di dinding pembuluh darah yang keluar dan jantung (pembuluh arteri) 18. b. Tekanan Darah berarti, tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan daerah dinding pembuluh tersebut 19. c. Tekanan Darah adalah tekanan darah sistolik dan diastolik yang ditujukan oleh alat manometer air raksa (tensimeter) dalam satuan millimeter air raksa atau mmhg 20. d. Tekanan Darah adalah kekuatan darah ke dinding pembuluh darah yang menampungnya dimana akan berubah setiap tahap siklus jantung 21. 2. Macam Tekanan Darah Tekanan Darah terdiri dari 2 macam yaitu: a. Tekanan Sistolik yaitu tekanan yang berkisar antara 95-145 mm air raksa, dan tekanan ini dapat meningkat dengan bertambahnya usia. b. Tekanan Diastolik yaitu tekanan yang berkisar antara 60-90 mm air raksa 21. Tekanan Sistolik merupakan tekanan yang terjadi bila otot jantung berdenyut memompa untuk mendorong darah keluar melalui arteri. Pada tekanan ini biasa berupa angka yang lebih tinggi atau bacaan yang pertama dimana angka itu menunjukkan seberapa kuat jantung memompa untuk mendorong darah melalui pembuluh darah sedangkan tekanan diastolik merupakan tekanan yang terjadi saat otot jantung beristirahat membiarkan darah kembali masuk ke jantung. Pada tekanan ini berupa angka yang lebih rendah atau bacaan yang kedua dimana menunjukkan berapa besar hambatan dari pembuluh darah terhadap aliran darah balik kejantung 22. Tekanan darah di atas di ukur dengan menggunakan manometer air raksa yang biasa disebut sebagai tensimeter dengan ukuran mmhg (millimeter air raksa). Tekanan yang tampak pada kolom air raksa dalam manometer dianggap sebagai tekanan sistolik, kemudian pukulan denyut 15

tekanan di atas arteri brakhialis perlahan-lahan dikurangi sampai bunyi jantung atau arteri dengan jelas dapat didengar atau dirasakan. Dan titik ketika bunyi mulai menghilang umumnya dianggap tekanan diastolik 22. 3. Kriteria Tekanan Darah Kriteria tekanan darah dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 2.2. Kriteria Tekanan Darah (Diastolik Dan Sistolik) Kriteria Sistol Diastol Normal 120 139 mmhg 80 89 mmhg Hipertensi Ringan 140 159 mmhg 90 99 mmhg Hipertensi Sedang 160 179 mmhg 100 109 mmhg Hipertensi Berat 180 mmhg 110 mmhg Sumber : WHO/ISH (International Society Hypertension). 1999. Tekanan darah dianggap normal bila terbaca sekitar 120 mmhg sistolik, dan 80 mmhg diastolik yang berlaku untuk orang dewasa sehat berusia 18 tahun ke atas. Kita mengenalnya sebagai angka 120 / 80 (sistolik/diastolik). Sebenarnya tekanan darah Normal itu bervariasi pada masingmasing individu, tergantung dan usia dan kegiatannya sehari-hari. Tekanan Darah akan cenderung tinggi bersama dengan peningkatan umur, keadaan pikiran juga berpengaruh terhadap pembacaan TD sewaktu mengalami pengukuran. Stress, perasaan takut atau cemas cenderung membuat tekanan darah meningkat. Tekanan darah untuk masing-masing individu juga sangat bervariasi dalam sehari, pada saat seseorang sedang melakukan kegiatan olah raga tekanan darah akan naik dan ketika tidur akan turun.menurut WHO (World Health Organization), batas normal adalah 120-140 mmhg sistolik dan 80-90 mmhg diastolik. Jadi seseorang disebut mengidap hipertensi bila tekanan darahnya selalu terbaca di atas 140/90 mmhg 22. 16

4. Alat Pengukur Tekanan Darah Alat pengukur tekanan darah disebut Sphygmomanometer. Tetapi pada umumnya orang menyebut dengan istilah tensimeter. Ada tiga (3) tipe alat ini dengan variasi penggunaan air raksa (merkuri) aneroid, dan elektronik 22. a. Tipe air raksa, alat ini terdiri dari manset yang biasa digembungkan dengan cara memompanya dengan pompa tangan yang berbentuk bola karet, dan dihubungkan dengan tabung panjang berisi air raksa. Ukuran tekanan darah akan diperlihatkan dalam millimeter air raksa (mmhg) pada tabung, yang akan bergerak ke atas jika dilakukan pemompaan. b. Sphygmomanometer aneroid, alat ini menyeimbangkan tekanan darah dengan tekanan dalam kapsul metal tipis yang menyimpan udara di dalamnya. Tekanan darah biasa dibaca pada meteran yang menyatu dengan karet pompanya. c. Sphygmomanometer elektronik, model digital ini mengukur. tekanan darah melalui suatu peralatan dipompanya yang berupa mikrofon atau tranduser. Data atau informasi yang diperoleh melalui sensornya kemudian dikonversikan oleh mikroposesor menjadi bacaan tekanan darah. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah 23. Tekanan darah banyak dipengaruhi beberapa faktor diantaranya yaitu: a. Jenis Kelamin Pada wanita umumnya tekanan darah 5-10 mmhg lebih rendah dari pria. Pada umumnya insidensi hipertensi pada pria lebih tinggi dari pada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua. insidens pada wanita mulai meningkat sehingga pada usia di atas 65 tahun insidens wanita lebih tinggi. b. Riwayat keluarga Riwayat keluarga memperlihatkan bahwa kemungkinan munculnya 17

hipertensi lebih besar diantara orang-orang yang orang tuanya atau neneknya menderita hipertensi. Semakin dekat hubungan darah dengan seseorang yang mengidap hipertensi semakin besar kemungkinan mengidapnyajuga. c. Usia Kajian pengamatan prospektif pada beberapa kelompok orang, selalu menunjukkan adanya hubungan yang positif antara umur dan tekanan darah, sebagian populasi dengan berbagai ciri geografis, budaya, dan sosio ekonomi. Pada sebagian besar populasi di negara barat, tekanan darah sistolik cenderung meningkat secara progresif pada masa kanakkanak, remaja dan dewasa untuk mencapai nilai rata-rata 140 mmhg pada usia 70-an atau 80-an. Tekanan darah diastolik juga cenderung meningkat dengan bertambahnya umur, tetapi dengan laju lebih rendah dan pada tekanan darah sistolik, dan nilai rata-rata cenderung tetap datar atau turun setelah usia 50-an, hal ini mengakibatkan peningkatan tekanan nadi, dan peningkatan tekanan darah sistolik menjadi hal yang biasa dengan bertambahnya umur. d. Merokok Merokok dapat mempermudah penyakit pembuluh darah jantung dan otak, selain itu merokok dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, untuk sementara hal ini disebabkan pengaruh nikotin dalam peredaran darah. e. Emosi Orang dalam keadaan emosional tekanan darah cenderung akan meningkat. Hubungan antara emosi dengan hipertensi diduga melalui aktivasi saraf simpatik yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila emosi atau stres menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menetap tinggi f. Pekerjaan Orang yang bekerja berat mengalami kenaikan tekanan darah. Data epidemiologi menunjukkan bahwa tekanan darah mempunyai tendensi 18

lebih tinggi pada golongan penduduk dengan social ekonomi rendah, kartari tahun 1978 memang menemukan prevalensi yang tinggi dikalangan penduduk yang buta huruf (18,9%), tetapi angka tertinggi ditemui pada golongan pekerja administrative dan manager (25%). Pada golongan tak punya pekerjaan ditemukan prevalensi sebesar (9,6%) g. Minuman alkohol Peminum alkohol berat akan cenderung hipertensi, walaupun mekanisme timbulnya hipertensi secara pasti belum diketahui. Konsumsi alkohol berat diartikan mengkonsumsi 2 ons atau lebih alkohol tiap hari ( 1 ounce alkohol terdapat dalam 30 ounce bir, 8 ounce anggur atau 2 ounce dari 100 proof whiskey). Telah ditemukan berhubungan dengan tingginya prevalensi hipertensi dan kematian akibat penyakit jantung koroner. Konsumsi lebih sedang, rata-rata 1 ounce per hari, telah ditemukan berhubungan dengan tingkat yang lebih rendah pada tekanan darah daripada yang terlihat pada peminum berat. h. Minum Obat Obat-obatan yang dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah di antaranya diuretika, penghambat simpatetik (metildopa, klonidin, reserpin), betabloker (metoprolol, propanol, atenolol), vasodilator (prasosin, hidralasin), penghambat ensim konversi angiotensin (kaptopril), antagonis kalsium (nifedipin, diltiasem, verapamil), penghambat reseptor angiotensin II (valsartan/diovan) i. Kafein Kandungan kafein dalam kopi dapat meningkatkan tekanan darah secara akut. j. Obesitas Risiko terbesar bagi pengidap hipertensi adalah kegemukan/obesitas, semakin banyak kelebihan berat badan semakin besar pula risiko yang dihadapi. Berat badan yang berlebihan adalah faktor panting dalam 19

perkembangan hipertensi dan sekaligus menjadi faktor satu-satunya yang diketahui dan yang paling mudah di hindari. Orang yang mempunyai berat badan 20% di atas normal mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar menderita hipertensi dari pada orang yang mempunyai berat badan normal. Sementara risiko hipertensi bertambah sejalan dengan kelebihan berat badan, sebaliknya penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah balikan. k. Ras Hipertensi pada yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada yang berkulit putih. l. Diet Meningkat resiko dengan diet sodium tinggi, resiko meninggi pada masyarakat dengan diet tinggi lemak, diet tinggi kalori. m. Olah raga Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olahraga isotonic dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer, yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Dengan kurangnya olahraga, kemungkinan timbulnya obesitas akan meningkat dan apabila asupan garam bertambah akan mudah timbul hipertensi G. Pengaturan Tekanan Darah Arteri Pada dasarnya tekanan darah arteri ditentukan oleh jumlah darah yang terkandung di dalam arteri tersebut. Makin besar jumlah darah yang terkandung di dalam arteri, makin rendah tekanan darah arteri, jumlah darah yang terkandung di dalam arteri tergantung kepada jumlah darah yang memasuki arteri dan yang meninggalkan arteri. Jika jumlah darah yang masuk lebih banyak maka darah yang meninggalkan arteri lebih banyak maka darah yang terkandung di dalam arteri lebih banyak. Jumlah darah yang masuk ke dalam arteri ditentukan oleh : a. Frekuensi jantung b. Volume sekuncup jantung 20 20

H. Kelainan Tekanan Darah a. Tekanan Darah Tinggi Tekanan darah tinggi adalah tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 150-180 mmhg. Tekanan diastolik biasanya juga akan meningkat dan tekanan diastolik yang tinggi misalnya 90-120 mmhg atau lebih, akan berbahaya karena merupakan beban untuk jantung 22. b. Tekanan darah rendah Tekanan darah rendah adalah tekanan darah sistolik kurang atau sama dengan 100 mmhg. Kondisi ini terjadi pada perdarahan, syok dan kolaps 22. I. Pengaruh Kebisingan Kebisingan yang diterima manusia dapat berakibat kurangnya pendengaran, tekanan darah meningkat dan kelelahan, yang dapat digambarkan dalam diagram berikut: Kebisingan Lesi pada koklea Somatic afferent Kerja syaraf meningkat Kurangnya pendengaran Penyempitan pada pembuluh darah perifer Kelelahan Hilangnya elastisitas Peningkatan tekanan pada pembuluh darah Tekanan darah tinggi Gambar 2.1: Sumber : 3, 19, 21, 22 21

J. Kerangka Teori Faktor lingkungan kerja khususnya kebisingan dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, hal tersebut dapat digambarkan dalam kerangka teori berikut : Faktor Lingkungan Kerja Fisik - Kebisingan Penggunaan APD Efek Non Auditori Efek Auditori - Gangguan komunikasi - Gangguan tidur - Gangguan pelaksanaan tugas - Perasaan tidak senang/ mudah marah - Gangguan faal tubuh Tekanan darah - Trauma akustik - Temporary threshold shift(tts) - Permanen threshold shift(pts) Penurunan Status kesehatan Faktor manusia - Umur - IMT - Jenis kelamin - Beban kerja - Riwayat sakit - Kondisi psikologis (emosi, takut, cemas) - Perilaku (merokok, minum obat, minum alkohol/kopi) - Olah raga - Diet Produktivitas kerja menurun Gambar 2.2 :Sumber : 3,13,16, 18 22

K. Kerangka Konsep Variabel bebas Umur IMT Variabel terikat Perbedaan Tekanan Darah Intensitas Kebisingan Variabel pengganggu - Jenis kelamin# - Beban kerja# - Penggunaan APD# - Riwayat sakit* - Kondisi psikologis (emosi, takut, cemas)* - Perilaku (merokok, minum obat, minum alkohol/kopi)* - Olah raga * - Diet* Keterangan : # ( Dikendalikan) Gambar 2.3 * (tidak diteliti ) L. Hipotesa 1. Ada perbedaan tekanan darah pekerja berdasarkan umur di bagian produksi dan perawatan mesin KJUB PUSPETASARI Ceper Klaten. 2. Ada perbedaan tekanan darah pekerja berdasarkan IMT di bagian produksi dan perawatan mesin KJUB PUSPETASARI Ceper Klaten 3. Ada perbedaan tekanan darah pekerja berdasarkan intensitas kebisingan di bagian produksi dan perawatan mesin KJUB PUSPETASARI Ceper Klaten 23