BAB I P E N D A H U L U A N

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan zaman telah membawa konsepsi negara hukum, berkembang pesat menjadi negara hukum modern. Hal ini mengakibatkan

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDO... NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG

PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

BAB I PENDAHULUAN. suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam mencapai tujuan. menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan

BAB II DISIPLIN KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL. sesungguhnya tidaklah demikian. Disiplin berasal dari bahasa latin Disciplina yang berarti

Administrasi Kepegawaian Negara. Lina Miftahul Jannah

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN MANAJEMEN PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA

I. PENDAHULUAN. Pegawai Negeri Sipil menurut undang-undang RI nomor 43 Tahun 1999 adalah

PERBANDINGAN MATERI POKOK UU NO. 8 TAHUN 1974 JO UU NO. 43 TAHUN 1999 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DAN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA (RUU ASN)

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN MANAJEMEN PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 120 TAHUN

BAB 1 PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN DISIPLIN PNS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2017

BUPATI TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengelolaan Negara baik secara desentralisasi maupun secara otonomi

2 pemerintah yang dalam hal ini yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS). 2 Tantangan yang dihadapi oleh pemerintah bidang sumber daya manusia aparatur sebaga

I. PENDAHULUAN. terdiri dari pejabat negara dan pegawai negeri untuk menyelenggarakan tugas

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu dampak dari tuntutan era globalisasi bagi bangsa Indonesia

DISIPLIN ASN DENGAN BERLAKUNYA PP NOMOR 11 TAHUN 2017

I. PENDAHULUAN. Pegawai negeri yang sempurna menurut Marsono adalah pegawai negeri yang

BUPATI MALUKU TENGGARA

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Pengawasan Melekat terhadap Kedisiplinan PNS di Dinas

BAB I PENDAHULUAN. tergantung pada kesempurnaan aparatur negara khususnya Pegawai Negeri Sipil

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 49 TAHUN 2012 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1994 TENTANG PENGANGKATAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. yang berhasil dalam bidang pekerjaan, umumnya mempunyai kedisiplinan

PROPINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMBINAAN DISIPLIN A. DASAR HUKUM B. PENJELASAN 1. Maksud 2. Tujuan 1. Kewajiban,

2017, No tentang Kode Etik Pegawai Badan Keamanan Laut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembara

REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : Tahun 2011 TENTANG

negara dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

KEBIJAKAN ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 16 Tahun 2016 Seri E Nomor 11 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG

ESENSI HUKUMAN DISIPLIN BAGI PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN WONOGIRI T E S I S

BAB I PENDAHULUAN. bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. 4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang bedasarkan kemerdekaan,

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan sejarah Indonesia, khusususnya pada Era Orde Baru terdapat berbagai

2011, No Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal; 4. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Moda

BUPATI PANGANDARAN PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

2017, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 3. Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008 tentang Badan Meteorologi

BAB V PENUTUP. Pelaksanaan pengawasan diantaranya: b. Tindak lanjut hasil pengawasan sangat diperlukan dalam rangka

SALINAN PERATURAN SEKRETARIS KABINET REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/RB TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Negara dan Abdi Masyarakat yang selalu hidup ditengah masyarakat dan bekerja

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

BAB I PENDAHULUAN. negara dengan memperbaiki kesejahteraan dan keprofesionalan serta

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 64 TAHUN 2016 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 13 Tahun : 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara hukum yang

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan dan pengayoman pada masyarakat serta kemampuan professional dan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 125/DJ-PSDKP/2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 23 TAHUN 2017 TENTANG

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2018 TENTANG SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG. BAB I Ketentuan Umum

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 39 TAHUN 2005

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Guna mencapai tujuan pembangunan nasional maka dalam

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

URGENSI DIKELUARKANNYA PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PPPK.

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 85 TAHUN 2010 TENTANG TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.604, 2010 OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA. Pengangkatan. Pemberhentian. Asisten Ombudsman. Prosedur.

KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA RINCIAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN

BAB I PENDAHULUAN. a. Kondisi umum Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.

BAB I PENDAHULUAN. secara relatif akan menjamin kelangsungan pelaksanaan tugas pemerintahan dan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki posisi yang strategis dalam pembuatan kebijakan dan pelayanan publik.

Transkripsi:

BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Masalah Manusia dituntut untuk selalu memenuhi kebutuhannya. Pada dasarnya kebutuhan manusia terbagi menjadi tiga, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Dari ketiga kebutuhan tersebut, kebutuhan primer adalah yang paling utama karena menyangkut kelangsungan hidup manusia. Maka dari itu, manusia harus bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Salah satu pekerjaan yang paling diminati di Indonesia adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan pegawai negeri atau aparatur negara yang bukan militer. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati seseorang untuk menjadi PNS, antara lain: ujian tertulis, psikotes, wawancara, tes kesehatan, dan terakhir diklat. Tujuan dilaksanakannya seleksi ini adalah untuk mendapatkan PNS yang memiliki kapabilitas yang baik serta profesional. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwasanya masih banyak PNS yang tidak memiliki kompetensi, kapabilitas serta integritas dalam dirinya. Berbagai media massa baik media cetak maupun elektronik telah memberikan gambaran di lapangan secara nyata tentang PNS yang nakal. Banyak PNS yang terjaring razia oleh Satpol PP meninggalkan kantor tanpa dapat menunjukkan surat tugas atau izin dari pimpinannya. Kebanyakan dari mereka ditemukan sedang berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan ataupun berkumpul di tempat makan. Pada saat usai libur panjang khususnya libur hari-hari besar keagamaan, 1

2 masih banyak terdapat PNS yang tidak masuk kerja atau mangkir tanpa adanya alasan. Hal ini sering kali terjadi, akibatnya pelayanan publik pada hari awal setelah selesai masa libur tidak berjalan efisien. Dikarenakan banyak meja atau bangku kosong yang tidak ditempati oleh PNS yang berwenang belum masuk kerja. Pembangunan nasional merupakan indikator dari kinerja PNS sebagai abdi negara. Namun dengan munculnya oknum-oknum PNS yang tidak bertanggung jawab, pembangunan nasional yang seyogyanya berjalan dengan baik sesuai dengan program yang telah ditetapkan menjadi tidak tercapai. Tidak meratanya pembangunan nasional akan menyebabkan perbedaan dalam tingkat ekonomi, sosial, bahkan pendidikan diwilayah-wilayah terpencil Indonesia. Efek panjang yang ditimbulkan adalah munculnya diskriminasi antar daerah dan dapat berujung pecahnya Negara Republik Indonesia. Sejatinya tugas yang diemban seorang PNS adalah sebagai pelayan masyarakat yang harus mengabdi kepada negara, mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi maupun golongan. PNS yang memiliki motivasi rendah akan memiliki integritas yang rendah pula baik dalam skala daerah maupun nasional. Salah satu nilai dari integritas adalah kedisiplinan yang wajib dimiliki seorang PNS. Diperlukan suatu langkah besar dari untuk menanggulangi masalah integritas khususnya pada disiplin PNS. Akhirnya mengeluarkan PP No.53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

3 Pada PP No. 53 Tahun 2010 dijelaskan dalam rangka mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral sebagai penyelenggara pemerintahan yang menerapkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance), maka PNS sebagai unsur aparatur negara dituntut untuk setia kepada Pancasila, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah, bersikap disiplin, jujur, adil, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas. Untuk mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral tersebut, mutlak diperlukan peraturan disiplin PNS yang dapat dijadikan pedoman dalam menegakkan disiplin, sehingga dapat menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas serta dapat mendorong PNS untuk lebih produktif berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja. Peraturan Pemerintah tentang disiplin PNS ini antara lain memuat kewajiban, larangan, dan hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan kepada PNS yang telah terbukti melakukan pelanggaran. Penjatuhan hukuman disiplin dimaksudkan untuk membina PNS yang telah melakukan pelanggaran, agar yang bersangkutan mempunyai sikap menyesal dan berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki diri pada masa yang akan datang. Dalam Peraturan Pemerintah ini secara tegas disebutkan jenis hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan terhadap suatu pelanggaran disiplin. Hal ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi pejabat yang berwenang menghukum serta memberikan kepastian dalam menjatuhkan hukuman disiplin. Demikian juga

4 dengan batasan kewenangan bagi pejabat yang berwenang menghukum telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini. Penjatuhan hukuman berupa jenis hukuman disiplin ringan, sedang, atau berat sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan oleh PNS yang bersangkutan, dengan mempertimbangkan latar belakang dan dampak dari pelanggaran yang dilakukan. Kewenangan untuk menetapkan keputusan pemberhentian bagi PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Selain hal tersebut di atas, bagi PNS yang dijatuhi hukuman disiplin diberikan hak untuk membela diri melalui upaya administratif, sehingga dapat dihindari terjadinya kesewenang-wenangan dalam penjatuhan hukuman disiplin. Pada PP No.53 Tahun 2010 ini telah diatur segala kewajiban dan larangan bagi PNS. Kewajiban Pegawai Negeri Sipil diatur dalam Pasal 3 sedangkan, larangan bagi Pegawai Negeri Sipil terdapat dalam Pasal 4. Selain kewajiban dan larangan, sanksi-sanksi yang akan diberikan kepada PNS yang tidak mematuhinya juga daitur dalam Pasal 7. Sebelumnya terdapat juga peraturan yang mengatur tentang disiplin PNS yaitu PP No. 30 Tahun 1980. PP No. 30 Tahun 1980 ini sudah tidak dipakai lagi karena tidak sesuai dengan keadaan Indonesia sekarang ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) adalah salah satu organisasi atau badan yang menaungi pendidikan di Indonesia. Kemendikbud dibentuk oleh presiden dan dilaksanakan oleh menteri pendidikan dan

5 kebudayaan. Kemendikbud memiliki cabang di tiap-tiap provinsi di Indonesia yang disebut dengan Dinas Pendidikan, tidak terkecuali di Provinsi Sumatera Utara. Pemerintah pusat terus berusaha mewujudkan pendidikan Indonesia yang merata dan bermutu tinggi. Anggaran yang diberikan untuk pendidikan terbilang sangat tinggi dengan jumlah 20% dari APBN dan 20% dari APBD. Dengan anggaran yang demikian besar seharusnya pendidikan yang dicita-citakan dapat tercapai. Kenyataannya tidak sedikit anak-anak bangsa yang harus putus sekolah karena biaya pendidikan yang sangat tinggi. Kondisi fisik sekolah yang sangat mengkhawatirkan dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai. Sekolahsekolah yang terdapat di pelosok memiliki infrastruktur yang jauh berbeda dengan sekolah yang ada di kota. Bagaimana mungkin permasalahan diatas dapat terjadi, padahal pusat telah mengucurkan anggaran yang sangat besar untuk pendidikan dan membuat program kerja, seperti Wajib Belajar, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beasiswa Unggulan, Bidik Misi, serta Bantu Sekolahku. Kinerja dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara perlu dievaluasi mendalam, dimulai dengan kedisiplinan PNS Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang carut marut juga turut menambah catatan buruknya kinerja dari Kemendikbud. Ujian Nasional (UN) sebagai program kerja yang berskala nasional dilaksanakan secara tidak serentak di seluruh Indonesia. Di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 521 sekolah yang tidak melaksanakan Ujian Nasional

6 (UN) tepat pada tanggal 15 April 2013 karena tidak memiliki soal dan lembar jawaban. Berdasarkan pada pemikiran di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut terhadap penerapan PP No. 53 Tahun 2010. Sehingga penulis mengangkatnya menjadi sebuah karya ilmiah dengan judul: Implementasi PP No. 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. B. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah adalah kumpulan masalah yang berhasil ditarik dari uraian latar belakang yang akan diteliti dalam lingkup permasalahan yang lebih luas dibandingkan perumusan masalah. Melalui paparan latar belakang, penulis menarik permasalahan untuk menjadi identifikasi masalah, yaitu: 1. Pemahaman PNS pada PP No. 53 Tahun 2010. 2. Faktor-faktor penghambat PNS tidak melaksanakan kerja dengan penuh tanggung jawab. 3. Sanksi hukum bagi PNS yang mangkir dalam tugas. 4. Perpanjang masa libur pada saat jam kerja. 5. Tidak mengerjakan tugas dengan penuh tanggung jawab. 6. Tidak jujur dalam melaksanakan tugas. 7. Penyalahgunaan wewenang dalam tugas.

7 C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam suatu penelitian adalah sangat penting. Tujuannya adalah agar diperoleh analisa yang luas dan kesimpulan yang tepat. Dengan demikian, adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah 1. Pelaksanaan tugas PNS dengan berlandaskan kepada PP No. 53 Tahun 2010 di tingkat Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. 2. Faktor-faktor penghambat PNS mengimplementasikan PP No. 53 Tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. 3. Sanksi hukum pada PP No. 53 Tahun 2010 bagi PNS di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. D. Rumusan Masalah Perumusan masalah merupakan bagian yang sangat penting dan merupakan rumusan formal yang operasional dari masalah yang akan diteliti. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pelaksanaan tugas PNS dengan berlandaskan kepada PP No. 53 Tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara? 2. Apa saja faktor-faktor penghambat PNS mengimplementasikan PP No. 53 Tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara? 3. Bagaimana penerapan sanksi hukum pada PP No. 53 Tahun 2010 bagi PNS di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara?

8 E. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui bagaimana pelaksanaan tugas PNS dengan berlandaskan kepada PP No. 53 Tahun 2010 di tingkat Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. 2. Mengetahui apa saja faktor-faktor penghambat PNS mengimplementasikan PP No. 53 Tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. 3. Mengetahui bagaimana sanksi hukum pada PP No. 53 Tahun 2010 bagi PNS di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. F. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi pemerintah. Sebagai bahan kajian dalam memberikan manajemen yang baik untuk PNS, sehingga tidak ada lagi pelanggaran PP No. 53 Tahun 2010 oleh PNS secara umum, dan khususnya PNS di tingkat Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. 2. Bagi Universitas Negeri Medan Sebagai karya tulis yang menambah koleksi literarur di bidang ilmu sosial. Karya tulis ini meneliti tentang tingkat kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka terimplementasikannya PP No. 53 Tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

9 3. Bagi mahasiswa. Sebagai bahan bacaan mahasiswa untuk menambah wawasan pengetahuan khususnya di bidang PP No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. 4. Bagi masyarakat. Sebagai gambaran di lapangan untuk menunjukkan tingkat disiplin PNS secara umum, dan khususnya PNS di tingkat Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.