BAB II KAJIAN TEORITIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Bimbingan dan Konseling memiliki peranan yang sangat menentukan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan formal sekarang sudah merupakan bagian yang integral dan tidak

BAB II KAJIAN TEORI. guru yang disamping menjabat sebagai guru juga menjadi pembimbing. 1

PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG PELAKSANAAN LAYANAN INFORMASI BIDANG PENGEMBANGAN KARIER DI KELAS XI SMA N 2 BAYANG

ARTIKEL ILMIAH PERSEPSI PESERTA DIDIK TERHADAP PELAKSANAAN LAYANAN INFORMASI DI SMP NEGERI 4 KOTA JAMBI OLEH : S U S A N T O NIM.

BAB II KERANGKA TEORI. 1. Aplikasi Instrumentasi Bimbingan dan Konseling

wujud nyata penyelanggaraan layanan bimbingan dan konseling. Kegiatan bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar,

BAB II KAJIAN TEORI. a. pengertian layanan konseling individual

PERSEPSI SISWA TENTANG LAYANAN INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA YANG DIBERIKAN GURU BK SMAN 1 KUBUNG

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada dalam rangka upaya

BAB I PENDAHULUAN. keselarasan, dan kesemimbangan dalam aspek-aspeknya yaitu spiritual, moral,

Persepsi Siswa tentang Pelaksanaan Bimbingan Karir

BAB I PENDAHULUAN. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam aspek-aspeknya yaitu spiritual, moral, sosial,

BAB II KAJIAN TEORI. pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan. pengalaman-pengalaman yang dapat memberi sumbangan yang berarti bagi

PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG LAYANAN PENGUSAAN KONTEN DI KELAS VIII SMP NEGERI 7 PADANG

BAB I PENDAHULUAN. hanya manusia makhluk yang dikarunia akal dan hati oleh Allah SWT.

BAB I PENDAHULUAN. banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan fasilitas yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Organ reproduksi merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan

a. Pengertian Bimbingan dan Konseling

PANDUAN MODEL PENGEMBANGAN DIRI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ahli (expert judgment), inventori dinyatakan layak digunakan dan dapat diuji

BAB I PENDAHULUAN. didik dalam mengembangkan potensinya. Hal ini didasarkan pada UU RI No

ARTIKEL ILMIAH PERSEPSI SISWA TERHADAP PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING DI SMP NEGERI I MUARO JAMBI

Peni Putri Ninda Sari * Dra. Hj. Fitria Kasih, M.Pd., Kons ** Yasrial Chandra, M.Pd **

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dari persepsi siswa terhadap Bimbingan dan

Titis Fitri Putri Astuti ( ) Pembimbing : Dra. Sri Hartini, M.Pd. Prodi BK FKIP UNISRI ABSTRAK

HUBUNGAN BIMBINGAN KARIR DENGAN MINAT MELANJUTKAN STUDI SISWA KELAS VII DAN VIII DI SMP NEGERI 2 KANDAT KABUPATEN KEDIRI TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB I PENDAHULUAN. Undang Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

SENSASI SENSAS dan PERSEPSI PERSE 4/2/

KESIAPAN MAHASISWA DALAM MELAKSANAKAN LAYANAN KONSELING PERORANGAN DI SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar. dalam bentuk layanan bimbingan dan konseling.

Mahasiswa Program StudiBimbingandanKonselingSTKIP PGRI Sumatera Barat 2 Dosen Program StudiBimbingandanKonselingSTKIP PGRI Sumatera Barat

PERSEPSI SISWA TERHADAP GURU PEMBIMBING DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 4 MUARO JAMBI. Zulkarnain

EVALUASI PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DI SMAN 46 JAKARTA SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun mental dalam diri manusia. Sehingga dengan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam banyak hal remaja sekarang dihadapkan pada lingkungan yang tidak. karena remaja adalah masa depan bangsa.

CONTEXT INPUT PROCESS PRODUCT (CIPP): MODEL EVALUASI LAYANAN INFORMASI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa: adanya permasalahan berupa kurangnya komitmen untuk

PERUBAHAN PERSEPSI SISWA SMP TERHADAP BIMBINGAN KONSELING MELALUI LAYANAN INFORMASI. Siti Masruroh SMP Negeri 4 Surakarta

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan potensial-potensial seperti

ARTIKEL PENERAPAN LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN MODEL BEHAVIORAL DALAM MENGURANGI MEMBOLOS SEKOLAH PESERTA DIDIK KELAS VIII SMPN 7 KEDIRI

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoretis. 1. Pemberian Pekerjaan Rumah. a. Pengertian Mengerjakan PR/Tugas

BAB II KAJIAN TEORI. individu itu sendiri dalam kerjanya yakni bagaimana ia. kata dasar kerja yaitu prestasi, bisa pula berarti hasil kerja.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan formal sebagai tempat

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi-potensinya agar menjadi pribadi yang bermutu. Sekolah. keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik.

BAB I PENDAHULUAN. mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar siswa. Di sekolah

BAB I PENDAHULUAN. dan minatnya. Arah ini menimbulkan kebutuhan akan bimbingan yaitu

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

BAB I PENDAHULUAN. Peranan layanan konseling di sekolah-sekolah sangatlah penting bahkan

VOL. 5 NO. 1 MARET 2016 ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. perubahan itu sendiri. Perubahan zaman yang serba cepat menuntut sumber

BAB II KAJIAN TEORI. sekolah, yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru

PEROLEHAN SISWA SETELAH MENGIKUTI LAYANAN KONSELING PERORANGAN

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Kelompok Pada Siswa

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat dengan bimbingan yang benar akan berjalan baik dan terarah. Begitu juga

Al Ulum Vol.64 No.2 April 2015 halaman

BAB II KAJIAN TEORI. suatu maksud atau tujuan tertentu. Maka strategi identik dengan teknik, siasat

BAB I PENDAHULUAN. sekolah-sekolah dengan dicantumkannya bimbingan dan konseling pada

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM JENJANG STRATA 1 (SARJANA : S1 )

BAB I PENDAHULUAN. berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran 1. belajar mengajar, agar proses belajar mengajar lancar, maka seluruh siswa

PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU BIMBINGAN KONSELING DI SMP NEGERI 18 BANDA ACEH. Skripsi. Diajukan Oleh:

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN MINAT BERKONSULTASI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 10 PEKANBARU

BAB V PENUTUP. hasil penyajian data yang sudah penulis paparkan. a. memberikan motivasi. yang bersangkutan. e. Mengetahui hasil.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoritis. 1. Evaluasi. a. Pengertian Evaluasi. Penelitian ini berkenaan dengan evaluasi hasil layanan

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoritis. Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu usaha yang dilakukan

PELAKSANAAN LAYANAN INFORMASI OLEH GURU BK DALAM PERENCANAAN KARIR PESERTA DIDIK DI KELAS XI SMA NEGERI 1 RAO KABUPATEN PASAMAN ARTIKEL

BAB II KAJIAN TEORETIS. Menurut Silbermen strategi peran figur ( role models) merupakan

PERSEPSI SISWA TERHADAP KESIAPAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN (Studi Pada SMP Negeri 18 Banda Aceh)

TINGKAT PENGUASAAN APLIKASI INSTRUMENTASI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMP DI KOTA METRO

BAB V PENUTUP. hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas VIII B

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan individu dalam memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun suatu bangsa. Melalui pendidikan

Siti Ma rifah Setiawati. Guru Bimbingan Dan Konseling MTsN 4 Surabaya Enail: Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. mereka mengubah dirinya sendiri (QS. Ar Ra du/13: 11).

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoretis. 1. Pengertian Belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai kecenderungan rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Semua itu terjadi

BAB II KAJIAN TEORI. pembelajaran tim pendengar. Pemahaman berasal dari kata paham yang berarti

PERSEPSI SISWA KELAS XI TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DI SMA NEGERI 7 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2015/2016

BAB I PENDAHULUAN. yang berkualitas. Pendukung utama bagi tercapainya negara yang berkualias adalah

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KARIR TERHADAP PILIHAN STUDI LANJUT SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PRINGKUKU TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. siswa kelas IX di SMP N 6 Yogyakarta. Dari hasil analisis menunjukkan

PENINGKATAN PEMAHAMAN PEMILIHAN KARIR MELALUI LAYANAN INFORMASI PADA SISWA KELAS XI IPA 4 SMA NEGERI 1 BERGAS KABUPATEN SEMARANG TAHUN AJARAN

Transkripsi:

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kerangka Teoritis 1. Persepsi a. Pengertian Persepsi Pada pembahasan kerangka teoritis ini ada beberapa teori yang dianggap relevan untuk menjelaskan permasalahan sekitar judul penelitian ini. Dalam kamus pintar Bahasa Indonesia pengertian persepsi adalah tanggapan. 1 Dalam istilah konseling dan terapi adalah perseption yang mengandung arti: menunjuk pada suatu kesadaran tunggal yang timbul dari proses penginderaan saat tampilnya suatu stimulus. 2 Menurut Alex Sobur dalam buku Psikologi Umum bahwa secara etimologis persepsi berasal dari bahasa Latin yaitu perception; dan percipere yang berarti menerima atau mengambil. 3 Menurut Slameto dalam buku Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan 1 Hamzah Ahmad & Nanda Santoso, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, (Surabaya: Fajar Mulya, 1996), h. 288. 2 Andi Mappiare, Kamus Istilah Konseling dan Terapi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2006), h. 239. 3 Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 445.

ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan pencium. 4 Menurut Jallaludin Rahmad dalam buku Psikologi Komunikasi persepsi adalah suatu pengalaman tentang objek peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan. 5 Dari beberapa pengertian tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra, yang merupakan alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya dalam hal mengamati, menanggapi, menilai memahami, menginterpretasikan suatu objek sebagai hasil dari prilaku mengamati melalui panca indra tersebut. Dalam mempersepsi sesuatu, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan individu lainnya, karena persepsi itu bersifat individual yang dapat dikemukakan melalui perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang ada dalam diri manusia. b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Adanya keberagaman persepsi atau tanggapan di antara setiap orang, ada pula hal lain yang menyebabkan satu objek yang sama di persepsikan berbeda oleh dua atau lebih orang yang berbeda. Perbedaan persepsi dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini: 102. 4 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Mahasatya, 2003), h. 5 Jallaludin Rahmad, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), h. 113.

1) Perhatian, biasanya kita tidak menangkap seluruh rangsangan sekaligus yang ada di sekitar kita, tetapi kita memfokuskan perhatian pada satu atau dua objek saja. Perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya, menyebabkan perbedaan persepsi diantara mereka. 2) Set, adalah harapan seseorang tentang rangsangan yang akan timbul. 3) Kebutuhan, adalah kebutuhan-kebutuhan sesaat maupun yang menetapkan pada diri seseorang mempengaruhi persepsi orang tersebut. 4) Sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi. 5) Ciri kepribadian, adalah ciri kepribadian yang akan mempengaruhi tanggapan. 6) Gangguan kejiwaam dapat menimbulkan kesalahan tanggapan yang di sebut halusinasi. 6 c. Proses Terjadinya Persepsi Proses terjadinya persepsi dapat dijelaskan yaitu objek menimbulkan stimulus dan stimulus mengenai alat indra atau reseptor (merupakan proses fisik). Stimulus yang diterima oleh alat indra diteruskan oleh alat sensoris ke otak (proses fisiologis). Kemudian terjadilah proses ke otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, apa yang didengar atau apa yang diraba. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa taraf terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari apa yang dilihat, apa yang didengar atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indra. Proses ini merupakan proses terakhir dari persepsi dan merupakan 6 Alex Sobur, Op.Cit., h. 43-47.

proses sebenarnya. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk. Dalam proses persepsi perlu adanya perhatian sebagai persiapan dalam persepsi itu. Hal tersebut karena keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya dikenal oleh satu stimulus saja, tetapi individu dikenal berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitarnya. Namun demikian tidak semua mendapatkan respon individu untuk dipersepsi. 7 2. Layanan Informasi Bidang Bimbingan Karir a. Pengertian Layanan Informasi Bidang Bimbingan Karir Layanan informasi yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) dalam menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dam pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat. 8 7 Martini, Studi Deskriptif Tentang Persepsi Siswa Terhadap Kinerja Guru Pembimbing Pada Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling di SMA Negeri plus Desa Teluk Kenidai Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Tahun 2005/2006. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling. FTK. UIN Suska Riau. 2006, h. 13. 8 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program BK di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008). h. 61.

Layanan informasi adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan, informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). 9 Menurut Prayitno & Erman Amti: Layanan informasi adalah kegiatan memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan informasi itu pertamatama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman dalam bimbingan dan konseling. 10 Selain itu, Winkel & Sri Hastuti menjelaskan bahwa: Layanan informasi adalah usaha untuk membekali para siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta dibidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang perkembangan pribadisosial, supaya mereka dengan belajar tentang lingkungan hidupnya lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri. Mengingat luasnya informasi yang tersedia dewasa ini, mereka harus mengetahui pula informasi manakah yang relevan untuk mereka dan mana yang tidak relevan, serta informasi macam apa yang menyangkut data dan fakta yang tidak berubah dan yang dapat berubah dengan beredarnya roda waktu. 11 Bimbingan karir ialah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau 9 Hallen. Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 82. 10 Prayitno & Erman Amti, Op. Cit., h. 259. 11 Winkel & Sri Hastuti. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. (Yogjakarta: Media Abadi, 2006). h. 316.

jabatan/ profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu. 12 Selain itu bimbingan karier juga diartikan sebagai pelayanan BK yang membantu siswa merencanakan dan mengembangkan masa depan karier. 13 Berdasarkan beberapa pendapat tentang layanan informasi dan bimbingan karir di atas dapat disimpulkan bahwa layanan informasi adalah suatu kegiatan atau usaha untuk membekali para siswa tentang berbagai macam pengetahuan supaya mereka mampu mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupannya. Dan bimbingan karir merupakan pelayanan bimbingan dan konseling yang ditujukan untuk mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karir. Dari kesimpulan pengertian layanan informasi dan bimbingan karir di atas maka dapat disimpulkan bahwa layanan informasi bidang bimbingan karir adalah kegiatan bimbingan karir di sekolah untuk memberikan pemahaman diri mulai dari memikirkan, merencanakan, memilih, menyiapkan, mencari dan menyesuaikan diri dalam menghadapi dunia kerja. b. Tujuan Layanan Informasi Bidang Bimbingan karir Layanan informasi bertujuan untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna 12 Dewa Ketut Sukardi, Op.cit., h. 58. 13 Suhertina, Loc.cit.

untuk mengenali diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai siswa, anggota keluarga, dan masyarakat. 14 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan informasi adalah agar para siswa memperoleh informasi yang relevan dalam rangka memilih dan mengambil keputusan secara tepat guna pencapaian pengembangan diri secara optimal. Tujuan layanan informasi bimbingan karir akan tercapai apabila kegiatan bimbingan karir tersebut dapat berjalan dengan baik. Dalam penelitian ini tujuan dari layanan informasi bidang bimbingan karir adalah membekali siswa dengan berbagai informasi tentang bimbingan karir agar nantinya siswa tidak bingung lagi dalam mengambil keputusan setelah lulus sekolah serta membantu siswa merencanakan dan mengembangkan masa depan kariernya sesuai dengan kemampuan siswa itu sendiri. c. Materi Layanan Informasi Bidang Bimbingan Karir Informasi pendidikan lanjutan sesudah SLTA lebih spesifik tentang jurusan atau program pendidikan/ latihan yang mengarah pada pekerjaan atau karir tertentu. Secara garis besar informasi pendidikan yang diperlukan para (calon) lulusan SLTA adalah: 1. Lembaga pendidikan yang menyajikan program-program yang lebih spesifik (materi kuri kuler dan ko-kurikuler yang disajikan, syarasyarat untuk memasuki pendidikan latihan, kondisi dan kemungkinan-kemungkinan masalah yang timbul). 14 Samsul Munir Amin, Op.Cit., h. 288.

d. Asas 2. Beasiswa dan berbagai kemungkinan tunjangan yang dapat diperoleh beserta syarat-syarat dan cara-cara melamarnya (mengajukan permohonan). 3. Program-program latihan khusus, misalnya di perusahaanperusahaan industri. 4. Kemungkinan lain yang dapat dimasuki oleh lulusan SLTA seperti memasuki jarjaran ABRI, dan sebagainya. 15 Layanan informasi bidang bimbingan karir pada umumnya merupakan kegiatan yang diikuti oleh sejumlah peserta dalam suatu forum terbuka. Asas kegiatan mutlak diperlukan, didasarkan pada kesukarelaan dan keterbukaan, baik dari para peserta maupun konselor. e. Pendekatan dan Teknik 1) Cara penyampaian Layanan informasi dapat diselenggarakan melalui ceramah tanya jawab, diskusi, karyawisata, buku panduan, dan konfrensi karier. 16 2) Media dan Teknik Dalam penyampaian informasi dapat digunakan media pembantu berupa alat peraga, media tulis, selebaran, dan grafis serta perangkat dan program elektronik (seperti radio, televisi, rekaman, komputer, OHP, LCD). Papan informasi merupakan media yang cukup efektif apabila dikelola dengan baik dan bahan sajinya aktual. 17 15 Prayitno & Erman Amti, Op.cit., h. 261. 16 Prayitno & Erman Amti, Op.cit, h. 269. 17 Prayitno. Seri Layanan Konseling L.2 Layanan Informasi, (Padang: UNP,2004), h. 8.

Layanan informasi dapat diselenggarakan baik dalam bentuk pertemuan umum, klasikal, maupun pertemuan kelompok. 3) Waktu Materi informasi dapat diberikan pada awal atau akhir suatu periode pendidikan atau diantara keduanya. Layanan informasi dapat diberikan kapan saja pada waktu yang memungkinkan. Dari sisi lain ada materi yang perlu diberikan selagi materi itu masih hangat. 18 Waktu dan tempat penyelenggaraan layanan informasi sangat tergantung pada format dan isi layanan. Format klasikal dan isi layanan yang terbatas untuk para siswa dapat diselenggarakan di kelas-kelas menurut jadwal pembelajaran sekolah. 19 4) Pelaksanaan 5) Penilaian a) Membuat satuan layanan (satlan) b) Pertemuan dalam kelas (pengakraban, mengucapkan salam, berdoa, perkenalan, menjelaskan pengertian, tujuan dan manfaat layanan informasi). c) Pembahasan materi d) Penilaian dan tindak lanjut e) Lapelprog. 20 Evaluasi lisan ataupun tertulis dapat digunakan untuk mengungkapkan pemahaman peserta tentang informasi yang baru saja 18 Tri Umari, dkk. Bahan Ajar Materi Bimbingan dan Konseling, (Pekanbaru, FKIP UR, 2011), h. 17. 19 Prayitno. Op.cit., h. 10. 20 Tri Umari, Loc.cit.

disajikan. Dalam hal ini penilaian segera (laiseg) diperlukan. Penilaian jangka pendek (laijapen) dan jangka panjang (laijapang) diselenggarakan sesuai dengan kegunaan materi informasi dalam kaitannya dengan pengentasan masalah klien yang secara khusus ditangani melalui layanan informasi itu sendiri, ataupun melalui layanan-layanan konseling lainnya. 21 B. Penelitian Yang Relevan Penelitian yang relevan adalah yang di gunakan sebagai perbandingan dari menghindari manipulasi terhadap sebuah karya ilmiah dan menguatkan bahwa penelitian yang penulis lakukan benar-benar belum pernah diteliti oleh banyak orang. Penelitian terdahulu yang pernah di lakukan antara lain: 1. Dewi Hasanah pada tahun 2009 jurusan Kependidikan Islam Pada Prodi Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Meneliti tentang Pelaksanaan Layanan Informasi di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 20 Pekanbaru. Persoalan yang di kaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah guru pembimbing melaksanakan layanan informasi tersebut. Dan hasil penelitiannya tergolong kurang maksimal karena angka persentase hanya memperoleh 60%. 2. Suhaimi pada tahun 2005 jurusan Kependidikan Islam Pada Prodi Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas 21 Prayitno. Op.cit., h. 11.

Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Meneliti dengan judul Pemanfaatan Layanan Informasi oleh Siswa di SMPN 1 Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, peneliti memfokuskan tentang bagaimana siswa memanfaatkan layanan informasi di SMPN 1 Pangkalan Kerinci. Dan hasil penelitiannya tergolong cukup maksimal karena angka persentase memperoleh 72%. C. Konsep Operasional Konsep operasional ini merupakan suatu konsep yang digunakan untuk memberi batasan terhadap konsep teoritis. Hal ini dipergunakan agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran penulisan ini. Adapun yang menjadi indikator dari persepsi adalah sebagai berikut: 1. Siswa beranggapan bahwa layanan informasi bidang bimbingan karir perlu di laksanakan di sekolah. 2. Siswa beranggapan bahwa pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan karir membantu siswa dalam menentukan karir sesuai dengan minatnya. 3. Siswa beranggapan bahwa metode yang digunakan guru pembimbing dalam pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan karir perlu di variasikan. 4. Siswa beranggapan bahwa perlunya media pembantu dalam pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan karir. 5. Siswa beranggapan bahwa pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan karir perlu dilaksanakan sesuai dengan jadwal. Adapun indikator faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi siswa, antara lain:

1. Faktor intern : Minat siswa. 2. Faktor ekstern : Media pembantu dan waktu yang diberikan untuk mengikuti layanan.