ANALISIS ALGORITMA QUICKSORT

dokumen-dokumen yang mirip
STRATEGI DIVIDE AND CONQUER

STRUKTUR DATA. Nama : Sulfikar Npm : STMIK Handayani Makassar

Studi Mengenai Perbandingan Sorting Algorithmics Dalam Pemrograman dan Kompleksitasnya

Quick Sort dan Merge Sort. Arna Fariza Yuliana Setiowati

Algoritma Heap Sort. Sekolah Teknik Elektro & Informatika Departemen Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung

Penerapan Algoritma Bucket Sort Untuk melakukan Pengurutan n buah Bilangan Mata Kuliah Pemrosesan Paralel

SORTING DENGAN ALGORITMA DIVIDE AND CONQUER

TELAAH WAKTU EKSEKUSI PROGRAM TERHADAP KOMPLEKSITAS WAKTU ALGORITMA BRUTE FORCE DAN DIVIDE AND CONQUER DALAM PENYELESAIAN OPERASI LIST

Analisis Kompleksitas Waktu Untuk Beberapa Algoritma Pengurutan

BAB VII ALGORITMA DIVIDE AND CONQUER

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3 ANALISA SISTEM

Pengertian Algoritma Pengurutan

QUICKSORT: METODE PENGURUTAN ARRAY SATU DIMENSI YANG CEPAT DAN EFISIEN. (Quicksort: Quick and Efficient One-Dimension Array Sorting Method)

Sorting Algorithms. Algoritma dan Struktur Data. Sorting algorithms

Algoritma Divide and Conquer (Bagian 2)

PENGGUNAAN ALGORITMA DIVIDE AND CONQUER UNTUK OPTIMASI KONVERSI BILANGAN DESIMAL KE BINER

Algoritma Divide and Conquer. (Bagian 2)

Perbandingan Algoritma Pengurutan Merge Sort, Quick Sort dan Heap Sort Dilihat dari Kompleksitasnya

Kemangkusan Algoritma Pada Beberapa Variasi Quick Sort

Decrease and Conquer

Pohon Biner Sebagai Struktur Data Heap dan Aplikasinya

BAB VI SORTIR ATAU PENGURUTAN

Perbandingan Kecepatan/Waktu Komputasi Beberapa Algoritma Pengurutan (Sorting)

Analisis Kecepatan Sorting Dengan Notasi Big O

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Kompleksitas Algoritma Sorting yang Populer Dipakai

Analisis Algoritma Bubble Sort

ANALISIS PERBANDINGAN ALGORITMA SELECTION SORT DENGAN MERGE SORT

Algoritma Bubble Sort dan Quick Sort

SORTING (BAGIAN II) Proses kelima

PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Oky Dwi Nurhayati, ST, MT

Solusi UTS Stima. Alternatif 1 strategi:

METODE DEVIDE AND CONQUER (DANDC)

Komparasi Algoritma Quicksort dan Bucket Sort pada Pengurutan Data Integer

Design and Analysis Algorithm. Ahmad Afif Supianto, S.Si., M.Kom. Pertemuan 07

SORTING ARRAY FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI UNISBANK SEMARANG : ANDY KRISTIANTO : Disusun Oleh :

Multithreading untuk Algoritma Divide and Conquer

Kompleksitas Algoritma Dalam Algoritma Pengurutan

Perbandingan Performa Kombinasi Algoritma Pengurutan Quick-Insertion Sort dan Merge-Insertion Sort

1. Kompetensi Mengenal dan memahami algoritma percabangan yang komplek.

ANALISIS PERBANDINGAN ALGORITMA BUBBLE SORT, MERGE SORT, DAN QUICK SORT DALAM PROSES PENGURUTAN KOMBINASI ANGKA DAN HURUF

Sorting Algorithms. Divide and Conquer

Analisa Kompleksitas Algoritma. Sunu Wibirama

Kompleksitas Algoritma Pengurutan Selection Sort dan Insertion Sort

1. Kompetensi Mengenal dan memahami notasi-notasi algoritma yang ada.

ANALISIS PERBANDINGAN METODE ALGORITMA QUICK SORT DAN MERGE SORT DALAM PENGURUTAN DATA TERHADAP JUMLAH LANGKAH DAN WAKTU

Analisa dan Perancangan Algoritma. Ahmad Sabri, Dr Sesi 2: 16 Mei 2016

Outline STRUKTUR DATA. VII. Sorting

Pendahuluan. Sebuah algoritma tidak saja harus benar, tetapi juga harus efisien. Algoritma yang bagus adalah algoritma yang efektif dan efisien.

Kompleksitas Algoritma

Fakultas Teknologi Informasi

Kompleksitas Algoritma

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Sebuah algoritma tidak saja harus benar, tetapi juga harus mangkus (efisien). Algoritma yang bagus adalah algoritma yang mangkus.

Komputasi Paralel Sebagai Alternatif Solusi Peningkatan Kinerja Komputasi

Menghitung Inversion Pada Barisan Dengan Menggunakan Modifikasi Bubble Sort, Insertion Sort, dan Merge Sort

Algoritma dan Pemrograman Lanjut. Pertemuan Ke-8 Pengurutan (Sorting) 1

Design and Analysis of Algorithms CNH2G3- Week 4 Kompleksitas waktu algoritma rekursif part 1

Konsep Sorting dalam Pemrograman Saniman dan Muhammad Fathoni

SORTING. Brigida Arie Minartiningtyas, M.Kom

Kompleksitas Algoritma

Penerapan Pohon Dalam Heap Sort

ANALISIS ALGORITMA BINARY SEARCH

Heap Tree dan Kegunaannya dalam Heap Sort

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perbandingan Algoritma Pencarian Kunci di dalam Himpunan Terurut Melalui Linear Search dan Binary Search

BAB II PEMBAHASAN. A. USE CASE 1. Pengertian Use Case

: Mahasiswa mampu menjelaskan teknik pemrograman menggunakan Sorting. Quick Sort

PERBANDINGAN KOMPLEKSITAS ALGORITMA PENCARIAN BINER DAN ALGORITMA PENCARIAN BERUNTUN

MAKALAH ALGORITMA DIVIDE AND CONQUER

NASKAH UJIAN UTAMA. JENJANG/PROG. STUDI : DIPLOMA TIGA / MANAJEMEN INFORMATIKA HARI / TANGGAL : Kamis / 18 FEBRUARI 2016

Matematika Diskrit Kompleksitas Algoritma. Instruktur : Ferry Wahyu Wibowo, S.Si., M.Cs.

Bab Tujuan. 6.2 Insertion Sort

Algoritma dan Struktur Data. Algoritma Pengurutan (Sorting)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) Mata Kuliah : Struktur Data Kode : TIS3213 Semester : III Waktu : 2 x 3 x 50 Menit Pertemuan : 12 & 13

7. SORTING DAN SEARCHING

ALGORITMA DIVIDE AND CONQUER

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH PEMROGRAMAN PASCAL * (TK) KODE / SKS: KK /2 SKS

Divide and Conqueradalah strategi militer yang dikenal dengan nama divide ut imperes.

Kompleksitas Algoritma (1)

Pengantar dalam Bahasa Pemrograman Turbo Pascal Tonny Hidayat, S.Kom

BAB 8 SORTING DAN SEARCHING

SORTING (PENGURUTAN DATA)

PERTEMUAN 10 METODE DEVIDE AND CONQUER

MODUL IV PENCARIAN DAN PENGURUTAN

Kompleksitas Algoritma Rank Sort dan Implementasi pada Parallel Programming Dengan Menggunakan OpenMP

Modul Praktikum 6 Pemograman Berorientasi Objek

KOMPLEKSITAS ALGORITMA PENGURUTAN (SORTING ALGORITHM)

JARINGAN UNTUK MERGING

Objek Data, Variabel, dan Konstanta. Konsep Bahasa Pemrograman Materi 4 Yudianto Sujana, M.Kom

UNIVERSITAS GUNADARMA

SILABUS MATAKULIAH. Indikator Pokok Bahasan/Materi Aktifitas Pembelajaran

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN

RESUME ALGORITMA MERGE SORT DAN REKURENS

Hubungan Kompleksitas Algoritma dengan Cara Belajar

ALGORITMA PENGURUTAN & PENCARIAN

Algoritma Pengurutan Data Kompleksitas dan Penerapannya

Pertemuan 4 ELEMEN-ELEMEN BAHASA PEMROGRAMAN

Transkripsi:

ANALISIS ALGORITMA QUICKSORT Tugas Desain dan Analisis Algoritma Nama: Maykada Harjono K --- NPM: 0706193366 Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia ANALISIS ALGORITMA QUICKSORT 1 1. Pendahuluan 1 2. Permasalahan 2 3. Algoritma Quicksort 2 3.1. Divide and Conquer 2 3.2. Algoritma 3 3.3. Kompleksitas 3 4. Program Pendukung 4 4.1. Class TQuickSort 4 4.2. Tata Cara Pemanggilan Subrutin 5 4.3. Susunan Input 5 5. Percobaan dan Analisa 5 5.1. Algoritma Lomuto 6 5.2. Algoritma Standar 7 5.3. Algoritma Poros Acak 8 5.4. Algoritma Poros Tengah dari Tiga (Median of Three) 8 5.5. Algoritma Poros Dinamis 9 5.6. Algoritma Rekursif Minimal 10 5.7. Algoritma Lain 11 6. Kesimpulan 11 7. Referensi 12 1. Pendahuluan Algoritma quicksort diperkenalkan pertama kali oleh C.A.R. Hoare pada tahun 1960, dan dimuat sebagai artikel di Computer Journal 5 pada April 1962. Bentuknya yang sederhana, efisien dan efektif dengan cepat membuatnya menjadi algoritma pengurutan (sorting) yang paling banyak digunakan, terutama dalam bahasa pemrograman. Berbagai penelitian dan pengembangan telah banyak dilakukan hingga saat ini. Tercatat peneliti seperti Sedgewick, Bentley, McIlroy, Clement, Flajolet, Vallee, hingga Martinez, membuat analisis dan implementasi dari quicksort. Beberapa hal yang membuat quicksort unggul: o Secara umum memiliki kompleksitas O(n log n). o Algoritmanya sederhana dan mudah diterapkan pada berbagai bahasa pemrograman dan arsitektur mesin secara efisien. 1

o Dalam prakteknya adalah yang tercepat dari berbagai algoritma pengurutan dengan perbandingan, seperti mergesort dan heapsort. o Melakukan proses langsung pada input (in-place) dengan sedikit tambahan memori. o Bekerja dengan baik pada berbagai jenis input data (seperti angka dan karakter). Namun terdapat pula kelemahan quicksort: o Sedikit kesalahan dalam penulisan program membuatnya bekerja tidak beraturan (hasilnya tidak benar atau tidak pernah selesai). o Memiliki ketergantungan terhadap data yang dimasukkan, yang dalam kasus terburuk memiliki kompleksitas O(n 2 ). o Secara umum bersifat tidak stable, yaitu mengubah urutan input dalam hasil akhirnya (dalam hal inputnya bernilai sama). o Pada penerapan secara rekursif (memanggil dirinya sendiri) bila terjadi kasus terburuk dapat menghabiskan stack dan memacetkan program. Pada bahasa pemrograman, quicksort ada dalam pustaka stdlib.h untuk bahasa C, dan class TList dan TStringList dalam Delphi (Object Pascal) maupun FreePascal. 2. Permasalahan Algoritma quicksort bekerja menurut prinsip bagi-dan-pecahkan (divide-and-conquer). Dengan demikian hal mendasar dalam algoritma quicksort adalah pemilihan poros (pivot) dan pembuatan partisi sedemikian rupa sehingga elemen dengan nilai kecil ada di bagian kiri poros dan elemen dengan nilai besar ada di bagian kanan poros. Berbagai varian dari quicksort pada intinya berupaya untuk mengembangkan teknikteknik pembuatan partisi yang efektif untuk berbagai macam masukan. Hal ini merupakan bahan yang terus dipelajari hingga kini. Ditambah pula dengan perbaikan dari segi pemrograman sehingga lebih efisien (seperti mengurangi operasi pembandingan, pertukaran maupun perulangan). Pada tahun 1998 M.D. McIlroy membuat tulisan berjudul A Killer Adversary for Quicksort yang menguraikan cara untuk membuat susunan data tertentu (dalam array) hingga operasi pengurutan menggunakan quicksort mendekati kuadratik O(n 2 ). Cara ini berlaku untuk setiap varian dari quicksort dengan syarat tertentu. Dikenal juga dengan istilah antiqsort. Makalah ini akan membahas beberapa varian quicksort yang tersedia luas dan mengujinya terhadap berbagai susunan data tertentu, termasuk juga antiqsort, untuk memperlihatkan kompleksitas dari quicksort yang sesungguhnya. 3. Algoritma Quicksort 3.1. Divide and Conquer Divide and conquer adalah metode pemecahan masalah yang bekerja dengan membagi (divide) masalah menjadi beberapa sub-masalah yang sama atau berhubungan, hingga masalah tersebut menjadi sederhana untuk dipecahkan (conquer) secara langsung. Pemecahan dari tiap-tiap sub-masalah kemudian digabungkan untuk memberikan solusi terhadap masalah semula [6]. 2

Metode divide and conquer menawarkan penyederhanaan masalah dengan pendekatan tiga langkah sederhana: pembagian masalah menjadi sekecil mungkin, penyelesaian masalah-masalah yang telah dikecilkan, kemudian digabungkan kembali untuk mendapat solusi optimal secara keseluruhan. Khusus untuk quicksort, proses penggabungan (combine) tidak perlu dilakukan, karena sudah terjadi secara alami. Dalam penerapannya metode ini dilakukan secara rekursif, yaitu memanggil dirinya sendiri. Cara pemanggilan ini memanfaatkan mekanisme stack dalam menyimpan data yang sedang diproses. Namun bisa juga dengan versi non-rekursif yaitu dengan membuat struktur data tertentu yang meniru cara kerja stack. 3.2. Algoritma Prinsip dalam algoritma quicksort sebagai berikut (diuraikan pula oleh Sedegwick [4] ): 1. Bila elemen dalam array kurang dari jumlah tertentu (biasanya 2), proses selesai. 2. Ambil sebuah elemen yang berfungsi sebagai poros. 3. Pisahkan array dalam 2 bagian, sebelah kiri lebih kecil dari poros, sebelah kanan lebih besar dari poros. 4. Ulangi proses secara rekursif pada tiap-tiap bagian. Hal penting dari hal algoritma ini adalah: bagaimana memilih poros dengan tepat dan secara efisien mengatur tiap-tiap elemen sehingga didapat elemen kecil > poros > elemen besar dalam kondisi (mendekati) seimbang. Listing algoritma dalam bentuk program akan ditunjukkan dalam bab 5. > Poros Poros < Poros > Poros P < Poros... 3.3. Kompleksitas Kebutuhan waktu dari quicksort bergantung pada pembuatan partisi, seimbang atau tidak, yang bergantung juga pada elemen yang digunakan sebagai poros. Dalam menghitung kompleksitas ini, perlu dilihat pula perhitungan recurrence, karena terdapat fungsi rekursif untuk penyelesaian sub-masalah. Terdapat 3 jenis kompleksitas waktu dari quicksort [2] : 1. Kasus terburuk (worst case), yaitu terjadi bila terbentuk partisi dengan komposisi sub-masalah antara n 1 elemen dan 0 elemen. Dengan demikian pemanggilan fungsi secara rekursif dengan array berukuran 0 akan langsung kembali, T(0) = Θ(1), sehingga berlaku: T(n) = T(n 1) + cn = O(n 2 ). 2. Kasus terbaik (best case), yaitu terjadi bila terbentuk partisi dengan dengan komposisi seimbang, dengan ukuran masing-masing tidak lebih dari n/2. Sehingga didapat: T(n) = 2T(n/2) + cn = na + cn log n = O(n log n). 3. Kasus rata-rata (average case), yaitu terjadi dari perimbangan poros antara terbaik dan terburuk, yang dalam prakteknya lebih mendekati kasus terbaik ketimbang terburuk. Sehingga didapat: T avg (n) = O(n log n). 3

4. Program Pendukung Untuk membantu pengujian dibuatlah sebuah program khusus [7]. Baik program maupun penerapan algoritma quicksort menggunakan bahasa Object Pascal, khususnya menggunakan Borland Delphi. Bahasa Pascal mudah dimengerti dan cukup mewakili dalam penulisan algoritma. 4.1. Class TQuickSort Untuk menyeragamkan penulisan tiap-tiap algoritma, dibuat sebuah common class, yaitu TQuickSort. Class ini berisi fungsi-fungsi yang ada dalam tiap-tiap algoritma quicksort dan melakukan pencatatan statistik tiap kali dipanggil. Berikut isi rutin-rutin tersebut: o Compare (X, Y), yaitu membandingkan X dan Y dengan hasil negatif bila lebih kecil, 0 bila sama, dan positif bila lebih besar. o Exchange (X, Y), yaitu menukar variabel pada posisi X dan Y. o CheckStack, yaitu mengecek banyaknya pemanggilan diri sendiri (rekursif) yang dilakukan. Pengecekan ini dengan melihat posisi stack (ESP), apabila berbeda dari posisi sebelumnya maka kedalaman rekursif telah bertambah. o Sort, yaitu fungsi publik yang melakukan operasi pengurutan. Sebelumnya array masukan disalin ke buffer internal, memanggil fungsi quicksort, dan mengecek hasil apakah telah urut. Keluaran dari fungsi ini berupa string statistik hasil. o AntiSort, yaitu fungsi publik untuk mengisi array dengan susunan angka sesuai algoritma antiqsort [5]. Hasil array ini akan diurutkan kembali tahap berikutnya. Setiap implementasi algoritma quicksort diturunkan dari class TQuickSort, dengan mendefinisikan ulang (override) prosedur abstrak quicksort. Ketika dijalankan (fungsi Sort), setiap algoritma yang didaftarkan akan dipanggil dan hasilnya ditampilkan dalam TMemo. TQuickSort = class private FExchange, FCompare, FRecursive, FStackPtr: Integer; FSolid, FCandidate, FGas: Integer; FBuffer, FVal: array of Integer; procedure Exchange(X, Y: Integer); function Compare(X, Y: Integer): Integer; procedure CheckStack; protected procedure QuickSort(Awal, Akhir: Integer); virtual; abstract; public function Sort(var Buffer: array of Integer): string; procedure AntiSort(var Buffer: array of Integer); property ProcDebug: TProcDebug read FProcDebug write FProcDebug; TQSStandard = class(tquicksort) { contoh implementasi } protected procedure QuickSort(Awal, Akhir: Integer); override; 4

4.2. Tata Cara Pemanggilan Subrutin Cara kerja subrutin perlu diketahui, sehubungan terdapatnya fungsi yang rekursif. Bila tidak ditentukan secara jelas, di Delphi suatu subrutin menggunakan cara panggil (calling convention) melalui register dan stack. Seluruh parameter merupakan kelipatan 32 bit, sehingga parameter minimal berukuran Integer 32 bit. Untuk 3 parameter pertama menggunakan register EAX, ECX dan EDX, sedangkan sisanya melalui stack. Delphi juga melakukan optimasi pada variabel lokal, yaitu menggunakan register untuk 4 variabel 32 bit tertentu, yang disimpan pada register EDI, ESI, EBX dan EBP. Sebelumnya isi ketiga register ini disimpan dalam stack untuk nantinya diambil kembali. Telah tersimpan pula alamat kembali (EIP). Sehingga isi stack ketika procedure TQuickSort.QuickSort(L, R: Integer) siap untuk dimulai adalah: <== ESP [EBP][EDI][ESI][EBX][EIP] dengan register EAX berisi pointer class TQuickSort, ECX berisi R dan EDX berisi L. Berhubung L dan R isinya perlu dipertahankan, disiapkan ruang 8 byte untuk ini. Total ruang stack yang digunakan untuk tiap prosedur dipanggil adalah 28 byte. 4.3. Susunan Input Ada 6 jenis pengaturan array sebagai input: o Acak, yaitu array berisi angka-angka acak yang didapat dari fungsi Random dengan cakupan kontanta MaxInt (0 s/d 2147483647). Contoh: [942396755][2105178787][331691830][84570131][395984481]. o Terbatas, yaitu array berisi angka-angka yang berasal dari indeks naik dan di-andkan dengan 15 (indeks and 15). Contoh: [14][15][0][1][2]. o Tetap, yaitu array berisi hanya 1 angka (didapat dari fungsi Random). Contoh: [381086676][381086676][381086676][381086676][381086676]. o Urut Naik, yaitu array berisi angka-angka naik berturutan sesuai indeks array. Contoh: [0][1][2][3][4]. o Urut Turun, yaitu array berisi angka-angka turun berturutan sesuai indeks array terbalik. Contoh: [4][3][2][1][0]. o Anti QSort, yaitu hasil dari algoritma antiqsort, sehingga dihasilkan array dengan susunan tertentu yang diharapkan mendekati worst-case bila diurutkan. 5. Percobaan dan Analisa Menggunakan class TQuickSort, yang diturunkan dalam bermacam-macam algoritma, dilakukan pengujian unjuk kerja. Hal-hal yang dipantau adalah: o Pembandingan, yaitu berapa banyak terjadi pembandingan antara 2 elemen. Setiap operasi pembandingan, baik dalam mencari elemen ataupun poros, akan dicatat. o Penukaran, yaitu berapa banyak terjadi pertukaran antara 2 elemen. o Rekursif, yaitu berapa dalam terjadi pemanggilan stack (dalam proses rekursif). o Waktu, yaitu berapa lama (dalam milidetik) suatu algoritma berjalan. Waktu yang dibutuhkan suatu algoritma tidak selalu berbanding lurus dengan operasi pembandingan, pertukaran, maupun rekursif. 5

Akibat pengembangan quicksort sudah sedemikian rupa, sehingga asal-usul dan bentuk algoritma tidak diketahui asalnya. Dalam hal ini hanya diambil beberapa contoh quicksort yang dianggap cukup mewakili sebagai percobaan. Dalam melakukan pengambilan waktu tidak dilakukan hasil rata-rata, melainkan pada 1x hasil saja. Hal ini disebabkan pengambilan contoh (sampling) array sudah cukup mewakili, yaitu 1.000.000 angka Integer (4 byte), kecuali 10.000 angka untuk algoritma (partisi) Lomuto dan antiqsort. Program uji coba dijalankan di sistem operasi Windows XP, prosesor AMD Sempron 1,8GHz, dan memori 512 MB. 5.1. Algoritma Lomuto Algoritma ini terdapat dalam buku teks Introduction to Algorithm [2], hasil karya N. Lomuto. Merupakan penerapan quicksort yang paling sederhana dan mudah dipahami. Dari hasil pengujian diketahui hasilnya yang paling buruk. procedure TQSLomuto.QuickSort(Awal, Akhir: Integer); function Partition(L, R: Integer): Integer; var J, P: Integer; begin P := FBuffer[R]; Result := L - 1; for J := L to R-1 do if Compare(FBuffer[J], P) <= 0 then begin Inc(Result); Exchange(Result, J); Inc(Result); Exchange(Result, R); var P: Integer; begin CheckStack; if (Awal < Akhir) then begin P := Partition(Awal, Akhir); QuickSort(Awal, P-1); QuickSort(P+1, Akhir); Pada algoritma ini pivot diambil pada angka paling kanan di array. Secara rekursif partisi dibentuk dengan menukarkan angka-angka yang kecil di sebelah kiri dari pivot dan angka-angka yang lebih besar di kanan, hingga tidak terdapat angka yang dapat dipartisi (Awal = Akhir). Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 10.000 163.856 97.640 34 0 O(n log n) Tetap 10.000 49.995.000 50.004.999 10.000 1.187 O(1/2 n 2 ) Terbatas 10.000 3.204.360 3.204.984 640 78 O(n log n) 6

Urut Naik 10.000 49.995.000 50.004.999 10.000 1.171 O(n 2 ) Urut Turun 10.000 49.995.000 25.004.999 10.000 875 O(n 2 ) Anti Sort 10.000 49.985.002 10.000 9.999 531 O(n 2 ) Terlihat hanya pada susunan array yang acak kondisi rata-rata O(n log n) tercapai, sedangkan pada susunan lainnya masuk pada kasus terburuk. Pada susunan acak terbatas meskipun total pengecekan dan penukaran cukup jauh dari O(n log n) tetapi karena masih jauh dari ambang O(n 2 ) ini tetap dianggap O(n log n). Tingkat rekursivitas menunjukkan pula bahwa pada kasus terburuk kedalamannya sebanding dengan input, sehingga waktu pengulangan (recurrence): T(n) = T(n-1) + Θ(n). 5.2. Algoritma Standar Algoritma ini terdapat dalam buku versi PDF The Tomes of Delphi, Algorithm and Data Structures [1]. Pengembangan yang dilakukan algoritma ini adalah : o Menyatukan antara rutin partisi dan pengulangan, sehingga menghemat stack. o Mengambil posisi pivot di tengah array, yaitu (Awal + Akhir) div 2. o Menghemat proses rekursif dengan hanya melakukannya pada partisi sebelah kiri. Untuk partisi sebelah kanan cukup dengan menaikkan nilai Awal dan kembali ke awal loop. procedure TQSStandard.QuickSort(Awal, Akhir: Integer); var LT, RT, Pivot: Integer; begin CheckStack; while (Awal < Akhir) do begin Pivot := FBuffer[(Awal + Akhir) div 2]; LT := Awal - 1; RT := Akhir + 1; repeat repeat Dec(RT); until Compare(FBuffer[RT], Pivot) <= 0; repeat Inc(LT); until Compare(FBuffer[LT], Pivot) >= 0; if (LT < RT) then Exchange(LT, RT); until LT >= RT; if (Awal < RT) then QuickSort(Awal, RT); Awal := RT + 1; Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 1.000.000 27.676.697 5.741.027 29 360 O(n log n) Tetap 1.000.000 21.769.982 9.884.992 20 312 O(n log n) Terbatas 1.000.000 23.291.850 9.715.427 23 312 O(n log n) Urut Naik 1.000.000 20.951.423 0 20 172 O(n log n) Urut Turun 1.000.000 20.951.424 500.000 20 187 O(n log n) Anti Sort 10.000 50.024.997 9.999 1 360 O(1/2 n 2 ) Kecuali antiqsort, keseluruhan proses masih dalam ambang kompleksitas O(n log n), yaitu 19.931.568. Pada array dengan susunan tetap, terbatas, urut naik dan urut turun, waktu yang dibutuhkan relatif sama, bahkan tidak terjadi pertukaran isi array untuk urut naik. Khusus antiqsort, lama proses adalah ½ dari kuadratik, sehingga banyak array 7

dikurangi. Dari sisi waktu, di luar antiqsort, waktu terlama adalah untuk susunan acak. Ini sebanding dengan operasi perbandingan yang terbanyak dibanding lainnya. Algoritma standar ini cukup efisien dalam melakukan proses rekursif. Dengan jumlah elemen pada array sebanyak 1.000.000 hanya terjadi kedalaman rata-rata berkisar 30-an, yang tertinggi didapat pada array dengan susunan acak. Bila tiap pemanggilan subrutin membutuhkan 28 byte, maka total hanya 30 * 28 = 840 byte. 5.3. Algoritma Poros Acak Pemilihan poros yang baik menjadi kunci dalam efisiensi dalam algoritma quicksort. Pengembangan lebih lanjut dari versi standar adalah dengan mengambil elemen poros secara acak (dengan fungsi Random) antara awal dan akhir dan menukarnya dengan elemen di tengah array. procedure TQSStandardRandom.QuickSort(Awal, Akhir: Integer);... while (Awal < Akhir) do begin RT := Awal + Random(Akhir - Awal + 1); { RT = posisi acak } LT := (Awal + Akhir) div 2; { LT = posisi tengah } Exchange(RT, LT); { tukarkan tengah dan acak }... Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 1.000.000 28.872.089 5.695.245 34 391 O(n log n) Tetap 1.000.000 21.769.982 10.884.991 20 328 O(n log n) Terbatas 1.000.000 22.615.269 9.757.808 23 329 O(n log n) Urut Naik 1.000.000 28.395.563 1.704.095 33 265 O(n log n) Urut Turun 1.000.000 20.951.424 500.000 20 172 O(n log n) Anti Sort 10.000 193.642 41.438 21 0 O(n log n) Dari hasil uji coba tidak terlihat adanya peningkatan efisiensi dibanding versi standar. Kecenderungan yang terjadi kedalaman rekursif justru meningkat, terutama untuk array dengan susunan urut naik dan urut turun. Pada kondisi data sudah terurut, karena penukaran poros dengan elemen secara acak, mengakibatkan terjadi operasi pengurutan ulang yang tidak perlu. Dengan melihat tambahan biaya untuk fungsi Random dan penukaran tersebut maka teknik poros acak ini kurang bermanfaat. Namun hal menarik dari versi ini adalah tidak terpengaruh dengan susunan array hasil antiqsort, yaitu kompleksitasnya tetap minimal, atau sebanding dengan susunan acak. Berhubung rekayasa dari antiqsort relatif jarang terjadi, secara keseluruhan versi poros acak ini cenderung tidak efisien. 5.4. Algoritma Poros Tengah dari Tiga (Median of Three) Cara lain untuk mengambil elemen poros adalah dengan melakukan penyusunan awal, tengah dan akhir dari array pada setiap proses partisi menjadi terurut. Berikut langkahlangkahnya: 1. 333 222... 111 Banding dan tukarkan awal dan tengah 2. 222... 333 111 Banding dan tukarkan tengah dan akhir 3. 222 111... 333 Banding dan tukarkan awal dan tengah 8

4. 111... 222... 333 Posisi terurut awal, tengah, dan akhir procedure TQSStandardMedianOfThree.QuickSort(Awal, Akhir: Integer); var LT, RT, Pivot: Integer; begin while (Awal < Akhir) do begin... RT := (Awal + Akhir) div 2; { RT = tengah } if (Compare(FBuffer[Awal], FBuffer[RT]) > 0) then Exchange(Awal, RT); { awal dan tengah } if (Compare(FBuffer[RT], FBuffer[Akhir]) > 0) then Exchange(RT, Akhir); { tengah dan akhir } if (Compare(FBuffer[Awal], FBuffer[Tengah]) > 0) then Exchange(Awal, Tengah); { awal dan tengah }... Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 1.000.000 27.331.126 5.014.477 27 360 O(n log n) Tetap 1.000.000 24.769.979 9.884.992 20 328 O(n log n) Terbatas 1.000.000 26.095.024 8.716.097 23 344 O(n log n) Urut Naik 1.000.000 23.951.420 0 20 187 O(n log n) Urut Turun 1.000.000 23.951.421 500.002 20 203 O(n log n) Anti Sort 10.000 25.059.992 4.998 2 219 O(1/4 n 2 ) Hasil dari pemilihan poros melalui median of three ini tidak membawa banyak pengaruh. Hanya terlihat kedalaman rekursif cenderung minimal, dibanding versi standar maupun poros random, dengan tambahan biaya untuk operasi pembandingan dan penukaran. Namun hal yang lebih baik adalah dalam menghadapi susunan antiqsort, yaitu hanya ¼ dari kuadratik. 5.5. Algoritma Poros Dinamis Berkembang pula cara untuk menentukan poros secara dinamis, yaitu: o Bila array di bagian kiri kosong (Kiri = Poros), maka geser Poros ke Kanan. o Bila array di bagian kanan kosong (Kanan = Poros), maka geser Poros ke Kiri. Dengan bergerak lebih dinamis, diharapkan distribusi elemen sebagai poros lebih bervariasi, dan mengurangi terjadinya kasus terburuk. procedure TQSStringListDelphi.QuickSort(Awal, Akhir: Integer); var LT, RT, Pv: Integer; begin CheckStack; while Awal < Akhir do begin LT := Awal; RT := Akhir; Pv := (Awal + Akhir) shr 1; while LT <= RT do begin while Compare(FBuffer[LT], FBuffer[Pv]) < 0 do Inc(LT); while Compare(FBuffer[RT], FBuffer[Pv]) > 0 do Dec(RT); if LT > RT then Break; if (LT <> RT) then Exchange(LT, RT); 9

if P v = LT then Pv := RT else if Pv = RT then Pv := LT; Inc(LT); Dec(RT); if Awal < RT then QuickSort(Awal, RT); Awal := LT; Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 1.000.000 27.218.424 4.623.697 31 391 O(n log n) Tetap 1.000.000 19.142.656 9.095.616 19 297 O(n log n) Terbatas 1.000.000 20.995.476 8.295.499 22 313 O(n log n) Urut Naik 1.000.000 19.000.019 0 19 157 O(n log n) Urut Turun 1.000.000 19.000.036 500.000 19 172 O(n log n) Anti Sort 10.000 25.029.991 5.001 2 203 O(1/4 n 2 ) Terlihat secara umum terjadi penurunan banyaknya pembandingan dan penukaran dibanding versi standar, acak, maupun tengah-dari-tiga. Meski begitu, untuk kondisi array susunan acak, waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Ini akibat nilai poros yang direferensikan langsung, Compare(FBuffer[RT], FBuffer[Pv]), dibanding versi standar, Compare(FBuffer[RT], Pivot). Versi ini juga bermasalah dalam hal antiqsort, sebanding dengan tengah-dari-tiga, yaitu ¼ kuadratik. 5.6. Algoritma Rekursif Minimal Pengembangan akhir dari versi standar adalah mengurangi banyaknya fungsi rekursif yang dilakukan. Bila sebelumnya fungsi rekursif selalu dikerjakan untuk bagian kiri (bila Awal < Kanan), hal ini bisa dioptimalkan untuk bekerja pula pada bagian kanan, dengan tujuan mengolah array yang lebih besar. Contoh prosedur berikut disertakan banyak komentar agar lebih jelas. procedure TQSMinRekursifDelphi.QuickSort(Awal, Akhir: Integer); var LT, RT, Pv: Integer; begin CheckStack; { selagi awal < akhir } while Awal < Akhir do begin LT := Awal; RT := Akhir; Pv := (LT + RT) div 2; while LT < RT do begin { cari angka di kiri lebih kecil dari pivot } while Compare(FBuffer[LT], FBuffer[Pv]) < 0 do Inc(LT); { cari angka di kanan lebih besar dari pivot } while Compare(FBuffer[RT], FBuffer[Pv]) > 0 do Dec(RT); { bila LT > RT maka berhenti } if LT > RT then Break; { tukarkan bila posisi berbeda } if (LT <> RT) then Exchange(LT, RT); { bila pivot tepat di kiri, ganti pivot ke kanan } if Pv = LT then Pv := RT { jika tidak, bila pivot tepat di kanan, ganti pivot ke kiri } else if Pv = RT then Pv := LT; { naikkan kiri dan kanan } 10

Inc(LT); Dec(RT); { bila awal.. kanan > kiri.. akhir } if RT-Awal > Akhir-LT then begin { bila ada kiri.. akhir, ulangi } if LT < Akhir then QuickSort(LT, Akhir); { akhir pindah ke kanan } Akhir := RT; end else begin { bila ada awal.. kanan, ulangi } if Awal < RT then QuickSort(Awal, RT); { awal pindah ke kiri } Awal := LT; Susunan Banyak Pembandingan Penukaran Rekursif Waktu Kompleksitas Acak 1.000.000 27.483.556 4.648.282 14 375 O(n log n) Tetap 1.000.000 20.191.104 10.095.552 20 328 O(n log n) Terbatas 1.000.000 22.460.455 9.279.990 18 360 O(n log n) Urut Naik 1.000.000 19.000.019 0 19 156 O(n log n) Urut Turun 1.000.000 19.000.036 500.000 19 172 O(n log n) Anti Sort 10.000 25.029.989 5.001 2 204 O(1/4 n 2 ) Perubahan cukup besar terjadi pada turunnya kedalaman rekursif untuk arary susunan acak, sedangkan susunan lainnya tidak banyak berbeda dibanding versi standar, poros acak, tengah-dari-tiga, dan dinamis. Meskipun secara waktu tidak banyak mengalami perubahan. 5.7. Algoritma Lain Beberapa pengembangan lain dari algoritma quicksort seperti berikut: o Tidak menggunakan pemanggilan rekursif, yaitu dengan menyusun struktur data tertentu dan meniru cara kerja stack. Meskipun cara ini diklaim lebih cepat, tetapi operasi stack dalam arsitektur komputer dan sistem operasi sudah dioptimalkan sedemikian rupa sehingga berjalan sangat efisien. o Menggabungkan quicksort dengan algoritma pengurutan yang lain, seperti insertion-sort yang efisien untuk array yang kecil. Ditentukan titik potong tertentu, misalnya 16 elemen (bila normalnya 2), sehingga quicksort berhenti mempartisi, dan hasil akhir diserahkan kepada insertion-sort untuk mengurutkan potongan-potongan array. Algoritma di atas tidak dibahas dalam makalah ini. 6. Kesimpulan Hasil uji coba untuk keseluruhan algoritma, dengan besar array 10.000.000 angka, susunan acak, dihitung pada total pembandingan ditambah + penukaran (CmpXchg), pemanggilan rekursif, dan waktu (dalam satuan milidetik), adalah sebagai berikut: Kateg. Lomuto Standar Poros Acak P Med-of-3 Pr Dinamis Min Rek CmpXchg 431.654.749 384.110.834 393.574.481 370.556.389 373.445.492 375.778.251 11

Rekursif 62 35 35 29 34 15 Waktu 6.125 4.218 4.390 4.079 4.516 4.454 Hasil Pengurutan 10 Juta Angka 8.000 6.000 4.000 2.000 0 CmpXchg / 100.000 Rekursif * 100 Waktu Lomuto Standar Poros Acak P Med-of-3 Pr Dinamis Min Rek Dari berbagai uji coba didapatkan kesimpulan sebagai berikut: o Algoritma quicksort, di luar partisi Lomuto yang sebatas contoh di buku teks, pada umumnya mencukupi untuk kebutuhan sorting. o Kompleksitas dengan kasus terburuk, yaitu O(n 2 ), sejauh ini sulit untuk dibuktikan. Algoritma standar perlu dihindari, berdasarkan susunan array dari algoritma antiqsort, untuk memenuhi kasus terburuk O(1/4 n 2 ). o Meskipun menggunakan pemanggilan rekursif, kebutuhan stack cukup minimal, yaitu dengan kedalaman 35 untuk 10.000.000 angka. 7. Referensi [1] Julian Backnall. The Tomes of Delphi Algorithms and Data Structures. 5:161-175, 2001. [2] Thomas H. Cormen, Charles E. Leiserson, Ronald L. Rivest, and Clifford Stein. Introduction to Algorithms, Second Edition. MIT Press and McGraw-Hill, 2001. ISBN 0-262-03293-7. Chapter 7: Quicksort, pp.145 164. [3] Bentley and McIlroy, Engineering a sort function, Software Practice and Experience, Jan. 1993. [4] R. Sedgewick. Implementing quicksort programs. Comm. ACM, 21:847 856, 1978. [5] M.D. McIlroy, A Killer Adversary for Quicksort. Software Practice and Experience, Vol. 29(0), 1 4 (0 1999). [6] Wikipedia.org, http://en.wikipedia.org/wiki/quicksort, Tanggal: 25-11-2007. [7] Pengujian Sorting Dengan QuickSort, Program Delphi. Tanggal: 28-11-2007. http://wawan.web.id/delphi/sort_mhk.zip. 12