Pembuatan Pembibitan Tanaman

dokumen-dokumen yang mirip
Dampak Pendampingan Terhadap Penghidupan Petani Agroforestri di Sulawesi Tenggara

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

Dampak Pendampingan Terhadap Penghidupan Petani Agroforestri di Sulawesi Selatan

Oleh : Iskandar Z. Siregar

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Teknik Membangun Persemaian Pohon di Desa

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

Penanganan bibit Acacia mangium (mangium) dengan perbanyakan generatif (biji)

Cara Menanam Cabe di Polybag

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB

TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

III. MATERI DAN METODE

BUDIDAYA SUKUN 1. Benih

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat

III. BAHAN DAN METODE

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret B. Penyiapan Bahan Bio-slurry

Budidaya Tanaman Obat. Elvira Syamsir

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

Kegiatan Pembelajaran 2. Penyiapan Tempat Pesemaian. A. Deskripsi

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

Sumber : Setiadi (2005) Oleh : Ulfah J. Siregar. ITTO Training Proceedings, Muara Bulian 4 th -6 th May

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

LEMBAR INFORMASI. Pembangunan Tempat Tumbuh Stek Tanaman Tanpa Pengabutan (Non-mist Propagation) 1. Latar Belakang

BAB III BAHAN DAN METODE. Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar

Perkembangbiakan Tanaman

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek. penelitian serta adanya kontrol penelitian.

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

Menanam Sayuran Dengan Teknik Vertikultur

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9

BUDIDAYA DAN PEMELIHARAAN TANAMAN STROBERI

PENANAMAN PADI A.DEFINISI

BAB III TATA PELAKSANAAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas akhir Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan pada lahan yang bertempat pada Di Dusun

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

III. MATERI DAN METODE

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

BUDI DAYA PADI SRI - ORGANIK

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

PEDOMAN PENGUNDUHAN BENIH PADA PANEN RAYA DIPTEROKARPA 2010

III. MATERI DAN METODE. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei

TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67%

III. METODOLOGI. Penelitian ini dilaksanakan di jalan Depag, Komplek Perumahan. Wengga 1 Blok B Nomor 54 Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat-

III.TATA CARA PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Maret 2017 di Lahan

Teknik Penyediaan Bibit Kelapa

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta.

PEDOMAN Budi Daya Durian dan Rambutan di Kebun Campur

Bibit yang berkualitas merupakan salah satu faktor utama yang mampu menunjang keberhasilan

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi

PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2. PENGHISAP BUAH HELOPELTIS

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan

MATERI DAN METODE. = 0 minggu = 1 minggu = 2 minggu = 3 minggu = 4 minggu = 5 minggu = 6 minggu = 7 minggu = 8 minggu P 1 P 2 P 3 P 4 P 5 P 6 P 7 P 8

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan di GreenHouse dan di Laboratoriums Penelitian

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung

Pedoman Teknis Teknologi Tanaman Rempah dan Obat

Teknik Pembenihan Acacia Spp. (Akasia) Bebas Penyakit

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur,

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

PENGENALAN DAN PENANGANAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN TOMAT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan

Bercocok Tanam Tomat dalam Pot/Polybag Oleh: Muhamad Ichsanudin (Produk Spesialis Terong dan Tomat PT EWINDO)

III. BAHAN DAN METODE. Rajabasa dari bulan Januari 2011 sampai dengan Juni Permata yang diproduksi PT East West Seed Indonesia, gula aren, dedak

KATA PENGANTAR. Bumi Agung, September 2015 Penulis

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah

PENCAMPURAN MEDIA DENGAN INSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN HAMA Xyleborus morstatii Hag. PADA BIBIT ULIN ( Eusideroxylon zwageri T et.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

Created By Pesan bibit cabe kopay. Hub SEKILAS TENTANG CARA BERTANAM CABE KOPAY

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )

Oleh Administrator Kamis, 07 November :05 - Terakhir Diupdate Kamis, 07 November :09

TEKNIK PENGADAAN BIBIT ULIN DENGAN PEMOTONGAN BIJI BERULANG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN KEDIKLATAN

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BUDIDAYA CENGKEH SECARA MUDAH OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung,

TATA CARA PENELITIAN. A. Rencana Waktu dan Tempat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni - Juli 2017 bertempat di

PERBANYAKAN BIBIT POHON UNTUK REVEGETASI LAHAN PASCA TAMBANG

III. BAHAN DAN METODE

Transkripsi:

LEMBAR INFORMASI No. 1 - Agustus 2012 Pembuatan Pembibitan Tanaman Gambar 1. Pembibitan tanaman Pembibitan tanaman adalah tahapan untuk menyiapkan bahan tanam berupa bibit tanaman baru yang berasal dari suatu pohon induk, di suatu tempat tertentu. Untuk membuat pembibitan tanaman, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah: Menyiapkan lahan untuk lokasi pembibitan Menyiapkan media pembibitan Menyiapkan pohon induk atau benih sebagai sumber benih Menyiapkan Lokasi Pembibitan Lokasi pembibitan adalah suatu lahan untuk merawat tanaman baru. Lokasi pembibitan mempunyai peran penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan pembibitan, sehingga harus memenuhi syarat-syarat berikut: Datar, tidak berbatu Tidak tergenang air Tidak berada pada lokasi rentan banjir Dekat dengan sumber air Mudah diakses Beberapa hal yang harus dilakukan untuk menyiapkan lokasi pembibitan: Membersihkan dan meratakan lokasi pembibitan Membuat pagar Mengatur letak bagian-bagian bedeng semai, bedeng tempat media polybag, dan bedeng sapih Membuat bedengan sebagai media menabur benih Menyiapkan media dalam polybag untuk benih semai langsung Membuat naungan untuk tempat bibit sapih

2 Menyiapkan Media Pembibitan Media pembibitan adalah tempat di mana benih disemai atau ditanam. Biasanya, media pembibitan dibuat dengan mencampurkan minimal 3 bahan dengan perbandingan 1:1:1. Bahan-bahan yang dicampurkan adalah: 1. Tanah mineral yang gembur dan tidak berbatu 2. Pasir halus, sekam bakar, atau gambut Pohon induk harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Berkualitas sangat baik (memiliki bentuk fisik sempurna dan tahan terhadap penyakit) Telah cukup umur Tahan terhadap iklim yang ekstrim Berbuah sesuai dengan waktu Produksi buah banyak dan bermutu baik 3. Pupuk kandang atau kompos (Disarankan untuk menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing). Setelah siap, media pembibitan kemudian ditaruh di dalam wadah. Wadah bisa berupa kantong plastik bekas, bungkus mie instan, botol air mineral, bambu/anyaman bambu, kaleng cat, pipa paralon bekas, dan polybag. Polybag adalah kantong plastik daur ulang buatan pabrik yang memiliki lubang-lubang di beberapa bagiannya. Umumnya polybag berwarna hitam dan mempunyai bermacam-macam ukuran. Gambar 3. Salah satu cara memilih pohon induk dengan melihat yang fisiknya sempurna BUNGKUS PLASTIK MIE INSTANT KALENG CAT Sedangkan benih adalah biji terseleksi yang berasal dari pohon induk terpilih dan akan disemai untuk dijadikan tanaman baru. Tahap-tahap yang dilakukan dalam menyiapkan benih adalah: BOTOL PLASTIK AQUA Penentuan kebutuhan benih Pengumpulan dan penyeleksian benih Perlakuan sebelum disemai Pengolahan pembibitan KANTONG PLASTIK Gambar 2. Contoh-contoh wadah pembibitan PIPA PARALON Menyiapkan Pohon Induk atau Benih Sebagai Sumber Benih Pohon induk adalah tanaman yang dipilih untuk dijadikan sumber bahan perbanyakan tanaman. Sumber perbanyakan bisa dari bagian bunganya, pucuk, daun, kulit tanaman, buah, biji, akar, maupun jaringan tanamannya. Hasil dari perbanyakan pohon induk nantinya akan menjadi tanaman batang bawah dan tanaman batang atas. Tahap 1: Penentuan kebutuhan benih Untuk cara menghitung kebutuhan benih, lihat di halaman terakhir. Tahap 2: Pengumpulan dan penyeleksian benih Benih yang digunakan untuk persemaian adalah benih yang mempunyai sifat dan kualitas baik. Bila benih dikumpulkan sendiri, maka kumpulkan paling sedikit dari 30 pohon untuk menjaga keragaman genetik. Ambil benih dengan cara merontokkan langsung dari pohon, atau kumpulkan biji yang sudah jatuh. Pilih yang masih segar dan berukuran sama. Untuk benih ortodoks (benih yang keras dan kedap air, contohnya lamtoro, sengon, gmelina) biasanya

3 benih diperoleh dengan cara merontokkan atau mengambil yang sudah jatuh. Sedangkan benih untuk tanaman buah umumnya mengambil sisa dari buah yang sudah dimakan. Bila benih diperoleh dengan membeli, pilihlah benih bersertifikat, atau yang asal usulnya jelas. 1 Tahap 3: Perlakuan sebelum disemai Jika benih akan disimpan, bersihkan dan keringkan selama 1-3 hari. Sedangkan jika langsung ditanam, benih tidak perlu dikeringkan. Umumnya, pengeringan dilakukan untuk benih ortodoks. Sementara benih tanaman buah dapat langsung ditanam setelah dibersihkan. Untuk menghindari jamur, rendam benih dengan larutan fungisida Dithane M-45 80 WP selama 10 menit, lalu tiriskan. Hati-hati dalam menggunakannya karena Dithane M-45 80 WP adalah zat berbahaya. Memungut dari yang sudah jatuh 2 Mengambil langsung dari pohon Gambar 6. Proses mengeringkan benih. Biasanya dilakukan untuk benih ortodoks Tahap 4: Pengelolaan pembibitan Pengelolaan pembibitan mencakup penaburan benih, penyapihan, dan perawatan bibit. 3 Mengambil dengan menggunakan galah Gambar 4. Cara-cara pengambilan benih yang umumnya dilakukan untuk benih ortodoks (Diadaptasi dari IFSP dan Chamberlain, 2000) Gambar 5. Membersihkan benih yang telah dikumpulkan Penaburan benih Tabur benih pada polybag, bak tabur, atau wadah berisi media yang telah disiapkan. Media/tanah tempat benih ditabur harus diolah dengan baik dan bebas dari gulma. Tabur benih dalam lubang yang kedalamannya satu atau dua kali lebar benih. Tutup kembali lubang dengan media. Perkecambahan pada kebanyakan jenis tanaman akan terjadi dalam kurun waktu 1 3 minggu. Rawat kecambah yang baru dengan hati-hati karena mereka sangat rentan terhadap kekurangan air, serangga, dan kompetisi dengan gulma. Penyapihan dari media/polybag Penyapihan adalah memindahkan bibit dari tempat persemaian lama ke persemaian baru yang lebih besar, misalnya dari bedeng semai ke dalam polybag atau dari polybag kecil ke polybag baru yang lebih besar. Langkah-langkah untuk melakukan penyapihan: Pilih semai yang baik dan singkirkan semai yang jelek atau terserang penyakit.

4 Sehari sebelum penyapihan, siramlah polybag berisi media, dan jenuhi dengan air untuk mempermudah penyapihan. Lakukan penyapihan pada tempat yang ternaungi. Siapkan lubang tanam pada polybag dengan besar dan kedalaman yang disesuaikan dengan besar bibit yang disapih. (Gambar A) Angkat semai pada kotiledon atau daun bagian bawah. Jangan mengangkat pada batang. (Gambar B) Masukkan semai ke dalam lubang, lalu tarik ke atas agar akar tidak tertekuk. (Gambar C) Tutup kembali lubang tanah lalu padatkan. (Gambar D) Siram kembali semai sehingga tanah di dalam polybag menyatu. a. Mengatur penempatan wadah Tempatkan wadah pada posisi tegak dan pinggir wadah saling bersinggungan. Wadah yang miring akan mengganggu pertumbuhan akar dan batang. Usahakan membuat pagar di sekeliling barisan agar wadah tetap tegak. Atur jarak wadah sehingga tidak berdesakan. Agar mempermudah penyiraman, susunlah wadah dalam 3 5 barisan dan buat jalur jalan selebar 50 cm. A B C D Gambar 7. Langkah-langkah penyapihan Perawatan bibit Setelah disapih, maka bibit perlu mendapatkan perawatan agar kondisinya tetap terjaga. Perawatan bibit dilakukan dengan cara: a. Mengatur penempatan wadah b. Memberikan naungan c. Menyiram teratur d. Mengendalikan gulma e. Melindungi dari hama dan penyakit f. Menguatkan bibit g. Melakukan penggolongan h. Melakukan pengangkutan bibit Gambar 8. Pengaturan penempatan wadah b. Memberikan naungan Selama 1 2 minggu setelah penyapihan, berikan naungan lebih dari 30%. Ketika bibit sapih berumur 1 bulan, naungan dapat dikurangi menjadi 20 30%. Setelah bibit sapih berumur 1 bulan, naungan dapat dihilangkan. Naungan sebaiknya dibuat menghadap timur agar mendapat sinar matahari yang cukup.

5 e. Melindungi dari hama penyakit Amati dan pantau kondisi bibit secara teratur. Sedapat mungkin penanggulangan hama dan penyakit dilakukan secara alami. Beri perlakuan pada bibit yang terserang hama dan penyakit, misalnya dengan mencabutnya atau memisahkannya dari bedeng utama untuk diobati. Gunakan insektisida untuk mengatasi hama berupa ulat, jangkrik, belalang, kutu, kumbang atau penggerek. Sedangkan fungisida berguna untuk mengatasi berbagai macam jamur. f. Menguatkan bibit Gambar 9. Contoh naungan pembibitan c. Menyiram dengan teratur Periksa kelembapan tanah untuk menentukan apakah penyiraman diperlukan atau tidak. Sebaiknya penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Siram media semai, bukan tanamannya. Siram media semai sampai cukup lembab. Periksa untuk memastikan air meresap sampai dasar wadah. Bila ternyata terlalu basah, kurangi naungan. 1 2 bulan sebelum dipindahkan ke lapangan, geser posisi bibit untuk memutuskan akar yang keluar dari wadah dan masuk ke dalam tanah. Kurangi naungan secara bertahap sampai bibit menerima penyinaran penuh. Kurangi frekuensi penyiraman untuk melatih ketahanan bibit (hardening off), sehingga bibit beradaptasi terhadap hujan, panas, kering, dan sinar matahari langsung. g. Melakukan penggolongan Buang bibit yang terlalu kecil, lemah dan tidak sehat, atau memiliki bentuk batang tidak baik. h. Melakukan pengangkutan bibit Bibit yang rata-rata tingginya 50 cm sudah bisa dipindahkan ke lapangan. Lakukan pengangkutan ke lapangan dengan hatihati. Beri naungan pada saat pengangkutan untuk mencegah kekeringan. Gambar 10. Penyiraman tanaman d. Mengendalikan gulma Pencabutan gulma diperlukan pada tahap awal dan setelah bibit dipindahkan. Cabut gulma ketika masih kecil. Lakukan pencabutan setelah penyiraman.

6 Penentuan kebutuhan benih Menentukan kebutuhan benih dilakukan dengan menggunakan rumus tertentu. Perhitungan ini cukup rumit, sehingga jika menemui kesulitan, mintalah bantuan dari penyuluh atau ahli pertanian. Rumus penghitungan kebutuhan benih adalah sebagai berikut: Sitasi Roshetko JM, Purnomosidhi P, Tarigan J, Setiawan A, Prahmono A, Surgana M. 2012. Pembuatan Pembibitan Tanaman. Lembar Informasi AgFor No 1. Bogor, Indonesia. World Agroforestry Centre - ICRAF, SEA Regional Office. 6p. Penulis James M. Roshetko, Pratiknyo Purnomosidhi, Jusupta Tarigan, Anang Setiawan, Andi Prahmono, Mulus Surgana Desain dan tata letak Sadewa V = Jumlah benih yang dibutuhkan A = Jumlah bibit yang harus dihasilkan B = Viability bibit atau persentase harapan bibit yang akan berkecambah (biasanya ketika melakukan perhitungan, digunakan nilai dalam desimal. Contoh 80% = 0,8 ; 50% = 0,5) C = Persentase bibit yang akan bertahan hidup (biasanya ketika melakukan perhitungan, digunakan nilai dalam desimal. Contoh 80% = 0,8 ; 50% = 0,5) D = Jumlah benih/kg Penyunting Enggar Paramita Ilustrasi Komaruddin Informasi lebih lanjut Enggar Paramita, Communications Officer e.paramita@cgiar.org Kunjungi situs kami: http://www.worldagroforestry.org/agforsulawesi Contoh perhitungan: Jumlah bibit pohon yang harus dihasilkan adalah 400.000 batang. Tingkat viability-nya 50% (tingkat harapan bibit yang akan berkecambah), sedangkan persentase bibit yang bertahan hidup adalah 80%. Jumlah benih/kg adalah 40.000/kg. Berapakah jumlah benih yang dibutuhkan? V = 25 Maka jumlah benih yang dibutuhkan adalah 25 kg. Agroforestry and Forestry in Sulawesi (AgFor Sulawesi) adalah proyek lima tahun yang didanai oleh Department of Foreign Affairs, Trade and Development Canada (DFATD). Pelaksanaan proyek yang mencakup Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo ini dipimpin oleh World Agroforestry Centre. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor 16115 PO Box 161, Bogor 16001, Indonesia Tel: +62 251 8625415; fax: +62 251 8625416 email: icraf-indonesia@cgiar.org http://www.worldagroforestry.org/regions/southeast_asia Dicetak ulang Januari 2015