EVALUASI UU 25 TAHUN 2004

dokumen-dokumen yang mirip
PAPARAN PADA ACARA MUSRENBANG RPJMD PROVINSI BANTEN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Pemerintah Kota Bengkulu BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N I - 1

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang

OLEH : ENDAH MURNININGTYAS DEPUTI BIDANG SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP SURABAYA, 2 MARET 2011

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN (RKPK) ACEH SELATAN TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) adalah satu kesatuan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

Oleh: Staf Ahli Menteri PPN Bidang Hubungan Kelembagaan

UNDANG-UNDANG NO 25 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016

MANAJEMEN KEUANGAN BANDI. 11/26/2013 Bandi, 2013 MKN

BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pemerintah Kabupaten Wakatobi

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

RKPD Kabupaten OKU Selatan Tahun 2016 Halaman I. 1

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PEMERINTAH KOTA PARIAMAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH DALAM MENGHADAPI MEA 2015

Jakarta, 10 Maret 2011

BAB I PENDAHULUAN. Halaman 1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Utara Tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN RPJMD PROVINSI DKI JAKARTA PERIODE TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUKAMARA (REVISI)

PENYUSUNAN PEDOMAN NOMENKLATUR BAPPEDA BERDASARKAN PP 18/2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kota Jambi RPJMD KOTA JAMBI TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA TANGERANG SELATAN

BAB I PENDAHULUAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAEAH KOTA BINJAI TAHUN LATAR BELAKANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

SUMBER HUKUM UTAMA PERENCANAAN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN I - 1

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

A. LATAR BELAKANG PENGERTIAN DASAR

RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

TELAAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH: UPAYA MEMPERKUAT PERAN DPRD DALAM PEMBANGUNAN TEGUH KURNIAWAN, M.SC FISIP UI.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Strategi perencanaan pembangunan nasional by Firdawsyi nuzula

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2015

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 56 TAHUN 2015

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BUPATI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA BAB I PENDAHULUAN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN. tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Lampiran RKPD Kabupaten Ponorogo Tahun Bab I_ Halaman 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA.

SINKRONISASI DAN HARMONISASI PEMBANGUNAN NASIONAL DAN DAERAH

Pembangunan Nasional dan Daerah

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN I-1

BUPATI BANGLI, PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGLI NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. RKPD Kabupaten Ponorogo Tahun Bab I_ Halaman 1

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN NOMOR TANGGAL TENTANG

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL. Dr. Ir. Oswar Mungkasa, MURP Direktur Tata Ruang dan Pertanahan

Rencana Strategis Bidang Pemerintahan Desa

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU Nomor 25 Tahun 2004) Pedoman. Renja KL. Dija barkan RKP.

Oleh Ir. Timbul Pudjianto, MPM Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG

DESA MENATA KOTA DALAM SEBUAH KAWASAN STRATEGI PEMBANGUNAN ROKAN HULU.

1.1. Latar Belakang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mandailing Natal Tahun I - 1

Knowledge Management Forum April

Keselarasan antara RPJMD dengan RPJMN DISAMPAIKAN PADA MUSRENBANG RPJMD KABUPATEN KAMPAR PERIODE

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG

PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN, PENGANGGARAN, DAN EVALUASI PEMBANGUNAN. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur

Transkripsi:

EVALUASI UU 25 TAHUN 2004 Oleh: Dida H. Salya Staf Ahli Menteri PPN Bidang Hubungan Kelembagaan Semarang, 16 Mei 2013 1

1. PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Apakah masih membutuhkan? Jawabannya 1. Menurut UUD 1945 2. Pembagian Kewenangan 3. Perubahan Lingkungan Strategis *)Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia (UU No. 25/2004 pasal 1 angka 1 3

Menurut UUD 1945 Sistem perekonomian nasional berorientasi pada kemakmuran rakyat, memerlukan perencanaan yang integratif (dengan anggaran), fokus dan konsisten dalam pencapaian tujuan pembangunan Tinggi Pasal 33 Ayat 1 : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan Diperlukan perencanaan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan Penting bagi negara Rendah Pasal 33 Ayat 4: Perekonomian nasional diselenggarakan atas demokrasi ekonomi dan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, ber-wawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Fokus utama pemerintah, dibiayai oleh APBN; Untuk pencapaian hasil optimal, memerlukan sinergi perencanaan dan anggaran yang integratif Rendah Menguasai hajat hidup orang banyak Tinggi 4

VISI, MISI ABADI Pembukaan UUD 45 VISI Negara Indonesia Yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur MISI Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan R P J P N (Visi Misi Pembangunan, 2005-2025) RPJMN 2004-2009 RPJMN 2010-2014 RPJMN 2015-2019 RPJMN 2020-2024 RKP RKP 2006 RKP 2006 RKP 2006 RKP 2009 2009 RKP RKP 2006 RKP 2006 RKP 2006 RKP 2014 2014 RKP RKP 2006 RKP 2006 RKP 2006 RKP 2019 2019 RKP RKP 2006 RKP 2006 RKP 2006 RKP 2025 2024 5

KETERKAITAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Keterkaitan dengan Kab/Kota Keterkaitan dengan Pusat Keterkaitan dengan Provinsi Domain Pemerintah Pusat Domain Pemerintah Provinsi Domain Pemerintah Kab/Kota Keterkaitan dengan Provinsi Pembangunan Tingkat Pusat Keterkaitan dengan Kab/Kota Pembangunan Tingkat Provinsi Keterkaitan dengan Pusat Pembangunan Tingkat Kab/Kota

TANTANGAN: PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Lingkungan: Perubahan iklim Pemanasan global Daya dukung dan daya tampung Internal: Demokratisasi (Pemilu dan Pilkada) Amandemen UUD 1945, Peraturan perundangan Otonomi Daerah Eketernal: Globalisasi Regionalisasi, AFTA, NAFTA, APEC Tujuan Bernegara: Pembukaan UUD 1945 Sumberdaya: Kondisi geografis Keterbatasan SDA Diperlukan Perencanaan Pembangunan Nasional yang Terintegrasi Menentukan arah pembangunan Penetapan prioritas program Optimalisasi sumberdaya (UU No. 25 Tahun 2004; Pasal 1; Angka 1) 7

Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN Visi, Misi, Program Presiden Renstra- KL Pedoman Renja- KL Pedoman RKA-KL Rincian APBN Dijabarkan Pedoman Acuan RPJPN (UU No. 17/2007) Pedoman RPJMN Dijabarkan RKP Pedoman RAPBN APBN Acuan Diperhatikan DIISINERGIKAN MELALUI MUSRENBANG RPJPD Pedoman RPJMD Dijabarkan RKPD Pedoman RAPBD APBD Dijabarkan Pedoman Acuan Visi, Misi, Program Kepala Daerah Renstra- SKPD Pedoman Renja- SKPD Pedoman RKA- SKPD Rincian APBD UU SPPN UU KN Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan sinkronisasi antara kebijakan perencanaan dan kebijakan penganggaran. UU no. 25/2004 (SPPN) dan UU 17/2003 (Keuangan Negara) masih perlu penyempurnaan untuk mendukung keterpaduan perencanaan dan penganggaran.

2. TANTANGAN SINERGITAS: KETIDAKSINKRONAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN

DEVIASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN (1) Terjadi deviasi dalam perencanaan (RKP) dengan dokumen anggaran (RKA-KL). Dapat diidentifikasi 29,4 % indikator kinerja prioritas RKP 2012 tidak terpetakan dalam RKA K/L tahun 2012 NO. PRIORITAS DALAM RKP 2012 (BUKU I) JUMLAH TERPETAKAN JUMLAH JUMLAH JML. TIDAK INDIKATOR TIDAK % PROGRAM KEGIATAN LANGSUNG JUMLAH TERPETAKAN KINERJA LANGSUNG % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Prioritas Reformasi Birokrasi dan Tatakelola 17 52 144 55 32 87 60,4 57 39,6 2 Prioritas Pendidikan 7 22 71 26 37 63 88,7 8 11,3 3 Prioritas Kesehatan 9 25 66 18 17 35 53,0 31 47,0 4 Prioritas Penanggulangan Kemiskinan 28 60 153 91 27 118 77,1 35 22,9 5 Prioritas Ketahanan Pangan 27 80 322 227 22 249 77,3 73 22,7 6 Prioritas Infrastruktur 16 40 169 51 51 102 60,4 67 39,6 7 Prioritas Iklim Investasi dan Iklim Usaha 15 35 117 72 16 88 75,2 29 24,8 8 Prioritas Energi 13 27 80 41 16 57 71,3 23 28,8 9 Prioritas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana 12 43 134 84 22 106 79,1 28 20,9 10 Prioritas Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik 25 64 219 121 12 133 60,7 86 39,3 11 Prioritas Kebudayaan, Kreatifitas dan Inovasi Teknologi 7 19 41 24 2 26 63,4 15 36,6 12 Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian 23 34 84 45 13 58 69,0 26 31,0 13 Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat 12 17 53 19 13 32 60,4 21 39,6 Prioritas Lainnya Bidang Politik, Hukum dan 14 10 36 62 49 7 56 90,3 6 9,7 Keamanan TOTAL 221 554 1.715 923 287 1.210 70,6 505 29,4 Catatan: - Terpetakan langsung : terkait langsung antara indikator kegiatan yang ada di RKP dengan output kegiatan yang ada di RKA K/L, baik secara nomenklatur, maupun target/ volume kegiatan. - Tidak terpetakan Tidak Langsung: Indikator kinerja yang tidak terkait langsung secara nomenklatur, tetapi secara subtansi terkait dengan output kegiatan yang ada di dokumen RKA K/L - Tidak Terpetakan: Indikator kinerja yang ada di RKP tidak terkait sama sekali/ tidak dapat/sulit iterjemahkan dengan output kegiatan yang ada 10 dalam RKA K/L, baik nomenklatur maupun subtansi.

Persen DEVIASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN (2) Kenaikan Alokasi Belanja Barang di K/L yang cukup tinggi, menunjukkan menurunnya proporsi belanja untuk Keperluan Publik 25.0 20.0 15.0 10.0 15.0 9.1 8.1 17.9 16.6 12.5 12.7 10.7 10.8 16.3 8.1 10.5 20.3 12.8 12.1 21.2 19.9 19.8 17.4 15.8 14.0 14.1 13.3 11.5 5.0-2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 B. Pegawai B. Barang B. Modal Adanya kewenangan penggunaan anggaran yang besar kepada K/L (let The manager manage) menyebabkan porsi belanja untuk internal K/L (Belanja Pegawai dan Barang) lebih besar dibandingkan dengan porsi belanja untuk kepentingan Publik (Belanja Modal). 11

DEVIASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN (3) Ketidaksinkronan Dana Alokasi Khusus (DAK) Proprosi Alokasi DAK Infrastruktur Air Minum 2012 32.36% 67.64% Sumber: DJPK Kemenkeu, diolah 38.78% 61.22% Wilayah Barat Indonesia (Sumatera,Jawa,Bali,Kalimantan) Wilayah Timur Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku, Papua) Proporsi Alokasi DAK Infrastruktur Jalan 2012 Sumber: DJPK Kemenkeu, diolah Wilayah Barat Indonesia (Sumatera,Jawa,Bali,Kalimanta n) Wilayah Timur Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku, Papua) Di dalam buku II RKP 2012 disebutkan sasaran umum pembangunan infrastruktur yang berfokus pada Indonesia bagian timur; Namun, dalam pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) yang seharusnya menjadi pendukung pencapaian prioritas nasional, alokasi DAK untuk infrastruktur jalan dan air minum di wilayah timur Indonesia hanya sekitar 30 % 40%; Penentuan daerah penerima dan besar DAK per-daerah dilakukan pada siklus penganggaran, yakni saat dokumen perencanaan (RKP) telah ditetapkan. 12

3. SINERGI PUSAT DAERAH: PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

RELEVANSI PERENCANAAN DENGAN PENGEMBANGAN WILAYAH Amanat Konstitusi Pembukaan UUD 1945 Kesejahteraan seluruh rakyat dan kemajuan seluruh wilayah Pemerataan Konsepsi Wawasan Nusantara Kesatuan Wilayah Politik Kesadaran bernegara Kesatuan Wilayah Ekonomi Integrasi ekonomi nasional Kesatuan Wilayah Sosial Kesadaran berbangsa Kesatuan Wilayah Budaya Kesadaran berbudaya Kesatuan Wilayah Geografis Keterkaitan wilayah Kesatuan Wilayah Hankam Perlindungan dan pengamanan wilayah Potensi Wilayah Maritim dan Kepulauan Penghubung wilayah, bukan pemisah wilayah Penguatan Daya Saing Nasional Dibangun dari peningkatan daya saing wilayah

FAKTOR PEREKAT PEMBANGUNAN NASIONAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH KESERASIAN TATA RUANG INTEGRASI ANTAR WILAYAH AS BASIS OF REGIONAL DEVELOPMENT JARINGAN EKONOMI LOKAL-GLOBAL DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH DI DALAM PENYEDIAAN LAYANAN PUBLIK AS BASIS OF WELFARE CREATION PENGEMBANGAN KEGIATAN EKONOMI BERBASIS INFORMASI, PENGETAHUAN DAN SUMBER DAYA ALAM AS DRIVER OF REGIONAL ECONOMIC DEVELOPMENT

TANTANGAN: KETIMPANGAN ALOKASI SUMBERDAYA ANTARWILAYAH (1) WILAYAH DANA DEKON + TP DANA PERIMBANGAN INVESTASI PMA RATA- RATA 2005-2009 (Rp. Juta) SHARE (%) RATA-RATA 2005-2009 (Rp. Juta) SHARE (%) RATA-RATA 2005-2008 (US $ JUta) SHARE (%) SUMATERA 37.213 15,65 62.138 27,65 1.133 11,29 JAWA-BALI 157.630 66,31 78.519 34,94 8.516 84,91 KALIMANTAN 11.721 4,93 30.487 13,57 283 2,82 SULAWESI 15.950 6,71 23.811 10,60 76 0,76 NUSA TENGGARA 5.995 2,52 9.965 4,43 8 0,08 MALUKU 4.278 1,80 5.889 2,62 7 0,07 PAPUA 4.942 2,08 13.890 6,18 5 0,05 TOTAL 237.729 100,00 224.698 100,00 10.030 100,00 Sumber: Diolah dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan BKPM Distribusi Investasi PMDN (%): 1. Jawa-Bali dan Sumatera: 86,78 2. Kalimantan: 7,19 3. Sulawesi: 5,26 4. Maluku dan Nusa Tenggara: 0,08 5. Papua: 0,70 Distribusi Kredit Perbankan (%): 1. Jawa-Bali dan Sumatera: 88,22 2. Kalimantan: 5,18 3. Sulawesi: 4,50 4. Maluku dan Nusa Tenggara: 1,21 5. Papua: 0,59 WILAYAH INVESTASI PMDN KREDIT PERBANKAN KKREDIT MIKRO KECIL MENENGAH RATA- RATA 2005-2008 (Rp. MIliar) Distribusi Dana Dekon+TP (%): 1. Jawa-Bali dan Sumatera: 81,69 2. Kalimantan: 4,93 3. Sulawesi: 6,71 4. Maluku dan Nusa Tenggara: 4,32 5. Papua: 2,08 Distribusi Dana Perimbangan (%): 1. Jawa-Bali dan Sumatera: 62,59 2. Kalimantan: 13,57 3. Sulawesi: 10,60 4. Maluku dan Nusa Tenggara: 9,30 5. Papua: 6,18 SHARE (%) RATA- RATA 2007-2009 (Rp. MIliar) SHARE (%) RATA- RATA 2007-2009 (Rp. MIliar) SHARE (%) SUMATERA 8.400 31,52 193.749 15,44 117.393 18,79 JAWA-BALI 14.729 55,26 913.352 72,78 408.768 65,43 KALIMANTAN 1.916 7,19 67.483 5,38 33.704 5,40 SULAWESI 1.402 5,26 56.483 4,50 43.281 6,93 NUSA TENGGARA 21 0,08 12.436 0,99 11.971 1,92 MALUKU 0,3 0,00 4.006 0,32 3.523 0,56 PAPUA 185 0,70 7.442 0,59 6.068 0,97 TOTAL 26.654 100 1.254.951 100 624.708 100,00

TANTANGAN: KETIMPANGAN ALOKASI SUMBERDAYA ANTARWILAYAH (2) WILAYAH DANA DEKON + TP DANA PERIMBANGAN INVESTASI PMA INVESTASI PMDN KREDIT PERBANKAN KKREDIT MIKRO KECIL MENENGAH RATA-RATA 2005-2009 (Rp. Juta) SHARE (%) RATA-RATA 2005-2009 (Rp. Juta) SHARE (%) RATA-RATA 2005-2008 (US $ JUta) SHARE (%) RATA-RATA 2005-2008 (Rp. MIliar) SHARE (%) RATA-RATA 2007-2009 (Rp. MIliar) SHARE (%) RATA-RATA 2007-2009 (Rp. MIliar) SHARE (%) SUMATERA 37.213 15,65 62.138 27,65 1.133 11,29 8.400 31,52 193.749 15,44 117.393 18,79 JAWA-BALI 157.630 66,31 78.519 34,94 8.516 84,91 14.729 55,26 913.352 72,78 408.768 65,43 KALIMANTAN 11.721 4,93 30.487 13,57 283 2,82 1.916 7,19 67.483 5,38 33.704 5,40 SULAWESI 15.950 6,71 23.811 10,60 76 0,76 1.402 5,26 56.483 4,50 43.281 6,93 NUSA TENGGARA 5.995 2,52 9.965 4,43 8 0,08 21 0,08 12.436 0,99 11.971 1,92 MALUKU 4.278 1,80 5.889 2,62 7 0,07 0,3 0,00 4.006 0,32 3.523 0,56 PAPUA 4.942 2,08 13.890 6,18 5 0,05 185 0,70 7.442 0,59 6.068 0,97 TOTAL 237.729 100,00 224.698 100,00 10.030 100,00 26.654 100 1.254.951 100 624.708 100,00 Sumber: Diolah dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan BKPM 1. Distribusi sumber daya selama kurun waktu 2005-2009 menunjukkan sebagian besar terpusat di Jawa-Bali. 2. Perlu langkah terobosan optimalisasi alokasi sumber daya untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi, dan Sumatera antara lain: (1) Location switching investasi pemerintah dari Wilayah Jawa-Bali ke Wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi, dan Sumatera. (2) Strengthening Public-Private Partnership untuk Wilayah Jawa-Bali. (3) Promoting Regional Banking untuk Wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi, dan Sumatera.

PERMASALAHAN SINERGI PUSAT DAN DAERAH 1. Belum efektifnya implementasi PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 2. Kurangnya koordinasi pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat dan daerah. 3. Kurangnya optimalnya kontribusi/dukungan pemerintah pusat dan sebaliknya. 4. Belum sinkronnya rencana pembangunan baik vertikal (antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah) serta horizontal (antar sektor). Kegiatan pembangunan tidak efisien (biaya tinggi) dan tidak efektif (manfaat pembangunan tidak optimal) 5. Adanya Tumpang Tindih atau duplikasi perencanaan antara Pusat dan Daerah 18

SINERGI PUSAT DAN DAERAH: PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN K/L Kegiatan K/L yang dibiayai APBN dan kegiatan SKPD yang dibiayai APBD belum sesuai. Nomenklatur dan kodifikasi kegiatan K/L (APBN) dan SKPD (APBD) belum seragam. Mengalihkan kegiatan Dekon dan TP ke daerah dalam DAK Mengoptimalkan Musrenbang. Mencantumkan lokasi kegiatan dalam Renja K/L dan RKA-K/L. Harmonisasi nomenklatur dan kodifikasi kegiatan K/L dan SKPD. LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN PEMDA Sinkronisasi RPJMD dengan RPJMN, Renstra SKPD dan Renstra K/L, RKPD dan RKP, melakukan penajaman sasaran kegiatan SKPD dengan sesuai prioritas Renja K/L. 19

SINERGI PUSAT DAN DAERAH: PENGENDALIAN DAN EVALUASI LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN K/L Belum adanya keterpaduan dalam pengendalian dan evaluasi antara K/L dan SKPD sehingga terjadi duplikasi pengawasan, dan keterlambatan laporan pelaksanaan. Harmonisasi sistem dan mekanisme pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan (KemenPPN/Bappenas, Kemen Keu, KemenDagri, KemenPANRB, BPKP dan BPK). LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN PEMDA Melakukan penataan dan penguatan SKPD dalam pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan. 20

SINERGI PUSAT DAN DAERAH: PENATAAN REGULASI (1) LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN K/L Belum semua provinsi, kabupaten/kota memiliki Perda RTRW. Kurang sinkronnya peraturan perundangundangan antarsektor terkait penataan ruang. Percepatan pembahasan Raperda RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota (di BKPRN). Harmonisasi peraturan perundang-undangan antar sektor terkait penataan ruang. LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN PEMDA Percepatan penyusunan Raperda RTRW dan penyampaiannya kepada Pemerintah Pusat (BKPRN). Penguatan kapasitas BKPRD. 21

SINERGI PUSAT DAN DAERAH: PENATAAN REGULASI (2) LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN K/L Masih belum sinerginya kebijakan pusat dan daerah dalam upaya meningkatkan investasi sektor riil baik PMA maupun PMDN. Penyediaan infrastruktur pendukung investasi serta kerangka regulasi untuk mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif. LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN PEMDA Penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di tiap daerah. 22

4. PENUTUP: SEBUAH PEMIKIRAN

PENUTUP Sinergi Perencanaan dan Penganggaran saat ini merupakan suatu kebutuhan untuk menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Sinergi kebijakan Pemerintah Pusat (Sektor) dan Pemerintah Daerah (Spasial) adalah keniscayaan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi luas komponen masyarakat menjadi perhatian utama dalam proses penyusunan rencana pembangunan. Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) bukan sekedar formalitas, namun harus menjadi kebutuhan.