BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam

dokumen-dokumen yang mirip
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) A. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SATUAN PENDIDIKAN (SKL-SP)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 Tentang STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, baik untuk bertutur maupun untuk memahami atau mengapresiasi

07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. A. Latar Belakang

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

BAB III METODE PENELITIAN

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 Tentang STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 Tentang STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 46 TAHUN 2010 TANGGAL 31 DESEMBER 2010

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2010/2011

KISI-KISI UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2012/2013

D. Kisi-Kisi Soal Ujian Nasional SMP/MTs. 28. BAHASA INDONESIA SMP/MTs

BAB III METODE PENELITIAN

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan kalau etika sebagai perangkat

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Untuk SMP/MTs

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

5. BAHASA INDONESIA SMPLB - A, D, DAN E (TUNANETRA, TUNA DAKSA RINGAN, DAN TUNA LARAS)

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

BAB III METODE PENELITIAN

PERATURAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN NOMOR: 013/P/BSNP/XII/2011 TENTANG

BAB III METODE PENELITIAN. mengemukakan secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian.

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Guru Tahun 2012

34. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunadaksa(SMPLB D)

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru Tahun 2012

BAB III METODE PENELITIAN. dipengaruhi atau ditentukan oleh tepat tidaknya penelitian atau penentuan metode

BAB III METODE PENELITIAN

2. SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) a. Pendidikan Agama Islam SMP/MTs 1. Menerapkan tata cara membaca Al-qur an menurut

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENILITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang

Lingkup Materi Hak dan Kewajiban Warga Negara

BAB III METODE PENELITIAN

Farida Nurhasanah. Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hatihati

PENERAPAN METODE OUTDOOR STUDY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI 01 TAJI TAHUN AJARAN 2014/2015

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

PERIMBANGAN SOAL DAN TINGKAT KESULITAN HASIL UJIAN NASIONAL BAHASA INDONESIA DILIHAT DARI STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kebutuhan yang utama sepanjang hayat. Setiap

09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lexy yang menyatakan bahwa : Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara

BAB III METODE PENELITIAN

PROFIL SEKOLAH Sunday, 27 June :50. A. Latar Belakang

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. untuk memaparkan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. ilmiah, Peneliti sebagai instrument pertama, bersifat deskriptif, lebih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN. yang menerangkan cara-cara untuk mengadakan penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN. mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut

BAB III METODE PENELITIAN. peneliti untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. 1

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) Satuan Pendidikan : SMP 1 Karangdadap Kelas/Semester : VII s/d IX /1-2

BAB II KAJIAN TEORI. tanggap, mengerti benar, pandangan, ajaran. 7

BAB III METODE PENELITIAN. Metodologi penelitian berasal dari bahasa yunani yaitu mathodos = cara atau

2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. secara alamiyah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta fakta atau

BAB III METODE PENELITIAN. bahasa Arab di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Ponorogo.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti di dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan ini berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. 1. Ekonomi Santri melalui Kepemimpinan Transformasional Kiai, maka

BAB I PENDAHULUAN. perundang-undangan di Indonesia juga sudah tercantum dalam pembukaan. kehidupan berbangsa dan bernegara adalah dengan pendidikan.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas yang biasa disingkat dengan PTK yang berarti

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. permasalahan dan fokus penelitian. Metode kualitatif adalah langkah-langkah

BAB III METODE PENELITIAN. daerah ini masih banyak terdapat perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan

BAB III METODE PENELITIAN

33. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunanetra (SMALB A)

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan, terutama pendidikan formal, dan pendidikan non formal tersebut mempunyai standar kompetensi yang telah ditentukan oleh pemerintah. Standar kompetensi itu sendiri adalah pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata ajar tertentu. 1 Sedangkan standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 2 Standar kompetensi lulusan mempunyai tujuan setiap satuan pendidikan, yaitu: pendidikan dasar (SMP/MTs) bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.3 Hal tersebut juga dapat dikategorikan menjadi 3 kemampuan yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak sehingga mampu menghadapi persoalan yang dihadapinya. 4 Kompetensi 1 Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Teori dan Praktek (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), 7. 2 Redaksi Penerbit Asa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan (Jakarta: PT Asa Mandiri, 2007), 2. 3 Depag RI, UU dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan (Jakarta: Depag RI, 2006), 166. 4 Mimin Haryati, Sistem Penilaian..., 2. 1

2 lulusan juga digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. 5 Dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk SMP/MTs antara lain: (a) menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, (b) menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya, (c) menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana, (d) menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana, (e) menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. 6 Setelah melihat fenomena di lapangan, pada tahun pelajaran 2007/2008 ada 40% siswa yang tidak lulus di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Ini disebabkan karena personal skill siswa, kurangnya kemampuan kognitif, kurangnya kedisiplinan yang diterapkan oleh pendidik, serta tingkah laku yang kurang baik dari diri siswa. 7 Penulis memilih lokasi di MTs Tri Bhakti ini karena terlihat sekali yang paling berpengaruh adalah kurangnya kemampuan siswa dalam aspek kognitif. 8 Dari fenomena di atas, maka apa yang dilakukan pihak terkait di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa agar siswa mampu memahami 5 Ibid., 166. 6 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 105. 7 Wawancara dengan Bapak Ali Wahyudin (Kepala Sekolah MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun) 30 Maret 2009 jam 07.00-09.00 WIB. 8 Ibid.

3 pelajaran. Maka penulis tertarik mengambil judul penelitian IMPLEMENTASI STANDAR KOMPETENSI LULUSAN DALAM PERMENDIKNAS NO. 23 TAHUN 2006 (Studi Kasus di MTs Tri Bhakti Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun) B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana implementasi SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun? 2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat diterapkannya SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun? 3. Bagaimana upaya di terapkannya standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun? C. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada implementasi standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang meliputi: implementasi SKL, Faktor pendukung dan penghambat dan upaya di terapkannya standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.

4 D. Tujuan Penelitian Terkait dengan rumusan masalah di atas penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang: 1. Untuk menjelaskan implementasi SKL dalam permendinas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. 2. Untuk menjelaskan faktor pendukung dan penghambat diterapkannya SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. 3. Untuk menjelaskan upaya diterapkannya standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. E. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis Dapat memberikan kontribusi dan wawasan pemikiran bagi peneliti serta sebagai bahan pijakan bagi peneliti khususnya dalam mengetahui standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 Tahun 2006. 2. Secara Praktis a. Bagi MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun 1) Sebagai motivasi dalam memilih strategi yang sesuai.

5 2) Sebagai pengendali mutu pendidikan. b. Bagi guru 1) Untuk memilih strategi yang tepat dalam mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) 2) Untuk mengevaluasi kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran. c. Bagi siswa 1) Sebagai motivasi siswa dalam kegiatan belajar. 2) Sebagai acuan untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. d. Bagi peneliti 1) Sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti. F. Metodologi Kajian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun ini, metode penelitian yang digunakan adalah dengan melalui pendekatan kualitatif yang melalui karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung dan bersifat deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 9 Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus yaitu memusatkan perhatian pada suatu kelas secara intensif dan terperinci 9 Wawancara dengan Bapak Ali Wahyudin (Kepala Sekolah MTs Tri Bhakti Pagotan) 30 Maret 2009 jam 07.00-09.00 WIB.

6 mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. 10 Yang dalam hal ini berkata dengan Standar Kompetensi Lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. 2. Kehadiran Peneliti Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta. Pengamatan berperan serta adalah sebagai penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu cukup lama antara peneliti dengan subyek dalam lingkungan subyek. Dan selama itu data dalam bentuk catatan lapangan dikumpulkan secara sistematis dan catatan tersebut berlaku tanpa gangguan. Sebab peranan penelitian yang menentukan keseluruhan skenarionya. 11 Untuk itu dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpulan data, sedangkan instrument lain sebagai penunjang. 3. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitiannya adalah di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Karena standar kompetensi lulusan belum mencapai 100% terutama dalam aspek kognitif. 4. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan 10 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000), 3. 11 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 9.

7 tindakan sebagai sumber data utama, sedangkan sumber data tertulis, foto, dan statistik adalah sebagai sumber data tambahan. 12 Adapun informan dalam penelitian ini adalah: a. Kepala sekolah. b. Guru. c. Siswa. 5. Prosedur Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data pada penelitian ini adalah meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar, dimana fenomena tersebut berlangsung dan disamping itu untuk melengkapi data, diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek). a. Teknik wawancara Wawancara adalah bentuk komunikasi antara 2 orang melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu. 13 Sedangkan dalam teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan 12 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 117. 13 Lofland, Analizing Social Setting, A Guide To Qualitative Observation And Analysis, (Belmat, Cal: Wardsworth Publishing Company, 1984). Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 112.

8 dengan fokus permasalahan, sehingga dengan wawancara mendalam ini data-data bisa terkumpulkan semaksimal mungkin. 14 b. Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian. 15 Seperti letak geografis, melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi disana, karakteristik psikis situasi sosial. c. Dokumentasi Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip, dan termasuk juga buku tentang dalil-dalil atau hukum-hukum. 16 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang standar kompetensi lulusan yang ada, struktur organisasi, data guru dan karyawan serta data siswa MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Ponorogo. 6. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data secara induktif. Analisis induktif ini digunakan karena beberapa alasan. Pertama, proses induktif lebih banyak menemukan kenyataan-kenyataan ganda yang terdapat dalam data. Kedua, analisis induktif lebih dapat membuat hubungan peneliti dan responden menjadi eksplisit, dapat dikenal dan acountible. Ketiga, analisis lebih dapat menguraikan latar 14 Dedi Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT Remaja Rosdakrya, 2004), 180. 15 Sugiono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Alfabeta 2006), 318. 16 Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, Suatu Tinjauan Dasar (Surabaya: Sic, 1999), 77-79.

9 secara penuh dan dapat membuat keputusan-keputusan tentang dapat tidaknya pengalihan kepada suatu latar lainnya. Keempat, analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubunganhubungan dan terakhir, analisis demikian dapat memperhitungkan nilainilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik. 17 Aktifitas dalam Analisis data, yaitu: a. Data reduction (reduksi data), yaitu merangkum, memilih hal-hal yang penting. 18 Dalam penelitian ini, data-data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi yang masih kompleks tentang kegiatan pembelajaran peserta didik, kemudian direduksi dengan memilih dan memfokuskan pada hal-hal yang pokok, yaitu yang berkaitan langsung dengan implementasi standar kompetensi lulusan di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun b. Data display (penyajian data) yaitu men-display-kan data atau menyajikan data ke dalam pola yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, grafik, matrik, network dan chart. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut sudah menjadi pola yang baku yang selanjutnya akan didisplaykan pada akhir penelitian. 19 17 Lexy J. Moleoong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 5. 18 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), 165. 19 Sugiono, Metodologi Penelitian Pendidikan, 338.

10 c. Conclusion (verifikasi) yaitu analisis data yang terus menerus baik selama maupun sesudah pengumpulan data, penarikan kesimpulan yang datanya menggambarkan pola yang terjadi. 20 7. Pengecekan Keabsahan Data Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reabilitas). 21 Derajat kepercayaan keabsahan data (kredibilitas data) dapat diadakan pengecekan dengan teknik pengamatan yang tekun dan triangulasi. Ketekunan pengamatan yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dalam persoalan atau isu yang sedang dicari. Ketekunan pengamatan ini dilakukan peneliti dengan cara: (a) mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap Implementasi Standar Kompetensi Lulusan Dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam mengahadapi arus globalisasi dan perdagangan bebas abad ke-21, kemudian (b) menelaah secara rinci sampai ada suatu titik, sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami dengan cara biasa. 22 Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai 20 Ibid, 345. 21 Ibid. 22 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian, 171

11 pembanding terhadap data itu. Ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai peneliti dengan jalan (a) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (b) membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dan apa yang dikatakan secara pribadi, (c) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (d) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, (e) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. 23 8. Tahapan-Tahapan Penelitian Dalam penelitian ini ada 3 (tiga) tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahapan-tahapan penelitian-penelitian tersebut adalah (1) tahap pra-lapangan, yang meliputi: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian. 23 Ibid, 177

12 Tahap ini dilakukan bulan, (2) Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data. Tahap ini dilakukan bulan, (3) tahap analisis data yang meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan data, yaitu bulan Mei-Juni 2009, (4) tahap penulisan hasil laporan penelitian yaitu bulan Juli 2009. G. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan dimaksudkan untuk mempermudah para pembaca dalam menelaah isi kandungan yang ada di dalamnya. Proposal ini terdiri dari 5 bab yaitu : Bab pertama merupakan pendahuluan. Bab ini berfungsi untuk memberi gambaran tentang penelitian yang akan dilakukan yang meliputi: latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan. Bab kedua, merupakan landasan teori. Bab ini berisi pengertian standar kompetesi lulusan, tujuan umum dan tujuan khusus, standar kompetensi lulusan mata pelajaran, peraturan menteri pendidikan nasional no. 23 tahun 2006. Bab ketiga, berisi tentang temuan penelitian yang berisi gambaran umum lokasi penelitian yang mencakup sejarah berdirinya, letak geografis, visi, misi, tujuan, struktur organisasi, keadaan guru dan siswa dan sarana prasarana MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten

13 Madiun. Dan data khusus meliputi implementasi SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, faktor pendukung dan penghambat diterapkannya SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, upaya di terapkannya standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no.23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Bab keempat, analisis implementasi SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, analisis faktor pendukung dan penghambat diterapkannya SKL dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, analisis upaya di terapkannya standar kompetensi lulusan dalam permendiknas no. 23 tahun 2006 di MTs Tri Bhakti Desa Pagotan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Bab kelima, merupakan bab penutup, bab ini berfungsi mempermudah para pembaca dalam mengambil intisari yang berisi kesimpulan dan saran.

14 BAB II STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) MTs DALAM PERMENDIKNAS NO. 23 TAHUN 2006 A. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) 1. Pengertian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Dalam Buku Standar Nasional Pendidikan, standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 24 Adapun tujuan setiap satuan pendidikan, yakni pendidikan dasar yang meliputi SD/MI/SDLB/paket A dan SMP/MTs/SMPLB/Paket B bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan. untuk hidup mandiri dalam mengikuti pendidikan yang lebih lanjut. 25 Menurut Abdul Majid, standar kompetensi lulusan (SKL) juga disebut dengan kompetensi tamatan, yaitu merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan suatu jenjang tertentu. 26 Menurut Dede Rosyada, kompetensi tamatan adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan 24 Redaksi Penerbit Aksa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan (Jakarta: Asa Mandiri, 2007), 2. 25 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 91. 26 Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Kompetensi Konsep, dan Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), 68.

15 berfikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan belajar pada suatu jenjang tertentu. 27 Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa standar kompetensi lulusan (SKL) adalah sebuah patokan untuk mengukur kompetensi siswa setelah diadakan ujian yang meliputi 3 aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengertian ketiga aspek di atas adalah sebagai berikut: a. Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan intelektual, meliputi: 28 1) Mengingat atau menghafal: siswa ingat atau mengenal mengulang kembali informasi. 2) Pemahaman: kemampuan membandingkan. 3) Mengaplikasi: siswa menyelesaikan masalah dalam kehidupan yang nyata, mengidentifikasi, memilih dan menerapkan generalisasi dan keterampilannya. 4) Menganalisis: siswa dapat menyelesaikan masalah dengan pengetahuan yang dia miliki dan dapat membentuk fikirannya. 5) Mensistesis: siswa dapat menyelesaikan masalah yang menuntut adanya originalitas dan satu kegiatan berfikir yang kreatif. 6) Mengevaluasi: siswa membuat pertimbangan dan penilaian atas baik dan buruk, benar dan salah berdasarkan pengetahuan yang dia miliki. 27 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2004), 49. 28 Jos Daniel Parera, Keterampilan Bertanya dan Menjelaskan (Jakarta: Erlangga, 1993), 15.

16 b. Aspek Afektif Aspek afektif berhubungan dengan penilaian sikap dan minat siswa terhadap mata pelajaran dan proses pembelajaran, dalam aspek ini meliputi: 29 1) Memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan kepadanya. 2) Menikmati atau menerima nilai-nilai, norma, serta obyek yang mempunyai nilai etika dan estetika. 3) Menilai (valuing) ditinjau dari segi baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah terhadap obyek studi. 4) Menerapkan atau mempraktikkan nilai, norma, etika, dan estetika dalam perilaku kehidupan sehari-hari. c. Aspek Psikomotorik Aspek psikomotorik adalah aspek yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. 30 Pada aspek ini kompetensi yang harus dicapai meliputi 3 tingkatan, yaitu: 31 1) Tingkatan penguasaan gerakan awal berisi tentang kemampuan siswa dalam menggerakkan sebagai anggota tubuh. 29 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), 35-36. 30 Anas Sudjono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), 57. 31 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, 36.

17 2) Tingkatan gerakan rutin meliputi kemampuan melakukan atau menirukan gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan. 3) Tingkatan gerakan rutin berisi kemampuan melakukan gerakan secara menyeluruh dengan sempurna dan sampai pada tingkatan otomatis. 2. Tujuan Umum dan Khusus a. Tujuan Umum Pendidikan SLTP/MTs adalah agar lulusan: 32 1) Menjadi warga negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat lahir dan batin. 2) Menguasai pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari sekolah dasar. 3) Memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan tingkat atas dan untuk tujuan kemasyarakatan. b. Tujuan Khusus SLTP adalah agar lulusan: 33 1) Bidang pengetahuan 1) Memiliki pengetahuan tentang agama dan atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2) Memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar kenegaraan dan pemerintahan sesuai dengan UUD 1945. 32 Soeparman, Pendidikan Nasional (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995), 18. 33 Ibid., 18-19.

18 3) Memiliki pengetahuan dasar tentang kependudukan, kesejahteraan keluarga, dan kesehatan. 4) Memiliki pengetahuan yang fungsional tentang fakta dan kejadian penting yang aktual terutama yang bersifat lokal, regional, dan nasional. 5) Memiliki pengetahuan berbagai bidang pekerjaan tingkat menengah yang ada di masyarakat. 6) Menguasai pengetahuan dasar di bidang matematika, IPA, IPS, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. 7) Memiliki pengetahuan tentang berbagai unsur kebudayaan dan tradisi nasional. 2) Bidang Keterampilan a) Menguasai cara belajar yang baik. b) Memiliki keterampilan memecahkan masalah sederhana dengan sistematis. c) Memiliki keterampilan membaca atau memahami isi bacaan sederhana yang berguna baginya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. d) Memiliki keterampilan mengadakan komunikasi sosial secara lisan dan tertulis. e) Memiliki keterampilan dan kebiasaan berolahraga. f) Memiliki keterampilan dan sekurang-kurangnya satu cabang kesenian.

19 g) Memiliki keterampilan dalam segi kesejahteraan keluarga dan usaha kesehatan. h) Memiliki keterampilan sederhana dalam bidang kepemimpinan. i) Memiliki kemampuan sekurang-kurangnya satu jenis keterampilan pra-vokusional sesuai dengan minat dan bakatnya serta hubungan lingkungan. 3) Bidang Sikap (Afektif) a) Menerima dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945. b) Menerima dan melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Esa yang dianut orang lain. c) Mencintai sesama manusia, bangsa, dan lingkungan sekitarnya. d) Memiliki sikap demokratis dan tenggang rasa. e) Memiliki rasa tanggung jawab dalam pekerjaan dan masyarakat. f) Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan. g) Memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan obyektif dalam memecahkan persoalan. h) Memiliki minat dan sikap yang positif dan konstruktif terhadap olah raga dan hidup sehat. Ketiga aspek di atas menjadi obyek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga aspek, kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para

20 guru di sekolah, karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pengajaran. 34 Hal tersebut merupakan tujuan yang telah ditetapkan pada masing-masing komponen, terutama bermuara pada ketercapaian output sekolah, yaitu lulusan yang bermutu sebagai sentral tujuan pendidikan. Hasil akhir dari sistem pendidikan itu adalah ditujukan pada lulusan. 35 Lulusan yang menampakkan kompetensi yang dipersyaratkan adalah lulusan yang sesuai dengan kriteria sekolah efektif. Namun demikian, kebermutuan pada komponen pendukung, pelaksana, dan penentu keberhasilan lulusan menjadi indikator yang turut menentukan keberhasilan pendidikan. 36 3. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Dalam bab V tentang standar kompetensi lulusan (SKL) yaitu pasal 25 ayat: 37 1) Standar kompetensi lulusan (SKL) digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. 34 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), 22-23. 35 Aan Komariyah, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), 36. 36 Ibid., 36. 37 Depag RI, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan (Jakarta: Depag RI, 2006), 166-167.

21 2) Standar kompetensi lulusan (SKL) sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah. 3) Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan. 4) Kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu, standar kompetensi lulusan (SKL) digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, dan ayat (2) yaitu, standar kompetensi lulusan (SKL) sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam pasal 26 ayat 1 disebutkan bahwa standar kompetensi lulusan (SKL) pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sedangkan dalam pasal 27 dijelaskan bahwa standar kelulusan pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan non formal dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dalam peraturan menteri. B. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006

22 Peraturan menteri pendidikan nasional no. 23 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006. Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan (SKL-SP) meliputi: 38 1. SD/MI/SDLB/paket A 2. SMP/MTs/SMPLB/paket B 3. SMA/MA/SMALB/paket C 4. SMK/MAK Adapun standar kompetensi lulusan satuan pendidikan (SKLSP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: 1. Pendidikan dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs/SMPLB/paket B bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 2. Pendidikan menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMAKB/paket C bertujuan, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3. Pendidikan menengah kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK bertujuan, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. 38 Redaksi Penerbit Aksa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan, 126.

23 Adapun standar kompetensi lulusan satuan pendidikan (SKL-SP) selengkapnya adalah: 39 a. SMP/MTs/SMPLB/Paket B 1. Mengadakan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. 2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 3. Menunjukkan sikap percaya diri. 4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. 5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial, ekonomi dalam lingkup nasional. 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif. 7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 10. Mendeskripsi gejala alam dan sosial. 11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 39 Ibid., 127.

24 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan republik Indonesia. 13. Menghargai karya seni dan budaya nasional. 14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. 15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang. 16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. 18. Menghargai adanya perbedaan pendapat. 19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. 20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.

25 b. Standar Kompetensi Mata Pelajaran 1) Bahasa Indonesia SMP/MTs a) Mendengarkan Memahami wacana lisan dalam kegiatan wawancara, pelaporan, penyampaian berita radio atau TV, dialog interaktif, pidato, khutbah atau ceramah, dan pembacaan berbagai karya sastra berbentuk dongeng, puisi, drama, novel remaja, syair, kutipan, dan sinopsis novel. b) Berbicara Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, pengalaman, pendapat, dan komentar dalam kegiatan wawancara, presentasi laporan, diskusi, protokoler, dan pidato, serta dalam berbagai karya sastra berbentuk cerita pendek, novel remaja, puisi, dan drama. c) Membaca Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami berbagai bentuk wacana tulis, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, drama, novel remaja, antologi puisi, novel dari berbagai angkatan. d) Menulis Melakukan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk buku harian, surat pribadi, pesan singkat, laporan, surat dinas,

26 petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan, poster, iklan baris, resensi, karangan, karya ilmiah sederhana, pidato, surat pembaca, dan berbagai karya sastra berbentuk pantun, dongeng, puisi, drama, puisi, dan cerpen. 2) Bahasa Inggris SMP/MTs 1. Mendengarkan Memahami makna dalam wacana lisan interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hari. 2. Berbicara Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hari. 3. Membaca Memahami makna dalam wacana tertulis interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hari.

27 4. Menulis Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hari. 3) Matematika SMP/MTs 1. Memahami konsep bilangan real, operasi hitung dan sifat-sifatnya (komutatif, asosiatif, distributif), barisan bilangan sederhana (barisan aritmatika dan sifat-sifatnya), serta penggunaannya dalam pemecahan masalah. 2. Memahami konsep aljabar meliputi: bentuk aljabar dan unsurunsurnya, persamaan dan pertidaksamaan linear serta penyelesaiannya, himpunan dan operasinya, relasi, fungsi dan grafiknya, sistem persamaan linear dan penyelesaiannya, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah. 3. Memahami bangun-bangun geometri, unsur-unsur dan sifatsifatnya, ukuran dan pengukurannya, meliputi: hubungan antar garis, sudut (melukis sudut dan membagi sudut), segitiga (termasuk melukis segitiga) dan segi empat, teorema Pythagoras, lingkaran (garis singgung sekutu, lingkaran luar, dan lingkaran dalam, segitiga dan melukisnya), kubus, balok, prisma, limas, dan jaring-jaringnya, kesebangunan dan kongruensi, tabung, kerucut, bola, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.

28 4. Memahami konsep data, pengumpulan dan penyajian data (dengan tabel, gambar, diagram, grafik), rentangan data, rerata hitung, modus, dan median, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah. 5. Memahami konsep ruang sampel dan peluang kejadian, serta memanfaatkan dalam pemecahan masalah. 6. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan. 7. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerja sama. 4) Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTs 1. Melakukan pengamatan dengan peralatan yang sesuai, melaksanakan percobaan sesuai prosedur, mencatat hasil pengamatan dan pengukuran dalam tabel dan grafik yang sesuai, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikannya secara lisan dan tertulis sesuai dengan bukti yang diperoleh 2. Memahami keanekaragaman hayati, klasifikasi keragamannya berdasarkan ciri, cara-cara pelestariannya, serta saling ketergantungan antar makhluk hidup di dalam ekosistem. 3. Memahami sistem organ pada manusia dan kelangsungan makhluk hidup. 4. Memahami konsep partikel materi, berbagai bentuk, sifat dan wujud zat, perubahan, dan kegunaannya.

29 5. Memahami konsep gaya, usaha, energi, getaran, gelombang, optik, listrik, magnet, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 6. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya. 5) Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs 1. Mendeskripsikan keanekaragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan. 2. Memahami proses interaksi dan sosialisasi dalam pembentukan kepribadian manusia. 3. Membuat sketsa dan peta wilayah serta menggunakan peta, atlas, dan globe untuk mendapatkan informasi keruangan. 4. Mendeskripsikan gejala-gejala yang terjadi di geosfer dan dampaknya terhadap kehidupan. 5. Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan sejak pra-aksara, Hindu-Budha, sampai masa kolonial Eropa. 6. Mengidentifikasikan upaya penanggulangan permasalahan kependudukan dan lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan. 7. Memahami proses kebangkitan nasional, usaha persiapan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, dan mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia. 8. Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya dan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan, serta mengidentifikasi

30 berbagai penyakit sosial sebagai akibat penyimpangan sosial dalam masyarakat, dan upaya pencegahannya. 9. Mengidentifikasi region-region di permukaan bumi berkenaan dengan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera, keterkaitan unsur-unsur geografi dan penduduk, serta ciri-ciri negara maju dan berkembang. 10. Mendeskripsikan perkembangan lembaga internasional, kerja sama internasional dan peran Indonesia dalam kerja sama dan perdagangan internasional, serta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. 11. Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi serta mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam memenuhi kebutuhannya. 12. Mengungkapkan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi berupa kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan.

31 6) Seni Budaya SMP/MTs Seni Rupa 1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan melalui gambar bentuk obyek tiga dimensi yang ada di daerah setempat. 2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan melalui gambar atau lukisan, karya seni grafis, dan karya tekstil batik daerah nusantara. 3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa murni yang dikembangkan dari beragam unsur seni rupa nusantara dan mancanegara. Seni Musik 1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik lagu daerah setempat secara perseorangan dan berkelompok. 2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik lagu tradisional nusantara secara perseorangan dan kelompok 3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik lagu mancanegara secara perseorangan dan kelompok. Seni Tari 1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni tari tunggal dan berpasangan/kelompok terhadap keunikan seni tari daerah setempat.

32 2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni tari tunggal dan berpasangan/kelompok terhadap keunikan seni tari nusantara. 3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni tari tunggal dan berpasangan/kelompok terhadap keunikan seni tari mancanegara. 7) Teknologi Informasi dan Komunikasi SMP/MTs 1. Memahami penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan prospeknya di masa datang. 2. Menguasai dasar-dasar keterampilan komputer. 3. Menggunakan perangkat pengolah kata dan pengolah angka untuk menghasilkan dokumen sederhana. 4. Memahami prinsip dasar internet/intranet dan menggunakannya untuk memperoleh informasi. 40 C. Perilaku Mengajar Guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Gurupun dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku bel yang efektif dalam diri siswa. Guru juga sebagai evaluator yang dituntut untuk berperan secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini akan merupakan umpan balik terhadap proses kegiatan belajar mengajar, yang selanjutnya akan diadakan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran 40 Ibid., 150-159.

33 selanjutnya. Dengan demikian, proses pembelajaran akan senantasa ditingkatkan terus menerus untuk memperoleh hasil belajar uang optimal. 41 Guru berperan untuk senantiasa menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Dalam hubungan ini, guru sebagai motivator keseluruhan kegiatan belajar siswa. Sebagai motivator belajar, guru harus mampu untuk: (1) membangkitkan dorongan siswa untuk belajar, (2) menjelaskan kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran, (3) membuat regulasi atau aturan perilaku siswa. 42 Dalam proses pembelajaran, guru juga melakukan pendekatan instruksional dan pendekatan pribadi. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, para pengajar disebut metakognisi adalah pengetahuan seorang individu terhaadap proses dan hasil belajar yang terjadi dalam dirinya serta hal-hal yang terkait. Agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif para siswa hendaknya memiliki persepsi yang tepat. Dan menunjang terhadap proses belajar. Belajar yang efektif adalah mereka yang mampu melakukan kegiatan belajar dengan memperoleh hasil sebaik-baiknya dan dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Pelajaran efektif akan mampu melakukan kegiatan belajar secara terus menerus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan. Cara belajar siswa diperlukan juga belajar bersama atau belajar kelompok. Belajar bersama pada dasarnya adalah memecahkan persoalan secara bersama atau berkelompok. Dalam belajar kelompok, setiap individu turut memberikan sumbangan fikiran dalam mengucapkan masalah yang dibahas sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Pikiran dari banyak orang, 41 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berbasis Integrasi dan Kompetensi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 78. 42 Ibid.

34 biasanya akan menghasilkan jalan keluar yang lebih baik daripada sendiri. Belajar bersama baik sekali apabila dilakukan ketika ada tugas dari guru atau dosen, baik tugas perorangan maupun kelompok. 43 Namun, situasi lingkungan sekitar sekolah biasanya dipengaruhi oleh godaan dalam berbagai bentuk, antara lain: judi, tontonan yang bernada menyenangkan nafsu (seperti blue film, permainan ketangkasan berhadiah, dan lain-lain). Situasi demikian melemahkan daya konsentrasi berfikir dan berakhlaq mulia, serta mengurangi gairah belajar, bahkan mengurangi daya saing dalam meraih kemajuan. 44 Dalam pembelajaran afektif, sikap seseorang bisa diramalkan perubahan-perubahannya, apabila seseorang telah menguasai bidang kognitif tingkat tinggi. Ada kecenderungan bahwa prestasi belajar bidang afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru cenderung lebih memperhatikan pada bidang kognitif semata. Tipe prestasi belajar afektif tampak pada siswa dengan berbagai tingkah laku, seperti perhatian-perhatian terhadap pelajaran, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan lain-lain. Meskipun bahan pelajaran berisikan bidang kognitif, tetapi bidang afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan harus tampak dalam proses belajar dan prestasi belajar yang dicapai. 45 D. Pengukuran Pengukuran adalah suatu prosedur untuk memberikan angka (biasanya disebut skor) kepada suatu sifat atau karakteristik tertentu seseorang 43 Ibid., 83. 44 Abdullah Aly dan Djamaluddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 19. 45 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berbasis Integrasi dan Kompetensi, 154.

35 sedemikian sehingga mempertahankan hubungan senyatanya antara seseorang dengan orang lain sehubungan dengan sifat yang diukur itu. Pengukuran dalam sekolah berkaitan hanya dengan pencandraan atau diskripsi kuantitatif mengenai tingkah laku siswa. Pengukuran tidak melibatkan pertimbangan mengenai baiknya atau nilai tingkah laku yang diukur itu seperti halnya tes, pengukuranpun tidak menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus. Pengukuran hanya membuahkan data kuantitatif mengenai hal yang diukur. Untuk mengukur seseorang menurut batasan tersebut di atas, perlu: 1. Mengidentifikasi orang yang hendak diukur. 2. Mengidentifikasi karakteristik atau sifat-sifat khas orang yang hendak diukur. 3. Menetapkan prosedur yang hendak dipakai untuk dapat memberikan angka-angka pada karakteristik tersebut. 46 E. Penilaian Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. 47 Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar sebagai hasil program atau obyek yang menjadi sasaran penilaian. Sedangkan alat-alat penilaian hasil belajar, yakni tes, baik tes uraian maupun tes obyektif. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan, tulisan, atau perbuatan. 48 46 Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT Renika Cipta, 2001), 101. 47 Ibid., 6. 48 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1995), 35

36 Ada dua jenis tes dalam penilaian ini, terdiri dari uraian dan tes obyektif. 1. Tes uraian Tes uraian disebut juga examination, secara umum ter uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendikskusikan, membandingkan, memberikan alasan dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam hal mengekspesikan gagasannya melalui bahasa tulisan. Keunggulan atau Kelebihan dari tes uraian adalah: 49 a. Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi. b. Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa baik lisan maupun tulisan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa. c. Dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penilaian, yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis. d. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving). e. Adanya keuntungan teknis, seperti mudah membuat soalnya, sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru secara langsung melihat proses berpikir siswa. Kelemahan / kekurangan yang terdapat tes uraian ini antara lain: 50 a. Sampel tes sangat terbatas, sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, tidak seperti pada objek 49 Ibid., 36. 50 Ibid., 36-37

37 objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui sejumlah pertanyaan. b. Sifatnya sangat subjektif baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam cara memeriksanya. c. Kurang reliabel, mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksaannya memerlukan waktu lama, sehingga tidak praktis yang jumlahnya relatif besar. 2. Tes Objektif Tes objektif banyak digunakan dalam menilai hasil belajar. 51 Hal ini disebabkan antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam tes dan mudahnya menilai jawaban yang diberikan. a. Bentuk soal jawaban singkat Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah. Ada dua bentuk soal jawaban singkat, yaitu bentuk pertanyaan langsung dan bentuk pertanyaan tidak lengkap. Keunggulan atau kelebihan bentuk soal jawaban singkat adalah: 1) Menyusun soalnya relatif mudah 2) Kecil kemungkinan siswa memberi jawaban dengan cara menebak. 3) Menuntut siswa untuk dapat menjawab dengan singkat dan tepat. 4) Hasil penilaiannya cukup objektif. Kekurangan atau kelemahan bentuk jawaban singkat adalah : 1) Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi. 51 Ibid., 44

38 2) Memerlukan waktu yang lama untuk menilai sekalipun tidak selama bentuk uraian. 3) Menyulitkan pemeriksaan apabila jawaban siswa membingungkan pemeriksa. b. Bentuk soal benar salah Bentuk soal benar salah adalah, bentuk tes yang soal-soalnya berupa pernyataan. Sebagian dari pernyataan itu adalah pernyataan yang benar dan sebagian lagi merupakan pernyataan yang salah. Pada umumnya bentuk soal benar salah dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, devinisi, dan prinsip. 52 Keunggulan atau kelebihan bentuk soal benar salah adalah: 1) Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat dan objektif. 2) Soal dapat disusun dengan mudah. Kekurangan atau kelemahan bentuk soal benar salah adalah: 1) Kemungkinan menebak dengan benar jawaban setiap soal adalah 50 %. 2) Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi karena hanya menuntut daya ingat dan pengenalan kembali. 3) Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan (benar dan salah). c. Bentuk soal menjodohkan Bentuk soal menjodohkan terdiri atas dua kelompok pernyataan yang pararel. Kedua kelompok pernyataan ini berada dalam satu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soalsoal yang dicari jawabannya. Dalam bentuk yang paling sederhana, 52 Ibid., 45

39 jumlah soal sama dengan jumlah jawabannya, tetapi sebaiknya, jumlah jawaban yang disediakan dibuat lebih banyak dari pada soalnya, karena hal ini mengurangi kemungkinan siswa menjawab betul dengan hanya menebak. Keunggulan atau kelebihan bentuk soal menjodohkan adalah: 1) Penilaiannya dapat dilakukan dengan cepat dan objektif. 2) Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan bagaimana mengidentifikasi antara dua hal yang berhubungan. 3) Dapat mengukur ruang lingkup pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang lebih luas. Kekurangan atau kelamahan bentuk soal menjodohkan adalah: 1) Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan fakta dan hafalan. 2) Sukar untuk menentukan materi atau pokok bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan. d. Bentuk soal pilihan ganda Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau tepat. 53 Keunggulan atau kelebihan bentuk soal pilihan ganda adalah: 1) Materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pengajaran yang telah diberikan. 53 Ibid., 48.

40 2) Jawaban siswa dapat dikoreksi (dinilai) dengan mudah dan cepat dengan menggunakan kunci jawaban. 3) Jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah sehingga penilaiannya bersifat objektif. Kekurangan atau kelamahan bentuk soal pilihan ganda adalah: 1) Kemungkinan untuk melakukan tebakan jawaban masih cukup besar. 2) Proses berfikir siswa tidak dapat dilihat dengan nyata. F. Evaluasi a. Pengertian Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan. 54 Evaluasi juga merupakan suatu seni, tidak ada satupun evaluasi yang sempurna, walaupun dilakukan dengan teknik yang berbedabeda. Menurut Daryanto evaluasi merupakan suatu proses terus menerus, sehingga di dalam kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya suatu kesalahan. 55 b. Fungsi evaluasi Evaluasi mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut: 56 1) Evaluasi berfungsi selektif 54 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1994), 3. 55 Daryanto, Evaluasi Pendidikan..., 3. 56 Ibid., 14-16.

41 Dengan cara mengadakan evaluasi, guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain: a. Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu. b. Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya. c. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa. d. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya. 2) Evaluasi berfungsi diagnostik Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan evaluasi sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi. 3) Evaluasi berfungsi sebagai penempatan. Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan mempelajari paket belajar, baik berbentuk modul maupun yang lain. Alasan timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran lebih efektif apabila disesuaikan