Kata kunci : geotextil, Plaxis 2D v.8.2, Msf, Uy

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS TINGGI MUKA AIR PADA PERKUATAN TANAH DAS NIMANGA

Pengaruh Derajat Kejenuhan Terhadap Kuat Geser Tanah (Studi Kasus : di Sekitar Jalan Raya Manado-Tomohon)

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

KUAT GESER 5/26/2015 NORMA PUSPITA, ST. MT. 2

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH TEKANAN AIR PORI TANAH TERHADAP PERKUATAN TEMBOK PENAHAN DAN GEOTEXTILE

MEKANIKA TANAH KRITERIA KERUNTUHAN MOHR - COULOMB. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

TOPIK BAHASAN 8 KEKUATAN GESER TANAH PERTEMUAN 20 21

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI. saringan nomor 200. Selanjutnya, tanah diklasifikan dalam sejumlah kelompok

STUDI PENGARUH PENAMBAHAN TANAH LEMPUNG PADA TANAH PASIR PANTAI TERHADAP KEKUATAN GESER TANAH ABSTRAK

PENGARUH GEOTEKSTIL TERHADAP KUAT GESER PADA TANAH LEMPUNG LUNAK DENGAN UJI TRIAKSIAL TERKONSOLIDASI TAK TERDRAINASI SKRIPSI. Oleh

KARAKTERISITIK KUAT GESER TANAH MERAH

III. KUAT GESER TANAH

HASIL DAN PEMBAHASAN. (undisturb) dan sampel tanah terganggu (disturb), untuk sampel tanah tidak

REKAYASA GEOTEKNIK DALAM DISAIN DAM TIMBUNAN TANAH

PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR. Cut Nuri Badariah, Nasrul, Yudha Hanova

ABSTRAK

Karakterisasi Sifat Fisis dan Mekanis Tanah Lunak di Gedebage

Pemeriksaan Kekuatan Tanah Dengan Menggunakan Geotextil Berlapis (Studi Kasus : Ring Road)

PENGUJIAN PARAMETER KUAT GESER TANAH MELALUI PROSES STABILISASI TANAH PASIR MENGGUNAKAN CLEAN SET CEMENT (CS-10)

PEMERIKSAAN KEKUATAN TANAH DENGAN PERKUATAN ANYAMAN KAWAT (STUDI KASUS : KAWASAN TINOOR)

KORELASI ANTARA TEGANGAN GESER DAN NILAI CBR PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DENGAN BAHAN CAMPURAN SEMEN

PENGARUH CAMPURAN KAPUR DAN ABU JERAMI GUNA MENINGKATKAN KUAT GESER TANAH LEMPUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI KAPASITAS DUKUNG PONDASI LANGSUNG DENGAN ALAS PASIR PADA TANAH KELEMPUNGAN YANG DIPERKUAT LAPISAN GEOTEKSTIL

KORELASI PARAMETER KEKUATAN GESER TANAH DENGAN MENGGUNAKAN UJI TRIAKSIAL DAN UJI GESER LANGSUNG PADA TANAH LEMPUNG SUBSTITUSI PASIR

PENGARUH VARIASI JUMLAH LAPIS DAN JARAK ANTARLAPIS VERTIKAL GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN LERENG PASIR KEPADATAN 74%

KARAKTERISASI BAHAN TIMBUNAN TANAH PADA LOKASI RENCANA BENDUNGAN DANAU TUA, ROTE TIMOR, DAN BENDUNGAN HAEKRIT, ATAMBUA TIMOR

Bab 1 PENDAHULUAN. tanah yang buruk. Tanah dengan karakteristik tersebut seringkali memiliki permasalahan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KORELASI ANTARA TEGANGAN GESER DAN NILAI CBR PADA TANAH LEMPUNG DENGAN BAHAN CAMPURAN SEMEN

BAB IV STUDI KASUS 4.1 UMUM

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian sifat fisik tanah adalah sebagai pertimbangan untuk merencanakan dan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH BAHAN CAMPURAN ARANG TEMPURUNG TERHADAP KONSOLIDASI SEKUNDER PADA LEMPUNG EKSPANSIF

BAB I PENDAHULUAN. bangunan. Tanah yang terdiri dari campuran butiran-butiran mineral dengan atau

TINJAUAN VARIASI DIAMETER BUTIRAN TERHADAP KUAT GESER TANAH LEMPUNG KAPUR (STUDI KASUS TANAH TANON, SRAGEN)

BAB IV KRITERIA DESAIN

PENGARUH VARIASI PANJANG LEMBARAN GEOTEKSTIL DAN TEBAL LIPATAN GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR KEPADATAN 74%

ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN METODE FELLENIUS (Studi Kasus: Kawasan Citraland)

PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH GYPSUM TERHADAP NILAI KUAT GESER TANAH LEMPUNG

PENGARUH PENAMBAHAN FIBER (SERAT POLYPROPYLENE) TERHADAP KUAT GESER TANAH GAMPONG MANE KRUENG

Karakteristik Kuat Geser Puncak, Kuat Geser Sisa dan Konsolidasi dari Tanah Lempung Sekitar Bandung Utara

II. Kuat Geser Tanah

TANYA JAWAB SOAL-SOAL MEKANIKA TANAH DAN TEKNIK PONDASI. 1. Soal : sebutkan 3 bagian yang ada dalam tanah.? Jawab : butiran tanah, air, dan udara.

LAMPIRAN 1 HASIL PENGUJIAN TRIAKSIAL UNCOSOLIDATED UNDRAINED (UU)

Himpunan mineral, bahan organik, dan endapan-endapan yg relatif lepas (loose) yg terletak di atas batuan dasar (bedrock) Proses pelapukan batuan atau

DAFTAR ISI. TUGAS AKHIR... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PENGESAHAN PENDADARAN... iii. PERNYATAAN... iv. PERSEMBAHAN... v. MOTTO...

Kuat Geser Tanah. Mengapa mempelajari kekuatan tanah? Shear Strength of Soils. Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc.

Keywords: shear strenght, soil stabilization, subgrade, triaxial UU, unconfined compression.

ANALISIS STABILITAS TANAH TIMBUNAN DENGAN PERKUATAN SABUT KELAPA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kadar air menggunakan tanah terganggu (disturbed), dilakukan

INVESTIGASI SIFAT FISIS, KUAT GESER DAN NILAI CBR TANAH MIRI SEBAGAI PENGGANTI SUBGRADE JALAN ( Studi Kasus Tanah Miri, Sragen )

Soal Geomekanik Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi

PENGGUNAAN TANAH PUTIH TONGGO (FLORES) DENGAN ABU SEKAM PADI UNTUK STABILISASI TANAH DASAR BERLEMPUNG PADA RUAS JALAN NANGARORO AEGELA

BAB III METODE PENELITIAN

MODUL 4,5. Klasifikasi Tanah

ANALISA PENGGUNAAN TANAH KERIKIL TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG TANAH UNTUK LAPISAN KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN RAYA

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN 1 DIAGRAM PENGARUH R. E. FADUM (1948) UNTUK NAVFAC KASUS 1. Universitas Kristen Maranatha

KAJIAN EFEKTIFITAS SEMEN DAN FLY ASH DALAM STABILITAS TANAH LEMPUNG DENGAN UJI TRIAXIAL CU DAN APLIKASI PADA STABILISASI LERENG ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam dunia konstruksi, tanah menduduki peran yang sangat vital dalam

DAFTAR GAMBAR Nilai-nilai batas Atterberg untuk subkelompok tanah Batas Konsistensi... 16

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. penambangan batu bara dengan luas tanah sebesar hektar. Penelitian ini

KOMPOSISI TANAH. Komposisi Tanah 2/25/2017. Tanah terdiri dari dua atau tiga fase, yaitu: Butiran padat Air Udara MEKANIKA TANAH I

DAFTAR ISI. Agus Saputra,2014 PENGARUH ABU SEKAM PADI TERHADAP KARAKTERISTIK TANAH LUNAK

PENGGUNAAN LIMBAH BATU BATA SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH LEMPUNG DITINJAU DARI NILAI CBR. Hairulla

BAB IV HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM DAN ANALISA DATA

SOAL DIKERJAKAN DALAM 100 MENIT. TULIS NAMA, NPM & PARAF/TTD PADA LEMBAR SOAL LEMBAR SOAL DIKUMPULKAN BESERTA LEMBAR JAWABAN.

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23%

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

Korelasi antara Kuat Tekan Bebas dengan Kuat Tekan Geser langsung pada Tanah Lanau Disubstitusi dengan Pasir

PENGARUH PENAMBAHAN TANAH GADONG PADA STABILISASI TANAH LEMPUNG TANON DENGAN SEMEN (Studi Kasus Kerusakan Jalan Desa Jono, Tanon, Sragen)

ANALISA KONSOLIDASI DAN KESTABILAN LERENG BENDUNG KOSINGGOLAN

BAB I PENDAHULUAN. Penurunan pada konstruksi teknik sipil akibat proses konsolidasi tanah

KUAT GESER TANAH. Materi Kuliah : Mekanika Tanah I Oleh : Tri Sulistyowati

KAJIAN PENINGKATAN NILAI CBR MATERIAL LAPISAN PONDASI BAWAH AKIBAT PENAMBAHAN PASIR

BAB II TI JAUA PUSTAKA

Keaktifan lereng adalah proses perpindahan masa tanah atau batuan 1 1. PENDAHULUAN. Ha %

BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Stabilisasi Tanah 3.2. Analisis Ukuran Butiran 3.3. Batas-batas Atterberg

PENGARUH BEBAN DINAMIS DAN KADAR AIR TANAH TERHADAP STABILITAS LERENG PADA TANAH LEMPUNG BERPASIR

TUGAS AKHIR KAJIAN EFEKTIFITAS SEMEN DAN FLY ASH DALAM STABILITAS TANAH LEMPUNG DENGAN UJI TRIAXIAL CU DAN APLIKASI PADA STABILISASI LERENG

STUDI DAYA DUKUNG PONDASI TIANG TONGKAT BETON DENGAN TAPAK GRID

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mendesain bangunan geoteknik salah satunya konstruksi Basement, diperlukan

LABORATORIUM UJI BAHA JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

BAB III KOMPILASI DATA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Tanah memiliki peranan yang penting yaitu sebagai pondasi pendukung pada

STUDI SIFAT FISIK TANAH ORGANIK YANG DISTABILISASI MENGGUNAKAN CORNICE ADHESIVE. Iswan 1) Muhammad Jafri 1) Adi Lesmana Putra 2)

BAB III LANDASAN TEORI

KUAT GESER TANAH YULVI ZAIKA JURUSAN TEKNIK SIPIL FAK.TEKNIK UNIV. BRAWIJAYA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA TANAH PADA BUKAAN TEROWONGAN (Studi Kasus: Terowongan Kawasan Green Hill, Malendeng)

STUDI POTENSI TANAH TIMBUNAN SEBAGAI MATERIAL KONSTRUKSI TANGGUL PADA RUAS JALAN NEGARA LIWA - RANAU DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT. G.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

ANALISIS KESTABILAN LERENG METODE MORGENSTERN-PRICE (STUDI KASUS : DIAMOND HILL CITRALAND)

Transkripsi:

Pemeriksaan Kekuatan Dengan Menggunakan Perkuatan Geotextil (Studi Kasus: Kawasan Tingkulu) Juan Arden Lacando O. B. A. Sompie, Hendra Riogilang Universitas Sam Ratulangi Fakultas Teknik Jurusan Sipil Manado Email:juanlacando@gmail.com ABSTRAK adalah material dasar dalam pembangunan suatu konstruksi. Keadaan tanah yang kurang baik dapat berakibat kurang baik juga bagi konstruksi di atasnya. Salah satu perkuatan yang digunakan untuk menstabilkannya yaitu dengan menggunakan geotextil. Geotextil umumnya terdiri dari 2 jenis yaitu geotextil woven dan geotextil non woven. Fungsi dari geotextil yaitu sebagai filtrasi, drainase, proteksi, saparator, dan perkuatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui parameter tanah yang ada di kawasan Tingkulu untuk dibuat perkuatan dengan geotextil. Penelitian dilakukan dengan cara membandingkan tanah yang menggunakan perkuatan dan tanah yang tidak menggunakan perkuatan. Parameter tanah yang dipeoleh dari laboratorium dimodelkan kedalam program PLAXIS 2D v.8.2 untuk mendapatkan faktor keamanan (Msf), penurunan (Uy) dan pembebanan. Setelah itu dimodelkan lagi kedalam program PLAXIS 2D v.8.2 dengan mengunakan perkuatan geotextil. Dari pemodelan pada program PLAXIS 2D v.8.2 diperoleh bahwa semakin besar beban maka semakin kecil faktor keamanan (Msf) dengan nilai terkecil 0.995 pada beban terbesar 20 KN/m 2 dan semakin besar penurunan (Uy) dengan nilai terbesar 3.28 m pada beban terbesar 20 KN/m 2. Dengan menggunakan perkuatan geotextil faktor keamanan (Msf) menjadi meningkat dengan nilai terbesar.296 pada penempatan 6 m dan penurunan (Uy) menjadi kecil dengan nilai terkecil 0.078 m berada pada penempatan 6 m. Dari hasil penelitian yang dilakukan, penulis cukup puas dapat mengetahui perkuatan dengan geotextil mampu menambah daya dukung tanah di kawasan Tingkulu. Kata kunci : geotextil, Plaxis 2D v.8.2, Msf, Uy PENDAHULUAN Latar Belakang Kota Manado merupakan salah satu kota di Indonesia yang sedang berkembang, begitu juga jumlah bangunannya. Bangunan yang dibangun di atas tanah yang memiliki kondisi yang kurang baik saat memikul beban dapat berakibat kurang baik juga pada bangunannya. Kondisi tersebut sering menjadi suatu masalah yang banyak ditemui pada pembangunan suatu konstruksi teknik sipil. Kondisi tanah yang seperti ini biasanya mudah longsor dan tidak mampu memikul beban. Untuk membuat tanah mampu memikul beban, maka dilakukan berbagai cara untuk menstabilkannya, salah satu cara yaitu perkuatan dengan mengunakan geotextil. Geotextil adalah suatu bahan yang menyediakan stabilitas kekuatan tanah sampai suatu waktu dimana tanah lunak di bawah timbunan mengalami konsolidasi dan meningkatnya kekuatan geser tanah sampai mempunyai cukup kekuatan untuk menahan beban di atasnya. Secara umum geotextil adalah lembaran sintetis dari bahan polyester, nylon, polyetilen dan polipropilen. Ditinjau dari penggunaan geotextil sangat efisien baik ditinjau dari segi ekonomis, teknik pelaksanaannya maupun ditinjau dari fungsi konstruksinya. Dari segi ekonomis geotextil dapat mengurangi biaya konstruksi karena harganya yang murah dan mudah didapat. Kemudian ditinjau dari segi pengerjaannya sangat sederhana sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan. Sedangkan bila ditinjau dari fungsi konstruksinya geotextil bisa membuat bagian tanah menjadi tahan terhadap air, dapat mengontrol erosi dan dapat meningkatkan daya dukung tanah tersebut. Rumusan Masalah Beberapa tahun terakhir ini daerah tingkulu sering terjadi longsor. Pemerintah kota manado sudah mencoba membangun tembok penahan tanah tapi mesih juga tetap terjadi longsor. Oleh karena itu penulis mencoba mengambil studi kasus di daerah ini untuk mengetahui kekuatan tanah dan perkuatan yang dapat di gunakan. Berdasarkan uraian diatas maka perlu diketahui perkuatan dengan menggunakan geotextil mampu meminimalisir terjadinya penurunan yang berlabihan baik karnan penurunan segera maupun penurunan konsolidasi. Perkuatan tanah dengan geotextil didefinisikan sebagai suatu inklusi (pemasukan/ penggabungan) elemen penahan ke dalam massa tanah yang bertujuan untuk menaikkan perilaku mekanis massa tanah. Perkuatan ini telah banyak dipakai karena secara teknis menarik dan efektif dalam pemakaian biaya. TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 43

Batasan Masalah Skripsi ini dibatasi pada: Jenis tanah: Lempung Lempung berpasir Geotextil yang di gunakanadalah PET WOVEN GEOTEXTIL. Dilakukan pemeriksaan sifat-sifat tanah dan parameter tanah. Tujuan Penulisan Tujuan dari penelitian ini adalah : Menganalisis data dan parameter tanah yang diambil dari lokasi untuk diuji kelayakannya. Mengetahui kekuatan tanah sebelum dan setelah mengunakan perkuatan geotextil. Manfaat Penulisan Dengan adanya penelitian ini dapat diperoleh manfaat antara lain: Bahan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kususnya dalam bidang geoteknik yang ada hubungan dengan perkuatan tanah. Bahan masukan bagi perencana dalam membangun daerah Tingkulu. Bahan perbandingan dengan metode lain. LANDASAN TEORI Pengertian adalah material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong di dalam partikelpartikel padat tersebut (Braja M. Das 998). Gambar. Tiga fase elemen tanah Vs = Volume butiran padat Vv = Volume pori Vw = Volume air di dalam pori Va = Volume udara Angka pori : e = () Porositas : n= (2) Porositas : S= (3) e= = (4) n= (5) Kadar air : ω = (6) Berat volume : = (7) Berat spesifik : Gs= (8) Klasifikasi USCS (Unified soil classification system) Sistem klasifikasi tanah yang paling terkenal di kalangan para ahli teknik tanah dan pondasi adalah klasifikasi sistem UNIFIED. Sistem UNIFIED membagi tanah ke dalam dua kelompok utama:. berbutir kasar adalah tanah yang lebih dari 50% bahannya tertahan pada ayakan No. 200. butir kasar terbagi atas kerikil dengan symbol G (gravel), dan pasir dengan simbol S (sand). 2. butir halus adalah tanah yang lebih dari 50% bahannya lewat pada saringan No. 200. butir halus terbagi atas lanau dengan simbol M (silt), lempung dengan simbol C (clay), serta lanau dan lempung organic dengan symbol O, bergantung pada tanah itu terletak pada grafik plastisitas. Tanda L untuk plastisitas rendah dan tanda H untuk plastisitas tinggi. Geotextil Geotextil merupakan bagian dari geosintetik yang berupa bahan sintetis menyerupai bahan tekstil berupa lembaran serat buatan (syntetic fibers) tenunan antiultraviolet yang dibuat untuk menanggulangi masalah pembuatan jalan, timbunan, tanah pondasi dan sebagainya pada tanah lunak atau pasir lepas. Geotextil dibagi menjadi dua macam yaitu: Geotextile woven. Geotextile non woven. TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 44

Geotextil mempunyai 4 fungsi utama yaitu: a. Filtrasi dan drainase. b. Proteksi (erotion control). c. Separator. d. Perkuatan (reinforcement). Konsolidasi Jika suatu lapisan tanah jenuh air diberi beban maka tekanan air pori akan naik secara mendadak. Pada tanah berpasir yang tembus air (permeable), air dapat mengalir dengan cepat sebagai akibat dari kenaikan tekanan air pori sehingga pengaliran air pori keluar dapat selesai dengan cepat. Keluarnya air dari dalam pori selalu disertai dengan berkurangnya volume tanah, berkurangnya volume tanah dapat menyebabkan penurunan lapisan tanah. Maka penurunan segera dan penurunan konsolidasi terjadi bersamaan. Pengujian konsolidasi satu dimensi (one dimensional consolidation) biasanya dilakukan di laboratorium dengan alat oedometer atau konsolidometer. Gambar skematik alat ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 2. Skema Alat Pengujian Konsolidasi Contoh tanah yang mewakili elemen tanah yang mudah mampat pada lapisan yang diselidiki, dimasukkan secara hati-hati kedalam cincin besi. Bagian atas dan bawah dari benda uji dibatasi oleh batu pori (porous stone). Beban P diberikan pada benda uji tersebut,dan penurunannya diukur dengan arloji pembacaan. Penelitian oleh Leonard (962) menunjukan bahwa hasil terbaik diperoleh jika penambahan tegangan adalah 2 kali tegangan sebelumnya, dengan urutan 0.25 ; 0.5 ; ; 2 ; 4 ; 8 ; 6 ; 32 kg/cm 2 untuk tiap penambahan tegangan, deformasi dan waktunya dicatat. Pada konsolidasi satu dimensi, perubahan tinggi (ΔH) persatuan dari tinggi awal (H) adalah sama dengan perubahan volume (ΔV) persatuan volume awal (V), atau : = (9) Bila volume padat Vs = dan angka pori e 0, maka kedudukan akhir dari proses konsolidasi dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 3. Fase Konsolidasi (a) sebelum Konsolidasi (b) sesudah konsolidasi Volume padat besarnya tetap, angka pori berkurang sebesar Δe. Dari gambar dapat diperoleh persamaan :ΔH = H (0) Pengujian Kuat Geser dengan Triaksial Sampel berselubung karet dimasukan dalam tabung kaca, ruang dalam tabung kaca diisi air, benda uji ditekan dengan tekanan sel (σ3) yang berasal dari tekanan cairan dalam tabung. Untuk menghasilkan kegagalan geser pada benda uji, tekanan aksial dikerjakan melalui bagian atas benda uji sampai benda uji runtuh. Besarnya tekanan aksial yang diberikan dicatat (Δσ).. Tegangan Δσ = σ σ3 disebut tegangan deviator. Regangan aksial diukur selama penerapan tegangan deviator. Akibat penambahan regangan akan menambah penampang melintang benda uji. Karenanya koreksi penampang benda uji dalam menghitung tegangan deviator harus dilakukan. Gambar 4.Skema Umum Alat Uji Tekan Triaksial Uji triaksial dapat dilaksanakan dengan tiga cara ; ) Unconsolidated undrained (UU). 2) Consolidated undrained(cu). 3) Consolidated drained (CD). Percobaan dilakukan dengan menggunakan triaksial jenis Unconsolidated Undrained Test (UU). TeoriMohr-Coulomb Pengetahuan mengenai perilaku tanah untuk melakukan analisis dan desain yang akurat dalam geoteknik sangat penting. Perilaku tanah yang kompleks perlu diformulasikan dalam bentuk model tanah yang mempresentasikan hubungan tegangantegangan tanah yang ada pada gambar berikut. TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 45

Gambar 5. Kurva kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb Kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb ditunjukan oleh garis lurus yang dikenal dengan Mohr-Coulomb failure envelope. Garis ini menunjukan batas kondisi stabil dari keruntuhan. Regangan yang berada di bawah garis adalah keadaan stabil. Sedangkan keruntuhan terjadi ketika tegangan menyentuh atau melewati garis keruntuhan Mohr-Coulomb. τ = c + tan υ () Dimana : τ = Kuat Geser c = Kohesi = Tegangan Normal Pada Bidang Tinjauan Tan υ = Koefisien Gesek antar Partikel υ = Sudut geser Dalam Untuk menentukan kemiringan bidang keruntuhan dengan bidang utama besar (major principal plane), lihat gambar dibawah ini Untuk harga σ 3 dan c tertentu, kondisi runtuh akan ditentukan oleh harga minimum dari tegangan utama besar σ. Bila harga σ adalah minimum, maka harga ( ) pada persamaan 4 haruslah maksimum. Jadi, Cos 2 θ sin 2 θ + 2sinθcosθtanØ = 0 (5) Persamaan (2.6) memberikan hubungan baru : θ = 45 + (6) Bila persamaan (2.7) dimasukan kedalam persamaan (2.5) akan diperoleh : σ + σ3 tan2 (45 + ) + 2c tan (45 + ) (7) METODE PENELITIAN. StudiLiteratur Studi literatur dilakukan terlebih dahulu Sebelum mengadakan penelitian di laboratorium. literatur yang dipakai merupaka referensi teori mekanika tanah baik sifat-sifat fisis maupun geoteknis tanah. 2. Penelitian Di Laboratorium Untuk mencari solusi penelitian, maka dilakukan pengujian-pengujian laboratorium. Dalam melakukan penelitian di perlukan beberapa data tanah sebagai sarana untuk mencapai maksud dan tujuan penelitian. Data yang di perlukan yaitu data tanah di lapangan dan data tanah yang di dapat dari penelitian di laboratoriumy aitu : Pemeriksaan Kadar Air. Pemeriksaan Berat Spesifik. Pemeriksaan Batas Cair. Pemeriksaan Batas Plastis dan Indeks Plastis. Pemeriksaan Distribusi Ukuran Butiran. Pemadatan. Pengujian Konsolidasi. Pengujian Triaksial pada Kondisi UU Unconsolidated Undrained. Gambar 6. Kemiringan Bidang Keruntuhan Bila bidang keruntuhan membentuk sudut θ dengan bidang utama akan diperoleh harga tegangan normal dan tegangan geser yang bekerja pada bidang tersebut dan dinyatakan dalam persamaan : σ = + cos 2θ (2) dan τf = sin 2θ (3) dengan mensubstitusikan kedua persamaan di atas kedalam persamaan (2.4) akan diperoleh : σ = σ 3 + (4) TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 46

Bagan Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik MULAI Pengambilan Sampel (Sampel Di Ambil Dari Lokasi Penelitian Dengan Kedalaman maksimal m) Rangkuman Hasil Pengujian Karakteristik Karakteristik Kawasan tingkulu Batas cair (LL) 57% Batas Plastis (PL) 34.38% Indeks plastis (PI) 22.63 Berat jenis (Gs) 2.522 Lolos saringan no 200 64.04% Pemeriksaan Di Laboratorium (Kadar air, Analisa saringan, Berat jenis, Batas dan index plastis, Pemadatan, konsolidasi dan tes triaksial) Pengolahan data Klasifikasi 22.6 57 Pemodelan dengan program plaxis 2D v.8.2 Pengolahan Data Klasifikasi tanah USCS (Unified soil classification system Klasifikasi tanah USCS (Unified soil classification system) Hasil Pembahasan Kesimpulan Dan Saran SELESAI Gambar 7. Bagan alir penelitian Setelah dilakukan klasifikasi terhadap tanah, maka jenis tanah yang di teliti memiliki klasifikasi OH (lempung organik atau lanau organik dengan plastisitas sedang sampai tinggi). TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 47

Uy (m) Msf Pengumpulan Data Hasil pengumpulan data dirangkum pada tabel berikut ini : Rangkuman Data Parameter Satuan Asli Timbunan (Wopt = 32.5%) Berat vol.bash (γsat) ( kn/m 3 ) 6.55 6.5 Berat vol. kn/m 3 0.85 0.78 kering (γunsat) Angka pori (e) -.324.3390 Permeabilitas m/hr 0.00 0.00 (k) Modulus Young (E) kn/m 2 30000 30000 Poisson Ratio - 0.3 0.3 (v) Kohesi (C) kn/m 2 2.2 25.8 Sudut Geser º 6.4 5. Dalam (φ) Pemodelan Dengan Menggunakan Program Plaxis V.8.2 Variasi Muka Air ( lapangan) Diketahui : Tinggi Lapangan = 0 m Kemiringan = 60 o Tinggi Muka Air Dimodelkan = 3m MAT Lapangan Gambar 9. Variasi Pembebanan ( lapangan) Dari hasil running simulasi dengan menggunakan program plaxis v.8.2 untuk contoh pemodelan ini di dapat hubungan antara beban, factor keamanan dan penurunan (tanah lapangan). Yang dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini. Hubungan antara Beban, Faktor Keamanan dan Penurunan pada Muka Air 3 m ( Lapangan).05.04.03.02.0 0.99 5;.038 0;.006 5; 0.996 20; 0.995 0 0 20 30 Beban Lapanaga Msf Uy (m) 5.038 0.0036 0.006 0.02544 5 0.996 0.6 20 0.995 3.28 Hubungan antara Beban dan Faktor Keamanan Untuk Lapangan Gambar 8 Muka air tanah ( lapangan) Dari grafik dapat di lihat bahwa semakin besar beban maka semakin kecil faktor keamanannya. Variasi Pembebanan ( lapangan) Dari hasil hubungan muka air tanah, faktor keamanan dan penurunan maka di ambil satu patokan penurunan terbesar yaitu pada muka air tanah 3 m lalu dibuat hubungan antara pembebanan, faktor keamanan dan penurunan. 4 3 2 0 5; 0.0036 0; 0.02544 20; 3.28 5; 0.6 0 0 20 30 Hubungan antara Beban dan Penurunan Untuk Lapangan TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 48

Msf Msf Uy (m) Dari grafik dapat di lihat bahwa semakin besar beban maka semakin besar juga penurunannya. Variasi Geotextil ( Terganggu Wopt = 32.5%) Pemodelan Perbaikan Dengan Geotextil Dari hasil hubungan pembebanan, faktor keamanan dan penurunan maka di ambil penurunan terbesar 3.28m pada beban 20 kn/m 2 dengan muka air tanah 3m lalu dibuat perbaikan dengan geotextil. (Geotextil yang di gunakan adalah PET Woven Geotextil dengan kuat Tarik (EA) = 000 kn/m di peroleh dari katalog Geotechnical Systemindo (GSi) 204). Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai tertinggi berada pada penempatan 6m dengan faktor keamanan.296 sedangkan terendah berada pada penempatan 3m dengan faktor keamanan.027. 0.02 0.095 0.09 0.085 0.08 0.075 0.07 3; 0.094 2; 9; 0.0785 6; 0.072 0.072 0 5 0 5 Geotextil (m) Geotextil Gambar 0 Pemodelan variasi geotextil ( terganggu Wopt = 32.5%) Dari hasil running simulasi dengan menggunakan program plaxis v.8.2 untuk contoh pemodelan di dapat hubungan antara geotextil, factor keamanan dan penurunan (tanah Wopt). Yang dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini. Hubungan antara Geotextil, Faktor Keamanan dan Penurunan ( Terganggu pemodelan ) Geotextil (m) Msf Uy (m) 3.027 0.094 6.296 0.072 9.229 0.072 2.9 0.0785.4.3.2. Beban 6;.296 9;.229 2;.9 3;.027 0 5 0 5 Geotextil (m) Wopt 32.5% Lapangan Hubungan antara Geotextil dan Faktor Keamanan Untuk Terganggu pemodelan Hubungan antara Geotextil dan Penurunan Untuk Terganggu pemodelan Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai tertinggi berada pada penempatan 3m dengan penurunan sebesar 0.094m sedangkan terendah berada pada penempatan 6m dan 9m dengan penurunan sebesar 0.078m. Penambahan beban pada pemodelan Dari hasil hubungan penempatan geotextil, faktor keamanan dan penurunan maka di ambil faktor keamanan yang tertinggi dan penurunan terendah untuk di buat beban tambahan untuk di lihat sampai dimana tanah mampu menahan beban yang di berikan. Hubungan antara beban, Faktor Keamanan dan Penurunan pada penempatan geotextil 6m dan Muka Air 3m ( Terganggu pemodelan ) Msf Uy (m) 25.22 0.0309 30.53 0.2225 35.098 0.32336 40.04 0.64469 45 0.998.3 25;.22 30;.53 35;.098 40;.04 0.9 45; 0.998 20 30 40 50 Hubungan antara Beban dan Faktor Keamanan Untuk Terganggu pemodelan TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 49.3.2.

Uy (m) Uy (m) Msf Dari grafik dapat dilihat bahwa semakin besar beban maka semakin kecil faktor keamanannya..5 0.5 40; 35; 0.64469 25; 30; 0.32336 0.0309 0.2225 45;.3 0 20 30 40 50 Hubungan antara Beban dan Penurunan Untuk Terganggu pemodelan Dari grafik dapat di lihat bahwa semakin besar beban maka semakin besar juga penurunannya. Pemodelan 2 Perbaikan Dengan Geotextil Dari hasil hubungan Pembebanan, Faktor Keamanan dan Penurunan maka di ambil penurunan terbesar 3.28m pada Beban 20 KN/m 2 dengan muka air tanah 3m, lalu dibuat pemodelan lain dengan kemiringan 30 o. (Geotextil yang di gunakan adalah PET Woven Geotextil dengan EA = 000 kn/m di peroleh dari katalog Geotechnical Systemindo (GSi) 204). Beban Wopt 32.5% Geotextil Lapangan Gambar Pemodelan 2 variasi geotextile ( terganggu Wopt = 32.5%) Dari hasil running simulasi dengan menggunakan program plaxis v.8.2 untuk contoh pemodelan 2 di dapat hubungan antara geotextil, factor keamanan dan penurunan (tanah Wopt). Yang dapat dilihat pada tabel dan grafikdibawahini. Hubungan antara Geotextil, Faktor Keamanan dan Penurunan ( Terganggu pemodelan 2) Geotextil (m) Msf Uy (m) 3.70 0.067 6.9 0.064 9.853 0.067 2.64 0.066 2.9.8.7.6 3;.70 6;.9 9;.853 2;.64 0 5 0 5 Hubungan antara Geotextil dan Faktor keamanan Untuk Terganggu pemodelan 2 Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai tertinggi berada pada penempatan 6m dengan faktor keamanan.9 sedangkan terendah berada pada penempatan 2m dengan faktor keamanan.64. 0.068 0.067 0.066 0.065 0.064 0.063 Geotextil (m) 3; 0.067 6; 0.064 9; 0.067 2; 0.066 0 5 0 5 Geotextil (m) Hubungan antara Geotextil dan Penurunan Untuk Terganggu pemodelan 2 Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai tertinggi berada pada penempatan 3m dan 9m dengan penurunan sebesar 0.067m sedangkan terendah berada pada penempatan 6m dengan penurunan sebesar 0.064m. Penambahan beban pada pemodelan 2 Dari hasil hubungan penempatan geotextil, faktor keamanan dan penurunan maka di ambil faktor keamanan yang terintinggi dan penurunan terendah untuk di buat beban tambahan dan di lihat sampai dimana tanah mampu menahan beban yang di berikan. Hubungan antara beban, Faktor Keamanan dan Penurunan pada penempatan geotextil 6m dan Muka Air 3m ( Terganggu pemodelan 2) Msf Uy (m) 40.56 0.0246 60.35 0.04068 80.26 0.3926 00.082 2.6 TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 50

Uy (m) Msf.6 40;.56.4.2 60;.35 80;.26 00;.082 35 55 75 95 5 Hubungan antara Beban dan Faktor Keamanan Untuk Terganggu pemodelan 2 Dari grafik dapat dilihat bahwa semakin besar beban maka semakin kecil faktor keamanannya 2.5 2.5 0.5 40; 0.0246 60; 0.04068 80; 0.3926 00; 2.6 0 30 50 70 90 0 Hubungan antara Beban dan Penurunan Untuk Terganggu pemodelan 2 Dari grafik dapat dilihat bahwa semakin besar beban maka semakin besar juga penurunannya. PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa. Semakin besar beban maka semakin kecil faktor keamanan (Msf). Dengan faktor keamanan terbesar.038 pada beban 5 KN/m 2 dan terkecil 0.995 pada beban 20 KN/m 2. Sedangkan semakin besar beban maka semakin besar penurunan (Uy) dengan penurunan terbesar 3.28 m pada beban 20 KN/m 2 dan terkecil 0.0036m pada beban 5 KN/m 2. 2. Dengan menggunakan perkuatan geotextil faktor keamanan (Msf) menjadi meningkat dengan nilai tertinggi.296 pada penempatan 6 m sedangkan terkecil.027 berada pada penempatan 3 m dan penurunan (Uy) menjadi kecil dengan nilai terbesar 0.094m berada pada penempatan 3 m sedangkan terkecil 0.078 m berada pada penempatan 6 m dan 9 m. 3. lapangan dapat memikul beban sampai dengan 20 KN/m2. Dengan menggunakan perkuatan geotextile (PET Woven Geotextil) tanah mampu memikul beban sampai dengan 40 KN/m 2. 4. Perubahan kemiringan dari 60 o menjadi 30 o pada tanah timbunan dengan perkuatan geotextil dapat membuat tanah mampu memikul beban sampai dengan 00 KN/m 2. Saran. Perlu dilakukan uji triaksial dengan cara Consolidated drained (CD) untuk membandingkan kohesi (C) dan sudut geser dalam (υ) dengan hasil yang diperoleh dari pengujian triaksial Unconsolidated undrained (UU) yang telah diteliti terlebih dahulu. 2. Hasil penelitian di atas hanya dapat digunakan pada tanah di sekitar kawasan tingkulu. 3. Karena lokasi penelitian memiliki kondisi tanah yang kurang baik maka dianjurkan harus di lakukan perbaikan tanah. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, A. F., 200. Stabilitas lereng dengan mengunakan bahan perkuatan geotextil. Manado Das. Braja. M. 993, Mekanika, Jilid, Penerbit Erlangga, Jakarta. Das Braja. M. 995, Mekanika, jilid 2, Penerbit Erlangga, Jakarta Dirjen Bina Marga. 2009. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perkuatan Dengan Geosintetik. Jakarta Geosinindo. 203. http://geotextile-supplier.blogspot.com, diakses Mei 204 Ganda, I., Roesyanto., Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Perkuatan Geogrid. Medan Igam Amru., 204. Pengaruh Variasi Jarak Pondasi Dan Panjang Geotextil Dengan Jarak Vertikal Antarlapis Perkuatan 9,cm Terhadap Daya Dukung Pondasi Pada Pemodelan Fisik Lereng Pasir Kepadatan 74%. Malang Prof. Noriyuki Yasufuku. 200. Bahan ajar. Jepang Zaika Yulvi., 200. Penggunaan Geotextil Sebagai Alternatif Perbaikan Terhadap Penurunan Pondasi Dangkal. Malang TEKNO Vol.3/No.63/Agustus 205 5