BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI Analytial Hierarchy Process (AHP) Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA. perumahan yang terletak di jalan Kedungwringin Patikraja, Griya Satria Bukit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. AHP dan Promethee. Bahasa pemrograman yang digunakan Microsoft Visual

Bab II Analytic Hierarchy Process

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional

Sesi XIII AHP (Analytical Hierarchy Process)

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.

BAB III MENENTUKAN PRIORITAS DALAM AHP. Wharton School of Business University of Pennsylvania pada sekitar tahun 1970-an

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

JURNAL SITEM REKOMENDASI PEMILIHAN BIBIT SAPI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN TOPSIS ELECTRORAL SYSTEM RECOMMENDATIONS COW USING AHP AND TOPSIS METHOD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto. Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN DENGAN METODE ANALY TICAL HIERARCHY P ROCESS (AHP) Jefri Leo, Ester Nababan, Parapat Gultom

ANALISIS PENENTUAN RATING RISIKO PROYEK PT. XYZ METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROSES (AHP)

Kuliah 11. Metode Analytical Hierarchy Process. Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi. Sofian Effendi dan Marlan Hutahaean 30/05/2016

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI Pengertian Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teori umum

ANALISIS SENSITIVITAS DAN PENGARUHNYA TERHADAP URUTAN PRIORITAS DALAM METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) SKRIPSI MINDO MORA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

APLIKASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN SISWA TELADAN

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

APLIKASI ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PEMILIHAN SOFTWARE MANAJEMEN PROYEK

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

III. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

VEKTOR PRIORITAS DALAM ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DENGAN METODE NILAI EIGEN

Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Jurusan Siswa-Siswi SMA (IPA/IPS/BAHASA) Menggunakan Metode AHP (Studi Kasus SMA di Kota Padang).

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian dalam tugas akhir ini adalah Pengukuran Kinerja Sistem

PEMERINGKATAN PEGAWAI BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS) DI PT. XYZ

Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Perhitungan Contoh Kasus AHP

ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI PEMILIHAN JENIS BEASISWA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (STUDI KASUS: BEASISWA UKRIDA)

PENERAPAN METODE AHP DAN TOPSIS SEBAGAI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN KENAIKAN JABATAN BAGI KARYAWAN

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

Pengertian Metode AHP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

UJI ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS SEBAGAI SISTEM PENGAMBIL KEPUTUSAN TEMPAT TINGGAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

NILAI EIGEN DAN VEKTOR EIGEN disebut vektor eigen dari matriks A =

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan

JURNAL LENTERA ICT Vol.3 No.1, Mei 2016 / ISSN

PENDEKATAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN SUPPLIER (PEMASOK) SKRIPSI RIMBUN D.R. SIAHAAN

PENENTUAN DALAM PEMILIHAN JASA PENGIRIMAN BARANG TRANSAKSI E-COMMERCE ONLINE

PEMILIHAN GURU BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN TOPSIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

JURNAL. SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KENAIKAN JABATAN PADA PT BANK CENTRAL ASIA Tbk. (BCA) MENGGUNAKAN METODE ANALITYC HEARARCHY PROCESS

Fasilitas Penempatan Vektor Eigen (yang dinormalkan ) Gaji 0,648 0,571 0,727 0,471 0,604 Jenjang 0,108 0,095 0,061 0,118 0,096

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

ANALISIS FAKTOR PEMILIHAN APLIKASI CHATTING PARA PENGGUNA SMARTPHONE ANDROID DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

PENGGUNAAN METODE AHP DAN TOPSIS DALAM PENENTUAN PENGAMBILAN SAMPEL UJI PETIK DALAM PELAKSANAAN PEMERIKSAAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

Lampiran 1 - Analytic Hierarchy Process (AHP)

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli

Prinsip-Prinsip Dasar Analytical Hierarchy Process. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Abstrak

ANALISIS KRITERIA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA BELAJAR BAGI GURU MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB II LANDASAN TEORI. negara, atau instansi. Sedangkan transportasi adalah pengangkutan atau

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

BAB III METODE PENELITIAN

Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Supplier Terbaik dengan Metode AHP Pada AMALIUN FOODCOURT

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Definisi Model. Representasi sistem atau masalah berdasarkan model dapat dilakukan dengan berbagai macam tingkat abstraksi.

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

MODEL ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PRIORITAS ALOKASI PRODUK

LAPORAN PENELITIAN. Oleh : Pandi Pardian, ST., MBA

Seleksi Material Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Dan Pugh Gabriel Sianturi

Pertemuan 9 (AHP) - Mochammad Eko S, S.T

Techno.COM, Vol. 12, No. 4, November 2013:

BAB III METODE PENELITIAN

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas

BAB III ANP DAN TOPSIS

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Karyawan Terbaik Menggunakan Metode AHP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) Sumber kerumitan masalah keputusan bukan hanya dikarenakan faktor ketidakpasatian atau ketidaksempurnaan informasi saja. Namun masih terdapat penyebab lainnya seperti banyaknya faktor yang mempengaruhi terhadap pilihanpilihan yang ada, dengan berbagai macam kriteria. Dalam masalah Multi Criteria Decision Making (MCDM), pengambil keputusan menilai sekumpulan alternatif keputusan berdasarkan kriteria. Salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk menyelesaikan persoalan MCDM ini adalah dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) (Saaty, 1991). Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran yang digunakan untuk menemukan skala rasio terbaik dari perbandingan berpasangan yang diskrit maupun kontiniu. AHP sangat cocok dan flexibel digunakan untuk menentukan keputusan yang menolong seorang decision maker untuk mengambil keputusan yang efisien dan efektif berdasarkan segala aspek yang dimilikinya. Jenis-jenis AHP antara lain (Bound dalam Setiawan, 2009:4): Single-criteria adalah memilih salah satu alternatif dengan satu kriteria. Multi-criteria adalah pengambilan keputusan yang melibatkan beberapa alternatif dengan lebih dari satu kriteria dan memilih satu alternatif dengan banyak kriteria.

2.1.1 Landasan Aksiomatik AHP memiliki landasan aksiomatik yang terdiri dari : 1. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan. Misalnya, jika A adalah k kali lebih penting dari pada B maka B adalah 1/k kali lebih penting dari A. 2. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam hal berat. 3. Dependence, yang berarti setiap level mempunyai kaitan (complete hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete hierarchy). 4. Expectation, yang berarti menonjolkon penilaian yang bersifat ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. 2.1.2 Prinsip-Prinsip dasar AHP Dalam menyelesaikan persoalan dengan Metode AHP, ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami (Mulyono, 2004:335-337) : 1. Decomposition Prinsip ini merupakan pemecahan persoalan-persoalan yang utuh menjadi unsurunsurnya ke bentuk hirarki proses pengambilan keputusan dimana setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur-unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan yang lebih lanjut sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan yang ada. Struktur hirarki keputusan tersebut dapat dikatakan complete dan incomplete. Suatu hirarki disebut complete bila semua elemen pada suatu

tingkat berhubungan dengan semua elemen pada tingkat berikutnya, sementara hirarki keputusan incomplete adalah kebalikan dari complete. Bentuk struktur dekomposisi yakni : Tingkat pertama : Tujuan keputusan (goal) Tingkat kedua : Kriteria-kriteria Tingkat ketiga : Alternatif-alternatif Tujuan (GOAL) Kriteria 1 Kriteria 2...... Kriteria i Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif j Gambar 2.1 Hirarki keputusan dari AHP 2. Comparative judgement Prinsip ini memberikan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat yang di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari penggunaan metode AHP. Penilaian ini dapat disajikan dalam bentuk matriks yang disebut matriks pairwise comparison yaitu matriks perbandingan berpasangan yang memuat tingkat preferensi beberapa alternatif untuk kriteria. Skala preferensi dengan skala 1 menunjukan tingkat paling rendah sampai dengan skala 9 tingkatan paling tinggi. Untuk skala perbandingan berpasangan disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 2.1 Skala Perbandingan Berpasangan Intensitas Kepentingan Defenisi 1 Sama pentingnya dibanding dengan yang lain 3 Moderat pentingnya dibanding yang lain 5 Kuat pentingnya dibanding yang lain 7 Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain 9 Ekstrim pentingnya dibanding yang lain 2, 4, 6, 8 Nilai diantara dua penilaian yang berdekatan Jika elemen i memiliki salah satu angka di atas Reciprocal dibandingkan elemen j, maka j memiliki nilai kebalikannya ketika dibanding dengan i Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma reciprocal artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting dibanding j, maka elemen j harus sama dengan 1 3 kali pentingnya dibanding elemen i. Di samping itu, bila dua elemen dibandingkan menghasilkan angka 1 berarti sama penting. 3. Synthesis of priority Pada prinsip ini menyajikan matriks pairwise comparison yang kemudian dicari eigen vektornya untuk mendapatkan local priority. Karena matriks pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priorty dapat dilakukan sintesa diantara local priority. 4. Logical consistency Merupakan karakteristik yang paling penting. Hal ini dapat dicapai dengan mengagresikan seluruh vektor eigen yang diperoleh dari tingkatan hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vektor composite tertimbang yang menghasilkan urutan pengambilan keputusan.

2.1.3 Tahapan-tahapan AHP Tahapan-tahapan pengambilan keputusan dengan Metode AHP adalah sebagai berikut: 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan kriteria-kriteria, sub kriteria dan alternatif-alternatif pilihan yang ingin diurutkan. 3. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. 4. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom. 5. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten pengambil data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen vector yang dimaksud adalah nilai eigen vector maximum yang diperoleh dengan menggunakan matlab maupun manual. 6. Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan. 8. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR<0,100 maka penilaian harus diulang kembali.

2.2 Menetapkan Prioritas Dalam menetapkan prioritas dilakukan dengan menyusun perbandingan berpasangan yaitu membandingkan seluruh elemen untuk setiap hirarki Apabila dalam suatu subsistem operasi terdapat n elemen operasi yaitu A 1, A 2,,A n maka hasil perbandingan dari elemen-elemen operasi tersebut akan membentuk matriks A berukuran n n sebagai berikut: Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan A 1 A 2 A n A 1 a 11 a 12 a 1n A 2 a 21 a 12 a 2n A n a n1 a n2 a mn Matriks A n n merupakan matriks reciprocal, yang diasumsikan terdapat n elemen yaitu,,..., yang membentuk perbandingan. Nilai perbandingan secara berpasangan antara w i,w j dipresentasikan dalam sebuah matriks w i, w j = a ij dengan ij = 1, 2, 3,,n sedangkan nilai a ij merupakan nilai matriks hasil perbandingan yang mencerminkan nilai kepentingan A i terhadap A j bersangkutan sehingga diperoleh matriks yang dinormalisasi. Nilai a ij = 1, untuk i = j (diagonal matrik memiliki nilai 1), atau apabila antara elemen operasi Ai dengan Aj memiliki tingkat kepentingan yang sama maka nilai a ij = a ji = 1. Bila vektor pembobotan elemen-elemen operasi dinyatakan dengan W, dengan W = (,,, ), maka intensitas kepentingan elemen operasi A 1 terhadap A 2 adalah = a 12, sehingga matriks perbandingan berpasangan dapat dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 2.3 Matriks Perbandingan Intensitas Kepentingan Elemen Operasi A 1 A 2 A n A 1 A 2 A n Berdasarkan matriks perbandingan berpasangan maka dilakukan normalisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Bobot setiap kolom j dijumlahkan, total nilai kolom dilambangkan dengan S ij. S ij = n a ij i=1 2. Nilai setiap kolom dibagi dengan total nilai kolomnya. Hasil dari pembagian itu dilambangkan dengan V ij. V ij = a ij s ij ij = 1,2,3,, n 3. Selanjutnya dengan menghitung vektor prioritas relatif dari setiap kriteria dengan merata-ratakan bobot yang sudah dinormalisasi dengan baris ke-i Prioritas kriteria ke-i dilambangkan dengan Pi. P i = n i=1 Q i n

2.3 Menentukan Eigenvalue dan Eigenvektor Untuk setiap perbandingan antara kriteria-kriteria yang berada dalam satu tingkatan dengan tujuan untuk mengetahui kriteria mana yang paling disukai atau yang penting maka dapat disajikan dalam sebuah matriks perbandingan dalam setiap level atau tingkatan. Nilai eigenvektor merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan. Untuk mengetahui pembahasan lebih lengkap tentang eigenvektor dan eigenvalue maka akan diberikan definisi-definisi sebagai berikut : 1) Matriks Matriks ialah susunan berbentuk empat persegi panjang dari elemen-elemen (bilangan) yang terdiri dari beberapa baris dan kolom dibatasi dengan tanda kurung, seperti berikut : Dimana (a ij ), i,j = 1,2,3,...,n a 11 a 12 a 13 a 1n a 21 a 22 a 23 a 2n a m1 a m2 a m3 a mn Matriks di atas disebut matriks tingkat mxn, yang terdiri dari m baris dan n kolom. Setiap a ij disebut elemen atau unsur dari matriks itu, sedang indeks i dan j berturut-turut menyatakan baris dan kolom. Pasangan bilangan (m,n) disebut dimensi (ukuran dan bentuk) dari matriks itu. 2) Vektor n dimensi atau R n Secara matematis suatu vektor ditentukan ujung vektornya yang dinyatakan dengan bilangan riil(a,b) dalam ruang dua. Secara umum pengertian ini dapat diperluas dalam ruang n, (n bilangan positif) atau R n. Jadi suatu vektor dalam R n dinyatakan dengan baris-n riil (a 1,a 2,a 3,...,a n ). Koordinat barisan-n bilangan ini berturut-turut disebut dengan koordinat pertama, kedua sampai koordinat ke-n yang semuanya disebut dengan komponen-komponen vektor itu. Jika barisan ini berupa bilangan komples maka ruang disebut ruang kompleks berdimensi n atau C n. Suatu himpunan dari barisan-n bilangan riil yang dinyatakan dengan R n disebut ruangan berdimensi n. Suatu vektor di R n ditulis

dengan x = x 1, x 2,, x n dimana bilangan-bilangan riil x i, i = 1,2,3,...,n disebut komponen-komponen dari vektor. 3) Eigenvektor dan Eigenvalue Definisi : Jika A adalah matriks mxn, maka vektor tak nol x di dalam R n dinamakan vector eigen dari A jika Ax adalah kelipatan skalar dari x ; yakni Ax = λx Untuk suatu skalar λ dinamakan nilai eigen (eigenvalue) dari A dan x dikatakan vektor eigen yang bersesuaian dengan λ. Untuk mencari nilai eigen dari matriks A yang berukuran nxn maka dituliskan kembali Ax=λx sebagai Ax= λx atau secara ekivalen λi A x = 0 Supaya λ menjadi nilai eigen, maka harus ada pemecahan tak nol jika dan hanya jika det λi A = 0 Ini dinamakan persamaan karakteristik A; skalar yang memenuhi persamaan ini adalah nilai dari eigen A. 4) Interpretasi Geometrik dari vektor Eigen Definisi : T R n R n adalah operator linier, maka skalar λ disebut sebagai nilai eigen dari T, jika terdapat x yang taknol dari R n sehingga Tx = λx; vektor-vektor x taknol tersebut memenuhi persamaan ini disebut vektor eigen dari T yang terkait dengan λ. Jika nilai λ adalah nilai eigen dari A, dan x adalah suatu vektor eigen yang terkait maka Ax = λx, sehingga perkalian A memetakan x ke dalam suatu perkalian skalar dengan dirinya sendiri. Pada R 2 dan R 3, ini berarti perkalian A memetakan setiap vektor eigen x ke suatu vektor yang terletak pada garis yang sama dengan x.

Jika diketahui perbandingan elemen A i dengan A j adalah maka secara teoritis matriks tersebut berciri positif berkebalikan, yakni a ij = 1 a ij. Bobot yang dicari dinyatakan dalam vektor w = (,, w 3,, ). Nilai menyatakan bobot kriteria A n terhadap keseluruhan set kriteria pada subsistem tersebut. Jika a ij mewakili derajat kepentingan faktor i terhadap faktor j dan a ik menyatakan derajat kepentingan dari faktor j terhadap faktor k, maka agar keputusan menjadi konsisten, kepentingan i terhadap faktor k harus sama dengan a ij a jk atau jika a ij a jk = a ik untuk semua i, j, k. Untuk suatu matriks konsisten dengan vektor w, maka elemen a ij dapat ditulis: a ij = w i w j ; i, j = 1, 2, 3,, n Jadi, matriks konsistennya adalah: a ij a jk = w i w j w j w k = w i w k = a ik Seperti yang diuraikan di atas, maka untuk pairwise comparison matrix diuraikan menjadi: a ij = w i w j = 1 w j w i = 1 a ji Dari persamaan tersebut di atas dapat dilihat bahwa: a ij w j w i = 1 Dengan demikian untuk matriks perbandingan berpasangan yang konsisten menjadi: n i,j =1 a ij w ij 1 w ij = n ; i, j = 1, 2, 3,, n n i,j =1 a ij w ij = nw ij ; i, j = 1, 2, 3,, n Persamaan tersebut ekuivalen dengan bentuk persamaan matriks di bawah ini: A w = n w

Dalam teori matriks, formulasi ini diekspresikan bahwa w adalah eigen vektor dari matriks A dengan nilai eigen n. Perlu diketahui bahwa n merupakan dimensi matriks itu sendiri. Dalam bentuk persamaan matriks dapat ditulis sebagai berikut: = n Tetapi pada prakteknya tidak dapat dijamin bahwa: a ij = a ik a jk Salah satu penyebabnya yaitu karena unsur manusia (decision maker) tidak selalu dapat konsisten mutlak dalam mengekspresikan preferensi terhadap elemen-elemen yang dibandingkan. Dengan kata lain, bahwa penilaian yang diberikan untuk setiap elemen persoalan pada suatu level hirarki dapat saja tidak konsisten (inconsistent).

2.4 Menghitung Indeks Konsistensi Dalam Penilaian matriks berpasangan sering kali menyebabkan perubahan kecil nilai a ij yang menyebabkan perubahan nilai eigen maksimum. Penyimpangan nilai eigen maksimum merupakan perubahan ukuran konsistensi. Indikator terhadap konsistensi diukur melalui indeks konsistensi sebagai berikut : CI = λ maks n n 1 AHP mengukur seluruh konsistensi penilaian dengan menggunakan konsistensi ratio (CR) yang dirumuskan : CR = CI RI Suatu tingkat konsistensi yang tertentu diperlukan dalam penentuan prioritas untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Nilai CR 0,100 adalah konsisten jika tidak maka perlu dilakukan revisi. Di bawah ini tabel dari niai random indeks : Tabel 2.4 Tabel Nilai Random Indeks (RI) N 1 2 3 4 5 6 7 8 RI 0,000 0,000 0,580 0,900 1,120 1,240 1,320 1,410 N 9 10 11 12 13 14 15 RI 1,450 1,490 1,510 1,480 1,560 1,570 1,590

2.5 Penerapan Metode AHP dalam pemilihan supplier Memilih Supplier merupakan kegiatan strategis, terutama apabila supplier tersebut akan memasok item kritis dan akan digunakan dalam jangka panjang sebagai supplier penting. Kriteria pemilihan supplier adalah salah satu hal penting dalam pemilihan supplier. Setelah kriteria ditetapkan dan beberapa kandidat supplier diperoleh maka diadakan pemilihan satu dari beberapa alternatif yang ada. Dalam proses ini perusahaan harus melakukan perangkingan untuk menentukan mana supplier yang akan dijadikan supplier utama dan pendekatan yang digunakan adalah metode AHP dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Penyusunan Kriteria antara lain: Ketepatan waktu kirim, biaya pengiriman barang, kualitas barang, dan kemampuan mensuplai barang dengan tiga alternatif supplier 2. Penetapan bobot dari setiap kriteria dan identifikasi alternatif supplier yang akan dievaluasi 3. Mencari nilai eigen dan vektor prioritas dari setiap alternatif dan kriteria 4. Evaluasi dari masing- masing alternatif dengan kriteria di atas 5. Menetapkan urutan prioritas dari tiap supplier yang dinyatakan dalam vektor prioritas sehingga didapatkan keunggulan dan kelemahan dari tiap supplier yang direncanakan perusahaan.

Pemilihan Supplier C1 C2 C3 C4 Supplier 1 Supplier 2 Supplier 3... Gambar 2.2 Hirarki Pemilihan Supplier Keterangan : C1 : Kriteria Ketepatan Waktu Kirim C2 : Kriteria Biaya Pengirman C3 : Kriteria Kualitas Barang C4 : Kriteria Kemampuan Mensuplai Barang