BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ASI sangat dianjurkan pada bayi sampai usia 6 bulan dan dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun karena ASI akan memberikan sejumlah zatzat gizi yang berguna untuk pertumbuhan bayi (Muchtadi, 1996). ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik bagi neonatus dan infant karena mempunyai kandungan zat kekebalan seperti yang diperoleh dari kolostrum, yaitu ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran yang sangat bermanfaat bagi perkembangan bayi selanjutnya (Krisnatuti, 2000). ASI selalu mudah tersedia pada suhu yang sesuai diinginkan bayi dan tidak memerlukan banyak waktu untuk persiapannya. Substansi ASI segar dan bebas dari kontaminasi bakteri yang berbahaya sehingga mengurangi peluang gangguan pencernaan (Nelson, 2000). ASI hanya cukup memenuhi pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan sehingga bayi membutuhkan makanan pendamping ASI untuk pertumbuhan bayi, bertambah pula kebutuhan gizinya yang lebih untuk perkembangan dan pertumbuhannya bayi. Ketika bayi memasuki usia 4 atau 6 bulan ke atas bayi membutuhkan beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein, dan beberapa vitamin lainnya dan mineral yang terkandung dalam ASI atau susu formula yang tidak lagi cukup. Dengan alasan usia 4-6 bulan, maka bayi mulai dianjurkan diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) (Prasetyono, 2009). Makanan pendamping ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi. Pemberian makanan pendamping ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini (Ariani, 2008).
Ibu membutuhkan pengetahuan yang baik mengenai MP-ASI, sehingga pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dapat berjalan dengan baik. Dan salah satu faktor intern yang mempengaruhi terbentuknya perilaku manusia adalah pengetahuan Berdasarkan data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003-2004 bayi yang mendapat makanan pendamping ASI dini pada kelompok usia 2 sampai 3 bulan 32% dan kelompok usia 4 sampai 6 bulan 69% (BSN, 2003). Selain itu berdasarkan survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005, menyebutkan bahwa kurang lebih 40% bayi usia kurang dari 2 bulan sudah diberi MP-ASI. Disebutkan juga bahwa bayi usia 0 sampai 2 bulan mulai diberikan makanan pendamping cair (21,25%), makanan lunak/lembek (20,1%), dan makanan padat (13,7%). Pada bayi 3 sampai 5 bulan yang mulai diberi makanan pendamping cair (60,2%), lumat atau lembik (66,25%), dan padat (45,5%). Masih banyak ditemukan bayi sebelum usia 4 bulan telah diberi makanan pendamping. Tampaknya sudah menjadi hal biasa bagi sebagian ibu di Indonesia terutama di pedesaan untuk memulai memberikan makanan tambahan sejak bayi umur kurang lebih 1 bulan seperti : pisang yang di haluskan, pisang dicampur nasi kemudian dihaluskan, buah-buahan yang dihaluskan, dan bubur susu, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan kebiasaan masyarakat yang masih primitif dan tidak sedikit karena anjuran dari orang tua untuk memberikan makanan pendamping ASI secara dini. Kebiasaan masyarakat yang masih primitif dan tidak sedikit karena anjuran dari orang tua untuk memberikan makanan pendamping ASI secara dini. Dalam kondisi tersebut, tugas perawat adalah berperan sebagai konselor dalam memberikan saran mengutamakan pemberian makanan pendamping ASI sesuai dengan keseimbangan nutrisi dan diet yang baik selam pengalaman pemberian makanan secara mutual terutama pemberian makanan pendamping yang awal dan memberikan kepuasan untuk orang tua dan bayi (Potter, 2005). Ibu yang tidak memberi ASI eksklusif lebih memilih memberi susu formula atau makanan tambahan pada usia kurang dari 6 bulan. Sebagaian ibu 2
mengganggap bahwa dengan memberi makanan tambahan pada bayi usia kurang dari 6 bulan akan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan bayi tidak akan merasakan lapar lagi. Memberikan makanan tambahan bila diberikan pada usia 1 bulan dan banyak yang berpendapat tidak ada masalah oleh karena itu kurang lebih ibu banyak yang mengikuti. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan peneliti, dan peneliti melakukan survey awal dari beberapa ibu yang memiliki bayi, masih ada bayi yang diberi makanan pendamping ASI pada usia 1 minggu, 2 bulan atau kurang dari 4 bulan dengan di berikan seperti: pisang yang dihaluskan, pisang yang dicampur dengan nasi kemudian dihaluskan, bubur susu. Dengan alasan karena bayi tidak kenyang dengan ASI yang diberikan ibu, dan sering rewel. Bayi yang berusia kurang dari 4 bulan dapat beresiko pencernaan yang tinggi khususnya dalam kondisi higienis, kenaikan berat badan yang terlalu cepat hingga menjurus ke obesitas, alergi terhadap salah satu zat gizi yang terdapat dalam makanan tersebut (Pudjiadi, 2000). Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan ketepatan waktu di RW 1 Kelurahan Tinjomoyo B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah : hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan ketepatan waktu di RW 1 Kelurahan Tinjomoyo. C. Tujuan Penelitian 3
1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI pertama kali pada bayi di RW 1 Kelurahan Tinjomoyo. 2. Tujuan Khusus : a. Mendiskripsikan pengetahuan dengan ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI pertama kali pada bayi b. Mendiskripsikan dukungan keluarga dengan ketepatan waktu c. Mendiskripsikan ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI d. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan ketepatan waktu e. Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan ketepatan waktu D. Manfaat Penelitian 1. Peneliti Menambah pengetahuan, pengalaman dalam merancang dan melaksanakan penelitian, dan dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Hasil ini juga dapat dijadikan dasar penelitian lanjut. 2. Masyarakat Masyarakat memahami tentang pentingnya ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI untuk tumbuh kembang bayi dan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu dalam memberikan motivasi kepada ibu yang memberikan Makanan Pendamping ASI (MP- ASI). 3. Instansi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi yang berguna untuk peningkatan pelayanan kesehatan. 4 Perawat 4
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan meningkatkan pencapaian pemberian makanan pendamping ASI serta sebagai pedoman untuk mengadakan penyuluhan kesehatan mengenai umur yang tepat dalam pemberian makanan pendamping ASI. E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan bidang ilmu kesehatan khususnya ilmu keperawatan keluarga dan ilmu keperawatan anak. 5