PEMBAGIAN WARISAN. Pertanyaan:

dokumen-dokumen yang mirip
Pembagian Warisan 2 PEMBAGIAN WARISAN (2)

Waris Tanpa Anak. WARISAN ORANG YANG TIDAK MEMPUNYAI ANAK Penanya: Abdul Salam, Grabag, Purworejo. (disidangkan pada hari Jum'at, 10 Februari 2006)

Kasus Pembagian Harta Warisan

Perzinahan dan Hukumnya SEPUTAR MASALAH PERZINAHAN DAN AKIBAT HUKUMNYA

Fatwa Seputar Badal Haji dan Umrah. Serta Hukum Melaksanakan Umrah Berkali-Kali Bagi Jama'ah Haji Saat Berada di Makkah

DO'A PENGUAT IMAN. Pertanyaan Dari: Mulyadi, Laren, Lamongan, Jawa Timur. (disidangkan pada hari Jum at, 9 Muharram 1434 H / 23 November 2012)

FATWA TARJIH MUHAMMADIYAH HUKUM NIKAH BEDA AGAMA

Apa itu Nadzar dan Sumpah? NADZAR DAN SUMPAH

Standar Kompetensi : 7. Memahami hukum Islam tentang Waris Kompetensi Dasar: 7.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum waris 7.2 Menjelaskan contoh

BAB I PENDAHULUAN. Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan

Spirit Keadilan Dalam Warisan :Dirasah Hadis Edisi 37

PEMBAGIAN HARTA WARISAN DALAM PERKAWINAN POLIGAMI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Kewajiban Zakat Profesi Setelah Dipotong Pajak

E٤٢ J٣٣ W F : :

BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SEBAGAI PENGGANTI KEWARISAN BAGI ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI DESA PETAONAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pembahasan perwalian nikah dalam pandangan Abu Hanifah dan Asy-

AZAS-AZAS HUKUM WARIS DALAM ISLAM

MEMBANGUN KELUARGA YANG ISLAMI BAB 9

Pengertian Mawaris. Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsuirtsan-miiraatsan.

P U T U S A N Nomor 0804/Pdt.G/2015/PA.Pas. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

bismillahirrahmanirrahim

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara tentang warisan menyalurkan pikiran dan perhatian orang ke arah suatu

PENGEJARAN DAN PEMBUNUHAN ISA AS. Pertanyaan Dari: H. Soekardi NBM , Baturetno (disidangkan pada hari Jum'at, 7 Shafar 1431 H / 22 Januari 2010)

Seribu Satu Sebab Kematian Manusia

pusaka), namun keduanya tidak jumpa orang yang mampu menyelesaikan perselisihan mereka. Keutamaan Hak harta Simati

BAB IV. PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR 732/Pdt.G/2008/PA.Mks DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

MAHRAM. Pertanyaan: Jawaban:

BAB I PENDAHULUAN. Islam telah mengatur setiap aspek kehidupan manusia baik yang. menyangkut segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan Allah SWT

SERIAL KAJIAN ULIL ALBAAB No. 22 By : Tri Hidayanda

P E N E T A P A N Nomor : 0015/Pdt.P/2010/PA.Bn. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

APAKAH ITU MAHRAM. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM PENGADILAN AGAMA BANJARMASIN TENTANG HARTA BERSAMA. A. Gambaran Sengketa Harta Bersama pada Tahun 2008 di PA Banjarmasin

Munakahat ZULKIFLI, MA

Adab Membaca Al-Quran, Membaca Sayyidina dalam Shalat, Menjelaskan Hadis dengan Al-Quran

BAB IV ANALISA HUKUM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA. BANGIL NOMOR 538/Pdt.G/2004/PA.Bgl PERSPEKTIF FIQH INDONESIA

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

BAB IV ANALISIS TENTANG STATUS PERWALIAN ANAK AKIBAT PEMBATALAN NIKAH

Ternyata Hari Jum at itu Istimewa

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Keutamaan Puasa

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.

BAB IV ANALISIS TERHADAP ANAK TEMUAN (AL-LAQITH) MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA WARISAN

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENARIKAN KEMBALI HIBAH OLEH AHLI WARIS DI DESA SUMOKEMBANGSRI KECAMATAN BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG WARIS DAN AHLI WARIS

Hal. 1 dari 11 hal. Pen. No. 33/Pdt.P/2010/PAJP

BAB IV PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN KEWARISAN TUNGGU TUBANG ADAT SEMENDE DI DESA MUTAR ALAM, SUKANANTI DAN SUKARAJA

MAJLIS TAFSIR AL-QUR AN (MTA) PUSAT Fax :

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PERMOHONAN IZIN POLIGAMI TERHADAP WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI PENGADILAN AGAMA MALANG

BAB IV ANALISIS TERHADAP GUGATAN TIDAK DITERIMA DALAM PERKARA WARIS YANG TERJADI DI PENGADILAN AGAMA GRESIK. (Putusan Nomor : /Pdt.G/ /Pa.

P U T U S A N Nomor 00/Pdt.G/2013/PTA. Btn BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.

P E N E T A P A N Nomor : 13/Pdt.P/2012/PA Slk BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

LAMPIRAN TERJEMAHAN AYAT AL-QUR AN

P E N E T A P A N Nomor: XXX/Pdt.P/2012/PA.GM

BAB I PENDAHULUAN. alamiah. Anak merupakan titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Perkataan

KEPUTUSAN KOMISI B-1 IJTIMA ULAMA KOMISI FATWA MUI SE INDONESIA III tentang MASAIL FIQHIYYAH MU'ASHIRAH (MASALAH FIKIH KONTEMPORER)

Keistimewaan Hari Jumat

MACAM-MACAM MAHRAM 1. MAHRAM KARENA NASAB Allah berfirman:

BAB IV. dalam perkara nomor : 1517/Pdt.G/2007/PA.Sda mengenai penolakan gugatan

Bismillahirrahmanirrahim

[107] Sikap Mukmin terhadap Rasulullah SAW, Istri-istri Beliau, dan Sesama Muslim Saturday, 28 September :25

BAB IV NASAB DAN PERWALIAN ANAK HASIL HUBUNGAN SEKSUAL SEDARAH (INCEST) DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Adillah dalam Memperlakukan Anak

Sifat Allah Al-Hayiyyu, Yang Maha Pemalu

BAB 1 PENDAHULUAN. rumah tangga yang kekal, tenteram dan teratur serta memperoleh keturunan. Akan

WASIAT WAJIBAH DAN PENERAPANNYA (Analisis Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam)

Bayar Fidyah FIDYAH DIBAYAR SEKALIGUS DAN FIDYAH DENGAN UANG

Permohonan Cerai Talak antara pihak-pihak ; LAWAN. Termohon ;--

BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PRAKTIK PENJATUHAN TALAK SEORANG SUAMI MELALUI TELEPON DI DESA RAGANG KECAMATAN WARU KABUPATEN PAMEKASAN

RUMUSAN HASIL RAPAT PLENO KAMAR AGAMA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TANGGAL 03 S/D 05 MEI

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK PENGALIHAN NAMA ATAS HARTA WARIS SEBAB AHLI WARIS TIDAK PUNYA ANAK

Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-86)

BAB I PENDAHULUAN. istri dan anak-anaknya, ini didasarkan pada Surat Al-Baqarah ayat 233. Yang

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM TENTANG IZIN POLIGAMI

SALINAN P E N E T A P A N Nomor: 0081/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Membangun Keluarga yang Islam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu bentuk pengalihan hak selain pewarisan adalah wasiat. Wasiat

BAB IV ANALISIS. A. Analisis Akibat Hukum Pengabaian Nafkah Terhadap Istri. Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974.

BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Sejarah Penyusunan Buku II Tentang Kewarisan Dalam Kompilasi

PENETAPAN. Nomor 6/Pdt.P/2010/PAJP BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Istri-Istri Rasulullah? Adalah Ibunya Orang-Orang Beriman

P E N E T A P A N Nomor 0087/Pdt.P/2015/PA.Pas. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

HUKUM WARIS ISLAM DAN PERMASALAHANNYA

بسم اهلل الرحمن الرحيم

P U T U S A N Nomor 00/Pdt.G/2014/PTA Btn. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupannya. Apabila ada peristiwa meninggalnya seseorang yang

PENGAJIAN PENCERAH LAZISMU & MAJELIS TABLIGH PDM SURABAYA

diajukan oleh pihak :

Transkripsi:

PEMBAGIAN WARISAN Pertanyaan dari: EJ, di Cirebon (nama dan alamat diketahui redaksi) (Disidangkan pada Jum at, 13 Zulqa'dah 1428 H / 23 November 2007 M) Pertanyaan: Sehubungan kami sangat awam masalah hukum Faraid (pembagian warisan) maka dengan ini kami memohon bantuan kepada bapak untuk memecahkan masalah kami dengan silsilah seperti: A (istri) menikah dengan B (suami) dikaruniai 2 anak, C (putri) dan D (putra). Sehubungan hal sesuatu terjadi perceraian. Anak C (putri) diserahkan dan dipelihara oleh Nenek dari B, anak D (putra) ikut ibu. Setahun kemudian B (bapak) menikah lagi dengan istri II (E). Istri II membawa seorang anak (F) dari hasil pernikahannya dengan suaminya yang dulu. Rumah tangga B dan E dikaruniai seorang anak (G), jadi memiliki seorang anak kandung dan seorang anak tiri. B masih hidup, ia menjual warisannya senilai Rp 600.000.000,- dan memberikan warisan hanya kepada anak dari istri II (E) saja yaitu hanya kepada anak kandungnya (G) dan anak tirinya (F), sedangkan dua anak kandung yang dilahirkan dari istri pertama, yaitu C dan D tidak diberi warisan. Kata B haram hukumnya jika diberi warisan darinya, karena dulu A menikah dengan B tidak membawa harta sedikit pun. Hukum persoalan kami, kepada bapak mohon penjelasan dan mendapat bagian berapa, siapa saja yang berhak mendapatkan warisan tersebut, berapa % harta yang diterima dari B dan haram tidak anak dapat warisan? Demikianlah permohonan kami semoga bapak dapat memecahkan persoalan kami. Atas kebaikan dan bantuan bapak kami ucapkan terima kasih. Jawaban: Perlu diketahui bahwa salah satu syarat dalam pembagian warisan menurut ajaran Islam, yakni bahwa pewaris telah meninggal dunia. (Periksa: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Ahkamul Mawarits fisy Syari atil Islamiyah ala Madzahibil Arba ah, halaman 13; H. Ahmad Azhar Basyir, M.A., Hukum Waris Islam, halaman 16). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika pewaris belum meninggal dunia atau dengan kata lain masih hidup, maka tidak terjadi pembagian warisan. Sehubungan dengan pertanyaan yang saudara ajukan, maka sesungguhnya permasalahan yang saudara tanyakan, menurut ajaran atau hukum Islam tidak atau belum menjadi permasalahan warisan. Sungguhpun demikian akan kami jelaskan beberapa ketentuan hukum Islam yang berkaitan dengan permasalahan yang saudara hadapi, yakni: 1. Pemberian harta oleh seseorang kepada orang yang masih ada hubungan kekerabatan bahkan jika pemberi meninggal dapat mewariskan harta kepada yang diberi selama pemberi masih hidup, tidak dapat dikategorikan pewarisan. Sehubungan dengan pertanyaan saudara, maka pemberian

B kepada salah seorang anak kandungnya demikian pula kepada anak tirinya tidak dapat dikategorikan sebagai pewarisan, melainkan dikategorikan sebagai hibah. Dalam hal pemberian atau hibah kepada anak diajarkan agar pemberian itu dilakukan secara adil antara anak yang satu dengan anak yang lain. Disebutkan dalam hadits: Artinya: Berbuat adillah kamu dalam pemberian di antara anak-anakmu. [HR. al-bukhari] - - Artinya: Diriwayatkan dari asy-sya bi dari Nu man Ibnu Basyir, ia berkata: Ayahku memberiku suatu pemberian. Berkata Isma il Ibnu Salim dari salah seorang saudarasaudaranya. Ia (ayahnya) telah memberikan kepadanya seorang budak laki-laki. Ia berkata: Ibuku Amrah Binti Rawahah berkata kepadanya: Datanglah kamu kepada Rasulullah saw dan persaksikanlah kepadanya. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw dan mempersaksikan serta menyampaikan hal itu seraya berkata: Saya telah memberi kepada anakku (an-nu'man) suatu pemberian, kemudian Amrah meminta saya agar mempersaksikan ini kepadamu (kepada Rasulullah saw). Rasulullah kemudian bertanya: Apakah kamu punya anak laki-laki yang lain? Ia mengatakan; Saya menjawab: Ya. Kemudian beliau bertanya lagi: Apakah mereka telah kau beri sebagaimana yang kau berikan kepada an-nu man? Ia menjawab, tidak. Maka sebagian anak-anak akan mengatakan: Ini merupakan perbuatan curang, sedang yang lain akan mengatakan: Ini adalah perbuatan pilih kasih. Maka persaksikanlah pemberian ini kepada selain diriku. Berkata Mughirah dalam pembicaraan dengannya: Bukankah kamu menjadi senang, mereka berbuat baik dan bersikap sopan yang sama kepadamu? la menjawab: Ya. Ia berkata; Persaksikanlah hal itu kepada selain diriku. Dan disampaikan oleh Mujalid dalam pembicaraan dengannya: Mereka punya hak terhadapmu untuk berlaku adil di antara mereka, sebagaimana kamu mempunyai hak agar mereka berbuat baik kepadamu. [HR. Abu Dawud dan Ahmad] Ibnu Qudamah dalam kitab al-mughni menjelaskan bahwa pemberian orang tua kepada anak boleh untuk dilebihkan dari yang lain apabila dalam keadaan khusus, seperti kepada anak yang cacat, misalnya buta atau yang lain, atau karena anak yang disibukkan dengan mendalami dan mengembangkan ilmu; dan juga anak boleh dijauhkan dari pemberian, apabila pemberian itu justru untuk berbuat maksiat. Dalam hal melebihkan pemberian tersebut hendaknya dilakukan orang tua dengan penuh hikmah/kebijaksanaan dan sedapat mungkin atas sepengetahuan atau sepersetujuan anak-anaknya yang lain.

Demikian pula Islam mengajarkan, tidak boleh seseorang melakukan pemberian kepada orang lain yang mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan bagi anak. Secara umum dalam hadits Nabi saw disebutkan: Artinya: Tidak boleh (memulai) berbuat kemadlaratan dan tidak boleh pula berbuat untuk membalas kemadlaratan. [HR. Ibnu Majah dan Ahmad]. Dalam hadits lain yang berkaitan dengan pemberian wasiat, Nabi saw bersabda: Artinya: Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang-orang. [Muttafaq Alaih] 2. Sekali lagi kami tegaskan bahwa pewarisan baru akan terjadi apabila pewaris telah meninggal dunia. Hanya saja diandaikan B telah meninggal dunia, dalam saat itu isterinya masih hidup dan di kala B meninggal dunia masih terikat dalam perkawinan atau dalam keadaan iddah talak raj i; demikian pula anak-anaknya yang disebutkan itu masih hidup, maka mereka semua adalah ahli waris yang berhak mendapat bagian warisan. 3. Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam Pasal 96 ayat (1) yang berbunyi: Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama. Dengan demikian istri II (E) memperoleh separoh dari harta bersama yaitu harta yang diusahakan selama perkawianan antara B dan E. Selain itu E juga memperoleh bagain 1/8 dari harta waris yang ditinggalkan oleh B. Dalam al-qur an disebutkan: Artinya: Maka para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. [QS. an-nisa' (4): 12] 4. Bahwa anak dari perkawinan yang sah, berhak mendapat warisan dari orang tuanya (ayah atau ibu) yang telah meninggal dunia. Jika suami beristri lebih dari seorang atau menikah lebih dari satu kali dan dari masing-masing istri mempunyai anak, maka anak dari istri yang manapun berhak mendapat warisan dari ayahnya yang telah meninggal dunia. Anak laki-laki bersama anak perempuan berkedudukan sebagai ahli waris ashabah (mewarisi seluruh harta waris setelah dikurangi bagian ahli waris yang memperoleh bagian tertentu, misalnya bagian isteri adalah seperdelapan jika suami meninggal dunia). Bagian masing-masing anak laki-laki dua kali bagian untuk masing-masing anak perempuan. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Allah mensyari atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu bahagian seorang anak laki-laki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. [QS. an-nisa (4): 11] Jika anak lebih dari satu orang dan semuanya laki-laki bagian mereka dibagi secara sama. Jika ahli waris seorang anak perempuan saja, maka ia memperoleh separoh dari harta waris dan jika ahli waris dua orang anak perempauan atau lebih tanpa anak laki-laki, mereka secara bersama-sama memperoleh dua pertiga dari harta waris, yang kemudian dibagi secara sama kepada semua ahli waris anak perempuan itu. Firman Allah: Artinya: dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua (maksudnya dua atau lebih), maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separoh harta. [QS. an-nisa (4): 11] 5. Pemberian oleh orang tua kepada anak selama hidupnya, kelak dapat diperhitungkan dalam pembagian warisan jika orang tua telah meninggal dunia. Disebutkan dalam Pasal 211 Kompilasi Hukum Islam: Hibah orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan. 6. Contoh Perhitungan Diumpamakan seluruh harta peninggalan B, sebanyak Rp. 650.300.000,-. Sebelum harta peninggalan ini dibagi, maka terlebih dahulu dikeluarkan untuk membayar biaya perawatan jenazah, misalnya untuk membeli perlengkapan dalam memandikan jenazah, membeli kain kafan dan ongkos gali kubur, sebesar Rp. 300.000,-. Selama hidupnya ia pernah berwasiat akan memberikan hartanya sebesar Rp 45.000.000,- untuk panti asuhan anak yatim; maka sebelum harta peninggalan dibagi kepada ahli waris, wasiat ini harus ditunaikan terlebih dahulu. Sampai dengan saat meninggal dunia B tidak mempunyai hutang, namun masih mempunyai kesanggupan memberi dana untuk pembangunan masjid sebesar Rp. 5.000.000,-; maka sebelum harta peninggalan dibagi, kesanggupan ini harus dibayar terlebih dahulu, karena kesanggupan tersebut termasuk dalam kategori hutang. Dengan demikian, harta warisnya sebesar Rp. 650.300.000,- dikurangi dengan biaya-biaya perawatan janazah, wasiat dan hutang, sebesar Rp. 50.300.000,- yakni menjadi Rp. 600.000.000,-. Setelah dilakukan perhitungan secara seksama terhadap harta peninggalan ini, ternyata dari Rp. 600.000.000,- tersebut terdiri dari Rp. 200.000.000,- harta bawaan B, sedangkan yang Rp. 400.000.000,- merupakan harta yang diperoleh selama perkawinan dengan E, atau yang lazim disebut dengan harta bersama. Cara perhitungannya adalah: Mula-mula separoh harta bersama, diberikan kepada isteri (E), yakni 1/2 x Rp. 400.000.000,- yaitu Rp. 200.000.000,-. Selebihnya yaitu Rp 200.000.000,- ditambah dengan harta bawaan B sebesar Rp. 200.000.000,-, sehingga menjadi Rp. 400.000.000,- dibagikan kepada ahli waris, yakni: a. Isteri (E) memperoleh 1/8 harta warisan x Rp. 400.000.000,- = Rp. 50.000.000,-. Dengan demikian secara keseluruhan E memperoleh Rp. 200.000.000,- + Rp. 50.000.000,- = Rp. 250.000.000,-.

b. Sisa harta waris yakni Rp. 400.000.000,- dikurangi Rp. 50.000.000,- sama dengan Rp. 350.000.000,- dibagi kepada semua anaknya, yaitu: C, D dan G. Jika G berjenis kelamin laki-laki, maka pembagiannya adalah sebagai berikut: C (perempuan) mendapat bagian 1 x 1 = 1 D dan G (laki-laki) mendapat bagian 2 x 2 = 4 Jumlah = 5 Bagian C adalah 1/5 x Rp. 350.000.000,- = Rp. 70.000.000.- Bagian D dan G 4/5 x Rp. 350.000.000,- = Rp. 280.000.000.- Bagian D Rp. 280.000.000,- : 2 = Rp. 140.000.000,- Bagian G Rp. 280.000.000,- : 2 = Rp. 140.000.000,- Jika G berjenis kelamin perempuan, maka pembagiannya adalah sebagai berikut: C dan G (perempuan) mendapat bagian 2 x 1 = 2 D (laki-laki) mendapat bagian 1 x 2 = 2 Jumlah = 4 Bagian C dan G 2/4 x Rp. 350.000.000,- = Rp. 175.000.000,- Bagian C Rp. 175.000.000,- : 2 = Rp. 87.500.000,- Bagian G Rp. 175.000.000,- : 2 = Rp. 87.500.000,- Bagian D 2/4 x Rp. 350.000.000,- = Rp. 175.000.000,- Sebagaimana telah disebutkan bahwa pemberian orang tua kepada anak selama hidupnya dapat diperhitungkan dalam pembagian warisan ini. Maka jika memang telah terjadi pemberian orang tua kepada anak, demi keadilan perlu untuk diperhatikan ketentuan ini. F sebagai anak tiri tidak mendapat warisan, namun al-qur an mengajarkan agar kerabat atau orang miskin dan anak yatim yang hadir saat pembagian warisan hendaknya diberi sekedarnya sebagai infaq atau shadaqah. Demikian yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab. *dw) Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah E-mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.com