PENERAPAN AKAD MUZÂRA AH PADA TANAH WAKAF. (Studi Pandangan Tokoh Agama Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI SAWAH BERJANGKA WAKTU DI DESA SUKOMALO KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

BAB IV. A. Analisis terhadap Sistem Bagi Hasil Pengelolaan Ladang Pesanggem Antara

BAB IV. mensyaratkan kekekalan di dalamnya dengan membeli sesuatu harta yang lain

BAB I PENDAHULUAN. manusia disebut sebagai makhluk sosial. Islam mengajarkan kita untuk saling

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan penelitian telah tersedia. Berikut ini adalah karya ilmiah yang. berkaitan dengan penelitian, antara lain:

BAB I. 1. Untuk Mengetahaui Wakaf Produktif Melalui Akad Ijarah Di Masjid Al-Mukhlis Dinoyo Malang. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. B.

BAB I PENDAHULUAN. satu sama lain agar mereka tolong-menolong dalam semua kepentingan hidup

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI BARANG SERVIS DI TOKO CAHAYA ELECTRO PASAR GEDONGAN WARU SIDOARJO

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN SEWA MENYEWA POHON UNTUK MAKANAN TERNAK

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya dan selalu bekerja sama. Allah berfirman tengan surat Al-Mai dah

BAB IV\ ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP MEKANISME PENGUPAHAN PEMOLONG CABE DI DESA BENGKAK KECAMATAN WONGSOREJO KABUPATEN BANYUWANGI

Muza>ra ah dan mukha>barah adalah sama-sama bentuk kerja sama

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BUNGA KAMBOJA KERING MILIK TANAH WAKAF DI DESA PORONG KECAMATAN PORONG KABUPATEN SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN. shalat dan puasa. Namun ada juga yang berdampak secara sosial, seperti halnya

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD JASA PENGETIKAN SKRIPSI DENGAN SISTEM PAKET DI RENTAL BIECOMP

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI PELAKSANAAN UTANG PIUTANG BENIH PADI DENGAN SISTEM BAYAR GABAH DI

BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTIK PEMANFAATAN BARANG TITIPAN. A. Analisis Praktik Pemanfaatan Barang Titipan di Kelurahan Kapasari

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN AKAD QARD\\} AL-H\}ASAN BI AN-NAZ AR DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG WARU SIDOARJO

BAB IV ANALISIS TERHADAP HUKUM JUAL BELI CABE TANPA KESEPAKATAN HARGA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KERJASAMA BUDIDAYA LELE ANTARA PETANI DAN PEMASOK BIBIT DI DESA TAWANGREJO KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN

BAB IV ANALISIS TERHADAP JUAL BELI IKAN BANDENG DENGAN PEMBERIAN JATUH TEMPO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV ANALISIS TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENUKARAN UANG DENGAN JUMLAH YANG TIDAK SAMA JIKA DIKAITKAN DENGAN PEMAHAMAN PARA PELAKU

BAB IV ANALISIS. A. Persamaan dan Perbedaan Pendapat Mazhab Syafi i dan Mazhab Hanbali Tentang Hukum Menjual Reruntuhan Bangunan Masjid

Hijab Secara Online Menurut Hukum Islam

BAB V ANALISIS KOMPARATIF PENARIKAN HARTA WAKAF MENURUT PENDAPAT EMPAT MADZHAB DAN UNDANG- UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF

BAB IV ANALISIS PENERAPAN BAGI HASIL AKAD MUZARA AH DI DESA PONDOWAN KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

MUZARA'AH dan MUSAQAH

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan sehari-hari, dan dalam hukum Islam jual beli ini sangat dianjurkan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. deskripsi mengenai profil lokasi penelitian berdasarkan data profil Desa.

A. Analisis Tentang Tata Cara Akad Manusia tidak bisa tidak harus terkait dengan persoalan akad

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI CEGATAN DI DESA GUNUNGPATI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. piutang dapat terjadi di dunia. Demikian juga dalam hal motivasi, tidak sedikit. piutang karena keterpaksaan dan himpitan hidup.

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HAK KHIYA>R PADA JUAL BELI PONSEL BERSEGEL DI COUNTER MASTER CELL DRIYOREJO GRESIK

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UTANG PIUTANG DALAM BENTUK UANG DAN PUPUK DI DESA BRUMBUN KECAMATAN WUNGU KABUPATEN MADIUN

BAB II KERJASAMA USAHA MENURUT PRESPEKTIF FIQH MUAMALAH. Secara bahasa al-syirkah berarti al-ikhtilath (bercampur), yakni

BAB I PENDAHULUAN. dapat dijawab dengan tuntas oleh ajaran Islam melalui al-qur an sebagai

MUZARA AH DAN APLIKASINYA PADA PERBANKAN SYARI AH

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI RUMAH BERSTATUS TANAH WAKAF DI KARANGREJO BURENG KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PENGULANGAN PEKERJAAN BORONGAN PEMBUATAN TAS DI DESA KRIKILAN KECAMATAN DRIYOREJO KECAMATAN GRESIK

BAB IV ANALISIS HUKUM EKSISTENSI WAKAF UANG DAN PROSES IKRAR WAKAF MENURUT UNDANG UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB III ANALISIS HUKUM RUISLAG TANAH WAKAF

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi maksud-maksudnya yang kian hari makin bertambah. 1 Jual beli. memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.

BAB IV ANALISIS DATA. A. Proses Akad yang Terjadi Dalam Praktik Penukaran Uang Baru Menjelang Hari Raya Idul Fitri

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ALIH FUNGSI WAKAF PRODUKTIF KEBUN APEL DI DESA ANDONOSARI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Wakaf merupakan salah satu ibadah yang dapat mencakup hablu min Allâh

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PENGEMBALIAN SISA PEMBAYARAN DI KOBER MIE SETAN SEMOLOWARU

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA. wawancara kepada para responden dan informan, maka diperoleh 4 (empat) kasus

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN SEWA- MENYEWA TANAH FASUM DI PERUMAHAN TNI AL DESA SUGIHWARAS CANDI SIDOARJO

waka>lah. Mereka bahkan ada yang cenderung mensunnahkannya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Wakaf merupakan salah satu ibadah yang dapat mencakup hablu min Allâh dan

BAB IV. A. Tinjauan terhadap Sewa Jasa Penyiaran Televisi dengan TV Kabel di Desa Sedayulawas

BAB IV ANALISIS SEWA MENYEWA TAMBAK YANG DIALIHKAN SEBELUM JATUH TEMPO MENURUT HUKUM ISLAM. A. Analisis Terhadap Akad Sewa Menyewa Tambak

BAB IV ANALISIS METODE ISTINBA<T} HUKUM FATWA MUI TENTANG JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI

Banyak orang-orang Islam dalam kehidupan sehari-harinya yang. mengerjakannya, mungkin karena sibuk dengan kegiatan lain atau memang

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UTANG PIUTANG SISTEM IJO (NGIJO) DI DESA SEBAYI KECAMATAN GEMARANG KABUPATEN MADIUN

PENARIKAN KEMBALI HARTA WAKAF OLEH PEMBERI WAKAF (Study Analisis Pendapat Imam Syafi'i)

BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTIK BISNIS JUAL BELI DATABASE PIN KONVEKSI. A. Analisis Praktik Bisnis Jual Beli Database Pin Konveksi

BAB IV ANALISIS LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM PENETAPAN HARGA PADA JUAL BELI AIR SUMUR DI DESA SEBAYI KECAMATAN GEMARANG KABUPATEN MADIUN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN UPAH DENGAN KULIT HEWAN KURBAN DI DESA JREBENG KIDUL KECAMATAN WONOASIH KABUPATEN PROBOLINGGO

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dipatuhi tetapi juga tauhid, akhlak dan muamalah, misalnya ketika seseorang ingin

BAB I PENDAHULUAN. perceraian. Selanjutnya persoalan yang terjadi di Indonesia telah diatur bahwa

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBULATAN TIMBANGAN PADA PT. TIKI JALUR NUGRAHA EKAKURIR DI JALAN KARIMUN JAWA SURABAYA

A. Analisis Tradisi Standarisasi Penetapan Mahar Dalam Pernikahan Gadis dan. 1. Analisis prosesi tradisi standarisasi penetapan mahar

BAB IV ANALISIS TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PANDANGAN TOKOH AGAMA ISLAM TENTANG SEWA POHON MANGGA

BAB IV PENERAPAN AKAD BAYʽ BITHAMAN AJIL DALAM PENINGKATAN KEUNTUNGAN USAHA DI KOPONTREN NURUL HUDA BANYUATES SAMPANG MADURA

BAB I PENDAHULUAN. krisis moneter. Lebih dari itu, lembaga keuangan syariah ini diharapkan mampu membawa

BAB I PENDAHULUAN. Rasulullah saw. diberi amanat oleh Allah swt. untuk menyampaikan kepada. tercapainya kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat.

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK BAGI HASIL DENGAN PEMBAGIAN TETAP DARI PEMBIAYAAN MUSYARAKAH DI KJKS KUM3 RAHMAT SURABAYA

MUZA>RA AH BAB II. A. Pengertian Muza>ra ah. Secara etimologis muza>ra ah adalah kerjasama dibidang pertanian

BAB IV PRAKTIK UTANG-PIUTANG DI ACARA REMUH DI DESA KOMBANGAN KEC. GEGER BANGKALAN DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN POTONGAN TABUNGAN BERHADIAH DI TPA AL- IKHLAS WONOREJO KECAMATAN TEGALSARI SURABAYA

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KLAIM ASURANSI DALAM AKAD WAKALAH BIL UJRAH

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI HUTANG PUPUK DENGAN GABAH DI DESA PUCUK KECAMATAN DAWARBLANDONG KABUPATEN MOJOKERTO

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN MUSHA>RAKAH DI BMT AN-NUR REWWIN WARU SIDOARJO

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD PROLIMAN DALAM PENGAIRAN SAWAH DI DESA BEGED KECAMATAN KALITIDU KABUPATEN BOJONEGORO

Pada hakikatnya pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank. pemenuhan kebutuhan akan rumah yang disediakan oleh Bank Muamalat

KAIDAH FIQH. Perubahan Sebab Kepemilikan Seperti Perubahan Sebuah Benda. حفظو هللا Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HADIAH/ UANG YANG DIBERIKAN OLEH CALON ANGOTA DPRD KEPADA MASYARAKAT DI KECAMATAN DIWEK

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH DI BMT MADANI TAMAN SEPANJANG SIDOARJO

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN TARIF JUAL BELI AIR PDAM DI PONDOK BENOWO INDAH KECAMATAN PAKAL SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN PASAL 106 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG JUAL BELI TANAH MILIK ANAK YANG DILAKUKAN OLEH WALINYA

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENGELOLAAN WAKAF UANG DI BAITUL MAAL HIDAYATULLAH SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. ajaran yang sangat sempurna dan memuat berbagai aspek-aspek kehidupan

FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 81/DSN-MUI/III/2011 Tentang

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERJANJIAN BAGI HASIL PENGOLAHAN TANAH DI DUSUN DARAH DESA SADENGREJO KEC. REJOSO KAB.

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK MURA>BAH}AH PROGRAM PEMBIAYAAN USAHA SYARIAH (PUSYAR) (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM)

BAB 1 PENDAHULUAN. mengatur hubungan manusia dan pencipta (hablu min allah) dan hubungan

BAB IV ANALISIS PENDELEGASIAN PENGELOLAAN WAKAF DI PONDOK PESANTREN AL-MA UNAH CIREBON

BAB I PENDAHULUAN. berupa uang atau barang yang akan dibayarkan diwaktu lain sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. pelanggaran terhadap adat akan berdampak pada ketidak seimbangan dan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENARIKAN KEMBALI HIBAH BERSYARAT DI DUSUN MOYORUTI DESA BRENGKOK KECAMATAN BRONDONG KABUPATEN LAMONGAN

Solution Rungkut Pesantren Surabaya Perspektif Hukum Islam

PENDAHULUAN. Belakangan ini di Indonesia muncul berita yang mengejutkan berbagai

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UTANG PIUTANG HEWAN TERNAK SEBAGAI MODAL PENGELOLA SAWAH DI DESA RAGANG

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERPANJANGAN SEWA- MENYEWA MOBIL SECARA SEPIHAK DI RETAL SEMUT JALAN STASIUN KOTA SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT MELALUI LAYANAN M-ZAKAT DI PKPU (POS KEADILAN PEDULI UMAT) SURABAYA

pengetahuan yang kurang, oleh Karena itu untuk mendorong terciptanya

Transkripsi:

PENERAPAN AKAD MUZÂRA AH PADA TANAH WAKAF (Studi Pandangan Tokoh Agama Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan) A. LATAR BELAKANG Pada dasarnya setiap manusia itu membutuhkan satu sama lainnya karena manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Dalam Islam kehidupan manusia satu sama lain ini dalam kehidupan sehari-hari diatur dalam salah satu aspek hukum yang disebut dengan muamalah. Untuk mencapai kemajuan dalam hidupnya, manusia membutuhkan pertolongan antara satu dengan yang lainnya. Banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk kemajuan hidupnya baik lakukan secara individu maupun secara berkelompok. Sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan ini sering melakukan kegiatan kerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya salah satunya yaitu kerjasama dalam pertanian. Dalam aktivitas tersebut, tidak semua petani di sana memiliki lahan sendiri sehingga banyak petani yang mengerjakan sawah milik orang lain. Tetapi juga ada yang telah memiliki lahan sendiri, karena lahannya sedikit dan hasilnya belum mencukupi kebutuhan hidupnya, maka untuk menambah penghasilan mereka bekerja di lahan milik orang lain dengan imbalan bagi hasil pertanian. Ada juga yang memiliki lahan namun tidak dapat menggarapnya dikarenakan suatu sebab sehingga penggarapan lahannya diwakilkan kepada orang lain dengan mendapat sebagian hasilnya. Namun dalam penelitian ini yang penulis akan teliti yaitu mengenai kegiatan kerjasama pertanian yang dilakukan diatas tanah wakaf masjid di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan. kerjasama tersebut dalam hukum islam disebut dengan akad muzâra ah, dimana dalam kerjasamanya itu dilakukan oleh pihak nadzir (orang yang mewakili masjid untuk menerima tanah wakaf) dengan seorang petani atau penggarap. Pada awalnya tanah wakaf tersebut hanya berupa lahan persawahan kosong dan kemudian oleh pihak nadzir di kembangkan. dengan menggunakan akad kerjasama pertanian. Masyarakat Desa Ngariboyo mayoritas adalah masyarakat yang bermadzhab Syafi i, sehingga dalam bermuamalah masyarakat disana pun berlandaskan pada madzhab tersebut. Mengenai tanah wakaf, madzhab syafi i berpendapat bahwa benda wakaf tidak boleh dijual, ditukar atau diganti dan dipindahkan. Karena dasar wakaf itu sendiri bersifat abadi, sehingga kondisi apapun benda wakaf tersebut harus dibiarkan sedemikian rupa meskipun benda wakaf tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Dasar pendapat ini adalah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: عه إب ه ع م ر قال : قال ع م ر ل لن ب ي صلى هللا عليو وسل م إن الم أة س ه م التي ل ي ب خ ي ب ر ل م ا ص ب ما ال ق ط ا ع ج ب إل ي منها ق ذ ا ر د ت ا ن ا ت ص ذ ق بها, فقال الن بي صلعم: ا ح ب س أص ل ها و س ب ل ث م ر ا ت ها. )رواه النسائي وابه ماجو( Dari Ibnu Umar, ia berkata : Umar mengatakan kepada Nabi saw. Saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Nabi saw mengatakan kepada Umar: Tahanlah (jangan jual, hibahkan, dan

wariskan) asal (pokok)nya, dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah. (HR. al-nasaiy dan Ibnu Majah). 1 Berdasarkan hal tersebut perlu untuk mengetahui pandangan tokoh agama di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan mengenai penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf masjid yang ada di desa tersebut. Mengingat kegiatan ini sudah berlangsung selama 5 (lima) tahun, kegiatan ini didasarkan karena adanya undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf atau inisiatif dari nadzir dan masyarakat disana perlu juga untuk diteliti. Tujuan dari penelitian ini ialah penulis ingin mengetahui penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan. Serta pendapat tokoh agama di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan terhadap penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf. B. KAJIAN TEORI 1. Penelitian Terdahulu M. Husen, STAIN Walisongo, 2006. Pengelolaan Tanah Wakaf Produktif (StudiKasus Tanah Wakaf Dalam Bentuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kel. Sawah Besar Kec. Gayamsari Kota Semarang). Sama-sama membahas mengenai pengelolaan tanah wakaf dan menganalisisnya dan merupakan penelitian lapangan (field research). Dalam skripsi tersebut membahas pengelolaan tanah wakaf produktif dalam bentuk SPBU serta menganalisis sistem pengelolaannya. Sedangkan dalam skripsi ini penulis membahas tentang penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf Menurut tokoh agama di Desa Ngariboyo, Magetan. hasil dari penelitianyang dilakukan oleh M. Husen adalah tanah wakaf tersebut merupakan salah satu tanah wakaf harta masjid Semarang yang mengalami alih fungsi dimana dulunya tanah wakaf tersebut hanya tanah kosong dan tidak produktif, kemudian dikelola oleh suatu badan yaitu badan pengelola Masjid Agung Semarang yang bukan merpakan nadzir yang sah menurut hukum. Ni am syahbana, UIN Maliki Malang, 2009. Pengelolaan Dan Pengembangan Tanah Wakaf Masjid Studi Tanah Wakaf Masjid An- Nikmah Di Desa Toyoresmi Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri. Penelitian ini sama-sama membahas tentang pengelolaan harta tanah wakaf masjid dan terjun dalam lapangan (field reseach). Dalam skripsi tersebut membahas pengelolaan tanah wakaf produktif dalam bentuk SPBU serta menganalisis sistem pengelolaannya. Sedangkan dalam skripsi ini penulis membahas tentang penerapanakad muzâra ah pada tanah wakaf Menurut tokoh agama di Desa Ngariboyo, Magetan. adapun hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ni am Syahbana yaitu upaya nadzir dalam mengelolaan dan mengembangan harta tanah wakaf masjid dilatar belakangi bahwa Masjid satu-satunya yang ada di Desa Toyoresmi serta kondisi Masjid yang hampir rusak sehingga harus diselamatkan dari kehancuran dan dibangun kembali, kemudian adanya bantuan modal untuk kesejahteraan masjid yang di belikan 1 Nawawi, Majmu Syarah Al- Muhadzab: 9/245

tanah berupa pekarangan untuk perluasan Masjid dan adanya bantuan berupa dua tanah wakaf ladang untuk kesejahteraan masjid yang mendapat dukungan dari warga tersebut. Lara harnita, UIN Sunan Kalijaga, 2012. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Pengolahan Lahan Pertanian Di Jorong Kelabu, Nagari Simpang Tonang, Sumatera Barat. Penelitian ini sama-sama membahas praktik pengolahan lahan pertanian. Dalam skripsi tersebut membahas tentang praktik pengolahan lahan pertanian di tinjau dari hukum Islam dengan menggunakan jenis penelitian normatif. Sedangkan dalam skripsi ini membahas mengenai pengolahan atau pengelolaan lahan pertanian berupa wakaf menurut pandangan tokoh agama dengan menggunakan jenis penelitian empiris. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa akad kerjasama pengolahan lahan pertanian atau praktik ongkos pudi di Jorong Kelabu Nagari Simpang Tonang sesuai dengan akad muzâra ah dan tidak bertentangan dengan hukum Islam. Akan tetapi ada beberapa aspek dalam akad ini yang tidak sesuai dengan konsep hukum Islam, yaitu dari segi pembagian hasil dan kewajiban para pihak 2. Akad Muzâra ah Dalam hukum islam kegiatan kerjasama pertanian disebut dengan akad muzâra ah, yaitu kerjasama pertanian yang dilakukan oleh pemili lahan dan penggarap dengan perjanjian bagi hasil berdasarkan kesepakatan bersama. Sedangkan muzâra ah menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari ah (KHES) adalah kerjasama antara pemilik lahan dan penggarap untuk pemanfaatan lahan. Kegiatan muzâra ah menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari ah (KHES) pasal 259 dapat dilakukan secara mutlak dan atau terbatas. 2 Adapun yang dimaksud mutlak yaitu kegiatan tersebut tidak ada batasan apapun, baik batasan jenis benih yang akan ditanam, waktu penanaman dan lain sebagainya. Sedangkan muzâra ah terbatas yaitu adanya batasan batasan dalam kegiatan yang dilakukan tersebut yang dibuat oleh pemilik lahan atau penggarap. Adapun rukun muzâra ah ada tiga yaitu aqid, ma qud alaih dan ijab qabul. 3 Menurut Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani dari madzhab Hanafi, masa penanaman atau selesainya muzâra ah tersebut harus jelas, tanah yang digunakan haruslah tanah yang layak untuk ditanami, obyek akad dalam muzâra ah harus sesuai dengan tujuan dilaksanakannya akad, baik menurut syara maupun urf (adat) apabila hal tersebut tidak jelas maka akad muzâra ah tidak sah. Mengenai benih, disediakan oleh pemilik lahan, penggarap maupun ditanggun bersama antara pemilik lahan dan penggarap. Mengenai syarat tanaman yang ditanam, harus jelas (diketahui). Dalam hal ini harus dijelaskan apa yang akan ditanam. Namun dilihat dari segi istihsan, menjelaskan sesuatu yang akan ditanam tidak menjadi syarat muzâra ah karena apa yang akan ditanam diserahkan sepenuhnya kepada penggarap. Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari ah (KHES) jenis benih yang akan ditanan bagi muzâra ah mutlak, penggarap bebas memilih jenis benih tanaman untuk ditanam. Berkaitan dengan modal atau benih dalam akad muzâra ah menurut menurut Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani dari madzhab Hanafi, menyatakan bahwa dilihat dari segi sah atau tidaknya akad muzâra ah, maka ada empat bentuk akad muzâra ah, yaitu: 4 2 Mahkamah Agung Republik Indonesia, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, 2008, h. 58 3 Nasrum Harum, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Graha Media Pratama,2007), h.277 4 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 392

1) Apabila lahan dan bibit dari pemilik lahan, kerja dan alat dari petani, sehingga yang menjadi objek muzâra ah adalah jasa petani, maka hukumnya sah. 2) Apabila pemilik lahan hanya menyediakan lahan, sedangkan petani menyediakan bibit, alat dan kerja, sehingga yang menjadi objek muzâra ah adalah manfaat lahan, maka akad muzâra ah juga sah. 3) Apabila alat, lahan dan bibit dari pemilik tanah dan kerja dari petani, sehingga yang menjadi objek muzâra ah adalah jasa petani, maka akad muzâra ah juga sah. Apabila lahan pertanian dan alat disediakan pemilik lahan sedangkan bibit dan kerja dari petani, maka akad ini tidak sah. Menurut Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin asy-syaibani, menentukan alat pertanian dari pemilik lahan membuat akad ini jadi rusak, karena alat pertanian tidak bisa mengikut pada lahan. Menurut mereka manfaat alat pertanian itu tidak sejenis dengan manfaat lahan, karena lahan adalah untuk menghasilkan tumbuh-tumbuhan dan buah, sedangkan manfaat alat hanya unutk mengolah lahan. Alat pertanian menurut mereka harus mengikuti pada petani penggarap, bukan kepada pemilik lahan. Abdul Sami Al-Mishri mendefinisikan muzâra ah, dengan sebuah akad yang mirip dengan akad mudhârabah, namun objek pengelolaan dalam akad ini berupa tanah pertanian. Pemilik tanah memberikan tanahnya kepada penggarap untuk diberdayakan, nantinya jika terdapat panen, akan dibagi berdua sesuai dengan kesepakatan. Sebuah akad kerjasama pengolahan tanah pertanian antara pemilik tanah dengan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Jika terjadi kerugian, dalam arti gagal panen, maka penggarap tidak menanggung apapun, tapi ia telah rugi atas usaha dan waktu yang telah dikeluarkan. 5 Adapun yang dimaksud dengan hasil, sesuai dengan ketentuan pasal 1 Undang- Undang No 2 Tahun 1960 tersebut adalah hasil usaha pertanian yang diselenggarakan oleh penggarap dalam perjanjian bagi hasil, setelah dikurangi biaya untuk bibit, pupuk, ternak, serta biaya untuk menanam dan panen. 6 Jadi yang dimaksud hasil yang dibagi adalah hasil bersihnya, yaitu hasil kotor dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan selama penanaman yang telah dikeluarkan oleh kedua belah pihak yang berakad. 3. Wakaf Wakaf menurut madzhab Syafi i yaitu menahan harta yag diambil manfaatnya dengan tetap utuh barangnya dan barang tersebut hilang kepemilikannya dari waqif, serta dimanfaatkan pada sesuatu yang dibolehkan. 7 Adapun rukun dan syarat yang harus dipenuhi: 8 1) Orang yang berwakaf (waqif), syaratnya orang yang bebas untuk berbuat kebaikan, meskipun bukan muslim dan dilakukan dengan kehendak sendiri bukan karena dipaksa. 2) Benda yang diwakafkan (mauquf), syaratnya pertama, benda itu kekal zatnya dan dapat diambil manfaatnya. Kedua, kepunyaan orang yang mewakafkan, meskipun bercampur 5 Abdul Sami Al- Mishri, Pilar-Pilar Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, h.110 6 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil. 7 Muhammad Jawad Mughniyah. Fikih Lima Madzhab.(Jakarta: Penerbit Lentera.2001), H. 635 8 Abdul Rahman Ghazaly Dkk,(Fiqh Muamalat. Jakarta: KENCANA, 2010),h. 177-178

tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Ketiga, harta wakaf harus segera dapat diterima setelah wakaf diikrarkan. 3) Tujuan wakaf (mauquf alaih), disyaratkan tidak bertentangan dengan nilai ibadah. 4) Pernyataan wakaf (sighat waqf), baik dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun dengan perbuatan. Perwakafan bertujuan untuk memanfaatkan sesuatu yang baik untuk kepentingan ibadah maupun sosial. Disyaratkan agar harta yang diwakafkan haruslah benda yang mempunyai nilai manfaat dan sifatnya kekal. Akan tetapi jika melihat realita yang ada bahwa tidak semua dari benda yang diwakafkan itu kekal dzatnya. Wakaf yang berkembang saat ini masih sedikit sekali yang dikelola secara produktif dalam bentuk suatu usaha yang hasilnya dapat dimanfaatkan begi pihak- pihak yang memerlukan terutama di Indonesia, yang masih banyak masyarakat miskin. Pemanfaatan tersebut dilihat dari segi sosial khususnya untuk kepentingan keagamaan memang efektif, tetapi dampaknya kurang berpengaruh positif dalam kehidupan ekonomi masyarakat, apabila peruntukan benda wakaf tidak diimbangi dengan wakaf yang dapat dikelola secara produktif, maka wakaf sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan kesejahteraan social ekonomi masyarakat tidak akan terealisasi secara optimal. Maka dari itu pengertian tentang wakaf produktif harus dipahami olehsemua pihak terutama yang menangani langsung perwakafan agar mau mengelola harta wakaf yang memiliki manfaat ibadah dan ekonomis. Dalam hal ini wakaf produktif diartikan sebagai harta wakaf yang digunakan untuk kepentingan produksi, baik dibidang pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa yang manfaatnya bukan pada benda wakaf secara langsung, tetapi dari keuntungan bersih hasil pengembangan wakaf yang diberikan kepada orang-orang yang berhak sesuai dengan tujuan wakaf, disini wakaf produktif diolah untuk dapat menghasilkan barang atau jasa kemudian dijual dan hasilnya dipergunakan sesuai dengan tujuan wakaf, seperti yang telah dijelaskan dalam macam-macam bentuk wakaf. Mengenai tanah wakaf yang mengalami perubahan, Drs. H. Suparman Usman dalam bukunya yang berjudul Hukum Perwakafan di Indonesia, menjelaskan beberapa pendapat dari para ulama`-ulama, diantaranya pendapat yang memperbolehkan dan yang tidak memperbolehkan adanya perubahan. 1) Pendapat yang Tidak Memperbolehkan atau yang Melarang: Dari golongan Syafi`i dan Maliki berpendapat bahwa apabila benda wakaf sudah tidak berfungsi (tidak dapat dipergunakan) atau kurang berfungsi, maka benda tersebut tidak boleh dijual, tidak boleh diganti / ditukar, tidak dipindahkan, tetapi benda tersebut dibiarkan tetap dalam keadaanya. Sejalan dengan itu, Abu Yusuf (murid Hanafi) juga berpendapat bahwa benda wakaf tidak boleh dijual dan menggunakan hasil penjualan tersebut, sedangkan menurut Muhammad bin hasan al- syaibani yang juga murid dari Hanafi berpendapat bahwa kalau benda tersebut sudah tidak berfungsi atau rusak, maka benda tersebut kembali kepada pemilik pertama atau wakif. 2) Pendapat yang Memperbolehkan: Imam Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Taimiyah membolehkan menjual, merobah, mengganti atau memindahkan benda wakaf yang sudah tidak berfungsi atau kurang berfungsi. Mereka menyatakan bahwa berdasarkan keadaan darurat dan prinsip maslahat, perubahan tersebut dapat dilakukan. Ibnu Qudamah mengatakan bahwa apabila harta wakaf

mengalami kerusakan sampai tidak dapat membawa manfaat sesuai dengan tujuannya hendaknya dijual, kemudian harga penjualannya dibelikan barang lain yang akan mendatangkan kemanfaatan sesuai dengan tujuan wakaf, dan barang yang dibeli tersebut berkedudukan sebagi harta wakaf seperti semula. Dalam PP No. 28 Tahun 1977 menyatakan bahwa pada dasarnya tidak dapat dilakukan perubahan peruntukan atau penggunaan tanah wakaf. Tetapi sebagai pengecualian, dalam keadaan khusus penyimpangan dapat dilakukan dengan persetujuan tertulis dari Menteri Agama, yang alasannya meliputi: a) Karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh wakif. b) Karena kepentingan umum. Karena wakaf adalah salah satu usaha untuk mewujudkan dan memelihara hubungan anatara manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama. Selain itu, juga merupakan salah satu kegiatan pemanfaatan harta yang juga dianjurkan dalam Islam karena merupakan perbuatan baik yang pahalanya tidak putus-putus diterima oleh yang melakukannya selama barang yang diwakafkan itu tidak musnah dan terus dimanfaatkan orang. Wakaf sebagai suatu perbuatan yang bersifat sosial yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pihak yang memerlukan baik untuk kegiatan keagamaan, membantu fakir miskin dan lain sebagainya sesuai dengan tujuan dan ikrar wakaf. Hal tersebut akan tercapai apabila tanah wakaf tersebut dikelola dengan baik. Karena dalam perwakafan, suatu pengelolaan merupakan hal yang sangat penting, dimana suatu harta benda wakaf akan dirasakan manfaatnya apabila harta wakaf tersebut dikelola dengan baik dan produktif. Benda wakaf yang dapat dikelola dengan baik dan produktif memiliki nilai yang cukup berarti bagi upaya meningkatkan kesejahteraan umat. Untuk meningkatkan kemanfaatan benda wakaf, tidak bisa tidak, pengelolaannya harus dijalankan dengan melakukan kegiatan ekonomi. Karena wakaf merupakan bagian dari Syari'ah Islamiyah, maka kegiatan ekonomi dalam pengelolaan benda wakaf tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam wakaf itu sendiri dan prinsip-prinsip dalam ekonomi Syari'ah. C. METODE PENELITIAN. Karena penelitian penulis ini ada di Desa Ngariboyo Magetan, maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang objeknya mengenai gejala- gejala, peristiwa, dan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar baik masyarakat, lembaga atau negara yang bersifat non pustaka. Penelitian yang melihat fakta sosial yang terdapat di masyarakat. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan jenis pendekatan penelitian kualitatif, karena data yang digunakan bersifat kualitatif, yaitu perkataan atau keterangan seseorang yang merupakan pemikiran atau pemahaman mereka terhadap objek atau topik tertentu dalam hal ini pandangan tokoh agama terhadap akad muzâra ah pada tanah wakaf. Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ini, maka untuk penentuan sampelnya menggunakan metode penentuan subyek dengan menggunakan sampling purposive yaitu pemilihan sampel berdasarkan pada pertimbangan tertentu atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut dengan objek penelitian untuk menjamin bahwa unsur yang diteliti masuk dalam kategori. Dalam hal ini adalah tokoh

agama yang benar-benar mengetahui dan paham tentang penerapan akad muzâra'ah pada tanah wakaf. Data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Adapun sumber data primer ini diperoleh dari lapangan secara langsung berupa wawancara kepada tokoh agama di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan. Data sekunder berupa dokumentasi, buku-buku, jurnal di internet atau di media masa, kompilasi Hukum ekonomi syariah. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Adapun metode wawancara dalam penelitian ini berupa berupa wawancara langsung. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan interview guide (panduan wawancara) memakai jenis wawancara terstruktur, yaitu dengan Panduan wawancara agar proses wawancara tidak kehilangan arah. Metode kepustakaan digunakan untuk membantu penulis dalam menganalisa penelitian ini. Dimana data kepustakaan ini nanti akan menjadi salah satu rujukan penulis dalam membantu menganalisa dan menyimpulkan penelitian tersebut selain dari data lapangan yang penulis peroleh. Metode dokumentasi dalam penelitian dipergunakan untuk menunjang dan melengkapi data primer penulis yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian dan juga sebagai arsip dan bukti bahwa penelitian tersebut asli kebenarannya. Pengolahan Data yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan beberapa tahap: 1. Tahap Edit Tahap meneliti kembali data-data yang diperoleh terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, kesesuaian serta relevansinya dengan kelompok data yang lain. Dalam hal ini penulis menganalisis kembali, merangkum, memilih hal-hal pokok dan memfokuskan hal-hal penting yang berkaitan dengan tema peneliti, terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara para pelaku akad muzâra ah pada tanah wakaf serta tokoh agama Islam di Desa Ngariboyo. 2. Tahap Klasifikasi Merupakan pengelompokan data yang dipaparkan sesuai dengan sub bab. Penulis mengelompokkan data hasil wawancara dengan para informan yang merupakan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah sesuai dengan nomor pertanyaan pada rumusan masalah. 3. Tahap Verifikasi Tahap pembuktian kebenaran data untuk menjamin validitas data yang telah terkumpul. Verifikasi ini dilakukan dengan cara mendengarkan dan mencocokkan kembali hasil wawancara yang telah dilakukan sebelumnya dalam bentuk rekaman dengan tulisan dari hasil wawancara peneliti ketika wawancara, kemudian menemui sumber data subyek dan memberikan hasil wawancara dengannya untuk ditanggapi apakah data tersebut sesuai dengan yang informasikan olehnya atau tidak. 4. Analisis Data Suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan data-data yang telah terkumpul, sehingga diperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Dalam penelitian ini Analis data meliputi analisis terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap tokoh agama di Desa Ngariboyo. 5. Kesimpulan

Membuat kesimpulan dari keseluruhan data-data yang telah diperoleh dari kegiatan penelitian yang sudah dianalisis. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo, Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan Dalam praktek kerjasama pengelolaan sawah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo, perjanjian di antara petani dan pemilik tanah atau sawah yaitu nadzir yang mewakili masjid hanya dilakukan secara lisan. Berlangsungnya kegiatan ini dengan bertemunya nadzir dan petani atau penggarap untuk menentukan pembagian hasil setiap kali panennya. Setelah akad tersebut disepakati maka kegiatan tersebut dapat dilakukan. Terlihat bahwa dalam akad tersebut tidak diketahui kapan berakhirnya muzâra ah ini. Karena dalam perjanjian tersebut yang disepakati bukan masa berlakunya muzâra ah, tapi hanya hasil yang diterima masing-masing pihak. Dengan kata lain, pihak yang memiliki lahan (nadzir) dapat menarik kembali lahan wakaf yang telah digarap ataupun dari pihak petani yang sewaktu-waktu mengembalikan lahan tersebut jika ia merasa tidak sanggup lagi untuk menggarap. Penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf yang terjadi di Desa Ngariboyo tersebut merupakan muzâra ah mutlak, yaitu kerjasama yang dilakukan tanpa adanya batasan apapun. Muzâra ah dilakukan pada tanah wakaf yang telah diikrarkan di KUA dan belum disertifikatkan. Obyek akad yang digunakan adalah memanfaatkan atau mengambil manfaat atas tanah wakaf. Maka yang mengeluarkan bibit adalah penggarap. Namun karena kegiatan muzâra ah ini berada di wilayah tanah wakaf, dimana tujuan dari wakaf adalah mengambil manfaat harta wakaf untuk kemaslahatan dan membantu kesejahteraan umat maka pihak masjid yang diwakili oleh nadzir turut mengeluarkan benih untuk ditanam dalam rangka untuk membantu salah satu warga masjid Baitul Anwar. Pelaksanaan akad muzâra ah pada tanah wakaf yang terjadi di Desa Ngariboyo adalah lahan pertanian dari pemilik lahan wakaf atau nadzir sedangkan tenaga dan alat dari petani. Untuk penyedian bibit, pupuk, dan disediakan oleh kedua belah pihak yaitu pemilik lahan atau nadzir dan petani atau penggarap (separo-separo). Ini dilakukan berdasarkan atas kesukarelaan dan tidak ada unsur keterpaksaan di dalamnya, kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan ta awwun (tolong menolong). Jenis tanaman yang akan ditanam tidak dijelaskan dalam akad, tetapi diserahkan sepenuhnya kepada penggarap dan pihak penggarap atau petani tidak menjelaskan jenis tanaman yang ditanamnya. Melainkan hanya menjelaskan hasil tanaman yang diperolehnya ketika telah selesai panen. Begitupula mengenai menjelaskan perkiraan hasil panen kepada pemilik lahan oleh penggarap ketika akad tidak ada hanya di beritahukan hasil panennya setelah panen. Namun tanpa harus dijelaskan oleh petani, pemilik lahan sudah dapat mengira-ngira sendiri hasil panen yang akan didapat dengan melihat lahan yang ada. Hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Ngariboyo, dimana dalam kerjasama pertanian tidak pernah menyebutkan perkiraan hasil panennya karena telah dianggap lazim di Desa tersebut. Sehingga kebenaran akan hasil yang diperoleh tidak diketahui secara pasti oleh pemilik lahan. Hal ini dikarenakan nadzir atau pemilik lahan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada penggarap sehingga apa yang dilaporkan oleh petani nadzir atau pemilik lahan mempercayainya. Berdasarkan hal tersebut kegiatan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo boleh karna telah menjadi kebiasan warga di Desa tersebut sejak dahulu. Apabila dalam

kerjasama tersebut mendapatkan hasil maka keuntungan dibagi bersama setengah - setengah. Begitu pula jika mengalami masalah dalam hal gagal panen, maka kerugian ditanggung bersama antara nadzir dan penggarap. Meskipun tujuan dari muzâra ah pada tanah wakaf ini adalah untuk membantu masyarakat yang kurang mampu namun kegiatan tersebut berada pada lingkungan harta wakaf milik masjid, maka apabila terjadi kerugian atau gagal panen maka ditanggung bersama. Pembagian hasil panen yang dilakukan oleh nadzir dan penggarap di Desa Ngariboyo, yakni dengan cara melakukan pengurangan benih sebanyak yang disetorkan di awal perjanjian terhadap hasil penen yang belum dibagi antara keduanya, hal ini merupakan kebiasaan penduduk setempat. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa pengurangan benih terhadap hasil penen yang belum dibagi merupakan pengembalian terhadap modal berupa benih yang telah diberikan dan sudah seharusnya dipergunakan kembali untuk penanaman selanjutnya agar ketika awal tanam lagi tidak kesulitan mencari benih. Setelah hasil dikurangi untuk mengembalikan modal awal masing-masing kedua belah pihak yang telah dikeluarkan, kemudian sisa dari hasil tersebut di bagi dua berdasarkan kesepakatan bersama di antara kedua belah pihak ketika akad. Untuk pembagian keuntungan dari hasil pertanian pada tanah wakaf milik masjid Baitul Anwar yaitu dibagi dua (separo-separo) atau setengah antara penggarap dengan nadzir. Dalam hal waktu berakhirnya akad muzâra ah dan sampai kapan muzâra ah itu dilakukan tidak dijelaskan. Sehingga berakhirnya akad muzâra ah tidak diketahui oleh masing-masing pihak yang berakad. Apabila dari pihak penggarap sudah tidak mampu lagi mengerjakan lahan persawahan tersebut maka muzâra ah bisa berakhir dan digantikan oleh petani lain yang siap untuk mengelola tanah tersebut setelah selesai panen. 2. Pandangan tokoh agama terhadap penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan. Mengenai hukum wakaf, keempat tokoh agama sepakat mengenai hukum wakaf dalam islam adalah sunah. Namun apabila wakaf tersebut terkait dengan nadzar maka menjadi wajib. Karena hukum asal dari nadzar adalah wajib. Adapun mengenai wakaf produktif menurut tokoh agama sudah dikenal dalam hukum islam. Namun di Indonesia, khususnya di Desa Ngariboyo, belum begitu paham mengenai wakaf produktif ini. Kemudian, mengenai adanya akad pada tanah wakaf keempat tokoh agama Desa Ngariboyo bersepakat tentang hukum kebolehannya. Dimana penerima wakaf dapat melakukan apa saja demi pemanfaatan barang wakaf, termasuk melakukan akad. Tentu saja apa yang dilakukan penerima wakaf dalam masalah ini diwakili oleh nadzir dalam melakukan akad diperbolehkan selama akadakad tersebut tidak bertentangan dalam hukum islam. Mengenai penerapan akad muzâra ah mereka bersepakat bahwa hukum bolehnya mengembangkan wakaf dengan cara muzâra ah. Walaupun para fuqaha berbeda pendapat mengenai akad muzâra ah tersebut, tetapi kegiatan tersebut sudah mengakar bahkan sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat umum dalam menggarap sawahnya. E. PENUTUP 1. Kesimpulan a. Penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo tersebut dilakukan secara lisan berdasarkan kepercayaan dan merupakan muzâra ah mutlak, yaitu

kerjasama yang dilakukan tanpa adanya batasan apapun. Dalam prakteknya, waktu berakhirnya akad tersebut tidak disebutkan dalam akad begitu pula jenis tanaman yang akan ditanam melainkan hanya menjelaskan hasil tanaman yang diperolehnya ketika telah selesai panen. Hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Ngariboyo, dimana dalam kerjasama pertanian tidak pernah menyebutkan perkiraan hasil panennya karena telah dianggap lazim di desa tersebut. Pembagian hasil panen yang dilakukan oleh nadzir dan penggarap yakni dengan cara melakukan pengurangan benih sebanyak yang disetorkan di awal perjanjian terhadap hasil penen yang belum dibagi antara keduanya, hal ini merupakan kebiasaan penduduk setempat. Dan dalam penyediaan benih ditanggung bersama namun pada awal terjadinya akad benih dipenuhi oleh petani terlebih dahulu dan diganti setengah oleh pihak nadzir setelah bagi hasil panen. Sedangkan apabila terjadi gagal panen maka kerugian pun ditanggung bersama sebagaimana dalam penyediaan bibit. Sehingga penerapan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo dilakukan berdasarkan adat kebiasaan. b. Mengenai penerapan akad muzâra ah mereka bersepakat bahwa hukum bolehnya mengembangkan wakaf dengan cara muzâra ah. Walaupun para fuqaha berbeda pendapat mengenai akad muzâra ah tersebut, tetapi kegiatan tersebut sudah mengakar bahkan sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat umum dalam menggarap sawahnya. 2. Saran Hendaknya saat melakukan akad muzâra ah dilakukan secara tertulis karena hal ini menyangkut harta wakaf milik masjid untuk warga Desa Ngariboyo, dan juga untuk segera melakukan sertifikat tanah wakaf. Sebaiknya dalam melakukan akad muzâra ah ditentukan juga waktu berakhirnya, atau dilakukan penggarapan secara bergilir. Dari pihak nadzir hendaknya melakukan pengawasan secara langsung atas penggarapan tanah wakaf masjid tersebut, supaya dapat diketahui dengan jelas atas kegiatan akad muzâra ah pada tanah wakaf di Desa Ngariboyo Magetan. Selain hal tersebut juga dibutuhkan peran aktif bagi pihak KUA khususnya Kecamatan Ngariboyo dan juga Kemenag Magetan untuk terus mensosialisasikan akan manfaat wakaf khususnya wakaf produktif kepada warga. Dan juga pengarahan kepada nadzir dalam mengelola dan mengembangkan harta wakaf yang dipegangnya.