G30S - Dokumen Suparjo

dokumen-dokumen yang mirip
Mengungkap Kegagalan Gerakan 30 September 1965

Kesaksian Elite PKI tentang Sepak Terjang Aidit

Kenapa Soeharto Tidak Mencegah G30S 1965?

Kesaksian Siauw Giok Tjhan dalam Gestapu 1965

G30S dan Kejahatan Negara

PEMBERONTAKAN GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI 1965

Pemberontakan Militer dan Ideologi Peristiwa Madiun, DI/TII, G 30 S/PKI

Silahkan Baca Tragedi PKI Ini

Surat-Surat Buat Dewi

TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF

Ketika Bung Karno Didemo Tentara

G 30 S/PKI, Gestapu. dan Penyelesaian Peristiwa G 30 S Secara Beradab

Mengenang Malam Jahanam (1)

G 30 S PKI. DISUSUN OLEH Aina Aqila Rahma (03) Akhlis Suhada (04) Fachrotun Nisa (14) Mabda Al-Ahkam (21) Shafira Nurul Rachma (28) Widiyaningrum (32)

Partai PDIP dan Pembasmian PKI Melalui Supersemar.

Berbagai Kisah G30S Oleh Asvi Warman Adam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai memperoleh akses informasi yang lebih luas dan terbuka.

Ini Pantauan CIA Saat Kejadian G30S/PKI

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah sebagai suatu narasi besar diperlihatkan melalui peristiwa dan

pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965

Gerakan 30 September Hal tersebut disebabkan para kader-kader Gerwani tidak merasa melakukan penyiksaan ataupun pembunuhan terhadap para

REPRESENTASI PERAMPASAN HAK HIDUP INDIVIDU YANG DIANGGAP TAPOL DALAM NOVEL MENCOBA TIDAK MENYERAH KARYA YUDHISTIRA ANM MASSARDI

LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN EKSTRADISI ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA

Kisah 'perburuan' kaum komunis di BBC

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang

MENGUNGKAP FAKTA G 30 S/PKI (Catatan Pengalaman Seorang Saksi Sejarah)

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65

PKI 01 BALIK G 30 5/1965:

Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965

Dokumen CIA Melacak Penggulingan dan Konspirasi Tragedi G 30 S

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SISTEM PRESIDENSIIL TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sejarah nasional Indonesia tidak lepas dari pemerintahan Soekarno dan Soeharto, seperti

Tinjauan Pustaka, Kerangka Fikir dan Paradigma

Presiden Seumur Hidup

Identitas bangsa Indonesia berubah total sesudah 1965

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berasal dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat oleh. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar

*BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA CINDY ADAMS* *<EDISI ASLI: SUKARNO AN AUTOBIOGRAPHY, AS TOLD TO CINDY ADAMS>*

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Meninjau Kembali Pembantaian 50 Tahun Lalu

Ben Anderson dan Kudeta Militer 1 Oktober 1965

Pergolakan dan pemberontakan dalam negri yang mengancam disintegrasi bangsa TUGAS

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

LATIHAN SOAL SEJARAH Perjuangan Bangsa ( waktu : 30 menit)

G30S Sejarah Yang Digelapkan Oleh: Harsutejo

MAKALAH. Pengadilan Atas Kasus Pemberontakan Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah. Pendidikan Pancasila

Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965

NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1959 TENTANG FRONT NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1967 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

penjajahan sudah dirasakan bangsa Indonesia, ketika kemerdekaan telah diraih, maka akan tetap dipertahankan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Dari Maklumat, Penculikan, sampai Pembunuhan

BAB I PENDAHULUAN. PKI merupakan sebuah Partai yang berhaluan Marxisme-Lenisme(Komunis).

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 3 TAHUN 1967 (3/1967) Tanggal: 6 MEI 1967 (JAKARTA)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1959 TENTANG PANGKAT-PANGKAT MILITER KHUSUS, TITULER DAN KEHORMATAN

Tap XXXIII/MPRS/1967

Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara

Uni Soviet dihancurkan oleh pengkhianatan

Siauw Giok Tjhan Dan Indonesia Sebagai Negara Hukum

Laporan akhir IPT, 8 Juni, 2016

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III ORGANISASI MILITER DAN SIASAT GERILYA TII. Pada tanggal 15 Januari 1950, pihak NII telah berhasil mengubah dan

BAB IV AURI DAN PERISTIWA G-30-S

KEMAL IDRIS, KISAH TIGA JENDERAL IDEALIS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. berposisi di baris depan, sebagai komunitas sosial yang memotori perwujudan

BACAAN UNTUK HARI " SEBELAS MARET" HARI "SUPERSEMAR"

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gagalnya Konstituante dalam menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) dan

STANDAR PELAYANAN PENGADILAN (SPP) DALAM LINGKUNGAN PERADILAN MILITER

STANDAR PELAYANAN PENGADILAN (SPP) DALAM LINGKUNGAN PERADILAN MILITER

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1990 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pada tanggal 1 September 1945, Komite Sentral dari Komite-komite Kemerdekaan Indonesia mengeluarkan sebuah manifesto:

KEHIDUPAN POLITIK PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1990 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

Fakta Dibalik Peristiwa G 30 S PKI

Jawaban Soal-soal Untuk Menguji Diri

BAB I PENDAHULUAN. rakyat Indonesia. Rakyat harus tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

Rekonsiliasi Korban HAM-Berat 1965

UNDANG-UNDANG NO.7 TAHUN 1967 TENTANG VETERAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PJ. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Negara Jangan Cuci Tangan

I. PENDAHULUAN. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME [LN 2002/106, TLN 4232]

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SILABUS PEMBELAJARAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2005 TENTANG SEKRETARIAT NEGARA DAN SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Terdapat beberapa hal yang penulis simpulkan berdasarkan permasalahan yang

Biografi Presiden Megawati Soekarnoputri. Oleh Otto Ismail Rabu, 05 Desember :20

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

G30S - Dokumen Suparjo (Harsutejo) Dokumen Suparjo (selanjutnya saya singkat DS) disebut pertama kali dalam buku Jenderal Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas jilid 6 yang terbit pada 1986. Ia menerima DS dari Teperpu dalam persiapan Sidang Istimewa MPRS 1967 yang akan menentukan nasib Presiden Sukarno serta memecatnya agar nampak sah. Nasution mengutip dokumen itu di antaranya gerakan hanya dirancang menang, tidak ada rancangan apa pun jika gagal, bahkan diskusi tentang itu juga tidak. Selanjutnya disebut dokumen itu menyatakan Presiden Sukarno memberi restu kepada G30S dan sambil menepuk-nepuk pundak Parjo dan berpesan agar G30S mengadakan parade besar-besaran pada 5 Oktober (Nasution 1988:265). Ini bertolak belakang dengan keterangan asli Suparjo di depan Mahmillub, ketika menepuk pundak Suparjo pada pagi hari 1 Oktober BK mengancam Awas ja kalau tidak beres engke maneh dipeuntjit. Kalau tidak bisa menjelesaikan memberhentikan gerakan G30S, kamu nanti saja sembelih dengan gaya bercanda (John Roosa 2008:73-74, 88 catatan no.39). Dalam kenyataannya Jenderal Nasution ikut hanyut dalam melakukan fitnah terhadap lawan politiknya. Lalu ditulis oleh Nasution, Dalam dokumen yang lain tentang kegagalam G30S, ternyata kemudian ia mengutip dokumen yang sama itu juga, tidak ada dokumen lain. Disebut tentang pimpinan G30S yang agak bingung, tidak memberikan perintah selanjutnya, bahkan pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa pun. Pasukan Yon 530 Brawijaya dan Yon 454 Diponegoro tidak mendapat makanan, RRI ditinggalkan pasukan tanpa ada instruksi. Kemudian pada hari kedua disebut adanya pertemuan pimpinan G30S di Lubang Buaya, pasukan RPKAD mulai menyerang, keadaan mulai kacau, diputuskan untuk menghentikan perlawanan dan semua pulang ke rumah maing-masing sambil menunggu situasi. Setelah diterima berita Jenderal Suharto akan melakukan serangan balik, Omar Dani menawarkan integrasi menghadapi Suharto, bahkan Omar Dani telah memerintahkan dipasangnya roket-roket pada pesawat. Tawaran begitu penting itu tak mendapat jawaban positif. Sebenarnya PKI tidak perlu kalah karena pengaruhnya besar. Pimpinan G30S membawahi 15 batalion, 3 batalion dapat dikerahkan cepat dengan bantuan AU. Tapi semua itu tidak dimanfaatkan, maka akibatnya kita dihancurkan satu demi satu (Nasution 1988:265-267). Apa yang disebut sebagai DS menjadi menarik perhatian dengan terbitnya buku John Roosa (2008) yang menjadikan dokumen ini sebagai pintu masuk untuk membahas banyak bagian samar-samar dan gelap peristiwa G30S 1965.i[1] Untuk pertama

kalinya dokumen ini dikupas panjang lebar dalam bingkai membuat analisis terhadap peristiwa tersebut. Sejarawan Kanada yang juga mengajar di Indonesia ini menulis saat menemukan dokumen yang ditulis almarhum Brigadir Jenderal, selanjutnya saya menemukan analisis yang ditulisnya mengenai kegagalan G30S (kursif hs) (John Roosa 2008:20). Disebutkan keaslian dokumen tersebut dikonfirmasi oleh Heru Atmojo (almarhum), mantan Letkol Pnb AU yang menemuinya di Penas dan mengantarnya mondar-mandir karena tugas dari KSAU Omar Dani pada 1 Oktober 1965ii[2] serta berada dalam satu tahanan dengan Suparjo pada 1967-1968. Dari situ ia berkesimpulan perlu ada analisis baru terhadap G30S (Idem:21).iii[3] Selanjutnya kajiannya juga berdasarkan keterangan narasumber seorang kader tinggi PKI dengan pengetahuan luas secara rinci dan mendalam tentang Biro Chusus (BC) yang berperan penting dalam G30S yang disamarkan dengan nama Hasan.iv[4] Ia punya posisi hingga memiliki informasi tangan pertama mengenai kejadian-kejadian yang diceritakannya, tahu dari dekat kinerja BC. Dikatakannya cerita Hasan, di luar keterangan di Mahmillub, sampai saat ini merupakan sumber utama satu-satunya tentang para anggota BC, ceritanya patut dikaji saksama. Bersama sejumlah rekannya di Indonesia John Roosa juga mewawancarai empat orang yang ambil bagian dalam G30S dan empat mantan kader tinggi PKI lainnya, beberapa orang yang cukup mengetahui masalah G30S serta tulisan mantan tapol dan pemimpin Baperki Siauw Giok Tjhan sebagai pendapat kolektif sejumlah tapol, tulisan kader tinggi PKI Munir dan Iskandar Subektiv[5] (Idem:22-23, 46 catatan no.44 dan 45; h.170). Demikian antara lain bahan-bahan yang dihimpun John Roosa sebagai dasar penulisan bukunya. Kajian John Roosa Mungkin saja apa yang disebut sebagai DS itu asli atau setengah asli. Yang pasti dokumen itu ia temukan dalam berkas Mahmillub Brigjen Suparjo 1967 dalam bentuk salinan ketikan dari aslinya [kalau asli] oleh Mahmillub. Bahkan saya menduga salinan yang digunakan John Roosa berasal dari beberapa tahun kemudian ketika ejaan yang diperbarui berlaku pada 1975 karena ada sedikit kekacauan ejaan pada butir 15 DS.vi[6] Roosa di antaranya menyoroti ketidaktahuan Letkol Untung sebagai salah satu Danyon Cakrabirawa tentang keberadaan Presiden Sukarno pada 1 Oktober 1965, sebagai salah satu keganjilan penting yang jarang mendapatkan perhatian peneliti. Padahal seharusnya dengan mudah ia bisa nendapatkan informasi dari teman-temannya yang berjaga bahwa BK tidak bermalam di Istana. Pasukan G30S berjaga di depan Istana Presiden yang kosong. Kedatangan Brigjen Suparjo pada pagi

hari itu ke Istana dari PAU Halim merupakan kesia-siaan buang-buang waktu yang berharga sebagai misi yang gagal (lihat Roosa 2008:57-58). Berbeda dengan Letkol Untung, Kolonel Latief dan Mayor Suyono, keberadaan Brigjen Suparjo di dalam komplotan G30S baru pada 30 September dan berakhir pada 2 Oktober 1965. Tidak aneh jika ia tidak tercantum sebagai pucuk pimpinan G30S, melainkan Letkol Untung. Ia telah cukup lama mengenal Syam yang ditemuinya pada 30 September. Syam dianggapnya sebagai representasi PKI, sebuah partai yang dikenalnya sebagai partai raksasa dengan jutaan anggota, punya nama baik, terorganisasi secara ketat dengan disiplin tinggi, anggotanya terdiri dari petani butahuruf di desa sampai menteri. Mereka punya lembaga pendidikan, koran dan penerbitan, kegiatan seni. Pendeknya Suparjo terpincut dengan partai ini, bergabung dengan gerakan pada detik-detik terakhir dan menganggap PKI mengetahui apa yang sedang terjadi. Dakwaan vii [7] Supardjo bahwa partai memimpin G30S tidak membuktikan bahwa PKI bertanggung jawab sebagai suatu lembaga. Ia mungkin hanya bisa tahu dengan pasti bahwa Sjam memimpin G30S dan dengan satu atau lain cara juga bekerja sama dengan Aidit (2008:132-133). Para perwira yang ikut serta dalam G30S, termasuk Suparjo, sebenarnya ragu akan rancangan yang disodorkan Syam, tetapi mereka percaya kepada kebijaksanaan kepemimpinan sebuah partai yang telah sangat berhasil dalam mengorganisasi jutaan rakyat. Ia menduga partai punya pandangan jauh dalam merancang rencana yang tak mungkin keliru, percaya bahwa pimpinan tentu punya perhitungan ulung yang akan dikeluarkan pada saat yang tepat. Baru kemudian setelah gagal ia mengakui menilai kawan pimpinan terlalu tinggi. Sebuah aksi militer dipimpin oleh seorang sipil, Syam, yang tak banyak tahu tentang prosedur militer dan menimbulkan kekacauan garis komando (2008:133-134, 137). Analisis Suparjo menyebutkan tentang adanya rancangan pertama yang kemudian diadakan perbaikan. Semula rancangan para perwira revolusioner itu terdiri dari dua tahap. Pertama hanya bersifat internal AD dengan menyingkirkan para jenderal kanan yang akan dilakukan oleh para perwira pendukung BK tanpa campurtangan pihak lain. Setelah gerakan para perwira tersebut berhasil maka pada tahap kedua akan diikuti gerakan PKI seluruhnya yang tidak lagi takut akan represi militer. Disebutkan bahwa Suparjo pernah menyatakan kepada Rewang, mantan anggota Politbiro PKI, pada waktu ditahan bersama di RTM pada 1967 lebih baik seandainya PKI tidak campur tangan dan membiarkan para perwira militer itu sendiri melawan Dewan Jenderal (2008:136).viii[8] Setelah terbunuhnya tiga jenderal ketika diculik, kemudian pembunuhan empat korban lainnya di Lubang Buaya, gerakan mulai berantakan. Selanjutnya Presiden Sukarno menolak mendukung G30S dan memerintahkan kepada Suparjo untuk menghentikan

gerakan, para perwira tunduk, berbeda dengan Aidit dan Syam yang dikatakan hendak melanjutkan gerakan dengan mengubah isi pengumuman DR. Para perwira marah kepada Syam dengan adanya Dekrit No. 1 tentang DR dan Kabiner Dwikora didemisionerkan yang disiarkan RRI pada jam 13.00, sesuatu yang tak pernah dibicarakan. Sebelum serangan Suharto, Suparjo bersepakat dengan Omar Dani untuk melawan, tetapi ia mendapati pimpinan inti aksi tidak tanggap, bingung dan lelah. Maka gerakan mengalami gagal total. Jenderal Suharto mulai melakukan serangan balik, merebut RRI dan Telekom dengan mudah pada jam 18.00 (2008:317). Empat Dokumen G30S Setelah Suparjo menghadap Presiden Sukarno seperti tersebut di atas dan BK tidak mendukung gerakan, Letkol Untung yang kelelahan menerima saja revisi dokumen yang sedianya disampaikan setelah maklumat tentang G30S yang diumumkan RRI Jakarta pada 1 Oktober 1965 jam 7.00 pagi. Revisi tersebut dilakukan oleh Aidit dan Syam, setidaknya terhadap dua dari tiga dokumen dalam Dekrit No. 1 yang mendemisionerkan kabinet, serta Keputusan No. 1 tetang susunan DR dan No. 2 tentang penurunan pangkat, baru diumumkan RRI pada jam 13.00 dalam menghadapi perintah Presiden untuk menghentikan gerakan. Kenyataan bahwa BK tidak mendukung gerakan tapi juga tidak mengutuknya, dapat diartikan G30S bertujuan baik tapi salah arahan (2008:314). Menurut pengakuan Syam di depan Mahmillub, empat dokumen tersebut disusun oleh DN Aidit, Ketua PKI bersama dirinya (dengan Iskandar Subekti, seorang anggota CC yang ketika itu dikatakan bertindak sebagai juru ketik dan penasihat pribadi Aidit). Benarkah demikian? Jika kita cermati dokumen-dokumen tersebut tidak punya nilai kandungan politik. Tidak punya kandungan butir revolusi atau soko guru revolusi yang sedang populer ketika itu, tidak menyebut buruh dan tani. Adakah dokumen bersejarah yang tak bermutu itu disusun oleh seorang kampiun politikus komunis dunia sekaliber Aidit? Sungguh sulit dipercaya [saya tidak percaya], apalagi tidak ada bukti sahih yang mendukungnya, dan juga jika kita bandingkan dengan berbagai macam dokumen PKI yang disusun oleh DN Aidit sampai 1965.ix[9] Keberadaan empat dokumen tersebut juga tak pernah dipertanyakan oleh pihak berkuasa. Mungkin saja dokumen itu telah diringkus dalam tungku rezim militer Orba karena dipandang tidak menguntungkan untuk dicermati lebih lanjut. Bisa saja semuanya atau sebagian palsu karena banyaknya ular berkepala dua di tubuh G30S dan PKI di antaranya berupa jaring-jaring intelijen. Di samping itu siapa yang membawa empat dokumen itu dari Halim ke RRI Jakarta, dengan cara apa dibawanya mengingat situasi Jakarta pada saat itu, bagaimana kemungkinan dokumen itu berasal dari tempat lain, dsb. masih banyak pertanyaan yang lain.

Apakah dengan terbitnya buku John Roosa ini sejarah G30S menjadi lebih jelas? Kenyataannya tidak demikian. Memang terdapat sejumlah bahan yang patut diteliti lebih lanjut. Jakapermai, 10 September 2011 i[1] Salinan lengkap Dokumen Suparjo dimuat sebagai lampiran buku John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, 2008:323-343. ii[2] Lihat Heru Atmodjo 2004. iii[3] Almarhum Heru Atmodjo pernah menunjukkan dokumen yang dikatakan ditulis oleh Brigjen Suparjo dalam bentuk fotokopi yang sangat kabur yang sulit dibaca kepada kami, tim editor bukunya (Heru Atmodjo 2004). iv[4] Hasan juga menyerahkan naskah memoarnya kepada John Roosa untuk diterbitkan setelah kelak ia meninggal dan diumumkan nama sebenarnya (John Roosa 2008:46, catatan No. 44). Selama nama-nama narasumber tersebut tidak kita ketahui, maka menjadi lebih sulit untuk menilai kadarnya, meski tentu saja John Roosa menulisnya dalam alur yang logis; yang logis tidak sama dengan kebenaran. v[5] Wakil Ketua Departemen Luar Negeri CC PKI, anggota CC PKI Blitar Selatan. Pada 1 Oktober 1965 berada bersama DN Aidit di rumah Sertu Udara Suwardi, kompleks perumahan PAU Halim. vi[6] Pada moment yang gawat itu, sadja mengusulkan agar semua pimpinan sadja pegang nanti bila situasi sudah bisa diatasi, sadja akan kembalikan lagi [kursif hs] (Roosa 2008:327, Lampiran 1) yang benar saja [saya, ejaan baru] dengan kesalahan konsisten pada bagian tersebut. vii[7] Menurut hemat saya kata dakwaan ini tidak tepat, yang lebih tepat ialah menganggap/mengira atau mungkin persoalan diksi dalam terjemahan. viii[8] Rewang tertangkap pada 22 Juli 1968 di Blitar Selatan (Lihat Semdan VIII Brawidjaja, 1969:292). Ia ditahan di RTM Jakarta pada 1968-1972 (Rewang h. 46). Suparjo dijatuhi hukuman mati pada 13 Maret 1967 dan dieksekusi pada 16 Mei 1970 (Lihat Harsja W Bachtiar, Siapa Dia? Perwira Tinggi TNI AD, Djambatan, 1988:386 dan Tempo 9 Okt. 2005:120). Pertemuan di tahanan yang disebut pada 1967, pasti keliru (saat itu Rewang masih bergerilya di Blitar Selatan). Selanjutnya apakah tapol anggota Politbiro PKI yang amat berbahaya itu dicampur dengan seorang jenderal yang telah dijatuhi hukuman mati? Naskah

Rewang yang mungkin sekali ditulis sesudah jatuhnya Suharto Mei 1998 (Rewang h. 44) menyebut sejumlah nama tapol di RTM, tapi tidak ada nama Suparjo (lihat Rewang h. 45-46). ix[9] Lihat dan bandingkan misalnya dengan Pilihan Tulisan DN Aidit, Djilid 1 dan 2, Jajasan Pembaruan, Djakarta 1959 dan 1960.