Beriman Kepada Taqdir

dokumen-dokumen yang mirip
Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif

Iman Kepada KITAB-KITAB

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

BAB IV KONSEP SAKIT. A. Ayat-ayat al-qur`an. 1. QS. Al-Baqarah [2]:

ة س ى اهو اهر خ اهر خ ى

ISLAM IS THE BEST CHOICE

APA PEDOMANMU DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA?

"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya".

TAFSIR AKHIR SURAT AL-BAQARAH

Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Al-Muhiith, Al-Wakiil dan Al-Fattaah

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

10 Renungan Bagi yang Ditimpa UJIAN/MUSIBAH

Doa dan Dzikir Seputar Musuh dan Penguasa

Serial Bimbingan & Penyuluhan Islam

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Yang Diizinkan Tidak Berpuasa

Mengabulkan DO A Hamba-Nya

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

TAFSIR SURAT ATH- THAARIQ

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

Syaikh Dr. Sa id bin Ali bin Wahf al-qahthani

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Hadits-hadits Shohih Tentang

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

2. Tauhid dan Niat ]رواه مسلم[

Publication: 1435 H_2014 M. Beginilah Mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dengan Benar

Golongan yang Dicintai Allah di Dalam Al-Qur an Oleh: Ahmad Pranggono

ب ص ى اهو اهر خ اهر خ ى

AGAR KAMU LEBIH DICINTAI ALLAH

Amalan Setelah Ramadhan. Penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 285

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Keutamaan Akrab Dengan Al Qur an

Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 286

Jangan Mengikuti HAWA NAFSU. Publication : 1437 H_2016 M. Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil

Bagi YANG BERHUTANG. Publication: 1434 H_2013 M. Download > 600 ebook Islam di PETUNJUK RASULULLAH

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Yang berhak disembah hanya Allah SWT semata, dan ibadah digunakan atas dua hal;

ISLAM dan DEMOKRASI (1)

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Mengganti Puasa Yang Ditinggalkan

Syarah Istighfar dan Taubat

Download > 300 ebook dari:

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Anjuran Mencari Malam Lailatul Qadar

Berkahilah untuk ku dalam segala sesuatu yang Engkau keruniakan. Lindungilah aku dari keburukannya sesuatu yang telah Engkau pastikan.

DOA dan DZIKIR. Publication in PDF : Sya'ban 1435 H_2015 M DOA DAN DZIKIR SEPUTAR PUASA

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH

Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati

TETANGGA Makna dan Batasannya حفظه هللا Syaikh 'Ali Hasan 'Ali 'Abdul Hamid al-halabi al-atsari

حفظو هللا Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc, MA. Publication : 1437 H_2016 M. Keutamaan Tauhid dan Bahaya Syirik

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

Sifat Munafik. Ma asyiral muslimin rahimaniy warahimakumullah

Edisi: 11/9/1/1437 KHUTBAH PERTAMA م ع اش ر ال م س ل م ي ن ر ح م ن ي ور ح م ك م الل ه. Alloh Subhanahu wa Ta'ala berkata di dalam Al-Qur'an:

Adab makan berkaitan dengan apa yang dilakukan sebelum makan, sedang makan dan sesudah makan.

Tatkala Menjenguk Orang Sakit

SUMPAH PALSU Sebab Masuk Neraka

Sunnah menurut bahasa berarti: Sunnah menurut istilah: Ahli Hadis: Ahli Fiqh:

Qawaid Fiqhiyyah. Niat Lebih Utama Daripada Amalan. Publication : 1436 H_2015 M

TAKWA DAN KEUTAMAANNYA

Makna Islam dan iman

Nawaqidhul Islam: Matan dan Terjemah Pustakasyabab.blogspot.com

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

BAB I PENDAHULUAN. Diantara larangan Allah yang tertulis di Al-Qur an adalah tentang larangan

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Qawa id Fiqhiyah. Pertengahan dalam ibadah termasuk sebesar-besar tujuan syariat. Publication: 1436 H_2014 M

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN

ISLAM DIN AL-FITRI. INDIKATOR: 1. Mendeskripsikan Islam sebagai agama yang fitri

Al-'Azhiim, Al-Majiid dan Al-Kabiir

Hukum mengingkari kehidupan akhirat

Mensyukuri Nikmat Al Quran

Ma had Tarbawi Al-Hurriyyah

مت إعداد هذا امللف آليا بواسطة املكتبة الشاملة

YANG HARAM UNTUK DINIKAHI

ج اء ك م ر س ول ن ا ي ب ي ن ل ك م ك ث ير ا م ما ك ن ت م ت خ ف و ن م ن ال ك ت اب و ي ع ف و ع ن ك ث ير ق د ج اء ك م م ن الل ه ن ور و ك ت اب

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

Adzan Awal, Shalawat dan Syafaatul Ujma ADZAN AWAL, MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN SYAFA ATUL- UZHMA

PERAYAAN NATAL BERSAMA

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

1. Saling Cinta Karena Allah 2. Tanda Cinta Allah Penulis: Imam an-nawawi Pentakhrij: Syaikh Muhammad Nashir al-albani

Dzul Jalaali wal Ikraam, Jaami'un Naasi liyaumin laa raiba fiih

MANAJEMEN JATIDIRI ( MJ )

Imam Nasser Muhammad Al-Yamani:

AL - MATIIN. Yang Maha Kokoh. حفظو هللا Oleh : Ustadz Abdullah bin Taslim al-buthoni. Publication : 1437 H_2016 M

Iman Kepada Rasul-Rasul

BAB 7 ASPEK AL-QUR AN

PETUNJUK NABI TENTANG MINUM

SABAR ITU MAHAL. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag.

. Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

مت إعداد هذا امللف آليا بواسطة املكتبة الشاملة

Khutbah Pertama. Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah.

FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 81/DSN-MUI/III/2011 Tentang

Syirik Penyebab Kerusakan Dan Bahaya Besar. February 3

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

HambaKu telah mengagungkan Aku, dan kemudian Ia berkata selanjutnya : HambaKu telah menyerahkan (urusannya) padaku. Jika seorang hamba mengatakan :

مت إعداد هذا امللف آليا بواسطة املكتبة الشاملة

TAFSIR SURAT AN-NAS Oleh: Abdul Aziz Abdul Wahid, Lc.

Transkripsi:

Beriman Kepada Taqdir Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif Publication : 1437 H, 2015 M Beriman Kepada Taqdir Oleh : Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abd. Lathif Disalin dari Kitab 'TAUHID untuk Pemula dan Lanjutan' hal 217-239 e-book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

A. Makna Beriman Kepada Taqdir Yaitu kepercayaan yang pasti bahwa segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk, semuanya adalah dengan qadha' dan qadar Allah. Dan Dialah Yang Maha Berbuat terhadap apa yang la kehendaki, sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak-nya, tidak ada sesuatupun yang keluar dan kehendak-nya, tidak suatupun di alam semesta ini yang keluar dari taqdir-nya, dan tidak akan berjalan kecuali berdasarkan pengaturan-nya, tak seorangpun yang bisa mengelak dari takdir yang telah ditentukan, ia tidak akan melampui apa yang telah digariskan di Lauhul Mahfuzh. Dialah yang menciptakan perbuatan hamba, keta'atan dan kemaksiatan. Meskipun demikian, Dia memerintah dan melarang hamba-nya, dan dijadikan-nya mereka menentukan pilihan untuk perbuatan mereka sendiri, mereka tidak dipaksa untuk melakukannya, tetapi semuanya. terjadi sesuai dengan kemampuan dan kehendak mereka, dan Allah yang menciptakan mereka serta yang menciptakan kemampuan mereka. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-nya dengan rahmat-nya dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah-nya. Ia tidak ditanya tentang apa yang Ia perbuat, sedang mereka ditanya tentang perbuatan mereka.

Beriman kepada taqdir Allah adalah salah satu rukun iman. Hal itu sebagaimana jawaban Rasul shallallahu alaihi wa sallam kepada Jibril alaihis salam ketika ia bertanya tentang iman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: أ ن ت ؤ م ن ب لل و م ال ئ ك ت و و ك ت ب و و ر س ل و و ال ي و م اآلخ ر و ت ؤ م ن ب ل ق د ر خ ي ه و ش ر ه "Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-nya, kitab-kitab-nya, rasul-rasul-nya, hari akhir dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (taqdir Allah), yang baik maupun yang buruk." (HR. Muslim). Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: ل و أ ن ا لل ع ذ ب أ ى ل س او ات و و أ ى ل أ ر ض و ل ع ذ ب ه م و ى و غ ي ر ظ ال ل م و ل و ر ح ه م ك ان ت ر ح ت و ل م خ ي ر ا م ن أ ع م ا ل م و ل و أ ن ف ق ت ج ب ل أ ح د ذ ى ب ا ف س ب يل ا لل م ا ق ب ل و ا لل م ن ك ح ت ت ؤ م ن ب ل ق د ر و ت ع ل م أ ن م ا أ ص اب ك ل ي ك ن ل ي خ ط ئ ك و م ا أ خ ط أ ك ل ي ك ن ل ي ص يب ك و ل و م ت ع ل ى غ ي ذ ل ك ل د خ ل ت الن ار

"Seandainya Allah ta'ala menyiksa penduduk langit dan bumi, niscaya Ia menyiksa bukan karena berbuat zhalim kepada mereka, Dan seandainya Ia memberi rahmat kepada mereka, niscaya rahmat itu lebih baik dari amal perbuatan mereka. Dan seandainya engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian engkau infaqkan dijalan allah, tentu hal itu tidak akan diterima daripadamu sehingga engkau beriman kepada qadar, dan engkau mengetahui bahwa apa yang (ditaqdirkan) menimpamu pasti tidak akan meleset dan apa yang (ditaqdirkan) tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan seandainya engkau mati tidak dalam (kepercayaan) ini niscaya engkau menjadi penghuni Neraka." (HR. Ahmad). Taqdir adalah ketentuan Allah terhadap segenap makhluk sesuai dengan ilmu-nya terhadap segala sesuatu itu sejak sebelumnya, serta sesuai dengan hikmah-nya. B. Tingkatan Beriman kepada Taqdir Beriman kepada taqdir mencakup empat perkara : Pertama, beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun rinci, dan bahwa Allah subhanahu wata'ala telah mengetahui segenap

makhluk-nya sebelum Ia menciptakannya, dan Ia mengetahui rizki-rizki mereka, ajal mereka, ucapan dan perbuatan mereka, segenap gerakan dan diam mereka, apa yang mereka rahasiakan dan yang mereka tampakkan, juga mengetahui siapa diantara mereka yang termasuk penghuni surga dan yang termasuk penghuni neraka. Allah berfirman: ى و ا لل ال ذ ي ال إ ل و إ ال ى و ع ال ال غ ي ب و الش ه اد ة "Dialah Allah Yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata." (QS. Al-Hasyr/59:22) و أ ن ا لل ق د أ ح اط ب ك ل ش ي ء ع ل ما "Dan sesungguhnya Allah, ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. Ath-Thalaq/65: 12). Kedua, beriman terhadap ditulisnya qadar (taqdir) tersebut. Yakni bahwasanya Allah telah menulis segala yang Ia ketahui ilmunya sebelumnya dan bahwa semua itu tertulis di Lauhul Mahfuzh. Allah berfirman: م ا أ ص اب م ن م ص يب ة ف ا ل ر ض و ال ف أ نف س ك م إ ال ف ك ت اب م ن ق ب ل أ ن ن ب ر أ ى ا

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya." (QS. Al-Hadid/57: 22). Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ك ت ب ا لل م ق اد ير ا ل ال ئ ق ق ب ل أ ن ي ل ق الس م او ات و ا ل ر ض ب م س ي أ ل ف س ن ة "Allah telah menulis segenap taqdir makhluk lima puluh rihu tahun sebelum la menciptakan langit dan bumi." (HR.Muslim). Ketiga, beriman kepada kehendak Allah yang tidak sesuatupun dapat menolaknya, juga beriman kepada kekuasaan Allah yang tidak dapat dilemahkan oleh sesuatupun. Karena itu, semua kejadian terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah. Apa yang di kehendakinya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya tidak akan terjadi. Dalilnya adalah firman Allah: و م ا ت ش اؤ ون إ ال أ ن ي ش اء ا لل "Dan kamu sekalian tidak berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah." (QS. Al-lnsan/76: 30).

ي ف ع ل ا لل م ا ي ش اء "Dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-nya." (QS. Ibrahim/14: 27). Keempat, beriman bahwasanya Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu, Dialah satu-satunya Pencipta, dan setiap yang selain-nya adalah makhluk dan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalilnya adalah firman Allah: ا لل خ ال ق ك ل ش ي ء "Allah adalah Pencipta segala sesuatu." (QS. Ar-Ra'd/13: 16). و خ ل ق ك ل ش ي ء ف ق د ر ه ت ق د يرا "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapiserapinya." (QS. Al-Furqan/25: 2). Yang wajib kita ketahui adalah bahwa ukuran-ukuran (taqdir) itu adalah kekuasaan Allah, dan bahwa semua berjalan sesuai dengan taqdir dan kehendak-nya, segenap hamba tidak memiliki kehendak kecuali apa yang dikehendakinya untuk mereka, apa yang dikehendaki-nya

untuk mereka pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki- Nya tidak akan terjadi. Sebagaimana kita wajib mengetahui bahwa taqdir pada dasarnya adalah rahasia Allah terhadap makhluk-nya, tidak seorang malaikat terdekat pun yang dapat mengetahuinya, juga tidak seorang nabi yang diutus. Seorang mukmin senantiasa menyifati Tuhannya dengan sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu engkau melihat seseorang sebagai mukmin apabila ia percaya bahwa setiap perbuatan tidak akan terjadi kecuali ada hikmah (yang terkandung didalamnya), dan jika ia tidak mengetahui hikmah ilahiyah dalam suatu perkara maka itu menunjukkan kebodohannya dihadapan ilmu Allah yang ilmu-nya meliputi segala sesuatu. Seorang mukmin juga tidak akan menentang Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, di mana Dia tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-nya, namun merekalah yang ditanya. C. Hukum Berdalih dengan Taqdir dalam Meninggalkan Perintah Allah Sesungguhnya keimanan kita kepada qadar sebagaimana telah kita jelaskan di atas tidaklah bertentangan dengan keyakinan bahwa hamba memiliki kehendak dan kemampuan

dalam perbuatan ikhtiariyah-nya sebab syari'at dan faktanya menunjukkan hal tersebut. Adapun dalilnya menurut syari'at adalah firman Allah tentang kehendak manusia: ف م ن ش اء ا ت ذ إ ل ر ب و م آ ب "Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya." (QS. An- Naba'/78: 39). Adapun tentang kemampuan manusia, ال ي ك ل ف ا لل ن ف سا إ ال و س ع ه ا ل ا م ا ك س ب ت و ع ل ي ه ا م ا اك ت س ب ت "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dan kejahatan) yang dikerjakan-nya." (QS. Al- Baqarah/2: 286). Adapun menurut faktanya, setiap manusia menyadari bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan untuk berbuat atau meninggalkan sesuatu, ia juga bisa membedakan antara apa yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan atau yang terjadi diluar kehendaknya seperti menggigil. Tetapi, meskipun begitu kehendak dan

kemampuan hamba itu terjadi sesuai dengan kehendak allah dan kekuasaan-nya, berdasarkan firman Allah: و م ا ت ش اؤ ون إ ال أ ن ي ش اء ا لل "Dan tidaklah kalian itu berkehendak kecuali jika dikehendaki oleh Allah," (QS. Al-lnsan/76: 30). Karena alam semesta ini adalah milik Allah Ta'ala, maka tidak akan ada sesuatupun dalam kepemilikan-nya ini yang diluar ilmu dan kehendak-nya. Beriman kepada taqdir Allah, sebagaimana telah disebutkan dimuka, tidaklah berarti memberikan kesempatan kepada hamba untuk berdalih dengannya dalam meninggalkan perintah Allah atau melanggar apa yang dilarang-nya. Karena itu, orang yang berdalih dengan taqdir dalam melakukan perbuatan maksiat, dalilnya adalah batil dari beberapa segi: Pertama, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: م ا م ن ك م م ن أ ح د إ ال و ق د ك ت ب م ق ع د ه م ن الن ار و م ق ع د ه م ن ا ل ن ة. ف ق ال ر ج ل م ن ال ق و م ك أ ال ن ت ك ل ي ر س ول ا لل ق ال : ال اع م ل وا ف ك ل م ي س ر ل م ا خ ل ق ل و

"Tidaklah salah seorang dan kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga. Maka berkatalah seorang laki-laki dan kaumnya, Tidakkah (dengan demikian) kita berserah diri saja, wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab, 'Tidak, tetapi berusahalah Karena musing-masing di mudahkan kepada (ketentuan) penciptaannya." (HR. Al-Bukhari). Jadi Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang menyerah kepada taqdir. Kedua, sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala memerintah dan melarang hamba-nya dengan tidak membebaninya kecuali sebatas kemampuannya. Allah berfirman: ف ات ق وا ا لل م ا اس ت ط ع ت م "Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu." (QS. At-Taghabun/64: 16). Seandainya hamba itu terpaksa dalam berbuat, berarti dia dibebani dengan sesuatu yang dia tidak bisa melepaskan diri daripadanya. Dan ini adalah batil. Karena itu, jika seseorang melakukan kemaksiatan karena kebodohannya, lupa atau dipaksa maka ia tidak berdosa, karena dia memiliki udzur (alasan syar'i).

Ketiga, taqdir Allah adalah rahasia tersembunyi yang tidak diketahui kecuali setelah ia terjadi. Dan kehendak hamba ada sebelum ia melakukan sesuatu perbuatan. Karena itu, kehendaknya untuk berbuat tidak berdasarkan pengetahuannya terhadap taqdir Allah. Maka, alasannya dengan taqdir tersebut sama sekali tidak berdasar, sebab seseorang tidak boleh beralasan dengan sesuatu yang tidak diketahuinya Jika orang yang berbuat maksiat itu menyangkal seraya berkata, sesungguhnya maksiat itu telah dituliskan untukku. Maka harus ditanyakan padanya, "sebelum anda melakukan maksiat, apakah anda mengetahui ilmu Allah? Selama anda tidak mengetahuinya dan Anda bisa nemilih dan memiliki kemampuan, serta telah dijelaskan kepada anda antara jalan kebaikan dan keburukan, maka jika anda melakukan maksiat berarti anda sendirilah yang sengaja melakukan maksiat tersebut, anda mengutamakannya dan pada keta'atan, Karena itu anda harus menanggung siksa akibat maksiat yang anda lakukan. Keempat, orang yang beralasan dengan taqdir atas kewajiban yang ditinggalkannya atau kemaksiatan yang dilakukannya, jika ada orang yang melanggar haknya, misalnya dengan mengambil hartanya atau dicemarkan kehormatannya, lalu orang itu beralasan dengan taqdir seraya berkata, 'Jangan salahkan aku, karena pelanggaranku atas hakmu ini adalah karena taqdir Allah'. Tentu orang

tersebut tidak akan mau menerima alasan tersebut. Bagaimana ia tidak mau menerima alasan taqdir dalam pelanggaran orang lain atas haknya, tetapi sebaliknya ia beralasan dengan taqdir untuk dirinya dalam melanggar hak Allah subhanahu wata'ala?. D. Pengaruh Beriman Kepada Taqdir Beriman kepada taqdir - suatu kewajiban dan salah satu rukun iman, dimana mengingkarinya adalah kafir- memiliki beberapa pengaruh nyata dalam kehidupan manusia. Diantara pengaruh tersebut adalah : 1. Taqdir merupakan salah satu sebab yang membuat seseorang bersemangat dalam beramal dan berusaha untuk mencapai keridhaan Allah dalam hidup ini. Beriman kepada taqdir adalah diantara pendorong kuat kepada setiap mukmin untuk beramal dan melakukan perkara-perkara besar dengan penuh keteguhan dan keyakinan. Setiap mukmin wajib berikhtiar dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wata'ala, serta dengan keimanan bahwa ikhtiar itu tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan izin Allah. Sebab Allah-lah yang menciptakan ikhtiar itu, dan Dia pula yang menciptakan keberhasilan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ك م ن ال ق و ي خ ي ر و أ ح ب إ ل ا لل م ن ال م ؤ م ن الض ع يف و ف ل خ ي ر ل م ؤ اح ر ص ع ل ى م ا ي ن ف ع ك و اس ت ع ن ب لل و ال ت ع ج ز و إ ن أ ص اب ك ش ي ء ف ال ت ق ل : ل و أ ن ف ع ل ت ك ان ك ذ ا و ك ذ ا و ل ك ن ق ل : ق د ر ا لل و م ا ش اء ف ع ل ف إ ن ل و ت ف ت ح ع م ل الش ي ط ان "Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dan pada orang mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikannya. Berusahalah meraih apa-apa yang bermanja'at bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu maka jangan engkau mengatakan, 'Seandainya aku melakukan (ini dan itu) tentu akan terjadi begini dan begitu, tetapi katakanlah, 'Allah telah mentaqdirkan dan apa yang di kehendakmya pasti terjadi. Karena (ucapan) 'seandainya' itu membuka perbuatan setan." (HR. Muslim). Karena itu, ketika umat islam ingin mengubah kenyataan yang ada dengan jihad maka mereka berikhtiar dengan segala bentuk ikhtiar jihad, lalu mereka bertawakkal kepada Allah Mereka tidak mengatakan, bahwasanya Allah telah mentaqdirkan menolong orang-orang mukmin dan

menghancurkan orang-orang kafir, lalu mereka mencukupkan yang demikian tanpa persiapan, jihad, kesabaran dan masuk kemedan perang. Tetapi sebaliknya mereka melakukan berbagai hal di atas, sehingga Allah menolong mereka dan memuliakan mereka dengan Islam. 2. Diantara pengaruh beriman kepada taqdir yaitu manusia bisa mengetahui kemampuan dirinya, sehingga ia tidak sombong, bangga atau tinggi hati. Sebab dia tidak mampu mengetahui apa yang akan ditaqdirkan, juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dari sini manusia mengakui kelemahan dan kebutuhannya kepada Tuhannya senantiasa. 3. Sesungguhnya jika manusia mendapatkan kebaikan maka ia akan sombong dan lupa diri tetapi jika ditimpa keburukan dan musibah maka ia akan galau dan sedih. Tidak seorang manusiapun yang bisa menjaga diri dari kesombongan dan melampui batas jika mendapatkan kebaikan serta kesedihan jika ditimpa keburukan kecuali dengan beriman kepada taqdir, dan bahwa apa yang terjadi itu telah ditentukan taqdirnya dan telah diketahui sebelumnya oleh Allah Ta 'ala. Salah seorang salaf berkata, Barang siapa tidak beriman kepada taqdir, niscaya hidupnya terasa berat'. 4. Beriman kepada taqdir bisa menghilangkan berbagai penyakit sosial yang menimpa masyarakat dan menghilangkan kedengkian di antara sesama mukmin.

Seorang mukmin tidak mungkin ini dan dengki terhadap karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Sebab Allahlah yang memberi mereka rizki dan mentaqdirkannya untuk mereka, sebab dia mengetahui, jika ia iri kepada orang lain berarti ia menentang taqdir Allah. 5. Sesungguhnya beriman kepada taqdir bisa menumbuhkan keberanian hati untuk menghadapi berbagai tantangan serta menguatkan keinginan didalamnya. Karena itu, ia akan tetap teguh dimedan jihad dan tidak takut mati, sebab hatinya telah yakin bahwa ajal itu telah ditentukan, sehingga tidak mungkin ia mendahului atau terlambat, sekejap. meski hanya Jika kepercayaan tersebut telah menghunjam kuat dalam hati orang-orang mukmin maka mereka akan tetap teguh dalam peperangan serta terus ingin melanjutkan jihad. Beberapa kancah jihad memberikan contoh-contoh yang sangat indah dalam hal keteguhan dan ketegaran dalam menghadapi para musuh, betapapun kekuatan dan besarnya jumlah pasukan mereka, sebab mereka yakin tidaklah ada sesuatu yang menimpa mereka kecuali ia telah dituliskan untuknya. 6. Beriman kepada taqdir akan menanamkan berbagai hakikat iman dalam jiwa setiap mukmin, ia senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, bersandar kepada Allah dan bertawakkal kepada-nya dengan tetap berikhtiar, ia

selalu membutuhkan kepada Tuhannya, meminta pertolongan untuk diteguhkan. Dan ia-pun bersikap dermawan sehingga mencintai kebaikan untuk orang lain, sehingga engkau lihat ia senang mengasihi manusia dan memberikan kebaikan kepada mereka. 7. Termasuk pengaruh beriman kepada taqdir yaitu bahwasanya orang yang berdakwah kepada Allah akan berdakwah secara terang-terangan dan jelas dihadapan orang-orang kafir dan zhalim, ia tidak takut - karena Allah - terhadap cercaan orang yang mencerca, ia akan menjelaskan kepada manusia hakikat iman dan menerangkan berbagai konsekuensinya, sebagaimana ia juga akan menjelaskan kepada mereka berbagai fenomena kekufuran dan nifaq serta memperingatkan mereka daripadanya. Demikian pula ia akan menyingkap kebatilan dan kebohongan, mengatakan kalimatul haq (perkataan yang benar) dihadapan orangorang yang zhalim. Setiap mukmin melakukan hal-hal tersebut dengan kedalaman iman, keteguhan kepercayaan kepada Allah, bertawakkal kepada-nya, sabar atas apa yang menimpanya dalam perjalanannya, sebab ia yakin bahwa ajal ada di Tangan Allah semata, dan bahwa rizki hanyalah milik-nya dan dari sisi-nya, dan bahwa setiap hamba tidaklah memiliki sesuatupun dan padanya, meskipun memiliki kekuatan dan para penolong.[]