M E M U T U S K A N :

dokumen-dokumen yang mirip
Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor : 101/BAPPEBTI/PER/01/2013

M E M U T U S K A N :

NOMOR : 73/BAPPEBTI/Per/9/2009 TANGGAL : 28 SEPTEMBER 2009

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI REPUBLIK INDONESIA,

(dibuat diatas kertas kop perusahaan) Perihal : Permohonan Penetapan sebagai Pialang Berjangka yang melaksanakan kegiatan penerimaan Nasabah secara

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor: 99/BAPPEBTI/PER/11/2012

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI TENTANG TATA CARA PENYALURAN AMANAT NASABAH KE BURSA BERJANGKA LUAR NEGERI.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 117/BAPPEBTI/PER/03/2015

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR : 02/BAPPEBTI/PER-PL/08/2010 TENTANG

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR: 101/BAPPEBTI/PER/01/2013 TENTANG IZIN WAKIL PIALANG BERJANGKA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR : 01/BAPPEBTI/PER-PL/08/2010 TENTANG

(dibuat di atas kertas kop perusahaan)

(dibuat diatas kertas kop perusahaan) Lampiran : Perihal : Permohonan Persetujuan

5. Keputusan Presiden Nomor 6/M Tahun 2011 tentang Pengangkatan Pejabat Eselon I di lingkungan Kementerian Perdagangan;

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 119/BAPPEBTI/PER/03/2015

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 199

M E M U T U S K A N : PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI TENTANG KETENTUAN TEKNIS PERILAKU PIALANG BERJANGKA.

Nomor :..., Lampiran : Perihal : Permohonan Persetujuan Calon Direktur Kepatuhan Pialang Berjangka

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN DANA KOMPENSASI.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR : 12/BAPPEBTI/PER-SRG/5/2009 TENTANG

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor: 107/BAPPEBTI/PER/11/2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PP 9/1999, PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERSYARATAN DAN TATA CARA PENCALONAN ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI LEMBAGA KLIRING BERJANGKA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/17/PBI/2006 TENTANG INSENTIF DALAM RANGKA KONSOLIDASI PERBANKAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

BAB 14 SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 16 /POJK.03/2017 TENTANG BANK PERANTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

M E M U T U S K A N :

(Kertas Kop Surat) FORMULIR NOMOR: II.PRO.9

BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

Bursa Efek dapat menjalankan usaha setelah memperoleh izin usaha dari Bapepam.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Indonesia Tahun 2011 Nomor 79, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5232); 2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Si

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 10/9/PBI/2008 TENTANG

BAB I PERUSAHAAN ASURANSI

7. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31/M-DAG/PER/7/2010 MEMUTUSKAN:

Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor : 19/BAPPEBTI/PER-SRG/01/2015

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 28/POJK.05/2014 TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN PERUSAHAAN PEMBIAYAAN

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Perusahaan adalah perusahan pembiayaan dan perusaha

Yth. Direksi Bank Perkreditan Rakyat di tempat.

- 1 - GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 15 /PBI/2009 TENTANG PERUBAHAN KEGIATAN USAHA BANK KONVENSIONAL MENJADI BANK SYARIAH

NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

SALINAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : Kep- 2833/LK/2003 TENTANG

RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.05/2014 TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN PERUSAHAAN PEMBIAYAAN

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/ 17 /PBI/2001 TENTANG LAPORAN BERKALA BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

No. 15/2/DPNP Jakarta, 4 Februari 2013 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA. Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/22/PBI/2004 TENTANG BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA,

- 2 - Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Nega

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/16/PBI/2006 TENTANG KEPEMILIKAN TUNGGAL PADA PERBANKAN INDONESIA GUBERNUR BANK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/13/PBI/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/3/PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Kelembagaan. Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Bank

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 6 /PBI/2011 TENTANG

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 6 /PBI/2011 TENTANG

No. 5/29/DPD Jakarta, 18 November 2003 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA PERUSAHAAN PIALANG PASAR UANG RUPIAH DAN VALUTA ASING

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 64 /POJK.03/2016 TENTANG PERUBAHAN KEGIATAN USAHA BANK KONVENSIONAL MENJADI BANK SYARIAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 93, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3720)

Menetapkan: PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PERANTARA PEDAGANG EFEK UNTUK EFEK BERSIFAT UTANG DAN SUKUK BAB I KETENTUAN UMUM

BAB I. KETENTUAN UMUM

: PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PENJUALAN LANGSUNG.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/22/PBI/2006 TENTANG KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BANK PERKREDITAN RAKYAT BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 5/POJK.05/2014 TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMINAN

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

Transkripsi:

Peraturan Kepala Badan Pengawas 5. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2008; 6. Keputusan Presiden Nomor 60/M Tahun 2008 tentang Pengangkatan Pejabat Eselon I di lingkungan Departemen Perdagangan; 7. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01/M-DAG/PER/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perdagangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 34/M-DAG/PER/8/2007; 8. Keputusan Kepala Badan Pengawas Nomor 55/BAPPEBTI/KP/I/2005 tentang Sistem Perdagangan Alternatif sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Nomor 58/BAPPEBTI/Per/1/2006; 9. Peraturan Kepala Badan Pengawas Nomor 56/BAPPEBTI/KP/9/2005 tentang Izin Usaha Pialang Berjangka; M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI TENTANG PEMBUKAAN KANTOR CABANG PIALANG BERJANGKA PESERTA SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF DAN PERSYARATAN KERJASAMA ANTARA PENYELENGGARA DENGAN PESERTA SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF. Pasal 1 Dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi ini yang dimaksud dengan saldo modal akhir atau total ekuitas adalah modal disetor ditambah atau dikurang dengan laba/rugi termasuk selisih penilaian aktiva tetap. Pasal 2 (1) Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif dapat membuka Kantor Cabang. (2) Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif yang membuka Kantor Cabang wajib memenuhi persyaratan: a. menyampaikan laporan hasil rapat Komisaris dan Direksi yang menyatakan rencana pembukaan Kantor Cabang; 2

Peraturan Kepala Badan Pengawas b. memiliki saldo modal akhir perusahaan sesuai dengan Peraturan Kepala Bappebti Nomor 65/BAPPEBTI/Per/1/2009 tentang Ketentuan Permodalan dalam Sistem Perdagangan Alternatif; c. menambah ekuitas sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dari total ekuitas minimal sebagaimana dipersyaratkan dalam huruf b, untuk setiap pembukaan 1 (satu) Kantor Cabang; d. apabila total ekuitas sebagaimana dimaksud pada huruf b telah melampaui ketentuan minimal, maka kelebihan total ekuitas tersebut diperhitungkan sebagai penambahan modal untuk pembukaan Kantor Cabang. Pasal 3 Kantor cabang yang akan dibuka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. memiliki akses saluran data langsung dengan Kantor Pusat Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif dan Penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif; b. memiliki sarana dan prasarana yang cukup meliputi ruang dan perlengkapan kantor, sarana informasi, komunikasi dan telekomunikasi, server, ruang operasional (dealing room dan back office), alat rekam dan pencatat waktu; c. memiliki rencana usaha 3 (tiga) tahun yang mencakup susunan organisasi, tata kerja, fasilitas komunikasi, sistem pengawasan intern, rencana operasi dan pengelolaan transaksi, proyeksi keuangan, program pelatihan dan pelayanan pengaduan; d. menempatkan paling sedikit 3 (tiga) Wakil Pialang Berjangka dan salah seorang menjadi Kepala Kantor Cabang. Pasal 4 (1) Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif yang akan membuka Kantor Cabang wajib menyampaikan Laporan Pembukaan Kantor Cabang kepada Bappebti dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.50 dan dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dipersyaratkan dalam Formulir Nomor III.PRO.50.A. s.d. Nomor III.PRO.50.G sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. (2) Bappebti melakukan penelitian, pemeriksaan dan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) atas pembukaan Kantor Cabang untuk memberikan persetujuan atau penolakan. (3) Bappebti memberikan persetujuan atau penolakan untuk pembukaan 3

Peraturan Kepala Badan Pengawas Kantor Cabang paling lambat 45 (empat puluh lima) hari sejak semua persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan. (4) Persetujuan atas pembukaan Kantor Cabang yang diajukan oleh Pialang Berjangka diberikan setelah memenuhi persyaratan dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.51 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. (5) Penolakan atas pembukaan Kantor Cabang yang diajukan oleh Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif disampaikan apabila tidak memenuhi persyaratan dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.52 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. Pasal 5 (1) Rencana perubahan alamat Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif wajib dilaporkan kepada Bappebti. (2) Permohonan perubahan alamat Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Bappebti dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.53 dan dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dipersyaratkan dalam Formulir Nomor III.PRO.53.A. s.d. Nomor III.PRO.53.C. (3) Bappebti melakukan penelitian, pemeriksaan dan wawancara atas permohonan perubahan alamat Kantor Cabang untuk memberikan persetujuan atau penolakan. (4) Bappebti memberikan persetujuan atau penolakan untuk perubahan alamat Kantor Cabang paling lambat 45 (empat puluh lima) hari sejak semua persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan. (5) Persetujuan atas perubahan alamat kantor cabang yang diajukan oleh Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif diberikan setelah memenuhi persyaratan dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.54 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. (6) Penolakan atas perubahan alamat Kantor Cabang yang diajukan oleh Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif disampaikan apabila tidak memenuhi persyaratan dengan menggunakan Formulir Nomor III.PRO.55 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. 4

Pasal 6 Peraturan Kepala Badan Pengawas (1) Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif hanya dapat melaksanakan kegiatan operasionalnya setelah memperoleh penetapan atas laporan pembukaan Kantor Cabang dari Bappebti. (2) Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif yang akan berubah alamat hanya dapat melaksanakan kegiatan operasionalnya dengan menggunakan alamat baru setelah memperoleh penetapan atas perubahan alamat Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif. Pasal 7 (1) Rencana penutupan Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif wajib dilaporkan secara tertulis kepada Bappebti. (2) Terhadap penutupan Kantor Cabang Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bappebti mencabut penetapan atas pembukaan Kantor Cabang. Pasal 8 Pedagang Berjangka Penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif harus bekerjasama dengan paling sedikit 1 (satu) Peserta Sistem Perdagangan Alternatif. Pasal 9 (1) Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 7 Peraturan Kepala Badan Pengawas ini, dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang. (2) Pedagang Berjangka Penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Peraturan Kepala Badan Pengawas ini, dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Pasal 10 5