TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KEDIRI

dokumen-dokumen yang mirip
PEMILIHAN KEPALA DESA. Berdasarkan Permendagri Nomor 112 Tahun 2014 tentang Pemilihan kepala desa

BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI BARITO SELATAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA

S A L I N A N LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

BERITA DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2016 NOMOR 21 PERATURAN BUPATI MAGELANG NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG

LD NO.18 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 18 TAHUN 2014

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO S A L I N A N

BUPATI MAMASA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMASA NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 19 TAHUN 2015 TENTANG KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGANYAR,

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN PERBEKEL

BUPATI LAMPUNG TENGAH PROVINSI LAMPUNG

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN NATUNA NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI BARITO UTARA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

- 1 - PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur;

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 45 TAHUN 2016

PANITIA PEMILIHAN TINGKAT DESA DESA PARANGTRITIS KECAMATAN KRETEK KABUPATEN BANTUL

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI HULU SUNGAI SELATAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 11

BUPATI BENER MERIAH QANUN KABUPATEN BENER MERIAH NOMOR: 03 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN REJE PEMERINTAH KAMPUNG SECARA SERENTAK

BUPATI OGAN KOMERING ULU SELATAN PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI TENGAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI KOTAWARINGIN TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BUPATI MAMUJU UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMUJU UTARA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO Dan BUPATI SUKOHARJO MEMUTUSKAN :

BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR: 37 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KARAWANG

BUPATI KEPULAUAN MERANTI

BUPATI POSO PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN POSO NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI MUARA ENIM PROVINSI SUMATERA SELATAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KEPALA DESA NGLANGGERAN KECAMATAN PATUK KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BUPATI KEPAHIANG PROVINSI BENGKULU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPAHIANG NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017 NOMOR 44

BUPATI SRAGEN PROVINSI JAWA TENGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO

Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 81, Tambahan Lembaran Negara

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG

ANALISIS KAJIAN HUKUM BUPATI JEMBRANA PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR... TAHUN TENTANG PEMILIHAN PREBEKEL

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI PAKPAK BHARAT PROVINSI SUMATERA UTARA

BUPATI KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA

BUPATI BANGLI PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGLI NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERBEKEL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2017 SERI E.1 3

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 4 Tahun : 2016

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEMERINTAHAN DESA

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

PROVINSI JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KENDAL

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KENDAL

L E M B A R AN D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 07 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 07 TAHUN 2007 T E N T A N G

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAPUAS NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LABUHANBATUUTARA dan BUPATI LABUHANBATU UTARA MEMUTUSKAN:

BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG KEPALA DESA

BUPATI BENGKAYANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 108 TAHUN 2015

B U P A T I T A N A H L A U T PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI PANGANDARAN PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI

Transkripsi:

TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KEDIRI A. PROSES PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DESA. 1. Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. a. Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Daerah. b. Pemilihan Kepala Desa secara serentak dapat dilaksanakan bergelombang paling banyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 6 (enam) tahun. c. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Kepala Desa dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa serentak, Bupati menunjuk Penjabat Kepala Desa. d. Penjabat Kepala Desa berasal dari Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah. 2. Tahap Persiapan : Tahapan persiapan pemilihan Kepala Desa antara lain: a. Pemberitahuan Badan Permusyawaratan Desa kepada Kepala Desa tentang akhir masa jabatan dengan tembusan Camat. b. Camat meneruskan Laporan BPD mengenai Kepala Desa akan berakhir masa jabatan c. Proses pemberhentian Kepala Desa yang akan berakhir masa jabatannya. d. Laporan akhir masa jabatan Kepala Desa kepada Bupati. e. Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa oleh Badan Permusyawaratan Desa. 3. Tahap Pelaksanaan dan Pembentukan Panitia. Jadwal Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa harus berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. a. BPD mengadakan musyawarah Desa untuk membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa yang ditetapkan dalam Keputusan BPD.

2 b. Panitia Pemilihan Kepala Desa terdiri dari unsur Perangkat Desa, pengurus lembaga kemasyarakatan dan tokoh masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang susunannya sekurang kurangnya terdiri dari : 1). Ketua merangkap anggota ; 2). Wakil Ketua merangkap anggota ; 3). Sekretaris merangkap anggota ; 4). Bendahara merangkap anggota ; 5). Seksi-seksi terdiri dari : - Seksi pendaftaran pemilih ; - Seksi pendaftaran bakal calon ; - Seksi pemungutan suara dan penghitungan suara ; - Seksi perlengkapan dan akomodasi ; - Seksi keamanan dan ketertiban ; - Seksi administrasi, dokumentasi dan publikasi. 6). Jumlah Seksi dan Anggota Panitia sesuai dengan kebutuhan c. Panitia pemilihan Kepala Desa mempunyai tugas : 1). merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, mengawasi dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan; 2). merencanakan dan mengajukan biaya pemilihan kepada Bupati melalui camat; 3). melakukan pendaftaran dan penetapan pemilih; 4). mengadakan penjaringan dan penyaringan bakal calon; 5). menetapkan calon yang telah memenuhi persyaratan; 6). menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan; 7). menetapkan tata cara pelaksanaan kampanye; 8). memfasilitasi penyediaan peralatan, perlengkapan dan tempat pemungutan suara; 9). melaksanakan pemungutan suara; 10). menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan; 11). menetapkan calon Kepala Desa terpilih; dan 12). melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan.

3 B. PEMILIH : 1. Persyaratan Pemilih. Pemilih yang menggunakan hak pilih, harus terdaftar sebagai pemilih dengan memenuhi syarat: a. penduduk Desa yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala desa sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah menikah. b. berdomisili di desa sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sebelum disahkannya daftar pemilih sementara. c. Penduduk desa adalah : 1). penduduk yang terdaftar secara sah dalam Buku Induk Kependudukan Desa setempat ; 2). memiliki Kartu Keluarga desa bersangkutan ; 3). memiliki Kartu Tanda Penduduk desa bersangkutan ; atau 4). surat keterangan penduduk. d. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya; dan e. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; 2. Penyusunan Daftar Pemilih Sementara. a. Daftar pemilih dimutakhirkan dan divalidasi sesuai data penduduk di desa, dilakukan karena: 1). memenuhi syarat usia pemilih, yang sampai dengan hari dan tanggal pemungutan suara pemilihan sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun; 2). belum berumur 17 (tujuh belas) tahun, tetapi sudah/pernah menikah; 3). telah meninggal dunia; 4). pindah domisili ke desa lain; atau 5). belum terdaftar. b. Berdasarkan daftar pemilih, Panitia pemilihan menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara dan diumumkan oleh panitia pemilihan pada tempat yang mudah dijangkau masyarakat dengan jangka waktu pengumuman selama 3 (tiga) hari.

4 c. Dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud huruf b., pemilih atau anggota keluarga dapat mengajukan usul perbaikan mengenai penulisan nama dan/atau identitas lainnya serta dapat memberikan informasi yang meliputi : 1). pemilih yang terdaftar sudah meninggal dunia; 2). pemilih sudah tidak berdomisili di desa tersebut; 3). pemilih yang sudah nikah di bawah umur 17 tahun; atau 4). pemilih yang sudah terdaftar tetapi sudah tidak memenuhi syarat sebagai pemilih. 3. Penyusunan Daftar Pemilih Tambahan. a. Pemilih yang belum terdaftar, secara aktif melaporkan kepada Panitia Pemilihan melalui pengurus Rukun Tetangga / Rukun Warga untuk didaftar sebagai pemilih tambahan dengan pencatatan, dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) hari. b. Daftar pemilih tambahan diumumkan oleh Panitia Pemilihan pada tempattempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat dengan jangka waktu selama 3 (tiga) hari. 4. Penyusunan Daftar Pemilih Tetap. a. Panitia pemilihan menetapkan dan mengumumkan Daftar pemilih sementara yang sudah diperbaiki dan daftar pemilih tambahan sebagai daftar pemilih tetap. b. Daftar pemilih tetap diumumkan di tempat yang strategis di desa untuk diketahui oleh masyarakat selama 3 (tiga) hari terhitung sejak berakhirnya jangka waktu penyusunan daftar pemilih tetap. C. HAK DIPILIH : 1. Persyaratan Pencalonan. Surat permohonan dilampiri dengan berkas persyaratan dalam bentuk : a. surat keterangan sebagai bukti warga negara Indonesia dari pejabat tingkat Kabupaten; b. surat pernyataan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau bermaterai cukup;

5 c. surat pernyataan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika, yang dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau bermaterai cukup; d. fotocopy ijazah pendidikan formal dari tingkat dasar sampai dengan ijazah terakhir yang dilegalisasi oleh pejabat berwenang atau surat pernyataan dari pejabat yang berwenang; e. fotocopy akta kelahiran atau surat keterangan kenal lahir; f. surat pernyataan bersedia dicalonkan menjadi kepala Desa yang dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau bermeterai cukup; g. fotocopy Kartu Tanda Penduduk; h. surat pernyataan pernah bertempat tinggal dan/atau mempunyai riwayat kelahiran di Desa yang bersangkutan disaksikan oleh 2 (dua) orang anggota keluarga yang berdomisili di Desa yang bersangkutan ; i. surat pernyataan sanggup dan bersedia bertempat tinggal / berdomisili di Desa yang bersangkutan apabila terpilih menjadi Kepala Desa disaksikan oleh 2 (dua) orang anggota keluarga yang berdomisili di Desa yang bersangkutan; j. surat keterangan dari ketua pengadilan bahwa tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih; k. surat keterangan dari ketua pengadilan negeri bahwa tidak sedang dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap; l. surat keterangan berbadan sehat dari Rumah Sakit Umum Daerah; dan m. surat keterangan dari pemerintah daerah dan surat pernyataan dari yang bersangkutan bahwa tidak pernah menjadi kepala Desa selama 3 (tiga) kali masa jabatan. n. surat keterangan tidak dalam status sebagai Penjabat Kepala Desa dari pejabat tingkat kabupaten.

6 2. Tahapan Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa. a. pengumuman dan pendaftaran bakal calon dalam jangka waktu 9 (sembilan) hari; b. penelitian kelengkapan persyaratan administrasi, klarifikasi, serta penetapan dan pengumuman nama calon dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari; c. penetapan calon kepala Desa paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak 5 (lima) orang calon; d. Dalam hal bakal calon yang memenuhi persyaratan lebih dari 5 (lima) orang, panitia pemilihan melakukan seleksi tambahan dengan melaksanakan ujian penyaringan tertulis difasilitasi Camat dengan menyiapkan materi soal. e. Berdasarkan rangking / urutan tertinggi dari hasil ujian penyaringan tertulis, paling banyak 5 (lima) bakal calon yang ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa. f. Bakal Calon Kepala Desa yang telah ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa tidak boleh mengundurkan diri dengan alasan apapun. 3. Lain-lain. a. Surat Izin tertulis Perangkat Desa dalam pencalonan diri sebagai Kepala Desa, dilakukan oleh Kepala Desa. b. Dalam hal Kepala Desa tidak memberi izin Perangkat Desa untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Desa, maka Camat berkewajiban memfasilitasi untuk memberikan keterangan kepada Perangkat Desa untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Desa, c. Perangkat Desa yang mencalonkan diri dalam pemilihan Kepala Desa diberi cuti terhitung sejak yang bersangkutan terdaftar sebagai bakal Calon Kepala Desa sampai dengan selesainya pelaksanaan penetapan calon terpilih. d. Pemberian cuti atas permohonan izin cuti bagi Perangkat Desa yang mencalonkan diri dalam pemilihan Kepala Desa oleh Kepala Desa selambat- lambatnya 1 (satu) hari sebelum pendaftaran ditutup dan apabila sampai dengan batas waktu tersebut belum diberikan, maka bakal Calon Kepala Desa dianggap telah diberikan cuti.

7 D. PENENTUAN NOMOR URUT CALON KEPALA DESA. 1. Penentuan nomor urut calon Kepala Desa yang berhak dipilih dilaksanakan dengan cara undian. 2. Undian dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari setelah Bakal Calon Kepala Desa ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa. 3. Undian Nomor urut calon, dilaksanakan oleh panitia dan dihadiri oleh calon Kepala Desa, unsur BPD, aparatur Pemerintah Desa dan Camat. 4. Dalam hal calon Kepala Desa tidak dapat hadir pada waktu proses pengundian nomor urut, yang bersangkutan dapat memberikan kuasa kepada orang lain atau keluarganya, dan jika tidak ada surat kuasa, maka yang bersangkutan diberikan nomor pengundian terakhir. 5. Panitia pemilihan mengumumkan melalui media masa dan/atau papan pengumuman tentang nama calon yang telah ditetapkan, paling lambat 7 (tujuh) hari sejak tanggal ditetapkan. E. SURAT SUARA. 1. Nomor urut calon, dicantumkan dalam surat suara di atas foto calon. 2. Di bawah foto calon dicantumkan nama calon. 3. Bahan, bentuk, format, dan ukuran surat suara, disesuaikan dengan jumlah calon Kepala Desa di masing-masing desa. 4. Penataan foto calon dalam surat suara diatur, sehingga apabila surat suara dilipat foto calon maupun hasil coblosan dalam pemungutan suara dapat dijamin kerahasiaannya. 5. Jumlah surat suara, dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah paling banyak 5 % (lima per seratus) dari jumlah pemilih tetap. 6. Tambahan surat suara, digunakan sebagai cadangan untuk mengganti surat suara yang keliru dan/atau rusak. 2 PRASETYA BUDI

8 7. PENGADAAN SURAT SUARA. a. Camat memfasilitasi dalam penentuan jumlah surat suara dan kotak suara. b. Camat memfasilitasi pencetakan surat suara dan pembuatan kotak suara serta perlengkapan pemilihan lainnya. c. Camat memfasilitasi penyampaian surat suara dan kotak suara dan perlengkapan pemilihan lainnya kepada panitia pemilihan. F. SAKSI. 1. Paling lama 7 (tujuh) hari sebelum pemungutan suara, Calon Kepala Desa mengajukan daftar nama-nama calon saksi kepada Panitia Pemilihan. 2. Pengajuan calon saksi dalam pemungutan suara kepada Panitia Pemilihan dilakukan secara tertulis, masing-masing Calon Kepala Desa paling banyak 2 (dua) orang untuk setiap tempat penghitungan suara. 3. Paling lama 5 (lima) hari sebelum Pemungutan suara para saksi sudah diberikan penjelasan oleh Panitia Pemilihan mengenai tugas dan kewajibannya antara lain sebagai berikut : a. mengikuti proses pelaksanaan pemilihan sampai dengan selesainya penghitungan suara. b. menjaga kelancaran pelaksanaan pemilihan. c. menyatakan sah tidaknya surat suara. d. menandatangani Berita Acara dalam proses Pemilihan Kepala Desa. G. KAMPANYE. 1. Calon kepala desa dapat melakukan kampanye sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa. 2. Pelaksanaan kampanye dalam jangka waktu 3 (tiga) hari sebelum dimulainya masa tenang. 3. Kampanye dilakukan dengan prinsip jujur, terbuka, dialogis serta bertanggung jawab. 4. Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. pertemuan terbatas; b. tatap muka; c. dialog; d. penyebaran bahan Kampanye kepada umum; e. pemasangan alat peraga di tempat kampanye dan di tempat lain yang ditentukan oleh panitia pemilihan; dan f. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

9 H. PEMUNGUTAN SUARA. 1. Surat Undangan. a. Surat undangan diberikan nomor urut sesuai nomor urut pada Daftar Pemilih Tetap. b. Surat undangan memuat hari, tanggal, pukul dan tempat pemungutan suara. c. Batas waktu penyampaian surat sekurang-kurangnya 2 (dua) hari sebelum pemungutan suara. d. Pemilih yang dilayani adalah pemilih yang menggunakan SURAT UNDANGAN, apabila surat undangan hilang sebagai pengganti, harus membuat surat keterangan hilang dari pihak Kepolisian.. 2. Pengumuman Pelaksanaan Pemungutan Suara. a. Pemberitahuan Panitia kepada masyarakat paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan Pemungutan Suara ; dan b. Mengumumkan secara terbuka waktu dan tempat pemungutan suara, nama-nama Calon Kepala Desa, dan daftar pemilih yang sudah disahkan oleh Panitia.. 3. Bilik Suara a. Ketentuan bilik dengan ukuran tinggi, panjang dan lebar disesuaikan dengan situasi dan kondisi dengan tetap menjamin kerahasiaan pemilih dalam melaksanakan kegiatan pencoblosan suara. b. Penentuan jumlah bilik suara disesuaikan dengan jumlah pemilih dan kondisi tempat pemungutan suara.

10 4. Denah Tempat Pemungutan Suara. Penentuan tempat bilik suara, kotak suara, penghitungan suara dan tempat duduk calon Kepala Desa, panitia, saksi dan pemilih disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokasi tempat pemungutan suara sehingga kegiatan pemungutan suara dan penghitungan suara dapat dilihat secara jelas oleh semua pihak yang hadir. CALON BILIK SUARA PENUKARAN SURAT SUARA RUANG TUNGGU PENCOCOKAN SURAT UNDANGAN PINTU MASUK KOTAK SUARA SAKSI PINTU KELUAR RUANG TUNGGU PINTU PER DUSUN/ ATAU PER RW PENJELASAN : a. Pembuatan / penentuan jumlah pintu masuk, agar menyesuaikan jumlah Dusun atau kapasitas jumlah pemilih per Dusun dan pemberian Label NAMA DUSUN per pintu masuk. b. Untuk memperlancar pencocokan surat undangan dengan data pada Daftar Pemilih Tetap, perlu pembagian Daftar Pemilih Tetap disesuaikan dengan jumlah pintu masuk per Dusun. c. Petugas yang mempersilahkan pemilih memasuki pintu masuk, agar memperhatikan JUMLAH PEMILIH dalam RUANG TUNGGU yang akan melakukan PENUKARAN surat undangan dengan SURAT SUARA. d. Tugas saksi pada saat pemungutan suara, dibagi dengan tugas antara lain : 1). Mengawasi tempat PENUKARAN surat undangan dengan surat suara. 2). Mengawasi pemilih yang masuk BILIK SUARA sekaligus pada waktu pemilih memasukkan suarat suara pada KOTAK SUARA. e. Tugas saksi pada saat penghitungan suara, mengawasi proses penghitungan pada setiap tempat penghitungan suara.

11 5. Waktu Pelaksanaan Pemungutan Suara. a. Pemungutan suara pemilihan Kepala Desa dilaksanakan pada hari kerja dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB. b. Apabila sampai dengan pukul 14.00 WIB, pemilih yang sudah hadir di tempat pemungutan suara ( RING DITENTUKAN PANITIA ) belum menggunakan hak pilihnya, maka pemungutan suara dilanjutkan sampai dengan selesai. c. Dalam memulai pelaksanaan penghitungan suara, karena tidak ada kuorum, pemilih yang hadir adalah akumulasi dari hasil akhir proses penghitungan suara, jadi tidak perlu mengumumkan tingkat kehadiran pemilih. 6. Ketentuan Surat Suara Suara untuk pemilihan Kepala Desa dinyatakan sah apabila : a. surat suara ditandatangani oleh ketua panitia; dan b. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu calon; atau c. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama calon yang telah ditentukan; atau d. tanda coblos lebih dari satu, tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama calon; atau e. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama calon. 2 tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu calon SETYA BUDI

12 tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama calon yang telah ditentukan 2 SETYA BUDI 2 SETYA BUDI tanda coblos lebih dari satu, tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama calon 2 tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama calon SETYA BUDI

13 b. Surat suara dinyatakan tidak sah apabila : 1). tidak memakai surat suara yang telah ditentukan ; 2). tidak terdapat tanda tangan Ketua Panitia Pemilihan pada Surat Suara ; 3). ditandatangani atau mencantumkan identitas Pemilih ; PAIJO 1 AGUNG 4). memberikan suara lebih dari satu pada Calon Kepala Desa ; 1 2 AGUNG JOJO

14 5). mencoblos diantara kotak tanda gambar yang satu dengan tanda gambar lainnya ; 1 2 AGUNG JOJO 6). mencoblos surat suara tidak dengan alat yang telah disediakan oleh Panitia Pemilihan ; 1 1 AGUNG AGUNG 7). surat suara rusak. 1 1 AGUNG AGUNG