BEKASI, 22 FEBRUARI 2011

dokumen-dokumen yang mirip
EXECUTIVE SUMMARY PENGEMBANGAN TEKNOLOGI IRIGASI HEMAT AIR PADA BERBAGAI INOVASI BUDIDAYA PADI

Perhitungan LPR dan FPR J.I Bollu (Eksisting)

METODOLOGI PENELITIAN

SISTEM PEMBERIAN AIR IRIGASI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris, sehingga wajar apabila prioritas

EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HUJAN EFEKTIF UNTUK PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

KAJIAN SISTEM PEMBERIAN AIR IRIGASI SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN JADWAL ROTASI PADA DAERAH IRIGASI TUMPANG KABUPATEN MALANG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

TINJAUAN FAKTOR K SEBAGAI PENDUKUNG RENCANA SISTEM PEMBAGIAN AIR IRIGASI BERBASIS FPR (STUDI DI JARINGAN IRIGASI PIRANG KABUPATEN BOJONEGORO)

STUDI PEMBERIAN AIR IRIGASI SEBAGAI USAHA MENGHEMAT PENGGUNAAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI KEDUNGKANDANG DI KOTA DAN KABUPATEN MALANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

Evaluasi Teknis Operasional jaringan Irigasi Gondang Th 2005 Desa Bakalan Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto

Studi Optimasi Pola Tanam pada Daerah Irigasi Warujayeng Kertosono dengan Program Linier

JURNAL ILMIAH Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik (S.T.)

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

EXECUTIVE SUMMARY PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN OPERASI IRIGASI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Daerah Irigasi Banjaran merupakan Daerah Irigasi terluas ketiga di

STUDI EVALUASI PEMANFAATAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI SUMBER WUNI KECAMATAN TUREN KABUPATEN MALANG JURNAL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. merupakan satu-satunya tanaman pangan yang dapat tumbuh pada tanah yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kata Kunci: Intensitas Tanam, Metode Konvensional, Metode SRI (System of Rice Intensification), Faktor Penghambat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG POLA TANAM DAN RENCANA TATA TANAM PADA DAERAH IRIGASI TAHUN 2011/2012

OPTIMALISASI PENGGUNAAN AIR IRIGASI DI DAERAH IRIGASI RENTANG KABUPATEN MAJALENGKA. Hendra Kurniawan 1 ABSTRAK

PENDAHULUAN Latar Belakang

KOMPARASI PEMBERIAN AIR IRIGASI DENGAN SISTIM CONTINOUS FLOW DAN INTERMITTEN FLOW. Abstrak

Evaluasi Teknis Operasional Jaringan Irigasi Pudaksari Tahun 2005 Desa Puloniti Kecamatan Bangsal ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah memproyeksikan

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk

Dosen Pembimbing. Ir. Saptarita NIP :

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA PADI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGAIRAN PADI BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Azwar Wahirudin, 2013

Pengelolaan Sumbedaya Air untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Padi Secara Berkelanjutan di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan

MENINGKATKAN PROUKSI PADI DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI HEMAT AIR

STUDI EVALUASI KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA JARINGAN IRIGASI SUMBER BENDO JERUK KABUPATEN PROBOLINGGO

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Perencanaan Operasional & Pemeliharaan Jaringan Irigasi DI. Porong Kanal Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

KERAGAAN BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI SAWAH UMUR SANGAT GENJAH DI NUSA TENGGARA TIMUR

EVALUASI SISTEM PEMBERIAN AIR DAERAH IRIGASI KEDUNG PUTRI GUNA MENINGKATKAN INTENSITAS TANAM PADI

BAB III METODE PENELITIAN

1.5. Potensi Sumber Air Tawar

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN OMISSION PLOT Kajian Efektifitas Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi Pada Kawasan Penambangan Nikel Di Wasile - Maluku Utara

II. TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI SISTEM JARINGAN IRIGASI TERSIER SUMBER TALON DESA BATUAMPAR KECAMATAN GULUK-GULUK KABUPATEN SUMENEP.

EVALUASI KINERJA DAERAH IRIGASI JRAGUNG KABUPATEN DEMAK

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan, dan perbaikan sarana irigasi. seluruhnya mencapai ± 3017 Ha di Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan P. Sei.

PENDAHULUAN. Petunjuk Teknis Lapang PTT Padi Sawah Irigasi...

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS RENCANA TATA TANAM GLOBAL (RTTG) TERHADAP KINERJA DAERAH IRIGASI LUASAN LEBIH DARI 3000 HA

Ajeng Padmasari Dosen Pembimbing : Ir. Sofyan Rasyid, MT.

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

KEBUTUHAN DAN CARA PEMBERIAN AIR IRIGASI UNTUK TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh Jhon Hardy Purba 1

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang

WALIKOTA TASIKMALAYA,

1. BAB I PENDAHULUAN

Peserta diklat diharapkan mampu memberikan air pada petakan tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan padi.

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI (KPI) DI KABUPATEN KUDUS BUPATI KUDUS,

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA LEBAK

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

KAT (mm) KL (mm) ETA (mm) Jan APWL. Jan Jan

PROSPEK PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN PADI 400 DI PROVINSI SUMATRA BARAT THE PROSPECT OF IMPROVING RICE CROPPING INDEX 400 IN WEST SUMATRA PROVINCE

OPERASI DAN PEMELIHARAAN DAERAH IRIGASI BAGO KABUPATEN JEMBER PROPINSI JAWA TIMUR

STUDI OPTIMASI DISTRIBUSI AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI TENGORO KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN PROGRAM DINAMIK

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI RAMAH IKLIM Climate Smart Agriculture. Mendukung Transformasi Menuju Ekonomi Hijau

PENGKAJIAN IRIGASI MODERN DENGAN OTOMATISASI IRIGASI TERPUTUS (INTERMITTENT)

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

SIMULASI INDEKS PENGGUNAAN AIR (IPA) GUNA PENGHEMATAN AIR IRIGASI DI D.I. SONOSARI KABUPATEN MALANG JURNAL

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN,

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN

Andi Ishak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu Jl. Irian km. 6,5 Kota Bengkulu HP:

EXECUTIVE SUMMARY PENGEMBANGAN MODERNISASI IRIGASI

III. METODE PENELITIAN. Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

OPTIMASI POLA DAN TATA TANAM DALAM RANGKA EFISIENSI IRIGASI DI DAERAH IRIGASI TANGGUL TIMUR SKRIPSI. Oleh DIAN DWI WURI UTAMI NIM

SIMULASI INDEKS PENGGUNAAN AIR (IPA) GUNA PENGHEMATAN AIR IRIGASI DI D.I. SONOSARI DAN D.I. PAKIS KABUPATEN MALANG

KATA PENGANTAR. perlindungan, serta kasih sayang- Nya yang tidak pernah berhenti mengalir dan

EXECUTIVE SUMMARY PENGEMBANGAN IRIGASI PERPIPAAN

TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air

RC TEKNIK IRIGASI PETAK TERSIER

KAJIAN PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL PADI BERLABEL DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU

PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT

STUDI OPTIMASI DISTRIBUSI AIR IRIGASI DI DAERAH IRIGASI LODOYO

PENDAHULUAN. Latar Belakang. pembangunan pertanian dan sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono

Apa yang dimaksud dengan PHSL?

Transkripsi:

BEKASI, 22 FEBRUARI 2011 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR BALAI IRIGASI Jl. Cut Meutia, Kotak Pos 147 Telp.: (021) 8801365, 8826813, Fax. (021) 8801345 BEKASI 17113

Kondisi jaringan irigasi di lapangan banyak yang mengalami kerusakan. Ketersediaan air baik secara kualitas maupun kuantitas semakin menurun, sementara kebutuhan semakin meningkat. Inovasi budidaya yang hemat air saat ini banyak dikembangkan dalam budidaya padi antara lain metode System of Rice Intensification (SRI) dan Indeks Pertanaman (IP) 400. Tahun 2010 dilakukan uji coba model neraca air yang telah teruji meliputi interval pemberian air irigasi maupun pola operasi irigasi yang sudah diujicoba pada skala tersier

1 Naskah Ilmiah berupa rancangan pedoman teknis pola operasi irigasi SRI tingkat DI Validasi model simulasi alokasi air SRI skala DI Penerapan pola operasi irigasi SRI di beberapa lokasi 2 Naskah Ilmiah berupa rancangan pedoman teknis pola operasi irigasi pada budidaya non SRI IP 400 Sumedang, melanjutkan di lokasi yang sama untuk mendapatkan keberlanjutan data IPAT-BO, menggunakan data sekunder berdasarkan pengamatan pihak terkait

Hipotesis yang mendasari kegiatan penelitian ini adalah pengaplikasian irigasi hemat air pada skala daerah irigasi tidak hanya dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktifitas air (Water Productivity), akan tetapi akumulasi penghematan dapat berpengaruh positif terhadap pola operasi pada bangunan induk terkait dengan manajemen pengelolaan air. Akumulasi penghematan air irigasi juga dapat diterapkan pada metode budidaya padi lainnya jika diterapkan pada skala yang lebih luas, serta dapat meningkatkan produktifitas air (Water Productivity). Lokasi 1) Penelitian validasi model simulasi pola operasi irigasi hemat air sebagai penelitian lanjutan akan dilakukan di Daerah Irigasi Mrican Kanan, Jombang, Jawa Timur (lanjutan). 2) Pengembangan Irigasi Hemat Air pada budidaya padi mendukung IP 400 dilaksanakan di Desa Cibereum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kab. Sumedang, Jawa Barat. Penelitian di lokasi tersebut melanjutkan penelitian musim tanam ketiga dimana MT I dan MT II sudah dilakukan pada tahun 2010.

No Uraian kegiatan Januari Februari Maret April 1 Persiapan : penyusunan KAK, diskusi kegiatan, pelaporan Penyusunan KAK dan diskusi internal Pembahasan KAK oleh tim evaluator Balai dan Pusair Penyusunan laporan awal 2 Survey awal,koordinasi pelaksanaan kegiatan, pelaporan, pengumpulan data penunjang Koordinasi dg BPTP Jabar, BB Padi serta kelompok tani terkait IP 400 Koordinasi dg Dinas PU Jombang, BBWS Brantas, PSAWS Kediri terkait validasi model SRI skala DI Koordinasi dg PJT II terkait penerapan irigasi intermittent Diskusi teknis dg narsum terkait 3 Pelaksanaan penelitian, pengumpulan data Survey lokasi yang memungkinkan untuk penerapan operasi irigasi intermittent, IP 400 Diskusi teknis dg narsum terkait metodologi penelitian Perbaikan jaringan dan Pemasangan Alat Ukur (sesuai hasil survey awal) Penempatan alat ukur pada lokasi/jaringan yang memerlukan verifikasi Pengamatan lanjutan untuk IP 400 Verifikasi parameter input model simulasi dari lapangan, perbaikan model simulasi

V ALIDASI M ODEL A LOKASI A IR DI. M RICAN K ANAN karakteristik tanah secara acak yang mewakili hulu tengah dan hilir. Pengamatan kehilangan air di saluran primer dan sekunder Kalibrasi alat ukur di jaringan Data input RTTG detail Pengamatan kebutuhan air di tersier bagian hulu Perbaikan metode perhitungan model alokasi

MH I MH II (Tanam I) MK I (Tanam II) MK II (Tanam III) Sisa Waktu 7 Hari MH I (Tanam IV) (MP 2009/2010) Total 365 hari Varietas umur genjah Varietas umur genjah Varietas umur sangat genjah Varietas umur sangat genjah Varietas umur genjah 7 90 HST 7 75 HST 7 75 HST 7 90 HST 15 15 15 15 = Persemaian dilakukan 15 hari sebelum panen = Pengolahan tanah = Tanam sampai panen Waktu yang tersedia harus sama atau kurang dari 12 bulan untuk 4 musim tanam atau kurang dari 3 bulan/musim Persediaan air ada sepanjang tahun Semua kegiatan perlu dilaksanakan secara cepat bahkan ada kegiatan yang bersifat tumpang tindih, misalnya penyemaian benih dilakukan sebelum panen. Padi ditanam dalam satu hamparan secara serentak, karena jika tidak demikian jenis dan intensitas hama dan penyakit akan meningkat.

Validasi model simulasi alokasi air SRI skala DI 1) Pengumpulan Data Kebutuhan Air di DI. Mrican Kanan (Lanjutan MK I 2010) 2) Pengukuran kehilangan air di saluran dengan alat ukur pembanding. Data yang diambil Irigasi Drainase Tinggi genangan (di petak kontrol) Tinggi muka air tanah (di petak kontrol) Data kondisi tanah (fisika) Kehilangan air Lokasi titik kontrol Alat ukur/metode Cut Throat Flume, LTF CTF Slooping gauge Piezometer Sampel tanah dan analisa lab. Current meter, CTF Penelusuran jaringan 3) Menghitung ulang alokasi air pada setiap titik kontrol dengan metode LPR- FPR dan metode kebutuhan air SRI dengan excel. 4) Perbaikan model simulasi alokasi air

LPR-FPR Mulai SRI Mulai Pengumpulan Data Debit Intake Bendung, Skema Daerah Irigasi, Luas Baku Sawah, Kebutuhan air SRI, Efisiensi saluran, Periode Tanam Pengumpulan Data 1Debit Intake Bendung 2Skema Daerah Irigasi 3Luas Baku Sawah 4Koefisien LPR 5Koefisien FPR 6Efisiensi saluran 7Periode tanam Perhitungan ketersediaan Debit ratarata 10 harian Intake Mrican Kanan Perhitungan ketersediaan debit rata-rata 10 harian intake Mrican Kanan Perhitungan kebutuhan Air SRI sesuai dengan fase tanam (Olah tanah, Awal, Generatif, dan Pematangan) Perhitungan kebutuhan Air sesuai dengan fase taman (Bibit, Garap, Tanam) Total LPR (Koefisien LPR x Luas areal ) Kebutuhan Air total dilahan (Kebutuhan Air SRI x Luas areal ) Kebutuhan Air dilahan (Total LPR x FPR ) Kebutuhan Air dijaringan (Kebutuhan Air di lahan x Efisiensi ) Kebutuhan air dijaringan (Kebutuhan Air di lahan x Efisiensi ) Kebutuhan air cukup? Ya Tidak Kalikan Faktor K Kebutuhan air cukup? Ya Tidak Kalikan Faktor K Selesai Selesai

BIBIT GARAP TANAM 7 l/dt/ha 2,1 l/dt/ha 1,4 l/dt/ha

Metode Perhitungan Alokasi air ratarata per 10 harian Efisiensi penghematan (%) (m 3 /det) SRI Jawa Barat 9.40 46.29 SRI Jombang 11.14 36.42 Eksisting Mrican Kanan (dg metode LPR- FPR) 17.52

Aplikasi irigasi di lahan secara intermittent Pemberian irigasi di lahan dilakukan mengacu pada metode pemberian air yang optimal berdasarkan hasil penelitian, yaitu pemberian air SRI Jabar. Pengambilan debit dari intake tersier secara kontinyu Pengambilan debit dilakukan secara kontinyu dengan jumlah lebih kecil dibandingkan dengan konvensional dan menyesuaikan dengan fase budidaya, yaitu fase pengolahan lahan 1,25 l/det, padi muda (vegetatif anakan) 0,43 l/det, padi dewasa (pembungaan dan pengisian bulir) 0,83 l/det dan padi tua (pematangan) 0,31 l/det. Rotasi dilakukan di boks tersier (rotasi petakan kuarter) bila diperlukan Rotasi dilakukan dengan membagi petak-petak kuarter berdasarkan kondisi eksisting jaringan irigasi dan pengambilan air tiap petak bila jumlah air terbatas. Interval waktu untuk pengolahan lahan adalah 10 harian. Untuk masa budidaya interval yang digunakan adalah 5 harian. Pemodelan operasi irigasi Selain dengan observasi di lapangan, disusun pula model matematis berdasarkan persamaan water balance menggunakan data debit, hujan serta kondisi kadar air tanah di beberapa petak kontrol. Dengan demikian dapat dievaluasi parameter-parameter teknis yang mempengaruhi operasi irigasi seperti Kc (koefisien tanaman) untuk tanaman padi SRI dan besarnya kehilangan air di tingkat tersier yang dapat digunakan sebagai bahan penyempurnaan Kriteria Perencanaan (KP).

NO. Tahapan Pelaksanaan Naskah Ilimah Pengkajian Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Permukaan I. Persiapan 1. Diskusi internal 2. Studi pustaka 3. Penyusunan KAK 4. Survai Awal penentuan lokasi (bekerjasama dengan pihak terkait) BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 II. Pelaksanaan (mencakup koordinasi, pengumpulan data, diskusi teknis, pengamatan lapangan, analisis dan olah data) A. Validasi model simulasi SRI skala DI a. Penentuan metodologi validasi model simulasi alokasi air pada daerah irigasi b. Penempatan alat ukur debit, water table, verifikasi pola operasi irigasi dengan pola eksisting c. Pengamatan data kebutuhan air d. Evaluasi dan perbaikan model simulasi B. Penyempurnaan rekomendasi teknis pola irigasi hemat air dengan berbagai inovasi teknologi budidaya padi non SRI a. Penelusuran jaringan b. Identifikasi dan pemetaan c. Pemasangan alat ukur d. Sosialisasi dan pelatihan pengukuran dan pengamatan e. Pengamatan operasi irigasi pada jaringan irigasi f. Evaluasi, pengolahan dan analisis data g. Penyempurnaan draft rekomendasi teknis C. Workshop Irigasi Hemat Air a. Koordinasi kegiatan dengan stakeholder. b. Persiapan dan penyusunan skenario/proposal workshop. c. Identifikasi target group dan calon peserta. d. Penyiapan lokasi workshop, alat peraga jika diperlukan, materi pokok maupun pendukung yang disampaikan. e. Penyampaian informasi serta undangan calon peserta, kepada pihak terkait. f. Pelaksanaan workshop. g. Evaluasi. III. Pelaporan 1. Penyusunan Lap. Awal 2. Penyusunan Lap. Interim 3. Penyusunan Konsep Lap. Akhir 4. Penyusunan Lap. Akhir