PENGERTIAN DAN TUJUAN

dokumen-dokumen yang mirip
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) SEBAGAI BAHAN BAKAR LAIN

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan insentif material dan Non-material sebagai alat untuk

pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , ,

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 47 TAHUN 2016 TENTANG

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Petani rumput laut yang kompeten merupakan petani yang mampu dan menguasai

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 92 TAHUN 2008 TENTANG

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DASAR DASAR AGRONOMI MKK 312/3 SKS (2-1)

I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia salah satunya di Provinsi Sumatera Selatan. Pertanian

Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan

BAB III METODE PE ELITIA

PENJABARAN KKNI JENJANG KUALIFIKASI V KE DALAM LEARNING OUTCOMES DAN KURIKULUM PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS PROGRAM DIPLOMA IPB 2012

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA PERKEBUNAN BISMILLAHHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

BAB I PENDAHULUAN. operasi serta membentuk perusahaan perusahaan modal ventura atau bergabung dengan

-1- GUBERNUR BALI, Jdih.baliprov.go.id

PROSPEK PENGEMBANGAN UBIKAYU DALAM KAITANNYA DENGAN USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI TRANSMIGRASI DI DAERAH JAMBI

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia.

NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN

Modal merupakan barang ekonomi yang dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa Modal pada usahatani mencakup semua barang-barang yang dapat

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAROLANGUN NOMOR TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN

VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

BAB III ANALISA SISTEM BERJALAN. PT Sintang Raya di Kabupaten Kubu Raya merupakan PT (Perseroan

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

8.2. PENDEKATAN MASALAH

BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BONE NOMOR 84 TAHUN 2016 TENTANG

V. KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM

Lampiran 1. Tingkat Partisipasi Petani Dalam Mengikuti Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu No. Pertanyaan Sampel

Statistik Upah Buruh Tani

GUBERNUR SUMATERA BARAT

MAGANG PROGRAM UNGGULAN INSTIPER

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 19 TAHUN : 2008 SERI : D PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR : 69 TAHUN 2008 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi

seperti Organisasi Pangan se-dunia (FAO) juga beberapa kali mengingatkan akan dilakukan pemerintah di sektor pangan terutama beras, seperti investasi

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/Permentan/SR.230/7/2015 TENTANG FASILITASI ASURANSI PERTANIAN

WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU PERATURAN WALIKOTA BENGKULU NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG PERCEPATAN KEDAULATAN PANGAN MELALUI SERTIFIKASI BENIH

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki rencana pengembangan. bisnis perusahaan untuk jangka waktu yang akan datang.

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL)

LAMPIRAN KUISIONER PENELITIAN

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 39 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI RIAU

Ketahanan Pangan. Laporan Komisi ke Menko Perekonomian KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA

Lampiran 1 Kuisioner responden petani 1. Berapa luas lahan yang Bapak miliki? 2. Bagaimana cara bapak mengelola hutan rakyat yang Bapak miliki? a.

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

GUBERNUR RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PEMANFAATAN ALAT BANTU PRODUKSI LOKAL BAGI USAHA BIDANG PEREKONOMIAN

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang cukup strategis di. Indonesia. Komoditas kopi memberikan kontribusi untuk menopang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. jumlah lahan yang luas tersebut, pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja.

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 77/Permentan/OT.140/12/2012

DINAS PERKEBUNAN. Tugas Pokok dan Fungsi. Sekretaris. Sekretaris mempunyai tugas :

BAB I PENDAHULUAN. usahanya. Dengan tajamnya persaingan tersebut perusahaan dituntut mampu menghadapi

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN KABUPATEN SUMBAWA.

BAB IV KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN SISTEM PERTANIAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 7 Tahun : 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 85 TAHUN 2016 TENTANG

PELAKU PELAKU EKONOMI

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. pada tahun 2002, perusahaan ini berdiri dengan akta notaris NO SPP. 161/2001.

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI MELALUI PENGEMBANGAN AGROFORESTRY

VIII. ANALISIS PENDAPATAN USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN TENAGA KERJA DI PTP NUSANTARA IV UNIT KEBUN SIDAMANIK SKRIPSI OLEH FITRI SYAHRAINI HASIBUAN AGRIBISNIS

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

BAB I PENDAHULUAN. pertanian yang mampu menghasilkan devisa bagi Negara. Pada tahun 2016

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Pembangunan Bambu di Kabupaten Bangli

III. KERANGKA PEMIKIRAN

MESIN PERTANIAN YANG DI GUNAKAN DI DESA TLOGOSADANG, KECAMATAN PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN. Nanda Kusuma Arum, Mahrus Ali

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. BBM merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat Desa. maupun Kota baik sebagai rumah tangga maupun sebagai pengusaha,

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 26/Permentan/OT.140/2/2007 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Volume 5 No. 1 Februari 2017 ISSN: IDENTIFIKASI LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN GULA MERAH LONTAR DI KABUPATEN JENEPONTO

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

MANAJEMEN PRODUKSI

PENGERTIAN DAN TUJUAN Manajemen produksi merupakan proses kegiatan manajemen yang diterapkan dalam bidang produksi. Tujuan adalah agar dapat mengarahkan usaha sektor perkebunan memperoleh hasil terbaik dan mengurangi (terhindar) dari resiko-resiko yang tidak diinginkan. Manajemen produksi mencakup dua hal, yaitu: 1. Perencanaan Sistem Produksi 2. Pengendalian Produksi

Perencanaan Sistem Produksi Kegiatan produksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu dengan yang lain, sehingga kegiatan produksi disebut SISTEM PRODUKSI. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Perencanaan jenis tanaman 2. Perencanaan lokasi usaha 3. Pererncanaan standar produksi 4. Perizinan

1. Perencanaan Jenis Tanaman Ada dua hal yang harus dilakukan ketika merencanakan jenis tanaman perkebunan yang akan diusahakan, yaitu : a. Jenis tanaman b. Jumlah atau luas produksi c. Unsur tenaga kerja d. Bahan dan alat

a. Jenis Tanaman Untuk menentukan jenis tanaman perkebunan yang akan diusahakan harus memperhatikan faktor-faktor : 1) Kesesuaian jenis tanaman dengan lokasi usaha. Setiap tanaman memiliki persyaratan tumbuh, sehingga tanaman yang dibudidayakan di lokasi yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya diharapkan dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal. 2) Prospek pasar dari produk tanaman perkebunan Melalui riset pasar harus dapat diketahui : a) Produk tanaman memiliki nilai pasar (jual) tinggi b) Banyak diminta oleh pasar dalam dan luar negeri c) Sangat dibutuhkan oleh pasar/masyarakat

Melalui riset pasar pula dapat diketahui : Pasar yang memerlukan produk tanaman tanaman perkebunan yang diusahakan. Harga pasar yang wajar. 3) Biaya produksi Biaya yang dimaksud adalah biaya untuk budidaya atau pengolahan hasil tanaman perkebunan. Dalam mempertimbangkan biaya produksi dibutuhkan riset pasar yang meliputi lebih dari satu jenis produk yang banyak diminta oleh pasar. Hasil riset pasar dapat digunakan untuk menentukan pilihan jenis tanaman yang didasarkan pada tanaman yang produknya banyak dibutuhkasn oleh pasar dan biaya produksi lebih rendah dibandingkan harga permintaan pasar.

4) Kontinuitas produksi Perusahaan perkebunan umumnya terikat kontrak jual beli dengan pihak pelaggan, berupa kesanggupan untuk secara teratur menyediakan produknya dalam jumlah sesuai kontrak. 5) Biaya transportasi Merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan perkebunan untuk mengirimkan produk ke konsumen. Biaya ini menjadi salah satu komponen biaya produksi yang harus ikut diperhitungkan untuk menentukan harga jual produk.

6) Resiko usaha Ada dua resiko yang harus diperhatikan dalam membudidayakan dan/atau mengolah produk perkebunan, yaitu : a) resiko tanaman di kebun, seperti serangan OPT, kekeringan, dan lain-lain. b) resiko produk pasca panen, seperti kerusakan pada saat pengolahan, keterlambatan produk sampai ke konsumen.

b. Jumlah atau Luas Produksi Perencanaan luas produksi harus memperhatikan beberapa hal, yaitu : Ketersediaan SDM Ketersediaan keuangan Ketersediaan bahan dan alat Besarnya permintaan pasar atas produk perkebunan yang akan diusahakan (konsumsi dalam negeri dan luar negeri) Ketersediaan lahan

c. Tenaga Kerja Pada budidaya tanaman perkebunan kebutuhan tenaga kerja idealnya memperhatikan hal-hal sebsagai berikut : a. Luas lahan usaha b. Jenis tanaman yang diusahakan c. Teknologi yang diterapkan Pada perkebunan besar, apalagi yang terkait dengan pola PIR, kebutuhan tenaga kerjanya sangat besar

Ada tiga tingkatan atau kelompok tenaga kerja di perkebunan besar, yaitu : 1. karyawan dasar (kelompok pelaksana) 2. pegawai bulanan ( kelompok inovator/ middle manajemen) 3. staf dan pimpinan ( top manajemen)

Permasalahan Tenaga Kerja di Perkebunan Besar Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja Sesuai tuntutan organisasi perusahaan, jumlah tenaga kerja yang besar harus diimbangi dengan kualitas tenaga kerja yang memadai dan tepat. Besaran upah dan sistem penggajian Besarnya upah dan sistem penggajian harus dapat merangsang pretasi kerja dan tidak merugikan tenaga kerja. Bila perlu, pada saat-saat khusus diadakan sistem insentif, jasa-jasa produksi, dan sistem premi lainnya. Akan lebih baik kalau ada jaminan hari tua dan keselamatan kerja.

Variasi biaya untuyk upah tenaga kerja antar perusahaan Umumnya biaya tenaga kerja (dari kelompok pelaksana s.d top nmanajemen) sekitar 60% dari komponen pengeluaran pada masa investasi dan 60-70% dari komponen harga pokok setelah perkebunan memasuki masa produksi.

d. Alat-alat Pertanian Kehadiran alat-alat atau mesin pertanian mutlak diperlukan, untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih optimal. Alat-alat yang digunakan sangat beragam mulai dari alat ringan sampai alat berat, seperti : - traktor, bajak, garu, cangkul (untuk olah tanah) - parang dan arit (pembersihan areal perkebunan) - bengko (untuk membuat lubang tanam) - pisau penyadap -dan lain-lain