Filsafat Kematian Heidegger

dokumen-dokumen yang mirip
RUANG KAJIAN HAKIKAT HIDUP MANUSIA DALAM KONSEP RUANG DAN WAKTU MENURUT FILSAFAT EKSISTENSIALISME HEIDEGGER. Oleh : Fadhillah.

FILSAFAT MANUSIA Sosialitas Manusia; Pandangan-pandangan mengenai Korelasi Manusia dengan yang-lain.

Modul ke: Kematian. 11Fakultas PSIKOLOGI. Shely Cathrin, M.Phil. Program Studi Psikologi

FILSAFAT MANUSIA LANDASAN KOMUNIKASI MANUSIA & BAHASA. Ahmad Sabir, M. Phil. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI

RUANG KAJIAN HAKEKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN EKSISTENSIALISME SOREN KIERKEGAARD. Oleh : Fadhillah. Abstract

BAB I PENDAHULUAN. kegelapan muncul temuan lampu sebagai penerang. Di saat manusia kepanasan

Modul ke: FILSAFAT MANUSIA KEMATIAN. Ahmad Sabir, M. Phil. Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

MENYANGKAL TUHAN KARENA KEJAHATAN DAN PENDERITAAN? Ikhtiar-Filsafati Menjawab Masalah Teodise M. Subhi-Ibrahim

Areté Volume 02 Nomor 02 September 2013 RESENSI BUKU 2. Simon Untara 1

BAB I PENDAHULUAN. Melihat dan mengalami fenomena kehidupan konkrit manusia di jaman

Sinopsis. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelompok yang disebut keluarga (Turner & Helmes dalam Sarwono & Weinarno,

Pekerjaan Suami : Bekerja / Tidak Bekerja Pendidikan Anak : SD / SMP Pembantu Rumah Tangga : Punya / Tidak Punya (Lingkari pilihan Anda)

PELUANG BISNIS MAHASISWA DAN PELAJAR

KARENA KITA ADALAH ORANGTUA: Percikan Cerita Pengasuhan Anak

otaknya pasti berbeda bila dibandingkan dengan otak orang dewasa. Tetapi esensi otak manusia tetap ada pada otak bayi itu, sehingga tidak pernah ada

Filsafat Manusia. Sosialitas Manusia. Cathrin, M.Phil. Modul ke: 03Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

MARTIN HEIDEGGER MENGENAI MENGADA SECARA OTENTIK DAN RELEVANSINYA BAGI PELAYANAN KESEHATAN

Apakah bahasa roh boleh dipakai dalam acara doa bersama? Apa artinya bahasa roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman (lih. 1Kor 14:22)?

SAAT TERJADI KONFLIK

BAB I PENDAHULUAN. (laki-laki dan perempuan), secara alamiah mempunyai daya tarik menarik. perkawinan antara manusia yang berlaian jenis itu.

DIPA TRI WISTAPA MEMBILAS PILU. Diterbitkan secara mandiri. melalui Nulisbuku.com

PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL PASCA PERCERAIAN ANTARA WANITA BEKERJA DAN WANITA TIDAK BEKERJA

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penurunan kondisi fisik, mereka juga harus menghadapi masalah psikologis.

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

DI BALIK DINDING. Apa ya, yang berada di balik dinding itu?, selalu dan selalu dia bertanya-tanya

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Dunia ini tidak pernah lepas dari kehidupan. Ketika lahir, sudah disambut

BAB I PENDAHULUAN. 1 Totok S. Wiryasaputra, Pendampingan Pastoral Orang Sakit, Seri Pastoral 245, Pusat Pastoral Yogyakarta,

"Jika saya begitu takut maka biarlah saya mati malam ini". Saya takut, tetapi saya tertantang. Bagaimanapun juga toh akhirnya kita harus mati.

Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibunda, Almarhum Ayahanda dan Ani

BAB IV ANALISIS DATA. dikumpulkan, diklasifikasikan dan dianalisis. mewawancarai secara mendalam kepada responden.

Erich Fromm H U M A N I S T I C P S Y C H O A N A L Y S I S. Manusia yang sehat secara mental menemukan jawaban atas keberadaan mereka.

CINTA TELAH PERGI. 1 Penyempurna

TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga memiliki tanggung jawab terbesar dalam pengaturan fungsi

Air Mata. Pernikahan

FILSAFAT PENGANTAR TERMINOLOGI

BAHAN SHARING KEMAH. Oktober VISI & MISI GPdI MAHANAIM - TEGAL. Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama

RESPONS - DESEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. Allah menjadikan makhluk-nya berpasang-pasangan, menjadikan manusia

BAB I PENDAHULUAN. bernilai, penting, penerus bangsa. Pada kenyataannya, tatanan dunia dan perilaku

KONSEP DASEIN MENURUT MARTIN HEIDEGGER DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM

Ringkasan Khotbah 18 Mei Mazmur 119: Allah Pencipta yang Setia. Khotbah oleh: GI Ajin Thu, S Th

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya setiap manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Hal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam rentang kehidupan, individu berkembang dari masa kanak-kanak

Pernikahan Kristen Sejati (2/6)

KETIKA YESUS DICOBAI

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah

Pendahuluan. Komunikasi Allah dan Manusia.

MATERI V BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan

STRATEGI KOPING ANAK DALAM PENGATASAN STRES PASCA TRAUMA AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA

(Elisabeth Riahta Santhany) ( )

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Kelima butir sila yang

COPING STRESS PADA WANITA YANG MENGALAMI KEMATIAN PASANGAN HIDUP. Skripsi. Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1

FILSAFAT UNTUK PSIKOLOGI

Wawancara disampaikan dengan bahasa yang baik, sopan dan santun, tidak bernada keras.

JADIKAN PEKERJAAN KITA SEBAGAI SOULMATE

Bacaan: 1 Korintus 13:1-13

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhannya manusia tetap bergantung pada orang lain walaupun sampai

Anak laki-laki itu segera mengangkat kakinya. Maaf, ujarnya, sementara si anak

BUPATI KULON PROGO Sambutan Pada Acara

Jodoh dan pernikahan yang sempurna

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

NOTA PEMBELAAN. BASUKI TJAHAJA PURNAMA TERHADAP TUNTUTAN PENUNTUT UMUM DALAM PERKARA PIDANA No. 1537/Pid.B/2016/PN.JKT.UTR

Alifia atau Alisa (2)

Karya Kreatif Tanah Air Beta. Karya ini diciptakan untuk menuturkan isi hati Mama Tatiana di dalam buku hariannya. Karya

BAB I PENDAHULUAN. pembacanya. Banyak sekali manfaat yang terkandung dari membaca buku. Selain

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Assalamu alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

BAB II RINGKASAN CERITA. sakit dan mengantarkan adik-adiknya ke sekolah. Karena sejak kecil Lina

"Apa begitu sulit untuk memulai hidup dengan seorang fotografer?" tanyanya saat aku

The Year of Great Harvest #3 Tahun Tuaian Besar #3 LOVE STORY IN THE FIELD - KISAH CINTA DI LADANG

PENERAPAN NILAI RUKUN DALAM PENYESUAIAN PERNIKAHAN PADA PASANGAN SUAMI ISTRI JAWA

20 Jam Terpenting. Timothy Athanasios

ASEP DI JAKARTA. Sebuah novel karya Nday

The Coffee Shop Chronicles

BAB III HAK WARIS ANAK SUMBANG. A. Kedudukan Anak Menurut KUH Perdata. Perdata, penulis akan membagi status anak ke dalam beberapa golongan

Sebuah kata teman dan sahabat. Kata yang terasa sulit untuk memasuki kehidupanku. Kata yang mungkin suatu saat bisa saja meninggalkan bekas yang

KUMPULAN KATA-KATA BIJAK

Nama Mata Kuliah. Modul ke: Filsafat Manusia. Fakultas Fakultas Psikologi. Masyhar MA. Program Studi Program Studi.

I Love My Job and My Family:

Pikiran untuk menderita

BAB I PENDAHULUAN. alamiah. Anak merupakan titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Perkataan

BAB I PENDAHULUAN. pulau dan bersifat majemuk. Kemajemukan itu berupa keanekaragaman ras,

THE YEAR OF FAVOR #5 TAHUN PERKENANAN #5 GOD S PURPOSE FOR FAVOR TUJUAN TUHAN MEMBERIKAN FAVOR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Fenomena orangtua tunggal beberapa dekade terakhir ini marak terjadi di

Resensi Buku JADI KAYA DENGAN BERBISNIS DI RUMAH OLEH NETTI TINAPRILLA * FENOMENA WANITA * WANITA BERBISNIS : ANTARA KELUARGA DAN KARIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan hal yang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan

BAB 4 KESIMPULAN Citra Tokoh Utama Perempuan die Kleine sebagai Subordinat dalam Novel RELAX karya Henni von Lange RELAX RELAX

BAB I PENDAHULUAN. Komanditer atau sering disebut dengan CV (Commanditaire. pelepas uang (Geldschieter), dan diatur dalam Kitab Undang-Undang

Transkripsi:

1 Filsafat Kematian Heidegger F. Budi Hardiman ECF 13 Oktober 2015 Renungan tentang kematian terletak di jantung Sein und Zeit. Sebagai keseluruhan dari keseluruhan struktur Dasein, Sorge merupakan suatu gerak atau dinamika yang belum definitif. Bahwa salah satu momennya sich vorweg (mendahului) berarti bahwa Sorge adalah penyingkapan terus-menerus. Ada dari Dasein adalah kemungkinan (Seinkoennen), maka ia lebih merupakan suatu gerak terus-menerus menuju dirinya daripada merupakan sesuatu yang sudah jadi. Rumusan filosofisnya adalah demikian: Manusia itu lebih menjadi (Werden) daripada ada (Sein). Dalam arti ini, selama Dasein sebagai Mengada ada, dia tak pernah mencapai keseluruhan nya. 1 Sepuluh tahun dalam perkawinan seorang suami mengenal istrinya sebagai seorang partner yang setia, sederhana dan tulus. Sejak perempuan ini bekerja dan mendapatkan nafkahnya sendiri, dia seolah menjadi manusia yang lain di hadapan suaminya. Ia menemukan diri setelah sekian lama memalsukan dirinya. Perempuan ini lalu menemukan cintanya pada rekan kerjanya dan minta cerai dari suaminya. Metamorfosis semacam ini tidak sama dengan perubahan kecebong menjadi katak, karena katak sudah final, tetapi perempuan ini masih saja mungkin berubah di masa depan. Dia masih mungkin kembali ke keluarganya, menculik anak-anaknya atau menikah dengan kekasihnya itu. Itulah penjelasan dari kata-kata sulit bahwa Dasein tak pernah mencapai keseluruhannya, yaitu merupakan suatu kebeluman terus-menerus (staendige Unabgeschlossenheit). 1 Heidegger, Sein und Zeit., paragraf 46, hlm. 236

2 Kapan Dasein mencapai kepenuhan dan totalitas Adanya? Dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit dari totalitas Ada Dasein itu, tetapi persis pada titik itu pula Dasein kehilangan Adanya, suatu nadir ontologis, karena Dasein berhenti sebagai Ada-di-dalamdunia. 2 Kedengaran absurdkah tesis ini? Suatu paradoks dari ada dan tiada di satu titik yang disebut kematian. Seperti sebelum kelahiran tak ada pra-eksistensi jiwa ala Plato, begitu juga setelah kematian tak ada keabadian seperti dibayangkan agama-agama monoteis. Dasein berhenti dengan kematiannya dan berubah menjadi entah Vorhandenes (mayat tak dipakai) atau Zuhandenes (misalnya, bahan utopsi). Titik! Kedengaran seperti absurditaskah tesis ini? Ini tidak absurd, melainkan faktis, yaitu memang melekat pada eksistensi manusia itu sendiri. Selebihnya, misalnya keabadian, ada di luar jangkauan Ada dari Dasein. Namun Heidegger menyisakan suatu ruang untuk menghormati Dasein yang telah berhenti itu. Manusia yang mati lebih daripada seonggok daging menjadi almarhum yang bermartabat. Kontak dengan Adanya tidak berhenti. Bukan keabadian jiwa yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama (Mitwelt) yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. 3 Hubungan dengan yang mati seolah masih bermukim di dalam dunia-bersama itu, sehingga yang mati lebih daripada sekedar jenasah. Ciri lebih itu katakanlah semacam sedimentasi memori hasil kebiasaan kontak makna dengannya selama ini. Kematian jelas bukan hal sehari-hari. Ciri khas keseharian adalah bahwa orang dapat menggantikan orang lain. Dia mengambilalih posisi direktur umum. Karena para suami sibuk, istri-istri merekalah yang datang ke pertemuan orangtua murid. Atau seorang penceramah yang tak bisa hadir diwakili oleh asistennya. Komunikasi mengandaikan suatu sikap membayangkan seolah-olah kita berada di tempat orang lain. Keterwakilan termasuk ciri dasar sosialitas manusia dalam kesehariannya. Di sini, kata Heidegger, seorang Dasein dapat atau bahkan dalam batas-batas tertentu harus menjadi yang lain. Namun kemungkinan perwakilan ini sama sekali tak mungkin, jika menyangkut perwakilan kemungkinan Ada yang menentukan berakhirnya Dasein dan memberinya keseluruhannya. Tak seorangpun dapat menjemput kematiannya untuk orang lain. 4 Memang orang bisa mati demi orang lain, misalnya, seorang teroris yang melakukan aksi bunuh diri demi ideologi tertentu, tetapi kematiannya adalah tetap kematiannya sendiri, bukan mewakili kematian orang lain. Maka itu, kematian adalah momen yang paling otentik dan eksistensial bagi Dasein. Kematian adalah apa yang disebut di atas Jemeinigkeit (dalam segala hal milikku). 2 Lih. ibid., paragraf 46, hlm. 236-237 3 Bdk. Ibid., paragraf 47, hlm. 238 4 Ibid., paragraf 47, hlm. 240

3 Lalu mengapa tema ini juga dapat kita soroti sebagai bagian dari mistik keseharian Heidegger? Kematian jangan dilihat sebagai titik akhir seperti habisnya lilin atau selesainya sebuah produk. Seperti juga Dasein senantiasa sudah merupakan kebelumannya, selama dia ada, tulis Heidegger, dia juga selalu sudah merupakan akhirnya. Akhir yang dimaksud dengan kematian itu bukanlah berakhirnya (Zu-Ende-sein) Dasein, melainkan suatu Adamenuju-akhir (Sein-zum-Ende). 5 Dengan kata lain, akhir itu sudah ada sejak permulaan. Kematian sudah menyongsong Dasein sejak keterlemparannya. Begitu seorang manusia lahir, lanjutnya, ia sudah terlalu tua untuk mati. 6 Manusia demikian sebutan Heidegger adalah Ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Apa artinya ini? Karena kematian menyongsong sejak awal sampai akhir, dia juga merentang dalam keseharian kita. Kematian selalu menghampiri Dasein, maka tidak sekali saja. Begitu juga kelahiran tidak sekali saja. Dimengerti secara eksistensial, tulis Heidegger, kelahiran tidak dan tak pernah merupakan hal yang telah lewat dalam arti tidak ada lagi, begitu juga kematian bukanlah hal yang belum ada Dasein faktis bereksistensi dengan selalu lahir, dan mati dengan selalu lahir dalam arti Ada-menuju-kematian. 7 Tentu saja yang dimaksud dengan kematian dalam pernyataan Heidegger baru saja bukan kematian fisik, melainkan kemungkinan untuk mati. Orang memang pasti mati kita tahu ini dari keseharian das Man -, tetapi orang tak tahu kapan dan bagaimana, maka kematian secara eksistensial tidaklah pasti. Kecemasan akan kematian (Angst vor dem Tode) inilah yang muncul dalam momen eksistensial, menyembul ke luar dari keseharian das Man. Kecemasan itulah kecemasan akan kemungkinannya sendiri. 8 Meski menyembul ke luar dari keseharian, kematian tetap berada dalam genangan keseharian dalam bentuk Sorge. 9 Di sini ada dua macam sikap terhadap kematian: Sikap das Man yang intotentik yang cenderung menenang-nenangkan dirinya dengan anggapan bahwa kematian itu pasti menimpa setiap orang; dan sikap Dasein yang otentik yang membuka diri terhadap kemungkinan yang paling mungkin dari dirinya, yaitu kematiannya. Untuk memahami ini contoh berguna. Setiap hari dan mungkin setiap jam kita mendengar atau membaca bahwa ada perang di sini, bencana di sana, pembunuhan di situ atau si Anu baru saja meninggal di rumah sakit. Semua data kematian ini mungkin tidak mengubah apapun dalam diri kita. Tak ada kecemasan dalam diri kita. Mengapa? 5 Ibid., paragraf 48, hlm. 245 6 Kata-kata ini dikutip Heidegger dari A. Bernt dan K. Burdach dalam bukunya Der Ackermann aus Boehmen, 1917, bab 20, hlm. 46. Lih. ibid. paragraf 48, hlm. 245 7 Ibid., paragraf 72, hlm. 374 8 Lih. ibid., paragraf 50, hlm. 251 9 Lih. ibid., paragraf 50, hlm.252

4 Pengetahuan bahwa semua orang pasti mati segera akan menenangkan hati. Dengarkan kata teman yang berkabung di pemakaman: Na ya, semua orang pasti akan kembali kepadanya. Kata-kata itu tidak hanya benar, tetapi juga menghibur. Dan hiburan itu sekaligus membuat orang lupa bahwa kematiannya sendiri setiap saat mungkin. Tak ada yang lebih menenangkan daripada pikiran bahwa kita tidak sendirian mengalami kematian, melainkan orang-orang lain juga. Tetapi itu hanya pikiran, karena dalam kenyataan kita selalu mengalami kematian seorang diri dan sendirian. Masih banyak hiburan atau pembiusan lain, misalnya, kata-kata ini: Mereka, para pahlawan, telah mati demi bangsa dan negara. Yang dipersoalkan bukan kebenaran isi kalimat ini, melainkan fungsinya: Dengan kata-kata ini kematian tidak hanya menjadi eksternal terhadap kita, melainkan juga bahkan dikehendaki. Kata-kata semacam itu mula-mula menggoda Dasein untuk melupakan kematiannya sendiri yang datang menyongsongnya setiap saat, lalu menenangkannya dan akhirnya mengasingkannya. 10 Apa kata Dasein yang telah terasing itu? Akh, jangan terlalu dipikirkan! Semua orang pasti mati, katanya sambil mulai sibuk lagi mengetik dengan komputer untuk mengurus bisnisnya. Tapi itulah ciri das Man, yaitu lari dari kecemasannya dengan menguburnya dalam objektivitas anggapan umum. Orang bilang, tulis Heidegger, kematian pasti datang, tetapi sementara ini belum. Dengan tetapi ini orang menyangkal kepastian kematian Dengan begitu orang menyelubungi kekhasan kepastian kematian bahwa ia mungkin setiap saat. 11 Dengan menganggapnya sebagai hal umum yang niscaya, ciri kemungkinannya hilang, sehingga tak perlu mencemaskan lagi. Di sini orang tidak hanya lupa akan Adanya, melainkan juga lupa akan kemungkinan ketiadaannya. Dan bagaimana dengan Dasein yang otentik? Dia akan menyongsong kematiannya sebagai kemungkinannya sendiri. Untuk sikap otentik itu Heidegger menciptakan istilah Vorlaufen. Arti kata ini adalah lari ke depan. Kita bisa mengartikannya sebagai antisipasi. 12 Mengantisipasi kematian terjadi manakala kita menyadari keterlemparan dalam kecemasan eksistensial, yaitu saat krisis untuk mengambil keputusan penting yang menentukan arah hidup. Fakta bahwa kita menjadi sendirian dengan diri kita sendiri pada saat itu merupakan antisipasi kematian kita sendiri. Isolasi ini, demikian Heidegger, menguak bahwa segala Ada pada kesibukan sehari-hari dan setiap kebersamaan dengan orang-orang lain tidak berfungsi lagi, jika hal itu menyangkut kemungkinannya yang paling asli. 13 Keputusan menjadi otentik, jika mengantisipasi kematian, yaitu kalau keputusan itu tidak 10 Lih. ibid., paragraf 51, hlm. 254 11 Ibid., paragraf 52, hlm. 258 12 Lih. Inwood, Michael, A Heidegger Dictionary, Blackwell, Essex, 1999, hlm. 77 13 Heidegger, paragraf 53, hlm. 263

5 disesali menjelang kematian. Bagaimana kematian dan keputusan eksistensial berhubungan satu sama lain? Keputusan selalu mengantisipasi yang akan datang. Kita seolah dihadapkan pada kemungkinan kita sendiri dan harus lompat ke dalam kemungkinan itu. Sikap berani menghadapi kemungkinannya yang paling khas ini tak lain daripada sikap membuka diri terhadap kematiannya sendiri, karena dengan kematian kita dihadang oleh kemungkinan kita yang paling singular. 14 Jadi, aku otentik tidak hanyut dalam obrolan (Gerede) ataupun membiarkan diri diseret kenginannya untuk tahu urusan orang lain (Neugier), melainkan berupaya memahami (Verstehen) keterlemparannya dan bercakap-cakap secara eksistensial (Rede) tentang rancangan hidupnya (Entwurf). Dengan mengantisipasi kematiannya Dasein tidak hanya menyadari keterbenamannya di dalam das Man atau keseharian. Dia juga dibawa kepada kemungkinannya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri. Inilah pengalaman kebebasan eksistensial yang menurut Heidegger tak lain daripada kebebasan menuju kematian (Freiheit zum Tode). 15 (Teks diambil dari F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian, KPG, Jakarta, 2004) 14 Lih. ibid., paragraf 50, hlm. 250 15 Lih. ibid., paragraf 53, hlm. 266