*Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Muhamamdiyah Klaten

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. lama diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Menurut Global Report On Diabetes yang dikeluarkan WHO pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, dan pankreas dapat menghentikan

BAB 1 PENDAHULUAN. memerlukan upaya penanganan tepat dan serius. Diabetes Mellitus juga

BAB I PENDAHULUAN. DM tipe 1, hal ini disebabkan karena banyaknya faktor resiko terkait dengan DM

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menurun dan setelah dibawa ke rumah sakit lalu di periksa kadar glukosa

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes millitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh

BAB I PENDAHULUAN. syaraf) (Smeltzer & Bare, 2002). Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis

BAB 1 PENDAHULUAN. insulin atau keduanya (American Diabetes Association [ADA] 2004, dalam

BAB I PENDAHULUAN. mellitus dan hanya 5% dari jumlah tersebut menderita diabetes mellitus tipe 1

BAB 1 PENDAHULUAN. sekresi insulin yang progresif dilatar belakangi oleh resistensi insulin (Soegondo,

BAB I PENDAHULUAN. utama bagi kesehatan manusia pada abad 21. World Health. Organization (WHO) memprediksi adanya kenaikan jumlah pasien

MUHAMMAD IBNU ABIDDUNYA NIM : S

BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia, yang ditandai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan perolehan data Internatonal Diabetes Federatiaon (IDF) tingkat

Hubungan Lama Sakit Diabetes Melitus dengan Pengetahuan Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Non Ulkus. (Studi Awal)

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan insulin yang diproduksi dengan efektif ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. jumlah tersebut menempati urutan ke-4 terbesar di dunia, setelah India (31,7

BAB 1 PENDAHULUAN. DM suatu penyakit dimana metabolisme glukosa yang tidak normal, yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. yang selalu mengalami peningkatan setiap tahun di negara-negara seluruh

HUBUNGAN PERILAKU PASIEN DALAM PERAWATAN DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DIABETIKUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RUANG RINDU A1 DAN A2 RSUP H

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Diabetes Melitus atau kencing manis, seringkali dinamakan

BAB I PENDAHULUAN. hiperglikemi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan metabolisme

BAB 1 PENDAHULUAN. kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. (Awad,

PENGETAHUAN DIABETES MELITUS DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DM TIPE 2

BAB I PENDAHULUAN. diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Misnadiarly, 2006). Gangguan. jaringan tubuh. Komplikasi DM lainnya adalah kerentanan terhadap

BAB 1 PENDAHULUAN. diperkirakan akan terus meningkat prevalensinya dan memerlukan

SKRIPSI. Oleh. Indah Kusuma Wardani

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran/polusi lingkungan. Perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular akan terus meningkat

BAB I PENDAHULUAN. manifestasi berupa hilangnya toleransi kabohidrat (Price & Wilson, 2005).

BAB I. Pendahuluan. diamputasi, penyakit jantung dan stroke (Kemenkes, 2013). sampai 21,3 juta orang di tahun 2030 (Diabetes Care, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa)

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Insidens dan

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DAN KOMPLIKASI ULKUS DIABETIK PADA PASIEN DM TIPE II DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati ( Hadisaputro &

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Jogja yang merupakan rumah sakit milik Kota Yogyakarta. RS Jogja terletak di

BAB I PENDAHULUAN. secara efektif. Diabetes Melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1 yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lemah ginjal, buta, menderita penyakit bagian kaki dan banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan umat manusia pada abad ke 21. Diabetes mellitus (DM) adalah suatu

BAB 1 : PENDAHULUAN. dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun Sedangkan

HUBUNGAN ANTARA KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN DERAJAT ULKUS KAKI DIABETIK. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

DM à penyakit yang sangat mudah kerja sama menjadi segitiga raja penyakit : DM CVD Stroke

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diabetes melitus (DM) merupakan kelainan yang bersifat kronik yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit. degenerative, akibat fungsi dan struktur jaringan ataupun organ

BAB I PENDAHULUAN. dicapai dalam kemajuan di semua bidang riset DM maupun penatalaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik

BAB 1 PENDAHULUAN. tertentu dalam darah. Insulin adalah suatu hormon yang diproduksi pankreas

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit kronis yang terjadi baik ketika

I. PENDAHULUAN. WHO (2006) menyatakan terdapat lebih dari 200 juta orang dengan Diabetes

BAB I PENDAHULUAN. (glukosa) akibat kekurangan atau resistensi insulin (Bustan, 2007). World

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan

BAB I PENDAHULUAN. irritabilitas, poliuria, polidipsi dan luka yang lama sembuh (Smeltzer & Bare,

BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta

Jurnal Kesehatan Kartika 7

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran / polusi

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

BAB I PENDAHULUAN. insulin yang tidak efektif. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) sebagai suatu penyakit tidak menular yang cenderung

Diabetes Mellitus Type II

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus (DM) akibat peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan meningkatnya glukosa darah sebagai akibat dari

BAB 1 : PENDAHULUAN. pergeseran pola penyakit. Faktor infeksi yang lebih dominan sebagai penyebab

BAB I PENDAHULUAN. ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal serta gangguan

BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan insulin yang telah diproduksi secara efektif. Insulin merupakan

BAB I PENDAHULUAN. World Health Organization (2006), merumuskan bahwa diabetes. melitus (DM) merupakan kumpulan masalah anatomi dan kimiawi dari

BAB I PENDAHULUAN. modernisasi terutama pada masyarakat kota-kota besar di Indonesia menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Tingkat depresi berdasarkan derajat ulkus diabetik pada pasien ulkus diabetes melitus yang berobat di rsud kota semarang

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya kesejahteraan dan ketersediaan pangan dapat. mengakibatkan sejumlah masalah, termasuk meningkatnya kejadian penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003

I. PENDAHULUAN. cukup besar di Indonesia. Hal ini ditandai dengan bergesernya pola penyakit

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, ketidakseimbangan antara suplai dan

BAB I PENDAHULUAN. pada jutaan orang di dunia (American Diabetes Association/ADA, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. tipe 2. Diabetes tipe 1, dulu disebut insulin dependent atau juvenile/childhoodonset

BAB I PENDAHULUAN. Association, 2013; Black & Hawks, 2009). dari 1,1% di tahun 2007 menjadi 2,1% di tahun Data dari profil

PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN HIPERTENSI ANTARA PRIA DAN WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS BERUSIA 45 TAHUN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. fertilitas gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat diduga sebagai hal yang

Transkripsi:

HUBUNGAN ANTARA LAMA MENDERITA DAN KADAR GULA DARAH DENGAN TERJADINYA ULKUS PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN Saifudin Zukhri* ABSTRAK Latar Belakang : Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus pada penderita DM, sehingga dapat dilakukan pencegahan agar kejadian ulkus dapat dihindari, karena untuk kejadian ulkus pada penderita DM ini apabila sudah mengetahui tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ulkus dan mematuhi pantangan pada penderita DM maka penderita DM diharapkan dapat terbebas dari kejadian ulkus. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara lama menderita dan kadar gula darah dengan terjadinya ulkus pada penderita DM. Metode Penelitian : Jenis penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan case control atau retrospective. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diabetes mellitus baik yang memiliki ulkus maupun tidak di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Analisa data menggunakan chi square. Hasil Penelitian : Faktor kejadian ulkus berdasarkan lama menderita sebagian besar adalah lama sebanyak 20 orang (62,5%), berdasarkan kadar gula darah puasa sebagian besar tidak terkendali sebanyak 21 orang (65,6%). Kejadian ulkus di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sebanyak 16 orang (50%). Kesimpulan : Ada hubungan antara lama menderita dengan kejadian ulkus dengan p = 0,009 atau p < 0,05. Ada hubungan kadar gula dengan kejadian ulkus dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Kata Kunci : Lama Menderita, Kadar Gula Darah, Ulkus *Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Muhamamdiyah Klaten

PENDAHULUAN Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah (lebih dari 100 mg/l). Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi (Brunner & Suddarth, 2001). Secara umum Diabetes Mellitus dibedakan menjadi dua, yaitu DM tipe I dan DM tipe II. Kurang lebih 5% hingga 10% penderita mengalami diabetes tipe I, yaitu diabetes yang tergantung insulin. Diabetes tipe I ini ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Kurang lebih 90% hingga 95% penderita mengalami diabetes mellitus tipe II, yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin, yang terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (akibat penurunan jumlah produksi insulin) (Brunner & Suddarth, 2001). Berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia menjelaskan bahwa terdapat peningkatan prevalensi dari 1,5 2,3 % menjadi 5,7% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. Melihat pola pertambahan penduduk saat ini, diperkirakan pada tahun 2020 akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 2%, akan di dapatkan 3,56 juta penyandang DM (Subekti, 2007). Peningkatan insidensi diabetes mellitus tentu akan diikuti oleh meningkatnya kemungkinan terjadinya komplikasi kronik diabetes mellitus. Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya penyakit akibat penyumbatan pembuluh darah, baik mikrovaskular, seperti retina (retinopati),ginjal (nefropati), maupun makrovaskular seperti penyakit pembuluh darah koroner dan juga pembuluh darah tungkai bawah. Komplikasi lain DM dapat berupa kerentanan berlebih terhadap infeksi, yang salah satunya mudah terjadi infeksi kaki, yang kemudian dapat berkembang menjadi ulkus atau gangrene diabetes (Waspadji, 2006).

Salah satu survey menemukan bahwa 50% pasien dengan ulkus telah diganti balutannya setiap 1 sampai 2 hari, 16% 2x seminggu, dan 26% sekali seminggu. Perawatan ulkus diabetes bisa dikatakan sangat mahal. National Health Service telah memperkirakan mengeluarkan biaya untuk ulkus tungkai sekitar 400-800 miliar per tahun, untuk inggris secara keseluruhan. Penderita ulkus diabetika di Indonesia memerlukan biaya yang tinggi sebesar 1,3 juta sampai Rp. 1,6 juta perbulan dan Rp. 43,5 juta per tahun untuk seorang penderita. Ulkus tungkai terkenal lambat untuk sembuh, 50% ulkus tetap terbuka selama lebih dari 1 tahun, dan 10% tetap terbuka selama lebih dari 5 tahun yang sering berakhir dengan kecacatan dan kematian (Morison, 2003). Berdasarkan studi pendahuluan di poli RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2011 sebesar 409 penderita DM, terdiri dari 390 penderita DM, dan 19 penderita DM dengan ulkus. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan case control atau retrospective. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diabetes mellitus baik yang memiliki ulkus maupun tidak di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2011 sebesar 409 penderita DM, terdiri dari 390 penderita DM, dan 19 penderita DM dengan ulkus. Sampel dalam penelitian ini menggunakan menggunakan teknik accidental sampling. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 16 penderita diabetes mellitus dengan ulkus diabetika, dan 16 penderita diabetes mellitus tanpa ulkus diabetika, dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian: (a) Bersedia menjadi responden; (b) Menderita DM lebih dari 1 tahun; (c) Pasien berusia lebih dari 20 tahun; (d) Tidak mengalami obesitas. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu penderita DM dengan komplikasi. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan November 2011. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini meliputi catatan medik responden dan kuesioner. Analisis menggunakan analisis univariat dan bivariate menggunakan analisis chi-square Untuk melihat kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Faktor Kejadian Ulkus a. Lama Menderita Faktor kejadian ulkus responden berdasarkan lama menderita disajikan dalam tabel 1 sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menderita Lama Menderita n Prosentase (%) Lama 20 62,5 Tidak Lama 12 37,5 Jumlah 32 100,00 Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menderita diabetes mellitus dalam waktu yang lama sebanyak 62,5%. b. Kadar Gula Darah Puasa Faktor kejadian ulkus berdasarkan kadar gula darah pasien disajikan dalam tabel 2 sebagai berikut : Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Kadar Gula Darah Kadar Gula Darah n Prosentase (%) Terkendali (70-100 mg/dl) 21 65,6 Tidak Terkendali (>100mg/dl) 11 34,4 Jumlah 32 100,00 Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan kadar gula darah sangat tinggi sebanyak (65,6%).

2. Hubungan antara Lama Menderita DM dengan Kejadian Ulkus Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dideskripsikan lama menderita dengan kejadian ulkus disajikan dalam tabel 3 sebagai berikut : Tabel 3 Distribusi lama menderita DM dengan kejadian ulkus Kejadian Ulkus Lama Tidak Total P Ulkus Menderita Ulkus Value f % f % F % Lama 14 43.8 6 18.8 20 62.5 0.009 8.533 11.667 Tidak Lama 2 6.2 10 31.2 12 37.5 Total 16 50 16 50 32 100 2 OR Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa responden yang menderita DM lama sebanyak 43,8% mengalami ulkus. Responden yang menderita ulkus tidak lama sebanyak 31,2% tidak menderita ulkus. Berdasarkan uji Chi square diperoleh nilai p-value = 0,009 (α<0.05), sehingga menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara lama menderita dengan kejadian ulkus. Dilihat dari nilai OR = 11.667 yang artinya penderita DM dalam waktu lama cenderung mempunyai risiko mengalami ulkus sebesar 11,667 kali daripada yang tidak lama. 3. Hubungan Kadar Gula dengan Kejadian Ulkus Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dideskripsikan hubungan kadar gula dengan kejadian ulkus disajikan dalam tabel 4 sebagai berikut : Tabel 4. Hubungan kadar gula dengan kejadian ulkus Kejadian Ulkus Total P Kadar gula darah Ulkus Tidak Ulkus Value f % f % F % 2 OR

Tidak terkendali 16 50 5 15.6 21 65,6 0,000 16,762 0,238 Terkendali 0 0 11 34.4 11 34,4 Total 16 50 16 50 32 100 Berdasarkan Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa responden dengan kadar gula darah tidak terkendali sebanyak 50% mengalami ulkus, sedangkan responden dengan kadar gula darah tidak terkendali sebanyak 34,4% tidak mengalami ulkus. Berdasarkan nilai OR = 0,238 yang artinya tidak berisiko untuk ulkus pada penderita dengan kadar gula darah tidak terkendali. B. Pembahasan 1. Lama Menderita Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20 responden (62,5%) telah menderita diabetes mellitus lebih dari 10 tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah (lebih dari 100 mg/l). Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi (Brunner & Suddarth, 2001). Menurut Sugondo (2007), lamanya penderita ulkus dikarenakan usia 45 tahun, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan daya tahan tubuh sehingga proses penyembuhan berjalan lama. Pada usia tersebut sebagian besar keadaan tubuh seseorang mempunyai ketahanan tubuh yang kurang, hal ini dapat terjadi dikarenakan organ tubuh dan kesehatan serta daya tahan tubuh menurun, sehingga lebih rentan untuk terkena penyakit. Menurut Datmojo (2000), seorang usia lanjut mempunyai defisiensi imun yang tidak efektif sehingga dapat meningkatkan perkembangan penyakit infeksi.

2. Kadar Gula Darah Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan kadar gula darah sangat tinggi sebanyak 21 orang (65,6%) dan tinggi sebanyak 11 orang (34,4%). Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik). Selain itu, adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya ulkus. Gaya hidup yang tidak sehat, membuat metabolisme dalam tubuh yang tidak sempurna sehingga membuat insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Hormon insulin dapat diserap oleh lemak yang ada dalam tubuh. Sehingga pola makan dan hanya hidup yang tidak sehat bisa membuat tubuh kekurangan insulin (Arina, 2010). Teori lain mengatakan bahwa meningkatnya penderita diabetes melitus disebabkan oleh peningkatan obesitas, semakin mengalami obesitas semakin mengalami ulkus. Penderita kurang dalam melakukan aktivitas fisik sehingga terjadi penimbunan lemak yang mengakibatkan ulkus. Penderita kurang mengkonsumsi makanan yang berserat, sehingga metabolisme kurang lancer, penderita yang merokok dan perubahan perilaku masyarakat itu antara lain bisa dilihat dari kegemaran masyarakat mengonsumsi makanan siap saji, kurang makan sayur-sayuran, dan kurang berolahraga (Smeltzer, 2002). 3. Hubungan Lama Menderita dengan Kejadian Ulkus Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa responden yang menderita DM lama sebanyak 43,8% mengalami ulkus. Responden yang menderita ulkus tidak lama sebanyak 31,2% tidak menderita ulkus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama menderita lebih dari 10 tahun semakin mengalami ulkus, karena kadar glukosa darah tidak terkendali, akan muncul komplikasi yang berhubungan dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati-mikroangiopati yang akan terjadi vaskulopati

dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah dan adanya robekan/luka pada kaki atau ulkus. Berdasarkan uji Chi square diperoleh nilai p-value = 0,009 (α<0.05), sehingga menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara lama menderita dengan kejadian ulkus. Dilihat dari nilai OR = 11.667 yang artinya penderita DM dalam waktu lama cenderung mempunyai risiko mengalami ulkus sebesar 11,667 kali daripada yang tidak lama. Dalam sebuah jurnal penelitian mengatakan bahwa terjadinya ulkus diabetika dipengaruhi oleh lamanya menderita DM (Hastuti, 2008). 4. Hubungan Kadar Gula Darah dengan Kejadian Ulkus Berdasarkan Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa responden dengan kadar gula darah tidak terkendali sebanyak 50% mengalami ulkus, sedangkan responden dengan kadar gula darah tidak terkendali sebanyak 34,4% tidak mengalami ulkus. Hal ini terjadi karena kadar glukosa darah tidak terkendali (GDP > 100 mg/dl) akan mengakibatkan komplikasi kronik jangka panjang, baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler salah satunya yaitu ulkus diabetika (Waspadji, 2006). Menurut teori yang dikemukakan oleh Soegondo (2007), bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus selain kadar gula darah yang tidak terkendali adalah hipertensi, lama menderita, obesitas, dan umur. Pada penderita Diabetes mellitus dengan hipertensi bisa mengakibatkan terjadinya ulkus, karena adanya viskositas darah yang tinggi akan berakibat menurunnya aliran darah sehingga terjadi defesiensi vaskuler, selain itu hipertensi yang tekanan darah lebih dari 130/80 mm Hg dapat merusak atau mengakibatkan lesi pada endotel. Kerusakan pada endotel akan berpengaruh terhadap makroangiopati yang berakibat vaskuler defisiensi sehingga dapat terjadi hipoksia pada jaringan yang akan mengakibatkan terjadinya ulkus (Misnadiarly, 2006).

Berdasarkan nilai OR = 0,238 yang artinya penderita DM dengan kadar gula sangat tinggi cenderung tidak berisiko mengalami ulkus. Jika kadar glukosa darah tetap tinggi akan dapat menimbulkan berbagai penyakit pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh atau angiopati diabetik (Subekti, 2007). SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Ada hubungan antara lama menderita dengan kejadian ulkus dengan hasil p = 0,009 atau p < 0,05, yang artinya lama menderita > 10 tahun beresiko terjadi ulkus. 2. Kadar gula darah tidak terkendali atau tinggi tidak beresiko terjadi ulkus, dengan hasil nilai OR = 0,238. B. Saran 1. Bagi Peneliti Dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang untuk melakukan penelitian yang sama yang berhubungan dengan kejadian ulkus. 2. Bagi Pasien Hendaknya lebih berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam beraktivitas fisik, mengkonsumsi makanan dan olahraga yang rutin, untuk mengantisipasi terjadinya ulkus. 3. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa masih banyaknya penderita ulkus, sehingga perlu bagi petugas kesehatan untuk memberikan pendidikan kesehatan mengenai ulkus. DAFTAR REFERENSI Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8. Jakarta. EGC

Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus : Ulcer, Infeksi, Ganggren. Populer Obor. Jakarta. Morison. 2003. Manajemen Luka. Penerbit Buku Kedokteran: EGC. Jakarta. Soegondo. 2007. Penatalaksanaan Pasien Diabetes Mellitus. FKUI. Jakarta. Subekti. 2006. Neuropati Diabetik. Dalam : Aru W, dkk, editors. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 4. FKUI. Jakarta. Subekti. 2007. Apa Itu Diabetes, Patofisiologi, Gejala dan Tanda. Dalam : Soegondo, dkk, editors. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Edisi 6. FKUI. Jakarta. Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Cetakan Ke 12. CV Alfabeta. Bandung. Waspadji. 2006. Komplikasi kronik diabetes : Mekanisme terjadinya, Diagnosis dan Strategi pengelolaan. Dalam : Aru W, dkk, editors. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 4. FKUI. Jakarta. Waspadji. 2006. Kaki Diabetes. Dalam : Aru W, dkk, editors. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 4. FKUI. Jakarta. Waspadji.2007. Diabetes Mellitus, Penyulit Kronik Dan Pencegahannya. Dalam : Soegondo, dkk, editors. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Edisi 6. FKUI. Jakarta.